[2] Sky + Smile + Love = You!

Author: Sora

Cast: Lee Hyukjae – Han Sora

Genre: Romance ● Length: Chapter 2/2


“kau gadis kasar yaa? Teman sekelas menyapa malah kau bilang berisik..” seorang mahasiswa menghampiri kami lagi. Aku menatap sosoknya. Tampan.
Aku mengacuhkannya dan kembali memalingkan wajah.
“aku bicara pun tidak kau anggap. Cih~” dia akhirnya menyerah dan berlalu dari hadapan kami.
“sudahlah, Donghae-shii.. kalau dia tidak mau, sudah.. jangan diajak ngobrol..” temannya ikut-ikutan.

Kehidupan baru. Lingkungan baru.
Pertemuan baru.
Aku belum begitu siap mengantisipasi hal-hal seperti itu.
Aku masih takut..
Takut kehilangan.

“eh iyaa, di SMA mana sih yang muridnya meninggal karena kecelakaan motor itu?”
“ahh yaa kecelakaan yang itu kan?”
“iya ceroboh sekali..”
“hmm iyaa pasti anak nakal bodoh yang belum punya SIM. Ckckck~”
Gyut~ aku mengepalkan tangan. Keringat dingin meluncur turun di pelipisku
Brak! Aku memukul meja dan pergi keluar kelas
“eh? Kenapa lagi gadis tidak sopan itu?”
“Sora..” Jooeun memanggilku
“kalian.. kalian.. anak yang meninggal itu.. pacar Sora.. jangan pernah lagi membicarakan itu di depan dia..” masih kudengar suara Jooeun di belakangku
“pacar Sora?…”
Aku berlari meninggalkan mereka
Siapa yang ceroboh? Siapa yang anak nakal bodoh? Beraninya kalian bicara begitu tentang dia! Kalian tidak tahu apa-apa tentang dia.
Akulah yang tahu. Aku! Aku! Aku yang mencintainya

“Sora..” Jooeun lagi-lagi berhasil menyusulku
“kenapa? Kenapa? Kenapa semua orang membicarakan dia seperti itu? Huu.. huuu.. Jooeun.. huu huu..” lagi-lagi aku menangis di pelukan sahabatku
Tanpa kusadari sepasang mata lain mengamatiku menangis.

…………………………………………………………….

Dan waktu yang menyakitkan terus mengalir tanpa henti.
“Donghae-shii.. pagii..” sapa Jooeun pada Donghae, teman sekelas kami
“aku pergi duluan..” aku meninggalkan mereka berdua
Donghae. Laki-laki tampan itu.
Dia lelaki baik. Aku tahu dia terus mengamatiku. Memperhatikanku.
Aku.. aku.. hanya belum bisa..
Jadi aku terus menghindarinya.

“lho? Sendirian? Mana Jooeun? Biasanya dia bersamamu terus?” lagi-lagi Donghae mengajakku ngobrol
Aku tak menyahut. Menoleh padanya sekilas, lalu kembali memandang keluar jendela
“Sora.. aku memperhatikanmu lho..” dia duduk di mejaku sambil menyeruput minuman di tangannya
“Hah? Siapa yang perlu perhatianmu?” sahutku dingin.
“memangnya kenapa? Aku tidak boleh menaruh perhatian?”
“kau apa-apaan sih?” aku memukul meja dan berdiri
“kau yang apa-apaan? Aku ini orang baik, mau memperhatikan orang lain.. kau? Kau hanya memperhatikan dirimu sendiri.. apa kau pernah mengamati sekelilingmu? Apa kau pernah memperhatikan sahabatmu, Jooeun? Dia selalu menemanimu.. tapi kau tidak pernah benar-benar peduli padanya, kau tahu?” cerocosnya
Haah orang ini bilang apa sih?! Aku berlalu meninggalkannya
Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?
Entah kenapa, aku malah ingin menangis mendengar kata-katanya tadi.

Aku berjalan sembarangan dan langkahku terhenti mendengar obrolan beberapa teman sekelasku
“Jooeun tidak jadi ikut klub musik yaa? Ahh kasian, padahal dari dulu kan katanya dia ingin sekali masuk klub itu..”
“yah bagaimana lagi.. dia terlalu mengkhawatirkan sahabatnya yang ditinggal mati pacarnya itu kan..”
“tapi tidak perlu seperti itu juga kan?”
“habis.. Sora itu tidak bisa ditinggalkan sih.. jadi Jooeun selalu menemaninya..”

Aku tersentak.
Jooeun..
Dia selalu di sampingku.
“Apa kau pernah mengamati sekelilingmu? Apa kau pernah memperhatikan sahabatmu, Jooeun? Dia selalu menemanimu.. tapi kau tidak pernah benar-benar peduli padanya, kau tahu?”
Jadi aku.. aku.. aku sudah menjadi beban bagi Jooeun..
Aku hanya memperhatikan diriku sendiri saja.
“Soraa! Kau bertengkar dengan Donghae? Tadi aku melihatnya bicara padamu lalu kau pergi keluar.. Apa yang terjadi?” Jooeun menyusulku. Lagi.
“jooeun maafkan aku.. maaf.. maaf..” aku memeluknya. Menangis
“Sora? Kau minta maaf untuk apa?”
“habisnya aku.. aku.. aku terlalu manja pada kebaikan hatimu.. aku selalu bergantung padamu, menangis terus-terusan. Maafkan aku.. jangan mencemaskanku lagi.. aku bisa sendiri.. lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Jooeun maafkan aku..”
Jooeun terpaku sejenak
“maafkan aku juga yaa.. Donghae juga tadi sempat bicara padaku.. aku juga salah. Aku terus membiarkanmu terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan.”

“Sora.. orang yang sudah mati tidak akan pernah bisa hidup kembali.. yang kau perlukan bukan tempat untuk menangis dan melarikan diri dari kenyataan, tapi bagaimana menghadapi kenyataan ini. Untuk pertama kalinya aku diberitahu hal yang penting seperti ini oleh Donghae..”
Aku menangis makin deras
“aku malah ikut-ikutan membiarkanmu meratapi kenyataan ini. Mulai sekarang kita berdua harus berjalan ke depan.. kita hadapi semuanya dengan tegar.. Sora, tegarlah.. aku akan membantumu.. jangan menangis lagi..”
“hiks.. iya.. iya.. hiks.. Jooeun.. kau juga menangis tuh..”
“iya.. hiks…” Jooeun menggenggam tanganku

Aku menangis dan merasa lega.
Sudah diajari untuk memperhatikan kebaikan seorang sahabat.
Aku harus berterima kasih padanya.

………………………………………………………………………….

“Dong.. Donghae-shii..” aku memberanikan diri memanggilnya
Dia dan teman-temannya menoleh.
“go.. gomap.. gomap.. gomapta..” ujarku tergagap
Dia seperti mengetahui maksudku, dia tidak menanyakan kenapa aku berterima kasih
“mana temanmu?” tanyanya
“Jooeun? Dia sedang menyerahkan formulir masuk ke klub..” cepat aku menjawab
“eh.. Sora bisa juga yaa menyapa kami duluan..” seorang teman Donghae memandangku takjub
“lalu? Ada keperluan apa? Tadi kau memanggilku kan?” tanya Donghae lagi
“ahh.. itu.. anu.. itu.. aku cuma..” lagi-lagi aku tergagap
“hehehehe~ kau memang menarik sekali yaa..” dia tersenyum
Aku bisa merasakan wajahku memerah.
“kenapa? Kenapa kau malah tertawa? Ah ah aaaa awww” tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan
Buk~ aku terjatuh dan menubruknya
“uwaagh..”
“kau benar-benar penuh kejutan ya. Hahahaha”
“bukan begitu.. tadi.. itu.. tadi ada batu..” wajahku memanas
“kau tidak apa-apa kan?” pandangannya melembut. Tangannya diulurkan kepadaku. Aku menyambutnya

Ternyata tangan manusia itu..
Bisa sehangat ini yaa..
Rasanya sudah lama sekali aku merasakan hal-hal hangat seperti ini.

………………………………………………………………………….

Musim bergulir~ sebentar lagi sudah masuk musim panas
Saat itu sudah setengah tahun lebih semenjak kematian Hyukkie
“lho? Belum pulang?”
“ah.. Donghae-shii.. ah ini aku sedang menunggu Jooeun. Dia masih ada kegiatan klub..” aku menyahut
“mau aku temani?” senyumnya merekah
Aku mengangguk perlahan
“Donghae kenapa belum pulang?” tanyaku
“tadi ada rapat sebentar..”
“ohh..”
“mau permen?” dia mengulurkan tangan
“boleh..” aku menyambut permen pemberiannya

Hmm hmm~ entah kenapa aku mulai menyukai suasana saat bersama Donghae.
Rasanya.. agak.. nyaman
Cring cring.. angin berhembus di kelas dan membuat kalungku bergemerincing
Tanpa kusadari, tangan Donghae sudah terulur ke leherku dan menyentuh bandul salib itu.
“kau.. selalu memakai kalung ini yaa?”

Plak~ dan tanpa kusadari pula tanganku bergerak menepis tangan Donghae. Memukulnya
“mi.. mianhae.. jeongmal mianhae.. maafkan akuu..” ujarku terbata-bata
“itu.. kalung pacarmu dulu?”
Aku terdiam
“bagaimana kalau kau lepas saja?” dia menatapku dalam-dalam
“jangan.. jangan campuri urusanku..” bisikku agak geram
“kalau kau pakai terus kau akan semakin terhanyut..” dia bangkit berdiri
“ah? Kau tahu apa?! Ini tidak ada hubungannya denganmu!!”
“walaupun tidak ada hubungannya.. tapi, aku benar-benar jadi khawatir padamu..”
“huh? Apa-apaan? Khawatir? Kasihan? Kau juga mau mengasihaniku?!!!” ledakku
“kau lah yang terus mengasihani diri sendiri.. kau yang terus bersembunyi di balik topeng kesedihanmu..” ujarnya tenang
“ka.. kau.. kau tahu apa??!! Kau tidak tahu apa-apa!!!” aku benar-benar meledak. Berani-beraninya dia..

Brak~
Dia memukul meja di hadapanku dan mendorongku tiba-tiba.
Mendesakku ke dinding. Tangannya mencengkram lenganku, menempelkannya di dinding
“tidak tahu.. aku tidak tahu apa-apa. Karena itu aku ingin tahu. Aku benar-benar khawatir padamu. Aku suka padamu..” Donghae menghembuskan kata-kata itu di depan wajahku
Dan dia memelukku.
Pelukan lelaki pertama selain Lee Hyukjae. Dan sentuhannya membangkitkan semua kenanganku akan Hyukkie.
Tangan Hyuk yang hangat, yang memegang stang motornya dengan mantap.
Rambut gondrong Hyuk yang bisa kupandangi sepuasnya saat dia memboncengku.
Bibirnya.
Senyumnya.
Semuanya.
Aku bergetar. Aku ingat semuanya.. semuanya..

“a.. aku.. aku.. aku sangat mencintainya.. Donghae.. aku sangat mencintainya… aku sangat.. sangat men.. hu.. hu.. huaa.. aku sangat mencintainya.. huaaaaa…. Hyukkie-ah..” aku terjatuh dalam pelukannya.
Menangis.
Itu lah kali pertama aku menangis dan menumpahkan semuanya kepada seseorang selain Jooeun
“menangislah.. menangislah.. cintailah dia.. menangislah..” dia memelukku terus. Menepuk-nepuk punggungku

Sampai isakan terakhirku, aku masih berada dalam pelukannya.
“tidak perlu sampai mencintai.. aku tak akan pernah memintamu menyukaiku seperti kau mencintainya.. aku hanya ingin.. aku.. bisakah aku?” Donghae melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahku
“Donghae..”
Jari-jarinya menangkup pipi dan telingaku. Aku bisa merasakan deru napasnya mendekat.
Aku menutup mata.

——————

Sampai isakan terakhirku, aku masih berada dalam pelukannya.
“tidak perlu sampai mencintai.. aku tak akan pernah memintamu menyukaiku seperti kau mencintainya.. aku hanya ingin.. aku.. bisakah aku?” Donghae melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahku
“Donghae..”
Jari-jarinya menangkup pipiku dan telingaku. Aku bisa merasakan deru napasnya mendekat.
Aku menutup mata.

Wrrr~ wrrrr~
Bunyi roda berputar.
Wrrr…
Rambut gondrongnya. Berdarah. Kepalanya berdarah.
Hyukkie-ah..?

DUG! Aku mendorongnya
“tidak boleh ya? Tidak bisakah?” bisiknya parau
“ternyata aku memang tidak bisa.. Donghae-shii.. aku tidak bisa.. aku tidak bisa..”
Aku berlari keluar. Meninggalkannya.
Aku tidak bisa.. aku memang… tidak bisa.
Aku masih tidak bisa.
Cinta menyesakkan ini masih tersisa. Malah tertanam dalam di hatiku. Di setiap sudut-sudut tubuhku. Aku masih mengingatnya.
Aku mencintainya.
Aku bahkan sudah berjanji untuk selalu berada di sisinya..

…………………………………………………………………

Aku menangis sendirian di halaman belakang sampai menyadari Jooeun mendekatiku.
Aku tidak mengangkat wajah. Hanya menunduk mengamati sepatunya.
“Sora.. kau suka pada Donghae, kan?”
“aku? Wa.. wae? Waeyo? Kenapa aku?”
Jooeun duduk di sampingku
“Sora.. Aku yakin, Donghae pasti bisa menjagamu dengan baik.”
“ja.. jangan bercanda.. kau memintaku mengkhianati Hyukkie?” aku memalingkan wajah
“kalau kau seperti ini terus, kau lah yang malah mengkhianati Hyukjae!”
Aku tersentak.
“a.. a.. apa? Kapan aku pernah mengkhianatinya?”
“Sora.. aku dan semuanya belum pernah menceritakan ini padamu. Kami takut kau malah akan makin sedih. Tahukah kau, saat kecelakaan itu, Hyukjae sempat menarikmu dan melindungimu.. orang-orang yang menyelamatkan kalian dan melihat kecelakaan itu juga mengatakan Hyukkie melindungimu dengan tangannya.. dia masih sempat memikirkan dirimu di saat maut menjemputnya. Sora, dia ingin kau hidup. Dia..”

Aku tidak mendengar lagi kata-kata Jooeun.
Seperti sebuah film, peristiwa itu terputar kembali. Begitu jelas.
cinta.. aku sangat mencintaimu.. sangat..
Soraa!!!!
Aku menggigil. Di detik terakhir hidupnya, dia masih sempat meneriakkan namaku.
Dia.. dia.. dia..
Aku menangis bergetar. Gemetar…
Menyadari fakta itu. Fakta bahwa dia..
Dia begitu mencintaiku.
Mencintaiku.
Ingin aku tetap hidup.

“Sora.. kau.. makanya kau.. harus tetap hidup. Tidak boleh tidak bahagia. Sora, hiduplah.. bahagialah.. berbahagailah dengan nyawa yang telah dilindungi oleh Hyukkie..”

Aku menangis. Menangis.
Dan menangis.
Terus menangis.
Sampai puas. Menangis.
Menangisi cintanya.

…………………………………………………………………………

Aku.. aku tak peduli..
Tak peduli berapa kali pun aku berhenti, berapa kali pun aku kembali ke belakang, mengenang masa laluku..
Aku tak peduli. Yang penting aku.. aku akan terus.. aku harus terus.. maju..
Melangkah perlahan. Menjalani hidup yang sudah dilindungi Hyuk.

“Donghae-shii.. maaf.. aku.. aku belum bisa pacaran.. belum..” aku berkata sambil menangis
“iyaa..” dia tersenyum
“tapi.. aku berjanji tidak akan menangis lagi..” masih menangis, aku tersenyum.
“iya.. iya.. aku tahu.. aku mengerti.. tidak apa-apa..” lembut dia merangkulku
“aku hanya ingin lebih mengenalmu.. itu saja.. boleh kan?” lanjutnya
Aku mengangguk pelan
“apa makanan kesukaanmu?”
“es krim..” sahutku singkat
“hmm.. hobimu?”
“membaca novel.. dan.. memandangi langit..”
“hmm.. lalu hobinya?”
“hobi siapa?”
“hobi dia.. Hyukkie..”
“hobi Hyuk?”
“iya hobi dia.. apa?”
“hobinya? Tersenyum..” aku berbisik mantap
“hobinya hebat..”
“memang..”
“kau mau cerita lebih banyak tentang dia?”
Aku memandangnya sejenak
“kenapa?”
“tidak.. aku hanya ingin lebih mengenal lelaki itu.. lelaki yang mencintaimu dan mendapatkan cintamu..”
“hmm.. dia anak bodoh yang baik.. ramah, ceria, polos. Kerjanya di kelas hanya tidur. Tadi aku sudah bilang kan kalau hobinya itu tersenyum? Ada satu lagi hobinya.. naik motor.. saat dia naik motor itu.. hmm…………..”
Aku akhirnya terus mengoceh.
Percakapan dan ocehan itu terjadi di suatu hari. Di suatu waktu. Di saat aku dan Donghae duduk berdua mengamati langit yang cerah. Secerah senyum dan cinta Lee Hyukjae.

…………………………………………………………………………..

Hyukkie-ah..
Apa kabarmu?
Aku datang ke laut lagi hari ini.
Sama seperti waktu itu. Saat kita jalan berdua, menikmati kehangatan langit di tengah dinginnya angin awal tahun.
Hidupku sekarang baik-baik saja. Sangat baik malah.
Appa sudah tidak terlalu keras padaku. Aku juga sudah belajar untuk mendengarkan kata-katanya. Appa menyayangiku. Kau juga tahu itu, kan?
Tahun ini tahun keduaku di universitas. Aku dan Jooeun melewati tahun-tahun yang cukup menyenangkan bersama. Kami belajar dengan baik. Oh ya, apa kau tahu? Jooeun sudah dapat pacar sekarang. Ahh aku turut senang melihatnya bahagia.
Donghae? Emmm.. kau sudah mengenalnya kan? Dia lelaki yang baik. Apa kau juga menyukainya?
Mungkin suatu saat nanti aku akan pacaran dengannya. Mungkin…

Aku belum bisa menepati janjiku untuk tidak menangis. Maaf..
Tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu sampai sedalam ini.
Kenangan bersamamu akan kujaga seumur hidup.
Aku bahagia pernah bertemu seorang Hyukkie..
Aku bahagia pernah dicintai olehmu..

Lee Hyukjae..
Mulai sekarang, teruslah mencintaiku..
Pandanglah sosokku ini..
Sosok yang melangkah ke depan..
Aku akan terus maju menjalani hidup ini..

Cring criing.. kalung salibku bergemerincing lagi.
Kulepaskan dari leherku. Kugenggam salib itu lalu kuangkat tanganku dan kunikmati pesona cincin di jariku yang berkilau diterpa sinar matahari.
saranghae ..” aku mendengar bisikan angin
“nado saranghae..” sahutku pada angin.

Hyukkie-ahh..
Apa kau sekarang sudah bersatu dengan langit dan sedang tersenyum penuh cinta ke arahku?

END

Terima kasih sudah mau baca yah ^^

Tolong di komentarin jangan ditinggalin aja ini FF.

Maaf kelamaan nge-postnya ^^

terima kasih.

Iklan

6 thoughts on “[2] Sky + Smile + Love = You!

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s