[OneShoot] BLue

Author: Minji ^__^

Cast: Cho Kyuhyun – Kang Minji – Henry Lau – Choi Siwon – and others ●

Length: Oneshoot ● Genre: Romance – Straight

 

……………………………………………

“I was born and I met you
And I have loved you to death”

(Blue-Bigbang)

 

Kyuhyun POV

“Again tonight, underneath that blue moonlight
I will probably fall asleep alone
Even in my dreams, i look for you
And wander around while singing this song

I’m singing my blues
Used to the blue tears, blue sorrow
I’m singing my blues
The love that I have sent away with the floating clouds”

Tak ada yang berubah dari ruangan ini, kecuali deretan botol wine yang akan terus bertambah hingga aku mengakhiri masa hidupku di dunia ini. Ini adalah hari ke-60 sejak ia pergi, meninggalkanku beserta semua isi dari apartemen kecil ini. Kurasa perasaanku melayang, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tidak pernah ada kata menyesal bagiku mengenalnya, pernah hidup bersamanya, pernah saling menjaga satu sama lain. Hanya ada satu penyesalan bagiku, mengapa aku berada di jalan ini sekarang.

Hidup memang pilihan, namun kurasa aku telah memilih pilihan yang salah. Andaikan aku bisa membaca pikiran orang lain, aku sangat ingin membaca isi kepalanya. Aku pasti akan melakukan hal yang sejalan dengan apa yang dipikirkannya tanpa harus mempertahankan ego dan juga mengucapkan beribu kata yang mungkin saja akan berakhir dalam sebuah pertengkaran. Satu hal yang tidak kusukai darinya, ia tidak cukup pengertian dalam berbicara denganku.

“Cho! Ayo peluk aku dan tebak apa yang kulakukan hari ini.” ia merangkulkan kedua tangannya di leherku. Aku akan selalu menuruti perkataannya dan mengecup kilat bibir cantiknya yang selalu membuatku tergoda.

“Kau berhasil menarik satu klien besar?” aku mencoba menebak dengan logikaku. Hal yang pasti akan membuat wanita ini merasa senang.

Wajahnya sedikit cemberut dan menggeleng.

“Apakah aku seambisius itu di matamu? Tebaklah hal lain. Yang lebih romantis.”

Aku mengernyitkan sebelah alisku. Ia mulai mempermainkan isi kepalaku.

“Menyerah.” Ujarku singkat.

“Kau payah.”

“Baiklah lekas katakan. Aku benar-benar menyerah.”

“Hmm.. aku berhasil membuat ramyeon tteokbokki. Setelah kucicipi rasanya sama seperti buatan omma. Kau wajib menghabiskannya.” Kulihat wajahnya sangat berbinar saat mengatakan itu.

Ya, ia bukanlah yeoja yang pintar memasak. Aku tahu, setelah memutuskan untuk hidup bersamaku, ia belajar keras untuk bisa memenuhi kewajiban utama itu, meskipun aku tidak pernah menuntut itu dengan alasan serius. Bagiku, bisa melihatnya di sisiku setiap hari sudah merupakan suatu hal yang menyempurnakan hidup kami.

“Bisakah aku meminta ganti rugi jika masakanmu tidak enak?” tawarku.

“Aku menjamin seribu persen kau akan menyukainya. Aku tahu lidahmu.” Ia mengedipkan matanya.

“Seandainya, bisa saja kan tidak enak ketika kumakan.”

“Baiklah. Kau bisa meminta ganti rugi apapun.” Jawabnya yakin.

“Kau harus melayaniku malam ini jika gagal.” Aku berbisik dan sedikit meniup telinganya.

“No problem.” Jawabnya pelan. Ia tersenyum kemudian.

Aku memejamkan mataku. Hal-hal kecil seperti itu selalu saja bisa membuatku tersenyum. Ya, hanya dengan mengingat hal-hal seperti itulah aku bisa bertahan hingga hari ini tanpanya. Hingga detik ini pun, aku masih menyisakan tempat kosong di sebelahku. Selalu mengingatnya ketika bangun tidur di pagi hari, dan merasa seolah-olah ia masih memelukku dan enggan untuk berangkat ke kantor. Semuanya, masih begitu nyata bagiku.

………………………………………………….

Minji POV

“Apa kau yakin?” matanya menatapku tajam. Kurasakan gigiku menggigiti bibirku sendiri.

“Kau tidak bersedia menolongku? Katakan saja jika kau keberatan.” Balasku. Membela diri.

“Sejak kapan aku keberatan untuk menolongmu? Kau adalah adik kesayanganku.” Ia kembali mengucapkan hal yang tidak penting.

“Baiklah. Jika begitu berikan padaku. Aku akan menandatanganinya.” Aku menyodorkan tangan kananku meminta darinya.

Ia hanya menggeleng-geleng lalu menyerahkan sebuah map padaku. Aku mengambilnya dengan sedikit gemetar namun berusaha tetap tenang. Aku sudah yakin dan keputusanku sudah bulat. Aku pun menggoreskan pena di tempatnya setelah membaca isinya dengan hati tidak karuan. Ada semacam perasaan yang membuat emosiku meluap dan nyaris meledak saat menelisik kata demi kata yang tertulis di sana. Tapi inilah hidup, hanya masalah pilihan.

“Bolehkah aku berpendapat?” ia bertanya.

“Silakan saja.”

“Sesungguhnya ada cara lain yang lebih baik selain ini. Kau bisa memikirkannya lagi dengan matang.” Ujarnya pelan. Kurasa ia berusaha agar tidak membuatku tersinggung.

“Jika itu membuat semuanya kembali ke awal, maafkan aku oppa. Aku menentang pemikiran dan niat baikmu itu.” Responku cepat.

“Tapi..”

“Oppa. Kau seorang pengacara handal dan profesional bukan? Tugasmu hanyalah melayani dan memperjuangkan hak klienmu sedapat mungkin.” Aku mengingatkannya.

“Tapi kau adikku.. aku berhak..”

“Tapi aku klienmu dalam hal ini. Aku akan membayarmu untuk ini. Dan satu lagi, hanya aku yang berhak menentukan hidupku, oppa..” aku memberikan pernyataan terakhir yang menunjukkan kebulatan atas keputusanku.

“Aku pamit. Kabari aku jika semuanya sudah siap.” Aku bersiap pergi dan merapikan tasku.

“Sampai kapan kau akan di sana?” Siwon oppa bertanya.

“Mungkin satu minggu ini, hingga kau membereskan semuanya. Jangan lupa kabari aku perkembangannya..”

…………………………………………….

Under the same sky, at different places
Because you and i are dangerous
I am leaving you

Aku merapatkan mantelku dan tetap berjalan menyusuri jalanan dengan santai. Musim dingin di Tokyo benar-benar berat. Di sekelilingku banyak pasangan yang berjalan beriringan, bahkan beberapa diantaranya berciuman hangat.

Apa yang aku pikirkan? Mengapa bahkan ketika aku sudah pergi ke tempat yang jauh darinya, tetap saja ada hal-hal yang mengingatkanku padanya? Sebegitu besarkah pengaruh namja itu di hidupku? Secara mendadak aku merindukan ciumannya.

Langkahku terhenti, aku berdiri mematung di tengah jalanan yang mulai sepi. Butiran salju perlahan turun dan menghujani rambutku. Pipiku basah, bukan karena butiran salju, melainkan karena air mataku sendiri. Sedang apa dia? Apakah ia hidup dengan baik tanpa memelukku? Apa yang kupikirkan? Percuma saja aku datang ke tempat ini untuk berlibur jika aku masih saja memikirkannya.

Aku bahkan sengaja bepergian tanpa membawa kamera. Aku berusaha menyingkirkan semua hal yang bisa membawaku kembali memikirkannya. Hidup ini sungguh sulit. Mengapa aku harus mengenalnya?

Aku berjalan dan duduk di bangku taman. Kakiku sungguh tidak kuat lagi menopang berat tubuhku, aku tidak bisa berdiri dan berjalan dengan isi kepala yang memikirkannya. Aku duduk, menarik nafasku, dan menangis. Cho! Apa yang telah kau lakukan pada hidupku? Aku mengabaikan hidupku, mengabaikan pekerjaanku, bahkan menjauh darimu justru semakin menyiksaku.

Dua bulan ini benar-benar sulit. Jika saja ada mesin waktu, aku memilih akan menekan egoku waktu itu. Ataukah lebih baik memutuskan untuk tidak mengenalnya di masa lalu hingga hari ini tidak perlu terjadi?

Nee-chan..” seorang bocah kecil menghampiriku. Matanya sipit sepertiku, dan kedua pipinya memerah karena dingin. Ia memakai mantel yang berwarna senada denganku, coklat daun. Sepertinya ia melihatku menangis, dan matanya tak berkedip menatapku.

Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, lalu menyerahkan tiga buah permen padaku.

Aku, Cho, dan Henry.

Anak ini! Ia sangat mirip dengan Henry! Mata sipitnya bukan mirip denganku, namun dengan Henry! Aigoo! Bahkan aku telah melupakannya. Seketika rasa rindu dan sakit menyeruak bersamaan ke dalam hatiku. Apakah anak itu baik-baik saja tanpaku?

O-namae wa?” tanyaku pada bocah ini.

“Misugi desu-“ ia menjawab sambil tersenyum. Kedua matanya membentuk garis saat ia tersenyum. Benar-benar mirip dengan Henry.

Aku mengusap kepala bocah itu, namun kami tidak berdialog apapun. Aku tidak bisa  berbahasa Jepang, hanya bisa beberapa ungkapan sederhana. Tuhan, apakah kau mengirim anak ini untuk mengubah keputusanku?

…………………………………………………

“Aku telah mengirimkan surat itu padanya.” Ujar Siwon oppa. Hatiku berdegup kencang mendengarnya. Aku bahkan meremas handphoneku kuat menerima telepon ini.

“Lalu bagaimana?” kucoba untuk santai menanggapinya.

“Aku tidak tahu. Ia belum menghubungiku.”

“Apakah semuanya akan berjalan lancar? Oppa, kumohon agar kau membantuku.”

Dalam hati aku berdoa, sebaliknya. Bagaimana jika ia menyetujui isi surat itu? Apakah aku sudah cukup mengenalnya? Semestinya aku bisa memastikan jawabannya hanya dengan memikirkannya. Ia adalah pria yang tegas, dan aku tahu pasti ia sangat benci jika merasa harga dirinya dilangkahi orang lain.

Siwon oppa nampaknya ragu dengan ini. Ia mungkin terlalu memikirkanku. Ia memang bukan kakak kandungku, namun kurasa ia sangat memahamiku karena kami sudah bersama sejak kecil. Ya, aku adalah putri angkat keluarga Choi, aku diambil dari sebuah yayasan penitipan anak. Sejak kecil aku tumbuh dan besar bersama Siwon oppa, dan semua yang kumiliki sekarang adalah karena pemberian dan bantuan keluarga Choi.

Mungkin saja, sifat ambisius dan jiwa kerasku juga menurun dari didikan keluarga ini. Namun mereka sungguh baik dan bijak. Hal tersulit bagiku adalah ketika mengatakan pada mereka jika aku memutuskan untuk hidup bersama Cho Kyuhyun. Waktu itu aku berpikir, appa dan omma Choi akan menentang keinginanku itu. Tak kusangka, mereka mengijinkanku memilih Kyuhyun, karena menurut pandangan mereka Kyuhyun bisa bertanggung jawab dan tidak akan menelantarkanku. Kata Siwon oppa, Kyuhyun adalah namja pertama dari kalangan biasa yang berhasil diterima keluarga Choi.

Hingga masalahku muncul ke permukaan, hingga detik ini aku meminta Siwon oppa merahasiakan hal ini dari appa dan omma. Aku tahu dengan pasti, bahkan Siwon oppa adalah salah satu orang yang menentang keras hal ini. Tapi sekali lagi, niatku sudah bulat, meskipun tanpa alasan yang pasti.

…………………………………………………..

Kyuhyun POV

“Appa.. aku rindu pada omma..” ujarnya tiba-tiba.

Aku nyaris tidak bisa menelan makananku karena anak ini. Ya, tidak hanya dia. Aku pun sangat merindukannya. Aku hanya bisa menatap bocah 5 tahun ini. Bocah kecil ini mengungkapkan kerinduannya.

“Omma kapan pulang?” ia bertanya lagi. Aku menghela nafas dan membersihkan makanan yang merembes mengotori bibirnya dengan tisu. Mata murninya memandangku. Aku takut anak ini membaca kebohonganku.

“Mungkin nanti. Omma sangat sibuk.” Jawabku. Kami terdiam.

“Telpon omma.” Tiba-tiba ia mengucapkan hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Suara tanpa dosa anak ini benar-benar membuat hatiku perih.

Aku mengambil handphoneku dan menekan sebuah nama di kontakku. Mengapa aku lekas mengikuti kata-kata anak ini? Haruskah aku membohonginya lagi kali ini? Tapi anak ini akan tumbuh besar, ia pasti akan mengerti.

“Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah hubungi beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan.”

Aku menyerahkan handphone pada anak ini. Ia hanya memandangku.

“Katakan sesuatu. Kau merindukannya bukan? Ayo katakan sesuatu. Omma pasti akan mendengarnya.”

Henry mengambil handphoneku lalu mendekatkan benda itu ke bibirnya.

“Omma.. cepat pulang. Tidur dengan appa tidak enak. Aku ingin tidur memeluk omma.. aku sayang omma..”

Henry menyerahkan benda itu padaku. Ia memandangku. Tidak biasanya ia memandangku seperti ini, dan aku merasa pandangan anak ini seolah menyalahkanku.

“Appa kenapa  tidak bilang rindu pada omma?” ia kembali membuatku tercekat.

“Telponnya sudah mati. Sudah ya, nanti malam saja appa menelpon omma.”

Aku tahu jawabanku tidak memuaskannya. Anak ini lebih pendiam. Apa hanya perasaanku saja? Ia memang lebih dekat dengan Minji. Meskipun sibuk, tapi ia sangat peduli pada anak ini. ia juga yang mendekatkanku dengan anak ini, karena aku memang tidak terlalu menyukai anak kecil sebelumnya. Berbeda dengannya.

Setelah memastikan anak ini tertidur pulas, aku melangkah ke ruang kerjaku. Ruangan inipun masih sama. Hanya wajah dan potretnyalah yang mendominasi ruanganku. Aku tidak berniat mengganti apapun selama dua bulan ini. Ialah penyemangatku. Setiap gambar yang kuhasilkan adalah ungkapan perasaanku padanya, aku yang begitu memujanya dan mencintainya.

Mataku tertuju pada sebuah foto lama, namun aku mencetak dan membingkainya cukup besar. Foto ini adalah kenangan indah, hari itu, dimana aku mendapatkannya.

Flashback-

“Ini aku?”

Aku hanya mengangguk. Ia menatapku dan foto ini secara bergantian. Selang berapa lama, ia memelukku. Erat sekali.

“Gomawo~ ini menjadi hadiah ulang tahun paling indah tahun ini..” ia berbisik.

“Syukurlah, kau menyukainya.” Balasku. Kami saling menatap kemudian. Aku tidak tahu harus memulai darimana. Tapi kurasa ini adalah kesempatan yang tepat. Aku telah berkali-kali kehilangan kesempatan ini, dan sekarang aku harus bisa memanfaatkannya.

Lidahku kelu. Menatap paras cantiknya bisa mematikan jutaan sel di tubuhku. Terlebih dalam jarak sedekat ini. Nafasnya yang lembut dan hangat menyapu wajahku. Sekali lagi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku pengecut. Aku kembali hanya bisa diam terpesona akan kecantikannya.

“Cho.. kau menyukaiku?” tiba-tiba ia mengungkapkan sesuatu yang tak terduga. Aku menatapnya, menikmati parasnya untuk kesekian kalinya. Aku menelan ludah dengan hati-hati, kemudian seolah tanpa sadar aku mengangguk pelan di hadapannya.

“Sudah lama?” tanyanya lagi. Ia menyusuri rambutku dengan jemarinya yang kecil dan lembut.

“Sejak pertama kali melihatmu di kampus ini. Sejak malam keakraban penerimaan mahasiswa baru.”

“Humm.. sudah hampir empat tahun. Mengapa kau menyukaiku?”

“Molla. Aku hanya suka melihatmu.”
“Mengapa tidak mengatakannya padaku?” ia menatapku, seolah ingin aku menjawab dengan jujur.

“Eng.. aku.. aku merasa tidak pantas bersamamu.”

“Tapi kenyataannya kau selalu bersamaku.” Ia seolah marah. Apakah artinya ini?

Aku tidak bisa menjawab lagi, karena gadis ini menciumku. Awalnya hanya menempelkan bibirnya, namun lama kelamaan ia bermain dan tentu saja aku menyambutnya. Bibir yang sudah sejak lama ingin kurasakan, kemudian kini kudapatkan. Apakah berarti hampir empat tahun penantianku akan berakhir hari ini? Tapi seingatku, malam itulah kali pertama kami melakukannya, sekaligus menjadi hari dimana kami secara resmi berpacaran.

Flashback end-

Aku mengusap wajahnya di foto ini. Ia sendiri terheran mengapa aku bisa mendapatkan gambarnya dari angle dan posisi ini. Ia bahkan lupa kapan pernah berpose seperti di foto ini.

Foto ini kuambil saat kami sedang makan bersama di café, bersama teman-teman yang lain. Ketika itu aku duduk di sampingnya, menyaksikannya sedang menyeruput jus strawberry favoritnya lewat sedotannya. Ia nampak begitu sempurna saat itu di mataku, wajahnya halus dan rambutnya sedikit berantakan diterbangkan angin. Aku pun tanpa sadar mengabadikan momen itu dan ternyata hasilnya sungguh bagus hingga kuputuskan untuk memberikannya  sebagai hadiah ulang tahun. Tak kusangka, karena foto itu ia memilihku, padahal ketika itu ia juga tengah dekat dengan seorang namja yang juga teman kami, Donghae.

Minji berpikir itu adalah satu-satunya gambar dirinya yang kumiliki. Ia baru mengetahui aku adalah pemuja rahasianya setelah kami menikah, setelah ia melihat sendiri ruang kerja ini yang seluruhnya hampir didominasi oleh wajahnya, semua momen lama yang ia sendiri tak ingat pasti kapan pernah seperti dalam keadaan di foto-foto itu. Ia benar, aku memujanya terlalu lama.

“Mianhae..” mataku seakan basah saat mengusap foto ini. Aku memikirkan kembali surat yang kuterima kemarin hari dari Siwon hyung. Ini seharusnya tidak seperti ini. Aku masih mencintainya.

…………………………………………….

Minji POV

“Omma.. cepat pulang. Tidur dengan appa tidak enak. Aku ingin tidur memeluk omma.. aku sayang omma..”

Rasanya seperti kenyataan, seolah ia ada di sebelahku dan mengatakan ini tepat di telingaku. Sayang, ini hanya pesan telepon. Ia bersama Kyuhyun, dan menelponku.

Aku makin frustasi dan menenggelamkan tubuh hingga wajahku ke dalam bathtub. Bahkan ketika dalam keadaan seperti ini aku kembali mengingatnya. Di manapun aku berada, di jalan, di kamar, di dapur, bahkan di kamar mandi. Semua tempat selalu mengingatkanku padanya. Terlalu banyak hal indah yang kami lakukan di setiap sudut rumah, mengimbangi frekuensi pertengkaran kami yang juga tidak sedikit.

Aku bangkit dan melilitkan handuk di tubuhku, kemudian mengambil handphone. Aku ingin mendengar suara Henry. Aku ingin mengatakan jika aku juga sangat menyayanginya dan ingin tidur memeluknya, menyanyi untuknya. Hanya ada satu nama yang bisa menyambungkanku dengan anak itu, namun kemudian aku kembali hanya menatap layar dan akhirnya meletakkan benda ini. Egoku terlalu tinggi. Lagipula ia tak mengucapkan sepatah katapun di pesan itu. Untuk apa aku harus merindukannya?

Aku mengambil kembali handphoneku, bermaksud menghubungi Siwon oppa.

“Lebih baik aku fokus pada keputusanku..” gumamku pada diri sendiri lalu menekan nama Siwon oppa.

……………………………………………………..

Author POV

“Maafkan aku, aku sudah mencegahnya. Namun ia sangat keras kepala. Kau tahu bagaimana wataknya bukan?” Siwon berujar dengan wajah menyesal. Ia menatap namja di hadapannya.

“Ne, hyung. Gwaenchana. Aku tahu kau pasti sudah berusaha membujuknya.” Balas Kyuhyun.

“Ia benar-benar gila. Aku takut setelah ini ia akan menyesal.” Lanjut Siwon sambil meneguk tehnya. Kyuhyun hanya tersenyum tipis.

“Jadi bagaimana keputusanmu?” Siwon menunggu jawaban Kyuhyun.

“Hyung, aku tidak akan mencari pengacara. Aku juga tidak akan menandatangani ini. Aku sama sekali tidak menginginkan perceraian ini.” Kyuhyun tersenyum.

Siwon menatap adik iparnya itu dengan tatapan kagum.

“Cho Kyuhyun, aku tahu kau sungguh-sungguh. Apa menurutmu aku perlu memberitahu hal ini kepada appa dan omma? Mungkin saja mereka bisa membantu menasihati Minji.”

“Untuk sementara, biarkan dahulu semua seperti ini. Lagipula apapun yang dilakukannya, itu tidak akan mengubah keputusanku.” Jawab Kyuhyun.

“Bagaimana jika ia mencari pengacara lain?”

“Aku akan mengatakan hal yang sama pada pengacara itu, hyung.” Balas Kyuhyun.

“Kau tahu? Aku sangat lega setelah mendengarnya darimu. Setidaknya aku tahu kalian masih saling  melindungi. Awalnya kupikir kau juga berniat atas hal ini.” Siwon tersenyum dan menepuk bahu Kyuhyun.

“Tidak mungkin. Aku tidak mungkin mencintai wanita lain lagi, hyung. Adikmu adalah takdirku. Hahhaha..” Kyuhyun tertawa.

…………………………………………………..

Minji akhirnya kembali ke Seoul. Ia sangat kesal menerima kabar dari Siwon mengenai Kyuhyun yang menolak pengajuan surat cerainya. Dalam hati kecilnya ia sudah tahu Kyuhyun akan melakukan itu, namun ia masih saja mementingkan egonya.

Minji memutar mobilnya ke sebuah tempat, dan memarkir mobilnya dengan rapi setelah sampai. Ia tidak turun namun tetap diam di dalam mobil, mengawasi gerbang sekolah Shincung yang megah. Matanya terus menatap ke arah gerbang sekolah dan sesekali melirik jam tangannya.

“15 menit lagi ia pulang.” Gumam Minji.

Benar saja, tak berapa lama murid-murid mulai keluar dan mencari jemputannya masing-masing. Minji keluar dari mobil dan mendekat ketika menemukan Henry akhirnya keluar. Siswa Taman kanak-kanak itupun terkaget saat mendapati orang yang selama ini sangat dirindukannya tiba-tiba muncul dihadapannya.

“Omma merindukanmu..” Minji memeluk anak itu.

“Nado.” Henry hanya membalas pelukan ibunya.

Yeoja itu menghapus air matanya, ia pun mengajak Henry masuk ke dalam mobilnya dan mengajak anak itu pergi.

“Kau selalu mengerjakan tugas dari sekolah kan? Apa kau selalu makan banyak?” Tanya Minji. Ia mengajak Henry makan siang. Anak itu nampak melahap makan siangnya.

“Masakan appa tidak enak.” Jawab anak itu jujur.

“Lebih enak mana daripada masakan omma?” Minji kembali bertanya.

“Omma.” Jawab anak itu lagi.

Minji terkekeh. Ia tahu dirinya memang tidak pintar memasak, namun ia sangat terharu ternyata Kyuhyun juga memasak untuk makan mereka. Ia melihat wajah Henry, dan anak itu memang terurus dengan baik. Sepertinya Kyuhyun memang menjaga anak ini.

…………………………………………….

Minji terdiam. Ia malas harus berhadapan dengan wajah ini lagi, sekalipun ia juga merindukannya. Kyuhyun menatapnya dengan kesal, dan Minji tahu dirinya salah dalam hal ini.

“Kau tidak berhak marah padaku. Ia juga anakku. Aku yang membawanya hingga kau mengenalnya.” Minji membela diri.

“Kau tahu? Aku menungguinya di sekolah hingga sore hari namun ia tak juga muncul. Aku sampai bingung mencarinya bahkan bertanya pada gurunya namun tak ada satupun yang tahu keberadaannya. Aku nyaris menghubungi polisi karena berpikir ia diculik orang. Apakah tidak bisa menelponku dulu dan mengatakan jika kau yang menjemputnya?” Kyuhyun nampak begitu marah. Ia sangat panik dan khawatir.

Minji merasa apa yang dikatakan Kyuhyun adalah benar. Ia memang salah dalam hal ini, namun ia tak mau disalahkan. Minji merasa ia juga punya hak atas Henry.

“Aku rindu padanya. Aku berhak bertemu dengannya.”

“Kenapa tidak membawanya sekalian saat kau pergi? Apa kau pikir anak ini tidak merindukanmu? Kau benar-benar egois. Hanya memikirkan dirimu sendiri.” Ucap Kyuhyun lagi.

Minji merasa dirajam dengan ribuan pisau. Namja ini membentaknya. Lagi. Ia bahkan sangat tidak suka dibentak.

“Baiklah. Aku minta maaf. Aku akan pergi.” Minji bergegas hendak kembali ke mobilnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik pada namja itu ketika teringat sesuatu.

“Aku akan mengurus ulang surat perceraian kita. Aku akan mencari pengacara lain dan aku bisa saja menuntutmu jika kau menolak. Aku juga akan memperjuangkan anak itu. Jadi lebih baik kau siapkan dirimu dan juga pengacaramu.” Ancam Minji.

Ia pun pergi dan meninggalkan Kyuhyun yang berdiri mematung di basement parkir apartemennya.

“Kau sungguh keterlaluan. Bahkan kau tidak melihat aku begitu lelah dengan ini semua.” Gumam Kyuhyun. Hatinya begitu panas dengan kejadian hari ini. ia baru saja melihat yeoja itu lagi, namun pertengkaran hari ini telah mengubur semua kerinduan yang telah disimpannya.

………………………………………………………..

Minji POV

I am leaving you

It’s cowardly but i’m hiding because i’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love
No words can comfort me
Perhaps my lifetime’s last melodrama
Now its final curtain is coming down

My cold heart that has been dyed blue
Even with my eyes closed, i can’t feel you

Flashback-

“Aku tidak mau. Menurutku apartement ini masih layak untuk kita tinggali.” Jawabnya singkat. Aku tahu ini akan sulit, tapi aku sudah berusaha berbicara dengan sangat hati-hati.

“Iya, aku tahu. Tapi rumah ini lebih besar, dan kita bisa tinggal lebih nyaman.”

“Minji ah, jika kau terus memaksa, ini seolah kau tidak menghargai hasil jerih payahku.” Aku sangat kaget karena ia mengucapkan itu tiba-tiba. Ini sungguh di luar akal sehatku ia akan mengucapkan itu padaku dan dengan nada yang tinggi.

“Kyu, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku hanya mencoba menyisihkan hasil kerja kerasku tanpa bermaksud melangkahimu.” Aku sedikit tersinggung.

“Aku suamimu. Kau tidak mau menghormatiku? Aku tahu uang yang kuhasilkan sebagai seorang fotografer jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan gajimu.”

“Aigoo~ kenapa kau bertingkah seperti anak kecil? Aku sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana.” Kurasakan diriku mulai meradang karenanya.

“Tapi aku merasa begitu. Seolah kau tidak puas dengan apa yang aku berikan selama hampir dua tahun pernikahan kita.”

“Terserah kau saja! Aku muak mendengarmu bicara!” aku pun bergegas pergi.

“Pergi saja jika memang itu yang kau mau!” kudengar ia membentakku. Pertama kali dalam hidup, ia membentakku. Bahkan appa dan omma Choi sangat jarang membentakku.

Flashback end-

Kejadian dua bulan lalu kembali berputar dalam kepalaku, dan aku sangat benci mengingat itu semua. Kyuhyun tidak bisa menerima niat baikku. Ia membahas soal materi, padahal sejak awal sudah kutekankan padanya bahwa aku sama sekali tidak suka jika masalah seperti ini dibawa-bawa ke dalam rumah tangga kami.

Karena masalah itu ia membentakku. Hatiku akan sangat sakit jika orang yang kupercaya membuatku nyaman membentakku. Sangat sulit bagiku memaafkannya dan juga cara berpikirnya yang seperti itu. Dua tahun. Kami baru menikah hampir dua tahun, dan sebentar lagi genap sudah. Haruskah aku mengakhiri pernikahanku hanya karena hal seperti ini?

Kadang aku berpikir dan sedikit menyesal. Seandainya saja kami tidak memutuskan menikah di usia yang muda, mungkin saja kami bisa lebih matang dan mengendalikan emosi dengan baik. Bahkan Siwon oppa pun belum menikah hingga sekarang. Terbukti, masalah seperti ini justru membuat aku dan Kyuhyun terlibat dalam konflik yang besar. Mungkin saja ini karena ego kami yang belum matang. Tapi Kyuhyun memang orang yang sangat memikirkan harga dirinya. Tak kusangka ia bahkan menganggapku mencoba menginjak-injak itu, padahal aku sangat mencintainya. Melihatnya tadi membentakku untuk kedua kalinya, aku benar-benar sakit hati.

Haruskah aku benar-benar meneruskan perceraian ini?

………………………………………………

Kyuhyun POV

“Omma cantik sekali di foto ini.” Anak ini tiba-tiba masuk ke ruanganku dan ia malah menunjuk foto Minji, foto yang menjadi favoritku. Foto yang kuberikan padanya ketika hari ulang tahunnya dulu.

Ajaib sekali. Jika bukan orang yang sangat mengenal Minji waktu itu, mungkin tidak akan tahu sosok di foto itu adalah dirinya. Tapi anak ini mengenalinya. Bukankah ia mengenal Minji yang sekarang? Sangat jauh berbeda dengan yang dulu di foto ini.

Aku mendiamkannya, dan melanjutkan editingku. Henry kemudian mendekat dan duduk pada kursi di depanku. Tubuhnya yang mungil cukup susah mencapainya karena kursi ini agak tinggi. Namun anak ini berhasil duduk dengan manis di sana tanpa bantuanku.

“Mengapa omma tidak tidur di rumah?” tanyanya polos. Ia sangat ingin tahu.

“Ia sibuk. Bukankah kalian sudah bertemu?” aku menanggapinya.

“Kami makan burger, mengapa tidak makan di rumah saja? Bersama-sama..” ujarnya lagi.

“Hei, omma itu sibuk. Nanti makan bersamanya kapan-kapan saja. Sekarang kembali ke kamar, dan  kau harus tidur. Besok bu guru memintamu bangun pagi bukan?” aku menggendongnya ke kamar.

“Minji ah, apa yang sebenarnya kau pikirkan hingga memutuskan untuk bercerai denganku? Apakah kau begitu membenciku?”

…………………………………………………………….

Author POV

Minji merasa bagaikan disambar petir saat menerima telepon dari Kyuhyun siang itu. Seketika berkas yang sedang dipegangnya jatuh berhamburan dan gadis itu pun jatuh terduduk di lantai. Pengacara Kim yang sedang bicara dengannya mendadak kaget dengan reaksi tiba-tiba gadis itu. Ia menangis. Air mata keluar dengan pasti sekalipun ia tidak berteriak.

“Nona, apa yang terjadi?” pengacara Kim membangunkan Minji. Yeoja itu seketika pergi berlari meninggalkan tempat itu. Ia hanya ingin sampai di sana sesegera mungkin.

Minji berlari dengan kalut di lorong rumah sakit, mencari ruangan yang disebut Kyuhyun. Air matanya mengering dan ia nampak begitu panik, seolah kehilangan jiwanya. Ketika melihat sosok Kyuhyun, ia seketika menghambur ke arahnya. Minji seperti orang kalap, ia bahkan lupa akan dimana ia berada. Tangisannya kembali pecah saat melihat namja itu.

“Di mana dia? Di mana?? Aku ingin bertemu dengannya!” Minji menjerit di pelukan Kyuhyun.

“Tenangkan dirimu, dokter sedang berupaya menyelamatkannya.” Kyuhyun bergetar. Ia tahu gadis ini bisa saja hancur jika terjadi sesuatu pada anak itu.

Beberapa saat kemudian dokter keluar, dan pasangan muda ini menghampiri dengan tak sabar, terutama Minji.

“Maaf, kami kehabisan stock darah AB untuk anak ini. Rumah sakit tidak memiliki persediaan. Kami mohon bantu kami untuk segera mencarikan donor yang tepat baginya. Apakah diantara kalian ada yang sama dengannya?” kata dokter.

Minji dan Kyuhyun pasrah. Tak ada satupun dari mereka dengan golongan darah sama, karena anak itu bukanlah anak kandung mereka. Henry adalah anak adopsi Minji. Minji menangis kencang hingga kemeja Kyuhyun basah karenanya.

Ketika itu ada seorang ahjussi yang mendengar keadaan itu, dan ia mendekati dokter serta pasangan yang sedang bersedih itu.

“Maaf, jika diijinkan saya bisa membantu. Golongan darah saya AB.” Kata ahjussi itu.

Dokter pun akhirnya mengajak si ahjussi ke ruang transfusi. Siwon seketika muncul karena Kyuhyun juga sempat menghubungi namja itu. Ia turut kacau melihat keadaan yang terjadi. Minji masih belum tenang.  Ia bahkan jatuh pingsan.

“AB? Darahku AB. Aku sehat. Kalian bisa memakai darahku.” Ujar Siwon setelah mendengar cerita Kyuhyun. Namja tampan itu pun akhirnya turut menjadi salah satu pendonor.

…………………………………………………………

Henry mengalami tabrak lari siang itu ketika hendak menyebrang menuju mobil Kyuhyun. Namja itu sudah berniat akan menghampiri, namun bocah itu tetap bersikeras ingin belajar menyeberang sendiri menuju appanya. Ia banyak kehilangan darah, dan kakinya harus dioperasi karena sesuatu hal.

Kyuhyun menemani Minji yang belum sadarkan diri, ia menyesali mengapa kejadian seperti ini harus menimpa mereka.

Henry diadopsi oleh Minji dari sebuah panti asuhan beberapa saat setelah ia menikah dengan Kyuhyun. Gadis itu sangat menginginkan kehadiran anak diantara mereka, namun ia sendiri belum berniat merawat seorang bayi karena alasan pekerjaan. Awalnya Kyuhyun tidak terlalu terbiasa dengan kehadiran bocah itu, namun lama-kelamaan ia juga menyayangi anak itu seperti Minji. Mereka merawat Henry dari usia empat  tahunan, kemudian menyekolahkan anak itu dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Nama Henry pun diberikan oleh Minji, karena anak itu mengenakan kaos sepak bola dari pemain Prancis terkenal ketika diadopsi.

Pertengkaran mereka membuat Henry harus berpisah dari ibu angkatnya itu. Henry ikut Kyuhyun karena sebuah ketidaksengajaan. Minji tidak membawa anak itu, dan Kyuhyun pun bersyukur anak itu tetap bersamanya karena ia tidak kesepian.

“Kau sudah sadar?” Kyuhyun mengambil air putih dan memberikannya pada Minji.

“Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?” Minji meringis.

“Kakinya dioperasi. Masalah transfusi darah sudah selesai, karena tadi Siwon hyung juga menyumbangkan darahnya untuk Henry. Kau jangan khawatir.”

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Kau tidak akan mengerti perasaanku.”

“Aku mengerti. Aku juga menyayangi anak itu.” Kyuhyun menegaskan ucapannya. Ia memeluk yeoja itu dan berusaha menenangkannya.

Sejak hari itu, Henry dirawat di rumah sakit dan ia baru sadarkan diri dua hari setelahnya. Minji dan Kyuhyun merawat dan menjaga anak itu bersama-sama, bahkan mereka menginap di rumah sakit demi anak itu. Kadang jika salah satunya sibuk, mereka akan bergantian menjaganya. Namun Minji tidak ingin meninggalkan anak itu barang sedetik pun.

“Maafkan aku baru tiba. Bagaimana ia hari ini?” Kyuhyun menghampiri Minji yang sedang menjaga anak itu.

“Ia baru saja tertidur. Kondisinya semakin stabil.” Jawab Minji.

Kyuhyun turut duduk di sebelah yeoja itu dan mengamati wajah Minji. Kyuhyun melihat wajah gadis ini tidak terawat dan sedikit pucat. Ia pasti sangat stress belakangan.

“Minji ah, kau makan dulu. Kau pasti belum makan. Aku tidak mau kau juga sakit.” Ujar Kyuhyun. Tangan lebar namja itu memegang tangan halus Minji.

Minji sedikit kaget akan sentuhan namja itu, ia merasa terharu Kyuhyun peduli padanya.

“Gomawo, kau perhatian padaku.” Ucap Minji kaku, padahal hatinya menghangat karena Kyuhyun.

“Kau masih istriku. Aku tidak mungkin mengabaikanmu. Kau tetap yang paling utama dari semuanya.” Kyuhyun berkata pelan.

Minji menatap mata namja itu, kemudian tersenyum perlahan saat melihat wajah Kyuhyun.

“Mengapa kau seperti tertawa?” Kyuhyun bertanya heran. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Aniyo. Kau serius sekali mengatakan itu di depanku. Padahal dulu aku harus memancingmu terlebih dahulu agar kau mau jujur bahwa kau menyukaiku.” Ucap Minji.

Kyuhyun hanya diam dan kembali menggaruk-garuk kepalanya. Ia memang bodoh dan lemah dalam hal mengungkapkan isi hati dan perasaannya pada yeoja ini.

“Cho~ gomawo sudah menjaga Henry selama aku tidak ada. Apakah kau masih membenciku dan marah karena masalah itu?” Minji melembut dan ia menatap wajah Kyuhyun.

“Aku tidak pernah membencimu. Sama sekali tidak pernah. Maka dari itu aku menolak surat ceraimu.” Jawab Kyuhyun. Ia memeluk Minji, menghirup nafas di kepala yeoja itu.

“Mianhae yo~ aku egois. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk menempati rumah itu. Aku akan menjualnya, dan kita bisa kembali tinggal di apartemenmu bertiga.”

“Ani. Jangan dijual. Kita akan pindah saat Henry sudah lebih besar dan ketika nanti anak kedua kita lahir.” Ujar Kyuhyun.

“Kau! Aku belum mau hamil!” Minji mencubit tangan Kyuhyun.

Minji tersenyum bahagia. Ia mencium bibir Kyuhyun dan mereka bercumbu mesra hingga seseorang masuk ke dalam ruangan tempat Henry dirawat. Saking sibuknya, keduanya bahkan tidak sadar akan kehadiran orang lain di ruangan ini.

“Ehemm! Minji ah, bagaimana dengan surat ceraimu? Apakah sudah beres?” Siwon muncul dengan bersedekap tangan di dada.

Kedua pasangan yang sedang melepas rindu itu seketika menghentikan aktivitasnya dan Minji berdiri setelah mengetahui ternyata oppanya yang muncul tiba-tiba.

“Oppa! Kau mempermalukan aku di depan Kyuhyun.” Minji merengut. Kyuhyun hanya tertawa mendengar Siwon yang sedang menggoda adiknya itu.

“Aku mau ke kamar mandi.” Minji pun beranjak dari sana. Ia mencibir saat melewati oppanya itu. Siwon hanya tersenyum menatap dongsaengnya pergi kesal karena malu telah ditangkap basah olehnya.

“Hahhaha kurasa dia akan memakai topeng saat bertemu denganmu setelah ini.” ucap Siwon.

“Hyung. Jeongmal Gamsahamnida. Kau telah banyak membantu kami.” Ucap Kyuhyun.

Never mind. Kau harus bisa bersikap lebih dewasa dalam menghadapinya. Kuakui ia masih sangat kekanak-kanakan dan egois.” Balas Siwon.

“Yah, aku tahu. Setidaknya aku tidak akan pusing lagi memikirkan surat perceraian yang selalu diributkannya.. hahhahaha..” ujar Kyuhyun. Siwon pun menepuk pundak adik iparnya.

“Kurasa kau harus memberinya seorang bayi dengan cepat. Dengan begitu ia akan belajar menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik.” Siwon tersenyum penuh makna.

END-

 

Kependekan kah? Hahhaha mohon dimaklumi.

Kenapa bisa ada FF ini?

Saya lagi suka dengerin lagunya Bigbang yang blue dan SNSD yang Time machine plus osT skip beat dari donghae yg This is Love *ganyambung-

Maunya sie bikin FF sad ending gitu, tapi belum siap mental nulisnya..

Kalo dipikir-pikir, ni FF ga nyambung judul sama ceritanya, cuma yah beberapa liriknya itu menjangkau daya khayal saya jadi seperti ini hihi~

Mestinya lebih cocok kalo judulnya “Ratapan Anak Angkat”, “Mama Peluk Aku”; atau mungkin “Jablai?” kkkk *kidding

Hahahha bosankah dengan couple ini? Semoga tidak yaaah..

Saya memang bukan author yang baik dan tidak kreatif karena cuma buat Kyuhyun sama Minji kkkk~

Keep comment yah, satu komen sangat saya hargai dengan pahala yang berlimpah..

Ayo semangat!! SS4 Ina bentar lagi /loh?!

thanKYU ^^

Iklan

65 thoughts on “[OneShoot] BLue

  1. aaakh..
    entah kenapa ini dina yg terlalu banyak berspekulasi atau apa yah..
    berkali-kali hampir ketipuuu..

    blengcyeeks..
    pas pertama itu..yg kyu POV..dina kira kyu ditinggal mati..lagaknya bener2 kaya orang yg ditinggal selamanya aja sama pasangannya..
    tapi ternyata itu salah pemirsa.. -____________- *hammer

    dan demi jin yg makin jelek tiap harinya…awalnya kesel sama sifat minji yg masih bisa dibilang..yah..egois..n gak berpikir panjang..
    cuma gara2 masalah sepele gitu aja sampe mintak cerai..untung aja pas minji kabur itu henry gak dibawa..coba kalo dibawa..dina bisa deh masuk ke kehidupannya Kyu..*lho?

    gak nyangka bener kalo henry bakaln kecelakaan..tapi gpp deh..berkat pengorbanan mochi kecil itu..KyuMinji balik lagi..
    yah..walopun awalnya ngira bakalan sad ending..tapi gak masalah deh…endingnya dina sukaaa..

    onnie..ayo bikin yg sad ending..kkkkk

    Suka

  2. Geeezzz aku kesel sekali sama minji nya disiniii -___-”
    Egoisnya itu lhoo~

    Dikasi nama henry gara2 waktu diadopsi make baju sepak bola , lol lemaooo aget gak dibikinnya diadopsi waktu lg main sepak bola dipinggir jalan :p ahahaha

    Eh minji tengah dekat dengan seorang namja bernama Donghae ?? Hiyaaaaaaaa !!!
    *kibasekor!!!

    Ahihihi bajuss ffnya , lumayan membuat darah saya hampir naik gr2 egoisnya minjii ..
    beh beh siwonnya pedalem , bak isiin gt ya “bahkan siwon oppa pun belum menikah dan masih betah berpacaran dengan gadis yg bernama cho yoora” kkk~

    Suka

  3. setuju ama dina , tak kirain minji mati gtu ya mpe begitu awal”nya, hahaha ketipu ketipu ~ *kokbangga?

    haha henly imut sekalii disini aku sukaaaaa :* *abaikan donghae yg nyempil dikit*

    bagus onn bagus, bikin aku blajar gmana menjaga keutuhan rumah tanggaku bersama donghae~ gomawo ~ *bowsambilgoyang*

    Suka

  4. Panggilannya kyu disini Cho yak?:p
    Pertamanya gak ngerti ceritanya,tapi setelah dibaca2 lagi baru aq ngerti *plakkk*

    Agak pendek sih ceritanya,tapi daripada dipanjangin ntar malah makin bingung yg baca,hehehehehe *mian*

    Suka

  5. waaahh udah rumah tangga ceritanya kkkkk,,tapii disini jadi agak kebalik sifatnyaya…minjinya jadi manja trus kyunya yang dewasa..kkk
    baguuuss onn,,tapii kuarang gereget nya..mungkin karna cerita disini moment kyu-minji nya sedikit soalnya kan ceritanya minji nya keluar dari rumah..heheh****miaaanhaeee gk maksud ni ff jelek,,,baguuus seukaaa,,di tunggu kyumin couple lagiii 🙂

    Suka

  6. tadi y ngak paham sama cerita y pas diawal2 tp pas ditengah tengah muali.jelas cerita y n yg kyk ginu q suka baca y,,, d awal2 mikir n nebak2 kyk pa cerita y….
    kerasa watak keras y minji n kyuhyun tegas bgt nolak y…..
    mantap…..

    Suka

  7. HENRYKU DITABRAK MOBIL :'((((((((((
    huhu kangminji kau berhutang nyawa padaku sumpah ff ini sesuatu mau jambak minji skg juga D:
    Konfliknya bagus ini, suka banget aaaa. Tapi seketika sentimen dengan pemain bola entah itu maksudnya siapa lol

    Suka

  8. hyaaaa… daebak. ceritanya bagus banget. q kira henry itu siapa. ternyata anak angkatnya.. bagus kok. intrik rumah tangganya sering dialamai pasutri. heleh. kaya pernah nikah aja. kkk

    Suka

  9. Baguuuuuussss !! kurang panjang eonnie 🙂 wak wak .
    *maruk .
    Aku sukaaa, eon aku reader baru disini, mohon bantuannya 🙂

    Suka

  10. di awal awal aku pikir kyuhyun ditinggal mati. wkwkk 😀 kenapa minji egois? cuma gara gara masalah sepele kaya gitu langsung milih cerai. astaga. untung happy ending. 🙂 😀

    Suka

  11. ayo ayo bikin bayi buat nemenin henry.
    lega akhirnya mereka nggak jadi cerai. mungkin kecelakaan henry ada hikmahnya juga. kalo nggak begini mereka pasti susah baikan. permintaan cerai minji juga bikin kyuhyun lebih blak-blakkan soal perasaannya. hurrr cepet sembuh ya henry 😉

    Suka

  12. Ya aku kira awalnya juga kyu ditinggal mati..
    Ternyataaaa..
    Cuma gara” mentingin ego masing”..
    Gubrakkkk…
    Dan aku gak nyangka juga mreka udah nikah…
    Tak kira cuma tinggal bareng tanpa ikatan…
    Hehehhehe..
    Ternyata udah resmi tohh…

    Jadi minji minta cerai cuma gara” masalah kayak g2??
    OH EM JIII Helloooo..
    Mending kek kyuhyunnya selingkuh g2..
    Ini keliatan banget egoisnya si minji..

    Setiap musibah mank selalu ada hikmahnya ya..
    Untung kgak jadi cerai

    Suka

  13. Wohooo tadi baca komennya dulu sebelum baca ffnya takut sad ending terlalu trauma sm sad ending wkwkwk dan akhirnya mereka tidak jadi bercerah hohoho pengen berharap dijadiin series tapi nggak mungkin yazudala wkwkwk 😀

    Suka

  14. ishhh minji disini egois banget, masa gara gara hal sekecil itu aja minta cerai… kan kasian kyuhyun sama henry yg masih membutuhkan dia.
    sedih pas henry kecelakaan dan kekurangan darah AB, kyuminji panik karena mereka ngga ada yg darah AB, untung aja ada ajushi yg mau mendonorkan darahnya ke henry ditambah juga dengan kehadiran siwon. akhirnya henry selamat dan kyuminji bersatu kembali…

    Suka

  15. di ff ini bener2 dibikin kesel bangetnget sama sifatnya minji yg egois 😐 masalah sepele jadi besar bahkan sampe minta cerai :/ untung kyuhyun sabar, mau memahami minji, dan dia cinta sama minji makanya gamau pisah. apalagi ada henry ditengah tengah mereka, ya walau anak angkat tp kan tetep itu anak mereka /apasih

    Suka

  16. Thor pas baca bagian kyuhyun pov, gue kira kyu itu di tinggal mati sama minji rupanya gue salah wkwkwk, kok gue kesel banget ya sama sifat minji di sini soalnya keras kepalanya itu loh cum gara” kyu gak mau tinggal di rmh yg udah dia beli langsung mau mintak cerai-_-. Tetep semangat ya thorr buat nulis ffnya ^__^

    Suka

  17. sarannya siwon boleh juga, wkwk aigo kenapa minji egois banget si ? seharusnya dia ngerti kenapa kyu gak mau pindah rumah, jadi ribet kan, pake mau pisah segala

    Suka

  18. Terharu banget
    Minji keras kepala ya.. Kasihan Kyu yang harus berjuang sendiri.. Tapi akhirnya happy endiny 🙂
    Bagus bagus bagus banget kak 😉

    Suka

  19. Saking keras kepalanya mereka n mementingkan ego masing2,,,.surat cerai jd keluar.
    Beruntung kyu masih kuat dg pendiriannya.
    Biasalah,,,,pasangan muda emang masih labil.
    Tp kasian jg henry y,,,,,,
    N syukurlah merwka bs bersatu kembali.

    Suka

  20. ya ampun..ini cewek kepala batu..keras kepala egois dan terlalu membesarkan masalah..ada untungnya henry ditinggal sama apanya..dia kunci rujuonya hubungan mereka br 2

    Suka

  21. Minji egois banget ya kaya anak kecil minta cerai gara2 mslah rmh padahal ma dia jga ga mau pisah..ckckckc..untung kyu ga kebawa emosi klo kyu sama kekanakannya ma minji pasti mereka cerai…huh untung henry gpp setelah kecelakaan. ..

    Suka

  22. bermula dari kesalah pahaman … niatnya minji sih baik… tp kan swami jg pnya harga diri apalagi menyangkut penghasilan… aga sensitif…..

    Suka

  23. cerita baru dengan karakter baru..
    membuat cerita yg dibuat makin berwarna..

    sikap minji yg egois dan kyuppa yg dewasa benar2 membuat kita yg baca terbawa suasan…

    pasti seneng punya suami seperti kyuppa…

    jd iri

    Suka

  24. keegoisan kah ?
    kok minji kekeh banget buat cerai dari Kyuhyun

    tapi Akhirnyaa mereka balikan lagi kan yaaaa

    haduh…susah kalo liat henry masih kecil itu 😂😂😂😂

    Suka

  25. untung minjinya ngga jadi ceraibsama kyuhyun. kalo kata aku sih disini minji nya teralu memikirkan ego sendiri, iya sih kyuhyun jg pasti merasa terhina dong kalo digituin secara dia kan kepala keluarga.
    awalnya sih aku ga begitu paham sama masalah rumah tangga mereka terus mikir, Henry itu siapa?? baca sampe bawah eh nemu jawabannya. ya syukurlah bisa akur dan bersatu lagi meski oun harus ada kecelakaan dulu

    Suka

  26. kirain kyuhyun’a selingkuh apa gmn gtu ampe di tgl ama minji 2 bulan
    trnyta krna masalah rumah
    tapi emg si, kyuhyun kan kepala RT jdi dia pasti agak tersungging dikit, tpi seharus’a ga ampe minji mnta cere
    dua” nya ma ke bawaemosi aja
    aku kirain henry anak’a kyuhyun ama minji,tapi trnyta anak adopsi

    Suka

  27. Ahhhh…ceritanya bikin baper dari awal sampe akhir cuma aku rada kurang suka dengan nama anak merka–Henry. Aku jadi bayangin Henry Super Junior M yang jadi anak mereka,khayalanku jadi kurang sempurna karena kehadirannya wajah Henry Suju M. Coba pake nama yang laen dijamin dapet nilai 100

    Suka

  28. kirain mau cerai karna masalah apa yaampun…. hm harusnya minji sebagai isteri nurut apa kata suami sih. ngerti perasaan kyuhyun yg mungkin tersinggung. masalah materi kan sensitif banget. bikin baper ceritanya keren wkwkwk ❤

    Suka

  29. Suka karakter kyuhyun dsini. . Biasany kyuhyun itu jadi orang kaya aragon tpi dsini dia jdi orang sdrhana wlau sikap suka mmbntakny msh ada.
    Aku kira kyuhyun selingkuh mka.n minji mnta cerai tpi trnyata cma gara2 mslh rumh tangga biasa. . 😊 keren eonn smngt terus bkin ff.n ya. . Fighting 👍👍👌

    Suka

  30. Always love kyu character di semua ff yg di tulis disini. Ga nyeleneh, ga banyak tingkah, ga blengcek, dan setia sama satu cewe.
    Kaka penulis sama bgt kaya aku, ga suka konflik yg berat. Suka sedih sama karakter cewenya kalo bikin kyuhyun yg blengcek u,u serasa ngalamin sendiri gitu Zzz

    Semangat terus ngelanjutin kisah minji dan kyuhyun. Demi apa ga bakal bosen sama couple ini.
    Fighting ka!

    Suka

  31. Ya ampuun ternyata alasan minji utk nyerein kyuhyun cm krna suaminya itu gak mau ikut pindah ke rumah baru… Itu sgt bkn alasan yg tepat minji~a….
    Syukurlah mereka bsa kembali baikan dan minji g egois lg , ada hikmahnya jg henry masuk RS, hehehe
    Makasiiih

    Suka

  32. kyuhyun di disiini bkn kyu biasa nya jd CEO malah jd cho seorang fotographer biasa…

    minji kau egois n ke kanakan sekali.. aku suka sama henry walau starus nya cuma anak adopsi…

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s