[OneShoot] Raining

Author:

ULan – Akun

Cast:

Donghae

Cho Yoora

Cameo:

Kyuhyun

                                                                                           Genre:          

Sad-Romance

Length:

Oneshoot

Editing Photo by:

Akun

Backsound:

FT.ISLAND – RAINING

TRAX-BLIND

Just once, just once, please look for me
The more you feel, the more you feel
I become more and more invisible
At the end of my desperate prayers
If only you will find me so that I can have you in my arms

 

PROLOG

Malam ini aku bisa tersenyum karena suatu hal yang bisa membuatku bahagia. Kupandangi langit lepas di atasku menatap bintang-bintang yang bersinar terang seperti ikut merasakan kebahagianku. Aku baru saja menutup satu panggilan dari ke kasihku, Lee Donghae. Dia menelponku hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan apa belum. Aku kira dia akan lupa denganku. Hampir tiga bulan dia jarang sekali memperhatikanku karena pekerjaannya yang begitu sibuk.

Dia bekerja di sebuah kantor kapal pesiar yang membuat dia harus bertindak professional terhadap professinya hingga jarang memperhatikanku seperti disaat dia melakukan pendekatan denganku. Kami baru menjalani hubungan selama hampir lima bulan. Tiga minggu lagi adalah hari jadi kami tepat yang ke lima bulan. Sepertinya aku harus membuat sesuatu yang spesial.

Perlahan-lahan hari ini terlewati. Dan aku merasakan kejanggalan dari dirinya. Dia tidak pernah bisa kuhubungi lagi dengan alasan yang sama. Aku selalu berkata dalam hati bahwa aku sangat mencintainya dan percaya padanya bahwa dia sangat mencintaiku dari kesibukanku.

Tanggal jadian kami sudah dekat yang akan merubah semuanya menjadi genap lima bulan. Aku melihat tanggal yang kulingkari indah dengan tinta warna merah. Aku mencoba menelponnya. Panggilan pertama dia tidak mengangkat telponku, aku tak mau menyerah hingga aku menelponnya hingga lima kali dia tetap juga tidak mengangkat.

Aku terduduk lemas di atas ranjang sambil meremas rok ungu panjangku. Perlu berapa lama lagi aku harus sabar menghadapi semua ini? Tiba-tiba handphoneku berdering dan sedikit tersenyum ketika tahu siapa yang menelponku. Ini dapat membuatku bernapas lega menerka-nerka bagaimana suaranya saat ini. Ah menyedihkan, bahkan aku hampir lupa suaranya.

“Chagiya, ada apa menelponku?” tanya Donghae ketika aku mengangkat telponnya.

“Chagiya kau kemana saja daritadi aku sangat merindukanmu..”

“Ah nado bogoshipo, aku sedang sibuk, ada perlu apa kau menelponku? Aku tidak bisa berbicara banyak setelah ini aku harus meng-interview bawahanku.”

“Chagiya, apa kau sudah makan? Makan apa siang ini?”

Aku benar-benar sudah tidak peduli mau dia diijinkan berbicara banyak atau sedikit yang jelas disini aku sangat ingin mendengar lebih banyak suaranya.

“Chagiya mianhe aku harus mematikan telponku, aku sangat sibuk, …”

‘KLIK’

“Do.. Donghae ..Yo.. Yoboseyo?”

Tidak ada jawaban dari seberang. Dia benar-benar mematikan telponnya. Aku menghela napas berusaha tidak membiarkan air mataku menetes hanya karena hal seperti ini. Aku harus bisa mengerti bagaimana dia. Lebih baik aku mengirimkan pesan untuknya bahwa dua hari lagi aku ingin bertemu dengannya di taman kota sekadar ingin melihat menara karena sudah lama tidak berkunjung kesana. Dan aku sangat senang ketika dia membalas pesanku mengiyakan ajakanku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya dua hari lagi.

Dua hari kemudian …

Aku sedang meringkuk di atas meja bar sambil memandang champagne glass yang aku pegang batangnya. Mataku sembab karena menangis. Hatiku sakit lebih sakit dari biasanya. Aku minum banyak hingga tak tahu waktu. Karena bar ini akan tutup aku sampai diusir oleh manajer bar ini. Aku marah-marah tidak terima diusir seperti ini.

Aku melangkah dipinggir ruko dengan tatapan kosong seperti ini. Orang-orang banyak melintas disekitaranku. Aku membuka coatku dan merasakan angin musim dingin yang sebentar lagi akan datang. Kujatuhkan coat unguku begitu saja disembarang tempat tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang menatap dan membisikkanku aneh-aneh.

Kupandangi pertigaan dihadapanku. Sesaat aku menitikkan air mata .. Bagaimana di musim yang dingin ini rintik hujan sedang turun membasahi tubuhku? Rintik-rintik hujan … Benar-benar aneh.

“Eomma, appa, selamat tinggal ..”

Kulangkahkan kakiku sambil memejamkan mata kemudian membuka mata lagi ketika melihat sebuah cahaya sedang mendekat ke arahku dan …

Entah sudah berapa lama aku tertidur akhirnya aku terbangun juga merasakan sekujur tubuhku sangat sakit dan kaku. Aku memang sudah merasa membuka mata lebar-lebar tapi aku tidak mengerti kenapa aku seperti menutup mata . Tidak ada cahaya yang dapat kulihat ataukah … ataukah ini yang dinamakan kematian?

————————————————————————————–

5 Tahun kemudian …

I am invisible but I am standing in front of you
But your eyes look past me

 

Donghae’s POV

———————

Dengan catatan yang kubawa sambil mendengarkan asistenku berbicara mataku berusaha melirik daerah Jeju yang sedang kuamati. Dari atas tebing ini aku dapat melihat padang bunga kuning yang bergelombang diterpa angin. Seperti laut bunga. Sangat cantik

Aku masih memperhatikan padang bunga itu dari atas hingga aku melihat sosok seseorang yang sedang berdiri di tengah lautan bunga kuning itu. Sosok itu …

“Cho Yoora ..”

Akhirnya aku menemui gadis itu ke bawah dan benar saja tebakanku bahwa dia adalah Cho Yoora, gadis yang dulu pernah aku pacari. Dia mencoba tersenyum ke arahku. Tapi ada sesuatu yang aneh yang kulihat darinya. Tatapannya .. Dia seperti tidak fokus.

“Ne, anda siapa?”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar tubuhku. Apa yang dia katakan? Apakah dia sudah melupakanku? Selama lima tahun ini wajahku tidak banyak berubah, tidak mungkin juga dia tidak mengingatku.

“Tuan, apakah kau masih ada dihadapanku?”

Aku mengernyitkan kening. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku ketika melihat gelagatnya. Aku menggeleng kemudian berpindah ke belakang punggungnya. Dan dugaanku benar dia tidak membalikkan badannya masih tersenyum menatap tempatku tadi yang padahal tempat itu sudah kosong tidak ada apapun.

Lima jam aku berada di kediaman Cho, orang tuanya sungguh terkejut ketika melihat keadaanku. Akhirnya mereka menjelaskan bagaimana Yoora selama lima tahun yang lalu. Gadis itu buta karena mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan akibat benturan yang dialaminya. Kupandangi gadis yang sedang duduk disampingku. Senyumnya sangat cantik dan sangat indah.

“Mulai saat ini aku yang akan merawatmu nona cho.”

“Ah ini pasti orang tuaku yang menyuruhmu bukan? Sudah kukatakan berulang kali aku tidak ingin dirawat oleh siapapun ..” ujarnya pergi meninggalkanku. Aku menelan ludah sesaat ketika melihat punggungnya dari dress ungunya.

Keesokan harinya setelah sepulang kerja tepatnya jam lima sore aku kembali datang kerumahnya hanya ingin melihat wajahnya saja. Hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Aku kembali mendengarkan cerita dari ibu Yoora tentangnya yang selama ini bagaimana bisa bertahan dan memutuskan untuk pindah ke Jeju.

Ucapan-ucapan bibi cho masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kukira yang memutuskan pindah ke Jeju itu karena paman cho ditugaskan di Jeju tapi ternyata tidak. Yoora saat itu mengalami depresi berat akibat kecelakaannya. Dia mengalami koma selama tiga minggu. Saat Yoora sudah sembuh dari penyakitnya dia selalu mengamuk karena tahu bahwa dia tidak bisa melihat. Yoora yang periang menjadi Yoora yang tertutup hingga ia tertangkap basah ketika ingin pergi dari rumah.

Tidak bisa kubayangkan. Aku menghempaskan tubuhku di sofa hitam sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku sangat menyesal telah meninggalkannya hingga seperti saat ini. Jika waktu itu aku masih bersamanya, aku pasti yang akan menjaganya.

“Apa kau sudah makan? Mau aku buatkan makanan?” tanyaku pada Yoora yang sedang duduk terdiam di ruang kerja milik paman cho.

“Tolong jangan menggangguku, tuan.”

“Kata bibi kau belum ma..”

“Tuan, lebih baik anda pulang karena aku tidak akan pernah mau dirawat olehmu.”

Yoora lalu berdiri. Dari wajahnya sepertinya dia sangat marah. Ini Yoora yang berbeda. Yoora yang sangat dingin, aku seperti tidak mengenalinya. Dia membalikkan badannya pergi meninggalkanku. Apakah dia sesakit itu ?

Keesokan harinya, aku tetap tidak menyerah untuk datang ke rumahnya hanya untuk melihat wajahnya, hanya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja hari ini. Kudapati dia sedang menikmati suasana di taman bersama dengan bibi cho. Bibi Cho menoleh tersenyum melihatku.

“Ah Choi Wookgi-ssi ..” sapa bibi Cho meraih tanganku dan menarikku ke hadapan Yoora. Yoora masih terlihat dingin dan sama sekali tidak memperdulikan kedatanganku. Dia malah melangkah ke kanan menjauhiku. Mengenai namaku, kalian jangan terkejut. Aku dan orang tua Yoora bekerja sama untuk menjaga identitasku jangan sampai dia mengenaliku karena aku sudah mengatakan pada orangtuanya bahwa aku akan  membiayai pengobatannya hingga ia bisa melihatku lagi.

“Apa yang kau bawa? Ah kimbab? Ini adalah kesukaan Yoora, bagaimana kau bisa tahu?” tanya bibi Cho sambil menepuk lenganku pelan. Bibi Cho mengambil barang yang kubawa.

“Kau temani Yoora dulu ya, bibi tidak akan mengganggu kalian berdua.”

“Kamsahamnida bibi..”

“Ah kau tidak perlu seperti itu.. Kau baik sekali..”

Setelah memujiku akhirnya bibi Cho pergi meninggalkan kami berdua. Aku membalikkan badan berusaha menatap punggungnya dari belakang. Rambutnya yang dulu hanya sebahu kini sudah panjang sepunggung. Dia memakai bando berwarna merah memperlihatkan kesan anak-anaknya hari ini.

Aku mendekatinya dan mencoba meraih selang yang ia genggam. Dia menoleh ke arahku. Ini sangat dekat membuatku tidak bisa berkutik melihat parasnya yang anggun. Aku menelan ludah. Apakah dia bisa merasakan debaran jantungku melalui sentuhan tanganku? Apakah dia dapat melihatku? Dia mencoba mendorongku tapi tentu tidak bisa karena aku sudah menduga dia akan mendorongku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” marahnya. “Lepaskan !” dia meronta berusaha melepaskan genggamanku. Aku tersenyum tidak menanggapinya. Ingin sekali menggoda gadis ini.

“Tidak bisakah kau tenang saat bersamaku sebentar saja, Yoora-ssi? Aku akan membantumu menyiram bunga-bungamu ini, kau pasti merawatnya dengan ba.. aakhh yaakk !!!”

Sial sekali ! Dia menyiram tubuhku hingga membuat tubuhku basah kuyup seperti ini. Dia tertawa tapi dalam sekejap tawanya berhenti menjadi raut kesedihan.  Dia tiba-tiba menangis.

Aku duduk berdua di ayunan ini bersama Yoora. Dia terlihat menunduk setelah aku berusaha menangkannya.

“Aku adalah perawatmu, jadi sekarang ceritakan padaku apakah kau mengalami sakit?”

“Ya, aku sedang sakit.”

“Di bagian mana?” Aku mencoba menyentuh keningnya untuk mengetes suhu tubuhnya tapi dia dengan cepat menepis tanganku.

“Aku tidak demam.” Singkatnya. Ini benar-benar bukan Yoora yang kukenal.

“Lalu kenapa kau sedih?”

“Aku membencimu. Tolong jangan temui aku lagi … Aku benci mendengar suaramu tuan, tolong jangan dekati aku lagi .. Tolong.. Kumohon !” dia mengamuk menutup telinganya. Keringatnya mengalir membuat daerah keningnya basah.

Ada apa dengan suaraku? Apakah dia masih teringat denganku?

“Yoora-ssi apa yang kau maksud?”

Dia menangis namun tatapannya tetap kosong. Menangis di hadapanku. Ingin sekali aku memeluknya. Tapi .. Akhirnya aku memberanikan diri ketika melihat ia terbatuk-batuk. Dia tidak meronta ataupun mendorongku. Aku hanya ingin membuatnya tenang.

“Apakah ada seseorang yang membuatmu seperti ini ?” tanyaku. Aku harap dia mau membahasnya untuk saat ini. Tapi dia hanya diam. Kepalanya menyentuh di dadaku. Aku tiba-tiba menjadi kikuk.

Setelah lama aku memeluknya ternyata dia tertidur di dadaku membuatku takut saja. Aku menggendongnya mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Dia seperti terlihat lelah sekali. Di wajahnya terlihat dia sangat lelah, beban hidupnya sangat berat, aku jadi tidak tega melihatnya seperti ini.

Aku menaruh Yoora di atas ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Aku tidak berani lebih untuk menyentuh dan mengusap rambutnya. Aku terlalu takut dan menyesal dengan semua ini. Dulu aku tidak menjaganya dengan baik. Aku rasa aku ingin mengulang semuanya dari awal lagi. Tapi sepertinya sangat susah.

Yoora’s POV

—————-

…..Wajah namja itu semakin dekat tersenyum ke arahku. Senyumnya sangat manis. Sudah lama tidak melihatnya. Hanya bisa menerka-nerka wajahnya selama ini. Sudah lima tahun lebih. Aku berusaha memeluknya tapi tiba-tiba dia menghilang dan ruangan putih ini tiba-tiba berubah menjadi gelap membuatku takut.

Aku bangun dengan cepat tersadar dari tidurku. Ternyata hanya bunga tidur. Sudah berapa lama aku tidur?  Ini jam berapa? Ah aku tidak bisa melihat apa-apa. Tuhan belum memberikan keajaiban-Nya untukku.

Aku terdiam lagi berusaha mengingat wajah namja yang ada dimimpinya itu. Sampai saat ini aku belum mau melupakan wajahnya. Lima tahun bertahan sendirian aku masih berusaha untuk mengingat sedikit parasnya. Aku bangkit dan duduk di kursi belajarku. Tanganku membuka laci dan meraba-raba di dalamnya berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam laci.

Bingkai poto. Ya, akhirnya aku bisa mengambil kotak berukuran kira-kira 20×20. Aku mulai meraba-raba lagi bingkai itu dan air mataku mulai menitik lagi. Aku menangis lagi karena ini. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Ini sangat menyakitkan dan menyiksa batinku. Dia dimana? Dia tidak tahu keberadaanku. Sementara aku menangisinya seperti ini. Kudengar pintu kamarku terbuka tapi aku tidak bisa melihat siapa dibalik pintu. Mencoba menangkap pencitraan benda yang aku pegang namun yang ada tetap hanya kegelapan. Menyadari kembali hal itu membuat hatiku tambah sakit.

“Yoora-ssi, apakah kau sudah makan? Aku memasakkan bubur untukmu. Tidurmu terlalu lelap ..”

Suara itu lagi. Menyakitkan saat menyadari bahwa suara mereka sangat mirip. Dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi padaku. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Aku tetap menangis terisak.

“Aku tidak bisa melihat ini, dan ini sangat menyiksaku. Apakah kau bisa memahami perasaanku?” tanyaku pada namja yang akhir-akhir ini selalu menemaniku. Dia adalah perawat yang dikirimkan eomma untukku. Sudah kukatakan aku tidak ingin terlalu diperhatikan, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Tidak bisa melihat bukan berarti aku lemah terhadap semua. Aku masih mempunyai tangan dan kakiku untuk melakukan aktivitasku. Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Donghae’s POV

———————–

My heart is cracked, cut and broken
At the end of a rough day
When I am broken into pieces, you would be able to see me

Aku mengemudikan sedan putihku dengan sangat cepat di jalan tol ini. Malam ini aku sungguh kesal dengan diriku sendiri. Entah kenapa aku merasa aku adalah pria terbodoh di dunia. Aku merasa panas ketika mengingat apa yang Yoora ucapkan tadi. Kubuka dua kancing atas kemejaku, ini sedikit membuat tubuhku relax.

Flashback’s story

“Namja itu apakah seseorang yang sangat kau cintai?” Kuberanikan diri bertanya seperti itu padanya. Dia masih tetap terisak dengan tatapan kosong lurus ke depan.

“Mungkin sudah lima tahun sudah aku tidak bertemu dengannya. Bahkan aku berusaha untuk mengingat bagaimana rupanya.” Akhirnya dia mau bercerita padaku. Aku menarik kursi satunya dan duduk dihadapannya mendengar setiap ucapan yang ia lontarkan. Kugenggam tangannya.

“Ceritakan padaku semua maka kau akan lega. Percayalah padaku, aku akan membantumu.”

“Apa yang bisa kau lakukan tuan? Kau tidak akan bisa membantuku.” Elaknya.

“Setidaknya aku mendengar perasaanmu.”

Kami terdiam lama. Dia berusaha menarik napas sementara aku dengan sabar menunggu curahan hatinya.

“Lima tahun yang lalu, dia adalah kekasihku. Hampir lima bulan kami berpacaran. Tapi selama lima bulan itu aku merasakan siksaan seorang diri. Tiga bulan terakhir dia seperti melupakanku karena pekerjaannya. Mungkin aku bisa bersabar atas itu. Dia tidak pernah mengucapkan kata romantis padaku selama tiga bulan terakhir. Aku sangat merindukannya. Entah apa yang dia lakukan di belakangku tapi aku sama sekali tidak pernah untuk berpikiran buruk tentangnya. Tapi dia telah mengecewakanku saat itu. Aku berencana mengajaknya makan malam karena malam itu tepat hari jadi kami yang ke lima bulan. Tapi dia tiba-tiba membatalkan janjinya karena pekerjaannya. Bahkan dia tidak ingat sama sekali hari itu. Aku memilih bersabar lagi untuknya. Tapi kenapa ..”

Aku berusaha menggenggam kuat tangannya ketika dia berusaha menarik napasnya dalam-dalam.

“Tapi kenapa dia membohongiku? Saat itu juga ketika aku hendak membeli makanan seorang diri aku melihatnya pergi masuk ke sebuah klub malam bersama teman-temannya. Apakah itu yang disebut pekerjaan? Apakah kau bisa membantuku untuk menjelaskannya juga? Malam itu akhirnya aku membuat sebuah keputusan padanya lewat telpon mengatakan bahwa kita putus dan dengan gampangnya dia mengiyakan keputusanku tanpa membiarkanku lepas begitu saja. Akhirnya aku mabuk dan sebuah kecelakaan itupun terjadi juga padaku.”

Tiba-tiba aku melepas genggamanku. Seketika tubuhku lemas mendengarnya. Tidak menyangka bahwa kecelakaan itu terjadi karena malam itu. Ya, aku mengingatnya dengan baik. Memang saat dia menelponku untuk yang terakhir kalinya aku benar-benar tidak peduli padanya. Mungkin karena aku berpikir dengan mengiyakan pendapatnya maka aku tidak akan pernah bimbang disaat aku sedang melaksanakan tugas. Tapi tidak menyangka dia mengalami hal seperti ini karena aku.

Flashback’s end

Aku membasuh rambutku di shower setelah aku sampai dirumah. Kumatikan shower kubiarkan tanganku menempel di tembok. Aku keluar dari kamar mandi sudah memakai kaos tipis berwarna putih dan celana tidur berwarna biru yang biasa aku pakai. Aku masih mengeringkan rambut dengan handuk mengibas-ngibaskan kepalaku kemudian menjatuhkan tubuhku di atas ranjang.

Handphoneku tiba-tiba berdering. Aku bangkit untuk mengambil handphoneku di atas meja dan duduk lagi di atas ranjang. Ternyata telpon dari asistenku.

“Yeoboseyo ..”

“Yeoboseyo Donghae-ssi, presdir Jang sudah membuat keputusan untuk investasi itu tapi untuk selama tiga hari kedepan kau akan dipindahkan ke Seoul kemudian kembali lagi ke Jeju untuk mempersiapkan investasi ini.”

“Mwo? Tidak bisakah kau mencari pengganti yang lain? Aku mungkin akan tinggal disini untuk beberapa waktu.”

“Tidak bisa Donghae-ssi ini sudah keputusan presdir Jang, kau seperti tidak mengerti bagaimana presdir saja.”

Aku menghela napas mematikan telponku. Bagaimana ini? Pikiranku mulai tertuju pada investasi itu. Aku hampir saja melupakan tugasku untuk investasi ini. Tapi disisi lain aku juga memikirkan gadis itu, Yoora.

Yoora’s POV

—————–

Aku melangkah ke depan ketika mendengar suara mobil yang sedang terparkir di depan rumahku. Ini pasti mobil namja itu. Aku bisa mengenalnya mulai saat ini. Dan benar saja ketika sebuah tangan menarik tanganku dan memelukku. Aku heran, apakah benar dia seorang perawat? Kenapa kehadirannya begitu spesial dirumahku?

“Yoora-yah, ini oppa, ah aku begitu merindukanmu.”

Aku terpaku ketika mendengar siapa pemilik suara ini. Kyuhyun oppa, dia oppaku yang selama lima hari belakangan ini bertugas di Ilhan sebagai staff manajer di bagian seminar pendidikan. Aku membiarkan Kyuhyun oppa berbicara sendiri padaku dengan pikiranku yang masih bertanya-tanya kemana perginya namja itu.

Aku duduk menunggu di meja makan. Rasanya sudah berjam-jam lamanya aku duduk hanya untuk menunggu namja itu. Aku tidak hapal betul siapa namanya. Tapi aku mulai merasakan kehadirannya dari hari ke hari.

Keesokan harinya aku menunggu di teras depan. Tapi dia juga tidak kunjung datang kemari. Ingin aku bertanya pada eomma, tapi .. tapi aku sungguh malu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya eomma padaku. Aku membalikkan badan dan berusaha tersenyum merasakan dimana keberadaannya. Panjang umur sekali eommaku. Eomma menarik tanganku sepertinya akan masuk ke dalam rumah dan dia mendudukkanku di sebuah kursi. Aku tahu tempat ini, eomma mengajakku duduk di meja makan dan menyerahkan sesuatu padaku.

“Makanlah, aku masakan pancake ini untukmu.”

“eomma ..”

“Ne?”

“Namja itu kenapa sudah dua hari tidak datang kemari? Apakah dia sudah selesai bekerja disini?”

“Kenapa kau menanyakannya? Apakah kau merindukannya?”

“Siapa yang kalian maksud?” kudengar suara Kyuhyun oppa sudah berada didekatku.

“Ah ne Kyuhyun-ah ada seorang perawat tampan yang beberapa hari ini sudah membuat hidup Yoora berubah.”

Apa yang eomma barusan katakan? Hidupku berubah karena perawat yang tak kukenal itu?

“Eomma apa yang kau katakan ..”

Aku memilih bangkit pergi meninggalkan mereka.

Author’s POV

——————-

Kyuhyun menatap eommanya kesal. Eommanya mendekat kearah Kyuhyun dan bergelayut manja di lengan Kyuhyun.

“Kyu-ah jangan marah seperti itu, namja itu masih peduli dengan adikmu kenapa aku harus mengusirnya pergi?”

“Tapi tidak ingatkah betapa hancurnya Yoora saat itu? Eomma, yang menjadi penyebab semuanya adalah namja itu kenapa kau mengijinkannya?”

“Tapi dia sudah berjanji akan mengeluarkan biaya untuk operasi mata Yoora. Selain itu aku melihat keseriusan pada dirinya. Kyu-ah, kau tau betapa sakitnya hatiku melihat Yoora setiap hari menatapku tanpa fokus. Kau tega melihatnya seperti itu? Jika aku mempunyai uang yang lebih mungkin sudah dulu Yoora akan bisa melihat tanpa harus menunggu selama ini.”

Kyuhyun menghela napasnya menyerah melihat eommanya menangis seperti itu. Kyuhyun merangkul nyonya cho dengan tatapan pasrah.

————————————————————-

Donghae tersenyum memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Dia mengambil sebuah bingkai poto yang ia temukan lagi di lemari kamarnya. Sebuah poto wanita yang umurnya kira-kira masih sembilan belas tahun. Hanya poto lama tapi dapat membuatnya tersenyum saat melihat gadis itu.

“Tunggu aku, Yoora ..”

Keesokan harinya Donghae menyetir mobil berencana kembali ke Jeju. Dalam perjalanan dia selalu saja melirik jamnya. Hatinya berdebar ingin cepat sampai ke Jeju.

Hampir empat jam Donghae menyetir akhirnya sampai juga dia disebuah rumah yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia tersenyum mengambil buket bunga lili yang ia beli di tengah perjalanan tadi. Donghae mengetuk pintu rumah dan hatinya sangat bahagia bisa melihat Yooranya lagi. Yoora terhenyak dengan bau tubuh yang ada dihadapannya.

“Wookgi-ssi !”

You can’t see so I love you like this
Even your fingerprints in the corner
I strongly engrave them into me
My blackened and bruised heart-
I take it out and show it to you
But you just say that looks pitch-black outside

 

Seru Yoora. Ada perasaan senang ketika Yoora mengenalnya. Tapi ada juga perasaan kecewa saat Yoora bukan menyebut namanya, Lee Donghae melainkan yang ia sebut adalah nama samarannya Choi Wookgi.

“Yoora-ssi maaf aku tidak kunjung kemari kemarin-kemarin.”

“Kau kemana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di Seoul, aku benar-benar tidak sempat untuk menghubungimu.”

“Dasar, semua namja itu sama saja..”

Yoora mulai kesal lalu pergi membalikkan badannya, tapi Donghae dengan cepat menangkap tangan Yoora dan memeluknya dengan menarik paksa tangan Yoora untuk menggenggam buket bunga pemberiannya. Yoora tidak menolak pelukan Donghae.

“Wookgi-ssi apa yang sedang kau lakukan?”

“Memelukmu .. Aku sangat merindukanmu akhir-akhir ini ..”

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

“Aku membelikan buket bunga lili untukmu, semoga kau menyukainya..”

“Ah bunga lili? Pasti mereka sangat cantik. Gomawo ..” Yoora dengan kikuk melepas pelukan Donghae dan mencium buket bunga lili di tangannya. Dia tampak bahagia itu terlihat dari senyumannya yang sumringah.

“Wookgi-ssi ..”

Kyuhyun datang dari dalam menatap Donghae dengan tatapan yang tidak suka. Donghae salah tingkah dilihat seperti itu.

Kyuhyun mengajak Donghae duduk di sebuah bangku taman yang menghubungkan dengan sebuah danau di dekat rumahnya.

“Kenapa kau kembali lagi Donghae-ssi?” tanya Kyuhyun memulai pembicaraan.

“Aku ada tugas di daerah ini dan tidak sengaja bertemu dengan Cho Yoora.”

Kyuhyun terdiam menunduk memandang genggaman tangannya sendiri. Kyuhyun kembali menengadah dan sedikit menghela napasnya.

“Kau membuat banyak kesalahan Donghae-ssi ..”

“Ne, aku tahu Kyuhyun-ssi ..”

“Sekarang kau kembali dengan membohonginya? Sampai kapan kau akan menyakiti adikku?”

“Aku .. Aku .. Hanya ini yang bisa aku lakukan.”

“Tapi tidak perlu dengan cara kau membohongi Yoora !” Kyuhyun mulai emosi, namja itu mengangkat kerah baju Donghae kemudian melepaskannya lagi membiarkan Donghae bernapas dengan baik.

“Jika kau menjadi aku apa yang akan kau lakukan? Melihatnya seperti itu karenaku, kau kira aku tidak sakit?” ujar Donghae.

“Mwo? Kau tidak pantas berbicara seperti itu Donghae-ssi, aku yang menemaninya selama lima tahun membuatnya tertawa sangat sulit sekali dan sekarang kau menghancurkan semuanya …”

“Berikan aku kesempatan Kyuhyun-ssi, aku akan menyelesaikan semuanya ..”

“Aku tidak yakin untuk itu, Donghae-ssi, Yoora sudah terlanjur menghapusmu.”

“Kau yakin Kyuhyun-ssi? Kurasa kau salah mengenai dirinya.” Donghae memilih bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun.

Yoora’s POV

—————-

Aku meraba lubang vas dan mulai menaruh seikat bunga lili ke dalamnya. Aku mencium harum bunga lili ini. Benarkah ini bunga lili? Seandainya aku dapat melihat ..

“Ah ..”

Aku terkejut ketika sebuah tangan menyentuh bahuku. Ini tiba-tiba sekali.

“Apa yang kau pikirkan Yoora-ssi?”

Ini adalah suara Wookgi. Aku sangat nyaman berada di dekatnya bahkan sampai tidak ingin dia melepas sentuhannya dari bahuku. Dia memilih duduk disampingku. Tangannya mulai menyetuh pipiku. Aku bergidik menepisnya. Yang aku pikirkan saat ini, aku tidak ingin diberikan harapan palsu bahwa aku tidak bisa melihat, aku tidak tahu dia siapa.

“Yoora-ssi, dua minggu lagi kau akan menjalankan operasi pencakokan mata.”

“Mwo?”

“Ne .. Apakah kau senang?”

“Cakkaman ! Siapa yang akan membiayai? Apakah eomma? Apakah Kyu oppa? Apakah appa?”

“Aku ..”

“Ya! Sudah kuduga. Wookgi-ssi kau tidak perlu repot-repot membia.. hmmftt..”

Dingin. Aku tidak dapat berkata banyak karena bibirnya tengah mengunci bibirku. Tangannya mulai menggenggam tanganku. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan untuk mempermudah menciumku. Tak lama kemudian dia melepas ciumannya.

“Aku ingin kau bisa cepat melihatku, Yoora-ssi.”

“Kau sungguh lancang Wookgi-ssi ..”

“Mianhe..”

Satu minggu pun berlalu. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Wookgi. Sangat nyaman. Dia menggenggam tanganku. Kami memang dekat, bukan berarti kami berpacaran. Tidak ada yang menyatakan perasaan masing-masing. Mungkin karena takut dengan pendapat sendiri-sendiri.

“Aku tidak sabar ingin cepat melihatmu..”

“Kenapa begitu?”

“Karena kau yang membuatku termotivasi untuk sembuh.” Seringaiku padanya.

“Aku tidak tahu bagaimana ke depannya nanti jika kau sudah melihatku.”

“Bagaimana?”

“Aku tidak tampan dan aku harap kau tidak marah jika melihatku nanti.” ucapnya. Aku masih menggenggam tangannya erat.

“Percayalah padaku bahwa tidak ada satupun yang akan berubah, Wookgi-ssi.”

Donghae’s POV

———————

“Percayalah padaku bahwa tidak ada satupun yang akan berubah, Wookgi-ssi.”

Suaranya kini terngiang-ngiang di kepalaku. Dua minggu sudah dan aku sedang duduk resah menunggu hasil operasi pencangkokan matanya. Jantungku berdebar-debar membayangkan dia bisa melihatku dan yang pasti akan marah padaku.

“Apa kau takut?” tanya seseorang yang sedang duduk di sebelahku. Aku menoleh ke arahnya. Kyuhyun sedang menyandarkan punggungnya di tembok, tangannya terlipat rapi di depan dadanya.

“Ani ..”

“Sebaiknya persiapkan saja hatimu Donghae-ssi, aku yakin dia pasti belum bisa menerimamu.” Ujarnya. Aku menghela napas. Sebenarnya ini bukan sebuah dukungan padahal aku sedang butuh dukungan dari pihak manapun. Aku menghela napas.

“Kyuhyun-ssi, seseorang pasti akan dapat berubah …

Sebisa mungkin aku mempersiapkan agar semuanya berjalan lancar hari ini, aku menantikan hari ini sejak aku bertemu lagi dengan Yoora saat itu.

Yoora duduk dengan mata terbalut perban di depanku sekarang, sebentar lagi dokter akan membuka perbannya.

“Kau siap nona Cho?” kata dokter.

“Iya dokter! Dunia sudah menungguku, mungkin seseorang juga. Akupun tak sabar ingin menemui seseorang dengan mataku yang baru” ucapnya tidak sabar.

Dokter mulai membuka perban penutup mata Yoora, dia mulai dengan menggunting ujung perban disebelah belakang, membuka perban dengan mengelilingi kepala Yoora.

Lapisan terakhir pun terbuka, perban tersebut jatuh begitu saja di pangkuan gadis itu. Kini yg tersisa hanya kapas lembut yg menutupi dua kelopak mata yang indah itu. Tanganku menggenggam dengan erat bunga lili yang ku pegang, sengaja aku menyiapkannya lagi, agar yang ia lihat saat sudah matanya terbuka adalah bunga ini, atau langsung melihatku. Pikiranku berkecamuk menebak bagaimana ekspresi Yoora nanti.

Dokter pun melepaskan kedua kapas itu.

“Baiklah, dengan ini kau akan tersenyum kembali nona Cho, cobalah membuka matamu dengan perlahan, jangan tergesa-gesa biarkan terjadi secara alami seperti kau bangun di pagi hari” kata dokter. Aku menelan ludah ketika dia membuka matanya menatapku lurus. Dia membuka kelopak mata itu dengan perlahan, setelah terbuka perlahan kali ia mengedipkan matanya, mungkin mencari fokus tentang sosok yang ia lihat untuk pertama kali, dan sosok itu adalah aku sendiri. Aku tahu ia berusaha melihatku.

Kulihat air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Mata indahnya basah dengan air mata, sungguh bukan maksudku untuk membuatnya menangis seperti ini. Tapi apa daya aku memang harus menampakkan diri dihadapannya.

Sambil menggenggam bunga lili aku melangkah menghampirinya dengan cepat memeluknya dari belakang dengan erat.

“Jangan menangis tidak baik untuk matamu ..” ujarku berusaha membuatnya tenang, tapi yang ada aku malah membuatnya tambah menjadi-jadi. Dia meronta memukul-mukul lenganku berusaha melepas pelukanku, tapi karena keadaannya masih lemah dia hanya bisa menangis dan berhenti memukul-mukul lenganku. Aku tambah memeluknya erat.

“Kenapa kau kembali dan membohongiku lagi? Wookgi-ssi, jadi selama ini kaulah dalang di balik sandiwara ini?”

“Hanya ini yang bisa aku lakukan Yoora-ssi. Aku hanya ingin kau dapat melihat dunia lagi. Aku hanya ingin kau dapat melihat bunga lili yang aku genggam, Selanjutnya aku serahkan padamu …”

Dia menangis masih dalam dekapanku. Sesungguhnya aku sangat bahagia melihatmu dapat melihat kehadiranku lagi, Cho Yoora. Hari ini adalah usiamu genap ke dua puluh tahun dan biarkan bunga lili ini menjadi saksi jalan kita yang baru. Saengil Chukka Hamnida…

I can see your face floating behind my eyelids
After the tears, everything about you
I don’t want to forget, I can’t forget
Grief is just like this

THE END ..

Anyeong maaf lama kembali. Admin lagi sibuk.

Ini FF projectku bareng Kak Akun. Haah semoga kalian suka dengan FF ku yang biasa-biasa saja …

Gak tau dah ini FF bener bisa buat kalian nangis atau gak. Be enjoy !

Semoga kalian mengerti dengan bahasaku.

Spesial Thanks For Kak Akun ^^ sudah membantu memberikan ide, sudah membantu mengedit tulisan ini dan juga sudah membantu untuk pembuatan poto.

Dan untuk judul maaf sedikit tidak nyambung. Karena lagu Raining ini tengah membantu saya dalam pembuatan FF ini.

Thanks For FT-ISLAND and TRAX. Ahha.

Cho Yoora !!

Saengil Chukka Hamnida ..

Ini kado dari kita.

Wish You All the best and hope you can meet Donghae and Jessica ^^

Okay, kamsahamnida for Reads and please don’t forget to comment in this post.

Daebakida, Kya Kya.

-Lee Hanwoo-

 

Iklan

37 thoughts on “[OneShoot] Raining

  1. Huweeeee…
    Apa iniii…aku lg kerja n nyuri kesempatan buat baca…
    Jd mewek gini…
    Untung aj cast’a gak ada yg meninggal..kalo gak..bisa makin deres aje nih…

    Tp endingnya agak gantuung…yoora nerima hae lagi gak…

    N..sekali lagi…saengil chukkae yoora onni…*senyum smbil ngelap air mata

    Suka

  2. ternyatab ini yg kalian ributin dari kemaren =.=
    kkkkkkk daebaaak!!!!
    cho yoora psti mesem2 tuh,,
    gadis buta tp itu kissu2 sm perawatnya hihihi

    dan cameonya sing taen nduk? LOL
    esmosi aja den tuan muda cho nii

    Suka

  3. YAA!!! APA2AN KALIAN INI ????
    JADI INI YG DIGENGGESIN SEMALEM ??

    Tak kira epep nc eunwoo trus ngelahirin jaejin , tapi ternyataa KYAAAAA !!!!
    Baru liad editan potonyaaa aku udah gak nyanteeeee !!!!
    Tak kiraaa haesicaa ,, tp kebawah , kok castnya Donghae-Yoora ????
    Adoooooh kalian iniii lhoooo …..
    *popo

    Bak bak kasik tau kenapa bajunya Yoora ungu semua ?? Truss itu aku gedeg sekali sama dongekhnyaaa gak angkat2 telepon !! Ishhh *jambak

    Oh jadi malem itu dia gak nemuin gara2 ke club malam? NUAHH !
    Gedeg sekali sama makhluk itu di bagian awal2nyaaa errrrrr
    Sedikit terhenyak (?) Wook gi ?? Ahahaha

    Truss itu aduh indah ya jeju ..
    Dan aku genggesss sendiriiii …
    AKU SAYANG DONGHAE pkonyaa!!
    Dan kakakku serem bgtt yah ,, dapet bgt feel kyuhyunnya yg sebengnya tegeh itu …

    Akhir kata ,, cho yoora ucapkan terima kasih untuk Lee Hanwoo dan Kak Akun !!
    Sukses membuat cho yoora ngelings ..

    Its daebakidaaaaa kyaa kyaaa
    YEOBOOOOOOOOOOOOOOO :*

    Suka

  4. anneyeong :)) aku reader baru disini :))
    hoaaa:) bawaannya sedikit melow ya ff ini, latarnya sedih gitu sebelum happy ending:))

    brr harusnya abang ikan mesti merhatiin Yoora dooong 😀 hehehe
    diksinya!! aku suka diksinya ini thor, agak berat , tapi aku masih bisa enjoy bacanya
    berasa baca novel terjemahan deeh

    Suka

  5. hore akhirnya bisa nampang di blog ini lagi #plakkgaknanya
    ceritanya bagus,cuma endingnya rada gantung,masih bisa dilanjutin lagi tuh ceritanya thor,kan siapa tahu endingnya romantis,atau jangan2 malah sad ending T.T

    aq jadi bingung yoora nerima donghae lagi apa gak ya?trus kyuhyun disini jadi kakaknya yoora kan?#reader lola

    Suka

  6. baca untuk yang kedua kalinya, belon bosen juga. Bener-bener keren ni ff. Pemilihan alur ceritanya, bahasanya, adegannya, bikin ujung kuku begeter ama mata kedutan mau nangis. Beuh,,,nyesek abis. Aku suka ff macem ni. Gile lah mewek sepanjamg baca ff ini.
    Tau viera ga? ~p e r i h~
    Tau afgan ga? ~s a d i s~
    Tau geisha ga? ~remuk jantungku~
    Tau celana ga? ~d a l e m~ LoL haha

    Ah ayo bikin kelanjutannya, yoora langsung bisa nerima apa ga? Biar nambah nyelekin di hati gitu.hehe ato buat yang sad-romance apa aja dah.wuahahaha nawar

    Sukses buat authornya, karakter kyu garang abis. Ada yamg senggol yoora dikit, langsung dia bantai.hihi
    Oya, itu aja yang umur. Kalo sekarang 20 taun, bearti 5 sebelumnya umur 15 dong. Nah terus kenapa donghae memandak foto gadis saat beumur 19 taun. Nah lo,,,wkwkwk 19+5 mah 24 taun atuh euy.hahaha
    Ama itu emm, omanya datang dan bergelayut di tangan kyu. Et buset dah udah emak-emak masih aja gelayuta di kyu. Eeerrr, wuahahaha

    -edit-
    oya satu lagi. Posternya keren.hehe

    Suka

    • buakakka..
      chinguu lama tidak bertemu?
      kemana aja nihh? ^^ hhihihi
      makasi sudah mau baca..
      nunggu comment dari chingu ..
      dan ternyata benar anda yang akan memeriksanya dan benar ..
      ehhehe iya aku sadar ada ksalahan pada umur, udah di publish jadinya yah …
      hehehe.
      mian yah kalo aneh.
      makasi sudah mau baca, mampir lagiii :***
      buuaah baca udah dua kali? kyaaa daebak >.<

      Suka

  7. hah! kasian donghae T.T tpi kasian yoora juga sih. eh? Bingung ah >.< pokoknya intinya ffnya bagus. Feelnya dapet bgt. Jdi kerasa nonton setiap adegannya live -_- tetep dah, paling suka bagian kissu2nya XD

    Suka

  8. hooh, sibuk kuliah. Hah kuliah itu menguras hati, menguras tenaga, dan menguras bak mandi.wuahahaha

    Hayolo salah itung-itungan umur noh.hehehe
    Yodahlah gpp, udah bagus kok. Buatin lagiiii….. *nangis gegulingan*

    Suka

  9. mianhae saeng,, baru bisa baca skrg 😦
    yoora pedih bgt hidupnya,,haepa tega,, klo dia gk ketemu lgi ma yoora , udah gk inget ajj m yoora,,, uuhhh poor yoora TT,,, tapi karna usaha haepa d akhir2 pemulihan yoora termaafkan..hehehh,,

    next ff,, hanwoo m hyuk nya d tunggu,, 🙂

    Suka

  10. Bagussssssss. Tapi tapi tapi. HaeRa couple lagi. Bikinin jeee hella couple *jealous *ngambek
    Bingung d bagian umur’a yoora deh sama kejelasan mreka putus.
    Sama maksud gmbar yg ada d atas #readergalau
    Tp eh itu emang gk pa2 kalo abis operasi nngis?? Gk buta lg??

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s