[3] Kasanoba Wangja

Author: Hanwoo

Cast: Hyukjae – Hanwoo – Changmin – and other cameo●

Genre: Straight – Romance ● Length: Part 3

Seperti inikah cinta?

Cinta yang mampu merubah segalanya ..

Cinta yang mampu merubah kesederhanaan menjadi sebuah keistimewaan

Itulah diriku yang mampu merubah presepsiku tentangmu

[Hyukjae-Hanwoo-Changmin-Hyojin]

Hyukjae’s POV

———————

Berniat untuk melupakannya, sudah kulakukan. Berniat untuk menjauhkannya, masih dalam usaha. Tapi sepertinya usahaku sia-sia. Seperti balon yang terbang tinggi. Setinggi mungkin balon itu terbang bebas di udara, tetap saja akan pecah seperti keinginanku saat ini.

Mengatahui Changmin berselingkuh dengan seseorang yang tidak kutahui karena aku hanya bisa mendengar suaranya saja dari dalam kamar mandi, membuat keinginan untuk melupakan Hanwoo semakin kecil. Changmin berselingkuh, ini kesempatanku untuk mendekati Hanwoo.

Kumatikan lampu dan mesin mobil hingga gelap dan sunyi. Aku keluar sembari mengunci pintu mobil lalu melangkah hendak membuka gerbang. Aku terkejut ketika melihat Hanwoo dengan mata memerah seperti habis menangis. Dia hampir terjatuh karenaku. Segera kutangkap tubuhnya. Tangannya mencengkram kerah bajuku. Air matanya mengalir . Aku sungguh khawatir. Ada apa dengannya?

“Gwenchana?” tanyaku.

Dia masih diam. “Gwenchana?” aku bertanya untuk kedua kalinya berharap dia mau menyahut memberitahu bahwa dia baik-baik saja untuk saat ini.

“Antarkan aku ke Daegu ..”

Beberapa menit kemudian kami sudah duduk di dalam mobil. Mobilku masih tetap di depan rumah Hanwoo. Hanwoo meminta tolong padaku. Awalnya aku sangat senang dan tidak percaya padanya bahwa dia meminta tolong padaku. Ini pertama kalinya dia membutuhkanku dan aku merasa berguna dihadapannya.

Aku hendak memutar kunci pada starter hendak menyalakan mesin mobilku. Namun kuhentikan aktivitasku itu lalu menoleh ke arahnya.

“Untuk apa pergi ke Daegu dengan wajah seperti itu?” tanyaku. Aku mulai curiga dengannya. Ini pasti ada hubungannya dengan Changmin dan seorang yeoja bernama Choi Hyojin yang sempat Changmin sebutkan namanya saat aku masih berada di toilet.

“Antarkan saja aku ke Daegu.” Ketus Hanwoo. Yeoja itu berusaha setenang mungkin menjawab ucapanku kali ini.

“Daegu itu luas, kau mau mencari siapa?”

“Sudah kukatakan antarkan aku ke Daegu !!! Kemanapun aku harus menemuinya !!!!” dia berteriak. Teriakannya memenuhi mobilku. Air matanya mengalir lagi. Aku terdiam melihatnya. Dia seperti lelah sekali malam hari ini. Hanwoo nampak mengontrol napasnya yang tersengal-sengal.

“Kalau kau tidak mau mengantarkanku, baiklah. Gwenchana.” Ucapnya. Apakah dia sedang mengancamku? Benar saja. Tubuhnya bergerak berbalik dan hendak membuka pintu mobil. Aku menarik tubuhnya dengan cepat hingga ia menatapku lagi.

“Baiklah, aku akan mengantarmu.”

Hanwoo’s POV

———————

Pikiranku tidak tenang. Benar-benar tidak tenang. Selama di perjalanan aku mencoba menghubungi Changmin dan Hyojin namun mereka berdua tidak mengaktifkan handphonenya. Aku benar-benar takut. Bahkan tubuhku melemas saat ini.

Kulempar handphoneku ke dashboard mobil sambil berteriak tidak memperdulikan Hyukjae yang sedari tadi berteriak memanggilku. Aku meremas rambutku dengan kedua tanganku mencoba menahan tangis. Kugigit bibirku ketika kurasakan sudah tidak kuat lagi menghadapi hari ini. Kurasa aku akan gila.

Hyukjae menepikan mobilnya lalu membalikkan badanku agar menghadapnya. Aku menatap matanya masih terus menangis.

“Waeyo? Kau jangan membuatku khawatir. Waeyo?” suaranya begitu lembut. Seandainya dia adalah Shim Changmin, ah itu tidak mungkin.

“Kenapa kau suka menyelingkuhi yeoja-yeoja itu?”

Dia terdiam. “Karena aku belum menemukan yang tepat, jadi aku mempermainkan mereka.”

Bingo! Jawaban yang sepertinya sangat tepat. Karena belum menemukan yang tepat? Apakah aku bukan orang yang tepat untuknya? Aku mendengus sembari menyunggingkan smirkku. Semua namja sama saja.

“Tapi sekarang aku sudah menemukanmu..”

Mendengar ucapannya sepertinya dia memang sudah ahli. Dia merayuku namun aku sama sekali tidak tergoda.

“Kau kira aku percaya padamu?”

“Kau perlu bukti?” matanya menatapku tajam. Wajahnya mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu disana. “Berselingkuhlah denganku jika dia menyelingkuhimu.”

Mataku terbelalak. Darimana dia tahu? Wajahnya mendekat lalu mengecup bibirku dengan lembut. Bibirnya mulai melumat bibirku secara perlahan. Tanganku mulai mendorong tubuhnya namun dengan kasar dia memeluk tubuhku. Dia sama sekali tidak memberikan ruang gerak untukku hingga aku sesak dan lemas.

Changmin’s POV

————————

Aku memejamkan mata terus merasakan kecupan-kecupan hangat yang diberikan Hyojin saat kami memasuki apartement setelah aku sudah menyelesaikan syuting iklanku di pantai. Kami berciuman. Merasakan kehangatan dan kerindukanku selama ini terhadap yeoja yang sedang mengangkat kaos hitamku lalu menyusupkan tangannya ke dalam kaosku. Dia sungguh nakal dan mencoba menantangku.

Kubawa dan kujatuhkan dia ke kasurku. Tanganku juga menyusup ke dalam kaos putih yang dikenakannya. Kuraba perutnya tanpa menghentikan ciuman kami. Dia yeoja yang sangat cantik, siapa bisa menahannya ketika dia mencoba mendekatiku. Kecantikannya sungguh berbeda. Aku seperti terbius ke dalamnya.

Hanwoo .. Jeongmal miane. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Aku tidak bisa mempertahankan pertunangan kita. Aku yang merusaknya lebih dulu.

Hyojin melepas ciuman kami dan menatapku. “Kapan kau akan mengatakan pada Hanwoo tentang hubungan kita?” tanyanya. Aku terdiam menatap mata yeoja ini. Dia benar-benar serius dengan keputusannya. Inilah cinta? Karena cinta semua akan bisa menjadi hancur. Entah sudah keberapa kalinya yeoja ini bertanya mengenai hubungan kami, tapi tetap saja aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Bersabarlah, jika kita terlalu terburu-buru tidak baik dengan Hanwoo.”

“Kau selalu saja mengatakan hal itu, apakah aku harus mengatakannya secepat mungkin?”

“Yak, kau tidak memikirkan perasaannya?”

“Apa kau memikirkan perasaannya?”

“Tentu saja.” Jawabku. “Tentu saja aku memikirkan perasaannya. Dia setia denganku, tidak mudah untuk semua itu terjadi baginya. Apalagi kau adalah sahabat dekatnya.”

“Apa kau yakin dia orang yang setia?”

Kukernyitkan keningku menatap Hyojin. Sudut kanan di bibir Hyojin naik membentuk sebuah smirk. Apa dia tahu sesuatu?

Hyukjae’s POV

———————

Kutatap ruanganku ini dalam gelap. Aku duduk di sofa hanya bisa tersenyum meratapi nasib. Nasib yang sial atau karma yang sedang menghampiriku? Yeoja itu benar-benar tidak tertarik padaku. Layaknya seribu yeoja yang hidup di dunia ini. 99% para yeoja menyukaiku dan hanya satu orang yang sepertinya tidak mau membuka hatinya untukku.

“Sudah puas tuan Lee?” tanyanya saat aku melepas ciumannya. Bibirku tidak bisa terbuka untuk membalas jawabannya. Lagi-lagi dia mendengus melemparkan pandangannya ke bawah dan tak lama kemudian menatapku kembali.

“Kau boleh menciumku sepuas mungkin. Kau boleh mengecup tubuhku sesuai dengan keinginanmu. Tapi jangan harap aku akan pernah memberikan hatiku untukmu. Yang kau ingin kan adalah bagaimana seseorang bisa dengan behasil memuaskanmu. Setelah puas, kau akan membuangnya, bukan begitu? Kau pikir aku sama dengan yeoja-yeojamu yang pernah kau kencani? Aku pergi.”

Aku tersenyum mengingat hal yang baru saja terjadi ketika dia membuka pintu mobil dan turun meninggalkanku. Aku tidak bisa mengejarnya.

Baru kali ini .. Baru kali ini .. Ada getaran hebat yang masuk melalui tubuhku. Seolah-olah menyetrumku membuat denyut nadi ini bergerak cepat mengantarkan darahku ke jantung yang berefek dengan detakannya yang sangat kuat. Begitukah pikirannya tentangku?

Hanwoo’s POV

———————

Aku sedang sakit. Ini semua karenamu, apa kau tidak ingin menjenguk dan mengucapkan maaf padaku?

Pesan ini sangat menggangguku di tengah pekerjaanku yang menumpuk. Aku mencoba menyibukkan diriku di kantor hari ini. Aku mencoba membuat sketsa untuk di bulan Desember nanti. Kukira Changmin yang menghubungiku tapi ternyata namja itu. Handphoneku bergetar lagi menandakan sebuah pesan masuk. Apakah dari Changmin? Dengan cepat kubuka pesan itu lagi.

Miane. Tolong beri aku kesempatan, kumohon. Berselingkuhlah denganku.

Berselingkuh dengannya? Cih. Apakah dia menyamakan diriku dengan dirinya yang suka berselingkuh? Dia kira jika Changmin berselingkuh aku juga harus membalas dendam? Apalagi dengan perbuatan lancangnya kemarin malam yang dengan berani dan percaya diri menciumku.

Terdiam. Ingatan kemarin kembali singgah di pikiranku. Kusentuh bibirku secara perlahan. Aku mencoba mengulum bibirku dan mampu membawaku pada hari kemarin dimana dia dengan puasnya mencium bibirku. Apa menariknya aku ini dimatanya? Aku hanyalah seorang yeoja biasa yang sudah mempunyai tunangan dan dia bisa segila itu karenaku.

Aku pulang ke rumah dan melihat ruangan ini begitu sepi. Aku sungguh lelah. Hari ini cukup melelahkan mampu membuatku melupakan kejadian yang terjadi kemarin. Tidak sengaja aku melihat sebuah bingkai poto yang terpajang di dinding dekat tangga menuju kamarku yang terletak di lantai dua.

Aku tersenyum miris menatap dua orang yeoja yang sedang memelukku. Senyum kami sangat baik pada hari itu. Hari dimana aku sudah berumur tujuh belas tahun. Hyojin dan Sooyoung onnie memberikanku surprise pada malam hari. Aku sangat ingat betul mereka membangunkanku tepat pada jam dua belas malam.

“Saengil Chukka hamnida.. Saengil Chukka hamnida.. Saranghanun uri Hanwoo, saengil chukka hamnida ..”

Nyanyian mereka terdengar semarak di telingaku yang berhasil membuatku bangun di tengah malam dan terharu karena mereka berdua. Bahkan air mataku sempat menitik di hari bahagia itu. Aku menaiki tangga berjalan sebentar hingga sampai di depan pintu cokelat. Ini adalah ruangan Hyojin. Dulu aku sering singgah keruangan ini sekadar bercerita dan mengganggunya namun semenjak kami menginjak usia dewasa, aku sangat jarang bertemu dan bercanda dengannya.

Aku membuka pintu itu dan mulai melihat isi di dalamnya. Rumah ini sedang sepi. Sooyoung onnie mungkin belum pulang, jadi tidak akan ada yang melarangku untuk singgah ke kamar ini. Kamar rapi yang pastinya selalu dibersihkan dan dirawat dengan baik oleh sang pemilik kamar, Choi Hyojin.

Di ruangan ini begitu banyak bingkai potonya dengan keluarganya dan juga denganku. Rasanya ingin menangis menatap sebuah poto kami berdua disaat kami sedang mengambil selca dengan kamera baru milik Hyojin yang diberikan oleh kedua orang tuanya saat ulang tahunnya. Kami berdua sangat cantik.

Aku duduk di ranjangnya. Tanganku mulai meraba sprai ungu yang menyelimuti tubuh ranjang. Aku tahu dia sangat suka sekali dengan warna ungu.

“Hyojin-a, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Merebut apa yang seharusnya bukan menjadi milikmu?”

Lagi-lagi aku menangis. Kurasakan sesak yang mulai merajai paru-paruku. Pikiranku mulai tidak fokus. Aku ingin tahu, dia sudah sejauh mana dengan Changmin? Rasa ingin tahuku lebih besar daripada rasa persahabatanku. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.

Kutatap laci di samping ranjangnya. Aku bangkit menghapus air mata lalu membuka laci itu. Aku membuka lembaran-lembaran kertas dan beberapa novel yang ada disana kemudian menatanya kembali seperti semula. Kakiku dengan cepat membuka bantal tidurnya memeriksa sesuatu disana tapi tidak ada apa-apa. Yakin tidak ada? Aku tidak percaya bahwa dia tidak menyimpan sesuatu yang berbau kekasihku.

Aku melirik lemari putihnya. Kubuka disana dan kulihat gaun-gaunnya yang tergantung rapi di hanger. Kubuka pintu lemari yang satunya, baju-baju kaos dan celana miliknya yang sering dia pakai seharI-hari. Antusias ini begitu menggebu hingga aku mencari semua celah-celah yang ada di ruangan ini. Aku memilah-milah bajunya satu persatu dan membuka semua laci-laci yang ada di lemari ini. Membuka kotak-kotak sepatu dan curigaku mulai bermunculan.

Aku takut bahwa ada salah satu barang yang kusentuh tadi salah satunya ada yang diberikan oleh Shim Changmin. Pikiran-pikiran negative itu mulai bermunculan.

Kulap keringat yang mengucur karena aku tidak menyalakan AC di ruangan ini. Napasku tersengal-sengal. Ada satu meja.. Satu meja yang belum kucari. Meja belajar yang menurutku seperti menyimpan banyak rahasia.

“Hanwoo-ya, sedang apa kau di kamar Hyojin?”

Aku terkejut. Suara Sooyoung onnie mengejutkanku. Kubalikkan tubuhku hingga melihat yeoja kurus nan tinggi itu yang heran melihat wajah kusutku dan bercucuran keringat. Sepertinya ini sudah jam pulang kerjanya.

“Apa yang sedang kau lakukan hingga wajahmu penuh dengan keringat?”

Apa yang harus kukatakan kali ini? Aku benar-benar bodoh karena lupa menutup pintu. Apa yang harus kukatakan pada kakak dari sahabat yang mengkhianatiku ini bahwa aku sedang berdiri di kamarnya hanya untuk mencari sesuatu hal yang berhubungan dengan tunanganku.

“Aku sangat merindukan Hyojin, onnie. Dia begitu sibuk akhir-akhir ini. Aku sempat latihan menari disini mengingat masa-masa dimana kita selalu bersama.”

Kudengar tawa Sooyoung onnie terpecah. Dia menertawakanku. Mungkin baginya ada yang lucu dari ucapanku. Tapi dari lubuk hatiku yang terdalam aku sungguh lega bahwa dia tidak berpikiran yang tidak-tidak tentangku.

“Itu hanya syndrommu yang akan menikah sebentar lagi dengan Changmin.”

DEG!

Kucoba menahan air mataku. Bagaimana bisa Sooyoung onnie berbicara seperti itu disaat aku tidak tahu dengan hubungan kami yang di rusak oleh dongsengnya sendiri? Seandainya dia tahu.. Seandainya dia tahu dengan seperti apa perlakuan Hyojin kepadaku pasti dia akan sangat menyesal mengatakan ini padaku.

Di dalam kamar aku menangis lagi. Menangis tanpa membuka pakaian kerjaku. Aku sungguh kusut. Banyak yang kupikirkan. Baru kali ini aku menyesal kenapa aku bisa dengan mudah menerima lamaran pertunangannya itu. Lalu bagaimana jika dia mengajakku menikah dengan keadaan dia masih mempermainkanku di belakang? Bagaimana jika aku tidak tahu dengan semua itu? Bagaimana jika aku tahu setelah kita menikah nanti? Shim Changmin, kau sungguh keterlaluan !

——

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku telat. Aku sedang telat bekerja dan memang sengaja tidak ingin masuk bekerja hari ini. Karena hati dan kondisi yang sedang hancur menurutku bukan hal yang tepat untuk menyibukkan diri seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.

Aku bangkit duduk di tepi ranjang. Pakaianku masih utuh dengan pakaian kerjaku yang kupakai kemarin. Kemeja putih panjang dengan celana kain berwarna hitam yang di bagian tumit modelnya dibuat menyempit.

Rumah besar ini terlihat sepi ketika aku sedang duduk di ruang tengan memeluk kedua. Aku sedang menunggu kedatangan seseorang. Aku benar-benar sakit. Baru kali ini aku merasakan sakit. Bagiku ini tidak adil. Disaat aku sudah mempertahankan semuanya dengan baik, tapi seseorang yang kupertahankan merusaknya begitu saja.

Shim Changmin .. Wajahmu sangat tidak pantas berbuat seperti ini pada dua orang sahabat yang saling menyayangi. Seharusnya kau tidak memberi harapan pada sahabatku. Seharusnya kau juga tidak mencintainya seperti itu.

‘KLEK’

Hatiku berdebar dan gugup ketika kudengar daun pintu itu terbuka. Napasku seperti habis ketika melihat seorang yeoja yang sedang mendorong kopernya melangkah masuk setelah menutup pintu. Dia menatapku heran. Sepertinya dia terkejut melihatku yang sedang menatapnya. Emosiku memuncak setelah melihat kehadirannya.

“Hanwoo-ya !” sapanya sedikit berteriak. Senyumnya begitu manis dihadapanku seolah-olah menyadarkanku bahwa senyuman itu adalah senyuman palsu. Kupikir aku akan memulai permainan ini sekarang juga.

Kusunggingkan senyumku ketika melihatnya melangkah menghampiriku. Kuturunkan kakiku. Ah ternyata dia masuk ke dapur mungkin mengambil beberapa kaleng minuman. Tidak, tidak . Dia bukan sepertiku yang sangat senang mengkonsumsi soft drink atau beberapa wine di dalam kulkas.

Benar saja tebakanku dia kembali menghampiriku dengan sebuah susu vanilla kotak di genggamannya. Hyojin duduk disampingku membiarkan kopernya berdiri tegak disampingnya.

“Sungguh melelahkan melakukan sebuah penelitian.” Ucapnya sambil mencecap susu kotaknya.

Melelahkan? Benarkah? Memang kau sedang meneliti apa Choi Hyojin? Meneliti hati seseorang namja yang sudah memiliki tunangan itukah hobi barumu, sahabatku?

“Memang kau meneliti apa?” tanyaku.

“Banyak yang kuteliti. Aku meneliti bagaimana caranya mengukur sudut pandang seorang pelukis agar mendapatkan hasil lukisan yang sangat indah.”

Benarkah? Benarkah kau meneliti semua itu untuk tugas kuliahmu? Atau itu hanya alasanmu untuk berkelit saja agar aku tidak curiga bahwa kau sedang mencoba melukis seorang namja yang sudah memiliki tunangan?

Kuhela napasku. Sungguh berat rasanya. Aku tidak ingin menangis dihadapannya saat ini. Aku belum ingin menangis. Aku masih ingin melihat seberapa mampukah Choi Hyojin berkelit di belakangku.

“Lalu, apa semua itu berhasil?”

“Ne. Aku membawa banyak bahan penelitian pulang dan aku sangat sibuk setelah ini.”

“Kau terlalu sibuk, Hyojin-ah. Sooyoung onnie selalu bercerita padaku bahwa dia merindukan dongsengnya. Tidak bisakah kau melakukan penelitian-peneitian itu dirumah?”

Hyojin terdiam. Apa yang membuatmu terdiam kali ini Hyojin-ah? Apa kau merasa berdosa dan bersalah dihadapan onniemu yang kau sayang itu? Atau kau memikirkan aku? Atau kau sedang menjawab pertanyaanku di dalam hatimu yang paling dalam bahwa tentu saja tidak akan mungkin melakukan penelitian-penelitian itu di rumah ini.

“Jeongmal? Mungkin nanti aku akan memasak makan malam untuknya dan untukmu juga, Hanwoo. Oh iya, kenapa kau tidak pergi bekerja?”

“Aku merasa tidak enak badan.”

“Yak, kau sakit? Apa perlu aku mengantarmu ke dokter? Aku punya kenalan dokter Kim Jongwoon. Dia mantan kekasihku dan aku masih berteman baik dengannya. Kau bisa kuantarkan kesana.” Ucapnya panjang lebar sambil menyentuh keningku yang kucoba menepis tangannya sebisa mungkin. Karena jika dia menyentuhku sedikit saja, hatiku akan semakin hancur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia berani menyentuhku.

“Anio, gwenchana.”

“Tapi Hanwoo-ya, badanmu tidak demam. Kau sakit apa?”

“Tentu saja Hyojin-a. Aku memang tidak demam. Aku merasa tidak enak badan setelah dua hari Changmin tidak menghubungiku. Apakah dia baik-baik saja? Entah kenapa aku sungguh takut..”

“Takut apa?” tanyanya.

Kutatap matanya tajam seolah-olah ingin menerkamnya bahwa kaulah orang yang membuatku takut selama ini hingga membuatku tidak bekerja hari ini.

“Aku takut ada yeoja yang menggantikan posisiku ..”

Author’s POV

——————-

“Aku takut ada yeoja yang menggantikan posisiku ..”

Hyojin menutup pintu kamarnya dan membiarkan kopernya begitu saja. Matanya terpejam menempelkan tubuhnya di daun pintu. Entah kenapa dia sedikit sakit mendengar ucapan Hanwoo tadi. Dia merasa Hanwoo tidak main-main dengan ucapannya.

Hyojin sedikit tersentuh. Dia tidak mengerti dengan dirinya yang kini tengah menjadi pihak ketiga diantara hubungan sahabatnya itu.

Entah sejak kapan dia merasa benar-benar kagum dengan seorang Shim Changmin. Di matanya Shim Changmin benar-benar tipe idealnya. Apakah mungkin karena masa lalunya yang silam dengan seorang Cho Kyuhyun? Namja yang mirip sekali dengan Shim Changmin. Entah kenapa dia sungguh terobsesi dengan Cho Kyuhyun hingga bertemu dengan Changmin yang notabene menurutnya mereka sangat mirip bahkan seperti kembar. Walaupun dia tahu Shim Changmin dan Cho Kyuhyun dilahirkan dari keluarga dan kondisi ekonomi yang berbeda dan dua namja itu sama-sama memiliki yeojachingu.

Drrtt.. drrtt ..

Hyojin mengangkat telponnya yang ternyata dari Changmin. Dia berusaha tersenyum mencoba menyangkal bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kenapa kau menelponku?” tanyanya.

“Mwo? Memangnya aku tidak boleh menelponmu?”

“Kau harus menghubungi tunanganmu dulu baru menghubungiku. Hari ini dia tidak bekerja karena sakit banyak memikirkanmu. Tidak maukah kau datang untuk menjenguknya?”

“…” Changmin terdiam.

“Changmin-a.. Dia sahabatku juga. Tolong perlakukan dia dengan baik.”

“Jika aku kerumahmu untuk menemui Hanwoo, lalu bagaimana dengan perasaanmu?”

“Gwenchana.. Aku juga merindukanmu.”

Hanwoo menggigit bibirnya ketika mendengar percakapan sahabatnya dengan tunangannya di telpon. Dia tidak sengaja naik ke lantai dua hendak menuju kamarnya namun suara Hyojin terdengar sampai luar hingga Hanwoo mencoba menguping apa yang yeoja itu bicarakan dari balik pintu. Hanwoo bersandar pada daun pintu. Hatinya benar-benar sakit.

Hanwoo’s POV

———————

Dia datang. Namjaku yang tampan datang menjengukku. Dia berdiri dengan senyumnya yang sumringah sepertinya sangat senang sekali. Aku juga harus senang bukan, bahwa dia sudah datang menjengukku walaupun aku tahu Hyojin yang mengingatkan dia untuk menjengukku. Dia masih tetap sama, memberikan buket bunga mawar untukku. Aku mengambil buket itu. Harum. Bunga mawar ini sangat harum dan menenangkan hati.

“Bogoshipo..” ucapku mencoba menampilkan senyuman terbaik dihadapannya.

“Nado. Mianeyo.. Hanwoo..”

“Untuk apa?”

“Karena merindukanku kau sampai tidak bekerja.”

Aku mengernyitkan keningku menatapnya. Ini bukan hal aneh lagi Shim Changmin jika aku tidak tahu kau mempunyai sebuah hubungan yang istimewa di belakangku dengan Choi Hyojin.

“Darimana kau tahu aku tidak bekerja? Bahkan kau tidak ada menghubungiku sama sekali.”

Dia nampak tenang dan tidak gugup karena aku bertanya seperti mengintrogasinya. Bening sekali seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa di belakangku. Tidak ada gelagat yang mencurigakan. Dia seperti sudah ahli dalam hal ini. Dia terlihat seperti Lee Hyukjae si playboy gila itu.

“Karena chemistry. Karena aku terlalu mencintaimu jadi aku tahu kau pasti tidak bekerja karena merindukanku.”

Aku terdiam. Banyak yang kupikirkan bahkan sepertinya hati ini tergores ketika mendengar ucapannya. Shim Changmin, kau berbohong. Kau berbohong padaku. Jika aku tidak tahu kau mengkhianatiku, mungkin aku akan tersentuh dengan ucapanmu.

Changmin tertawa. “Bodoh. Aku menelponmu ke kantor karena handphonemu tidak aktif dan salah satu staff mengatakan bahwa kau sedang sakit. Kau begitu bodoh.”

Aku tersenyum miris mendengarnya. Dia mengatakanku bodoh. Aku memang bodoh Shim Changmin dan kaulah yang cerdas. Kutatap matanya yang mulai berpaling dariku. Aku tak sengaja melihat retina matanya. Aku melihat sesosok yeoja yang berdiri di belakangku. Mau apa dia kesini? Mau mengganggu kami? Ini tidak cukup Choi Hyojin, kau harus melihatnya seberapa mampu kau berkhianat di belakangku.

Kurangkul Shim Changmin kemudian mencium bibirnya. Matanya masih tidak bisa berpaling dari Choi Hyojin, jangan harap. Kulepas buket bunganya dari genggamanku hingga bunga itu terjatuh ke lantai. Tanganku bergerak naik menyentuh pipinya agar dia fokus dengan ciumanku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu setelah melihat ciuman ini Choi Hyojin.

—–

Setelah puas berciuman dengan Changmin dihadapan sahabat baikku, aku mengajak Changmin untuk makan siang. Kurasa dia sedang lelah karena pekerjaannya kemarin yang katanya sedang membuat iklan mobil. Baiklah, mungkin aku mempercayainya. Tapi setelah syuting itu selesai, apakah aku bisa mempercayaimu lagi tunanganku yang tampan?

“Kau harus makan yang banyak. Aku menggoreng nugget dan ham. Jarang-jarang aku memasak dan kau harus memakannya. Ah.. Hyojin-a kau harus makan siang juga bersama kami. Aku sudah memasak untukmu juga.” Ujarku ketika melihat Hyojin turun dari lantai dua.

 Hyojin terdiam membuatku tidak tega melihatnya. Kutaruh piringku yang sudah kuisi sedikit nasi didepan Changmin lalu tersenyum menghampiri Hyojin. Kudorong Hyojin agar dia berjalan cepat ke dapur.

Kutatap mereka sungguh akward dan tidak berniat saling pandang. Jadi begini rupanya. Baik, aku sudah mengerti dan cukup mengerti.  Ini sungguh menyenangkan. Entah kenapa aku baru merasaka kehadiran mereka berdua yang kini terlihat menyatu. Kenapa aku baru menyadarinya? Dari ke-akward-an mereka semua sudah terlihat cukup jelas.

“Duduklah .. Kenapa kau terlihat kaku sekali Hyojin-a? Tiak seperti biasanya.” Sindirku seoah-olah tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Hyojin duduk disampingku. Kusentuh tangan Changmin lembut ketika aku merasa sangat senang dia sudah mengunyah makanan yang kumasak.

“Oppa, kapan kau akan menikahiku?”

“Uhuuk.. Uhuukk !!”

Changmin tersedak dan dengan cepat. Apa sekaget itukah? Sebagai calon istri yang baik aku memberikan minum dengan cepat. Senang sekali bisa berbuat seperti itu dihadapan Hyojin. Dia tidak akan bisa melakukan hal yang sama dihadapanku. Pasti dia sangat menginginkan hal ini.

“Ada apa denganmu? Apakah makananku tidak enak?” tanyaku pura-pura kahwatir. Padahal aku tahu bahwa dia tersedak karena ucapanku yang berhasil kulontarkan dihadapan Hyojin, selingkuhannya.

‘Ting Tong Ting Tong ..’

Bel rumahku berbunyi. Kenapa ada saja yang menggangguku? Ini sungguh menyebalkan. Aku melihat Hyojin bangkit dari duduknya. Mau kemana dia? Mau berpaling dari Changmin dan pura-pura menyibukkan diri dihadapanku? Itu bukan rencanaku saat ini Hyojin.

“Biar aku saja yang membuka pintu.” Cegatku sambil membersihkan mulutku dengan tissue.

“Anio, biar aku saja. Sepertinya ada hal penting yang harus kalian bicarakan.”

“Memang, tapi bisa nanti. Aku rasa clientku sedang di depan menungguku. Mungkin aku saja yang menemuinya.”

Client? Alasan macam apa ini? Tentu saja aku sedang berbohong. Dengan cepat aku bangkit keluar untuk membuka pintu. Entah apa yang akan mereka bicarakan saat ini, bersenang-senanglah di belakangku jika kau berani Hyojin. Aku memberimu waktu untuk memarahi Changmin karena aku berhasil menciumnya tadi.

Aku membuka pintu dan benar-benar terkejut ketika melihat siapa yang sedang berdiri dihadapanku saat ini. Bukan Lee Hyukjae tapi yang datang kini adalah manajernya, Choi Siwon. Untuk apa dia datang kemari?

“Anye..”

“Tuaaan!! Apa yang kau lakukan disini?” sergahku dengan cepat menutup pintu dan sempat menengok ke belakang bahwa dua orang itu masih duduk di meja belakang tanpa melihatku. Aku keluar dan menarik tangan Choi Siwon mengajaknya menjauh ke sudut teras. Aku sangat takut Changmin melihatnya.

“Miane apakah kedatanganku sangat mengganggumu?”

“Tentu saja sedikit mengganggu tuan. Di dalam ada tunanganku. Ada apa tuan?”

“Aiiishh namja itu memang membuatku malu.” Geramnya.

Namja itu? Apa maksudnya? Apa yang dimaksud adalah Lee Hyukjae?.

“Maksud tuan Choi siapa?” tanyaku.

“Lee Hyukjae.”

Aku mendongakkan kepala menatap Choi Siwon yang sedang menunduk lesu. Ada apa lagi dengan namja itu? Tidak cukup menggangguku hanya sekali saja? Benar-benar menyebalkan.

“Ada apa dengannya?”

“Sudah dua hari dia tidak mau mengikuti tournya ke China hingga dia harus memundurkan jadwalnya lagi tiga hari. Hyukjae mabuk dan terus menyebutkan namamu. Apa yang sedang terjadi dengan kalian berdua? Hyukjae tidak suka minum dan jika dia mencoba minum-minuman beralkohol itu mabuknya akan semakin parah. Sudah dua hari dia mabuk seperti itu, bisakah kau menghentikannya?”

“Kenapa harus aku? Dia memintaku kembali?”

“Kumohon. Ini menyangkut karirnya. Kurasa kau bisa menanganinya karena hanya kau yang diinginkannya.”

Aku terdiam. Kenapa bisa seperti ini? Aku benar-benar heran dengan dunia. Seseorang mengkhianatiku tapi seseorang lagi datang memohon padaku.

“Nanti aku akan pergi menyusul ke apartementnya.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu disini.”

“Mworago? Tuan Choi, tolong jangan seperti Hyukjae-ssi yang selalu memaksaku. Di dalam ada Shim Changmin.”

“Tapi aku membutuhkanmu sekarang, nona. Miane sebelumnya. Aku hanya takut dia berbuat yang tidak-tidak.”

Cih. Aku mendisis sebisa mungkin. Playboy apa dia itu? Apakah dia selalu memaksa semua yeoja yang akan dia mangsa? Ini benar-benar menyebalkan sekali.

“Jika aku berhasil, berapa uang yang bisa kau berikan padaku?” tantangku. Ide yang bagus bukan? “Kupastikan aku berhasil membuatnya sukses, bahkan lebih sukses dari tunanganku sendiri. Berapa bayaran yang bisa kau beri untukku?”

Author’s POV

——————-

Hanwoo duduk disamping kemudi. Dia terpaksa meninggalkan Changmin untuk yang kedua kalinya dengan alasan clientnya sedang menunggu untuk membicarakan desain yang sedang dikerjakannya.

Berbohong lagi. Tapi kali ini tidak apa-apa baginya. Entah kenapa dia muak dengan semua kebohongan yang dilakukan oleh tunangannya. Jadi dia dengan tenang berbohong dan membiarkan Hyojin dan Changmin yang dalam pikirannya mungkin akan bertengkar.

“Nona Lee ..”

“Tuan Choi, sudah kukatakan jangan memanggilku nona. Panggil aku Hanwoo saja.” Ucapku sambil menatap namja yang sedang duduk mengemudi disampingku. Aku baru menyadari bahwa namja ini benar-benar berwibawa dan sangat tampan. Kenapa Hyukjae oppa tidak bisa seperti namja disampingku ini? Aku mungkin akan menyukainya jika dia setampan ini.

“Baiklah Hanwoo, kau juga jangan memanggilku tuan. Umurku sama dengan Hyukjae. Kami adalah teman semasa SMA.”

“Jeongmal?”

“Ne. Kami bersahabat bertiga. Aku, Lee Hyukjae dan Lee Donghae. Tapi Lee Donghae sedang pergi keluar kota.”

Hanwoo mendengarkan namja ini berbicara yang secara tidak langsung ia mengetahui kehidupan Hyukjae di masa lalu. Apakah menurutnya sangat menarik bercerita dengan orang yang baru dikenal sepertinya?

“Kau teman yang baik untuknya. Kenapa kau bisa tahan berteman dengan playboy seperti dia?”

“Dia memang playboy, tapi dia adalah teman yang sangat baik dan setia kawan. Aku berhutang banyak padanya. Dia menyelamatkanku dari kesengsaraan hidup. Aku juga sangat berharap ada seorang yeoja yang dapat merubahnya. Tapi sayang sepertinya untuk kali ini dia sedang mendapatkan karmanya.” Ujar Choi Siwon. Hanwoo mengernyitkan keningnya karena sedikit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Siwon.

Choi Siwon memasukkan mobilnya di sebuah mini mart. Hanwoo menoleh melihat mini mart itu entah apa maunya namja ini.

“Bisakah kau keluar untuk membelikan makanan yang disukai Hyukjae? Kurasa dia belum makan dari kemarin karena kulkasnya kosong. Jika aku yang keluar, aku takut para fansku mengikutiku.”

“Fans? Kau hanya seorang manajer.”

“Mollayo, tapi banyak yeoja yang mengambil potoku jika melihatku.”

“Mworago?”

Hanwoo benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh manajer Lee Hyukjae ini. Sepertinya dia harus mencari tahu siapa sebenarnya Choi Siwon ini. Apakah dia seterkenal itu?

“Baiklah. Aku harus membeli apa?”

“Kau harus membeli susu strawberry lima kotak yang besar, sayur-sayuran dan daging babi. Apakah kau bisa memasak?”

“Ngg.. Miane, aku tidak bisa memasak. Apakah kau menyuruhku untuk menjadi calon istrinya?”

“Kumohon untuk kali ini.. Aku akan membayarmu lebih.”

Hanwoo menghela napas. Lee Hyukjae benar-benar merepotkannya kali ini. Choi Siwon tetap bercakap ria memberitahu apa saja barang-barang yang harus dibeli di mini mart ini.

—————

Changmin dan Hyojin duduk terdiam di meja makan. Hyojin menunduk menahan tangisnya. Changmin merasa bersalah pada yeoja ini. Dia yakin Hyojin sedikit sedih melihatnya tadi ketika Hanwoo menciumnya. Tapi Hyojin juga tidak berhak untuk marah. Maka dari itu Changmin mengerti bagaimana jika dia yang berada diposisi yeoja itu.

Changmin mencoba  menggenggam tangan Hyojin. Hyojin mengangkat wajahnya mencoba tersenyum menatap Changmin.

“Apa kau marah padaku?”

“Memangnya aku bisa apa selain menyimpan amarahku di dalam hati?”

Changmin menghela napas. “Mian..”

“Sampai kapan kita akan seperti ini Changmin oppa? Sampai kapan kau akan berciuman dengan Hanwoo dihadapanku? Sampai kapan kau berhenti membelikan Hanwoo buket-buket bunga itu? Aku juga mau ! Aku sangat iri padanya !”

Changmin terdiam. Ini sungguh susah baginya menjawab pertanyaan Hyojin. Tidak segampang itu baginya. Karena dia artis besar dan sudah bertunangan dengan Hanwoo dia hanya takut pamornya turun karena berita besar bahwa dia sedang berselingkuh.

“Jika kau tidak tahan, kau bisa pergi meninggalkanku Hyojin-a. Aku tidak bisa segampang itu memutuskan Hanwoo begitu saja.”

“Baiklah aku mengerti. Aku akan menunggu sampai kapanpun, oppa.”

Changmin tersenyum lega mendengarnya. Dia benar-benar namja gila yang penuh dosa. Dia akan membuat dua orang yeoja yang tidak berdosa itu sakit. Dia benar-benar merasa bersalah. Changmin menyentuh pipi kanan Hyojin mengelusnya dengan lembut. Wajahnya mulai mendekati wajah Hyojin lalu mencium bibir Hyojin lembut. Bibir Changmin melumat lembut bibir Hyojin. Tangannya mulai merangkul punggung Hyojin tanpa khawatir ada seseorang yang melihatnya.

“Hyojin-a !”

Ciuman mereka terhenti begitu saja. Changmin melepas ciumannya lalu menoleh ke depan. Hyojin benar-benar terkejut ketika siapa yang dilihatnya datang siang-siang seperti ini. Mata yeoja itu seperti membara mengobarkan api dan rasa marahnya bertambah ketika melihat Hyojin melepas rangkulan Changmin.

———

Hyukjae menatap sekilas yeoja yang ada dihadapannya ketika ia membuka pintu apartementnya. Alisnya terangkat satu. Dia mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar hanya untuk menormalkan pandangannya. Namun bayangan yang dihadapannya tetap normal. Takutnya dia salah melihat karena selama ini dia keseringan minum dan selalu begadang.

Hanwoo merasa salah tingkah dilihat seperti itu oleh Hyukjae. Dia datang sendiri ke apartement Hyukjae dan menyuruh Choi Siwon untuk pergi saja karena dia yakin dia bisa mengurus namja gila ini dengan benar. Choi Siwon sudah menyerah dan sangat berserah kepada Hanwoo.

Kaki Hanwoo terangkat hendak masuk ke dalam namun Hyukjae dengan cepat menutup pintunya kembali. Hanwoo mendelik saking terkejutnya ketika pintu itu terbanting keras. Hanwoo mencoba menggedor-gedor pintunya.

“Hyukjae-ssi !! Lee Hyukjae !! Buka pintumu !”

“…”

Tidak ada jawaban dari dalam. Hanwoo tetap tidak mau kalah. Tangannya menekan-nekan bel.

“Hyukjae-ssi!!! Kenapa kau menyebalkan sekali? Buka pintunya !”

“………”

Tidak ada jawaban. Hanwoo menunduk mengernyitkan keningnya. Dia mencoba mengatur napas dan mengontrol emosinya. Dia merasa dipermainkan oleh Hyukjae. Merasa tidak terima dia memainkan bel itu lagi dengan menekan-nekannya terus-menerus.

“Baiklah!” Hanwoo menghentikan aktivitasnya. “Sampai kapanpun kau tidak mau membuka pintu untukku, aku akan menunggu sampai kau membukanya untukku!”

Hanwoo duduk bersila di samping pintu menyandarkan punggungnya ke tembok dan menaruh tas belanjaannya di samping. Hanwoo menekuk lututnya lalu memeluk erat lutut itu. Hanwoo menitikkan air matanya. Dia benar-benar lelah dan butuh seseorang yang bisa menenangkannya. Tapi orang yang diharapkannya tidak mau keluar bahkan tidak memperdulikannya.

Hyukjae’s POV

———————-

Aku lelah. Aku benar-benar lelah dan ingin menyerah. Tapi kenapa ketika aku menyerah dia datang lagi? Aku mengabaikan yeoja itu. Apakah aku benar-benar si brengsek playboy? Apakah dia bukan orang yang tepat untukku? Apakah dia akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti yeoja-yeoja lainnya? Apakah aku benar bisa melukai hati yeoja yang sudah terlukai itu? Kau jahat Lee Hyukjae. Kau memang benar orang jahat.

Bukankah kau sangat ingin dia melirikmu? Dia datang menemui harusnya kau juga menemuinya. Kau sungguh namja yang bodoh. Suara bel itu sudah tidak terdengar lagi setelah beberapa menit yang lalu dia mengancam bahwa dia akan tinggal jika aku tidak mau membuka pintu. Benarkah? Aku penasaran. Bolehkah aku mengintip untuk melihatnya?

Drrtt .. Drrttt …

Handphoneku bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Aku membuka dan membacanya. Dari Hanwoo.

Berapa lama lagi aku harus menunggu?

Sehari? Dua hari? Bukakan pintu untukku.

Aku ingin berbicara denganmu.

Aku menghela napas. Entah kenapa telingaku menjadi panas. Wajahku rasanya seperti kepiting rebus. Hatiku berdebar ketika membaca pesannya yang begitu lembut. Dia memintaku. Walaupun memintaku untuk membuka pintu tapi ini adalah sebuah jalan untukku. Kenapa aku berlebihan seperti ini?

Drrtt… Drrtt …

Kau tidak punya minyak angin? Mag, ku kambuh. Aku serius.

Gojimal. Dia pasti sedang berbohong agar aku mau membukakan pintu untuknya. Lebih baik kudiamkan saja dia. Pasti dia akan merasa bosan dan pergi dari tempat ini. Ini pasti suruhan Choi Siwon. Orang itu pasti membujuk Hanwoo untuk datang ke tempatku karena sudah dua hari aku membusuk di ruangan ini. Ruangan ini sangat kotor. Botol-botol wine banyak berserakan di lantai karena beberapa hari ini aku menenangkan diri dengan cara meminum wine. Padahal aku tidak bisa meminum minuman beralkohol. Yeoja itu membuatku gila. Dia harus membayarnya karena membuatku gila.

Aku benar-benar merasa hancur. Tapi .. Entah kenapa setelah aku melihatnya datang, energiku seperti terkumpul hingga aku bisa berjalan dengan baik, berpikir dengan baik hanya karena melihatnya.

Author’s POV

——————–

Hanwoo merintih meremas perutnya yang terasa sangat sakit. Sudah dua jam dia duduk di depan pintu dengan perut kosong karena belum makan sedari tadi siang semenjak meninggalkan makanannya di atas meja tadi gara-gara Choi Siwon datang menemuinya memintanya untuk membujuk Hyukjae di apartementnya. Tapi namja itu tetap tidak membukakan pintu untuknya hingga dia merasa asam lambungnya meningkat dan perih.

Dia sudah mencoba menghubungi Hyukjae berkali-kali namun tidak ada balasan dari dalam. Hanwoo merasa tidak kuat. Dia ingin menangis karena merasa dipermainkan oleh dua namja di dalam hidupnya. Hanwoo mencoba berdiri mencoba untuk menekan bel namun kakinya sangat lemas dan tidak kuat. Hanwoo terjatuh dan duduk di tempat semula. Dia sudah tidak tahan hingga menelpon Choi Siwon untuk menjemputnya pulang. Dia tidak berhasil membujuk Hyukjae. Benar-benar memalukan.

“Aku benar-benar akan mengutukmu Hyukaje-ssi !”

———

Mendapat telpon dari Hanwoo bahwa Hyukjae tidak mau membuka pintu sampai asam lambungnya kumat Choi Siwon mempercepat laju mobilnya menuju apartement Hyukjae untuk menjemput Hanwoo. Choi Siwon mengeraskan volume earphonenya.

“Waeyo?” tanya suara di sebrang. Hyukjae masih duduk dengan sweater hitamnya. Dia sedang memutar-mutar botol wine di mejanya.

“Sampai kapan kau akan mendiamkan yeoja itu di depan rumah?”

“Untuk apa kau menyuruhnya datang? Aku tidak butuh dia lagi.”

“Begitukah? Kau tahu, dia menelponku. Asam lambungnya kumat, kau bisa apa? Jika terjadi apa-apa dengannya bagaimana? Bukakan dia pintu. Aku sudah dalam perja ..”

‘Tuutt.. Tuuutt … Tuuut ..’

Teleponnya terputus begitu saja. Hyukjae mematikan sambungannya. Dia tahu namja itu pasti sedang panik saat ini. Siwon menaruh handphonenya di jok samping lalu masih tetap fokus mengemudi menuju apartement Hyukjae.

———-

‘PLAK’

Hyojin benar-benar tidak percaya Sooyoung menampar pipinya. Hyojin menatap tajam Sooyoung yang sepertinya yeoja itu benar-benar sedang marah terhadap dongsengnya. Hyojin tidak mampu membendung air matanya lagi. Tidak ada siapapun di ruangan ini setelah Sooyoung memukul Changmin dan mengusirnya pulang. Hanya dia dan Hyojin.

“Onnie!”

“Jangan memanggilku onnie lagi! Siapa kau?! Apa aku pernah mengajarkanmu seperti ini?!”

“Onnie ! Kau tidak tahu siapa aku ! Kau tidak tahu!” teriak Hyojin. Air matanya mengalir bercampur dengan keringat membuat wajahnya basah.

“Aku memang tidak tahu siapa dirimu, Choi Hyojin ! Bahkan ketika kau menjadi wanita jalang pun aku tidak tahu ! Apa kau pernah bercerita padaku?! Bahkan kau mengkhianati sahabatmu sendiri. Apa kau tidak malu? Kita sudah menumpang disini ! Kau kaya karenanya ! Orang tua kita kaya karena keluarganya !” marah Sooyoung.

“Baik. Baik jika itu yang kau mau aku akan pergi ! Aku tidak butuh kekayaan itu!”

Ketika cinta lebih penting daripada teori. Ketika cinta lebih penting dari nilai persahabatan dan kekeluargaan. Hyojin melangkah pergi meninggalkan Sooyoung yang terlihat menghela napas mencoba mengejarnya. Sooyoung menangkap tangan Hyojin menarik tubuh Hyojin agar menghadapnya.

“Apa kau mau mengingap di rumah namja itu?! Hentikan Choi Hyojin!”

“Kau ! Kau kira aku tidak tahu? Kau dan aku sama saja, onnie. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau sedang menjadi yeoja simpanan dari seorang penulis lagu terkenal, Yo Yongjin? Aku tahu onnie. Aku tahu semua itu bahkan kau lebih memalukan dariku!”

Sooyoung tercekat. Dia terdiam dan tidak percaya dengan ucapan Hyojin. Hyojin membalikkan badan meninggalkan Sooyoung seorang diri di rumah besar ini. Sooyoung menekuk lututnya menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Hatinya benar-benar perih atas kejadian ini. Air matanyapun jatuh.

Hyukjae’s POV

———————-

Aku membuka pintu apartement setelah Choi Siwon menelponku mengatakan bahwa keadaan Hanwoo yang sedang sakit. Jika terjadi apa-apa padanya aku akan merutuk diriku sendiri karena aku tidak memperdulikannya. Kau memang benar bodoh Lee Hyukjae !

Benar saja. Kulihat dia sedang menunduk meringkuk di lantai sambil memeluk kakinya yang ditekuk. Aku jongkok dihadapannya menyentuh pundaknya mencoba mencari tahu apakah dia baik-baik saja? Aku menghela napas mencoba menenangkan diri.

“Hanwoo..” panggilku. Dia tidak menjawab.

“Hanwoo-ssi !” kali ini aku panik. Kuangkat kepalanya dan melihat matanya yang penuh air. Ini salahku. Semua salahku. Aku tidak tahu bahwa dia beneran sakit. Kuangkat tubuhnya lalu kugendong dia sampai masuk ke dalam kamarku. Dengan cepat aku mencari minyak angin di kotak obat lalu kembali masuk ke kamar.

Dia sudah tertidur. Dia benar-benar sakit. Aku membuatnya sakit seperti ini, kau benar-benar bodoh Lee Hyukjae. Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menyentuh perutnya saat ini? Kutatap wajahnya yang tertidur. Dia seperti sedang menahan sakitnya.

Baiklah. Bagaimana aku bisa tahan melihatnya menahan sakit? Kusingkapkan bajunya hingga memperlihatkan perutnya. Benar-benar mulus. Aku mencoba tenang. Kutuangkan minyak angin di tanganku lalu mengusapnya di perutnya dengan lembut. Aku harap dia segera sembuh.

Author’s POV

——————-

Seseorang yeoja di masa lalu, di dunia yang tidak seperti dunia modern saat ini. Entah dimana dia sedang berada sekarang. Dikelilingi kebun bunga mawar disekitarnya. Yeoja itu berdiri di atas bebatuan merentangkan tangannya dan memejamkan matanya. Merasakan desiran angin yang menyentuh di tubuhnya sangat lembut. Beberapa kupu-kupu terbang mengelilinginya. Dia merasakan ini adalah Surga.

Yeoja itu membuka matanya dan mulai melihat bayangan seseorang dari jauh. Bayangan orang itu berjalan menghampirinya. Dia melihat bahwa orang yang di ujung sana memperlihatkan siluet tubuhnya yang benar-benar bagus. Tampan. Dari jarak kejauhan saja dia bisa memprediksi bahwa namja itu sangat tampan. Semakin mendekat dan mendekat dia mengenal seseorang yang dikenalnya.

Hanwoo terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal seperti habis lari marathon. Dia sedang bermimpi. Tadi itu adalah mimpinya. Matanya mulai fokus dan tersadar bahwa dia berada di ruangan lain. Dia melihat ruangan ini lalu mendikte semua yang ada di ruangan ini hingga tidak sadar ada seorang namja yang sedang duduk sedari tadi menatapnya.

Namja itu terlihat gugup dan tidak tahu harus mengatakan apa. Namja itu benar-benar kehilangan kendali ketika mengingat beberapa jam tadi mengelus perut Hanwoo. Dia sampai tidak tahu cara berbicara yang baik ketika melihat yeoja ini bangun.

Tetapi tidak dengan Hanwoo. Dia benar-benar merasa sangat-sangat kesal dengan namja ini. Namja ini tidak menolongnya ketika dia benar-benar merasa membutuhkan bantuannya.

“YAAAK!!! Kenapa kau tidak menolongku tadi?! Kau mau membiarkanku mati karena penyakitku ini? Babochorom ! Bagaimana bisa Choi Siwon memliki sahabat seperti ini yang mengatakan bahwa aku adalah segalanya tapi untuk menolongku saja tidak. Benar-benar, aku benar-benar merasa dibohongi.”

Hanwoo berkicau seperti burung pagi. Dia bangkit melepas selimutnya kemudian pergi dari tempat ini. Hyukjae bangkit menyamai langkahnya dengan Hanwoo. Hanwoo memegang gagang pintu hendak keluar dari ruangan ini namun Hyukjae menariknya.

“Ajuhsi !” Hanwoo mendelik menatap Hyukjae.

“Tinggallah untuk beberapa waktu disini..”

“Mworago? Kau kira aku yeoja apa tinggal di tempat orang yang tidak kukenal?”

“Aku ingin mengenalmu dan aku juga ingin kau mengenalku. Aku ingin kau mengenalku sebagai namja yang baik bukan seorang playboy.”

“Aku mempunyai tunangan ..” ucap Hanwoo. Entah kenapa dia merasa tidak yakinketika dia mengucapkan hal itu. Hyukjae tersenyum.

“Benarkah? Siapa tunanganmu? Tunangan yang sedang mengkhianatimu?”

Hanwoo mundur selangkah ketika mendengar Hyukjae mengatakan hal seperti itu. Dia mengingatnya lagi. Namja itu membuatnya mengingatkannya lagi. Bahkan kakinya lemas tidak mampu berdiri dan membuat langkahnya tidak seimbang. Hanwoo hampir terjatuh. Dengan cepat Hyukjae menangkap tubuhnya. Napas yeoja itu mulai sesak. Dia merasakan hatinya benar-benar sakit. Air matanya mengalir. Hyukjae memeluk Hanwoo mencoba menenangkannya.

Author’s POV

——————-

Changmin menatap Hyojin sayu duduk di meja makan rumahnya berdua. Keadaan Hyojin benar-benar tidak baik untuk saat ini. Apalagi ketika Sooyoung tahu mengenai hubungan mereka berdua. Ketika Sooyoung mengusir Changmin. Ketika Sooyoung menamparnya.

“Apa kau yakin kau akan tinggal disini?”

“Ijinkan aku untuk tinggal disini..”

“Kau bertengkar dengan onniemu?”

Hyojin mengangguk. “Ne..” ujarnya lemas.

“Miane..”

“Anio. Aku sudah tahu cepat atau lambat mereka pasti akan tahu.”

“Bagaimana jika Hanwoo tahu?”

Hyojin terdiam. “Bisakah kita tidak membicarakan itu dulu?”

Changmin bangkit lalu memeluk Hyojin dari belakang. Dia tahu kekasihnya sedang tidak baik untuk saat ini. Hyojin menunduk. Kepalanya sangat berat dan perutnya seperti terguncang ingin memuntahkan semua isinya.

—–

Hyukjae dan Hanwoo sedang memasak bersama di dapur. Hanwoo sedang sibuk mengaduk buburnya dan menambahkan sedikit garam di masakannya. Sudah seharian Hanwoo menemani Hyukjae.  Entah kenapa ia merasa nyaman berada di ruangan ini. Cepat sekali. Ini terlalu cepat baginya. Tapi mencoba perlahan-lahan meninggalkan Changmin itu adalah keputusan yang tepat.

Mereka sarapan bersama di meja makan masih dalam keadaan canggung. Mencicipi bubur yang mereka buat bersama. Hanwoo tidak tahu harus bagaimana. Dia menyetujui ucapan Hyukjae untuk ikut belajar selingkuh dengannya.

“Aiish, kenapa buburnya terasa aneh? Tapi tidak apa-apa.” Protes Hyukjae menyipitkan matanya ke arah bubur. Hanwoo terkesiap mendengarnya.

“Jeongmalyo?”

“Tapi tidak apa-apa, karena kau yang membuatnya mungkin perutku akan menerima.”

Hanwoo mendesis mendengarnya. “Hhh~ pantas saja yeoja-yeoja itu luluh padamu. Kau pintar sekali menggombal.”

Hyukjae terdiam. Ekspresinya berubah menjadi serius. Hanwoo mencoba membiarkannya dan mencicipi makanannya. Memang sedikit aneh rasanya. Sepertinya kurang garam. Hanwoo tidak sengaja menoleh menatap Hyukjae yang masih diam. Hyukjae menaruh sendoknya.

“Kau kenapa, ajuhsi?”

“Sampai kapan kau akan berpandangan buruk padaku?”

“…”

“Jika kukatakan aku tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya pada yeoja manapun, apa kau mempercayaiku? Tidak kan? Pikiranmu terhadapku sungguh buruk. Jika apa yang kuucapkan kau selalu tidak mempercayaiku bagaimana cara agar aku bisa membuatmu menyukaiku?”

“Yak, kenapa kau marah padaku?” tanya Hanwoo.

Hyukjae bangun dari duduknya lalu melangkah ke ruang tengah. Hanwoo merasa bersalah karena sudah memperburuk keadaan. Dia tahu Hyukjae sedang marah.

“Ajuhsi, apa kau tidak mau makan?” Hanwoo mencoba mencairkan suasana namun Hyukjae tidak menanggapinya. Hyukjae malah memejamkan matanya sebentar mencoba menenangkan dirinya yang sedang bingung. Hanwoo menaruh sendoknya kemudian bangkit mengambil tasnya yang ia selempangkan di pundaknya.

“Baiklah, baik. Aku akan pulang.”

“Lee Hanwoo !” teriak Hyukjae memanggil nama yeoja yang melewatinya tanpa memperdulikannya yang sedang gundah. Hyukjae tidak tahan lagi ketika Hanwoo sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Hyukjae melangkah mengejar Hanwoo.

“Hanwoo-ssi!”

Dengan cepat Hyukjae menarik tangan Hanwoo lalu menempelkan bibirnya di bibir Hanwoo. Hyukjae memejamkan matanya merasakan bibir Hanwoo yang ia kecup. Hyukjae menggerekan bibirnya beriringan dengan kepalanya yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Tangan namja itu menyentuh kedua pipi Hanwoo lalu bergerak menyentuh kepala Hanwoo agar yeoja itu tidak bisa melepaskan diri.

Hanwoo memejamkan matanya. Perlahan-lahan bibirnya ikut bergerak mengikuti bibir Hyukjae. Membiarkan Hyukjae bermain-main di bibir mungilnya. Hyukjaepun sadar ketika tahu ada respon dari Hanwoo. Hyukjae membuka matanya. Dia ingin tahu apakah ini benar? Melihat Hanwoo memejamkan matanya, Hyukjae tambah memperdalam ciumannya. Hanwoo benar-benar merespon ciumannya.

TBC.

Hmmm.. Part 3 sudah keluar. Bagaimana menurut kalian??

Buat dina, maaf ya kalo syok aku buat ceritanya seperti ini. Pinjem Sooyoungnya sekali lagi. Peran sooyoung sangat membantu FF ini disini. Dan maaf Changminnya hhihi aku buat ja..hat TT sekali lagi ini hanyalah cerita. Have fun ya ^^ eehhe. Terima kasih buat teman-teman yang setia menunggu dan membaca untuk FF ini.

Untuk sweet namja, saya sudah dalam tahap membuat. Ini sungguh susah. Apalagi ada accident poto IU-Hyukjae kemarin . Ini benar-benar membuatku susah. Tapi saya sudah coba membuatnya. Semoga gak lupa sama ceritanya. Maaf sudah lama membuat kalian menunggu. Ditunggu ceitanya yah. Terima kasih juga buat teman-teman yang sudah sms, memberikan support. Gomapta ^^

Sekali lagi, saya minta comment kalian ya ^^

Iklan

12 thoughts on “[3] Kasanoba Wangja

  1. aigoo hanwoo.. udah deh tinggalin aja changminnya, mending sama hyuk aja. kkk
    ini sebenernya changmin cinta ga sih sm hanwoo? kok udah ngelamar hanwoo tp tetep sm hyojin. harusnya ga usah ngelamar deh kalo emang selingkuh. hih geregetan deh sm changmin.

    ditunggu next partnya :3

    Suka

  2. ommo changmin m hyojin makin keterelaluan ajj ckckk
    tapii bagus,, biar hanwoo m hyuk ajj..kkk
    choi sister ternyata sama2 selingkuh..kkkkk
    hanwoo liat hyuk dong..dia namja bgt…so sweet bgt kebawahnya,,hanwoo mulai nyaman sama hyuk kayanya,,, 🙂 daebak,,
    next chap d tunggu saeng 🙂

    Suka

  3. Nods
    Aku emang syok berat kemaren
    -_____-
    /cekek author

    Hyojin..iri yaaaaaaa
    Nyahahahahahah..
    Nikmatin aja..toh statusmu kan selingkuhan..
    Jd ya mau apa lagi selain nahan amarahmu dalam hati?
    *cipok eunhyuk*

    Ketauan syoo..okesip bener dah dugaab kalo syoo marah bgt sama hyo..
    Ditampar mameeeen..
    Syoo-aa..yu bdak boleh nampar aku di riil laip (?) yooo

    Changmin..ai hate yuuuuuu..
    Ai hate laaaa..
    Yu jahat..
    Putusin je hanwoo n pastiin hubungan khe sama hyo kenapa sih? *lho?
    Lu udah grepe2 hyo disini..DISINI..*sengaja pake capslock biar kyu baca itu.
    -_-
    Wuuuuuttt??
    Syoo jg wanita simpanan?
    Kleeee..kok ndak bener semua /bunuh author

    Eunhyuk..plin plan -___-
    Udah nyerah2 aja..
    Masih ada hyojin tauk..
    Berenti ngejar hanwoo n kejar hyojin..
    Biar changmin n eunhyuk rebutan hyojin jadinya..
    Wkakakaakakakakakakakakakakak
    *uppsss

    Suka

  4. *pasti moderasi lagi deh, gra2 gnt nama nih*

    hehehe, aku mau senyum2 dlu ya *gila* hahaha suka sekali bagian ini penuh dengan scene eunhyuk-hanwoo wlpn ngga romantis tapi ttp bikin senyum2.
    nyium dua kali loh… hoaaaaa, tp yg terakhir hanwoo ngga nolak, malah dirasain. 😀 asyik asyik.
    oh tidakkkk!!! ade kaka sma2 selingkuhan….*menyedihkan.
    tp aku dukung hyojin sama changmin mereka ini kl berdua romantis.. wakakak

    nextnya di makin ditunggu loh…

    Suka

  5. “Berselingkuhlah denganku jika dia menyelingkuhimu.”
    hahaha ini sesungguhnya adalah kata2 yang diucapkan Eunhyuk ketika mengajakku selingkuh dari ayank ohae :*

    kuleeee~ hyojin udah diapain aja kamu sama changmin hah?
    suka pas part awal2 yang hyuk nganter hanwoo ke daegu, entah mengapa -_-”

    suka sama jalan ceritanya, bahasa nya juga semakin bagus yuhuuu~
    mwoyaa! sooyoung ternyata juga simpenan? hemeh keluarga choii -_- ternyata patuh sing benehne jaak keluarga lee *lirik lele pamili*

    dan siwonnya jebal.. demi apa dia bilang eunhyyuk menyelamatkan dia dari kesengsaraan hidup … seorang choi siwonnnnn ~~~~~

    yaudahlah ya, changminah eunhyukah tinggalkan saja wanita wanita jalang bernama hanwoo dan hyojin itu.. ada gadis manis dan polos menunggumu disinii.. *kibakecupanchoyoora*

    Suka

  6. ihhhhhhh…..bener2 kesel ma hyojin n changmin sikap mereka bikin q sebel bgt gedek…. may jambak2….
    lagian hanwoo udah putusin j changmin n pacaran ma hyuk n nanti changmin y nyesel deh pasti q seneng bgt klo kyk gt buat mereka nyesel krn udah selingkuh….
    udah terima ja hyukjae y n bilang ma changmin klo habwoo udah oacaran ma hyukjae….
    makin seru…lanjut…

    Suka

  7. akhir ketauan juga tuh chngmin hyojin…tpi ko itu hyukjae nya jhat bgt ngbiarin hanwoo smpe pingsan gtu,kamu hyuk plin plan bget klo bneran cnta kejar dong jgn gmpang mnyerah gtu

    Suka

  8. Duh kalau sama2 selinfkuh, apa bedanya? Seharusnya duduk semeja, selesein masalah. Darisudut pandang Chanmin, Hanwoo itu sama kaya Hyojin, selingkuh sama sahabat. Duh kah.
    Hyojin kayanya hamil.

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s