[OneShoot] Propose

Author: Hyodina

Cast: Choi Hyojin – Cho Kyuhyun – and other cameo ●

Length : Oneshoot ● Genre : Romance

 

“Setiap wanita, tidak hanya mengharapkan pernikahan yang indah dan juga berkesan dalam hidupnya. Apakah kalian tahu jika kalimat lamaran yang indah yang diucapkan calon suaminya akan selalu diingat oleh sang wanita hingga akhir hayatnya?”

 

 

Hyojin’s POV

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, bahkan terkesan hampir berlari. Aakkhh…Shin Songsaengnim akan membunuhku jika aku telat kali ini.

“Aiisshh..jinjja paboya, kenapa aku terlalu asik mengobrol dengan Appa hingga larut malam dan melupakan kelas pagiku kali ini dosennya nenek sihir itu?” rutukku dalam hati sambil sesekali melihat jam tanganku. Aku hampir tiba dikelasku ketika melihat sosok yang sedari tadi aku pikirkan juga melangkah dengan pasti dari arah yang berlawanan denganku.

Aku mempercepat langkahku dan berhasil mendahului wanita setengah baya itu memasuki kelas setelah sebelumnya aku menyempatkan diri untuk membungkuk hormat padanya dan sedikit memperlihatkan senyum tanpa dosa yang mungkin bisa juga diartikan ‘maaf, nyonya. Setidaknya kali ini aku tidak akan terkena omelanmu lagi, cukup sekali saja aku terlambat dikelasmu dan aku sangat tidak mengharapkan hal itu terulang’.

“Hyojin-ah, dari mana saja kau?” bisik Hanwoo ketika aku baru saja mendudukkan diri di kursiku. Aish, gadis ini tidak bisakah ia melihat Shin Songsaengnim baru saja memasuki kelas. Aku melemparkan pandangan malas –atau bisa juga dikatakan lelah karena sedari tadi berlari-lari kesetanan- padanya.

“Hanwoo-ya, nanti saja kita bergosipnya. Nenek sihir itu sudah didalam, tidakkah kau melihatnya?”

“Arrasoooo.” Bisiknya pelan.

++Propose++

“Haaaah..leganya, kelas hari ini selesai juga. Otakku akan meledak jika kita masih berada dikelas sekarang.”

“Kau benar, tapi setidaknya kau tidak mengalami pagi yang buruk.”

“Aaaaa..kau belum mengatakan padaku kau darimana saja hingga kau terlambat?”

“Kau ini, ayo kita makan  dulu, aku lapar.” Ujarku dan berlalu mendahuluinya menuju kantin.

“Yaaaaaa. Tunggu aku.”

“Jagiyaaaaaaaaaaa.” Oh tidak, suara jelek itu.

“Eo, Eunhyuk oppa.” Hanwoo yang mendengar suara yang tentunya sangat familiar juga baginya itu langsung menoleh dan ekspresinya yang tadinya sebal langsung berubah.

“Yaak, jagi. Kau tega sekali padaku. Tadi aku ke kelasmu dan kau sudah pergi.”

“Jinjjayo oppa? Mianhae.”

“Aish..tidak bisakah kalian bersikap normal saja? Eunhyuk-ah, tidak sadarkah kau jika suara lengkinganmu barusan itu sangat jelek?” ujarku akhirnya yang sudah tidak tahan dengan percakapan dua manusia disampingku ini.

“Hey, Jinnie-ya. Carilah pacar dan kau akan mengerti bagaimana rasanya. Sejak kecil aku tidak pernah melihatmu sekalipun bersama laki-laki selain aku. Aku khawatir kau akan menjadi perawan tua nantinya.”

“Oppa benar. Hyojin-ah, kau selalu kaku jika berhadapan dengan pria. Sayang sekali dengan wajah cantik itu kau malah susah mencari pasangan. Apa kau terlalu memilih?”

“Terserah kalianlah. Aku tidak tertarik. Aku lapar.” Pasangan bodoh ini membuat rasa laparku menjadi berlipat ganda. Dengan segera ketika aku duduk di kursi kantin ini aku memesan makanan dan mengacuhkan dua orang yang masih saja terus bermesraan layaknya anak-anak belasan tahun yang sedang kasmaran. Aish..aku lapar sekali.

“Hyojin-ah, sekarang ceritakan padaku. Apa yang membuatmu hampir terlambat tadi?” celetuk Hanwoo ketika aku selesai menghabiskan makananku. Daya ingat dan daya ingin tahu gadis ini makin lama semakin kuat saja. aku mendesah malas.

“Aku tidur terlalu malam karena terlalu asik dengan Skype.”

“Mwoya? Kau menghubungi siapa? Apa ternyata kau sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan kami?”

“Hahaha..untungnya pemikiran bodohmu itu sama sekali tidak benar, Eunhyuk-ah. Itu ayahku. Dan apa kalian tahu apa yang membuatku sangat senang tadi malam?”

“Apa?” Hanwoo bertanya padaku setelah sebelumnya ia dan Eunhyuk saling berpandangan bingung.

“Liburan musim dingin nanti, aku akan pergi ke Berlin. Sekaligus merayakan Natal disana.”

“MWOYA???” pasangan ini kompak sekali, aku memukul tangan mereka dengan sendok yang tadi kupakai.

“Aish, kalian sangat berlebihan. Tidakkah kalian sadar jika semua orang memandang kemari karena teriakan kalian?”

“Biarkan saja. pandangan orang lain tidaklah penting saat ini. Hey, bukankah biasanya Ahjussi yang selalu kemari saat natal?” Aku memutar bola mataku malas. Lee Hyukjae, kenapa aku memiliki teman secerewet kau?

“Tentu saja karena aku ingin merasakan bagaimana Natal disana. Bukankah disana indah? Dan ini aku dapatkan setelah merayu Appa selama hampir seminggu. Tadi malam aku berhasil setelah berjam-jam merayunya tanpa mengingat kita akan menghadapi kelas Shin Songsaengnim dan kenyataan jika Sooyoung unnie sedang berada di Jeju karena urusan kantor. Tidak ada yang membangunkanku dan membuatkan aku sarapan. Karena itulah aku hampir terlambat.” Aku mengendikkan bahu sambil menyantap puding strawberry yang baru saja diantarkan oleh Ahjumma pemilik kantin.

“Aaaah..aku ingin sekali ikut. Bagaimana menurutmu, Oppa?”

“Andwae!”

Dua kening berhasil berkerut karena jawaban spontan dari pria dihadapanku ini. Tentu saja itu aku dan Hanwoo.

“Waeyo?” ujarku dan Hanwoo hampir bersamaan.

“Karena liburan musim dingin ini kau akan pergi denganku, Hanwoo-ya. Bukan ke Berlin, tapi ke tempat yang lebih indah.” Ujarnya sambil tersenyum –sok- misterius.

“Kemana?” refleks, Hanwoo bertanya seperti itu dan aku berani bertaruh jika ada kebahagaian -yang bisa dikatakan berlebih- dalam nada bertanyanya.

“Kau akan tahu nantinya. Jadi persiapkan dirimu. Arraso?”

“Awas saja jika kau membawanya ketempat yang aneh-aneh dan kau melakukan sesuatu yang buruk padanya, Lee Hyukjae.” Ucapku tajam sambil menodongkan garpu pudingku tepat didepan mata coklatnya.

“Hey..hey..kau pikir aku ini pria macam apa hah? Tenang saja, yeojachinguku yang manis ini akan sangat senang ketika ia pulang dari perjalanannya denganku.” Ucapnya yakin sambil merangkul bahu Hanwoo, sedangkan Hanwoo hanya bisa tersenyum malu-malu disampingnya. Aiisshh..jinjja sarami.

“Baiklah..baiklah.. aku baru ingat, Hanwoo-ya, ayo kita belanja. Tadi pagi aku sempat melihat wedges yang cantik sekali. Aku harus medapatkannya.”

“Jinjjayo? Kebetulan sekali, uang bulananku baru saja ditransfer. Jadi, kita akan kedaerah mana kali ini?”

“Aku tidak ikut. Aku tidak ingin berakhir jadi kuli angkut belanjaan kalian seperti sebelumnya.”

“Setelah berbelanja, ayo kita ke Kafe Strawberry Hanwoo-ya. Sudah lama sekali rasanya kita tidak kesana.” aku mengabaikan interupsi dari Eunhyuk barusan, tidak mengabaikan sebenarnya, melainkan hanya memancingnya agar ia tertarik untuk ikut denganku dan Hanwoo.

“Kafe Strawberry. Hmmm..aku ikut.” Gotcha! I got you Lee Hyukjae.

“Bukankah kau barusan bilang kalau kau tidak ikut? Kau plin-plan sekali.” Aku mengulum senyumku dan menahan agar tidak tertawa puas akan kepolosan teman sejak kecilku ini. Aku beruntung memiliki kesukaan yang sama dengannya dan yang juga selalu menjadi kelemahannya.

“Aniyo. Setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya juga ikut kali ini. Aku juga ingin membeli sesuatu. Dan, seperti kau yang selalu lemah akan sepatu, aku lemah karena strawberry.” Ia hanya mengangguk-angguk dan aku hanya bisa tersenyum puas. Hanwoo? Tentu saja ia hanya tersenyum senang sekaligus miris karena kekasih tersanyangnya ini tidak akan menganggur –dalam artian akan sibuk membawa belanjaan- nantinya.

“Oke. Sudah diputuskan. Kalau begitu..ayo pergi! Makanan kali ini aku yang traktir, karena aku sedang senang. Kajja!” Aku mengambil tas dan beranjak, menarik Hanwoo untuk segera bangun dari tempat duduknya. Ah, belanja..aku datang.

++Propose++

“Haaaaahh.. lelah sekali. Tapi setidaknya aku puas, aku mendapatkan dress yang cantik.” Hanwoo mendudukkan dirinya pada sofa di kafe ini.

“Kau benar, dan aku mendapatkan wedges itu dengan tambahan heels yang tentunya menarik.” Aku menambahkan.

“Kalian wanita-wanita mengerikan. Bagaimana bisa uang kalian melayang begitu saja karena barang-barang seperti itu?” Eunhyuk hanya menggeleng-geleng melihat tas belanjaan kami yang ada ditangannya. Seperti biasa, ia akan menjadi kuli angkut ketika ia ikut menemani kami belanja, yah seperti sekarang ini.

“Kau tidak perlu heran, Hyuk-ah. Ini kan sudah biasa. Hey, memangnya berapa lama kita saling mengenal hah?”

“Hyojin benar, Oppa. dan bukan salah kami juga kan kalau kau yang menjadi ‘petugas baik hati yang membawakan belanjaan’ kami? kau sendiri yang mau ikut tadi.” Hanwoo terkekeh.

Ddrrrtt~ ddrrrrttt

Aku melihat ID Sooyoung unnie berkedip-kedip di layar handphone-ku. Tumben sekali dia menelepon. Apa dia akan pulang hari ini?

“Yeoboseyo, Unnie-ya.”

“Jinnie-ya, kau harus pergi ke Berlin malam ini, aku sudah membelikan tiketnya.” Ada yang aneh dari suara Sooyoung unnie, dia terdengar seperti..menangis?

“Mwoya? Untuk apa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan pergi saat liburan musim dingin?”

“Appa mengalami kecelakaan.”

Gelap, itulah yang aku rasakan sekarang. tempat aku berpijak sekarang seakan runtuh dan membawaku kedasar. Aku pasti salah dengar. Tidak mungkin.

“Kau pasti bercanda, Unnie.” Aku terkekeh pelan, menahan air mataku yang sudah mengambang dikedua kelopak mataku.

“Hyojin-ah, ada apa?” Eunhyuk yang menyadari perubahan ekspresiku langsung menayakan apa yang terjadi. Aku hanya bisa menggeleng, air mataku sudah tidak dapat kutahan dan dengan lancarnya mengalir, membentuk aliran dipipiku. Eunhyuk merebut ponsel yang kupegang dan menempelkannya ditelinganya.

“Yeoboseyo, Noona. Ini aku Eunhyuk. Apa yang terjadi?”

“. . . . . . . . . . . . . . . . . .”

“Kapan kejadiannya?”

“. . . . . . . . . . . . . . . . . .”

“Ne. aku mengerti. Kami akan pulang sekarang.”

Aku sempat melihat raut keterkejutan diwajah Eunhyuk. Sepertinya ia juga sudah mendengar apa yang diberitakan oleh Sooyoung Unnie. Ia menutup teleponnya dan dengan segera bangkit dari duduknya dan membawa semua tas belanjaan kami. Hanwoo yang belum mengetahui apapun hanya bisa mengikuti langkah Eunhyuk dan mengajakku ikut berdiri untuk segera pulang. Aku tidak dapat menemukan fokusku. Aku terus menangis.

“Hanwoo-ya, tolong bantu Hyojin untuk mengemasi pakaiannya ke kopernya sesampai kita dirumah. Aku akan mengambil tiket Hyojin yang sudah dibeli Sooyoung Noona di agen perjalanan. Hyojin akan ke Berlin malam ini. Ayahnya mengalami kecelakaan dan sepertinya cukup serius.” Ucap Eunhyuk sambil menyetir diperjalanan pulang.

“Ne, Oppa. Hyojin-ah, kuatlah. Ayahmu pasti akan baik-baik saja. berdoalah pada Tuhan.” Hanwoo memelukku. Aku menggeleng, tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Appa~ demi apapun, kau harus bertahan. Batinku.

Sesampainya dirumah, Hanwoo memintaku untuk mandi dan berganti baju sedangkan ia menyiapkan barang bawaanku. Aku hanya mengangguk lemah dan mengikuti saja apa yang ia katakan. Pikiranku kosong, aku tidak dapat berpikir jernih.

“Hanwoo-ya, gomawo.” Ucapku pelan.

Aku mandi secepat yang aku bisa, saat aku selesai, aku mendengar deru mobil Eunhyuk memasuki halaman rumah. Dia sudah datang, membawa tiketku. Unnie, seharusnya kau disini bersamaku, kita seharusnya pergi bersama.

“Hyojin-ah, apa kau sudah selesai bersiap-siap? Penerbanganmu akan take off tiga jam lagi. masih ada cukup waktu untuk perjalanan ke bandara atau untuk kau makan terlebih dahulu. Kau belum makan malam.” Eunhyuk, menghampiriku tersenyum menguatkan dan menepuk bahuku pelan.

“Tunggu sebentar. Aku hampir selesai.”

“Hyojin-ah, semua barang bawaan yang sekiranya akan kau butuhkan sudah aku masukkan. Aku tidak menemukan passportmu. Dimana kau menyimpannya? Ah, Oppa. apa kau juga sudah menukarkan uangnya?”

“Passportku, ada di brankas. Nanti akan aku ambil sendiri. Jeongmal, jeongmal gomawo. Aku bersyukur karena ada kalian disini. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan jika aku sendirian.”

“Gwenchana. Itulah gunanya kami. Kuatlah, Jinnie-ya. Appamu membutuhkanmu disana dan kau tidak boleh lemah. Arraso?” Hanwoo memelukku, mencoba menguatkanku.

“Aku mengerti. Tunggulah sebentar, aku akan mengambil passportku.” Aku tersenyum hambar, mereka benar, aku harus kuat, demi Appa.

Aku masuk kekamar dan membuka brankas yang berisi beberapa dokumen untuk mengambil passportku. Setelah menyisir rambut dan memakai make up seadanya. Aku keluar menghampiri Hanwoo dan Eunhyuk yang menungguku di ruang tamu bersama barang bawaanku.

“Aku sudah selesai. Ayo kita pergi. aku rasa semua yang aku butuhkan tidak ada yang kurang.” Aku tersenyum –yang dipaksakan- dan berusaha untuk lebih terlihat kuat. Bagaimanapun, mereka benar. Aku harus kuat dan mendampingi Appa.

“Ne.  Kajja.”

Sepanjang perjalanan menuju bandara, aku hanya diam. Begitu pula dengan Eunhyuk dan Hanwoo. Sepertinya mereka mengerti keadaanku yang tidak bisa dikatakan sedang baik.

Appa, berjuanglah. Dan tunggu aku. Kau pasti bisa melewati masa kritismu. Kau tidak boleh pergi meninggalkanku dan Sooyoung unnie secepat ini.

++Propose++

Aku menatap kearah luar jendela pesawat yang saat ini membawaku ke Berlin. Air mataku menetes lagi. seharusnya bukan saat ini aku pergi kesana. Seharusnya aku pergi dua bulan lagi dari sekarang. seharusnya aku pergi kesana dengan perasaan senang dan tidak dengan menangis seperti sekarang. seharusnya aku pergi kesana bersama Sooyoung unnie dan Appa yang menjemput di Bandara.

Tuhan, tolong selamatkan Appa. Aku sama sekali belum bisa memperlihatkan prestasiku yang benar-benar gemilang padanya. Aku ingin bersamamanya dan Sooyoung unnie lebih lama lagi. jangan ambil Appa seperti Kau mengambil Eomma.

Aku mengambil foto Eomma yag selama ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi di dalam dompetku. Foto Eomma yang sedang tersenyum manis di dapur dengan celemek yang entah bagaimana membuatnya terlihat lebih cantik. Dari semua foto Eomma, aku sangat menyukai yang ini. Appa bilang foto ini diambil saat aku masih berusia 3 tahun. Aku dan Sooyoung Unnie kehilangan Eomma saat aku masih berusia 5 tahun. Hari itu, saat musim panas, hari-hari sebelumnya yang selalu terasa panas berubah menjadi hujan seharian. Aku yang belum mengerti apa-apa hanya duduk dengan polosnya dipangkuan Sooyoung Unnie di kursi rumah sakit. aku melihat Appa keluar dari ruang rawat Eomma dengan raut wajah yang saat itu tidak dapat kuartikan. Ia menghampiriku dan Sooyoung Unnie, mengambilku dan menggendongku dan mengatakan, mulai saat itu aku tidak boleh menjadi anak yang cengeng dan mencari-cari dimana Eomma, karena Eomma sudah pergi ketempat yang lebih baik. Setelah hari itu aku tidak pernah melihat Eomma, merasakan bagaimana masakan Eomma setiap harinya. Semua pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Eomma dikerjakan oleh Jang Ahjumma.

“Eomma, apa kau melihatku dari sana? Kau tidak akan meminta Tuhan untuk mengambil  Appa sekarang, bukan?” gumamku perlahan dengan air mata yang masih saja terus mengalir dengan derasnya. Entah ini sudah kesekian kalinya aku menangis sejak tadi sore.

Tuhan, tolong selamatkan Appa. Aku mohon.

Frankfurt am Main International Airport, Germany

Akhirnya, akhirnya aku sampai disini. Aku berjalan dari tempat dudukku menuju pintu keluar kabin pesawat dengan wajah menunduk, setidaknya agar orang-orang tidak melihat mataku yang bengkak karena terlalu banyak menangis.

“Kamsahamnida.” Suara lembut pramugari ini membuatku mendongakkan wajahku ntuk melihatnya. Dia tersenyum manis, dan tulus. Sejenak, aku termenung, pramugari ini harus selalu tersenyum terhadap pelanggan yang menggunakan jasa penerbangan ini, tida peduli dengan masalah apapun yang sedang ia hadapi, ia harus selalu terlihat ramah. Aku sedikit merasa malu. Entah berapa kali aku mengacuhkan pramugari-pramugari yang berniat baik meayani kebutuhanku selama perjalanan tadi. Aku tersenyum tulus padanya, menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf atas perlakuanku. Aku membungkukkan badan sedikit dan berlalu. Haaaah, setidaknya sekarang aku sudah berada di nagara yang sama dengan Appa. Tinggal selangkah lagi menuju Appa.

Setelah mengurus proses imigrasi, aku segera keluar dan segera mencari taxi yang akan mengantarkanku kerumah sakit yang telah disebutkan Sooyoung unnie. Aku menyeret koperku menuju tempat pemberhentian Taxi dan menhampiri sebuah taxi yang sedang menunggu penumpang disana.

“Excuse me, can you take me to this hospital please?” aku menyerahkan memo yang berisi nama dan alamat rumah sakit tempat Appa dirawat pada supir taxi ini. Ia membaca sejenak memo itu dan mengangguk.

“Sure. You want to go now?” supir taxi itu tersenyum ramah padaku, aku mengangguk ia membantuku memasukkan koperku kedalam bagasi.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, aku melamun dan mengabaikan pemandangan indah yang tersaji dijalan. Terkadang aku menghela napas panjang dan itu sepertinya menarik perhatian supir taxi yang sedang mengemudi didepanku ini.

“Seems that you’re an Asian. can you speak German?” supir taxi ini mengajakku berbicara, bahasa inggrisnya diwarnai oleh aksen jermannya yang khas.

“Yes, I’m Korean. I can’t speak German. Just a little bit English.” Aku membalas pertanyaannya. Supir taxi ini, jika aku perkirakan, umurnya setara dengan Appa. Kulihat ia mengangguk pelan.

“Are you going to Germany for holiday?”

“Actually, I’m not go to here for holiday. my father got an accident yesterday.” Aku tersenyum pahit ketika menjelaskan tujuanku kemari. Ia tertegun sejenak, aku dapat melihat rasa simpati terpancar dari matanya yang dapat kulihat dari kaca spion.

“I’m so sorry. I hope your father will get well soon.”

“Thanks, Sir. By the way, how long it takes to the hospital?”

“Umm.. from here, around twenty minutes.”

“I got it. Thank you.”

“You’re welcome. Since you’re here, enjoy the view. It’ll make you comfortable. Your father will be okay, I’m pretty sure about it.”

“Yes, I hope so.” Ia tidak mengajakku berbicara lagi. Mungkin ia ingin memberiku waktu untuk menikmati perjalanan. Walau pada kenyataannya aku sama sekali tidak menikmatinya, atau lebih bisa dikatakan jika aku tidak dapat menikmatinya.

++Propose++

Sesampainya dirumah sakit, aku segera menuju pusat informasi untuk mengetahui dimana kamar Appa dirawat. Setelah mendapatkan nomor kamar dan sedikit petunjuk arah dari suster di meja resepsionis, aku menuju kekamar Appa.

Langkahku terasa semakin berat, aku gugup. Aku takut tidak akan kuat menopang tubuhku sendiri nantinya ketika meihat Appa. Aku bahkan sempat berharap ketika kau membuka pintu kamar rawat Appa, aku akan melihatnya sedang tersenyum padaku dan melambaikan tangannya padaku dengan senyum jahil menghiasi wajahnya dan hanya beberapa luka lecet yang terdapat pada tubuhnya.

Kamar VIP 08. Ini kamar Appa. Aku berdiri sejenak didepan pintu dengan tangan yang telah memegang handle pintu ini dan bersiap untuk membukanya. Perasaanku makin kacau, bolehkah aku berharap jika apa yang tadi kupikirkan menjadi kenyataan. Dapat dihitung sekitar 10 menit aku mematung didepan kamar Appa tanpa bisa menggerakan tanganku untuk membuka pintunya. Aku menguatkan diriku, bagaimanapun aku harus siap melihat keadaan Appa didalam. Aku membuka pintu perlahan.

DEG!!!!!

Hatiku mencelos ketika melihat kedalam. Tidak ada sosok Appa yang tersenyum kepadaku seolah mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tidak ada sosoknya yang melambaikan tangannya untuk mendekat padanya, Hanya ada sesosok yang sangat aku kenal sejak aku kecil, terbaring dengan masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya. Dengan perban yang melilit kepala dan tangannya, serta penyangga leher yang menutupi lehernya. Mata itu terpejam, bibir itu mengatup rapat. Hanya bunyi detak dari elektrokardiograf disamping tempat tidurnya yang terdengar memenuhi ruangan ini, bunyi detak itu sejenak membuatku sedikit lega, setidaknya Appa masih berada disini.

“Appa.” Air mataku menetes lagi.

“Appa, apa kau bisa mendengarku? Hyojin disini, Appa. Hyojin disini untuk menemani Appa, untuk melihat Appa sadar. Hyojin disini.” Aku memegang tangan Appa, yang tentunya tanpa respon balik darinya. Aku memandang wajah pucatnya, masih tetap memegang tangannya

“Appa, kau harus kuat dan melewati masa kritismu. Kau harus sadar. Hyojin disini, aku melewati perjalanan selama berjam-jam dari Seoul kemari, sendirian, untuk melihatmu segera sadar. Tidakkah kau ingin menyambutku?” aku terisak, tidak dapat mengontrol tangisku lagi. aku membenamkan kepalaku, mencoba agar suara tangisku tidak menjadi lebih keras. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Aku menyeka airmataku, bangkit dari dudukku dan berlalu menuju toilet dikamar ini. Wajahku terasa lengket sekali, debu dan bekas airmata yang mongering membuatnya terlihat sangat kusam. Aku memandang pantulan diriku dicermin toilet ini, lingkaran hitam terlihat jelas dibawah mataku. Maklum saja, selama perjalanan aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku meski hanya untuk beberapa menit.

“Haaah..lihatlah betapa menyedihkannya dirimu, Choi Hyojin. Mana semangatmu, bukankah kau kemari untuk menguatkan Appa?” gumamku.

Aku membasuh wajahku, segarnya air yang membasahi wajahku mampu sedikit memberiku ketenangan. Aku menatap lagi bayanganku dicermin.

“Ya, kau harus kuat, demi Appa.”

Aku keluar dari toilet sambil mengeringkan wajahku dan telah berganti pakaian. Aku memperhatikan sekeliling kamar ini. Bukankah seharusnya ada sekretaris Jang yang menemani Appa disini? Apa ada urusan dikantor yang membuatnya tidak dapat menemani Appa disini sambil menunggu aku datang?

Aku mengendikkan bahuku dan berjalan menuju tampat tidur Appa. Memandangi wajah pucatnya yang masih saja terpejam. Aku mengelus tangannya pelan. Tangan ini, selalu memelukku dengan hangat ketika ia pulang. Sekarang, tubuh ini terbaring lemah dengan banyak luka di tubuhnya.

Aku masih menggenggam tangannya ketika tiba-tiba tubuh Appa berguncang dan bunyi detak jantungnya pada elektrokardiograf meningkat. Aku panik dan menekan tombol darurat disamping tempat tidur Appa. Aku keluar dari kamar Appa dan berteriak memanggil suster. Setengah menit kemudian aku melihat dokter datang bersama dengan beberapa suster megikutinya dibelakang. Aku menghampiri mereka dan meminta mereka segera menangani Appa dengan bahasa Inggrisku yang belepotan karena saking paniknya.

Aku menunggu Appa diperiksa sambil menangis. tubuhku merosot hingga terduduk dilantai lorong rumah sakit ini. Kakiku terasa lemas, pikiranku kemana-mana. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak baik? Bagaimana jika kondisi Appa menurun? Eottokkhae?

Aku bersandar pada dinding rumah sakit dan menjulurkan satu kakiku sedangkan satu kaki lagi aku gunakan untuk menjadi tempat tumpuan tangan dan kepalaku untuk menyembunyikan wajahku yang menangis lagi saat ini. Sudah lebih dari lima menit tim dokter didalam, kenapa mereka memeriksa Appa begitu lama?

Duukk~~

“Aaawww.”

Aku mendengar seseorang mengaduh setelah sebelumnya terdengar suara sesuatu yang jatuh. Aku merasakan sedikit sakit pada ujung kakiku yang tadinya kuluruskan. Aku mengangkat kepalaku dan melihat seseorang yang baru saja bangkit dari posisinya semula. Sepertinya dia tersandung gara-gara kakiku. Aku segera berdiri dan membungkuk tanda menyesal.

“Jeosonghamnida. Saya benar-benar tidak sengaja.” Kataku berulangkali sambil membungkuk. Aku melihat keningnya berkerut karena mendengan ucapanku. Sedetik kemudian aku tersadar jika aku meminta maaf dengan bahasa Korea. Mana mungkin pria didepanku ini mengerti. Aiiissh, Hyojin paboya.

“I’m sorry. I don’t know if my foot will make you fall like that. I’m sorry.” Aku harap pria ini mengerti  bahasa Inggris, karena aku sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman.

Belum sempat pria itu membalas ucapanku, aku mendengar pintu kamar Appa dibuka dan dokter yang tadi masuk untuk memeriksa keadaan Appa keluar. Aku menghampirinya, perasaan takut dan panikku datang lagi. dan aku melupakan pria yang tadi terjatuh karenaku. Masa bodoh, yang penting aku sudah  meminta maaf bukan? Appa jauh lebih penting.

“Dokter, bagaimana keadaan Appa? Apa yang terjadi padanya?” Lagi, aku kelepasan mengajak orang berbicara dengan bahasa Korea. Aku terlalu kalut untuk memilih bahasa sekarang. aku terus memberondong dokter ini dengan pertanyaaan yang sudah bisa dipastikan tidak akan dia mengerti.

Dokter itu kemudian berbicara dalam bahasa Jerman yang fasih dan cepat. Hey, bukankah kelihatannya seperti orang bodoh saja? kami berkomunikasi tapi sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain. Aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan, namun aku mencoba untuk membaca apa yang dokter ini sampaikan melalui ekspresinya. Namun lagi-lagi gagal. Ekspresi dokter dihadapanku ini tidak dapat aku artikan sebagai apa. Apa mungkin karena ia sudah terbiasa saat menghadapi saat-saat gawat? Tunggu dulu, situasi gawat?

“I’m sorry, can you..”

Aku belum selesai berbicara untuk meminta dokter menjelaskan keadaan Appa dalam bahasa Inggris, ketika aku mendengar seseorang berbicara disampingku menanggapi perkataan dokter dengan bahasa jerman. Aku menoleh dan mendapati pria yang tadi tersandung kakiku berbicara pada dokter ini dengan lancarnya. Sudah kuduga jika ia adalah orang Jerman, yah walaupun jika diperhatikan wajahnya tidak terlalu Eropa, entahlah. Tapi, bagaimana ia memberitahuku apa yang dikatakan oleh dokter ini nantinya? Semoga saja ia bisa berbahasa Inggris –dalam artian bahasa Inggris yang tidak diwarnai dengan aksen Jerman sehingga aku lebih dapat menangkap apa yang ia katakan-

Aku menunggu hingga mereka selesai berbicara, masih dengan tampang yang bingung karena sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan.

“Eerrr, do you speak English? Can you tell me the problem that you’ve talked with the doctor? My father, he’ll be fine, right?” tanyaku beruntun ketika dokter telah selesai berbicara padanya dan meninggalkan kami berdua didepan kamar rawat Appa. Ia menoleh padaku sejenak dan terdiam sejenak. Hey, apakah dia tidak mengerti jika aku sangat penasaran tentang kondisi Appa hah?

Ia mengeluarkan saputangan warna biru muda dari saku kemeja kotak-kotak hitamnya.  Aku menerima saputangan itu dengan bingung. Ia menyentuh pipinya sendiri dan mengendikkan dagunya padaku, mungkin ia menyuruhku untuk menyeka airmataku terlebih dahulu sebelum ia memberitahuku. Aish, kenapa orang ini tidak langsung saja? aku membungkukkan badanku sedikit sambil mengucapkan terimakasih dengan perlahan dan mengusap air mataku sambil menunduk.

“Ayahmu baik-baik saja. dokter bilang ia berhasil melewati masa kritisnya dan sudah sadar.” Jawabnya. Aku seketika mendongak, apa aku barusan salah dengar? Tidak mungkinkan pria didepanku ini berbahasa Korea?

“Eo?” ia masih mengoceh didepanku dengan bahasa Koreanya yang bisa dibilang sangat lancar. Jika saat ini kau berbicara padanya melalui telepon, kau pastinya akan mengira jika lawan bicaramu adalah orang Korea asli. Pengucapan dan aksennya sempurna.

Wajahku pasti benar-benar terlihat aneh sekarang. ekspresi terkejut, senang, dan bingung serta sisa-sisa airmata dan aku beum bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas perkataannya ataupun bertanya padanya.

“Kau pasti merasa bingung kenapa aku bisa berbahasa Korea, bukan?” aku mengangguk.

“Haaaah, apa benar-benar tidak telihat ya jika aku orang Korea? Semua yang bertemu denganku tidak pernah mengatakan jika aku ini seperti orang Korea? Apa yang salah dengan wajahku?” aku memperhatikan wajah pria yang mungkin 2 atau tiga tahun lebih tua dariku ini. Memang benar, wajahnya tidak terlihat seperti orang Korea. Namun ia juga tidak bisa dibilang seperti orang Jerman atau Eropa, kulitnya putih bersih tanpa ada bercak seperti orang kulit putih umumnya, entahlah, wajahnya seperti..campuran???

“Kau memang tidak terlihat seperti orang Korea umumnya.” Jawabku akhirnya.

“Aku ini quarter, kakekku orang Jerman dan nenekku orang Korea.” Oh, begitu rupanya, pantas saja bahasa Koreanya baik sekali.

“Hey, tidakkah kau mau masuk kedalam? Kata dokter ayahmu sudah sadar.”

“Ah, ye. Khamsahamnida atas bantuanmu. Aku terbantu sekali.” Aku teringat akan Appa lalu membungkuk sekali dan segera masuk kedalam.

“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Hyojin-ssi.” Serunya ketika aku hendak menutup pintu. Aku mengangguk dan ia berlalu menuju..entahlah. saat ini yang terpenting adalah Appa.

“Appa, syukurlah kau sudah sadar. Aku khawatir sekali.” Aku menghampiri Appa yang sudah sadar namun masih terlihat sangat lemah. Ia mengangguk pelan. Aku memegang tangannya dan duduk dikursi tempat ku duduk tadi.

“Apa kau tahu betapa terkejutnya aku ketika Sooyoung unnie meneleponku dan mengatakan kau kecelakaan? Bagaimana takutnya aku selama perjalanan dari Seoul kemari?” mataku berkaca-kaca lagi. aish, kenapa aku mudah sekali menangis? aku melihat Appa mengangguk lagi, aku juga dapat merasakan gengamannya pada tanganku menguat.

“Tapi syukurlah. Kau sudah sadar. Dan aku bisa bernapas sedikit lega, Appa, istirahatlah. Aku akan menemanimu disini. Arraso?” aku tersenyum dan mengecup pipinya.

Aku melihat Appa mulai tertidur lagi. Tuhan, gomawoyo. Kau telah menyelamatkan Appa, kau masih memberikanku kesempatan untuk bersamanya lebih lama lagi. ah, aku belum memberitahu Sooyoung unnie tentang keadaan Appa. Aku mengambil ponselku di tas dan menghubungi Sooyoung unnie.

“Unnie, Appa baru saja sadar. Lega sekali rasanya.” Ucapku ketika telepon telah tersambung.

“Jeongmal? Ah..leganya. setidaknya aku juga bisa bernapas sedikit  lega sekarang. Bagaimana keadaanya?”

“sekarang Appa sedang tidur, dia masih butuh banyak istirahat. Kapan kau kesini?”

“Aku baru bisa kesana lusa. Pekerjaan disini benar-benar tidak bisa ditinggal dan aku sudah benar-benar hampir dibuat gila karenanya. Apa kau sudah bertemu sekretaris Jang?”

“Obseo. Aku belum bertemu dengannya sejak aku menginjakkan kakiku disini. Sepertinya dia sibuk mewakili Appa dalam urusan kantor. “ jawabku sekenanya.

“Arasso. Kau temani Appa. Dan jika sekretaris Jang datang, minta ia untuk mengantarmu ke apartemen Appa. Apa kau sudah makan?”

“Aku mengerti. Aku belum lapar, nanti saja. aku tutup dulu ya. Annyeong.”

Aku membuka notification di ponselku dan mendapati beberapa pesan masuk dari Hanwoo dan Eunhyuk. Isi pesannya rata-rata sama seperti ‘Apa kau sudah sampai di Berlin?’ ‘Bagaimana keadaan Appamu?’ ‘Gwenchana?’ dan yang paling konyol, pesan dari Eunhyuk, ‘Kau tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi kan?’ Hey, apa kemampuan bahasa Inggrisku payah sehingga ia mengkhawatirkan hal seperti ini. Sejauh ini aku belum menghadapi kesulitan karena semua yang berinteraksi denganku semuanya bisa berbahasa Inggris, bahkan aku bertemu pria aneh -yang katanya- keturunan Korea dengan bahasa Koreanya yang bisa dibilang, sempurna.

Tunggu dulu, pria itu. Rasanya tadi dia ada menyebutkan namaku. Bukankah kami belum berkenalan sama sekali? Bagaimana bisa ia mengetahui namaku? Apa kami pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya? Kalaupun iya, kapan dan dimana? Dan kenapa aku tidak ingat?

Aaaaahh memikirkan ini hanya akan membuatku pusing. Anggap saja dia pernah bertemu denganku entah dimana tapi aku lupa. Aku membalas pesan Eunhyuk dan Hanwoo sekaligus dan berjalan menuju jendela, sudah mulai sore rupanya. Dan sama seperti di Seoul, disini pun sedang musim gugur. Musim gugur selalu indah dimataku. Semuanya jadi terlihat berwarna. Dedaunan yang berubah warna menjadi kekuningan atau kemerahan anggap saja memberikan ketenanngan bagi yang menikmatinya. Udaranyapun terasa sejuk. Dan kalau orang mengatakan musim gugur di Paris sangat indah, disini juga tidak kalah indahnya. Aaah, sepertinya aku harus berjalan-jalan sedikit nanti ketika kondisi Appa sudah jauh lebih baik.

“Ahgassi. Kau sudah sampai rupanya.” Suara berat ini, aku menoleh dan mendapati Sekretaris Jang baru saja masuk bersama seorang lagi dibelakangnya yang kuyakin adalah staffnya.

“Ne. aku sampai tadi siang. Apa keadaan dikantor baik-baik saja? Apa ada masalah karena ketidakhadiran Appa?”

“Ya. Semuanya dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ada masalah. Apa ada kemajuan dengan kondisi Sajangnim?”

“Appa sudah sadar. Sekarang sedang tidur. Dan, bukankah aku sudah berkali-kali meintamu untuk menghilangkan embel-embel ahgassi untuk memanggilku, ahjussi?” aku melihat wajah keriput itu tersenyum karena ucapanku.

“Syukurlah kalau keadaan beliau sudah membaik.  Kau sebaiknya pulang ke apartemen Sajangnim untuk beristirahat. Biar saya yang menunggui Sajangnim disini.”

“Ahjussi, apa aku jauh-jauh kemari untuk bersantai di apartemen Appa? Aku akan menginap disini.”

“Setidaknya kau menaruh barang bawaanmu disana dan mandi dulu, bukan?”

“Aku mandi disini saja, kamar mandi dikamar ini lumayan baik untukku. Dan barang bawaanku, kurasa kau tidak akan keberatan jika aku menitipkannya padamu untuk dibawa ke Apartemen Appa saat kau pulang nanti.” Aku melipat tanganku dan melihat ia menggeleng-geelengkan kepalanya tanda ia sudah menyerah untuk membuatku mengikuti apa yang ia katakan.

“Baiklah. Kau selalu pintar dalam berbicara, Hyojin-ah.”

“Aku anggap itu sebagai pujian, Ahjussi.” Aku terkekeh pelan menanggapinya.

++Propose++

Kondisi Appa pagi ini sudah jauh lebih baik. dia juga sudah bisa berbicara walaupun suaranya masih terdengar parau. Aku tidak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasih karena Appa selamat. Aku sedang berada di apartemen Appa sekarang. dia memaksaku untuk kemari karena ia melihat lingkaran hitam dimataku dan katanya itu mengerikan, padahal aku merasa aku baik-baik saja. tapi seperti itulah, Appa tetap bisa memaksaku disaat kondisinya seperti itupun dan aku selalu kalah dalam berdebat dengannya. Aku membaringkan tubuhku dikamar ini. Yah, sepertinya Appa memang benar, aku butuh tidur.

Aku baru memejamkan mataku sekitar sepuluh menit ketika aku mendengar suara perutku. Aish, aku lapar dan aku baru ingat sejak kemarin aku hanya memakan sandwich yang dibelikan sekretaris Jang dikantin rumah sakit. aku bangun dan menuju dapur untuk melihat isi kulkas.

Nihil, hanya ada sekotak keju dan susu dikulkas Appa. Bagaimana bisa Appa tidak memiliki makanan di apartemennya? Apa selama ini Appa selalu membeli makanan diluar? Hey, itu bukankah tidak baik? pantas saja Appa terlihat lebih kurus. Aku menutup kulkas dengan kesal. Aarrghh, aku lapar.

Disinilah aku sekarang, direstoran Italia didekat apartemen Appa. Untung aku mengingat kalau ada restoran ini. Kalau tidak, tentunya aku akan kelaparan di apartemen sendirian. Tidak mungkin aku memanggil Lauren –staff yang bersama Sekretaris Jang dua hari yang lalu- untuk membelikan aku makanan, karena dia pasti sedang sibuk bersama sekretaris Jang menghadiri pertemuan dengan beberapa klien –yang aku tidak tahu apa saja bidangnya- di Frankfurt untuk mewakili Appa.

Membosankan. Aku tidak mengenal siapapun disini selain Appa dan staff terdekatnya. Dan disaat seperti ini, saat Appa melarangku datang kerumah sakit –yang seharusnya menjadi apa yang selalu aku lakukan disini- dengan alasan aku butuh istirahat. Tapi sama saja bukan? Aku juga tidak bisa beristirahat, andai saja disini ada Sooyoung unnie atau Hanwoo aku pasti tidak akan sebosan ini. Sooyoung unnie terpaksa menunda keberangkatannya menjadi besok pagi karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aish, kantor itu benar-benar. Aku akan kerumah sakit siang ini, masa bodoh dengan ocehan Appa nantinya. Diam dirumah sakit setidaknya lebih baik daripada bengong sendirian di apartemen. Aku menghabiskan lasagnaku dalam diam, sebenarnya aku benci makan sendirian seperti ini, tapi mau bagaimana lagi?

++Propose++

Aku menyusuri koridor rumah sakit dengan riang sambil menjinjing sekeranjang buah-buahan untuk Appa dan sekantong cemilan untukku setelah sebelumnya aku mampir keruangan doter untuk mengetahui perkembangan kondisi Appa. Dokter bilang kondisinya dengan cepat membaik walaupun disarankan jangan terlalu banyak bergerak dulu. Aku senang karena setidaknya Appa tidak akan merasakan sakit ataupun berdiam diri diranjang rumah sakit terlalu lama. Untuk seseorang seperti Appa yang bisa dibilang hampir ‘gila kerja’, berbaring dirumah sakit tentunya akan sangat membosankan baginya. Walaupun sebenarnya aku sedikit senang, karena paling tidak Appa dapat istirahat sejenak dari banyaknya pekerjaan yang menyebabkannya mengabaikan istirahat ataupun makan.

Aku masuk kekamar rawat Appa dan melihatnya sedang membaca sebuah file dengan sekretaris Jang yang berdiri disampingnya menunggu Appa selesai. Aku mendengus pelan, sepertinya Appa memang gila kerja. Bahkan disaat seperti inipun, ia masih mengurus semuanya sendiri padahal seharusnya masih bisa diwakilkan oleh sekretaris Jang.

“Hyojin-ah, kau datang.” Appa tersenyum padaku, aku menaruh bawaanku pada nakas disamping tempat tidur Appa.

“Ne. Aku bosan sendirian di apartemen. Lagipula tidak ada makanan sedikitpun disana.” Balasku sambil mendudukkan diriku di sofa. Appa terkekeh pelan dan Sekretaris Jang hanya tersenyum karena  mendengar penuturanku.

“Kau bisa memintaku atau Lauren membelikan makanan untukmu, Hyojin-ah.” Sela pria paruh baya disamping Appa itu. Aku mengibaskan tanganku pelan.

“Dan menambah kerepotanmu, Ahjussi? Aku rasa aku tidak akan melakukan itu.”

“Kau selalu seperti itu, Hyojin-ah. Appa rasa putriku memang sudah bertambah dewasa.”

“Tentu saja.” selaku bangga.

“Hyojin-ah, kau tidak harus kesini tiap harinya. Aku bukan pria tua lemah yang harus ditunggui 24 jam sehari.” Aku merengut, lagi-lagi.

“Dan membiarkanku mati bosan di apartemen? Oh, ayolah. Bukankah aku jauh-jauh dari Seoul kesini untuk merawatmu, Appaku yang cerewet. Lagipula aku tidak perlu khawatir dengan kuliah karena liburan musim gugur baru saja dimulai hari ini.”

“Kau tidak akan bosan.” Appa tersenyum, terlihat sangat yakin dengan pikirannya.

“Maksud Appa?”

“Saya harus pamit sekarang, Sajangnim. Masih ada yang harus dikerjakan dikantor.” Sekretaris Jang menyela pembicaraanku dengan Appa setelah ia selesai merapikan berkas-berkas yang tadi dikerjakan oleh Appa dan memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Aku menoleh sebentar padanyadan mengangguk pelan, begitu juga dengan Appa. Setelah sekretaris Jang keluar, aku memberondong Appa dengan pertanyaan yang sama. Dan menyebalkan, Appa hanya tersenyum misterius dan mengabaikanku. Memilih untuk merendahkan sandarannya dan memejamkan matanya. Aissshh.

“Lihat saja. Yang jelas kau tidak akan bosan selama disini. Anggap saja bonus ‘early holiday at Berlin’.”

Apa yang sebenarnya dimaksud Appa? Ah, nanti ia juga akan memberitahu. Aku membuka salah satu bungkus cemilan yang tadi kubawa sambil membaca novel terjemahan –yang kudapatkan saat membongkar lemari buku Appa di apartemen- yang juga aku bawa tadi.

aku menutup novel yang baru sekitar sepuluh halaman kubaca karena aku mulai bosan. Melihat Appa tertidur, aku tidak tega untuk membangunkannya. Aku memutuskan untuk keluar saja dan menuju taman rumah sakit. aku butuh udara segar.

“Aaaah..segar sekali. Udara disini lebih baik daripada didalam yang berbau obat.” Desahku sambil duduk bersandar di kursi taman setelah berjalan mengelilingi taman ini.

Ddrrttt~

Aku membuka pesan masuk. Dari Appa. Bukankah tadi ia sedang tidur? Dan ia menyuruhku kekamarnya. ada sesuatu yang ia ingin perlihatkan katanya? Aku menurut saja dan segera masuk dan naik kelantai 4 dimana kamar Appa berada. Sesampainya disana aku langsung masuk dan melihat Appa sedang berbicara dengan seseorang. Ada yang datang berkunjung rupanya. Appa yang melihatku masuk langsung tersenyum lebar dan memintaku mendekat.

“Hyojin-ah, beri salam pada tamu Appa.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Annyeong haseyo. Choi Hyojin imnida.” Kataku sambil membungkuk sedikit dan ketika ‘tamu’ yang Appa maksud menoleh, giliranku yang terkejut.

“Neo…” ucapku terputus karena saking terkejutnya.

“Annyeong Hyojin-ssi. Cho Kyuhyun imnida. Kemarin kita belum sempat berkenalan, bukan? Senang bertemu lagi denganmu.” Ucap namja itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

++Propose++

Si quarter yang membantuku beberapa hari yang lalu. Ia ternyata kenalan Appa. Ia putra dari salah satu relasi bisnis Appa disini. Beberapa hari lalu saat kami bertemu ternyata ia juga ingin mengunjungi Appa. Ia kuliah di London dan sekarang sedang liburan di Berlin. Katanya dia baru datang kemari dan ketika hendak mengunjungi Appa dikantor ia mendengar Appa mengalami kecelakaan dan ia langsung kesini. Sepertinya hubungan Appa dengannya cukup dekat.

Ia beberapa tahun lebih tua dariku. Dan ia ternyata telah mengenalku karena Appa sering membicarakakanku didepannya dan menunjukkan fotoku padanya. Ia juga mengenal Sooyoung unnie. mengejutkan, baru setengah jam yang lalu aku berkenalan dengannya dan kami sudah bisa mengobrol dengan nyaman satu sama lain. sepertinya dia termasuk tipe orang yang mudah bergaul.

“Hyojin-ah, Appa tadi mengatakan kalau kau tidak akan bosan selama berada disini, bukan?” ucap Appa menyela ketika aku sedang mengobrol dengan Kyuhyun. Aku mengangguk.

“Kyuhyun akan menemanimu selama disini. Kalian bisa berjalan-jalan berkeliling Berlin. Ia mengenal cukup baik Kota ini.”

“Mwo? Tapi Appa..”

“Aku yang menawarkan hal ini pada Ahjussi kemarin dan ia menyetujuinya. Lagipula, tidak menyenangkan jika aku jalan-jalan sendiri menghabiskan liburanku. Kau tenang saja, kau tidak akan tersesat jika bersamaku.” Kyuhyun memotong ucapanku saat aku akan menjawab pernyataan Appa barusan.

“Kau dengar itu, Hyojin-ah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Appa. Aku sudah jauh lebih baik. Lagipula kau sudah disini, sayang sekali kalau kau tidak berkeliling.”

Aku termenung, kenapa rasanya seperti Appa memaksaku untuk pergi dengan namja ini? Kami baru berkenalan hari ini dan yah, kuakui namja ini sepertinya bisa dipercaya, terlebih lagi ia teman Appa. Dan walaupun kami sudah mengobrol banyak tadi, bukankah tetap saja kami baru kenal? Dan itu sering membuatku mengalami awkward momen nantinya kalau bertemu lagi.

“Ahjussi, aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” Kyuhyun melihat arlojinya dan ia bangkit dari duduknya. Dan kulihat Appa mengangguk sambil tersenyum.

“Ne. gomawo sudah mengunjungiku, Kyuhyun-ah. Dan juga bersedia menjadi teman untuk Hyojin disini.”

“Tentu saja. Hyojin-ssi, besok pagi aku jemput kau disini. Jam 10. Bagaimana?”

“Ah. Baiklah. Jam sepuluh.” Aku putuskan untuk mencobanya saja. dia mengangguk dan keluar dari kamar Appa setelah membungkuk sedikit pada Appa.

++Propose++

Sepertinya memang benar. Tidak ada salahnya berjalan-jalan dengan Kyuhyun. Ia benar-benar mengenal kota ini. Sudah beberapa hari ini aku berjalan-jalan dengannya dan rasanya menyenangkan. Ia mengajakku ke berbagai tempat. Mulai dari beberapa museum yang menakjubkan. Kami juga mengunjungi bekas reruntuhan tembok Berlin yang bersejarah. Kota ini memiliki banyak sekali peninggalan sejarah dan aku suka hal ini. Ia juga selalu tahu dimana tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Dan jika aku bertanya tentang sesuatu yang bisa kudapatkan, seperti ‘Dimana tempat berbelanja yang bagus?’ dengan cepat dia menyebutkan tempat belanja yang bagus seperti Scheunenviertel dan Kurfürstendamm. Dia juga menemaniku berbelanja ditempat-tempat itu. Dan dari kedua tempat itu, Kurfüstendamm menjadi favoritku. Selain karena butik-butik disana menjual barang yang bagus, suasana disana juga sangat menyenangkan. Suasana musim gugur sangat terasa karena banyaknya pohon disana dan pemandangannya menjadi berwarna-warni karena dedaunan yang menguning atau memerah.

Ia juga mengajakku ke Gemäldegalerie, sebuah galeri lukisan dari abad 13 sampai abad 18 dari pelukis-pelukis terkenal dengan desain interiornya yang mewah. Berdiam diri lebih lama di galeri lukisan itu dengan senang hati aku akan melakukannya. Suasananya benar-benar nyaman.

“Oppa, apa kau tidak lelah berjalan-jalan denganku?” tanyaku ketika kami sedang beristirahat setelah  makan siang direstoran dekat Bradenburg Tor. Kami baru saja mengunjungi gerbang yang sangat bersejarah bagi Jerman itu dan menghabiskan waktu untuk berfoto-foto disana. Ini hari kelima ia mengajakku jalan-jalan dan sejak 3 hari yang lalu ia memaksaku untuk memanggilnya Oppa dan menanggalkan embel-embel –ssi dari panggilan kami.

“Tentu saja lelah. Begitu banyak yang ingin kau kunjungi.” Ucapnya santai sambil masih mengutak-atik kameranya dan melihat-lihat foto yang tadi kami ambil di Bradenburg Tor.

“Mwo?”

“Aniyo. Aku hanya bercanda. Kau ini kaku sekali. Tentu saja tidak.”

“Bercandamu tidak lucu, Oppa. menyebalkan.” Rajukku. Dan ia hanya terkekeh pelan menanggapinya.

“Hey, sudah kubilangkan. Aku senang berkeliling denganmu. Aku suka berkeliling, dan sendirian maupun bersama orang lain. Dan aku rasa, bersama orang lain lebih nyaman, karena ada yang aku ajak bicara.” Ia tersenyum dan mengacak-acak rambutku pelan.

“Yak. Jangan sentuh rambutku, Oppa. kau tahu aku menghabiskan waktu cukup banyak untuk mengaturnya tadi pagi.” Degusku sambil merapikan rambutku yang berantakan karena ulahnya.

“Arassooo. Wajahmu jelek sekali kalau seperti itu. Cocok untuk diabadikan.” Ia terkekeh dan tanpa kusadari ia mengambil fotoku –dengan kondisi wajahku yang masih cemberut dan posisi tanganku masih merapikan rambut- .

“Oppa! kau memfotoku? Aiiishh, pasti jelek sekali. Kemarikan kameranya.” Seruku sambil berusaha merebut kamera ditangannya. Ia mencondongkan tubuhnya kebelakang dan menjauhkan kamera itu dariku.

“Hyo-ya. Bersikaplah manis sedikit. Pengunjung yang lain memperhatikanmu.” Ujarnya sambil tersenyum..ehem atau lebih tepatnya, menyeringai? Sedetik kemudian aku tersadar kalau kami saat ini masih di restoran dengan situasi restoran yang cukup ramai. Aissh, memalukan. Aku langsung duduk dikursiku dan melihatnya terkikik pelan sambil menutupi mulutnya.

“Oppa, ayo jalan lagi. kau sudah selesai makan juga kan? Kajja.” Setelah selesai menormalkan kembali mukaku –yang tadinya memerah karena malu- dan namja didepanku ini selesai tertawa aku merapikan bawaanku dan beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu keluar.

“Yak. Hyo-ya, tunggu aku.”

Aku berhenti dan menoleh padanya. “Palliwa, Oppa.”

Sekarang kami berjalan menyusuri trotoar sepanjang Parizer Platz. Terkadang kami berhenti sejenak untuk sekedar berfoto atau masuk kesalah-satu toko disana. Hari ini cuacanya cerah, namun seperti layaknya musim gugur yang sejuk, udaranya selalu nyaman. Pemandangannya juga indah, dedaunan yang kekuningan, baik yang sudah berguguran atau masih bertahan di jalanan. Bayangan orang berjalan, kami juga sering berpapasan dengan beberapa pasangan yang berjalan bersama, bayangan mereka terlihat menyatu, sama seperti hati mereka yang juga menyatu, saling melengkapi. Ditambah lagi dengan bangunan-bangunan bergaya Eropa yang terlihat megah dan memberi kesan klasik. Aku tersenyum lagi, Negara ini begitu indah, aku pasti akan kesini lagi suatu saat nanti. Dan saat itu, pasangan berisik Hanwoo dan Eunhyuk harus ikut denganku.

Ckrek~~

Suara kamera, namja ini mengambil fotoku lagi. ia terlihat tersenyum puas melihat hasil fotonya. Aku mendekat padanya dan ikut melihat foto itu. Itu fotoku, ekspresi yang barusan aku keluarkan.

“Kau tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Suasana hatimu benar-benar bagus.” Ia menoleh padaku dan mengacak-acak –lagi- rambutku.

“Berhentilah mengacak-acak rambutku, Oppa. aku hanya senang, kota ini begitu indah. Suasana musim gugurnya benar-benar menyenangkan. Bangunan, dedaunan yang menguning dan beguguran, udara yang sejuk. Ah, jangan lupakan juga bayangan orang-orang yang berjalan, bayangan beberapa pasangan yang berpapasan dengan kita terlihat menyatu. Aku menyukainya.” Ujarku panjang sambil tersenyum lebar.

“Aaaa, karena itu tadi kulihat kau beberapa kali memperhatikan bayangan orang-orang. Pantas saja. dan hey, bukankah kita juga terlihat seperti pasangan?” Tiba –tiba saja ia menarikku dan merangkul bahuku.

“M..mwo?” Ucapku terbata, bagusnya, jantungku dengan lancangnya deg-degan.

“Bukankah terlihat seperti itu? Kita terlihat seperti pasangan manis yang sedang berkencan.” Ucapnya riang sambil terus berjalan dengan tangan yang masih merangkul bahuku.

Aku bisa merasakan pipiku memanas, pasti pipiku memerah lagi.

“Jji..jinjjayo?” aish, kenapa aku masih gugup?

“Hyo-ya, pipimu merah. Apa kau tidak pernah bersama laki-laki selama ini?” namja ini, kadang terlihat keren sekali di mataku, tapi disaat seperti ini, jiwa usilnya benar-benar menyebalkan. Ku jitak kepalanya keras, dengan segera ia melepaskan rangkulannya dan mengusap kepalanya yang baru saja ‘disapa’ oleh tanganku.

“Enak saja. Aku setiap harinya bergaul dengan namja. Bagaimanapun juga, walaupun aku suka memilih-milih teman, aku juga bisa berinteraksi dengan yang namanya ‘namja’.” Ujarku dan memberikan penekanan pada kata ‘namja’ dan menyambung ucapanku dalam hati ‘dan namja itu Eunhyuk, satu-satunya namja yang betah berteman denganku’ .

“Aiisshh, kau ini kasar sekali. Penampilanmu yang modis dan wajahmu yang telihat cantik dan kalem itu benar-benar menipu. Kau suka menjitak.” Dengusnya. Aku tertawa dan merangkul lengannya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya dengan ekspresi yang dimanis-maniskan.

“Jeongmalyo? Ah, aku merasa benar-benar tersanjung mendengarnya.”

“Itu bukan pujian, Nona Choi.” Dan aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Hey, aku sudah tidak gugup lagi merangkulnya. Sepertinya kami makin dekat, anggap saja.

++Propose++

“Hyo-ya, apa kau mau makan chestnut?” Kyuhyun berkata seraya mengarahkan jarinya ke suatu arah, menunjuk kea rah penjual chestnut. Kami sedang piknik di Tiergarten, taman paling luas dan termasuk yang terpopuler di Berlin. Aku mengangguk semangat dan ia tersenyum lebar seraya berdiri dari duduknya.

“Tunggu disini. Arraso?”

“Algaessimnida, Tuan Muda.”

Aku melihatnya berlari-lari kecil menuju pria setengah baya yang menjual chesnut itu dan memesannya. Sambil menunggu, kulihat ia mengobrol dengan paman itu dan sesekali tertawa. Ia juga menunjukku, sepertinya untuk memberitahu paman itu ia sedang bersama siapa. Dapat kulihat paman itu tersenyum padak, aku melambaikan tanganku kearah mereka sambil tersenyum lebar. Kemudian mereka kembali berbincang-bincang. Aku memperhatikan Kyuhyun, sepertinya ia mudah bergaul dengan siapa saja, ini perasaanku saja atau memang benar jika Kyuhyun seperti membawa aura yang menyenangkan. Setiap orang pasti cepat untuk merasa nyaman dengannya. Ia juga penuh kejutan, sejak pertama kali bertemu dengannya di lorong rumah sakit, berkali-kali aku dibuatnya mendapati sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Wajahnya yang tidak terlihat Asia namun ternyata keturunan Korea, berbicara bahasa Korea dengan sangat lancar, berteman dekat dengan Appa dan Sooyoung unnie, entah apa lagi kejutan yang aku dapatkan nantinya. Aku melihatnya kembali, berlari-lari kecil dengan wajah yang memerah karena –sepertinya- terlalu banyak tertawa.

“Apa yang membuatmu begitu senang, Oppa?” ucapku ketika ia kembali duduk disampingku dan memberikan sekantung penuh chesnut yang masih hangat.

“Lihatlah, paman itu memberikan bonus yang banyak untukmu.” balasnya sambil menunjuk kantung chesnutku. Aku memperhatikan kantungku, memang terlihat sangat penuh.

“Apa kau merayu paman itu?”

“Aniyo. Kau pikir aku ini namja macam apa. Paman itu bilang, ini untuk gadis Korea pemberani yang menempuh perjalanan dari Seoul ke Berlin padahal sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman.” Ucapnya panjang lebar.

“Aku tidak tahu apa harus senang mendengarnya. Pernyataanmu barusan tidak jelas apakah itu pujian atau ejekan.”

“Ya! Itu pujian. Lagipula walaupun kau tidak bisa berbahasa Jerman sama sekali, kan masih ada aku disini.”

“Aaaaa..kau benar. Akh, mohon bantuannya, Tuan juru bicara dan penunjuk arahku.” Ucapku sambil memasukkan chesnut ke mulutku.

“Mwo? Juru bicara dan penunjuk arah? Hyo-ya, kau harus membayarku kalau begitu.”

“Bayaran? Sejak kapan kau jadi materialistis seperti ini, Oppa? aku tidak akan membayar. Memangnya sejak awal siapa yang meminta mengajakku jalan melalui Appa?”

Ia tertawa keras dan akupun ikut tertawa bersamanya. “Kau tahu, Hyo-ya? Sepertinya ini liburanku ke Berlin yang paling menyenangkan.”

DEG! Barusan dia bilang apa? Aisshh, lagi-lagi jantungku berdebar disaat yang tidak tepat. Ia menyandarkan kepalanya dibahuku sambil berdehem-dehem. Semoga ia tidak mendengar deak jantungku yang bisa dikatakan ‘tidak normal’ saat ini.

“Maksudmu Oppa?” pertanyaan bodoh? Tentu saja. Ingin rasanya aku menimbun diriku ditumpukan daun kering di sudut Tiergarten ini. Ia berdehem lagi dan menoleh menghadap wajahku. Hey, tidakkah kalian pikir namja ini keterlaluan? Dengan pesonanya yang seperti itu ditambah lagi dengan tingkahnya yang eeerr aku tidak tahu harus menjabarkannya seperti apa, akupun kehabisan kata untuk mendeskripsikannya tidakkah ia berpikir jika yeoja yang sedang bersamanya ini bisa mati muda karenanya? Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya menerpa leherku pelan. Semakin lama dengan pose seperti ini, mungkin aku bisa jadi gila.

“Karena ada kau.” Jawaban singkat itu sukses membuat wajahku memerah lagi. dan aku benar-benar kehabisan kata untuk merespon perkataanya. Jangan bertanya bagaimana rupa wajahju sekarang karena pastinya akan terlihat sangat bodoh, ekspresi gugup, melongo, dan malu menjadi satu.

“Hyo-ya. Wajahmu memerah lagi. apa aku mengatakan sesuatu yang salah lagi?” Ia kembali menormalkan posisi duduknya –tidak lagi bersandar dibahuku- dan tersenyum lebar.

“A..apa? Aniyo. Tentu saja tidak.”

“Eeeii..eeii..apa kata-kataku tadi begitu romantis sehingga responmu seperti ini?” namja ini lagi-lagi menggodaku.

“Aniyo! Berhentilah menggodaku, Oppa. Kau menyebalkan.” Rajukku. Kudengar ia tertawa keras dan tanpa kuduga ia –dengan santainya- membaringkan tubuhnya dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya. Ak mengerang dalam hati. Namja ini bisa bertingkah gila seperti apa lagi?

“Aku suka menggodamu, Hyo-ya. Karena itu akan membuatmu mengeluarkan ekspresi-ekspresi yang aku suka.” Ia tersenyum dan memejamkan matanya.

“Biarkan seperti ini dulu. Tidur siang disini sepertinya bagus.”

Mwo?

++Propose++

“Hyo-ya, apa kau lelah?” Kyuhyun oppa menghentikan sepedanya dan menoleh padaku yang tertinggal sekitar dua meter dibelakangnya.

“Aniyo.” Jawabku singkat.

Jadwal kami hari ini, bersepeda menyusuri pinggiran sungai Rhein. Walaupun udaranya sedikit dingin karena ini sudah hampir akhir dari musim gugur, tapi tetap saja, itu tidak menghalangiku untuk menikmati jalan-jalanku. Sedari tadi aku mengayuh sepedaku perlahan karena inign menikamti pemandangan ini, berbeda sekali dengan namja itu. Ia mengayuh sepeda seperti dikejar sesuatu, wajar saja kan kalau aku tertinggal dibelakang?

“Kau lamban sekali. Kemarilah.”

“Kau yang terlalu cepat mengayuh sepedamu, Oppa. aku sengaja pelan-pelan karena aku ingin menikmati pemandangan. Aku kan jarang kemari, berbeda denganmu yang sebulan sekali kemari.” Jawabku ketika aku sudah berada sejajar dengannya. Ia tersenyum kecil mendengar ucapanku.

“Kalau begitu kau pindah saja kemari.” Jawabnya enteng.

“Dan menjadi patung hidup karena aku sama sekali tidak paham akan bahasa disini? Tidak terima kasih.” Ingin sekali rasanya aku menyentil kening namja ini.

“Aku juga akan tinggal disini kalau kau pindah kemari. Jadi kau tidak perlu cemas akan hal sepele seperti itu.”

“Kalau seperti itu, kau akan menjadi budakku seumur hidupmu, Tuan Cho.”

“Kau akan membayar mahal untuk hal itu, Nona Choi.”

Aku tertawa mendengar ucapan terakhirnya, ia mengacak-acak rambutku pelan dan mengajakku untuk mengayuh sepeda lagi. aku tersenyum mengiyakan dan mulai mengayuh sepedaku, menyusulnya yang sudah berada beberapa meter didepanku. Aku memandang punggungnya yang –tentu saja- saat ini sedang membelakangiku karena dia didepanku, aku berpikir sejenak. Sepertinya ada sesutau yang membuatku selalu nyaman dengannya, bahkan bisa dibilang jika aku selalu ingin bersamanya. Namja ini memberikan efek yang luar biasa padaku dalam jangka waktu yang sangat singkat. Benar, sepertinya aku mulai menyukainya. Segampang itukah ia menarik perhatian wanita? Entahlah, namun yang jelas aku sudah masuk dan terperangkap dalam pesonanya. Hey, dia tampan, sangat tampan jika boleh kukatakan.

“Hyo-ya, palliwa. Coba lihat pemandangannya dari sini. Kau pasti menyukainya.” Ia berteriak memanggilku sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Ia sudah turun dari sepedanya.

“Neeee. Tunggu aku.”

++Propose++

Cho Kyuhyun. Nama itu selalu berkeliaran dikepalaku sejak dua minggu yang lalu. Aku membalikkan badanku lagi, ini sudah lewat tengah malam dan aku belum tidur juga. Biasanya jam tidurku sama sekali tidak bisa ditolerir. Namun kali ini aku berhasil terjaga hingga jam selarut ini. Sebegitu besarnyakah pesonamu dimataku?

Aku masih berguling-guling tidak jelas di tempat tidurku. Aku sendirian lagi di apartemen Appa. Sooyoung unnie menginap di rumah sakit. entahlah, meskipun Appa sudah menyuruhnya untuk tidak menginap ia tetap memaksa. Sepertinya memang benar jika Appa masih bisa mengalah pada Sooyung unnie dibandingkan denganku.

Aku mengutak-atik ponselku. Membuka galeri fotonya dan melihat beberapa selca yang kuambil dengan namja itu. Sesekali aku terkekeh pelan ketika melihat beberapa selca kami. dari berpose sok imut sampai pose yang saling berebutan untuk ‘terlihat lebih banyak’ di kamera –yang berujung dengan kekalahanku karena wajahku hanya terlihat setengah- dan yang paling aku suka, fotonya dengan wajah kesal saat mengenakan bando pink milikku ketika ia kalah dalam permainan konyol kami di Tiergarten beberapa hari yang lalu.

Aku memandang layar ponselku lagi, apa sebaiknya kutelfon saja? aish, Hyojin paboya, tidakkah kau berpikir ini sudah jam berapa? Ia pasti sudah tertidur dari tadi. Aku memutuskan untuk mengiriminya pesan saja. setidaknya jika ia memang sudah tidur, besok pagi ketika ia bangun ia akan membaca pesan itu.

‘Oppa, besok kau akan mengajakku kemana?’

Itu saja, cukup. Hyojin-ssi, kau harus tidur sekarang jika kau tidak ingin besok bermata panda atau menguap berkali-kali didepan namja itu.

Ddrrrtt~~ Drrrtt~~

Aku memandang ID pemanggil yang tertera di layar ponselku yang berkedip-kedip karena panggilan masuk itu. Eh? Kyuhyun Oppa?

“Ye..yeoboseyo?”

“Kau belum tidur?” kudengar suaranya sedikit serak diseberang sana. Pasti ia memang sudah tertidur, tapi terbangun karena ada pesan masuk.

“Aku hanya, terbangun dan susah untuk tertidur kembali.” Dustaku, aku tidak mungkin mengatakan jika aku belum tidur sama sekali dari tadi. Aku merasa tidak enak padanya.

“Keuraeyo? Cobalah untuk minum susu hangat, Hyo-ya. Kau butuh tidur yang cukup. Karena besok kita akan berjalan-jalan lagi.”

“Kau benar. Akan kucoba. Tidurlah lagi, Oppa. suaramu jelek sekali saat terbangun seperti ini.” Ejekku. Kudengar ia terkekeh pelan.

“Shiroe. Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar tertidur. Aku akan menunggumu selesai membuat susu hangat dan meminumnya dan memastikan jika kau benar-benar tertidur, Hyo-ya.”

“Tapi, dari suaramu saja aku tau kalau kau benar-benar mengantuk.” Perasaan takut mulai mendatangiku, aku takut semua perlakuan baiknya padaku hanya karena kebaikan hatinya dank arena hubungan baiknya dengan Appa. Aku takut terlalu banyak berharap. Walau bagaimanapun juga, untuk pria sepertinya, pasti banyak wanita yang menyukainya dan ia juga tentunya memiliki standar bagi gadis yang akan disukainya. Apakah aku terdengar seperti gadis yang plin-plan? Terserahlah.

“Aniyo. Cha! Apa kau sudah membuat susu hangatnya?”

“Aku akan membuatnya sekarang, Oppa. tunggulah sebentar. Ponselnya aku taruh dulu, nanti setelah menghabiskannya baru kita lanjutkan. Arra?”

“Ne. Aku menunggu, Hyo-ya.”

Aku membuat susu hangat dan meminumnya dengan cepat. Setelah menghabiskan segelas penuh susu hangat dan menaruh gelas kotornya di wastafel, aku bergegas menuju kamar dan mengambil ponselku.

“Oppa, kau masih disana?”

“Ne. apa kau sudah selesai?” aku berdehem mengiyakan.

“Sekarang berbaringlah, dan pasang selimutmu. Kau tidak memintaku untuk menyanyikan lagu untukmu, bukan?” aku tertawa pelan, namja ini. Apa dia pikir aku ini gadis kecil berumur lima tahun?

“Tentu saja tidak. Bagaimana kalau kau temani aku mengobrol sedikit?”

“Aku tidak keberatan jika kau mentraktirku makan siang besok.”

Dan seperti itulah, kami mengobrol hingga mataku terasa berat dan yang aku tahu aku mulai tertidur dengan ponsel yang masih ditangan.

++Propose++

“Hyojin-ah, kau akan pulang ke Seoul dengan  Sooyoung lusa.” Ucap Appa pagi ini ketika aku dan Kyuhyun Oppa -seperti biasa- mengunjunginya sebelum kami berjalan-jalan. Aku terdiam, mencerna perkataan Appa barusan. Aku..bolehkah aku mengatakan jika aku keberatan?

“Aku sudah jauh lebih baik. Liburan musim gugur juga sudah hampir selesai. Kau masih harus pergi ke kampus, bukan?” Appa menambahkan.

“Ne, Appa.” Ucapku akhirnya sambil menunduk. Bisa kurasakan genggaman hangat Kyuhyun Oppa di tanganku. Aku mendongak padanya dan ia tersenyum manis padaku seperti biasanya. Aku hanya tersenyum getir menanggapinya.

“Apa rencana kalian hari ini?”

“Aku mengajaknya ke Schloss Charlottenburg hari ini. Cuacanya cerah dan aku yakin Nona Muda ini tidak akan menyesal kuajak kesana.” Kulihat Appa manggut-manggut setuju. Sepertinya Appa juga pernah ke tempat yangb aru saja dikatakan oleh Kyuhyun Oppa.

“Baiklah, hati-hati dijalan. Dan kurangi kebiasaan mengebutmu, Kyu.” Tawa dari pria disampingku tidak bisa ditahan lagi sepertinya. Ia tertawa keras sebentar dan berjalan menuju Appa dengan tangan yang masih memegang tanganku. Sepertinya dia tahu suasana hatiku sedang tidak baik karena ‘berita kepulangan’ barusan dan berusaha memperbaikinya.

“Ahjussi, apakah putrimu yang manja ini setelah pergi denganku pernah bercerita tentang caraku mengemudi?” Tanyanya pada Appa sambil masih berusaha menghentikan tawanya.

“Aniyo. aku bukan gadis yang suka mengadu.” Ucapku pura-pura merajuk. Appa tertawa dan mengacak-acak rambutku pelan. Aish, dari sekian banyak kebiasaan, kenapa mereka bisa memiliki kebiasaan sama yang satu ini hah?

“Appa tahu kau suka disini. Dari ceritamu maupun Kyuhyun padaku. Atau mungkin kau memiliki sesuatu yang membuatmu betah disini?” Appa mengatakannya sambil tersenyum dan melirik Kyuhyun. Aku? Anggap saja aku tidak mendengarnya, aku tidak ingin salah tingkah disini. Terutama didepan Sooyoung unnie yang notabene sangat jahil dibalik sikap tegasnya di kantor.

“Hahaha, kalau kau mau, berliburlah lagi kemari saat liburan. Kau bebas kapan saja kemari asalkan kuliahmu tidak terganggu. Arra?”

“Jeongmal?” ucapku riang. Kulihat Appa mengangguk. Aku –akhirnya- tersenyum dan memeluk Appa.

“Nah, sekarang pergilah. Liburanmu hampis selesai, jadi bersenang-senanglah.”

“Neeee.”

++Propose++

“Hyo-ya, dari tadi kau hanya diam saja. Apa yang kau pikirkan?”

“Ah. Aniyo. tidak ada yang kupikirkan. Apa terlihat aneh karena aku diam saja sejak kita berangkat tadi?” ujarku berbohong. Kalau aku mengatakan jika aku tidak ingin pulang ke Seoul karena aku akan berpisah dengannya, tidakkah itu terlihat aneh? Aku menyukai namja ini. Sudah jelas, bukan? Tapi bagaimana jika ia hanya menganggapku sebatas adik?

“Jeongmalyo? Dari yang kuperhatikan, kau tidak pandai berbohong, Nona Choi.” Dia memperhatikanku. Berhentilah membuatku semakin berharap, Oppa. Mataku terasa panas, ani, ani, aku tidak boleh menangis. aku mengarahkan pandanganku kearah jendela mobil, memperhatikan sekeliling.

“Oppa, sepulangnya dari Schloss Charlottenburg nanti, aku ingin membeli oleh-oleh. Bagaimanapun aku harus membelikan sesuatu bukan buat teman-temanku di Seoul, bukan?”

“Ne. kita akan membeli oleh-oleh nanti.” Ucapnya pelan setelah terdiam untuk beberapa menit.

Kami sama-sama terdiam lagi. aku benci suasana seperti ini. Biasanya kami selalu mengobrol bahkan berdebat akan sesuatu yang terkadang sama sekali tidak penting untuk diperdebatkan.

“Oppa, kalau aku ke Jerman lagi, apa kau juga akan kemari?” ucapku setelah berhasil memikirkan sesuatu untuk dibicarakan dan mengeluarkan diriku dari situasi kaku tadi.

“Hhhmm..tergantung. jika saat itu kuliahku juga sedang libur, maka aku akan kemari.”

“Keureyo? Sepertinya aku harus menghubungimu dulu jika aku ingin liburan kemari.” Gumamku.

“Kau harus menghubungiku.”

“De?”

“Ya, kau harus menghubungiku jika kau kemari. Hey, aku ini eternal guide untukmu disini. Jadi jangan pernah berharap untuk bisa menyewa guide lain, my special guest.”

“Mwo? Special guest? Kalau begitu aku benar-benar tidak perlu membayar, bukan?” ia terkekeh pelan dan menepuk puncak kepalaku pelan.

“Sebenarnya kau ini beruntung. Tidak semua yeoja bisa pergi denganku apalagi menjadikanku sebagai penuntun arah dan juga penenrjemah. Seharusnya kau membayar mahal.”

“Oppa, tingkat percaya dirimu benar-benar luar biasa.” Kataku pura-pura takjub dan dengan nada yang dibuat-buat.

“Aish, yang jelas itulah kenyataannya, Hyo-ya. Cha, kita sudah sampai. Kajja.” Bodoh, bahkan aku tidak menyadari kalau kami sudah memasuki arena parkir sejak tadi.

Schloss Charlottenburg, istana ini benar-benar indah dan mewah. Suasana megah Kerajaan Prusia dijaman dahulu terasa sekali di istana ini. Aku dan Kyuhyun Oppa berkeliling istana ini dengan pengunjung-pengunjung lainnya. Sejak tadi ia tidak melepaskan genggaman tangannya dariku. Perasaan nyaman dan hangat ini, dua hari lagi aku tidak akan merasakannya. Aku pasti akan merindukan perasaan ini. Ya, walaupun istana ini sangat indah dan fakta jika saat ini aku memang sedang bersamanya, tapi tetap saja. sebentar lagi ini akan berakhir. Akankah hal seperti ini akan kurasakan lagi dalam waktu dekat? Bolehkah aku berharap akan hal itu?

Selesai dengan tour di Schloss Charlottenburg, sesuai dengan rencana Kyuhyun oppa menemaniku berbelanja mencari oleh-oleh untuk Hanwoo dan Eunhyuk. Selama berbelanjapun, kami lebih sering diam. Entah apa yang ada didalam pikirannya sekarang. sedangkan aku, tentu saja berpikir supaya waktu yang tersisa ini menjadi lebih berharga. Ah, aku tidak ingin pulang.

“Hyo-ya, apa kau sakit?” ucapnya sambil menyetir diperjalanan pulang menuju apartemen.

“Aniyo, Oppa. aku baik-baik saja.”

“Hari ini kau lebih banyak diam daripada biasanya. Apa suasana hatimu sedang buruk? Apa yang membuatmu seperti ini sejak tadi?”

Kau yang membuatku seperti ini, Oppa. kenyataan jika aku harus segera pulang ke Seoul sedangkan aku masih ingin disini bersamamulah yang membuatku menjadi seperti ini. Batinku. Ingin aku menjawab seperti itu, tapi rasanya lidahku kelu. Aku hanya memandangi wajahnya yang sedang serius menyetir. Wajah ini, aku tidak ingin ingatanku tentang wajah ini perlahan menghilang nantinya jika kami tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama. Ani, itu tidak boleh terjadi. Mataku terasa panas lagi, bodoh, aku tidak boleh menangis sekarang. tidak boleh, tapi kenapa rasanya begitu menyesakkan? Pandanganku mulai mengabur karena air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.

“Hyo-ya, wae geurae?” terlambat, ia melihat air mataku. Kau bodoh Choi Hyojin.

Aku menggeleng pelan, masih tidak mampu membalas perkataannya. Ia menghentikan mobilnya, melepas seatbeltnya dan duduk menghadapku disampingnya. Airmataku sudah tidakdapat kutahan lagi, dengan mudahnya butiran-butiran itu mengalir dengan derasnya menyusuri pipiku.

“Uljima. Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu sejak tadi.” Ujarnya lembut sambil mengusap airmataku pelan. Aku masih terisak, ia mendekat padaku dan membawaku kedalam pelukannya. Ia menggosok-gosok punggungku pelan dan mengelus kepalaku, mungkin ingin memberikanku sedikit perasaan tenang, tapi yang kurasakan justru sebaliknya. Tangisku semakin keras, ia masih mengelus-elus punggungku pelan dan bertahan dalam posisinya, memelukku.

“Oppa, bagaimana jika aku tidak ingin pulang?” ucapku ketika aku sudah mulai dapat mengendalikan suaraku.

“Jadi itu yang mengganggu pikiranmu sejak tadi siang?” aku mengangguk. Ia mengeratkan pelukannya, aku bisa merasakan hembusan napasnya menerpa leherku.

“Nappeun namja.”

“Mwo?” aku melepaskan pelukannya, ia memandangku dengan pandangan bertanya.

“Oppa, apa kau tidak sadar jika dengan perlakuanmu padaku selama ini bisa saja membuatku memiliki perasaan lebih padamu?” kulihat ia terdiam, namun pandangan matanya masih fokus menatapku dengan intens.

“Jika sekarang aku mengatakan jika aku menyukaimu, jika aku mengatakan bahwa aku memandangmu bukan sebagai Oppa atau teman dari Appa melainkan sebagai Pria, apa yang akan kau lakukan?”

“Hyo-ya…….”

“Dari sikapmu terhadapku, aku bisa menebak jika kau cukup berpengalaman dengan wanita. Kau tahu dengan sangat baik bagaimana memperlakukan wanita, apa aja yang bisa membuat wanita tersenyum atau tersipu. Selama aku hidup, aku tidak pernah dekat dengan namja selain Eunhyuk. Aku selalu bersikap dingin terhadap namja yang kutemui. Jika sejak awal kau mendekatiku dengan perantara Appa dengan tujuan untuk membuatku menyukaimu lalu meninggalkanku, maka aku mengucapkan selamat padamu, karena usahamu selama tiga minggu ini membuahkan hasil. Aku sudah jatuh dalam jebakanmu, aku menyukaimu, sangat menyukaimu.” Ucapku panjang lebar, aku tidak peduli lagi bgaimana bentuk wajahku sekarang. Choi Hyojin, kau akan mempermalukan dirimu hingga kedasar jika Kyuhyun tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu.

“Seperti itukah?” Ia akhirnya berbicara setelah beberapa saat terdiam karena pengakuanku. Aku memandang mata coklatnya. Sedetik kemudian aku melihatnya tersenyum.

“Jika memang seperti itu, berarti usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil membuat seorang Choi Hyojin menyukaiku. Menyukaiku yang juga telah menyukainya sejak lama. Membuatnya memiliki perasaan yang sama denganku dan membalas perasaanku yang selama ini hanya bisa kutahan karena aku tidak bisa mengungkapkannya padanya karena dia sama sekali tidak mengenalku.”

“Oppa, apa maksudmu?”

“Apa kurang jelas? Aku menyukaimu, Hyo-ya. Bahkan jauh dari sebelum ini, aku sudah menyukaimu. aku menyukaimu karena mendengar cerita-cerita ayahmu mengenai dirimu. Aku bahkan pernah ke Seoul hanya untuk memperhatikanmu, yah walaupun hanya memperhatikanmu dari jauh. Aku tidak mungkin langsung menghampirimu sedangkan kau tidak mengenalku, bukan?”

Namja ini, pengakuan macam apa ini? Apa ini salah satu kejutan yang juga ia persiapkan untukku? aku masih menangis, tapi aku sendiri tidak tahu ini tangisan apa, apakah ini tangisan yang sama dengan yang tadi atau tangisan bahagia, aku tidak tahu pasti.

“Oppa…”

“Kau tahu? Aku langsung kemari ketika mendengar ayahmu kecelakaan, selain karena ayahmu adalah temanku, aku yakin kalau kau pasti akan kemari. Dengan begitu aku bisa mengenalkan diriku secara resmi padamu. Dan apa kau ingat dengan prtemuan pertama kita dirumah sakit? aku berterimakasih pada ujung sepatumu yang membuatku tersandung.” Senyum itu lagi, ia menunjukkan senyum lebarnya yang menjadi favoritku sambil mengacak rambutku pelan.

“Oppa, ini bukan saatnya untuk mengingat kejadian itu. Aku mempertaruhkan harga diriku untuk mengakui kalau aku menyukaimu sekarang.” aku menyeka air mataku kasar dan kembali menghadap kearah depan. Menghindari tatapannya dan juga menyembunyikan wajahku yang –sepertinya- memerah.

“Keurom, lalu apa kau tidak ingin mendengar jawabanku?”

“Aniyo. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu. Ayo kita pulang, Oppa.”

Aku mendengarnya menghela napas panjang dan kudengar suara atap mobil ini terbuka. Ya, kali ini dia membawa mobil sport dengan atap terbuka. Membuatku merasakan angin musim gugur yang mulai terasa dingin.

“Aku rasa aku ingin melihat langit dulu malam ini bersamamu. Selama disini kita belum pernah melakukan itu, bukan? Lagipula ini masih belum terlalu malam.” Ucapnya santai ketika aku melemparkan pandangan bertanya padanya.

“Terserah kau sajalah.” Balasku pasrah dan menyadarkan tubuhku pada jok mobil ini.

“Kau mau cokelat hangat? Aku lihat disana ada mesin penjual otomatis.”

“Boleh. Kalau kau tidak keberatan tentunya.” Aku melihatnya tersenyum dan membuka pintu mobil. Ia juga member isyarat padaku untuk tetap berada disini. Bocah ini, dia pikir aku mau kemana? Aku melihatnya berjalan menuju mesin itu. Melihat caranya berjalan, siluet tubuhnya yang diterangi temaram lampu taman terlihat eeerr mengagumkan. Badannya yang tinggi dan rambut kecoklatannya yang diterpasinar lampu cukup mmapu membuatku tersenyum. Aku tidak salah menyukai pria, bukan? Dia tampan, sangat tampan. Prilakunya juga baik dan berasal dari keluarga yang baik juga –meskipun aku belum pernah sekalipun diajak kerumahnya- , dan barusan juga ia mengakui kalau ia menyukaiku. Memikikan itu membuatku tersenyum lagi, tepatnya tersipu. Apakah kami sekarang berpacaran? Molla, kami sama-sama belum meresmikannya, bukan?

“Apa kau sedang memikirkanku?” sejak kapan dia berdiri disampingku? Ia menyodorkan segelas cokelat hangat. Aku menyambutnya dan ia berjalan memutari bagian depan mobil untuk kembali ke kursi pengemudi.

“Seperti biasa. Kau terlalu percaya diri, Oppa.” ucapku seraya menyeruput cokelat hangatku.

“Apa tebakanku salah?”

“Te..tentu saja.”

Kami terdiam beberapa saat. Aku masih tetap menyeruput cokelatku sambil memperhatikan langit malam. Dia juga melakukan hal yang sama, sesekali kami saling mencuri pandang satu sama lain. Harus berapa kali aku mengatakan jika aku tidak menyukai situasi awkward seperti ini?

“Hyo-ya.” Panggilnya tiba-tiba.

“Ne?”

“Apa kau tidak ingin menjadi kekasihku?”

“Uhuukk..ah..panas.” pertanyaannya barusan sukses membuatku tersedak dan cokelat ditanganku sedikit tumpah dan membasahi bajuku. Ia segera meletakkan gelas cokelatnya di dashboard dan mengambil saputangan disaku celananya dan membantuku membersihkan bajuku dari noda cokelat.

“Bodoh. Berhati-hatilah, Hyojin-ssi. Berapa umurmu hingga minum cokelat saja masih tersedak?” aku mendengus kesal, malas berdebat dengannya.

“Apa kau gugup? Omo, aku tak menyangka jika kau benar-benar menyukaiku, Hyo-ya.”

Aku merebut sapu tangan yang ia pegang dan memilih untuk membersihkan bajuku sendiri. Namja ini, masih bisa menggodaku hah?

“Kau menyebalkan.” Sungutku sambil menunduk untuk membersihkan bajuku.

“Mwo?” aku mendongak dan mendapati wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajahku. Tidak bisakah ia untuk tidak mengejutkanku?

“Oppa! jauhkan wajahmu dariku. Kenapa kau suka sekali menggodaku?”

“Jeongmalyo?” ia memundurkan wajahnya dan memasang wajah berpikirnya yang menurutku saat ini benar-benar sangat tidak alami. Tiba-tiba ia mendekat padaku dan menarik tengkukku. Memposisikan bibirnya disamping telingaku. Aku yang sama sekali tidak siap tentu saja hanya bisa mengikuti pergerakannya yang benar-benar tidak aku duga sebelumnya.

“Kau, apa jawabanmu akan pertanyaanku tadi? Dari fakta kalau kau menyukaiku, bukankah tidak sulit untuk menjawab iya?” bisiknya ditelingaku. Aku membatu, seluruh syaraf ditubuhku benar-benar seperti mati rasa. Lidahku pun terasa kelu. Cho Kyuhyun, seperti inikah dampak pesonamu bagiku?

Ia memundurkan wajahnya. Sekarang mata kami saling bertatapan. Aku masih belum bisa menemukan fokusku, dan sorot mata itu hanya menambah parah ‘kelumpuhanku’ saat ini. aku tidak tahu pasti apa yang terjadi selanjutnya, satu-satunya yang aku ingat, ditemani dengan semilir angin malam di musim gugur, bibir itu dengan lembut menyentuh bibirku.

++Propose++

Aku duduk di meja makan dengan sepiring roti bakar dan segelas susu didepanku. Pasti Sooyoung unnie yang menyiapkannya sebelum pergi kerumah sakit tadi. Aku menggigit rotiku pelan, kejadian tadi malam berputar lagi dikepalaku bagaikan roll film. Mengingatnya membuat pipiku memanas. Aish, aku pasti sudah gila.

“Dari reaksimu, aku anggap jawabannya ‘iya’. Kau milikku mulai dari sekarang.”

Kalimatnya itu masih tengiang-ngiang dengan jelas dikepalaku. Aku menyentuh bibirku lagi, bibir ini telah disentuh oleh bibir namja lain selain bibir Appa. Aku bahkan masih mengingat bagaimana rasanya, bibir tebalnya terasa lembut, dan juga rasa pahit cokelat yang sedikit tertinggal di bibirnya –karena saat itu kami sedang minum cokelat hangat-. Ah, apa yang aku pikirkan? Sejak kapan kau memikirkan hal-hal mesum seperti itu, Choi Hyojin? Aku merutuk pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ini hari terakhirku disini, apa yang sebaiknya aku lakukan?”

Ting-Tong~~~

Aku melirik jam dinding, jam 8 pagi. Siapa yang datang pagi-pagi sekali seperti ini? Apa itu Kyuhyun oppa? tapi biasanya dia datang sekitar jam 9 lebih. Aku berjalan malas menuju pintu masuk dan melihat siapa yang datang melalui intercom dan mendapati Kyuhyun Oppa disitu. Aku buru-buru merapikan rambutku sebisanya dan membukakan pintu untuknya.

“Kau..baru bangun?”

“Tentu saja, ini masih pagi sekali, Oppa. kau ingin terus berdiri disitu?”

“Tidak. Cepat mandi dan bersiap-siap. Karena hari ini hari pertamamu sebagai kekasihku dan juga hari terakhirmu disini, aku akan mengajakmu ketempat spesial.” Ucapnya tanpa jeda sambil masuk dan mendudukkan dirinya di sofa. Aku hanya bisa bengong dan mengikuti pergerakannya hingga ia duduk dengan –sangat- nyaman disofa. Ia mengendikkan kepalanya –mungkin maksudnya ingin menyuruhku agar segera masuk ke kamar mandi- sekali lalu membaca majalah di meja. Aku mendesah pelan dan mengikuti saja apa maunya. Toh hari ini hari terakhir aku disini bukan? Harus dimanfaatkan.

“Kalau kau mau, didapur ada roti, susunya di kulkas. Ada telur juga kalau kau ingin fried egg. Lakukan sesukamu saja, Oppa. aku mandi dulu.” Ucapku di pintu kamar dan hanya dibalas dengan dehemannya.

Aku mandi secepat yang aku bisa, aku memutuskan untuk memakai dress dengan aksen yang simple dan ditutupi cardigan. Toh namja itu tidak pernah berkomentar apapun tentang apa yang aku pakai setiap pergi bersamanya. Aku keluar kamar dan tidak menemukan dia di ruang tamu, aku menuju dapur dan melihatnya baru saja selesai menggoreng telur dan meletakkannya didua piring.

“Scramble egg?” tanyaku.

“Yup. Wanna try? I’ve made it for two persons.” Tumben sekali memakai bahasa inggris, mau pamer?

“Ummm, if only you don’t put ‘something’ to this food.” Ucapku sambil menarik salah satu piring kehadapanku dan mengambil garpu lalu menyuapkannya kemulutku.

“Mashita. Kau bahkan memasak lebih baik dariku.”

“Karena aku Cho Kyuhyun yang kemampuannya akan selalu setingkat atau dua tingkat melebihi kemampuan Choi Hyojin.” Ucapnya sambil tersenyum bangga dan melepaskan apron yang ia gunakan dan duduk dihadapanku, memakan miliknya.

“Sarapan bersama sebagai sepasang kekasih dan sang namja yang memasakkan untuk sang yeoja, apakah terdengar romantis?” ucapnya ketika kami selesai sarapan.

“Apa kau mulai menjalankan peranmu sebagai kekasihku, Cho Kyuhyun-ssi?” balasku sambil meminum susu, kudengar ia terkekeh pelan.

“Hey, aku hanya ingin memberikan lebih banyak hal yang akan terus kau ingat nanti jika pulang ke Seoul. Dengan begini, kau tidak akan melupakanku, karena saking banyaknya yang harus kau selalu ingat.”

“Keurom, kalau begitu, apa yang akan kau ingat dariku?”

“Umm..yeoja manja, lelet, boros, suka makan dan…”

“Stop! Sejelek itukah imejku dimatamu? Kalau begitu kenapa kau menyukaiku?”

“Hey dengarkan dulu hingga aku selesai berbicara. Kau tidak ingin mendengar yang terakhir?”

“Aniyo. tidak usah”

Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearahku, aku memandangnya tidak mengerti. Ia menundukkan badannya dan berbisik padaku.

“Yang terakhir, kau adalah gadis yang mampu membuatku menyukainya bahkan sebelum bertemu dengannya.” Bisiknya pelan dan mencium pipiku. Aish, pipiku pasti memerah lagi sekarang.

“Ehem, aku akan mencuci piring dulu.” Ucapku canggung dan mengambil piring kotor milikku dan juga miliknya, menghindari tatapannya dan juga menghindari untuk melihat senyum kemenangannya.”

++Propose++

“Kita akan kemana?” tanyaku –untuk kesekian kali- padanya yang sedang mengemudi. Kami bahkan baru saja melewati batas kota Berlin dan ia masih merahasiakan tujuan kami hari ini.

“Rumah peristirahatan keluargaku.” Jawabnya pendek.

“Mwo?”

“Suasana disana menyenangkan. Cocok untuk mengendurkan pikiranmu yang kusut karena tidak ingin pulang ke Seoul.” Ia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Jeongmal? Siapa yang ada disana? Rumah itu tidak kosong kan?”

“Tentu saja ada asisten rumah tangga yang menjaga rumah itu. Kau pikir aku mau melakukan apa jika rumah itu kosong?”

“Aniyo. aku hanya bertanya. Tidak boleh?”

“Kau ini sensitive sekali, nona muda. Bersantailah, jangan terlalu takut akan jepulanganmu ke Seoul dan  berpisah jarak denganku. Karena aku sudah merasakannya lebih dulu daripada kau.”

“Maksudmu?”

“Kau pikirkan saja sendiri, Tuan Putri.”

Aku mendengus kesal dan memilih untuk melihat kesamping. Eh? Kami sudah tidak berada dijalan raya lagi. kami sudah berada dijalan kecil yang pinggirannya ditumbuhi barisan pohon maple dan juga beberapa lampu taman bergaya klasik.

“Apa kita sudah dekat dengan rumah itu?”

“Ya. Kita baru saja melewati gerbang utama sekitar dua menit yang lalu. Kau tidak menyadarinya?”

Aku mengangguk pelan. Rumah macam apa yang jarak dari gerbang utamanya sejauh ini? aku melihat kedepan dan disana, sekitar 200 meter dari posisi mobil kami sekarang ada gerbang lagi, gerbang yang sekiranya lebih kecil dari gerbang utama yang ditumbuhi tanaman –yang aku tidak tahu apa namanya, mungkin sejenis semak- merambat yang memenuhi pilarnya dan juga bagian atas dari gerbang itu. Aku bisa melihat kedalam dibalik gerbang itu karena gerbang itu baru saja terbuka secara otomatis –aku tidak mau ambil pusing kenapa gerbang itu terbuka sendirinya- dan bangunan yang kami tuju masih belum terlihat, mungkin dibalik tikungan itu. Aku memperhatikan gerbang itu, terlihat bunga-bunga berwarna ungu yang masih berupa kuncup menghiasi daunnya yang entah kenapa belum gugur.

“Kalau kita datang lebih pagi, kau akan melihat bunganya bermekaran dan aku yakin kau akan menyukainya. Atau kau bisa melihatnya nanti sore.” Ucapnya ketika melihatku sedang memperhatikan gerbang yang sedang kami lewati ini. Aku mengangguk tanda mengerti. Mungkin ini sejenis tanaman merambat yang bunganya mekar diwaktu-waktu tertentu setiap harinya.

“Tempat ini luas sekali, bahkan jarak dari gerbang utama ke rumah itu mungkin ada dua kilometer.”

“Kawasan ini turun-temurun dimiliki keluargaku. Keluargaku menyukai tempat yang tenang.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Kau sering kemari?” aku melihatnya mengangguk mengiyakan.

“Setiap liburan aku selalu menginap disini. Namun kali ini karena merupakan liburan spesial, aku tinggal di apartemen di Berlin. Karena akan sangat tidak praktis bagiku untuk pergi kemana-mana dan mengantarmu jika aku menginap disini.”

“Waaah, daebakk. keluargamu pasti sangat kaya.” Ucapku sambil terkekeh pelan.

“Kalau begitu, kau tidak akan takut akan kelaparan nantinya jika hidup bersamaku.”

“Mwo?”

“Kita sudah sampai.” Ucapnya sambil melepaskan seatbelt, tidak mempedulikan pertanyaanku. Aku melihat kedepan dan sukses melongo. Bagaimana tidak, bangunan yang ia bilang sebagai rumah peristirahatan ini sama sekali tidak bisa dibilang rumah. Aku masih melongo seperti orang bodoh menatap bangunan megah bergaya klasik ala kerajaan Prusia didepanku. Bangunan ini sama sekali tidak bisa dikatakan rumah, istana mungkin lebih tepat. Namja ini, apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan padaku?

“O,..oppa..igeo..ige mwoya?”

“Ini tentu saja rumah yang tadi kusebutkan. Ayo masuk.”

“Tunggu sebentar. Oppa, a..apa status keluargamu?” ucapku masih belum bisa menemukan fokusku.

“Hanya keturunan keluarga kerajaan Prusia dijaman dulu.” Jawabnya enteng sambil menggandeng tanganku dan membawaku masuk kedalam setelah sebelumnya pintu batu besar itu terbuka dan tampak seorang perempuan tua yang membungkuk sopan pada kami. wanita tua –yang kelihatnnya seperti kepala pelayan- itu menyapa kami dalam bahasa jerman dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Kyuhyun Oppa. Kami berjalan menyusuri lorong dan tiba di sebuah ruangan yang kutebak adalah ruang tamu. Ia menyuruhku duduk dan ia berjalan menuju sudut ruangan, menyalakan music player. Alunan musik Jazz mengisi ruangan bergaya klasik ini. ia kini duduk disampingku. Aku masih diam, mungkin masih mencoba untuk menjernihkan pikiranku. Ini terlalu mengejutkan, tentu saja.

“Nappeun.” Ucapku pelan.

“De?” ia menoleh padaku.

“Kenapa kau tidak bilang jika rumah yang kau maksud adalah yang seperti ini?”

“Kau terkejut? Mianhae. Tapi aku suka memberikan kejutan untukmu.” Aku melihatnya tersenyum jahil dan mengacak rambutku.

“Ini tidak lucu.” Kini ia terbahak dengan bahagia, sedangkan aku mengerutkan dahi melihat tingkahnya. Ia bahkan masih cekikikan ketika seorang pelayan datang membawakan teh untuk kami.

“Aku akan keatas dulu sebentar. Ada sesuatu yang ingin kuambil di kamar. Kau nikmati saja dulu tehnya.” Ucapnya seraya beranjak dari duduknya. Aku masih bisa melihat senyum jahilnya ketika ia menoleh padaku di tangga.

Aku memperhatikan sekeliling ruangan ini. berada diruangan sebesar ini membuatku merasa kecil. Luas ruangan ini mungkin setengah dari ukuran ballroom di kampusku. Suasanya benar-benar klasik, terlihat dari furniture dan juga beberapa lukisan besar yang menempel didindingnya. Aku benar-benar tidak menyangka jika Kyuhyun oppa berasal dari keluarga seperti ini. namja itu selalu penuh kejutan. Sejak pertama kali bertemu, entah berapa kejutan yang sudah ia berikan padaku. Mulai dari kemampuannya berbahasa Korea, hubungannya dengan Appa, sampai yang terakhir ini, kenyataan tentang keluarganya yang ternyata bukan keluarga sembarangan. Kenapa Appa dan Sooyoung unnie juga tidak memberitahuku? Apa mereka juga disuruh untuk tutup mulut oleh namja itu? Aku meneguk tehku pelan, sepi sekali. Memiliki tempat seperti ini untuk menjadi tempat peristirahatan memang sangat menyenangkan.

“Apa kau bosan?”

“Aniyo.”

“Sebenarnya aku lebih menyukai interior yang simple, namun karena ini peninggalan turun-temurun, aku tidak bisa seenaknya mengubahnya meskipun rumah ini sudah menjadi milikku.” Ujarnya sambil mendudukkan dirinya disampingku –lagi-

“Suasana klasik seperti ini meskipun terkadang terkesan menakutkan, tapi ini nyaman.” Balasku.

“Ayo kita makan siang. Setelah makan, saatnya bermain.” Ucapnya semangat.

++Propose++

“Appa, cepatlah keluar dari tempat ini. tempat ini pasti sangat membosankan, bukan?” ucapku sambil memeluk Appa. Appa tertawa dan menepuk-nepuk punggungku pelan.

“Arrasooo. Putri Appa yang cerewet. Kau hati-hati dijalan. Dan kuliah dengan benar, jangan pergi dengan namja selain Hyukjae.”

“Yaaaa.. kalau Eunhyuk selalu mengekoriku, aku tidak akan mendapatkan namja yang akan menikah denganku.” Sungutku. Sedetik kemudian aku mendengar suara deheman dari belakang, siapa lagi kalo bukan Kyuhyun Oppa.

“Kau kan sudah memilikinya. Tinggal menunggu kalimat lamaran saja. bukan begitu, Kyuhyun-ah?” ucap Appa dan menengok kearah Kyuhyun.

“Ah..i..itu..” Kyuhyun Oppa tergagap. Aku melayangkan padangan tajam kearahnya. Ia hanya tersenyum kemudian.

“Appa, jangan berbicara macam-macam. Kau tau putri bungsumu ini masih berumur 20 tahun. Bahkan Sooyoung unnie saja masih belum memiliki pasangan.” Cibirku dan mendapatkan hasil jambakan di jalinan rambutku.

“Yaaa!! Kenapa kau menjambakku?”

“Sudah-sudah, apa kalian masih sering bertengkar ketika Appa tidak ada?”

“Aniyo, unnie terlalu sibuk mengurusi pekerjaan. Sekarang aku mengerti kenapa ia belum menikah, saking sibuknya bekerja bahkan untuk bertengkar denganku saja hampir tidak ada, apalagi untuk mencari pasangan.” Aku mengendikkan bahu, dan mereka bertiga hanya tertawa mendengarnya.

“Ah.. Appa, pastikan kulkas di apartemen juga selalu terisi. kau juga harus makan makanan yang baik. kalau aku kesini lagi, jangan sampai aku menemukan kulkasmu hanya berisi susu. Arrachie?” selorohku lagi dan kulihat appa mengangguk sambil mengelus rambutku.

“Hey..sampai kapan kau ingin bermanja-manja dengan Appa?” ucap Sooyoung unnie dan menarikku dari rangkulan Appa. Aku merengut, ia bersikap tidak peduli lalu memeluk Appa dan berpamitan. Aku berjalan menuju Kyuhyun Oppa dan ia menyambutku dengan senyumnya. Namun ada yang terasa berbeda dari senyumnya kali ini. bisakah aku mengartikan senyumnya kali ini merupakan senyum ketidakrelaan?

“Kajja. Kita tunggu Sooyoung dimobil saja.” ucapnya lembut seperti biasanya. Aku mengangguk pelan dan mengambil tasku.

“Unnie, kami tunggu dibawah ya. Appa kami pegi dulu, annyeong.” Aku menghampiri Appa dan mengecup pipinya. Appa dan Sooyoung unnie mengangguk mengiyakan.

Sejak keluar dari kamar Appa hingga di basement, ia tidak melepaskan genggaman tangannya padaku. Ia juga tidak berbicara sama sekali. Hanya tersenyum padaku, mungkin mencoba menguatkan dirinya dan aku. Dia tahu aku tidak ingin pulang sekarang. ia membukakan pintu mobil untukku dan melepaskan genggamannya padaku.

“Oppa, aku akan pulang. Tinggal tiga jam lagi. apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?” tanyaku ketika telah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Ia membalas tatapanku dan –seperti biasa- tersenyum.

“Hati-hati dijalan. Jangan sampai sakit hanya karena kau merindukanku. Arra?” aku mendengus mendengar perkataannya. Disaat seperti ini ia masih bisa bersikap narsis?

“Hanya itu?”

“Ummm, katakan pada teman-temanmu kalau kau sudah memiliki kekasih. Dan pastikan tidak ada namja yang mendekatimu selain Hyukjae. Ah iya, kalau kau merindukanku, kau kan bisa mengirimkan email atau menghubungiku langsung. Sekarang bukan jaman dahulu yang serba susah dalam berkomunikasi internasional, bukan?” ia mengelus kepalaku dan aku kali ini tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

“Kau juga Oppa. pastikan kalau kau selalu ingat kalau kau sudah memiliki yeojachingu sekarang. jangan bersikapa manis pada wanita karena bisa saja mereka jatuh cinta padamu. Aku tidak mau berbagi. Dan jangan selingkuh, Arrachie???” Ia terkekeh pelan dan mengangguk.

“Tentu saja. apa ada hal lain yang ingin kau minta dariku?”

“Umm, bisakah kau memelukku sekarang?” ucapku pelan, sangat pelan namun masih bisa didengar olehnya. Ia menarikku kedalam dekapannya. Aku bersandar didadanya, menikmati waktu yang tersisa. Aku merasakan ia mengecup puncak kepalaku dan mengelusnya.

“Oppa, berjanjilah untuk sering-sering menghubungiku jika kau tidak sedang sibuk.” Ia membalas perkataanku dengan dehemannya. aku melepaskan pelukannya dan kembali ke posisi dudukku semula.

“Gomawo Oppa.”

“hey, jangan lesu seperti itu. Tersenyumlah. Seperti ini.” ia tersenyum manis dan menggerakkan tangannya didepan wajahnya membentuk garis lengkung senyuman. Aku tersenyum hambar dan merasakan ponselku bergetar. Pesan dari Sooyoung unnie.

Aku turun sekarang. aku malas turun ke basement. Jemput aku di pintu utama saja.

Aku menunjukkan isi pesan itu pada Kyuhyun oppa dan ia mengangguk. Ia mendekat padaku dan memasangkan seatbelt untukku lalu memasang untuknya. Pipiku pasti memerah lagi sekarang. tidakkah kalian pikir itu cukup manis?

Selama perjalanan menuju bandara kami lebih banyak diam, Sooyoung unnie fokus pada tablet pc ditangannya –yang aku yakin itu pasti urusan kantor- Kyuhyun oppa juga fokus menyetir, sedangkan aku? Aku sibuk dalam pikiranku sendiri dan tidak tahu harus membicarakan apa. Aku yang kunjung tidak menemukan topic pembicaraan memilih untuk memandang pemandangan yang terlihat sepanjang jalan. Indah, tentu saja.

Frankfurt am Main International Airport

Disinilah kami sekarang, aku termenung didepan pintu masuk terminal keberangkatan internasional. Kyuhyun oppa mendorong trolly yang penuh terisi barang bawaanku dan Sooyoung unnie dibelakangku.

“Kalian berbicaralah dulu, aku akan menunggu didalam. Tapi jangan terlalu lama, kau tahu registrasinya cukup lama kan, Hyojin-ah?” kata Sooyoung unnie dan mengambil alih trolly yang didorong oleh Kyuhyun oppa. Aku menoleh kearah Sooyoung unnie dan Kyuhyun oppa, aku melihat Kyuhyun oppa mengucapkan terima kasih tanpa suara dan ditanggapi oleh anggukan Sooyoung unnie.

Aku menatap punggung Sooyoung unnie hingga menghilang dibalik pintu kaca yang tertutup secara otomatis. Kyuhyun oppa menarikku dan mengajakku duduk di kursi terdekat.

“Aku pulang, Oppa.”

“Aku tahu. Haah, aku harus membiasakan diri lagi untuk merindukanmu dari jauh seperti sebelumnya. Bedanya kali ini jauh lebih baik, karena setidaknya bukan kerinduan sepihak.” Ucapnya sambil merangkul bahuku.

“Aku benar-benar tidak ingin pulang.”

“Kau juga harus sering-sering menghubungiku jika kau ada waktu, Hyo-ya. Selca juga.”

“Aku ingin sekali lebih lama disini, setidaknya sampai kau kembali ke London.”

“Aku juga akan segera pulang ke London. Mungkin lusa atau tiga hari lagi.” pembicaraan macam apa ini, bahkan topik yang kami bicarakan sama sekali tidak ada kaitannya. Aku merasakan ia mengeratkan rangkulannya dibahuku. Aku menatapnya.

“Oppa, katakan sesuatu untuk menguatkanku.” Kulihat ia berpikir sejenak, lalu ia tersenyum dan membisikkan sesuatu dalam bahasa Jerman, bahasa Jerman yang tidak kumengerti apa artinya, bahasa Jerman yang terdengar indah ditelingaku meskipun aku tidak mengerti maksudnya apa, namun aku yakin itu pasti berisi kalimat untuk menyemangatiku.

“Apa artinya?”

“Kau akan tahu nanti.” Ucapnya sambil mengacak rambutku pelan. Aku mengangguk dan tersenyum. Aku bangkit dari dudukku.

“Aku rasa aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu, Oppa.” ucapku sambil negulurkan tangan padanya. Ia menyambutnya.

“Kau juga, Hyo-ya. Masuklah.” Balasnya. Aku berbalik dan mulai berjalan menuju pintu masuk. Rasanya sesak, seperti inikah rasanya saat kita harus terpisah jarak dengan orang yang kita cintai? Aku pernah merasakan hal sama ketika harus terpisah dengan Appa, namun rasanya tidak semenyesakkan ini. langkahku benar-benar terasa berat, pandanganku mulai kabur karena air mata yang menggenang dipelupuk mataku. Aku berusaha kerasa agar tidak menangis, aku tidak ingin dia melihatku menangis sekarang.

“Hyo-ya!” langkahku terhenti mendengar suaranya memanggilku.

“Jangan khawatir, aku pasti akan pergi ke Seoul untuk menemuimu. Tunggu aku. Dan saat aku kesana, kau harus menjadi guide untukku. kau mengerti?” serunya lagi. airmataku sudah tidak dapat kutahan lagi. aku berbalik dan berlari menuju arahnya. Kulihat raut wajahnya sedikit berubah ketika melihatku nenangis. Ia berjalan menuju kearahku. Aku menghambur kepelukannya. Ia memelukku erat, sangat erat. Seolah tidak ingin melepaskanku lagi.

“Aku tunggu kau di Seoul, oppa.” Ucapku. Ia melepaskan pelukannya, memegang kedua pipiku dan menghadapkan wajahku kearahnya. Ia menyeka airmataku lalu mendekatkan wajahnya, menciumku. Ia melumat bibirku lembut, aku membalasnya. Untuk sesaat aku lupa saat ini kami sedang berada di bandara yang suasananya sedang ramai. Aku tidak peduli.

“Uljima. Kau bisa percaya padaku, tunggu aku. Arra?” ucapnya sambil menatapku lembut. Aku mengangguk. Aku harus percaya padanya.

“Sekarang masuklah, sebelum aku benar-benar akan menahanmu disini.”

Aku kembali berjalan masuk, kini perasaanku sedikit lebih lega. Aku menoleh lagi kearahnya dan ia melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Ia juga mengepalkan tangannya dan mengatakan ‘fighting’ tanpa suara. Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya.

“Sudah selesai berpamitannya? Kau menangis? Wah, aku hampir tidak percaya, akhirnya adikku bisa menyukai pria juga.” Ucap Sooyoung unnie ketika aku menghampirinya.

“Jangan mengejekku, unnie.” dengusku. Kudengar ia tertawa pelan dan menepuk kepalaku.

“Ah, aku iri sekali. Adikku sudah besar rupanya.” Ia memamerkan senyum tanpa dosanya dan beranjak menuju counter check in.

“Unnie, tunggu aku. Dan kau meninggalkan ini.” seruku sambil emnunjuk trolli yang berisi barang bawaan kami.

“Kau yang dorong, aku lelah setelah mendorongnya dari pintu masuk tadi hingga sini.” Choi Sooyoung, kalau kau bukan kakakku, aku sudang menendang barang bawaanmu ini sedetik yang lalu. Aku mendorong trolli sambil bersungut-sungut sampai didepan counter check in maskapai penerbangan yang akan membawa kami ke Seoul. Aku menyerahkan tiket dan juga passportku pada Sooyoung unnie didepanku, membiarkan ia mengurus semuanya, toh dia bisa berbahasa Jerman –walaupun aku tahu pasti jika staff disini tentunya bisa berbahasa Inggris namun karena aku tidak ingin repot- jadi tidak akan ada masalah.

Selama menunggu hingga masuk kedalam pesawat, aku masih berhubungan melalui pesan singkat dengan Kyuhyun Oppa yang berada diluar. Ia bersikeras menunggu hingga pesawat kami take off padahal aku sudah memintanya untuk kembali. Disatu sisi aku merasa senang karena setidaknya kami masih berada di bangunan yang sama namun terpisah, namun disatu sisi aku lagi-lagi merasa berat untuk pergi, karena ia masih disini. Aku benar-benar gadis yang plin-plan, bukan?

Pesawat kami akan take off beberapa menit lagi. sekarang aku dan Sooyoung unnie sudah berada dikabin kelas bisnis pesawat ini yang nyaman setidaknya untuk pejalanan kami selama belasan jam. Aku mengirimkan pesan terakhir padanya dan segera mengatur setting ponselku menjadi Airplane Mode tanpa menunggu balasannya. Aku akan membuka pesannya ketika sampai di Seoul saja.

“Selamat tinggal Jerman. Aku pasti akan kembali lagi kemari, karena separuh hatiku kutitipkan disini bersamanya. Sampai jumpa.” Ucapku lirih sambil menatap kearah jendela. Menatap suasana akhir musim gugur Jerman yang indah. Musim gugur yang penuh kenangan dan juga awal dari kisahku dengannya.

++Propose++

Hyo-ya annyeong!!

Kau tahu bukan kalau aku sudah kembali ke London dua minggu yang lalu. Kembali kuliah yang membosankan.

Ah, bogoshiposo. Aku selalu melihat foto-foto kita ketika aku sedang merasa bosan atau jika aku mendapat waktu luang. Aku ingin sekali sering-sering meneleponmu, namun karena selisih zona waktu yang begitu kontras, aku tidak bisa meneleponmu kapanpun aku mau.

Apa kau tahu? Topi yang kau belikan untukku di Kurfürstendamm menjadi topi yang paling sering kupakai sekarang. kau ingin melihatku memakainya? Buka attachment email ini, arra? Kkkkk

Tiga hari lagi Natal, kalau saja tidak ada kecelakaan itu kau pasti sedang berada di Berlin sekarang. aku juga tentunya. Rasanya aku ingin merayakan natal di Seoul, tapi untuk tahun ini tidak bisa T___T tapi aku mengirimkan sesuatu untukmu, anggap saja sebagai hadiah natal. Mungkin dua hari setelah natal barang itu tiba dirumahmu. Walaupun jelek, jangan sampai kau membuangnya. Karena aku akan memeriksanya ketika aku ke Seoul nanti.

Ah, aku ada kelas sepuluh menit lagi. aku akan menghubungimu lagi.

Merry Xmas ^^~

 

Waiting for our meeting and makes other special memories.

Saranghae.

Kyuhyun.

 

Aku menatap email masuk di ponselku lagi pagi ini. Tidak ada email baru darinya yang masuk hari ini. aku mendesah pelan. Sesibuk itukah ia sampai tidak bisa menyempatkan diri untuk membalas emailku? Sudah sebulan sejak email terakhirnya sebelum Natal dan tidak ada email lagi darinya. Setiap aku meneleponnya yang menyambutku hanya pesan suara. Apa ia sudah melupakanku?

“Hyojin-ah, cepatlah turun dan makan sarapanmu. Bukankah kau ada kelas hari ini?” teriak Sooyoung unnie dari ruang makan dibawah.

“Neeeee.” Jawabku malas. Aku mengambil mantel dan syal coklat tuaku yang sudah kusiapkan tadi. Aku turun dan menuju ruang makan, aku lihat sedang menikmati sarapannya. Aku duduk dan menatap piringku, scramble egg and bacon. Aku teringat lagi padanya, sarapan buatannya dihari terakhirku di Berlin.

“Kau tidak makan?” Tanya Sooyoung unnie yang mendapatiku hanya menatap makanan, tidak menyentuhnya sama sekali.

“Tumben sekali kau memasak American breakfast, unnie. tidak seperti biasanya.” Ucapku pelan dan mengambil garpu.

“Aku sedang bosan dengan sarapan yang biasanya. Lagipula tumben sekali kau berkomentar tentang apa yang aku masakkan untukmu.”

“Te..tentu saja karena ini tidak biasa.” Aku tergagap.

“Apa kau ada masalah dengan Kyuhyun? Aku perhatikan kau mulai tidak bersemangat akhir-akhir ini.” Masalah? Aku bahkan tidak tahu apa ada masalah diantara kami. ia sama sekali tidak menghubungiku selama sebulan ini.

“Aniyo. tidak ada masalah sama sekali.” Balasku.

“Benarkah?” Aku mengangguk mengiyakan. Masalah seperti ini Sooyoung unie tidak perlu tahu, bukan?

“Aku sudah selesai. Aku berangkat duluan, unnie.” Ucapku dan beranjak dari dudukku.

“Hati-hati.” Aku mengangguk dan mengambil kunci mobilku lalu beranjak ke garasi.

Aku termenung di mobil, apakah kegelisahanku mulai terlihat? Sooyoung unnie, dia memang peka akan sesuatu, tapi ia tidak akan berkomentar jika memang belum bisa dikatakan mengkhawatirkan. Aku mengambil ponselku dan mencoba untuk menghubunginya. Namun lagi-lagi yang menyambutku hanya suara pesan suara.

“Oppa, hubungi aku ketika kau mendapatkan pesan ini.” ucapku dan menekan tombol save. Aku mengerang frustasi. Tidak, aku tidak boleh menangis. aku harus percaya padanya, aku harus percaya padanya, aku harus yakin kalau dia masih mengingatku dan juga janjinya. Dia tidak mungkin melakukan hal yang buruk seperti meninggalkanku dan bersama gadis lain. Aku meraih ponselku dan menekan speed dial nomor 5, Hanwoo.

“Hanwoo-ya, apa kau ada acara setelah kuliah?”

“Aku akan pergi bersama Eunhyuk Oppa ke toko buku. Ada apa, Hyojin-ah?”

“Batalkan. Kau temani aku belanja saja. Aku akan memberitahu Eunhyuk nanti.”

“Hajiman…”

Aku mematikan sambungan telepon sebelum mendengar protes darinya. Aku menatap wallpaper ponselku, wajahnya yang sedang tersenyum manis memakai topi dariku. Ya, selcanya di emailnya yang terakhir.

“Cepatlah menghubungiku atau aku akan mejadi lebih gila dari ini. Nappeun.” Ucapku sambil menatap layar ponselku. Aku meletakkan ponselku dan mulai menjalankan mobil. Semoga hari ini berjalan cepat.

++Propose++

Bodoh, itulah yang aku rasakan sekarang. aku merindukan orang yang bahkan mungkin telah lupa padaku. Ia sama sekali tidak menghubungiku, sudah hampir satu setengah bulan sejak email terakhirnya. Dan selama itu pula aku merindukannya seperti orang linglung. Hanwoo, Eunhyuk dan Sooyoung unnie tidak berani lagi bertanya tentang aku dan Kyuhyun setelah melihatku menangis dan mengurung diri dikamar seminggu yang lalu.

Aku masih terus mencoba untuk menghubunginya. Aku bahkan menelepon Appa di Berlin hanya untuk menanyakan apakah namja itu ada menghubunginya, namun appa bilang terakhir kali orang itu menghubunginya saat natal. Aku bisa dibilang seperti kehilangan arah sekarang. Sooyoung unnie bahkan sampai tidak membiarkanku menyetir sendiri karena alasan khawatir aku melamun saat menyetir. Aku diantar jemput oleh Eunhyuk, selain karena aku tidak mau diantar jemput oleh supir sewaan yang tidak aku kenal, aku hanya ingin bersama orang-orang terdekatku. Apakah aku terlihat menyedihkan hanya karena seorang namja?

Oppa, kau bilang kau menyukaiku, merindukanku, akan sering menghubungiku, kau juga bilang akan menyusulku ke Seoul. Tapi sekarang kau bahkan tidak membalas emailku, ponselmu tidak bisa dihubungi. Apa kau menemukan gadis lain, yang lebih cantik dariku, yang kemampuannya melebihiku, dan tentunya bisa kau temui kapan saja kau mau, tidak terpisah jarak sepertiku.

Aku menatap photobook didepanku, Our First Story, Germany. Photobook kiriman darinya saat Natal, isinya foto-foto kami saat di Berlin. Aku membuka lembar demi lembarnya, memperhatikan berbaga macam ekspresi yang kami tunjukkan disitu. Dilembar terakhir, fotoku dibandara, menghadap kebelakang dan akan masuk kedalam terminal keberangkatan. Sepertinya ia memotretku dengan kamera ponselnya. Air mataku mengalir lagi, aku merindukannya, sangat. Tidakkah ia begitu kejam padaku? Ia membuatku menyukainya, menjanjikan hal-hal manis padaku, membuatku menunggunya, namun semakin hari aku merasa jika penantianku mungkin saja akan sia-sia. Tidak ada yang bisa memastikan padaku dia ada dimana, apa kegiatannya, dan juga, apakah ia sudah memiliki kekasih.

“Oppa, kenapa kau lakukan hal ini padaku?”

Aku menutup photobook itu dan meletakkannya diatas nakas samping tempat tidurku. Aku menyingkap selimutku dan bangkir dari tempat tidur. Berjalan menuju jendela, aku membuka kordennya, malam ini hujan salju. Gelap dan dingin, mungkin hatiku juga seperti cuaca diluar. Aku melirik jam dinding, masih jam 8 malam. Aku berpikir sejenak dan memutuskan mengambil mantel dan sepatu bootsku. Memasangnya cepat dan mengambil dompetku. Aku keluar kamar dan kulihat Sooyoung unnie sedang membaca majalah diruang keluarga. Aku melewatinya tanpa suara dan kudengar Ia memanggilku.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Tidak perlu ditemani. Aku hanya ingin berjalan sedikit dan ke kafe didepan.”

“Kau yakin tidak butuh ditemani?” aku mengangguk.

“Baiklah, pastikan kau ingat untuk tidak pulang terlalu malam. Diluar dingin sekali.”

“Ne.”

Aku berjalan menyusuri trotoar ini, mendongak menatap salju yang berjatuhan yang terlihat dari paying beningku. Aku menjulurkan tanganku, menangkap salju-salju itu dengan telapak tanganku. Dingin, mungkin hatiku juga sedingin ini sekarang. Aku tetap berjalan dalam diam. Tidak banyak orang yang berpapasan denganku, orang-orang tentunya lebih memilih untuk berdiam diri didalam rumah dengan pemanas ruangan didekatnya daripada keluar dicuaca sedingin ini.

Aku masuk kedalam kafe, duduk di kursi paling pojok yang dekat dengan jendela agar aku masih bisa melihat suasana diluar, memesan cokelat panas dan cheese cake, menu yang selalu kupesan jika datang kemari. Aku menatap keluar jendela kaca ini, salju masih berjatuhan diluar sana.

“Oppa, sebenarnya kau dimana dan sedang apa? Apakah terlalu berat untuk menghubungiku?” gumamku.

“Tidak seharusnya kau melakukan hal ini padaku. Tidak tahukah kau kalau aku menunggumu? Bahkan sekarang aku tidak menunggumu untuk datang kemari menemuiku, saat ini bisa dibilang aku menunggumu hanya untuk mengucapkan kata putus. Ya, bukankah seperti itu lebih baik?”

Aku menyesap cokelat panasku, tersenyum pahit. Bahkan rasa pahit dari cokelat ini masih terasa kurang di lidahku. Aku menghela napas panjang. Ya, sepertinya putus memang jauh lebih baik daripada keadaan yang penuh dengan ketidakpastian seperti ini. dengan begitu aku bisa menata hatiku dari awal lagi, bukan? Mencoba melupakan Cho Kyuhyun, walaupun sepertinya tidak mudah.

Cukup lama aku melamun di kafe ini, aku menatap kearah luar lagi. salju masih berjatuhan diluar sana. Aku menatap jam tanganku. sudah hampir jam sepuluh, sebaiknya aku pulang sebelum Sooyoung unnie mengomel dan mengutus Eunhyuk untuk mencariku, karena aku sengaja meninggalkan ponselku dikamar.

Aku berjalan perlahan, payung yang tadi kubawa sengaja kututup. Aku ingin merasakan salju-salju ini menyentuh kepalaku, mungkin bisa membantuku mendinginkan kepala dan juga pikiranku. Aku memilih duduk dikursi taman berjarak limapuluh meter dari rumahku, sebentar saja, pikirku.

Aku memejamkan mataku, merasakan salju yang menyentuh kepalaku dan wajahku. Hingga beberapa saat kemudian aku tidak lagi merasakan adanya salju yang menimpaku lagi. apakah hujan saljunya sudah berhenti. Aku membuka mataku dan melihat siluet tubuhnya sedang berdiri didepanku, sedang memayungiku dengan payungku yang tadinya kuletakkan disampingku.

“Kau akan sakit jika membiarkan tubuhmu lebih lama lagi dibawah hujan salju seperti ini.” ucapnya. Suaranya, tetap sama. Lembut dan hangat. Suara ini, suara yang selama ini aku rindukan. Aku pasti sudah gila sekarang. aku berfantasi melihatnya sedang berdiri didepanku, berbicara denganku.

“Hyo-ya.” Panggilnya. Aku masih terdiam menatapnya. Bayangan ini benar-benar terasa nyata, aku bahkan bisa melihat uap yang keluar dari mulut dan hidungnya akibat cuaca dingin ini.

“Waah, aku pasti benar-benar merindukanmu, Oppa. Sampai berfantasi seperti ini. kau tidak mungkin ada didepanku saat ini, bukan?” ucapku sambil tertawa pahit.

“Hyo-ya, ini aku.” Aku berdiri, mendekat padanya, menyentuh pipinya.

“Apa benar ini kau? Kau benar-benar terasa nyata.” Ucapku sambil terus menyentuh pipinya dengan ujung jariku. aku merasakan namja didepanku ini menarikku kedalam pelukannya. Hangat, rasanya masih sama dengan yang kurasakan 3 bulan yang lalu.

“Mianhae.”

“Jadi aku tidak sedang berfantasi? Ini benar-benar kau?”

“Ne. Aku disini, Hyo-ya. Mianhae.” Ia mengeratkan pelukannya padaku, airmataku mengalir lagi sekarang.

“Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa kau tidak mengabariku? Kenapa kau tidak membalas emailku?” tanyaku sambil menangis, ia masih memelukku erat.

“Mianhae.”

“Apa kau tidak tahu bagaimana keadaanku karena menrindukanmu? Apa kau tahu bagaimana hari-hariku menunggu balasan email atau telepin masuk darimu?” ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya memelukku erat. Aku masih terus menangis dipelukannya, menumpahkan perasaanku.

“Hyo-ya, kau kedinginan.”

“Katakan padaku, kau darimana saja?”

Ia melepaskan pelukannya dan mengecup bibirku sekilas. Ia memandangku dengan sorot matanya yang hangat, aku menanti jawabannya.

“Aku mengerjakan sesuatu yang penting untuk kita nantinya.”

“Sepenting itukah sampai kau sama sekali tidak menyempatkan dirimu untuk menghubungiku?”

“Mianhae, aku sengaja tidak memberitahumu. Aku menyelesaikan tahap akhir dari tesisku, sekarang aku sudah mendapatkan gelar magisterku dan aku juga menghandle perusahaan kami di Frankfurt. Dan yang paling penting…” ia berhenti sejenak dan memandangku dalam. Aku balas memandangnya intens.

“Apa?”

“Aku sudah memutuskan untuk melamarmu. Orang tuaku sudah menyetujuinya. Ayahmu juga sudah menyetujuinya. kita akan tinggal dirumahku di Berlin.”

Mwo? Barusan dia bilang apa? Melamarku? Itu artinya dia akan menikahiku kan? Apa dia gila? Hampir dua bulan menghilang tanpa kabar dan sekarang muncul dihadapanku membawa kabar tentang pernikahan?

“Persiapannya sudah selesai. Maaf aku tidak memberitahukan hal ini padamu. Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Ayahmu dan Sooyoung juga mengetahui ini, mereka aku minta untuk merahasiakan hal ini darimu.”

Aku masih diam, mencerna ucapannya kata demi kata. Jangan Tanya apakah aku terkejut, karena jawabannya sudah pasti. Siapapun akan terkejut jika kekasihnya yang tidak menghubungimu selama hampir dua bulan tiba-tiba berkata panjang lebar tentang pernikahan?

“Hyo-ya? Kau mendengarku kan?”

“De? Ah, iya. Tentu saja aku mendengarkan. Tapi oppa..” Ia masih menatapku dalam, dari sorot matanya aku bisa melihat bahwa ia sungguh-sungguh, tapi aku..bagaimana caranya aku menyampaikannya?

“Tidakkah ini terlalu cepat, Oppa?”

“Hyo-ya, apa kau tidak ingin bersamaku?” Ekspresinya yang tadinya bersemangat kini meredup, namun ia masih memegang tanganku erat.

“Bukan begitu Oppa. semua kabar yang kau berikan padaku sekarang ini terlalu mengejutkan. Aku ingin bersamamu, tapi tidakkah ini terlalu cepat? Aku bahkan masih kuliah, lagipula..” aku menggigit bibri bawahku, masih bingung untuk menyampaikannya.

“Kalau kau mau, kita akan bertunangan saja dulu hingga kau siap menikah denganku. Aku tidak akan memaksamu, Hyo-ya. Aku hanya ingin memastikan jika kau tetap dan akan selalu menjadi milikku. Egois memang. Dan apa yang kau ingin sampaikan, Hyo-ya?”

“Oppa..kau belum melamarku.” Aku langsung menunduk malu setelah mengucapkan hal itu. Bagaimanapun, kalimat lamaran merupakan salah satu hal yang penting bukan? Ia meraih daguku dan membuatku menatapnya lagi, kali ini Ia tersenyum dan memandangku lembut.

“Hyo-ya, sesuungguhnya kau sudah mendengar kalimat lamaranku ketika di Jerman.” Aku mengerutkan kening, tidak mengerti.

“Kapan?”

“Aku melamarmu dihari kau pulang, di bandara. Apa kau ingat?” Aku berpikir lagi, dibandara? Jangan bilang jika saat itu. Aku memandangnya lagi, ia tersenyum dan menganguk mengiyakan.

“Saat itu, saat aku membisikkan kalimat dalam bahasa Jerman sebelum kau melangkah masuk, itu adalah kalimat lamaranku untukmu.” Sedetik kemudian ia kembali mengucapkan kalimat yang ia ucapkan ketika mengantarku dibandara, dengan wajah yang berseri-seri dan menatapku dalam.

“Hyo-ya, aku ingin selalu melihatmu tersenyum, tersenyum untukku. aku ingin melihatmu ternsenyum dan mewarnai hari-hariku kedepan. Selalu bersama, melewati hari bersama, menjadikanmu hal terakhir yang kulihat sebelum tidur dan menjadi yang pertama kulihat saat aku membuka mata dipagi harinya. Disaat aku melihatmu, kau akan balas melihatku, menggenggam tanganku dan membuat kita nyaman satu sama lain. Aku tidak akan menjanjikan apapun padamu, namun aku bisa memastikan, jika aku akan menjaga cintaku hingga kita sama-sama menua dan menjadikan hal itu menjadi sesuatu yang sangat berharga bagimu. Ini bunyi lamaranku, bagaimana? Apa kau bersedia?”

Aku menatap mata coklatnya untuk beberapa saat. Ia masih menggenggam kedua tanganku, menunggu jawabanku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Ia membalas senyumku dan melepaskan genggaman tangannya, memelukku erat dan mencium dahiku.

“Gomawo, Hyo-ya. Maaf karena aku baru datang sekarang dan membuatmu menunggu begitu lama. Aku tidak akan kemana-mana lagi. aku akan tetap disisimu. Saranghae.” Ucapya sambil memelukku, aku hanya mengangguk dalam pelukannya, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya.

Baby everyday and night you make – stay by my side

I promise that your love is a more precious gift than anything in the world

Yes I do, I can’t stop loving you.

(Super Junior KRY – Loving You)

Haaaaaiiiii.. lama tidak berjumpa. Ini FF keduaku. Kali ini bikin story yang happy end. Karena gak tega liat Hyojin nangisin Kyuhyun dari awal story sampe tamat *lirik FF pertama* XD.

Bagaimana? Aneh? Bahasanya jelek? Alur gak jelas? Endingnya kacau? T­________T mianhaeeeee.. saya memang masih amatiran dalam hal menulis. Tapi beneran deh, ini FF benar-benar otak saya, saya bahkan sampe nyari info ke mbah gugel soal Berlin dan tetek bengeknya. Ngetiknya disaat sambil kerja, pas kerjaan beres tapi jam pulang masih lama, jadi bos ngeliatnya tetep sibuk kerja, padahal sebenarnya ngetik FF n menghindar supaya gak dikasih kerjaan tambahan XDDDDDD *slapped*

Aaah, anyway..makasi ya bagi yang udah baca. Apalagi mau menyempatkan buat komen di karya gaje ini. kasi pendapat yak. N maap kalo typo bertebaran. *bow*

Annyeeeong.. ^^~

Iklan

24 thoughts on “[OneShoot] Propose

    • makasiiii
      ;;______;;
      sosok kyu disini emang segaja ku bikin semanis mungkin..biar bikin ngiri..
      *padahal sendirinya pas ngetik ngiri setngah jiwa jugak XDDD

      Suka

  1. aaaa dina aku comment pertama ^^
    aku suka FF mu. penggambaran jermannya bagus banget.
    Aku suka karakter kyuhyun disini.
    dewasa dan romantis banget. bsa kubayang la.
    dan sedihnya dapet banget pas kyuhyun g hub hyojin lagi :(((
    aku sukaaaaa ada sooyoungnya dan suka banget pas bagian sooyoung getok kepala hyojin. AHAHAHA. sering2 aja ^^ wkwkwkw.
    aahhh tembok Berliiiiiinnn kyeoptaaaa~~~~
    dan ga kebayang dah tuh kayak gimana rumahnya kyuhyun. asyik banget sih si hyojin. kyuhyun ceritanya like pangeran gitu lah ya. oke sip.
    sekaya apa dia???

    dan dan dan …
    ^^^^^^ makasi sudah memasukkan eunwoo couple disini ^^
    suka sekali. Hanwoonya polos banget ya keliatan penurut, Eunhyuknya juga penyayang banget, penurut juga. ahahaha.
    ^^
    ngae sekuelne biin ^^ hhhihi.
    good job.

    Suka

    • Beh..km yang kedua sayaaaangsss XDDDD
      Syoo dikit muncul disini..cuma buat pelegkap n yg jagain babeh selama kyuhyun n hyojin jalan2 kkkkk #licik

      Kyuhyun..penuh kejutan..dia pangeran bule kuuuuuuuuuu
      >/////<
      Yg di schloss itu juga manisss..
      Tembok berlin serem ;;___;;

      Eunwoo kopel..pasangan berisik..
      Nyahahaha..
      Ah..next project aku mau memisahkan eunwoo deh ya..kkk
      Thanks udah baca bb..
      Huhuuu..

      Suka

  2. kereeeeeeeeeeeeennn><

    fufufu,

    emm..yg aku bingungin..dari skian kali aq baca ff disini.
    yg komen dikit bgt?
    apa ditaro di wp lainkah?
    bagus2 banget cerita disini, bahasanya baku, bukan bahasa alay.
    idenya bagus2 .

    apapun itu..ditunggu karya slanjutnya yah~

    Suka

    • Aaah…
      Makasi udah bacaaa
      >///<

      iya yg datengin blog ini masih dikit juga soalnya..
      Huhuu..
      Tp yg penting ada yg baca n komen aja udah seneng kok..
      Sering2 main kesini yaa..kalo perlu ajak temen2nya yg suka baca ff jugak /promo
      XDDDD

      Suka

    • Huehehehe..
      Itu salah satu yg kesamaanku sama hyuk..jd aku masukin aja yg begonoan..
      /kicked

      Kyu evilnya dikit ;;___;;
      Baru nyadar jugaaaks
      Ah..makasi udah baca n komen yaaaa..
      >///<~

      Suka

  3. kyaaa hyojinaaah mianhae baru komment *tebar guguran daun*
    johaa johaa johaaaa~~ bagus penggambaran berlin dan jermannya disini bagus banget dan detik setiap tempat-tempatnya jugaa kereeenn!
    serius bikin pengen ke berlin jadinya kamvreettt~

    wooghh~ si bligus cang keturunan kerajaan persia kyaa kyaa
    dan hyojinnya disini beler entah mengapa hahahagss tapi kyuhyunnya loh kyuhyunnyaaa…
    boleh dong ya cinta terlarag untuk di ff inii sama akyuuuu~~ :3 :3

    ditunggu next project nya hyojinnah… keep writing!

    Suka

    • huhuuuuu..
      seneng deh ya kalo responnya pada positip gini onn..
      walaupun setelah dina baca ternyata typonya begitu banyak -___-
      kyakyaaaaa~~
      onnie maldives ajaaaa..berlin itu bagiannya dina kyakyaaa~
      ayang ohae jg pernah ngajak dina kesono XDDDD

      bli gus kyuhyun ceritanya kaya pangeran gt /sebenernya rada gimana pas bikin nyahahahhah
      beler gimana onn? syoo yg beler…kakak penindas ;;___;;
      sing ade cho yoora disini..tidak ada cinta terlarang *jilats ohae

      next project sedang dalam perjalanan kyakyaaaa~ semoga lancar ngetiknya n bisa di publish -___-
      ayo ramaikan blog iniiih

      Suka

  4. jadi iri pengen punya cwo kyk kyuhyun kyk gini,,,, romantis setia n kaya raya haduh pasti q klo dapet merseka bgt deh…
    hyo kau beruntung sekali…ada kah didunia nyata yg kyk gitu…pasti jarang….
    so sweet daebak….

    Suka

    • Ah..seandainya ada di dunia nyata ya XDDD
      Saya jugak mauu.. >.,<

      Yah walopun belum menemukan yg seperti ini di dunia nyata, ayo bermimpi dulu..gak ada salahnya kan mengkhayal..kaya motto blog kita, let's dream with us kyakyaa~
      uehehehehe
      Makasi ya udah baca..
      Ditunggu karya selanjutnya ^^
      bbyong

      Suka

  5. hueeeeee~ sumpah demi apah gituw kan, cerita ini buat saya netesin aer mata banyak,, bahkan softlens baru yg saya pakek ini gak keliatan gegara aer mata yg ngambang di mata saya!! *gakpenting

    ceritanya romantis buangetttss, bisa membuka dunia khayal saya!! choi hyojin saya bisa merasakan dmn anda merasa awkward,sedih,panik,jatuh cinta,happy,malu, dan aaaaa~ pengen teriak rasanya..

    tak disangka kalian semua yg aq kenal bisa ngebuat sesuatu yg membuat semua orang menjadi lebih membuka wawasan mereka. aku suka.. dan aku bangga punya teman se daebak kalian..

    eunwoo sie pasangan berisik lucu. saya ingin punya teman sprti mereka.

    dan aku masih berpikir,rumah peristirahatan sie kyuhyun itu segede apa? apakah segede tokyo dorm?
    istana goo jun pyo? hmm princess hours??

    keluarkan karyamu lagi yakk 🙂

    Suka

  6. Sekarang di tempat aku udah jam stengah 3 pagi..
    Ga bs bobo gara2 penasaran mau baca ff ini sampe abis >3< walaupun evil nya tetep ada. Kkkk~
    Pas deh thor!! Cus, lanjut~ ^^

    Suka

  7. Ga tau lah mau ngomong apa buat ff ini~ tiba2 kehilangan kata kata /aihhh XD
    Mas kyu kenapa sweet banget lah jadi pengen ngerasain jd hyojin /heuuunggg
    Pengennya sih cerita ini dijadiin series macem kyuminji story ekhm ekhm /kode keras/ wkwk

    Suka

  8. Sweet banget sumpah… ahh kyuhyun kenapa kau sweet bahkan romantis banget sih? aku kan jadi envy.. tapi disini feelnya dapet banget… huhuhu ehhh di akhir endingnya malahan aku lebih ngakak lagi.. chingu ngetik epep ini pas lagi kerja? omo..hebat gak ketahuan…haha malahan aku pernah baca epep pas ngasih tugas anak2.. hahahahaha *kita sama2 gila*

    Suka

  9. seru bangeeeeet dan gatau kenapa aku nangis baca ini apalagi pas scene di bandara. duh gakuat, kayanya sedih bgt :’ tp seru banget aku ampe baca 2 kali sampe setiap kalimat bener2 aku pahami(?)

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s