[Oneshoot] Complete

Author : ryrin

Casts : Lee Donghae, Park Haerin (OC)

Length : Oneshoot

Genre : Romance (?)

Bukan NC, tapi PG-17 !!

 

Haerin terbangun dari tidurnya ketika seberkas sinar oranye menembus tirai dan jatuh tepat di wajahnya. Ia mengerjap untuk membiasakan matanya dengan kamar yang sedikit remang karna sinar matahari pagi yang menyerbu masuk. Di sebelahnya, seorang lelaki masih tertidur pulas. Wajah tampannya terlihat polos, seperti bayi tanpa dosa
Haerin bangkit dan mengenakan mantel kamar. Beberapa potong pakaian pria dan wanita berserakan di lantai kamar-hasil perbuatannya dengan lelaki itu semalam-. Cepat dipungutinya seluruh pakaian tersebut lalu memasukkannya ke keranjang pakaian kotor yang tersembunyi di sudut ruangan, setelah itu ia masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian ia keluar dengan wajah segar dan rambut setengah basah. Sebuah terusan selutut berwarna kuning gading dengan lengan sebatas siku membalut tubuh rampingnya. Ia melangkah menuju tempat tidur untuk membangunkan lelaki yang belum bergerak sedikit pun dari posisinya.
“Oppa..” bisiknya sambil menepuk pelan tubuh lelaki itu. Lelaki itu bergumam dan berguling ke sisi lain.
“Donghae Oppa, kau sudah harus masuk kantor lagi kan hari ini?” Haerin mulai mengguncang tubuh lelaki bernama Donghae itu.

“OPPA, AYO BANGUUNN!!” jeritnya tidak sabar.
Mata Donghae terbuka lebar saat sebuah jeritan melengking merusak mimpinya. Ia beranjak duduk sambil mengusap matanya. Wajah Haerin memerah tiba-tiba karena selimut yang menutupi tubuh Donghae jatuh sehingga dada bidangnya terekspos bebas. Diam-diam ia mengutuk dalam hati, sudah beberapa kali melihat tubuh lelaki ini tapi ia masih saja terpesona setiap saat.
“Aku belum dengar ucapan ‘selamat pagi’ dan mana morning kiss-ku?” Donghae berkata dengan suara serak.
Haerin berpaling, menghindar dari pemandangan yang tersaji di depan matanya. “Tidak ada morning kiss sekarang!” ucapnya sambil menahan tawa. Ia senang sekali menggoda lelaki ini. Sekarang ia pasti sedang merengut manja, pikir Haerin merasa menang.
Cup!
Sebuah kecupan kilat mendarat di bibir Haerin. “Morning, Wifey~” bisik Donghae sambil berlalu menuju kamar mandi, tanpa sehelai pakaian pun menutupi tubuhnya saat itu. Tinggal Haerin terperangah kaget dengan wajah semerah tomat matang.
Haerin menggelengkan kepala keras, berusaha melenyapkan bayangan tubuh Donghae yang baru lewat di depan matanya. Ia beranjak membuka tirai jendela, kamar mereka seketika menjadi terang oleh sinar matahari yang menyerbu masuk. Setelah merapikan tempat tidur, ia membuka lemari built-in di salah satu sisi kamar dan mulai memilihkan pakaian yang akan dikenakan suaminya hari ini. Kemeja biru laut, dasi biru dongker bergaris biru muda, jas hitam, celana pantalon hitam, dan pakaian dalam. Setelah meletakkan semuanya di atas tempat tidur, ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Donghae berjalan memasuki dapur dengan jas tersampir di tangan kanan sedang tangan kirinya menjinjing tas kerja, dasi yang belum terpasang tergantung di lehernya. Di pantry sudah tersaji sebuah piring berisi beberapa potong tuna sandwich, dua gelas air putih, segelas jus wortel-untuk Haerin dan secangkir kopi susu-untuk Donghae. Haerin sedang menaruh telur orak-arik yang baru dimasaknya ke dua buah piring saat menyadari Donghae bersandar di ambang pintu dapur, memperhatikannya dengan seksama.
“Pagi, Oppa!” sapanya dengan senyum lebar yang membuat Donghae tidak bisa menahan diri untuk mendekat dan mendaratkan ciuman manis di pipinya.
Donghae menarik kursi tinggi pantry dan mempersilahkan Haerin untuk duduk sebelum menempati kursi di sisi gadis itu. “Kita makan sekarang?” tanyanya sambil menatap hidangan di hadapannya dengan mata berbinar.
Haerin tertawa melihat Donghae yang tampak nyaris meneteskan liur saking laparnya karena mereka melewatkan makan malam kemarin. Ia menyodorkan sepotong sandwich ke mulut Donghae, “Oppa, aahh~”

Ia baru saja akan membereskan perabot makan yang digunakan untuk sarapan ketika terdengar suara Donghae memanggilnya, “Sayang, tolong pasangkan dasiku..”
Di ruang duduk, Donghae berdiri sambil mengulurkan dasi kepada Haerin yang segera melakukan ‘tugasnya’. Donghae memperhatikan wajah Haerin yang tampak serius, senyuman geli menghiasi wajahnya. Haerin tampak sangat manis dan menggemaskan bila sedang serius seperti ini. Untuk kesekian kalinya pagi ini, Donghae mencuri ciuman dari istrinya tercinta itu
Wajah serius Haerin berubah kesal, ia menatap Donghae dengan seringai terukir di sudut bibirnya. Tanpa aba-aba, ia mendaratkan bibirnya di bibir Donghae yang sedikit terbuka dan menciumnya dalam. Donghae yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu, terdiam beberapa saat saking kagetnya sebelum mulai membalas ciuman itu. Tak lama kemudian, Haerin melepaskan diri tepat saat Donghae mencoba memperdalam ciumannya.

Matanya berkilat nakal, “Satu-sama, Oppa!”
Donghae menatapnya dengan sorot aneh yang sudah dikenali Haerin, kembali ia tersenyum licik. “Masih pagi, Sayang, dan hari ini kau harus ke kantor,” bisik gadis itu tepat di telinga Donghae sambil menyodorkan jas dan tas kerja ke tangannya. Donghae memakai jasnya dengan wajah cemberut, kentara sekali ia sedikit kesal karna tidak mendapatkan keinginannya.
“Oppa, nanti kau pulang untuk makan siang?” tanya Haerin saat mengikuti Donghae ke pintu depan.
Donghae menggeleng kecewa.

“Aku ada meeting dengan Sungmin menjelang siang nanti, perusahaannya akan menangani sebuah proyek untuk perusahaan kita. Mungkin aku akan makan siang bersamanya, tidak apa-apa kan?”
“Ne, sampaikan salamku pada Sungmin Oppa kalau begitu.”
Setelah melepas kepergian Donghae dengan sebuah kecupan manis dan pelukan hangat, Haerin kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia masih punya tiga hari cuti, untuk hari ini ia berencana akan membereskan apartemen mereka yang masih berantakan dan berbelanja keperluan sehari-hari, terutama stok makanan.
Ia dan Donghae baru kemarin kembali dari bulan madu mereka, kecuali belanja beberapa keperluan pribadi dan sedikit bahan makanan, keduanya belum sempat melakukan apa-apa lagi. Bahkan barang-barang Haerin yang dibawanya ketika pindah ke apartemen Donghae ini masih berada di kardus, termasuk sebagian besar pakaiannya. Haerin menghela napas panjang saat menyadari ia akan bekerja keras seharian ini.

Haerin bergegas menuju ruang depan untuk membuka pintu ketika deringan bel memenuhi seisi apartemen. seulas wajah tampan dengan senyum lebar menyambutnya di depan pintu.
“Aku pulang,” sapa Donghae yang melangkah masuk dengan menenteng jas dan tas kerjanya, dasinya sudah dilonggarkan dan lengan kemejanya digulung sebatas siku. Wajah tampannya tampak lelah dan sedikit kusam.
Haerin mengambil alih jas dan tas dari tangan Donghae, “Bagaimana harimu, Sayang?” tanyanya memperhatikan lelaki itu menunduk untuk membuka pantofelnya.
“Buruk,” jawab Donghae singkat tanpa memandang Haerin.
Gadis itu terkejut. Dalam hati ia mengira-ngira apa yang terjadi pada hari itu.

“Kenapa?” Haerin bertanya dengan nada cemas yang tak dapat disembunyikannya.
Donghae merangkul bahu Haerin dan berbisik, “Aku merindukan istriku seharian ini..” lalu berlari menuju kamar tidur dengan cengiran lebar di wajahnya.
Haerin berdecak kesal. Lagi-lagi pria itu mengerjainya. Dengan membawa jas dan tas kerja Donghae, ia menyusul pria itu ke kamar mereka.
Donghae merebahkan dirinya di sofa empuk di tengah kamar, wajahnya tampak letih sekali. Haerin berdiri di belakangnya dan mulai memijati bahu pria itu. Donghae mengerang nikmat merasakan sentuhan lembut namun penuh tenaga Haerin melemaskan otot-ototnya yang tegang. Ia memejamkan mata menikmati perasaan nyaman yang menjalari tubuh.
“Hari ini kemana saja, Sayang?” Donghae bertanya pelan.
“Cuma belanja ke supermarket. Lalu membereskan barang-barangku, Oppa,” ujar Haerin sambil mulai menepuk-nepuk punggung atas Donghae. Mendorong tubuh pria itu sedikit condong ke depan agar ia bisa memijati punggungnya juga.
Donghae membuka mata, diedarkan pandangan ke penjuru kamar dan bersiul pelan. Ia baru menyadari perbedaan yang terjadi di kamarnya. Kardus-kardus berisi barang Haerin yang sejak dua minggu lalu bertumpuk di sudut kamar kini sudah lenyap. Beberapa buku asing yang bisa dipastikan bukan miliknya memenuhi rak buku built-in di salah satu sisi kamar, bersanding dengan buku-buku koleksinya. Ceruk khusus di sudut ruangan, tempat menyimpan koleksi tas kerja dan ranselnya tampak semarak dengan tambahan beberapa tas wanita berbagai model dan warna. Meja rias di dekat pintu kamar mandi sekarang penuh sesak dengan berbagai produk wanita yang berdampingan dengan sejumlah kecil perlengkapan pria miliknya, baru kali ini meja itu tampak sesak oleh benda-benda yang diletakkan di atasnya. Dua buah kotak berukuran sedang terletak di sudut meja rias, Donghae berani bertaruh bahwa kotak itu berisi perhiasan dan aksesoris milik Haerin. Beberapa ikat pinggang unik dan lucu juga ikut ambil tempat di sebuah tiang khusus dekat lemari pakaiannya, berdampingan dengan milik Donghae. Side-table di sisi lain kamar yang biasanya menjadi tempat Donghae meletakkan perlengkapan gadgetnya kini memajang beberapa pigura dengan potret dirinya dan Haerin, koleksi gadgetnya harus rela turun pangkat ke laci-laci di bawahnya. Hilang sudah kesan maskulin ala kamar seorang pria lajang yang dulu terasa di kamar ini.
“Wah, ternyata aku benar-benar sudah menikah..” Donghae berkata takjub.
Haerin menyudahi pijatan di bahu Donghae, tubuhnya menunduk dengan tangan terjulur melingkari leher lelaki di hadapannnya itu. “Tentu saja kau sudah menikah Oppa, kalau tidak, aku tidak akan berada di sini sekarang..” bisiknya lalu mencium pipi Donghae lembut.
Donghae tersenyum. diraihnya tangan Haerin yang menggantung di depan lehernya dan digenggamnya erat.

“Aku mencintaimu, Haerin-ah..”. Ia berpaling menatap Haerin penuh cinta yang dibalas gadis itu dengan senyuman manis.
Mata keduanya saling terpaku selama beberapa waktu, sebelum Haerin berdeham. Memutus aura romantis yang mulai menyelimuti kamar. Ia bangkit dari posisinya dan kembali berdeham.

“Oppa mau mandi dulu sebelum makan malam?”
“Tentu saja,” Donghae mengelus tengkuknya, merasakan tubuhnya lengket dan tidak nyaman.
“Aku siapkan airnya dulu ya..” Haerin bergegas masuk ke kamar mandi. Ia tau sekali bahwa Donghae tidak bisa mandi tanpa air hangat, bahkan di musim panas seperti sekarang ini.
Donghae sedang membuka kemejanya ketika Haerin keluar dari

kamar mandi. Tubuh kokohnya yang hanya tinggal berbalut kaus putih membuat Haerin jengah. Ia mengipasi wajahnya yang tiba-tiba terasa hangat. Donghae menyeringai kecil melihat tingkah Haerin, ia tau sekali gadis itu sedang merasa gugup dan malu. Ia mulai membuka celana panjangnya, menampakkan boxer-brief dan sepasang kaki yang langsing namun kokoh. Haerin kontan memalingkan wajah ke arah lain.
“Oppa, air hangatnya sudah siap,” Haerin berkata pelan dengan suara bergetar. Ia menyibukkan diri dengan tirai jendela agar tidak perlu melihat lelaki itu.
Donghae melangkah mendekati Haerin yang tampak semakin salah tingkah. ”Park Haerin, kau sudah beberapa kali melihat tubuhku, mengapa masih malu-malu begitu?” ucapnya geli sebelum berbalik arah dan masuk ke kamar mandi.
Haerin menghembuskan napas lega setelah Donghae menghilang di balik pintu. ia memang masih belum terbiasa melihat tubuh lelaki itu. setelah merapikan kamar sedikit, ia kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya yang terpotong karena kepulangan Donghae.

Haerin sedang sibuk menumis sayuran ketika sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang. “OH MY!” pekiknya sambil melonjak kaget. Ia melirik ke belakangan dan menemukan wajah Donghae dengan cengiran lebar yang nyaris membelah wajahnya.
Donghae tertawa melihat reaksi istrinya itu. dagunya ditempatkan di bahu Haerin,

“Sayang, aku lapar..”
Tangan Haerin terjulur mengelus pipi Donghae. “Sabar, sebentar lagi aku selesai.”
“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Donghae sambil melepaskan pelukannya. Ia berlagak melemaskan tubuh dan meregangkan tangan, seolah bersiap untuk melakukan pekerjaan berat.
Haerin tertawa. “Tidak perlu, tunggu saja di meja makan..”
Walau Haerin menyuruhnya untuk duduk manis di meja makan, Donghae ternyata tidak tinggal diam. Ia mengambil lalu menata peralatan makan di meja, menyiapkan kimchi, menuang air minum dan mengisi nasi ke mangkuk.
“Suami yang baik harus ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Lagi pula, menyiapkan makan malam bersama seperti ini, bukannya lebih romantis?” jawab Donghae ketika Haerin memprotes kegiatannya, membuat senyuman lebar terkembang di wajah gadis itu.
“Oke, selesai!” sorak Haerin.
Ia membawa masakannya ke meja makan di mana Donghae sudah menunggu dengan manis.
Hanya jjimdal [semacam semur ayam] dan fried vegetable [teringat Family Outing, :p] , namun Donghae tidak mampu menahan liur menatap makanan yang tersaji di hadapannya, aroma lezat menggelitik indera penciumannya.
“Selamat makan!” ucap Donghae riang sambil mengangkat sumpitnya.
Haerin memandangi Donghae yang mulai makan dengan nikmat. wajah lelaki itu tampak cerah, sepertinya ia puas dengan hasil masakan Haerin.
“Sayang, kenapa belum makan? Jangan khawatir, masakanmu selalu enak seperti biasa..” Donghae menghentikan suapannya ketika menyadari Haerin terdiam memperhatikannya. Pada dasarnya Haerin memang suka memasak, sejak berpacaran dulu Donghae sudah sering sekali dimanjakan dengan hasil masakan Haerin yang lezat-lezat.
“Ayo, buka mulutmu!”Donghae menyodorkan sumpitnya kemulut Haerin.
“Jadi, bagaimana hari pertamamu masuk kerja lagi Oppa?” Haerin membuka pembicaraan. Ia mulai melahap makanannya sendiri.
“Anak buahku di divisiku menyiapkan pesta kecil untuk merayakan pernikahan kita. Dan Leeteuk Hyung menggodaku sepanjang waktu,” Donghae tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong, cutimu sampai kapan?”
“Tiga hari lagi aku mulai masuk kerja.”
Donghae merengut. “Kenapa kau tidak berhenti saja, Sayang? Cukup menjadi nyonya rumah untukku.”
Haerin mendesah, lelaki ini mulai lagi. Sejak berencana menikahinya, Donghae tidak pernah berhenti membujuknya untuk meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya untuk total menjadi ibu rumah tangga. “Oppa, aku jauh-jauh kuliah ke Amerika bukan untuk menjadi ibu rumah tangga sepanjang waktu. Aku janji, aku akan tetap memperhatikanmu walaupun aku bekerja. Sesibuk apapun aku di kantor, keluarga tetap yang nomor satu.”
“Atau kau bisa bekerja di perusahaan bersamaku, aku akan membujuk Ayah agar kau bisa menjadi sekretarisku..” Donghae pantang menyerah.
“Ayah tidak akan mengizinkannya.”
“Tentu saja ia akan mengizinanmu! Ia mengizinkan Taeyeon Noona untuk menjadi sekretaris Leeteuk Hyung, kau ingat?”
“Taeyeon Unnie memang seorang sekretaris sebelum menikah, tentu saja Ayah menyetujui permintaan Leeteuk Oppa!” Dilihat dari segala sisi memang hampir tidak ada kemungkinan Haerin bisa bekerja di perusahaan keluarga Donghae. Seorang ahli farmasi bekerja di perusahaan media cetak, benar-benar tidak masuk akal.
“Ehm, bagaimana kabar Ayah?” tanya Haerin memecah kesunyian yang timbul setelah perdebatan mereka.
“Ayah baik-baik saja. Ia memberiku tugas yang cukup berat..”
“Tugas apa?”
“Ehm, pokoknya berat sekali. Aku minta kau bisa mengerti bila aku akan jadi sedikit sibuk ya? Mungkin akan menyibukkanmu juga.”
Kening Haerin berkerut. Sejak kapan ia harus terlibat dalam pekerjaan kantor Donghae?
Donghae menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah teringat permintaan Ayahnya tadi. Ia merasa malu untuk memberitahu hal itu pada Haerin. “Ayah memintaku untuk segera memberinya cucu..” ucapnya dalam hati.
Selesai makan, Donghae kembali membantu pekerjaan istrinya. Mereka berbagi tugas, Haerin membersihkan meja sementara Donghae mencuci peralatan makan yang kotor. Pria itu tersenyum lebar, kentara sekali ia menikmati pekerjaannya itu.
Donghae selesai lebih dahulu daripada Haerin, ia merebahkan tubuh di kursi rotan panjang yang berada di balkon ruang keluarga. Menikmati pemandangan kota Seoul di malam hari yang semarak dengan kerlip lampu berwarna-warni di segala penjuru. Semilir angin musim panas membelai tubuhnya, ia menatap Sungai Han yang tampak jelas dari sana. Apartemen Donghae memang tidak begitu besar, bukan sebuah penthouse seperti layaknya seorang eksekutif muda kebanyakan. Hanya ada beberapa ruangan kecil di dalamnya, namun memiliki view yang luar biasa karena berada di dekat Sungai Han, salah satu landmark kebanggaan Seoul.
Tak lama kemudian Haerin menyusul ke balkon sambil membawa dua gelas salad buah yang telah disimpan di kulkas.
“Haerin-ah, kau istri terbaik di muka bumi!” puji Donghae sumringah sambil meraih gelas yang disodorkan Haerin.
“Kaya kau sudah pernah punya istri sebelumnya saja, Oppa..” sindir Haerin bercanda.
“Tentu saja tidak.. kau istriku yang pertama dan untuk selamanya hanya kau satu-satunya,” Donghae memasang tampang cheesy yang membuat Haerin tertawa keras.
Tiba-tiba ponsel Donghae berbunyi, sebuah pesan masuk. Ia membaca sekilas dan tersenyum lebar. Haerin menatapnya ingin tahu.
“Eunhyuk Hyung, ia dan Hyoyeon sedang di kedai fish and chips favorit kami dulu dan merindukanku serta Sungmin Hyung. Mereka titip salam untukmu,” Donghae memberitahu Haerin. Ia menerawang teringat hari-hari ketika masih menuntut ilmu di tanah Ratu Elizabeth dulu. Lee Sungmin dan Lee Hyukjae atau yang lebih akrab disapa Eunhyuk adalah sahabatnya, walaupun keduanya merupakan seniornya di kampus. Ketiganya menyebut diri mereka sebagai ‘Lee Brothers’ karena sama-sama bermarga Lee, walaupun tidak ada hubungan keluarga di antara mereka.
“Mereka sedang di London?” tanya Haerin penasaran.
“Iya, Hyoyeon akan mengikuti sebuah fashion show disana,” Donghae menyebutkan nama istri Eunhyuk, seorang fashion designer ternama.
Haerin manggut-manggut sambil menjilat whipped cream yang menempel di sendoknya. Ia tidak begitu dekat dengan istri Eunhyuk. Maklum saja, pasangan itu kini menetap di Jepang sehingga jarang sekali ada kesempatan untuk bertemu. Bahkan mereka tidak sempat hadir di pernikahannya dengan Donghae.
Tiba-tiba Donghae teringat sesuatu, “Oh iya, Sungmin Hyung dan Sunny juga titip salam untukmu.”
“Sunny Unnie? Kau bertemu dengannya, Oppa?” tanya Haerin semangat. Ia selalu menyukai istri Sungmin itu, seorang wanita mungil yang selalu bersemangat, imut namun dewasa.
“Kebetulan ia akan ke rumah sakit, jadi ia ikut makan siang bersama kami. Kau tau sendiri, Sungmin Hyung tidak suka membiarkannya pergi hanya bersama supir,” Donghae menyuap potongan melon terakhirnya.
“Ke rumah sakit? Apa Sunny Unnie sakit?” tanya Haerin cemas.
Donghae tersenyum melihat perhatian istrinya kepada istri sahabatnya. “Dia baik-baik saja. Hanya check-up ke dokter kandungan.”
“Dokter kandungan?” mata Haerin membulat bingung.
“Kata Sungmin Hyung, mereka sedang menunggu kehadiran anak kedua saat ini..”
“WHAT? Sunny Unnie hamil lagi?” jerit Haerin terkejut. “Tapi…tapi.. bukannya Kyumin baru….”
“Empat bulan,” Donghae menyambung ucapan istrinya dengan cengiran di wajah. Reaksi Haerin persis seperti dirinya di retoran tadi, hanya saja tanpa memecahkan gelas kristal saking terkejutnya. Yah, menurutnya semua orang pasti akan bereaksi sama. Sunny sudah hamil lagi, padahal putra pertama mereka baru berusia empat bulan. Siapa yang tidak kaget?
“WAW!” Haerin terperangah.
“Dan menurut Sungmin Hyung lagi, Sunny sudah hamil 5 minggu,” sambung Donghae.
Haerin tidak dapat menutup mulutnya saking kaget dan kagum(?)nya. “Kok bisa?”
Donghae tertawa kecil. “Konon memang Sungmin Hyung punya vitalitas yang luar biasa.”
Haerin menatap bingung penuh tanya.
“Dulu, waktu masih kuliah, Sungmin Hyung dan Eunhyuk Hyung pernah iseng mengikuti semacam tes kejantanan untuk pria, dan hasilnya Sungmin Hyung bisa dikatakan luar biasa sempurna sebagai laki-laki. bahkan dokternya saja kagum dan iri sekali melihat hasil tesnya,” jelas Donghae.

“Jadi aku tidak begitu heran mendengar Sunny hamil lagi hanya berselang 2 bulan setelah melahirkan Kyumin.”
Haerin mengangguk mengerti. “Oppa, apa kau juga mengikuti tes itu?”
Wajah Donghae memerah. “Tidak, mereka melakukannya bersama beberapa teman sekelas, para senior.”
Haerin manggut-manggut.
“Aku pribadi tidak yakin atau berharap kualitasku sehebat Sungmin Hyung. Tapi setidaknya, aku harus cukup bagus untuk bisa membuatmu hamil secepatnya.

”Donghae meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke meja lalu merebahkan diri ke sandaran kursi.
Ganti wajah Haerin yang memerah mendengar perkataan Donghae. Ia bangkit untuk menaruh gelas-gelas kotor itu ke dapur, meninggalkan Donghae yang masih menikmati langit malam itu. tak lama kemudian ia kembali, duduk di sebelah Donghae dan bersandar pada lengannya yang terentang di sandaran kursi.
“Oppa, sudah berapa lama kita menikah?” Haerin bertanya pelan.
“Sepuluh hari,” Donghae menjawab dengan sedikit bingung.
Haerin menghela napas panjang. Matanya memandangi langit yang penuh taburan bintang.
“Oppa..” panggilnya pelan. “Apa kau masih ingat malam ‘itu?”
Donghae tersenyum lebar, wajahnya memerah lagi. Tentu saja ia ingat malam ‘itu’. satu malam terindah dalam hidupnya, yang ia tau pasti tak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup. Dua hari setelah pernikahan mereka, malam itu ia menjadikan Haerin benar-benar miliknya seutuhnya, jiwa dan raga.
“Aku punya sesuatu,” Haerin mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku piyamanya.
Donghae menerima benda itu dengan tatapan tidak mengerti. Sebuah batangan kecil berwarna putih, ada dua garis merah di dekat salah satu ujungnya.
“Ini apa?” tanyanya bingung.
Haerin tersenyum samar. “Melodi cinta yang kau mainkan malam itu sepertinya cukup ampuh. Menurut alat ini, our baby is on its way..” bisiknya tepat di telinga Donghae.
Lelaki itu menegakkan tubuh tiba-tiba. Wajahnya tampak bingung, kaget sekaligus senang. Ia membuka mulut, namun tidak dapat berkata-kata.
“Aku hamil, tapi kita harus memastikannya ke dokter kandungan dulu,” Haerin tidak mampu lagi menahan senyumnnya.
Donghae memeluk Haerin erat. Membenamkan wajah di bahu istrinya itu sambil tak henti mengucap syukur. Haerin balas memeluk tubuh Donghae yang bergetar hebat, mengelus punggungnya lembut untuk menenangkan.
Beberapa lama berselang, Donghae melepas pelukannya. Ia tersenyum, matanya berkilat bahagia walau sedikit merah setelah menangis. Ditariknya kepala Haerin dan mencium keningnya, lembut dan lama.
“Terima kasih, Sayang..” Donghae menatap dalam ke mata Haerin saat mengucapkannya, pertanda ia benar-benar memaknai pernyataan itu. Hidupnya sudah hampir sempurna dan wanita di hadapannya ini berperan besar dalam menyempurnakan hidupnya.
Ia lalu merendahkan tubuhnya. Tangannya terjulur mengelus lembut perut Haerin yang maish datar lalu menciumnya penuh kasih.
“Baby Lee, Ayah di sini..” ucapnya pelan.

END

Hehe.. kayanya kepanjangan *garuk-garuk kepala*
btw, Park Haerin itu nama Korea gue. Tapi dia bukan saya, terserah aja mau ngebayangin Haerin itu siapa [ngayal itu diri sendiri juga boleh~]
soalnya bingung siapa yang cocok dipairing sama Donghae.. gue bukan YoonHae atau HaeSica shipper. Sebenernya gue dukung banget Donghae WGM-an sama Eunseo itu, tapi berhubung belum tau karakternya Eunseo gimana, akhirnya gue pake karakter imajiner aja :3
semoga ga bosenin ya.. soalnya baru pertama kali bikin FF yang tokoh utamanya Donghae, jadi harap maklum kalo ancur banget gini
btw, kalau mau jadi silent reader mah silahkan.. tapi gue lebih seneng kalo dikasih komen atau kritik atau masukan.. *dikasih KYU juga boleh 😛
oiya, buat yang baca.. thanKYU J *bow bareng Kyu*

Iklan

19 thoughts on “[Oneshoot] Complete

  1. ceritanya bagus.
    tapi koq ga ada konfliknya yaa.
    kurang seru kalo mnrut.
    maaf yaah ..
    q cma mw ngasih saran, lebih baik dkasih konflik biar lebih seru.

    Suka

  2. bener banget tuh klo asa konflik y jd ada gereget y n bikin gmn gt tp klo kyk ff ini jd rasa y ngak ada konflik y jd datar ja….
    padahal pas lg baca nih ff bakal da cerita yg kyk gmn….
    tp ni dah bagus kok ff y so sweet…..

    Suka

  3. For me its okay no konflik krena mksudnya psti menonjolkan suasana pengantin baru kan? Hihi
    Manis FFnya dan itu knp vitalitas sungmin yg di kBS vitamin nyangkut ksini kekekke
    Ah si kyuhyun kan nomor duaaa *lirik yeobo*
    Dpt bgt suasana pengantin barunya. Aura pervert dmn2 kekekke

    Suka

  4. “Melodi cinta yang kau mainkan malam itu sepertinya cukup ampuh. Menurut alat ini, our baby is on its way..” bisiknya tepat di telinga Donghae.

    gmn gtu pas baca ini,,

    aku suka suka suka… romantis amat nih si hae..

    Suka

  5. Ceritanya baguus,, lbh menunjukkan romantisme pasangan pengantin baru yg bahagia,, msh seneng2 nya..
    Bnr2 seneng bgt liat donghae manis begiu smbl bayangin muka nya yg innocent dan manis ituu,, haaahhh sweet bgt

    Bagus..

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s