[ONESHOOT] a Time Machine

Author:

Hanwoo

Cast:

Hanwoo

Eunhyuk

Ryeowook

Length:

Oneshoot

Genre:

Sad- Romance – Straight


“Jika kau ingin aku membebaskanmu dari dunia ini maka kau harus menemukan dua orang yang sedang melakukan pendekatan dan kau harus bisa mendekatkan mereka berdua. Jika kau berhasil aku akan membebaskanmu dan mengantarmu sampai Surga . Waktumu tidak akan lama, jika kau kehabisan waktu dan belum menyatukan mereka maka kau akan lenyap..” ujar seorang malaikat pada seorang namja bertubuh mungil dengan pipinya yang tembam.

Hanwoo’s POV

——————–

Langkahku terhenti termenung menatap lantai di bawahku yang sudah menghitam. Melodi ini lagi. Selalu tepat jam empat sore di hari Sabtu ketika aku pulang dari sekolah. Aku menoleh membalikkan badanku perlahan ke kiri dan sangat terpesona selalu melihat punggung seorang namja yang sedang bermain piano di dalam sana. Aku penasaran dengan namja itu. Bahkan untuk mendengarkan melodinyapun sangat sesak di dada.

Sudah lama. Sudah lama aku ingin mengenal namja itu. Aku suka gayanya yang sedang bergerak-gerak terlihat dari jendela masih memakai pakaian seragam.

Tanganku terangkat untuk membuka pintu ruangan musik ini. Tiba-tiba tubuhku bergetar dan dengan cepat membeku. Aura ini bukan aura yang biasa.

Author’s POV

——————

Tiga orang namja sedang berlatih dance di studio. Studio ini adalah milik sekolah. Pada awal bulan April nanti mereka bertiga akan mengikuti lomba dance antar sekolah di Seoul jadi mereka setiap sore selalu ada di ruangan ini untuk berlatih. Eunhyuk si leader dari grup Kakao yang dinamainya sedang melakukan poping sementara Donghae namja disebelah Eunhyuk langsung ikut mendorong tubuh Eunhyuk pelan melakukan battle. Dia meliuk-liukkan badannya seperti ular dihadapan Eunhyuk.Dan namja lagi satunya, Cho Kyuhyun. Dia malah sedang asyik memainkan PSPnya.

Eunhyuk melangkah mematikan tapenya. Napasnya tersengal-sengal dan iapun duduk disamping Kyuhyun begitu juga Donghae yang duduk di hadapan mereka berdua. Wajah mereka terlihat diantara kaca-kaca ruangan ini. Eunhyuk tersenyum.

“Bagaimana denganmu Hyuk? Apakah sudah berhasil mendekati gadis itu?”

“Cih, gadis itu tidak mungkin bisa menerima cintanya setelah apa yang telah ia lakukan selama ini.”

Eunhyuk terkekeh mendengar ucapan Kyuhyun yang membuatnya menjadi sedikit tidak bersemangat. Kyuhyun menatap dan memarahi Eunhyuk kesal karena dia sedang fokus main hingga akhirnya ia mematikan PSPnya.

“Ka.. Kau ..” geram Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, seorang Lee Hyukjae pasti akan mendapatkan gadis manis itu.”

“Coba saja kalau kau bisa.” Ledek Kyuhyun.

“Bersemangatlah Hyuk.”

———————————–

Hanwoo tersenyum melangkah keluar gerbang sekolahnya. Tidak menyangka langit cerah sore hari sudah berubah menjadi sedikit gelap. Wajahnya terlihat kusut namun terlihat bersinar karena senyumannya yang tidak surut sedari tadi.

Hari ini dia sangat senang karena pertemuan pertamanya dengan teman barunya bernama Kim Ryeowook di ruang musik tadi. Namja itu dengan senang hati menyambut kedatangannya dan dipastikan Hanwoo sangat nyaman dan senang sekali. Dia merasakan ada hal yang berbeda dari dalam dirinya. Jantungnya berdegup ketika pertama kali melihat wajah namja itu yang putihnya begitu pucat namun terlihat sehat dan segar.

“Yak gadis bodoh kau seperti orang gila!”

Hanwoo mendelik ketika mendengar seseorang yang sudah berjalan disampingnya. Hanwoo menoleh ke samping dan terkejut melihat Eunhyuk sudah berada disampingnya.

“Untuk apa kau mengikutiku?!”

Hanwoo mulai menjaga jarak dari Eunhyuk. Dia tidak ingin orang yang dibencinya malah mendekatinya membuat mereka akan bertengkar pada akhirnya. Eunhyuk tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Hanwoo. Dia malah menarik tangan Hanwoo otomatis jarak mereka sangat dekat. Eunhyuk merangkul pundak Hanwoo sambil tersenyum manis memperlihatkan gigi rapatnya.

“Tidak bolehkah kita menjadi teman? Aku sudah bosan bertengkar terus.” Ujarnya.

“Yang duluan mulai siapa? Apakah aku?”

“Baiklah aku yang salah.”

“Kenapa kau jadi baik sekarang? Aku jadi curiga.”

“Haah hanya perasaanmu saja. Tidak baik berperasangka buruk tentangku.

Hanwoo’s POV

——————–

Setiap hari Sabtu aku selalu rajin datang ke ruangan music hanya demi menghampirinya. Hari ini aku sedikit berdandan hanya memakai bedak dan lip gloss tipis yang menyapu bibir mungilku. Kutaruh keranjang rotiku di atas pianonya hingga membuat Ryeowook berhenti memainkan pianonya lalu menatapku.

Tatapannya tajam seperti hantu. Wajahnya masih terlihat putih pucat tidak mengenakkan namun kondisinya sangat normal. Tak lama kemudian dia tersenyum sangat cute memperlihatkan kembungan di pipinya yang tembam. Siapa wanita yang tidak luluh jika diperlakukan seperti ini?

“Duduklah.” Ujarnya sembari tangannya menepuk-nepuk sofa disebelahnya yang masih tersisa sedikit tempat untukku.

“Gomawo.

Akupun duduk disampingnya. Sangat dekat dan aku tidak ingin dia mengetahui detak jantungku yang sudah tidak karuan. Ini sungguh aneh bahkan jantungku berdetak sangat cepat sekali. Dan aura ini hanya dapat ditemukan di dalam ruangan ini.

“Aku akan memanggilmu Wookie oppa saja ya, kelihatannya sangat cocok di pendengaranku.”

Wookie oppa. Nama itu sangat cocok untuknya yang terkesan kecil dan imut-imut. Aku sudah memikirkannya seharian. Tidak peduli dia mau setuju atau tidak yang jelas aku benar-benar mengaguminya. Dia masih terdiam. Aku menjadi takut. Aku takut dia tidak menyukaiku dan men-cap-ku gadis aneh dan tidak sopan.

“Oppa kalau tidak suka aku tidak akan memaksa.”

Aku sungguh takut membuatnya marah tapi tak lama kemudian dia tertawa setidaknya ini membuat perasaanku sedikit lega. Dia tertawa. Sangat lucu.

Eunhyuk’s POV

——————–

Aku melirik arlojiku. Sudah jam sembilan malam tapi orang tua gadis bodoh itu mengatakan dia belum pulang daritadi? Kemana dia? Apa yang sedang dilakukannya? Membuatku resah saja. Ini membuat acara malam mingguku suram gara-gara dia. Padahal aku sedang ingin memberikannya surprise.

Aku memilih pasrah untuk menunggunya duduk di bangku teras depan. Gadis bodoh itu membuat seorang Lee Hyukjae tengah jatuh cinta padanya tapi dia tidak tahu betul tentang perasaanku. Yang dia hanya tahu aku adalah musuhnya, aku adalah rivalnya, aku adalah monsternya seperti yang pernah ia sebutkan di setiap saat kami melakukan pertengkaran. Tapi tidak tahukah semua itu telah berubah cepat di dalam hidupku?

Inilah yang aku alami sekarang berjuang mati-matian untuk menunggunya pulang. Berjuang mati-matian membelikannya seikat buket bunga mawar merah kesukaannya dan satu ikat balon berwarna merah muda seperti apa yang dibilang Sunny sahabatnya bahwa dia sangat menyukai kedua hal tersebut. Tapi aku malah tidak mendapatkan perlakuan setimpal dan harus menunggunya pulang. Ini membuatku begitu resah.

Dulu aku memang sempat membencinya karena menurutku auranya terlalu bersinar di mataku dan membuatku terganggu karenanya. Dia pintar, cantik dan juga baik hati. Apa yang kurang darinya hingga membuatku untuk membencinya mencoretnya dari list manusia di dalam hidupku. Begitu kejamkah aku?

Tapi mungkin aku sedang menjalani karmaku. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta ketika mendengar teriakan dan tangisnya saat membentakku tiga minggu yang lalu. Aku sangat kasar padanya. Hey, itu tidak sengaja kulakukan. Waktu itu aku sedang berlari karena Donghae mengejarku. Donghae mengejarku karena aku sedang berusaha menyembunyikan handphonenya dari tangkapannya. Tapi aku tidak sengaja menabrak seseorang di depanku ketika aku berlari melihat ke belakang. Aku menindih orang itu dan tidak sengaja mengecupnya. Bibirnya dan bibirku saling bersentuhan ini membuatnya marah besar menampar dan memukulku hingga dilanjutkan dengan teriak dan tangisannya di hadapanku. Ini membuatku menjadi tertarik padanya.

Pintu gerbangpun dibuka dan aku segera bangkit ketika melihatnya di ambang pintu dengan wajah yang begitu pucat pasi. Aku berlari menghampirinya dan memapahnya ketika kulihat dia hampir jatuh.

“Hanwoo ! Hanwoo ! Kau sakit? Wajahmu pucat sekali.. Bangunlah !! Jebal bangunlah!”

“Eun.. Eunhyuk..”

Badannya begitu lemas lalu ia menutup matanya tidak sadarkan diri. Aku langsung panik menggendongnya masuk ke dalam rumah.

Author’s POV

——————-

‘Kemarin malam ada seorang namja tampan yang mengantarmu masuk sampai kamar. Dia menitipkan bunga mawar ini dan sepucuk surat untukmu’

Hanwoo tersenyum-senyum mengingat ucapan eommanya tadi pagi saat mengantarkan sarapan untuknya. Hanwoo menatap seikat bunga mawar pemberian Eunhyuk yang sudah ditaruh rapi di dalam vas bunga. Hanwoo mencium bunga itu dan aroma bunga mawar yang diciumnya mampu membuat tubuhnya terasa segar.

Hanwoo melangkah duduk di atas ranjangnya dan mulai membuka surat yang baru saja dia ambil di atas meja kecil disamping tempat tidurnya.

“Kalau sudah bangun tolong hubungi aku.”

Hanwoo mendesis mengembangkan smirknya meremas surat itu lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

“Namja bodoh ini kenapa akhir-akhir ini dia menjadi baik? Cih. Tidak seperti biasanya. Mau mempermainkanku, Lee Hyukjae-ssi?”

————————

Eunhyuk terlalu gelisah untuk hari ini tidak dapat membenarkan posisinya dengan baik di atas ranjang. Daritadi sudah berapa pose yang  dia lakukan dari guling ke kanan dan kekiri sudah dilakukannya berulang-ulang kali karena sedang menunggu telepon atau sms dari Hanwoo seharian tapi dia tidak kunjung menghubunginya.

Apa yang sedang di lakukannya? Apakah dia sudah sembuh? Dia hanya butuh penjelasan dari Hanwoo agar dia tidak seresah ini. Eunhyuk menatap handphonenya. Sedaritadi niatnya terurungkan untuk menelpon Hanwoo dan lebih memilih gengsinya untuk tidak menelpon gadis bodoh itu. Namun nyatanya Eunhyuk sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya hingga akhirnya dia mengambil iphonenya yang sedari tadi ditatap ingin menelpon gadis itu.

“Anyeong” sapa Hanwoo diseberang sana. Mendengar suara Hanwoo di seberang Eunhyuk menghela napasnya pelan. Dia begitu gugup.

“A.. Anyeong.” Balas Eunhyuk.

“Mau apa kau menelponku?” ketus Hanwoo.

“Aku menunggu teleponmu sedari tadi kau kemana saja?”

“Aku tidak kemana-kemana.”

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Hyuk jangan baik padaku aku tidak menyukainya.”

‘KLIK’

Hanwoo mematikan telponnya membuat Eunhyuk membuka mulutnya heran menatap iphonenya. Ini pertama kalinya dia ditolak oleh seorang yeoja. Biasanya yeoja-yeoja cantik di sekolahnya akan berusaha mencari perhatiannya untuk dijadikan pacar tapi yeoja ini memberikan kesan baru di hidup Eunhyuk.

Eunhyuk menghempaskan tubuhnya di atas kasur meniup poninya yang hampir menutupi mata. Dia mencari cara bagaimana agar yeojaitu tertarik padanya.

————————-

“Sunny ..”

“Ne?”

Gadis berambut pendek dan pirang seperti seorang namja itu menoleh ke arah kanan menatap Hanwoo yang sedang termenung.

“Aku menyukai sunbaenim di sekolah kita.”

Sunny melotot mendengarnya. Dia sungguh terkejut melihat Hanwoo pada akhirnya tertarik pada seorang namja dan tentunya dia sangat penasaran siapa namja yang bisa membuat sahabatnya seperti ini.

“Jinja? Sunbaenim? Anak kelas apa?”

“Molla.”

Hanwoo mengangkat bahunya membuat Sunny menatapnya iba dengan kening yang mengerut.

“Kenapa tidak tahu? Apakah Lee Hyukjae orangnya anak dari club dancer di sekolah kita?”

Hanwoo membuka mulutnya lebar-lebar terkejut mendengar Sunny menyebut namja itu.

“Andwe ! Namja ini sangat ahli bermain piano dia bernama Kim Rye..”

‘Tolong jangan sebut namaku’

Hanwoo mendadak kaku ketika sebuah suara memenuhi ruangan ini dan terdengar di pendengarannya sangat jelas. Dia seperti kerasukan setan terdiam mematung membuat Sunny merasa takut dan menggoyang-goyangkan tubuh Hanwoo cepat. Hanwoo terasadar dari lamunannya.

“Aah mianhe. Aku membohongimu.” Hanwoo tertawa menepuk pundak Sunny. Sunny menggeleng-geleng merasa kesal dibuatnya.

“Aku ingin membunuhmu detik ini juga Hanwoo.”

Hanwoo hanya nyengir seperti kuda memperlihatkan gigi rapatnya dihadapan sahabatnya itu. Tapi tak lama kemudian senyuman itu menyusut ketika ia teringat lagi dengan suara itu.

Hari ini bukan hari Sabtu namun tak membuat Hanwoo untuk berhenti penasaran dengan namja itu. Sepulang sekolah Dia mengintip ruangan musik itu dan ternyata Wookie tidak ada di dalam sana. Tidak mungkin mencari namja tampan ini di setiap kelas karena sekolahnya begitu luas dan besar. Memang agak sedikit aneh dengan Wookie karena namja itu terlalu misterius di matanya.

Sebelumnya dia tidak pernah bertemu atau melihat sama sekali dengan Wookie. Semenjak kepindahannya dari Daegu ke Seoul dia baru melihat namja ini sebulan dari kepindahannya. Dia baru menyadari bahwa ada perasaan rindu yang menyeruak di hatinya.

“Hanwoo!”

Hanwoo terkejut ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya. Dia menoleh dan melihat ke arah Eunhyuk dengan tatapan kesal.

—————————————

Sepulang sekolah Eunhyuk dan Hanwoo duduk disebuah ayunan taman. Mereka tampak diam canggung satu sama lain.

“Tiga hari lagi aku akan mengikuti lomba, bisakah kau memberiku semangat?” tanya Eunhyuk membuka percakapan. Hanwoo menoleh hanya menatap namja itu.

“Jika aku tidak mau bagaimana?”

“Kau harus melihatku, itu akan membuatku .. itu.. itu akan membuatku semangat.” Gugup Eunhyuk. Eunhyuk menunduk malu-malu.

“Ak.. Hhmmppt..”

Eunhyuk mengunci bibir Hanwoo cepat tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. Hanwoo melepas ciumannya kemudian tangannya menampar mulus pipi Eunhyuk. Eunhyuk meringis menyentuh pipi kirinya yang terasa perih. Melihat Hanwoo bangkit ingin pergi meninggalkannya Eunhyuk dengan cepat menarik tangan Hanwoo hingga Hanwoo terjatuh duduk ke dalam pangkuannya. Eunhyuk memeluk Hanwoo dari arah belakang.

“Saranghae.”

Hanwoo’s POV

———————

Sesampai di kamar kutaruh tasku di atas meja. Aku terdiam tidak percaya dengan hari ini. Kusentuh bibirku dalam diam. Sudah dua kali. Ya, ini sudah yang kedua kalinya bibir kami bersentuhan. Dia begitu lancang padaku. Dia kira aku menyukainya? Jangan harap Lee Hyukjae-ssi. Tiba-tiba teleponku berdering. Aku melihat sebuah panggilan masuk dari Eunhyuk namun aku mengabaikan dan mematikan ponselku. Aku sungguh lelah bermain dengannya.

“Tiga hari lagi aku akan mengikuti lomba, bisakah kau memberiku semangat?”

Ucapannya masih terngiang-ngiang jelas di kepalaku. Dia memintaku untuk datang melihatnya?

Aku melangkah di koridor dan selalu mengintip ruangan musik itu. Kosong. Tidak ada siapa-siapa yang kulihat. Aku baru ingat ini bukan hari Sabtu. Kadang aku sangat heran kemana namja itu di hari-hari biasanya? Aku sangat merindukan bau tubuhnya yang khas. Parfum aroma melati di tubuhnya menempel sangat pas menusuk penciumanku.

Kadang jika aku duduk dengan Sunny di Cafetaria mataku mulai tidak fokus mencari-cari dimana namja itu. Sempat Sunny memarahiku karena tidak mendengar ucapannya.

“Hanwoo coba kau lihat ke belakangmu.” Suruh Sunny.

Aku penasaran kemudian menoleh ke belakang dan melihat Eunhyuk sedang menumpahkan es campur milik Donghae. Dia kelagapan ketika aku menangkap basah dia sedang melihatku tidak berkedip. Aku merasa itu tidak penting dan menoleh ke Sunny lagi.

“Dia menatapmu sedari tadi. Ada apa diantara kalian? Apakah dunia sedang berbaik hati ingin menyatukan kalian?”

“Tapi duniaku tidak nona Lee.” Balasku.

Sepulang sekolah aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan musik ini lagi. Bangunan tua yang tidak pernah di urus tidak seperti bangunan lainnya di gedung ini yang sudah elit dan modern. Tempat ini jarang sekali digunakan. Bahkan tidak pernah aku mendengar orang-orang mengikuti pelatihan bernyanyi seperti di sekolahku yang dulu. Ini sungguh ganjal menurutku.

Kusentuh tuts piano ini hingga menimbulkan bunyi do yang singkat. Piano ini yang mempertemukan kami berdua. Aku dengan sunbaenim tampan. Aku terkejut ketika pintu ruangan ini terbuka. Aku sedikit senang membayangkan sunbaenim datang untuk menemuiku namun senyumku menghilang ketika aku membalikkan badan mendapati Eunhyuk yang sedang berdiri di ambang pintu. Dia menutup pintunya dan berjalan mendekatiku.

“Jangan dekat-dekat dari wilayahku Hyuk.” Peringatku kepadanya agar tidak lancang dia mencium bibirku. Tapi dia malah tertawa meledek dan semakin mendekatiku. Tiba-tiba tangannya menarikku keluar dari ruangan ini namun aku menahannya.

“Ayo keluar ! Tempat ini tidak baik untukmu !”

“Hyuk!”

“Andwee. Hanwoo ikut aku, jeongmal.”

Eunhyuk menarikku terus tapi aku masih tetap menahan diriku. Kami saling tarik-menarik hingga akhirnya Eunhyuk menggendongku keluar. Aku sedikit berteriak tidak terima dan menggerak-gerakkan kaki agar ia menurunkanku.

Author’s POV

——————-

Jarum panjang sekolah Hanwoo berputar tepat di angka dua belas. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam tepat hingga membuat dentingan jam otomatis berbunyi mengisi seluruh ruangan sekolah mulai dari loby, ruang akademik, perpustakaan, lapangan, ruangan kelas dan yang lain-lain.

Seekor kucing Persia dengan mata yang bersinar loncat dari jendela saking kejutnya mendengar dentingan jam itu hingga menjatuhkan sebuah pot bunga di depan ruang musik.

Seorang namja masih mengenakan kemeja hitamnya menitikkan air matanya sambil memainkan melodi yang sedih mengisyaratkan kematian dan kesedihan yang begitu dalam. Tak lama kemudian matanya yang terpejam terbuka lalu ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Wajahnya begitu pucat.

Dunia berubah menjadi pagi. Satu-persatu murid-murid sekolah Jjeong memasuki gerbang hingga gerbang itu ditutup lagi rapat-rapat. Semua berjalan normal sesuai seperti biasa songsaenim sedang mengajarkan murid-muridnya. Ada yang masih berkeliaran di koridor ada juga yang sedang tertidur di ruangan kelas.

Hanwoo mencari Eunhyuk ke studio dance disaat istirahat. Tiga namja itu terlihat bersiap-siap memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Hanwoo menyodorkan sebuah bingkisan untuk Eunhyuk dan dengan senang hati Eunhyuk menerimanya. Saking senangnya wajahnya memerah dan ia kesulitan untuk mengontrol napasnya.

“Ini apa?”

“Buka jika kau sudah ada di mobil. Tentu saja aku tidak bisa menontonmu karena masih ada pelajaran. Mianhe. Tapi aku berdoa untukmu dan kau harus berusaha untukku merebut piala dari tangan lainnya.”

“Gomawo.”

Eunhyuk menunduk malu. Ketika di dalam mobil dia menatap jendela namun pikirannya tetap tidak bisa hilang dari kado yang dia pegang. Dia ingin membukanya tapi masih tidak rela. Pemberian gadis itu sangat langka menurutnya bagaikan orang-orang yang menemukan sebuah fosil dinaosaurus jika dijual akan sangat mahal.

“Jangan memandang saja, kalau ingin bukalah.” Ujar Donghae. Eunhyuk hanya tertawa kecil. Tangannya mulai merobek pelan bungkusan kado itu dan tersenyum senang ketika tahu sebuah kalung rantai emas berliontinkan jantung menggelantung bebas di jemari kanannya. Donghae yang mengetahui sahabatnya sedang senang mulai menyenggol lengan Eunhyuk. Namja itu menggoda Eunhyuk tanpa memperdulikan Kyuhyun yang sedang tertidur di sebelahnya.

Sunny melangkah menaiki anak tangga. Dia hendak menemui Hanwoo di ruang musik karena Hanwoo mengirimkannya pesan ingin memperkenalkannya dengan namja yang ia sukai. Namun langkah Sunny terlihat ragu ketika dia melihat ruangan musik yang berada di pojok sebelah kiri. Auranya sungguh berbeda dan dia heran Hanwoo kenapa seberani ini mengunjungi ruangan yang sudah tiga tahun tidak pernah dipakai lagi oleh sekolahnya.

Ketika dia mencoba melangkah pelan angin tiba-tiba datang berhembus menerpa tubuhnya pelan. Sunny terdiam tanpa kata.

Hanwoo’s POV

——————-

Sangat senang. Hatiku sangat senang bertemu dengan namja tampan ini lagi. Dia begitu lembut dan masih ramah ketika menyambut kedatanganku. Dia mengajariku bermain piano dan semenitpun aku sudah bisa bermain berdua dengannya. Ini sungguh ajaib. Orang tidak akan pernah bisa secepat ini bisa bermain piano dalam semenit. Bahkan orang-orang yang sudah ahli memerlukan bertahun-tahun untuk belajar alat musik ini sedangkan aku yang juga tidak mengerti dalam bidang musik hanya membutuhkan waktu semenit saja aku sudah bisa menemani Wookie oppa bermain, ini sungguh ajaib.

Aku sampai menghentikan tanganku kemudian menatapnya heran. Kutoleh lagi jemari-jemariku yang sudah terangkat. Aku menatap jemari-jemari lentikku.

“A.. Aku sungguh hebat.” Ujarku. Dia tertawa. Kutaruh tanganku di atas paha.

“Oppa, apa kau sudah punya kekasih?”

Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal yang tidak sopan seperti ini padanya. Dia menunduk menatap tuts-tuts piano itu. Tak lama kemudian dia menoleh menatapku.

“Kekasihku sudah lama pergi sampai saat ini dia masih belum tergantikan oleh siapapun.”

Rasanya langit cerah di luar berubah menjadi gelap dan datang badai yang mengamuk di tubuhku membuat tubuhku lemas seketika mendengarnya. Kemudian petir-petir datang ketika pikiran buruk mulai menyeruak masuk ke dalam pikiranku. Bahkan tidak tergantikan oleh siapapun?

“Oppa kau berada di kelas apa?” aku mengalihkan pembicaraan.

“Aku di ruangan 12-A.”

“Aku ingin menemuimu lain kali.”

“Hari ini aku tidak bisa berlama-lama. Aku akan pergi.”

“Oppa, jangan pergi aku .. Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu. Dia sahabat dekatku. Sunny.”

“Anio lain kali saja.”

Hanya sebuah tepukan tangannya di kepalaku aku mampu mengangguk tidak menolak keinginannya yang akan pergi meninggalkanku. Kini hanya aku yang berada di ruang musik ditemani piano tua yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Aku bangkit keluar dari ruangan ini dan melihat Sunny berdiri melamun di dekat tangga.

“Sunny !” sapaku.

Eunhyuk’s POV

——————-

Aku memegang piala ini dan menciumnya lembut. Aku sangat senang dan bisa dibayangkan bagaimana senangnya aku ketika Hanwoo tahu aku bisa merebut piala besar ini dari tangan orang lain. Ini sungguh luar biasa. Kekuatan cinta ini membuatku selalu bersemangat untuk meraih sesuatu hal.

Tiba-tiba iphoneku berdering menandakan sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Sunny. Awalnya aku mengernyitkan kening karena heran ada apa Sunny meneleponku? Apakah ada sesuatu menyangkut Hanwoo? Segera aku mengangkat teleponnya.

“Anyeong.”

“Hyukjae tolong hentikan Hanwoo.”

“Apa maksudmu?”

Aku menghentikan langkahku mendengar penjelasannya. Jadi gadis bodoh itu masih tidak menuruti perkataanku rupanya. Segera aku menutup telepon ketika Sunny sudah selesai melaporkan sesuatu tentang Hanwoo. Sudah lama aku bekerja sama dengan gadis itu untuk memberitahuku jika Hanwoo terjadi sesuatu dan gadis ini sangat bermanfaat untukku.

Aku menggedor pintu rumahnya dan tak lama kemudian dia membuka pintu menatapku dari bawah sampai atas hingga akhirnya dia tertarik pada sebuah benda yang sedang kupegang. Dia menunjuk benda itu.

“Apa kau berhasil?” tanyanya. Aku lupa kalau aku sedang membawa piala.

“Ne.” ujarku sambil mengangkat piala itu menggerak-gerakkannya pelan.

“Chukkae.”

Dia memelukku. Dia memelukku walaupun dengan waktu yang sangat singkat ini mampu membuatku terpaku dengan mulut sedikit terbuka.

“Aku mencintaimu ..”

Tujuan utamaku mencarinya adalah untuk melarangnya pergi ke ruangan music itu namun pikiran dan kata hatiku berkata lain.

“Mwo?”

Dia terkejut. Matanya sedikit mendelik ketika mendengarku mengatakan hal ini. Apakah menurutnya sangat aneh aku mengungkapkan perasaanku? Inilah yang kurasa bahwa aku benar-benar nyaman saat berada di dekatnya. Aku benar-benar mengaguminya. Apakah hanya rasa kagum saja? Tidak. Bahkan aku sangat merindukannya disaat setiap kali aktivitas sekolah diberhentikan. Waktu terasa berputar lama jika tidak bersamanya.

“Aku.. Aku mencintai seseorang Hyuk walaupun orang itu mengatakan tidak akan mungkin bisa menggantikan posisi orang di masa lalunya aku juga tidak bisa mengganti posisinya dengan orang lain.”

Begitu yang diucapkannya membuat hatiku cukup tertusuk. Cukup sudah aku mendengarnya. Aku tidak kuat, hatiku begitu sakit.

Hanwoo’s POV

——————–

Aku merasa buta dan ini membuat Sunny semakin menjauhiku karena aku dianggapnya wanita gila tidak mau menuruti perkataannya yang melarangku untuk pergi ke ruang musik itu. Dia mengatakan ruangan itu sungguh angker dan mistis. Aku sudah membuktikan bahwa di ruangan itu tidak seseram yang ia bayangkan bahkan aku menceritakan kepadanya bahwa aku bertemu dengan namja tampan disana dan itu membuatnya semakin kesal dan menjauhiku.

Eunhyuk, dia tidak pernah menggangguku lagi semenjak hari itu. Sudah seminggu kami tidak pernah bertemu membuatku sedikit rindu menyesal mengatakan hal itu kepadanya. Aku begitu kesepian.

Hari ini hari Sabtu jadwal tetapku untuk pergi ke ruang musik dan benar saja Wookie sunbaenim sudah duduk di kursi piano itu seperti biasanya. Hari ini dia nampak bersinar terang seperti malaikat. Aku memilih duduk disampingnya.

“Oppa apa kau tidak bosan berada di dalam sini terus?” tanyaku. Wookie oppa menggeleng.

“Anio.” Ujarnya.

“Kebetulan hari ini kau datang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Aku selalu datang setiap hari Sabtu oppa. Kau mau mengajakku kemana?”

Dia tersenyum menyentuh tanganku. Tubuhku bergetar terpaku tidak bisa bergerak. Wajahnya semakin mendekat ke wajahku namun dalam waktu yang cepat aku seperti terbuang ke lorong waktu berputar-putar dan berteriak-teriak di ruangan yang hampa ini lalu jatuh di suatu tempat. Dimana aku?

Aku menatap diriku yang sedang duduk di jalanan menatap di sekelilingku yang sangat ramai dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan ini. Aku baru menyadari ketika melihat jembatan ini. Ini adalah Seoul. Tapi tidak ada seseorangpun yang memperdulikanku membuatku sedikit sedih.

“Gwenchana?” tanya seseorang membuatku menoleh dan aku terkejut ketika melihat Wookie oppa sudah ada di sampingku lengkap dengan menggendong ransel hitamnya. Seragam ini adalah seragam sekolah kami.

“Kau murid sekolah Jjeong? Kajja, kita harus cepat kalau tidak ingin terlambat.”

Dia bangkit meninggalkanku dengan cepat. Aku berada di mesin waktu. Tidak, kenapa aku bisa berada disini? Aku ingin kembali ke waktuku, tolong ! Eunhyuk tolong aku ..

Aku menangis namun tidak ada yang mau menolongku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bangun melangkah menelusuri jalanan ini. Aku seperti pengemis ketika terkejut dan tidak ingin melihat pakaianku yang sudah robek di bagian lengan. Kemana aku harus melangkah?

Gedung sekolah ini. Ini adalah sekolah Jjeong. Akhirnya aku sampai di tempat ini setelah lumayan lama aku melangkah. Jam itu berdenting menandakan pelajaran sekolah sudah dimulai. Aku mencoba masuk berlari menuju kelasku dan disana semua mata menatapku. Yuri songsaenim membenarkan kaca matanya berlari menghampiriku yang masih terpaku memandang teman-teman disekitar. Tidak ada Sunny. Dimana dia? Apa dia tidak sekolah? Ah tidak.. tidak, mereka bukan teman-temanku.

“Anda sedang mencari siapa?” aku menoleh ke arah Yuri songsaenim. Aku mencoba menggeleng-gelengkan kepala. Bahkan Yuri songsaenim tidak mengenalku.

Aku ingin menangis melangkah di koridor sekolah. Kemana aku harus melangkah. Gedung ini masih nampak sama seperti gedung sekolahku tidak ada yang berubah hanya saja ini terasa aneh.

“Maaf tuan kau tahu ini tanggal berapa?” tanyaku pada satpam sekolah yang sedang lewat di dekatku.

“Tanggal 16 Januari 2009.”

Hatiku serasa hancur berkeping-keping mendengarnya. Tubuhku lemas ketika satpam mendengar hal ini sementara di duniaku sudah menginjak tahun 2012. Aku melihat seseorang dari kejauhan. Aku melihat Wookie sunbaenim ! Dia terlihat sama dan sangat tampan seperti hari-hari biasanya ketika aku bertemu dengannya. Ini membuatku tambah bersemangat. Dia harus mengembalikanku ke jamanku ! Aku berlari untuk menemuinya.

“Wookie oppa tolong kembalikan aku !”

Aku berharap dia mau membantuku. Aku sudah bosan. Ini bukan duniaku. Aku ingin bertemu Eunhyuk dan Sunny. Tolong aku. Tapi sepertinya usahaku gagal. Dia mengernyitkan keningnya heran menatapku.

“Orang gila.” Ujarnya. Rasanya daguku seperti lepas ketika dia mengucapkan hal itu. Aku menghampirinya lagi mengikutinya naik ke atas. Aku tahu ruangan ini, dia pasti mau bermain piano lagi. Ini adalah tangga yang menghubungkan ke ruangan musik.

Aku sungguh terkejut ketika sudah sampai atas ruangan musik yang terletak di pojok sebelah kiri itu seperti bersinar. Cat temboknya tidak ada yang lapuk dan juga sangat bersih. Lantainya tidak ada yang menghitam seperti diduniaku. Ini sungguh luar biasa. Saking senangnya aku berlari hendak menghampirinya namun aku terkejut dan cepat bersembunyi di balik tembok ketika melihat Wookie oppa sedang berciuman dengan seorang gadis.

‘PLAK’

Aku terkejut lagi ketika mendengar tamparan itu. Apakah gadis itu menamparnya seperti aku menampar Eunhyuk? Aku melihat gadis itu berlari keluar ruangan. Aku mencoba melangkah masuk ke dalam ketika mendengar suara piano bergeming di ruangan ini. Melodi itu.. Bahkan aku masih mengingatnya. Dia selalu memainkan melodi ini. Aku sangat menikmati permainannya hingga aku tak sadar aku sudah melangkah di dekatnya. Punggungnya tetap sama seperti yang pernah aku lihat. Dia berhenti bermain piano diikuti tepuk tanganku yang membuatnya kaget menoleh ke arahku.

“Kau siapa?”

“O.. Oppa. Anyeong Lee Hanwoo imnida.”

“Kenapa kau mengikutiku terus? Sana masuk kelas.” Dia mengusirku. Aku duduk disampingnya mencoba menekan tuts tuts piano. Dia malah mendorong tubuhku pelan melarangku menyentuh tuts pianonya. Kenapa dia jadi sekasar ini.

“Pergilah ! Jangan ganggu aku !” dia marah. Wajahnya memerah. Aku bergetar lagi dibentak seperti itu. Air mataku mengalir tidak bisa kubendung lagi. Aku mencoba menghapus air mataku dan terisak membuatnya sedikit peduli padaku.

“Yak! Wae? Mianhe.”

“O..Oppa aku tidak punya siapa-siapa disini.” Tangisku.

“Lalu bagaimana cara kau dapat bertahan hidup?”

“Bahkan aku tidak tahu hari esok aku akan makan dimana? Aku tidak membawa banyak uang. Kau ! Kau yang membawaku kemari.”

“Aku?! Bahkan aku tidak tahu kau itu siapa nona.” Ujarnya lembut.

“Andwe. Kau membawaku masuk ke dalam mesin waktu.”

Dia melongo menatapku tidak mengerti.

“Mwo? Mesin waktu kau bilang? Kau sudah gila, sadarlah.”

Aku kembali menangis tidak mengerti dengan semua ini. Jika di dunia nyata Eunhyuk pasti sudah menolongku. Dimana namja itu? Aku baru merasakan sosoknya sekarang.

——————————–

“Kau sudah bangun?”

Kepalaku terasa berat dan kuusahakan penghliatanku melihat sosok yang masih kabur itu hingga akhirnya aku bisa menatapnya dengan jelas. Wookie oppa datang memberikanku minuman. Aku bangkit dari tidurku mengambil minumannya kemudian meneguknya membiarkan tubuhku sedikit tenang.

“Aku ingin kembali, oppa.”

“Kau jangan berkata yang aneh-aneh.”

“Beribu kali aku jelaskan kau tidak akan mengerti. Aku ingin Eunhyuk.”

“Eunhyuk? Nama apa itu?”

“Dia temanku. Aku ada dimana sekarang?”

“Di apartementku.”

Aku menangis lagi. Hanya ini yang bisa kulakukan. Dia tidak akan mengerti walaupun aku jelaskan berulang-ulang kali.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat gadis itu sedang menatapku tajam. Wookie oppa bangkit mengejar gadis itu yang sudah pergi berlari meninggalkannya. Sepertinya dia adalah kekasih Wookie oppa. Aku jadi tidak enak kemudian mengejar mereka. Kudengar suara-suara mereka di luar sana membuatku berhenti melangkah.

“Kita putus.”

“Andwe. Jung Hyelim apa yang kau katakan?”

“Kau masih tidak bisa berubah juga Wookie.”

“Hyelim dia bukan siapa-siapaku. Kenapa kau berpikiran bahwa wanita yang selalu dekat denganku adalah wanita yang aku suka?”

“Sekarang bagaimana bisa aku percaya padamu? Jelaskan padaku Wookie.”

“Kau pencemburu sekali Hyelim.”

“Apakah salah aku cemburu? Kau kekasihku.”

“Hyelim..”

“Jangan menyentuhku lagi !”

Aku berdiri mengerjap-ngerjapkan mata di ruang tengah apatementnya. Mereka sudah tidak terdengar lagi yang hanya terdengar adalah derap langkah kaki mereka yang seperti berkejar-kejaran. Aku menangis melangkah sambil membuka pintu menunggu mereka di balcony depan.

Dalam hati aku menangis minta dikembalikan di duniaku. Aku tidak mengerti. Aku menjadi penyebab perpecahan mereka. Aku melihat Wookie oppa di bawah masih mencoba menangkap lengan gadis itu namun gadis itu menepisnya dan melangkahkan kakinya dengan cepat keluar gerbang.

‘BRAAAAKK’

Aku tidak tahu lagi dimana nyawaku berada ketika melihat sebuah mobil dengan kecepatan penuh menabrak tubuh gadis yang bernama Hyelim itu membuat Wookie oppa berteriak kencang hingga terdengar sampai telingaku.

Hyelimpun dikabarkan meninggal. Berhari-hari aku membuatkan Wookie oppa sarapan tapi dia tidak mau. Aku lelah dan takut. Aku sudah menyerah dan ingin kembali ke jamanku !! Aku tidak bisa dia diamkan seperti ini. Aku ingin gila.

Pagi ini dia berangkat ke sekolah seperti biasa. Sudah tiga hari dari kematian Hyelim. Aku membuatkannya bekal makan siang dan hendak menyusulnya ke sekolah. Tapi aku teringat lagi semenjak aku datang ke dunia ini aku masih belum mengganti bajuku. Bahkan aku lupa mandi karena mengurusnya.

Aku membuka wardrobenya dan mencari-cari baju yang pas untukku. Setelah aku melihat ke dalam lemari, tidak ada satupun yang pas di tubuhku. Semua terasa longgar di tubuhku. Aku terpaksa mengambil kemeja putih lalu aku mengambil handuknya segera mandi masuk ke kamar mandi.

Aku melangkah di koridor sekolah dengan semua mata menatapku. Apakah styleku aneh? Ini style jaman 2012 mereka tidak tahu bahwa di tahun itu kemeja kebesaran yang ujungnya diikat akan menjadi tren. Aku tidak peduli kepada mereka yang jelas aku hanya ingin bertemu Wookie oppa. Aku melangkah menaiki tangga mencoba mencarinya dengan menenteng sebuah bekal makanan yang sudah kusiapkan sedari tadi. Kali ini aku ingin terlihat beda di matanya.

Ketika aku sampai di atas aku mencoba tersenyum karena dia kali ini pasti akan senang melihat penampilanku. Namun senyumku surut seketika ketika melihat tubuhnya yang tergantung bebas di sebuah tali membuatku menjatuhkan kotak bekalku dan berteriak kencang.

Aku seperti terhisap ke dalam sebuah lorong waktu lagi dan melemparkanku pada jamanku lagi. Aku terbatuk-batuk menangis mengingat hal tadi. Bahkan aku tidak lupa bagaimana wajah tampan itu terpejam dengan bibir sedikit terbuka.

“Eeoteo?”

Suara ini.. Aku melihat Wookie oppa yang sebenarnya. Ah bukan. Aku tidak mengerti. Aku menyeret kakiku menjauh darinya. Tubuhku sangat takut ketika dia mencoba mendekatiku. Wajahnya bersinar. Aku baru menyadari semua kejanggalan ini.

“Hanwoo-ssi aku tidak akan memakanmu. Jangan takut.” Ujarnya. Tetap saja aku takut walaupun beribu-ribu kali dia meyakinkanku untuk tidak takut. Ini begitu menyeramkan. Dia jongkok di hadapanku.

“Kau sudah tahu siapa diriku? Mianhe membuatmu sedikit terkejut. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku masih terdiam berusaha mengontrol napasku semaksimal mungkin. Aku tidak dapat bicara banyak. Air mataku mengalir lagi.

“Gomawo sudah menemani hari-hariku belakangan ini. Aku sudah meninggal Hanwoo-ssi. Dan aku tahu kau mengagumiku. Ini tidak baik untukmu. Aku hanya ingin memberitahukanmu bahwa ada seseorang yang sudah lama mengagumimu dan aku tidak ingin kau menyia-nyiakannya seperti hari-hariku yang selalu tidak baik bersama kekasihku. Hari ini adalah hari terakhirku. Aku akan pergi tidak akan pernah kembali lagi maka dari itu aku mengajakmu untuk jalan-jalan sebentar. Menyenangkan bukan?”

Dan benar saja semenjak hari itu tidak ada lagi Wookie oppa di ruangan ini. Bahkan aku hanya bisa melihat dari bawah saja ruangan ini akan segera di bongkar oleh pihak sekolah. Aku menggigit bibir dan melihat ke atas langit. Aku mengerti dengan maksudnya dan mencoba menerapkannya sebagai hal yang positif. Matahari bersinar cerah hari ini.

“Chagiya kau sedang melihat apa? Ayo temani aku berlatih dance..”

Aku menoleh kea rah Eunhyuk yang sedang meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku tersenyum mengikuti langkahnya. Aku dan Eunhyuk sudah berpacaran dari hari itu. Pulang dari ruang musik itu aku menemuinya dan memeluknya hingga akhirnya dia menyatakan perasaannya lagi padaku. Aku tidak bisa menolaknya karena aku juga sangat merindukannya dan sangat sayang padanya. Ini semua karena ruangan musik itu. Hanya kerana sebuah piano itu yang dapat mempertemukan aku dengan dua buah cinta yang berbeda maknanya.

THE END.

Anyeong. Admin Hanwoo kembali membawa sebuah cerita fiksi yang berbeda. Maaf kalau jelek yah. Akhirnya cerita ini sukses aku buat. Entah kenapa aku bisa membuat cerita ini padahal aku sangat takut sama hal-hal mistis. Pernah malam-malam aku ngelajutin nih cerita sampe merinding sendiri soalnya aku takut sama hal-hal mistis T_T #curcoldikit.

Terima kasih buat VCR SS4 STORM, kalau aku gak nonton itu ide-ide ini tidak akan muncul. Terima kasih juga buat  Kang Minji yang selalu membantu saya dalam penyelesaian cerita.

Semoga kalian suka sama ceritanya dan tolong di koment yah ^^ terima kasih.

 

 

Iklan

16 thoughts on “[ONESHOOT] a Time Machine

  1. horor nya dapet,,,eonni baca kemarin malam pas mau tidur,,pas kebawah2 udah ada aura mistisnya gk d terusin baca saeng,,d lanjut paginya…heheheh
    y ampuuun eunhyuk disini terkesan lembut bgt…….heheheh
    daebak,,,d tunggu next story nya 🙂

    Suka

  2. OMG INI BAGUS.

    Ah lan itu serem dan agak krik pas baca ‘parfum aroma melati’
    Jd kebayang hantu2 indonesia

    dan knp si dancer jung dibawa2? Lol inget km selalu blg dy monster. Dan bayangin dy ciuman sm wookie *ngakak

    Hahha hyuk hanwoo emg udah jodoh. no comment lah, cm itu si hyuk suka cium2 smbarangan -_-

    Ah bagus pokoknya. Btw time machine itu serem yah. Mending jalanin ap yg udah ada aja deh. *peluk kyu*

    Suka

  3. DAEBAK!
    Ne ff paling beda dah pkoknya, awal ampe ending indah, yah meskpun ada aura hororny, hahaha

    Hyuk dsni lembut n baik bgt yah,
    Wookie jg, tampang2 kalem pendiamny dpt bgt!

    Suka

  4. Kyaaa akhirnya selesai baca ini FF !!
    Baguss lan , ceritanyaa beda !
    Euhm bener kata kang minji “parfum aroma melati” eaaa lol lemaoo

    “Daguku lepas” haha itu kita beuuuthh :p
    Apa yaa , akh wookie adikku tercinta kamu jadi hantu nak :3
    Eh gak nyangka lhoh dia mati gantung diri ..

    Dan gak bs ngebayangin ulan gt ya sendirian ke pojokan sekolah masuk ke ruangan ‘musik’ lapuk lg kkk~

    Assiiik itu ada akuu , dancer wookie gueh suka gaya loooo :3
    Itu penjelmaanku *tebarparfumaromamelati*

    Suka

  5. hyaaaaa..
    lee hanwoo..tumben kamu bikin ff serem beginiii..
    tapi aku bacanya pagi sih..jadi gak terlalu merinding..

    jadi ceritanya wookie itu punya missi buat nyatuin hanwoo sama eunhyuk gitu ya..
    hohohoho..
    aku suka sekali sad romance..bak bak banyakin sad romance lagi..*PLAK

    perjuangan eunhyuk keras juga yah buat dapetin hanwoo..
    tapi ada bagian yang aku kurang ngerti..
    pas eunhyuk narik hanwoo dari ruang musik itu selanjutnya ada apa? apa yang dilakuin hyuk sampe bikin besoknya hubungan hanwoo eunhyuk langsung membaik n hanwoo ngasih dukungan buat hyuk biar semangat ikut lombanya..

    ehem…wookie..kamu manis sekali..dan serem pastinya..dateng cuma pas hari sabtu..parfum aroma melati..wajah pucat..tapi senyumnya manis..ok..dimaafkan kok hal2 sebelumnya itu cuma gara2 senyummu itu..

    time machine…aku kirain masa2 wookie itu tahun awal 2000an atau 90an gt..ternyata 2009..yah..masih baru sih..tapi itu menjelaskan juga kenapa ruang musik itu gak dipake sekjak 3 tahun yang lalu..pasti sejak wookie bunuh diri disekolah itu ruang musik yang notabene tempat kenangan bagi wookie n hyelim itu jadi ber-aura sesuatu…

    abuuiikk..ternyata aku udah banyak bener ngemeng disini..
    kalo begitu aku pamit dulu eeeaaaa..
    next ff yang blm kubaca..ntar malam deh..
    pai pai..
    *belah jin*

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s