[6] Kasanoba Wangja

shinningstar13ff.wordpress.com

Author: Hanwoo

Cast: Hyukjae – Hanwoo – Changmin – and other cameos ●

Length: Part 6 ● Genre: Romance- Straight- Friendship – Family

Author’s POV

——————–

Entah sejak kapan Hanwoo mendengar kicauan burung yang mulai mengusik tidur lelapnya. Matanya terbuka perlahan menatap bantal guling yang tergeletak dihadapannya. Bantal guling yang akan mengingatkannya pada kejadian semalam. Sentuhan-sentuhan lembut itu mampu membuat tidurnya lelap seperti ini. Entah sudah jam berapa sekarang dia tidak peduli.

Senyum Hanwoo mengembang. Dia malu terhadap dirinya sendiri ketika memori kemarin malam terlintas di pikirannya. Hanwoo menyelipkan rambutnya di telinga lalu menarik napas.

Flashback’s POV

“Baiklah sudah malam kalau begitu aku akan pulang.” Ucap Hyukjae hendak bangkit dari tidurnya. Hanwoo masih belum ingin namja itu pergi meninggalkannya. Tangannya dengan sengaja menarik tangan Hyukjae membuat namja itu duduk kembali disampingnya.

“Oppa, bisakah kau tinggal sebentar saja? Aku merindukanmu..” ungkap Hanwoo. Tangannya mulai melingkar di tubuh Hyukjae. Namja itu sangat senang begitu tahu yeojanya sedang menginginkannya.

“Kenapa kau jadi manja sekali?”

“Kau tidak suka?”

Hyukjae mendengus lalu tersenyum jahil. Dia menjatuhkan tubuh Hanwoo. Tangannya menekan ranjang mengapit tubuh Hanwoo. Sementara Hanwoo menekuk kedua tangannya menahan tubuh Hyukjae.

“Kau sangat manis jika sedang menggodaku seperti ini.”

Telunjuk Hyukjae menelusuri wajah Hanwoo. Dia memandang seluruh bagian di wajah Hanwoo mendiktenya satu-persatu. Mengamati apakah ada goresan di wajah yeojanya. Tapi hatinya sedikit lega ketika tahu bahwa wajah Hanwoo baik-baik saja. Karena dia tidak ingin melihat satupun goresan yang melukai wajah kekasihnya.

Hyukjae mendekatkan wajahnya menyetarakan bibirnya dengan bibir Hanwoo. Sontak Hanwoo memejamkan mata ketika dihirupnya bau napas yang ia sukai. Hanya bau napas seorang Lee Hyukjae yang saat ini bisa menenangkannya.

Bibir mereka saling bersentuhan. Tangan Hanwoo mencengkram erat di hoodie namjanya sedangkan Hyukjae perlahan-lahan semakin menunduk yang perlahan-lahan merebahkan dirinya disamping Hanwoo tanpa melepas ciumannya.

Hanwoo mulai mengacak rambut Hyukjae lalu mengangkat tubuhnya perlahan-lahan duduk di perut Hyukjae menindih namjanya. Hyukjae duduk memangku Hanwoo. Ia melepas bibirnya dengan cepat memberikan kecupan di leher Hanwoo. Merasa geli dengan perlakuan Hyukjae punggung Hanwoo melengkung menengadahkan kepalanya.

Hanwoo terlena dengan semua ini. Dengan mudah tangannya membuka kancing pertama di blouse merahnya. Kancing kedua juga berhasil terbuka namun tangan Hyukjae mencegat tangan Hanwoo untuk tidak meneruskan kegiatannya. Hyukjae melepas ciumannya dengan cepat membawa Hanwoo ke dalam dekapannya. Mereka sama-sama mengatur napasnya. Hyukjae mencium telinga Hanwoo.

“Andweyo..” bisik Hyukjae lembut.

“Waeyo?”

“Ini terlalu cepat. Jangan menggodaku jika kau tidak ingin berbadan dua, nona Lee.”

Hanwoo menarik tubuhnya menatap Hyukjae. Entah kenapa dia merasa sangat senang hari ini karena perlakuan lembut Hyukjae.

“Apakah ini yang dinamakan seorang Casanova?”

Hyukjae tertawa. “Tidak ada lagi Lee Hyukjae si Casanova semenjak bersamamu.”

“Eumm jeongmalyo?” Hanwoo menanggapi seolah-olah tidak percaya.

“Kapan kau pernah mempercayaiku?” tanya Hyukjae.

Mendengar Hyukjae berkata seperti itu Hanwoo memeluknya erat. “Aku mempercayaimu mulai sekarang, oppa..”

Flashback end

Hanwoo sudah rapi dengan sweater pink dan jeans biru yang dikenakannya sehabis mandi. Dia tersenyum berseri-seri mendengar suara seseorang disebrang. Setelah mandi dia menelpon Hyukjae.

Hanwoo menuruni tangga hendak menengok ke dapur apakah Sooyoung onnie membuatkannya sarapan atau tidak. Hari ini adalah hari liburnya jadi dia ingin menikmati hari bahagianya dirumah.

“Bagaimana tidurmu?” tanya Hyukjae.

“Mmm.. nyenyak. Gomawo oppa.”

“Tentu saja, apalagi jika kau menjadi istriku kupastikan tidurmu akan lelap setiap hari.” Ucap Hyukjae membuat Hanwoo tertawa. Namun tawanya terhenti ketika ia sudah menginjak lantai satu dan terkejut melihat Hyojin sudah berdiri di hadapannya.

“Nanti aku akan menghubungimu lagi.”

-KLIK-

Hanwoo mematikan telponnya. Matanya menatap Hyojin tajam. Entah kenapa ia malah emosi dan moodnya berubah dengan cepat. Hatinya kembali sakit ketika melihat wajah ini. Wajah yang dia tahu pernah menyakitinya diam-diam. Hanwoo mengembangkan smirknya ketika dilihatnya Hyojin tersenyum menyambut paginya.

“Hanwoo-ya ..”

Hanwoo tidak bisa membuka mulutnya untuk membalas sapaan itu. Hatinya masih enggan untuk berbicara dengan Hyojin. Tahu seperti ini Hyojin mencoba menyentuh tangan kiri Hanwoo dengan kedua tangannya namun dengan cepat Hanwoo menepisnya. Melihat hal ini hati Hyojin mulai tidak tenang. Tubuhnya bergetar. Matanya mulai berair karena ingin menangis.

“Hanwoo-ya, miane. Jeongmal miane..”

Air mata Hyojin sukses mengalir membasahi kedua pipinya. Hanwoo menggigit bibir bawahnya mencoba menahan tangisnya. Hyojin menghapus air matanya sambil tersenyum.

“Sebagai permintaan maaf aku sudah membuatkanmu sarapan pagi. Aku memasak bibimbap kesukaanmu. Kajja kita makan..”

Hyojin menarik tangan Hanwoo berencana mengajaknya duduk di meja makan tapi yeoja itu malah menarik tangannya hingga genggaman Hyojin lepas. Hyojin membalikkan badannya menatap Hanwoo.

“Tidak usah bersikap baik seperti itu ..”

Hanwoo pergi dari rumah ini meninggalkan Hyojin yang perlahan-lahan terjatuh lemas menunduk menatap lantai. Hyojin menangis tersedu-sedu meluapkan rasa sakitnya. Dia sangat menyesal kenapa semua ini bisa terjadi apalagi setelah Changmin tidak pernah menghubunginya lagi dari hari kepergiannya hingga dia memutuskan pulang kerumah menuruti apa kata Sooyoung saat bertemu di zoo café kemarin.

——-

CUT! Okay, beri tepuk tangan untuk photoshoot terakhir kita.” Ujar seorang ajuhsi yang bangun dari duduknya. Dia adalah seorang sutradara. Pria separuh baya itu mendekati Hyukjae lalu menepuk punggung namja itu.

“Kau melakukan semuanya dengan baik tuan Lee.”

“Ah itu juga berkat kau, ajuhsi.”

“Hahaha, apakah kau memiliki tunangan? Kalau begitu sampaikan maafku pada tunanganmu bahwa aku membuatmu menciumi yeoja lain di iklan ini.”

Hyukjae tertawa. “Tidak masalah. Dia akan senang melihatnya.”

Hyukjae tidak sengaja melhat seorang yeoja yang berdiri diantara para staff mengenakan sweater pink yang mampu membuat Hyukjae terpesona untuk kesekian kalinya.

“Ajuhsi aku pergi dulu.”

Hyukjae meninggalkan pria tua itu untuk menyusul Hanwoo. Kini jarak mereka sangat dekat. Mereka terlihat akward untuk beberapa detik.

Siwon juga datang mendekati Hyukjae. Namja itu tersenyum menatap kedua pasangan yang tidak menyadari kedatangannya.

“Yak ! Apa kalian tidak melihat keberadaanku?” tanya Siwon.

Hyukjae dan Hanwoo menoleh ke arah Siwon. Namja itu tersenyum melihat Hanwoo yang sedang menggaruk-garuk lehernya.

“Ada apa?” tanya Hyukjae.

“Anio, baru saja aku mau mengajakmu pulang tapi sepertinya kalian ..”

“Kita pulang bersama saja dan turunkan aku di Fabolus café. Aku lapar.” Sambung Hyukjae.

“Hmm.. Baiklah.”

“Apa kau tidak menjemput kekasihmu?” tanya Hyukjae membuat lesung pipi Siwon terlihat lagi.

“Oppa, kau punya kekasih? Kenalkan padaku !”

“Aish, tentu saja. Kau pikir aku seorang gay?”

“Kau mengenal orangnya, Hanwoo.” Ucap Hyukjae membuat Hanwoo menoleh membulatkan mulutnya tidak percaya.

“Jeongmal? Nuguya? Nuguya?”

Siwon melangkah pergi sebelum dia diinterogasi Hanwoo panjang lebar. Rasanya ingin membunuh Hyukjae yang suka sekali menyebarkan privasinya ke banyak orang apalagi setelah melihat ekspresi Hanwoo saat Hyukjae mengatakan bahwa dia mengenal yeoja itu. Siwon tidak bisa menahan tawanya. Bagaimana jika Hanwoo tahu jika dia dan Sooyoung sudah jadian?

——————–

Flashback’s POV

Malam itu Siwon menjemput Sooyoung kerumah mengajaknya kencan di sebuah taman. Dia tidak perlu kahwatir akan ada media yang menyorotnya karena profesi seorang manajer artis di Korea tidak sangat berpengaruh.

“Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi entah kenapa ada yang menarikku untuk mengatakan ini secepatnya. Aku single lima tahun. Ah, itu tidak penting.”

“Lima tahun?” tanya Sooyoung tidak percaya. Sooyoung menghentikan langkahnya menatap Siwon sebentar.  “Kau bohong..”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Mmm.. Bagaimana bisa namja setampan kau single selama lima tahun?”

Siwon menoleh ke arah Sooyoung. “Jadi menurutmu aku tampan?”

Ditanya seperti itu Sooyoung menjadi salah tingkah. Dia tidak berani menatap Siwon karena takut Siwon bisa membaca matanya yang mengatakan bahwa dia sedang berkata jujur. Apalagi malam ini Siwon sangat tampan dengan kemeja putih dan celana hitamnya. Belum lagi rambutnya yang naik memperlihatkan kening indahnya membuat wajahnya terlihat jauh lebih mudah dari biasanya.

“Kau menyukaiku?” Siwon tersenyum.

“M-Mwo?”

“Kenapa kau memutuskan Yoo Young jin hyung?”

“K-kau t-tau?”

Siwon tertawa pelan. Dia melangkah mengitari Sooyoung lalu berhenti tepat di depannya. Siwon membungkuk mencoba mencari mata Sooyoung yang sedari tadi menundukkan wajahnya.

“Young jin hyung datang menemuiku.”

“M-mwo? Untuk apa?”

“Dia marah padaku karena kekasih gelapnya memutuskan hubungannya secara sepihak karena kau sudah jatuh cinta pada seorang namja. Lalu aku bertanya-tanya sendiri apa hubungannya antara namja yang kau suka dengan putusnya Young jin hyung denganmu. Aku juga bingung kenapa Young Jin hyungmarah padaku? kau bisa tanya pada dirimu sendiri nona Choi.”

Siwon tersenyum puas setelah mengatakan hal ini. Dia rasa Sooyoung sendiri tahu apa jawabannya. Siwon menegakkan badannya lalu berjalan meninggalkan Sooyoung yang sedang meringis menggigit bibirnya.

Sooyoung masih mengingat betul apa ucapannya ketika memutuskan Yoo Young Jin. Dia mengatakan bahwa dia menyukai Choi Siwon. Sooyoung meremas roknya karena cemas. Sooyoung berlari kecil menghampiri Siwon dan mensejajarkan langkahnya dengan namja itu. Berulang kali Siwon melirik Sooyoung yang sedang gugup dan cemas.

“Siapa yang kau suka? Bolehkah aku tahu?” goda Siwon. Sooyoung mendadak merasakan tubuhnya terasa panas. Bukan demam, namun hawa panas yang membuat wajahnya bersemu merah.

“Yak, jangan menggodaku seperti itu tuan Choi. Yang jelas bukan seseorang yang pekerjaannya memanage artis sepertimu.”

Siwon menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya mencari Sooyoung.

“Jeongmal? Kau masih bisa membohongi perasaanmu sendiri?”

Siwon mendekati Sooyoung namun yeoja itu memundurkan langkahnya perlahan-lahan. “Apa perlu aku membeberkan apa ucapan Youngjin hyung dihadapanmu, hmm? Young-ah ..”

Siwon berhenti. Tangannya menarik tangan Sooyoung membuat yeoja itu jatuh ke dalam dekapannya. Tubuh Sooyoung bergetar. Pernapasannya sedikit terganggu karena wangi parfum di tubuh Siwon yang membuat hasratnya sedikit meningkat.

“Gomawo kau sudah mau menatapku. Maukah kau mencobanya denganku? Mencoba untuk saling berbagi, berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Flashback end

Sooyoung tak henti-hentinya tersenyum di meja kerjanya ketika mengingat kejadian empat hari yang lalu dimana Choi Siwon mengajaknya untuk merundingkan sebuah komitmen itu. Tuhan benar-benar sayang padanya memilihkan namja yang tepat untuknya.

Sooyoung tidak begitu sedih atau kecewa ketika putus dengan kekasih gelapnya. Dia malah bersyukur namja itu datang di waktu yang tepat menyelamatkannya dari kesengsaraan yang akan muncul jika dia berani melanjutkan hubungannya dengan Youngjin.

——————-

Hanwoo menatap Hyukjae tidak percaya ketika namja itu menceritakan semuanya tentang Siwon selama ini. Hanwoo sangat penasaran pada namja yang berprofesi sebagai manajer kekasihnya itu. Hyukjae bercerita tentang bagaimana seorang Choi Siwon yang berusaha melupakan mantan kekasihnya mati-matian selama hampir lima tahun. Mantan kekasihnya meninggal karena mengidap asma yang sudah sangat parah. Yang membuatnya tidak percaya lagi adalah .. Namja itu memilih orang terdekatnya untuk dijadikan kekasih. Hanwoo menggeleng-geleng pada dirinya sendiri.

“Hmm..  Jadi begitu ceritanya. Siwon oppa benar-benar tidak bisa diduga.”

“Mmm.” Hyukjae mengangguk-angguk mengiyakan. “Hanwoo-ya, kenapa tumben sekali menemuiku ditempat syuting? Siapa yang memberitahumu?” tanya Hyukjae.

“Ne, aku bertanya pada Siwon oppa.”

“Waeyo? Apa ada masalah?”

Hanwoo terdiam mendengar ucapan Hyukjae yang menurutnya benar bahwa dia sedang dalam masalah. Dia memutuskan kabur dari rumah demi menghindari Hyojin. Hanwoo menggeleng-geleng.

“Anio, aku ingin bertemu denganmu, apa tidak boleh?”

“Kau merindukanku?”

Hanwoo mengangguk mengiyakan. Hyukjae mengelus rambut Hanwoo pelan. Tatapan matanya penuh kasih sayang. Handphone Hanwoo dan Hyukjae sama-sama bergetar. Hyukjae menarik tangannya mengambil handphone kemudian membaca pesan itu.

Hi, bisakah kita bertemu? Kutunggu di tempat biasa. Tempat kita berkencan dulu, restoran di Katelra Hotel. Jam 7 jangan telat ya. Ada beberapa hal yang ingin kurundingkan denganmu.

 

Cho Yoora.

Hanwoo menekan-nekan layar handphonenya. Membuka pesan yang ternyata dari nama yang dikenalnya. Changmin mengirimkan pesan untuknya.

Hanwoo-ya, bisakah kita bertemu? Aku menunggumu jam 6 di restoran Kaltera tempat kita dulu. Ada yang harus aku beritahu.

Hanwoo dan Hyukjae sama-sama memasukkan handphonenya. Mereka saling tatap namun dengan keadaan yang sedikit canggung setelah menerima pesan masing-masing. Mereka masih terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah lebih baik dia berterus terang pada Hyukjae karena Changmin mengajaknya bertemu? Atau membohonginya lagi seperti kemarin dan membuatnya marah?

“Hanwoo-ya..” panggil Hyukjae membuat Hanwoo terkejut.

“Ne?” Hanwoo menatap namja yang menyunggingkan senyum dan memperlihatan gigi rapatnya. Hanwoo benar-benar terkesima dengan senyum yang dimiliki Hyukjae.

“Waeyo?” tanya Hanwoo lagi mendengar tidak ada jawaban dari Hyukjae. Namja itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Tangannya membuka tangan Hanwoo dan menaruh sebuah gelang di telapak tangan yeojanya.Sebuah gelang berwarna silver dengan taburan bintang-bintang dipinggirnya. Hanwoo menatap gelang itu.

shinningstar13ff.wordpress.com

“Kita menikah saja.”

Hanwoo kurang mendengar dengan jelas ucapan Hyukjae karena seorang waiter datang menaruh makanan mereka berdua di atas meja.  Seperti intermezzo tepatnya. Hyukjae menghembuskan napasnya ketika waiter itu pergi lalu menunduk menatap makanan yang ia pesan. Mulutnya mengembung karena gugup.

“Kau tadi bilang apa?”

“Anio, makanannya sudah datang. Aku tadi bilang itu.” Hyukjae tersenyum sembari mengambil sendoknya lalu mencicip sup jamur yang kupesan. ‘Ya, aku tadi bilang itu ..’

———-

Changmin menghembuskan napasnya berusaha tenang menunggu kedatangan Hanwoo malam ini. Changmin menoleh menatap yeoja disampingnya yang sedang menunduk gelisah. Yeoja itu mengerjap-ngerjapkan matanya menahan rasa pedihnya.

“Hyojin-a..”

Hyojin menoleh ketika Changmin menatapnya. “Ne?”

Changmin berusaha tersenyum menampilkan suasana yang terbaik dihadapan Hyojin. Namja itu menggenggam tangan Hyojin.

“Semua akan baik-baik saja.”

Rasanya ingin menangis. Changmin datang padanya tadi siang saat Hyojin sendirian dirumah. Hyojin sangat tidak percaya melihat namja yang sangat ingin dilihatnya untuk saat ini datang menemuinya. Changmin menjelaskan alasannya kenapa dia pergi meninggalkannya. Dia menjelaskan bahwa dia harus melakukan syuting drama perdananya yang menyita banyak waktu jadi dia tidak bisa mengabari keberadaannya.

Tentu saja dengan mudah Hyojin memaafkannya. Namja yang berhasil membuatnya jatuh hati hanya Changmin seorang semenjak dia patah hati dari Cho Kyuhyun, bagaimana bisa dia melupakan Changmin? Namja yang membuatnya jauh melangkah dan melewati batas hingga dia sampai tahap ini. Tahap dimana dia harus mengabaikan perasaan kakak dan sahabatnya demi perasaannya sendiri.

Hanwoo menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah meja bundar bernomer 30 sesuai dengan perjanjiannya dengan Changmin. Hanwoo menatap kedua pasangan yang sedang saling tatap mesra. Hatinya masih sedikit terasa sakit melihatnya. Bagaimanapun juga Changmin pernah menjadi miliknya, bagaimana dia bisa melupakan memori indah sekaligus menjadi menyakitkan belakangan ini? Kecuali jika Tuhan mentakdirkannya untuk lupa ingatan. Hanwoo duduk dihadapan mereka.

“Wae?” tanya Hanwoo. “Jadi ini yang ingin kau perlihatkan, oppa?”

“Hanwoo-ya, kenapa kau jadi galak seperti ini? Kau jangan marah dulu, aku jadi tidak enak padamu.”

Changmin mampu membuat emosi Hanwoo teredam. Hanwoo mencoba mengambil napas menenangkan dirinya ketika Hyojin menatap matanya.

“Hanwoo-ya, aku akan segera melamarnya.” Ucap Changmin.

Hyojin terkejut mendengar hal ini lalu menoleh ke arah Changmin. Matanya menatap tajam Changmin kesal karena ucapan namjanya yang tidak tahu keadaan.

“Oppa !” sergah Hyojin.

Hanwoo menggigit lidahnya berusaha menahan emosi dan rasa sakitnya. Ya, benar. Rasa sakit bukan rasa cemburu.

“Sampai kapan kau akan mendiamkan Hyojin? Dia sahabatmu.”

Hanwoo terus menatap mereka berdua. Hatinya sangat sakit. Dia sungguh tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Tubuhnya bergetar. Dia membutuhkan pil energinya saat ini. Dia membutuhkan Hyukjaenya. Dadanya begitu sesak. Hanwoo memutuskan bangun dari duduknya lalu meninggalkan kedua orang dihadapannya.

Hanwoo mempercepat langkahnya. Dia menunduk mencoba menghapus air matanya yang jatuh. Entah kenapa emosinya meletup-letup ketika Changmin mengatakan kalimat terakhirnya. Ya, Hyojin adalah sahabatnya. Tapi bagaimana mengembalikan semuanya seperti semula? Mengapa susah sekali memaafkan Hyojin?

‘TESSS’

Gelang di tangan Hanwoo putus dan tergeletak di lantai yang dilapisi karpet saat dia tidak sengaja menabrak seorang yeoja. Hanwoo tidak sadar gelang itu jatuh dan terus membungkuk meminta maaf.

Jeosong hamnida..” ucap Hanwoo lalu pergi meninggalkan tempat ini secepatnya. Dia hanya tidak ingin Changmin berhasil mengejarnya lalu menyeretnya kembali ke meja bundar itu.

Yeoja berambut panjang yang juga tidak sengaja menabrak Hanwoo tadi masih diam ditempat menatap punggung Hanwoo. Otaknya mulai mendesak untuk berpikir bahwa sepertinya dia pernah melihat yeoja itu.

———

Hyukjae menatap yeoja dihadapannya. Yeoja yang terakhir kali dilihatnya saat datang ke apartemennya dan melihatnya sedang memeluk Hanwoo di depan pintu. Cho Yoora. Yeoja cantik dan polos yang pernah dia sakiti. Tidak menyangka Donghae juga menyukai yeoja ini.

Hyukjae menatap Yoora mendiktenya satu persatu pakaian yang dikenakan yeoja itu. Yoora masih tetap terlihat cantik saat menemuinya. Dress hitam berbahan satin jatuh begitu saja di tubuhnya memperlihatkan lekukan sempurna disana. Dia masih tetap modis seperti dulu. Yoora tersenyum mencoba menghilangkan suasana akward bersama mantannya itu.

“Gomawo sudah mau menemuiku. Apa aku mengganggu pekerjaanmu?”

“Anio. Hanya saja aku takut Donghae melihatku sedang bersamamu. Dia bisa membunuhku.” Ucap Hyukjae membuat Yoora menunduk menahan tawanya. Yoora mengangkat wajahnya lagi menatap wajah yang selama ini ia rindukan. Dia memang sangat sayang terhadap casanova yang dulu pernah menyakitinya walaupun Raerin juga sering melarangnya untuk menghubungi Hyukjae tapi entah kenapa hatinya berkata enggan untuk menuruti perkataan Raerin.

Justru dia tidak ingin jauh dari Hyukjae. Dia ingin mempunyai hubungan baik dengan Hyukjae. Tidak peduli pertemanan atau apapun dia ingin berada di dekat Hyukjae selalu. Sekalipun Hyukjae memiliki kekasih. Hanya namja itu yang bisa membuatnya tersenyum bahagia.

“Ada urusan apa menemuiku?”

“Aku ingin meminta maaf padamu.” Ucap Yoora.

“Ne? Untuk apa meminta maaf? Kau tidak salah.”

“Mollayo. Aku hanya tidak ingin bermusuhan denganmu. Bisakah kita menjadi teman?” tanya Yoora.

“Tentu saja.” Ucapan Hyukjae membuat senyuman Yoora mengembang lagi.

“Gomawo.”

“Itu saja?” tanya Hyukjae.

“Eumm, anio. Aku mendengar gosip-gosip di TV mengenaimu. Yeoja yang kutemui saat terakhir kali aku melihatmu, apakah dia orangnya? Yeoja yang kau peluk saat terakhir kali aku melihatmu, apakah Hanwoo-ssi orangnya?”

Hyukjae terdiam mendengarkan ucapan Yoora. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang beralih profesi menjadi wartawan?”

“Anio,hanya saja tadi aku melihatnya disini dan dia menjatuhkan gelang ini. Jika memang benar iya ..”

Hyukjae segera menangkap gelang yang dipegang Yoora. Dia sangat marah ketika melihat gelang itu ada di tangan Yoora yang artinya Hanwoo ada di tempat ini tadi? Yoora menurunkan tangannya.

“Berarti semua itu benar, oppa.”

Yoora menunduk sedikit kecewa. Dia menyesal kenapa tidak mencegat yeoja yang tadi menabraknya karena dia ingin mengobrol dan ingin melihat apa menariknya yeoja itu dibanding dirinya hingga membuat Casanova itu berubah.

“Ada yang ingin dibicarakan lagi?” Hyukjae mencoba mengalihkan pembicaraan sembari memasukkan gelang Hanwoo ke kantong celananya.

Yoora tersenyum. Dia tidak menjawab pertanyaan Hyukjae karena seorang waitress datang menaruh dua gelas minuman mereka di atas meja. Dia rasa Hyukjae seperti enggan bertemu dengannya. Dia seperti ingin cepat-cepat pergi menemui yeojanya.

“Donghae.” Ujar Yoora ketika pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua kembali.

“Ne?”

“Donghae-ssi selalu menggangguku. Bisakah kau memintanya untuk berhenti mengejarku?”

Sebenarnya itu bukan pembahasan yang ingin ia lontarkan. Dia tidak peduli mau Donghae mengejarnya atau tidak. Yang penting dia bisa melihat namja ini dan melihat senyumnya dari dekat. Itu harapannya. Tapi tidak dengan Hyukjae. Dia ingin cepat-cepat pulang memarahi Hanwoo karena sudah berani menghilangkan gelang pemberiannya.

———————

Hanwoo menutup pintu kamarnya. Dia sudah tidak bisa menangis lagi karena air matanya ia habiskan saat di dalam taxi tadi. Ia mencoba menenangkan dirinya dalam sesak yang masih tersisa. Hanwoo mencoba mengatur napas kemudian melangkah duduk di tepi ranjang.

Matanya tidak sengaja melihat sebuah kotak berwarna pink yang tergeletak di atas meja kecil didepan lampu tidurnya. Hanwoo mengernyitkan keningnya sejenak tersenyum mengira pasti kado ini dari Hyukjae. Mendadak hatinya tersentuh dan auranya menjadi bahagia. Hanwoo membuka tutup kotak itu lalu mengambil bingkai poto yang terbalik. Sengaja dibalik tepatnya. Surprise apa yang diberikan Hyukjae malam ini padanya? Hanwoo membalikkan bingkai itu.

Matanya membesar bersamaan dengan mulutnya yang sedikit terbuka ketika melihat bingkai ini. Sebuah lukisan yang dia tahu siapa pengirimnya. Tubuhnya bergetar ketika melihat dua orang yeoja yang ada di lukisan itu. Hanwoo mengambil sepucuk surat di dalam kotak lalu membacanya.

Terima kasih karena sudah menjadi sahabat sekaligus saudaraku selama ini. Terima kasih karena sudah mengenalku. Banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Aku sangat rindu, Hanwoo. Masih mengingat saat kita bersama seperti dulu. Kau ingat photo ini? Ini kuambil saat kita lulus SMA. Aku melukisnya. Apa kau suka? Aku sangat tahu kau pasti akan menyukainya. Kau menyukai lukisan seorang Choi Hyojin. Mungkin tidak cukup ucapan maafku selama ini. Aku sangat buruk. Rasa sayangku terhadap Changmin sama seperti aku menyayangimu, tapi .. aku mencintai Changmin. Miane, Hanwoo. Miane. Temui aku secepatnya.

 

Choi Hyojin

shinningstar13ff.wordpress.com

Air mata Hanwoo jatuh tepat di atas kaca yang menutupi lukisan itu. Dia menelan ludahnya berusaha menelan masa-masa pahitnya selama ini. Tulisan ini membuatnya sadar bahwa dia sangat merindukan Hyojin. Dia juga ingin bercerita mengenai hubungannya dengan Hyukjae. Mengenai apa yang sudah terjadi padanya selama ini. Bercerita tentang bagaimana dia jatuh ke pelukan si Casanova yang dulu ia yakin tidak akan pernah jatuh cinta pada namja itu. Tapi namja itu berhasil mengubah komitmennya.

Tiba-tiba handphonenya berdering. Hanwoo menatap layar kacanya. Nomer yang tidak ia kenal? Siapakah?

“Yeoboseyo..”

“Anakku, ini appa.”

Hanwoo mengusap air matanya ketika mendengar suara appanya yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Dia juga menaruh lukisan itu disampingnya dengan baik. Hatinya sedikit tenang ketika appanya menelpon.

“Appa! Bagaimana kabar appa?”

“Tentu saja baik. Eomma juga baik.”

“Ah ne, baguslah. Aku senang mendengarnya.”

“Bagaimana kabarmu Hanwoo-ya?”

“Gwenchana appa. Aku baik-baik saja.”

“Jeongmal? Setelah putus dari Changmin kau mengatakan dirimu baik-baik saja? Aigooo, sekuat apa anakku ini?”

Hanwoo sedikit terkejut mendengar appanya berkata seperti itu. Hanwoo tersenyum. Tentu saja. Cepat atau lambat keluarganya pasti akan tahu mengenai hubungannya dengan Changmin. Changmin adalah artis besar. Appanya pasti sudah menonton TV yang ber-channel Korea di New York.

“Gwenchana appa. Kami sudah menyelesaikan masalah kami dengan baik.”

“Ooh baiklah. Sifatmu banyak mengambil sifatku sepertinya. Hanwoo-ya, pulanglah ke New York menemui kami. Ada yang ingin kami kenalkan padamu.”

“Nuguya appa?”

“Appa akan memberitahumu nanti. Eomma sangat merindukanmu. Pulanglah sebentar.”

Hanwoo terdiam. Pikirannya berkecamuk membuat suasana hatinya berubah. Kenapa disaat dia sudah bahagia seperti ini justru appanya menyuruhnya untuk pulang ke Korea. Seseorang yang ingin dikenalkan padanya? Apakah dia orang penting? Apa jangan-jangan ..

“Appa tidak berniat menjodohkanku seperti di film-film kan?”

Tuan Lee tertawa. Sepertinya pikirannya sudah berhasil ditebak oleh putrinya. Namun, dia mengenal sifat anaknya dengan baik. “Anio .. Itu tidak mungkin terjadi, jagiya.” Dustanya. Karena menurutnya jika dia mengatakan yang sejujurnya Hanwoo pasti tidak akan pulang ke Korea.

“Mungkin aku akan memikirkannya lagi. Pekerjaanku sangat banyak disini.” Dusta Hanwoo. Sebenarnya dia bisa saja mengambil cuti untuk pergi ke New York, namun perasaannya tidak enak ketika ucapan appanya yang ingin memperkenalkannya dengan seseorang. Dia juga dia tidak ingin menghentikan perasaan bahagianya bersama Hyukjae. Dia tidak berniat meninggalkan Hyukjae lebih tepatnya.

“Appa berikan waktu berpikir selama seminggu. Jika pekerjaanmu masih menumpuk, appa yang meminta ijin ke kantormu untuk memberikanmu cuti.”

“Appa, tidak semudah itu ..”

“Tenang saja Hanwoo. Ingat, waktumu selama seminggu.”

Hanwoo’s POV

——————-

Perasaanku sungguh tidak tenang ketika ucapan appa masih menghantuiku. Padahal sudah sejam lalu appamenelpon. Aku sangat resah hingga berulang kali harus menarik napas dan berulang kali juga menghembuskannya. Aku bangkit memutuskan untuk keluar kamar.

Aku menuruni tangga pelan-pelan dan mengintip seseorang yang sedang duduk termenung di sofa. Yeoja itu tampak kurus. Sepertinya karena lelah memikirkan permasalahn yang terjadi belakangan ini. Memang. Masalah ini sungguh berat.

Kuhentikan langkahku ketika mendengar bel rumah ini berbunyi. Kutatap pintu itu lalu menatap Hyojin yang sudah berdiri membuka pintu. Yeoja itu terkejut tapi sesaat kemudian mampu menyunggingkan senyumnya dan berbicara pada seseorang yang mungkin sedang berdiri di depan pintu.

Tak lama aku melihatnya membalikkan badan kemudian berjalan ke arahku. Dia ingin menaiki tangga. Dengan cepat aku melangkah naik dan berlari menjinjit memasuki kamar. Kukunci pintu kamarku dan cepat-cepat duduk di atas ranjang mencoba menetralkan napas dan detak jantung.

Benar saja. Hyojin datang mengetuk pintuku. Aku mencoba diam. Untuk apa dia kemari? Apa seseorang tengah mencariku? Siapa yang mencariku malam-malam seperti ini?

“Hanwoo-ya, ini aku Hyojin. Hyukjae oppa mencarimu di bawah.”

Hyukjae oppa? Jeongmal? Malam-malam seperti ini untuk apa datang mencariku? Padahal tadi pagi kami bertemu. Apakah dia merindukanku?

———-

Repleks senyumku mengembang ketika melihatnya berdiri di ambang pintu menungguku. Dia menghampiriku dan berdiri tepat dihadapanku. Tangannya menyentil keningku. Terasa perih hingga aku menyipitkan mata. Kukembungkan mulutku sambil mengelus keningku.

“Yak! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Aku berulang kali meneleponmu. Apa aku harus memencet bel ini ketika datang kerumahmu? Aiishh..” omelnya. Karena aku tidak mengangkat telponnya dia menyentilku seperti ini? Kurang ajar.

Lagipula aku memang sengaja menjauhkan handphoneku karena aku takut appa akan menelpon lagi dan mendesakku untuk pulang ke New York.

“Kau memarahiku hanya karena aku tidak mengangkat teleponmu? Aiish ! Aku sudah tidur mana mendengar ada suara telepon. Kau menggangguku saja. Memang apa susahnya tinggal menekan bel saja.” Dustaku agar dia merasa bersalah karena sudah memarahiku.

“Oh jadi aku sudah mengganggumu? Baiklah.” Aku membulatkan mulut ketika nada suara Hyukjae berubah . Dari nada suaranya sepertinya dia mengambek. “Sebelum aku pergi, aku tanya dimana gelangmu? Apa kau masih mengenakannya?”

“Tentu saja aku mas…ih.. Gelangnya!” panikku ketika mengangkat pergelangan tangan hendak menunjukkan gelang pemberiannya yang selalu kupakai dari awal dia memberi tapi aku benar-benar tidak percaya kenapa gelang ini tidak melingkar di pergelangan tanganku? Aku benar-benar panik. Apa aku telah menghilangkannya? Kucoba mengingat-ingat lagi. Apa setelah aku datang, membuka kado dari Hyojin lalu menerima telpon dari appa, apa aku sempat melepasnya?

“A.. Aku coba cari ke atas. Gelangnya pasti ada di atas.”

Kubalikkan badanku namun Hyukjae menarikku kembali dan memasangkan sesuatu di tanganku. Aku terkejut kenapa gelangnya bisa ada padanya? Apakah terjatuh saat aku pergi berdua dengannya tadi siang? Atau terjatuh di mobil? Aku jadi merasa bersalah.

“Tidak usah. Kau menjatuhkannya di Kaltera tadi.”

DEG!

Kaltera? Dia tahu aku sedang ke kaltera? Apakah dia melihatku sedang bertemu Changmin? Walaupun ada Hyojin juga. Oh, tidak. Aku akan mati jika dia sampai bertanya tentang hal ini.

“Kau datang ke Kaltera tadi? Untung aku melihatnya.”

“Ne, aku sedang bertemu temanku. Ja, gelangnya sudah menempel lagi di pergelanganmu. Sampai kau berani menghilangkannya lagi, kau tidak akan selamat nona Lee.” Ancamnya.

Aku tersenyum. Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku ke kaltera tadi untuk bertemu Changmin. Semoga saja dia memang tidak tahu. Aku hanya tidak ingin banyak berbohong lagi jika kami harus sampai bertengkar karena hal ini. Aku sedikit lega.

Sepertinya aku semakin menyukainya. Dia namja yang sangat lembut. Pantas saja banyak yeoja yang luluh padanya. Termasuk aku yang sudah luluh karenanya. Dia namja yang tampan.

“Baiklah kalau begitu aku akan pulang. Jaljayo.” Tangannya menepuk kepalaku pelan. Aku terkesima. Aku benar-benar terkesima melihat senyumannya yang tersungging kali ini. Bibirnya sangat tipis dan terlihat seperti sedang mengulum bibirnya ketika tersenyum. Matanya berbicara padaku bahwa dia begitu bahagia memiliku. Dia memang pil energiku.

Aku melihat kakinya terangkat. Dia akan pergi namun aku masih ingin bersamanya. Aku berlari pelan lalu merangkulnya. Kujinjitkan kakiku dan dengan sukses bibirku menempel di bibirnya. Aku tidak mungkin meninggalkan namja ini. Dia yang tahu bagaimana aku. Dia yang tahu apa kesukaanku. Dia yang bekerja keras untuk mendapatkanku walaupun aku masih memiliki kekasih. Walaupun berulang kali kukatakan tidak padanya. Walaupun berulang kali menciumku dan kusakiti dirinya dengan ucapan lancangku. Dia yang merubah status casanovanya hanya untuk yeoja sepertiku ini.

Kulepas ciumanku dan mendekatkan bibirku ke telinganya. Hanya ini yang bisa kulakukan. Mencoba membuatnya bahagia layaknya pasangan kekasih.

“Saranghae..”

Tidak ada jawaban darinya. Tapi aku mulai merasakan pinggangku tercengkram. Dia memelukku menempelkan dagunya dipundakku. Kami berpelukan erat dan sangat mesra tidak ingin melepas satu sama lain.

Walaupun aku tahu belum bisa melupakan Changmin sepenuhnya, tapi jika berusaha belajar untuk mencintainya, waktu pasti akan menjawab semuanya. Dan hari ini waktu itu tiba. Dia yang menyadarkanku. Aku benar-benar menyayanginya.

—————-

Hari ini aku bahagia. Masalah tentang Changmin dan Hyojin aku sudah melupakannya berkat namja ini. Aku masuk ke dalam rumah. Entah kenapa aku tidak bisa menghentikan senyum bahagiaku ini. Kubalikkan badanku setelah menutup pintu dan sedikit terkejut melihat Hyojin berdiri.

“Hanwoo-ya, wajahmu memerah sehabis bertemu Hyukjae oppa.” Ucapnya. Entah ini sebuah pujian atau ejekan darinya. Kucoba mendatarkan ekspresi wajahku. “Miane.” Lanjutnya lagi. Dia masih berusaha meminta maaf padaku.

“Hyojin-a ..” ucapku. Dia sedikit terkejut mendengarku menyebut namanya. Semenjak kejadian aku melabraknya di rumah Changmin kami tidak mengobrol lagi. Bahkan saat aku bertemu dengannya tadi sore aku masih enggan untuk menyapanya.

“Ne?”

“Kita hentikan saja permusuhan ini. Aku sungguh lelah.”

Mata Hyojin berkaca-kaca ketika aku mengucapkan hal itu. Aku yakin dia pasti sangat senang aku mengucapkan ini. Hyojin memelukku. Hangat. Kukulum bibirku mencoba menahan tangis karena mendengar isakannya.

“Gomawo. Gomawo. Aku juga harus berterima kasih kepada Hyukjae oppa. Jeongmal gomawo.” Ucapnya tulus.

Aku dan Hyojin sudah duduk di atas ranjang sambil memangku bantal masing-masing. Kurasa aku rindu tidur berdua dengannya seperti waktu kami duduk di bangku SMP dulu. Kami sering menghabiskan waktu berdua di kamar sekedar membaca majalah atau mengerjakan tugas sampai ketiduran. Kini aku sedang berada di kamar Hyojin. Sepekat untuk mengulang memori yang dulu.

“Aku benar-benar menyesal..”

“Kurasa aku harus mengerti posisimu.” Jawabku.

“Miane..”

“Hei, sudahlah kau terus meminta maaf. Jika memang kalian saling mencintai, menikah saja. Itu lebih baik bukan?”

Hyojin tersenyum. “Kau benar-benar sudah berhasil melupakan Changmin oppa?”

“Aku akan berusaha. Waeyo? Kau tidak rela aku masih mencintainya?”

“Hyukjae oppa akan membuatmu jatuh cinta. Omo! Lihat! wajahmu memerah saat aku menyebutkan namanya. Yak, waeyo? Hahaha.” Hyojin menertawaiku sambil meneriakuku. Benci sekali. Benar-benar benci jika aku malu pipiku dengan cepat akan terlihat memerah seperti saat ini.

“Yak ! Jangan menertawaiku dan jangan menyebut namanya !” kesalku.

“Ceritakan padaku ! Kurasa kau berhutang cerita padaku.”

“Mwo? Cerita apa?”

“Kapan kau jadian dengannya? Lalu kenapa kau bisa menerimanya? Katanya kau tidak akan jatuh cinta pada ajuhsi macam Hyukjae oppa? Kau tau, kau menjilat lidahmu sendiri.”

Kututup kedua telinganku dan sedikit berteriak ketika Hyojin mendesakku dengan berbagai pertanyaan.  Aku sungguh malu. Hyojin meledekku tentang ucapanku waktu dulu. Tiba-tiba pintu kamar Hyojin terbuka. Sooyoung onnie datang dengan wajah khawatirnya. Mungkin dia melihat keadaan ketika mendengar teriakanku tadi. Yang dia tahu hubungan kami tidak sebagus dulu. Mungkin dia sedikit khawatir kalau kami sedang melakukan sesuatu.

“Ige mwoya?” tanya Sooyoung onnie tegas.

“Onni-ya !” sapa Hyojin tersenyum.

“Kalian..?”

Sepertinya yeoja bertubuh panjang itu masih tidak percaya melihat kedekatan kami lagi. Apa yang ada dipikirannya?

“Ne onnie, kami sudah baikan.” Ucapku sembari merangkul Hyojin. Soyoung onnie menyunggingkan senyumnya ikut bahagia melihat kami. Dia melangkah mendekati kami lalu merangkul kami berdua.

“Jangan tinggalkan onnie..” ucapnya disertai anggukanku dan Hyojin.

Author’s POV

——————-

Hanwoo membuat sebuah garis lurus di sebuah kain pink lalu mengambil gunting memotong kain itu mengikuti garis yang ia buat tadi. Setelah libur seharian penuh kemarin, dia kembali bekerja menjalani hari-harinya menjadi seorang pegawai di sebuah perkantoran busana di Seoul.

Sebenarnya menjadi seorang pegawai bukanlah cita-citanya. Cita-citanya adalah ingin menjadi sebuah direktur. Namun dia ingin menambah wawasannya makanya ia memutuskan untuk mengabdi dulu di sebuah perusahaan besar.

Tiba-tiba handphonenya berdering. Hanwoo merogoh sakunya dan melihat nama panggilan sayang untuk kekasihnya muncul di layar. Dia membuat nama kontak Hyukjae di handphonenya dengan panggilang “sexy”. Jangan sampai Hyukjae tahu tentang hal ini namja itu bisa besar kepala.

“Yeoboseyo.” Sapaku.

“Yeoboseyo. Kau sedang bekerja?”

“Ne. Aku sangat sibuk hari ini. Waeyo?”

“Jeongmal? Tidak bisa bertemu nanti malam?”

“Eodi? Kau merindukanku?” Hanwoo menggoda Hyukjae. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Sepertinya Hanwoo sudah sedikit terbuka mengenai perasaannya terhadap Hyukjae. Mereka sudah sangat dekat belakangan ini dan merasa cocok satu sama lain.

“Mmm.. sangat. Aku ingin menciummu.” Hyukjae balik menggoda Hanwoo dengan suara lembut yang dibuat-buat. Itu bukan suara Hyukjae yang sebenarnya. Sepertinya namja itu sedang ingin bermanja-manjaan.

“Napun namja !” marah Hanwoo. Terdengar tawa Hyukjae diseberang sana.

“Aku ingin mengajakmu kencan mala mini di Kaltera. Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?”

Hanwoo mendelik. Dia sedikit trauma dengan tempat itu dan tidak ingin mengingat Changmin lagi. Restoran itu memang sering dipakai para artis atau orang-orang penting sebagai tempat kencan karena orang-orang biasa jarang yang mengunjungi restoran itu karena budget yang tidak mencukupi.

“Anio. Jangan disana. Bagaimana jika malam ini kita berkencan di apartemenmu?” tawar Hanwoo.

Hyukjae tersenyum tipis mendengarnya. “Kau ingin bertemu dirumahku? Kau tidak takut jika nanti akan terjadi sesuatu padamu?”

“Apa yang akan terjadi?”

“Menurutmu?”

Hanwoo mendesis. Dia mengerti apa maksud Hyukjae. “Kau ingin aku mengenakan pakaian apa? Apa kau ingin aku mengenakan gaun malam?” Hanwoo masih terus memancing namjanya.

“Kau ingin menggodaku? Hhmm.. Hanwoo-ya jangan membuatku membayangkan tubuhmu. Berpakaianlah yang wajar karena ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu.”

“Hal penting?”

“Kutunggu kau jam tujuh malam di apartementku. Selamat bekerja nona Lee, mwah.”

-KLIK-

Hyukjae mematikan teleponnya. Hanwoo menatap handphonenya dan wajahnya mulai berseri-seri lagi. Hanwoo merebahkan tubuhnya di sofa lalu menggoyang-goyangkan sekujur tubuhnya karena senang dan sedikit malu pada dirinya sendiri bisa mengatakan hal tadi kepada Hyukjae.

———-

Hanwoo memolesi bibirnya dengan lipstick merah menyala setelah menaburi pupur di wajahnya. Sepulang bekerja dia akan mengunjungi apartemen Hyukjae. Mau tidak mau dia harus berpenampilan menarik. Hanwoo menghentikan aktivitas berlipsticknya saat tersadar bahwa dia sangat cantik sore ini.

Merasa seperti dejavu. Berdandan formal seperti ini mengingatkannya sewaktu Changmin mengajaknya ke Kaltera dan melamarnya. Waktu itu Hyukjae datang mengganggu acaranya. Namja itu memang selalu menjadi pengganggunya dari awal.

Hanwoo memasukkan lipstick di clutch bag hitamnya. Dia bangkit masih terkesima menatap dirinya di balik pantulan cermin. Dia mengenakan blouse orange dengan celana pendek berwarna cokelat sebagai bawahan. Suara heels cokelatnya terdengar terketuk-ketuk di lantai seperti sebuah irama. Hanwoo mengambil jas hitam yang dia taruh di atas ranjang tadi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bebas.

Hanwoo menuruni tangga pelan-pelan. Hyojin yang sedang membantu Sooyoung memasak di dapur menoleh ke arah tangga melihat Hanwoo yang tersenyum malu menghampirinya.

“Wangi sekali. Wangi strawberrymu tidak seperti biasanya. Mau pergi kemana?” tanya Hyojin.

Hanwoo terkesiap menatap lengannya lalu mengendus-ngendusnya. “Jeongmal? Apa aku terlalu wangi?”

“Gwenchana. Itu sudah cukup.” Imbuh Sooyoung sambil membawa bowl besar berisi adonan yang ia peluk di perutnya. “Apa malam ini kau mau berkencan dengan Hyukjae? Kurasa kau harus menyediakan pengaman.” Goda Sooyoung membuat Hyojin tersendat menahan tawanya.

“Onnieya..” sergah Hyojin.

“Pe.. Pengaman?” tanya Hanwoo tidak mengerti pengaman apa yang dimaksud Sooyoung?

“Ne. Kau tidak mengerti?” tanya Sooyoung. “Seseorang pasangan yang sedang berkencan harus membutuhkan pengaman untuk berjaga-jaga.” Sooyoung masih terus menggodai Hanwoo. Sooyoung membalikkan badannya berencana melanjutkan memasaknya lagi.

“Yak, apakah kau sering melakukan hal itu dengan Choi Siwon?” tanya Hyojin sedikit berteriak.

“Bukan seperti itu, aku hanya memberi saran saja.” Teriak Sooyoung balik.

Hyojin mencibir. Tangannya menepuk lengan Hanwoo setelah itu.

“Jangan dengarkan onnieku, dia sedang gila. Kau sangat cantik malam ini. Hyukjae oppa pasti akan sangat bahagia memilikimu.”

“Jeongmal?”

Hyojin mengangguk mengiyakan. “Ne. Percaya padaku.”

—————-

Hanwoo duduk di dalam bis menatap ke luar jendela. Hatinya berdebar. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Dia merogoh handphonenya di clutch bag dan menatap layarnya. Pesan dari appa. Hanwoo menyentuh layar untuk membaca pesan yang dikirimkan lewat pesan kakaonya.

Kau sudah makan? Makanlah yang banyak. Appa menunggumu pulang.

Hanwoo memasukkan handphonenya lagi tidak berniat untuk membalas pesan appanya itu karena dia sedang tidak ingin merusak mood bagusnya yang akan bertemu Hyukjae malam ini.

Tak lama kemudian handphonenya bergetar lagi. Hanwoo sedikit berteriak pelan karena frustasi sembari mengambil handphonenya lagi. Appanya cerewet sekali. Hanwoo menekan layar handphonenya dan melihat sebuah pesan yang ternyata dari Hyukjae. Pipinya bersemu merah. Moodnya berubah menjadi bagus lagi.

Eodiseo? Hati-hati di jalan. Aku menunggumu.

Hanwoo tersenyum. Tangannya bergerak lincah membalas pesan Hyukjae. Hatinya berdebar-debar lagi. Hanwoo memasukkan handphonenya kemudian menatap ke arah luar jendela. Membayangkan dia akan berkencan malam ini.

Dia mengangkat pergelangan kirinya. Memperhatikan gelang perak yang diberikan Hyukjae masih menempel di pergelangan tangannya. Dia akan menjaga gelang ini dengan baik dan tidak akan membiarkan lepas lagi.

————

“Lepaskan tanganku !”

“Aku tidak akan melepaskan tangamu nona Cho.”

Terdengar suara serak dari mulut Donghae ketika menemui Yoora di toko rotinya. Yeoja itu berhasil dia tangkap ketika mengejarnya sampai masuk ruang kerjanya. Donghae sudah tidak tahan lagi. Apalagi ketika mendapat telepon dari Hyukjae bahwa Yoora tidak ingin diganggu olehnya lagi. Dia sangat marah lalu datang menghampiri Yoora ke toko rotinya.

“Aku akan memanggil satpam !”

“Panggil saja, bila perlu seret aku ke kantor polisi !” Donghae mengancam balik. Ia menggertakkan giginya membuat garis rahangnya tertarik kuat. Mata sayunya menatap Yoora. Sementara yeoja itu merasa sedikit pusing karena gertakan namja ini.

“Donghae-ssi !”

“Kenapa kau ingin aku menjauhimu? Kau tahu, di Mokpo banyak yeoja yang menginginkanku tapi kenapa kau malah menghindariku? Apa aku kurang tampan?”

“Ck!” Yoora berdecak. Senyum mirisnya mengembang saat dia memutar matanya. Yoora menatap Donghae.

“Kau samakan aku dengan yeoja-yeoja di Mokpo? Cih.”

“Baiklah. Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi.” Ucap Donghae lemas. Donghae merasa sedih dan kecewa bahwa yeoja yang disukainya malah menolaknya. Donghae berbalik dan melangkah pelan berharap Yoora mencegatnya.

‘Miane Donghae-ssi. Aku hanya takut kau akan mempermainkanku seperti sahabatmu yang mempermainkanku.. Miane..’

Hati Yoora merasa terpanggil dan mulai berbicara pada dirinya sendiri bahwa dia bukan bermaksud untuk bersikap kasar pada namja ini melainkan dia takut bahwa Donghae hanya mempermainkannya seperti Hyukjae yang mempermainkannya. Apalagi mengetahui hatinya yang masih belum ingin menghilangkan Hyukjae dari ingatannya.

Donghae merasa kecewa ketika dia sudah melangkah sampai pintu tapi Yoora tidak bertindak untuk mencegatnya. Tangannya membuka pintu dan dia benar-benar pergi dari toko ini. Mungkin besok dia akan menyiapkan kepulangannya ke Mokpo.

Hyukjae’s POV

———————

Malam ini adalah malam yang kutungg-tunggu. Aku sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Aku akan melamarnya. Berharap dia tidak menolak dan membuatku kecewa.

Tidak. Tidak mungkin. Dia tidak akan menolakku. Semua akan berjalan dengan lancar, Lee Hyukjae. Selama ini kau melakukan yang terbaik dan berusaha menjadi namja yang dia inginkan.

Kukenakan jas tuxedo hitamku setelah memakai dasi. Kutatap diriku di cermin panjang. Disana ada pantulan bayanganku. Tampan. Malam ini aku berusaha menjadi namja yang disukainya. Dia menyukai pria yang rapi. Rambutku sudah kusisir rapi memperlihatkan dahiku. Dia menyukai namja yang rambutnya naik ke atas katanya terlihat lebih gentle. Aku juga sudah mengenakan jas malam ini, memasukkan kemeja putih dalamku ke celana walaupun ini bukan gayaku sama sekali karena dia menyukai namja yang rapi seperti Choi Siwon.

Aku keluar kamar melihat meja makan yang sudah kutata rapi. Walaupun aku memesan makanan lewat catering, aku harap dia akan menyukainya karena aku tidak bisa memasak sama sekali. Kutatap buket bunga yang sudah aku pesan daritadi pagi. Bunga mawar merah. Dia sangat menyukainya. Untung saja tidak layu karena aku memasukkannya ke dalam kulkas.

Aku tersenyum. Memori itu terlintas lagi. Dimana saat pertama kali aku menjadi secret admirrernya mengirimkannya setangkai bunga matahari karena saat itu aku tidak tahu apa bunga kesukaannya. Tapi malam ini aku membelikannya sebuket bunga mawar merah kesukaannya.

Mataku kemudian beralih pada kotak kecil berwarna merah disebelahnya. Kusentuh kotak merah itu sebelum bel apartementku berbunyi. Aku tersenyum sembari mengambil benda itu lalu memasukkannya ke dalam kantong celana. Segera kuambil buket bunga lalu melangkah membuka pintu.

Aku sangat sangat terkejut bahkan senyumku memudar ketika melihat seorang yeoja sudah berdiri dihadapanku. Yeoja itu mengenakan gaun biru di atas lututnya memperlihatkan lekuk tubuhnya. Yeoja ini bukan Lee Hanwoo melainkan Hwang Minrin. Hidungku mulai mencium bau alkohol di tubuhnya. Sepertinya dia sedang mabuk.

“Hyukjae-ya..” ucapnya lembut. Dia memelukku. Aku berusaha mendorongnya namun dia malah makin mempererat pelukannya di tubuhku.

“Sungmin memutuskanku. Kau juga menghindariku. Kau itu.. eungghh.. kenapa tidak membalas semua pesan-pesanku bahkan tidak mengangkat telponku hah? Aku merindukanmu. Aku merindukan ciumanmu.” Ujar yeoja berambut pendek bernama Hwang Minrin. Dia terkekeh sambil tersenyum.

“Kau sedang mabuk nona Hwang.” Ujarku sembari melepaskan pelukannya.

“Mwo? Aku tidak mabuk. Kenapa kau melarangku untuk tidak boleh mengganggumu? Hyukjae-ya, kau napeun namja !” Hwang Minrin mencubit pipiku dengan kedua tangannya.

“Jangan sekarang nona Hwang. Bisakah kau pulang sekarang. Demi aku.. Jebal.”

“Anio, temani aku.”

“Tunanganku akan datang sebentar lagi, jebal. Jangan membuatku marah.”

“Tunangan? Kau mempunyai tunangan? Kau mengatakan mencintaiku bahwa aku adalah yeojamu satu-satunuya. Kau jahat!”

Aku berteriak frustasi saat Hwang Minrin memukul dadaku dengan tas merahnya. Yeoja ini datang disaat yang tidak tepat. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mendorongnya hingga membentur tembok? Jika aku melakukan hal itu, yeoja itu bisa saja mengancamku dan menyeretku ke kantor polisi membuat keadaan akan semakin parah.

Kurasakan bibirnya sudah menempel di bibirku. Kupejamkan mataku kesal. Aku berusaha menarik kepalaku namun tangannya menyentuh kepalaku tidak mengijinkanku pergi. Kekuatan yeoja ini kuat sekali.

“Oppa..”

Aku benar-benar lemas ketika mendengar suara Hanwoo sudah terdengar di telingaku. Hwang Minrin melepas ciumannya. Kami berdua menoleh ke arah Hanwoo. Tubuhnya begetar. Wajahnya terlihat pucat saat melihatku.

“Inikah tunanganmu, Lee Hyukjae?”

Apa yang harus kulakukan? Bukan  bermaksud sengaja membuatnya seperti ini. Tapi posisiku juga sangat sulit.

“Oppa, apa kau menyuruhku datang kesini untuk melihat hal ini?”

“Hanwoo-ya, anio. Kau harus percaya padaku.”

“Percaya? Apa yang harus kupercaya?”

Hanwoo membalikkan badannya berjalan lemah meninggalkan tempat ini. Kakiku spontan mengejarnya. Kutarik tangannya hingga dia membalikkan badan. Kulihat dia menangis. Air matanya mengalir. Dia menatapku tajam.

“Hanwoo-ya, jangan seperti ini. Dia datang menemuiku. Aku tidak tahu apa. Dia sedang mabuk.”

“Kau berciuman dihadapanku oppa. Kau pembohong !”

“Hanwoo-ya!”

‘PLAK!’

Seseorang membalikkan badanku kemudian menampar pipiku. Kutatap Hwang Minrin yang sudah berdiri di depanku.

“Kau benar-benar mempermainkanku tuan Lee.” Ucap Hwang Minrin kemudian pergi meninggalkanku. Aku tidak peduli dengannya. Mau dia menamparku beribu-ribu kali, aku tidak peduli. Yang aku pikirkan adalah yeoja yang saat ini sedang menangis karena masa laluku.

“Miane.” Ucapku lembut. Kusentuh lengannya hendak memeluknya namun dia menepisnya.

“Jangan menyentuhku.”

“Hanwoo-ya, jangan seperti ini jebal. Percayalah padaku. Dia datang padaku. Dia tidak terima bahwa kau sering mengabaikan pesannya.”

“Lalu bunga itu untuk siapa?” tanyanya. Matanya melirik kea rah tanganku.

Kutatap buket bunga mawar merah yang kupegang sedari tadi. Aku tersenyum lalu memberikan bunga itu padanya. “Ini untukmu. Bukankah bunga ini kesukaanmu? Aku ..”

Dia merampas bunga mawar itu lalu menjatuhkannya dengan sempurna di lantai. Kakinya menginjak buket bunga itu hingga rusak. Sangat sakit melihatnya seperti ini. Hanwoo menatapku tajam. Dandannya rusak karena menangis.

“Berhentilah menemuiku. Hari ini kita akhiri saja semuanya. Kau pembohong. Casanova tetaplah Casanova. Kau tidak akan pernah berubah.”

Author’s POV

——————–

Sehari Kemudian ..

Hyojin menatap Hyukjae saat namja itu pagi-pagi sekali datang ke rumahnya. Baru jam 7 pagi. Namja itu terlihat pucat dan lesu menggengam sebuket bunga mawar merah yang pastinya untuk Hanwoo. Hyukjae mengembangkan senyumnya mencoba menutupi raut sedihnya.

“Hyojin-ssi. Kau Hyojin bukan?”

“Ne, oppa. Mau mencari Hanwoo?”

Hyukjae mengangguk. Dia sangat berharap Hanwoo mau bertemu dengannya.

“Oppa.. Hanwoo sudah pergi ke New York sejam yang lalu. Dia menyusul appanya yang menyuruhnya pulang ke New York.”

Mendengar hal ini nyawanya seperti terbang. Hatinya terasa sakit. Rasanya seperti tersambar petir. Susah-susah menghubungi Hanwoo dari kemarin yang tak kunjung mengangkat telponnya. Lalu handphonenya mati semenjak sejam yang lalu. Perasannya sungguh gelisah. Pantas saja. Yeoja itu sudah meninggalkannya sejam yang lalu.

“Jadi begitu ..”

“Kalian bertengkar? Hanwoo pulang menangis dan tidak mengatakan apa penyebabnya. Apa kau melakukan kesalahan? Aku bisa membantumu. Kurasa ada yang aneh saat Hanwoo memutuskan untuk pulang ke New York karena saat dia menemuimu kemarin malam aku sempat menggodanya. Dia sangat bahagia. Ini terlalu tiba-tiba.”

“Dia hanya salah paham. Baiklah. Mungkin memang harus berakhir.”

Hyukjae membalikkan badannya hendak pergi dari rumah ini namun Hyojin mencegatnya. Tangannya menyentuh lengan Hyukjae. Sontak Hyukjae membalikkan badannya.

“Ne?”

“Jika dia salah paham padamu, apa kau tidak berminat mengejarnya? Aku akan membantumu.”

———–

Donghae menghela napas frustasi. Dia menyandarkan badannya ke kursi setelah berdiam diri lama bersama dua sahabatnya Hyukjae dan Siwon. Mereka bertemu di Zoo Café. Ketiga-tiganya sama-sama diam. Hyukjae diam karena masalahnya bersama Hanwoo dan Siwon mengerti itu. Sementara Donghae diam karena memutuskan akan pergi ke Mokpo besok dan kecewa karena Yoora menolaknya.

Siwon menatap serius dua sahabatnya itu. Dia tidak mengerti dengan Donghae kenapa memanggilnya. Sedaritadi Donghae sangat gelisah. Raut wajahnya seperti orang frustasi. Sudah pasti bukan kabar baik yang akan dibawa Donghae melainkan kabar buruk semacamnya.

“Kau kenapa Lee Donghae?” tanya Siwon. Donghae sempat melirik Siwon sekejap lalu melempar pandangannya lagi ke arah lain.

“Teman, aku akan pulang ke Mokpo besok.” Ucap Donghae. Tubuhnya menunduk  menatap coke yang dipegangnya. Tulang rusuknya sangat lelah untuk hari ini membuatnya sulit bergerak. Pengaruh hatinya yang sedang sakit membuatnya malas bergerak.

“Jeongmal? Waeyo?” tanya Siwon. Donghae menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dia benar-benar lelah.

“Aku ingin pulang.” Ucap Donghae.

“Ini bukan seorang Lee Donghae. Kau pasti sedang ada masalah.”

“Aku bisa gila jika lama-lama diam disini.”

“Apa karena Yoora?”

“Aiishh jangan menyebut nama yeoja itu. Aku membencinya. Dia sombong sekali.”

“Segitu saja menyerah. Kau payah, Lee Donghae.” Ejek Siwon. Donghae tidak terima dan menatap tajam ke arah Siwon. Siwon hanya nyengir saja. Berbeda dengan Hyukjae yang sedari tadi enggan untuk berbicara mendengarkan percakapan dua sahabatnya.

“Aku akan ke New York malam ini. Siwon-ah, bisakah aku mengambil cuti? Tidak ada pekerjaan untukku kan selama minggu ini? Jika ada tawaran tolong tolak sampai masalahku selesai. Tolong urus surat cutiku pada manajemen.”

“Ne.. New York? Untuk apa kau kesana?”

Hyukjae tidak menggubris ucapan Donghae. Masalahnya kali ini adalah masalah serius. Seseorang yeoja yang akhir-akhir ini membuatnya jatuh cinta. Dia tidak akan pernah melepaskan Hanwoo. Hyukjae bangkit mengambil jasnya meninggalkan tempat ini. Siwon hanya menatap Hyukjae dengan serius. Dia tidak bisa melakukan banyak bahkan melarangnya. Dia tahu, Hyukjae sangat keras kepala. Apalagi untuk urusan yeoja yang benar-benar ia cintai.

“Ya, Lee Hyukjae !! LEE HYUK..”

Siwon bangkit mencegat Donghae yang hendak mengejar Hyukjae. Donghae sontak menoleh menatap Siwon yang menggeleng-geleng melarangnya. Donghae duduk lagi ditempatnya semula disusul Siwon.

“Biarkan dia.”

“Ada apa dengannya?”

“Hanwoo melihatnya berciuman dengan yeoja lain saat dia ingin melamarnya malam itu.”

Donghae mendesis memperlihatkan smirknya. “Dia bodoh.”

“Bukan salahnya.” ujar Siwon. “Yeoja itu datang disaat yang tidak tepat dan membuat kekacauan. Kau tahu, semenjak bertemu Hanwoo banyak yang berubah padanya. Dia bukan lagi bermain-main dengan banyak yeoja.”

Donghae terdiam. “Lalu kau akan mengijinkannya cuti?”

“Tentu saja. Lagipula belum ada job yang banyak untuknya minggu ini. Jadi, lebih baik kejar cintamu seperti Hyukjae mengejar cintanya.” Siwon tersenyum menepuk pundak Donghae.

“Apa dia bisa berbahasa inggris?” tanya Donghae. “A-aku hanya khawatir padanya. Kau tahu New York bukanlah negara biasa.”

“Gwenchana.” Ucap Siwon sambil menahan tawa mendengar pertanyaan Donghae yang tahu persis bahwa Hyukjae sangat parah dengan bahasa inggrisnya. “Dia bisa melaluinya.”

“Mengejar cinta ..” lirih Donghae pada dirinya sendiri dengan nada berbisik. Donghae memfokuskan matanya pada satu benda yang dilihatnya lalu memikirkan rencana apakah dia harus pulang ke Mokpo setelah melihat Hyukjae memperjuangkan cintanya atau dia akan melanjutkan kegiatannya mendekati Yoora?

Hanwoo’s POV

———————-

St. Maria 4th avenue, Staten island, New York.

Setelah beberapa jam akhirnya aku sampai di New York. Aku turun dari mobil van hitam Lee Kwangsoo ajuhsi *nb: Kwangsoo yang di Running. Kenal kan?*mengantarku sampai di jalan St. Maria 4th Avenue. Paman Kwangsoo ajuhsi mengantarku dengan selamat sampai di depan rumah putih bertingkat dua. Inilah rumahku di New York. Tidak banyak berubah. Hanya ada sedikit tanaman baru di halaman depan.  Pasti eomma yang sudah membeli tanaman-tanaman itu.

Aku mencoba menarik sudut bibirku yang terasa enggan untuk tersenyum. Kutatap sepasang suami istri yang berdiri di depan rumah bercat putih dengan bahan dasar kayu. Mereka adalah kedua orang tuaku. Aku memeluk eomma dan appa. Mereka menyambutku dengan bahagia. Kami masuk ke dalam beriringan diikuti Kwangsoo ajuhsi yang mengangkat koper ku sampai dalam.

“Gomawo ajuhsi.” Ucapku saat namja tinggi itu menaruh koper ku di ruang tengah.

Aigoo jangan memanggilku ajuhsi.”

Aku hanya nyengir memperlihatkan gigi-gigi rapatku diikuti dengan tawa riang eomma dan appa mendengar kwangsoo ajuhsi mengucap hal itu. Namja itu adalah dongseng appa yang belum menikah sampai saat ini umurnya sudah menginjak 28 tahun tapi belum ada tanda-tanda dia akan meminang seorang yeoja. Kwangsoo ajuhsi hanya lebih tua dari Hyukjae oppa lagi satu tahun. Hyukjae oppa? Jangan membahasnya. Aku sedang tidak ingin membahas namja yang sudah berani mengkhianatiku.

Kajja kita makan bersama.” Ajak pria berperut buncit, dia adalah appaku.

Eomma memasak banyak hari ini. Kau tidak rindu dengan masakan eomma?”

Wanita yang sedang memakai sweater cream adalah eommaku. Sangat merindukannya. Dia terlihat semakin kurus dan omo ! Ada keriput di wajahnya. Bagaimana bisa ini terjadi?

Kami melangkah duduk di meja makan begitu juga dengan Kwangsoo ajuhsi yang sudah duduk mengambil piringnya dengan cepat. Dia hanya menjaga piring itu sambil menunggu appa yang mengambil makanan lebih dulu.

“Tentu saja aku merindukanmu, eomma. Eomma, kau terlihat kurus. Apa appa suka memarahimu? Atau appa tidak suka memberikan makan untukmu?” tanyaku. Eomma melirik appa sambil menunduk malu. Sementara appa menatapku tajam. Aku tahu mereka pasti mengerti dengan candaanku jadi tidak perlu khawatir appa akan marah atau tidak mendengar ucapanku.

“Yak, apa maksudmu? Kau masih tetap nakal, Hanwoo-ya. Berapa umurmu?” bentak appa. Aku terkekeh geli mendengarnya.

Eomma, appa ..” aduku. Eomma hanya tersenyum sembari menyendokkan nasi ke piring appa.

Gwenchana. Appa menjaga eomma dengan baik.”

“Besok pagi kau harus berdandan yang rapi karena ada seseorang yang ingin appa kenalkan padamu.”

“Nuguya?” tanyaku namun appa tidak menjawab.

“Kau pasti akan menyukainya.”

“Kau berniat menjodohku appa.” tebakku.

“Aaah ! Anio. Jangan berpikiran seperti itu. Dia hanya ingin mengenalmu.”

“Sudahlah, kajja kita makan. Aku sudah lapar sedari tadi.” Ujar Kwangsoo ajuhsi yang sepertinya menunggu sedari tadi. Kami mulai menyantap makanan bersama di meja makan. Kwangsoo ajuhsi sepertinya benar-benar lapar terlihat dari caranya mengambil nasi. Pasti dia kelelahan karena menjemputku di bandara tadi.

Aku menatap bintang New York sambil duduk di celah jendela yang terbuka. Jam disini menunjukkan baru pukul 11 malam. Hawa dingin di musim gugur menyelinap ke tubuhku walaupun aku sudah mengenakan sweater tebal.

Kejadian kemarin terlintas lagi di memoriku. Bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu? Cobaan apa lagi yang harus kulalui? Tuhan, apakah Hyukjae tidak pantas bersanding denganku hingga muncul cobaan baru seperti ini? Pantaskah aku menangisinya? Baru saja aku jatuh cinta padanya dan berhasil melupakan Changmin. Tapi kenapa dia berbuat seperti itu padaku? Kenapa dia mengecewakanku?

‘Berpeganglah padaku..’

Ooh tidak. Suaranya terlintas begitu saja di ingatanku. Ini begitu sakit hingga aku memukul-mukul dada sendiri. Mencoba menenangkan hatiku namun hasilnya nihil. Hatiku sakit sekali. Setelah pulang dari apartemen Hyukjae aku menelepon appa menerima tawarannya untuk pulang ke New York.

Kupikir aku akan senang berada di New York untuk beberapa hari dan mencoba melupakan Hyukjae. Karena jika aku masih tetap di Korea, cepat atau lambat aku pasti menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa. Oh tidak. Itu tidak akan terjadi hanya karena namja seperti Lee Hyukjae.

Bolehkah aku memikirkannya? Aku tidak punya pegangan untuk melupakannya. Sedang apa dia disana? Apa dia mencariku? Apa dia sudah tahu kepergianku ke New York? Apa dia menangis karenaku? Atau malah sebaliknya dia mencari pelampiasan pada yeoja lain dan melupakanku dengan cepat? Sepertinya pertanyaan terakhirku yang paling tepat mencerminkan dirinya.

“… Ja, gelangnya sudah menempel lagi di pergelanganmu….”

Suaranya lagi-lagi terngiang di telinga. Aku tersenyum kecil mengangkat tangan kiriku. Melihat sebuah gelang yang masih melingkar indah di pergelanganku. Air mataku keluar mengalir dengan sempurna membasahi pipi. Kucoba menarik napas tapi air mataku malah semakin menjadi-jadi. Kubungkukkan tubuhku menekuk lutut. Kupeluk lututku menyadarkan kepalaku disana. Aku menangis sejadi-jadinya tidak peduli dengan protesan kedua orang tuaku mengenai mata sembabku jika terbangun esok hari. Aku gagal lagi.

————

“Hanwoo-ya kenalkan ini anak teman appa…” ucap appa.

Kami sedang melakukan pertemuan dengan namja yang ada dihadapanku ini. Hanya bertiga, aku, appa dan eomma tanpa kedua orang tuanya sama sekali. Dia datang kerumahku tepat jam sepuluh pagi sesuai perjanjiannya dengan appa.

Namja itu tersenyum lalu membungkuk ke arahku. Senyumnya sangat manis. Menunjukkan bahwa dia daun muda yang umurnya setara denganku. Tubuhnya mungil. Ya walaupun mungil dia tetap lebih tinggi dariku. Badannya sedikit kekar terlihat dari balik jas hitamnya.

“Anyeong haseyo, choneun Kim Ryeowook imnida. Kau bisa memanggilku Wookie, Hanwoo-ssi.”

Terdengar tawa appa. Tangannya memukul pelan pundak Ryeowook yang akrabnya di panggil Wookie. Nama yang sangat unik menurutku. Aku tersenyum membungkuk.

“Lee Hanwoo imnida.” Ujarku balik sebagai sopan santun agar appa senang dan bangga melihatku menjawab pertanyaan Wookie. Kini giliran eomma yang menyentuh dan mengelus pundakku.

“Wookie, dia anak ahjuma satu-satunya. Hanwoo-ya, Wookie sering kesini. Dia pebisinis muda.”

Aku hanya tersenyum. Dari cara mereka berbicara aku mengerti sekarang. Mereka pasti sedang berusaha menjodohkanku dengan Ryeowook. Baiklah. Selagi namja ini manis dan tidak mengecewakan mungkin aku harus cepat melupakan Hyukjae. Jika melupakan Changmin aku mempunyai Hyukjae, melupakan Hyukjae aku juga harus mempunyai pegangan.

Aku akan melupakanmu segera, oppa..

—————–

10.00 AM, John Federal Kennedy Airport, New York City

Bunyi pesawat terbang tidak hentinya melintas di bandara John Federal Kennedy, New York City. Ribuan orang baik pekerja, staff ataupun orang-orang yang sedang melakukan liburan di New York berlalu-lalang di dalam bandara. Bandara itu sangat padat terlihat lebih parah daripada pasar. Bunyi mesin-mesin komputer, bunyi alat pendeteksi keamanan, anjing-anjing pelacak yang melintas bersama polisi di sekitarnya membuat bandara ini terlihat sedikit seram.

Seseorang menyeret kopernya ketika keluar dari pintu penerbangan internasional di bandara ini. Tepat jam sepuluh pagi Hyukjae tiba di New York seorang diri. Hyukjae membuka kaca mata hitamnya. Menjepit kacamatanya di kerah coat merahnya.

Hyukjae menekan-nekan layar handphonenya mencari-cari sebuah note. Dia membuka note itu lalu membacanya.

St. Maria 4th avenue, Staten island, New York.” Ucap Hyukjae membaca pesan yang disimpannya. Bersyukur Hyojin mau membantunya untuk mencari tahu alamat dimana Hanwoo tinggal saat di New York. Dia menyeret kopernya siap untuk pergi mencari Hanwoo dan menjelaskan semuanya dengan jelas.

TBC

Rencana mau buat eps ini adalah eps terakhir tapi ternyata jatuh ceritanya jadi kepanjangan. Takut bosan dan tidak menarik jadinya aku buat bersambung. Semoga nih FF tidak bosan dibaca. Kali ini untuk membuat eps ini saya ditemani oleh lagu-lagunya mbak Juniel, Aile, Lyn dan mbak Gna. Ah , terima kasih buat mereka semua.

Sedihnya dapet ga? Huhuhu. Kayaknya nurun drastis ya ceritanya padahal awalnya sudah baik-baik saja. Yah, namanya juga cerita. Mau gimana lagi? Eehhehe. Kadang cerita-cerita yang ada di Indosiar juga lebay-lebay ehehhe. #lho[?]

Bagaimana untuk Changmin dan Hyojin? Apa kurang?? Kurang?? Kurang?? Dan couple choi sudah jadian disini. Ehehe. Trus donghae … gaje yah donghaenya disini. Hhuhuhu. Disaat semua sudah menemukan cintanya, Hyukjae dan Hanwoo masih bermain-main dengan takdir. Bersenang-senanglah~~~ Nasib mereka ada di tanganku. Hhuhu T____T.

Maaf ya penggambaran New Yorknya mungkin kurang. Aku kurang mengenal New York. Hhhh~~ kenapa saya memilih New York untuk FF ini?? Jepang bisa kan dan saya tidak pernah kepo New York ini agak susah buat aku.

Readers…

Mau curhat..

Blog ini sepi ehehe . Aku juga g ngerti kenapa. Ada yang bisa kasi saran ga??

Apa cara penyampaian FF kami kurang mengena? T_T

Sudah promosi ke banyak orang, grup bahkan di twitter tapi tetap saja ..

Aaaa terima kasih banyak buat teman2 yang sudah membaca FF kami dan sudah koment ngasi kritik dan saran  Jangan lupa koment di ‘NEW ANNOUNCEMENT’ kami ya ^^ yang ada di home.

Saya random sekali. Ehehe. Gimana FF nya?? Kepanjangan ya?? Hhuhu. Atau ngebosenin?

Saya penasaran. Tetap di comment ya ^^ terima kasih banyak.

Iklan

19 thoughts on “[6] Kasanoba Wangja

  1. ituu yg awal kkkk kirain hyuk m hanwoo udah sejauh itu…hehehh baik bgt hyuk 🙂
    knapa ending nya harus moment itu…jdi pengen cepetan next chap,,hyuk hanwoo harus balikan lagii
    kemunculan ryeewook di sini sangat tidak diharapkan 😦 kkk mianhae oppa**
    hyojin jdi berguna disini..heheh donghae+siwon nyelip2 dikit nambah asik ceritanya,,tapiii hanwoo hyuk moment nya masih kurang d part ini saeng,,,sebelum k cerita konfliknya,,,sweet moment hanwoo hyuk nya kurang..heheh
    next chapnya cepetan saeng 🙂 daebak ^^

    Suka

    • wooaa sudah banyak aja yang comment dan selalu onnie yg jadi comment yang pertama ^^ keekkekeke~~~ gomawoooo…
      haaah masa kurang onn?? baiklah saya keep untuk eps selanjutnya smoga bisa banyak moment hanwoo hyuknya. hihiiii.

      Suka

  2. yeay~ akhirnya hyojin sama hanwoo udah baikan ^0^ author tambahin choi couple nya dooong :3

    haaaaaa kenapa minrin harus muncul??? T_T
    kasian hyuknya 😥
    pokoknya mereka harus balik lagi berdua~ ><

    kok hanwoo kesannya disini agak jahat ya ._. cari pelampiasan terus gitu 😐

    ayo hyuk hwaiting!~~ *cium hyuk*

    Suka

  3. Part 6 udah terbit dan kenyataannya saya baru komen di part 5..
    Nyahahahahhahaha
    Apa ini..apa ini..adegan mesum dimana-mana.,,huuhuuuu..saya masih polos..
    Tolong jangan racuni pikiran sayaah *ngewave
    Tp entah kenapa, kok suka ya #eh
    Pengen cakar hanwoo.. udah berapa ember air mata yang ditumpahin hyojin dari part mulai mellow n jahatnya hilang? Molla..
    Aku kira yang di Kaltera itu hanwoo sama hyuk ketemu, tp ternyata ketemunya sama yoora.
    Padahal kan bisa jadi problem juga tuh kalo hyuk tau hanwoo ke kaltera buat ketemu changmin, yah walopun ada hyojinnya sih..XD
    Hyojin Changmin, hey leehanwooimnida, masih nanya kurang banyak? INI BENER-BENER KURANG!!! *injek capslock
    Mana cincin yang dibeli changmin kemaren? Mau dikasi pas ngelamar aja atau gimana?
    Huhuuuuu.. I want more.. I want more.
    Pedalem li hyojin patah hati gr2 kyu.
    Yoora, jangan je jual mahal gt, donge yang dari mokpo itu walopun belog ajum dengan pride “terkaya dan tertampan dari mokpo” itu pasti setiah kok. Nyahahha
    Ngakak sebenarnya pas scene Siwon-Hyukjae-Donghae di resto itu, suasana Hyuk sama Donge itu anggep aja hujan badai petir menyambar silih berganti sedangkan suasana Siwon itu cerah terah benderang sejahtera gemah ripah loh jinawi. Lololololololol
    Choi Couple so swit kyakyaaaa~~ ah, aku berhasil membayangkan gimana ekspresi syoo pas jadian ituh..
    O iya, pas hanwoo mau ke apartemen hyuk yang dibencadain sama choi sister ituh..yg hyojin teriak soal pengaman, hey, berkacalah nona muda, bak bak perjelas kamu udah diapain aja sama changmin -___-
    But at least aku paling suka gr2 mereka udah baikan dan adegan di kamar hyojin itu kyakyaaa~
    >//////<
    Hwang minrin, JALANGS!!! Pantes aja sungmin memutuskanmuh. Dan hyukjae juga membuangmuh..sudah sama Rangga smes aja..nyahahahha *eh
    Kim Ryeowook. KIM RYEOWOOK! Jebal sejak awal babehnya hanwoo nelpon n bermodus perjodohan itu aku udah komat kamit berdoa supaya bukan wookie, tp ternyata doaku tidak terkabul TT____TT pedalem wookie ntar tersakiti..

    O iya uls, ada beberapa bagian yang bahasanya agak-agak. Pupur -____- jebaaaalll. Cepet lanjutkan part 7 n kasi kali ini hanwoo yang banyak nangis..wkakakakka

    Suka

    • hiiiaaaa dinaaaaa …. you’re cominggg. #pasangpengaman
      disini yooranya ajum ya gamo sama dongek. hhuhuhu.
      karakter dongenya dapet ga sih T_T hhhuhu ?
      mengenai minrin saya bosen buat karakter minrin jadi ceweks baik, imut nan lugu. sekali2 buat yang hiuuuhhh ~~~ #ingetmotokeluargalee
      ahahahhaa !!!
      kyaaaa >//////< ahahhaaa.
      yeaaa. Kim Ryeowook masuk jadi cast. Maunya aku tambah kyu tapi aku bingung mau naruh kyunya dimana hhihihiiii. Tumben kyu g masuk disini jadi cast.
      iyaaaaa lohh din padahal aku sudah revisi tapi tetep aja ada yang salah ternyata. next eps harus lebih teliti lagi.
      hwitting !!!
      ditunggu ya !

      Suka

  4. Yeay! Hyojin sama Hanwoo baikaaaan n____n
    Tapi kasian Donghae ditolak mentah2 sama Yoora. wooo Yoora wooo.. nanti kalo kangen sama si Ikan baru tau looh…
    Aigo aigo aigo itu Minrin ngapain disitu.. kan jadi salah paham. nanti kalo Hanwoo nerima Wook gimana? andweeeeee T^T
    Ditunggu next partnya~

    Suka

  5. Ck, stlh dibookmark aja slma 4hri akhrnya dibaca juga. Ish telat deh guaaaaa… -_-
    Flashback bagian pertama cetarrr bgt deh, wakakakakak *buru2 psg pengaman*
    Hanwoo-Hyukjae g seromantis part kmrn, 😦
    Dipart ini kayanya jd bagian buat couple lee buat buktiin cinta mereka yg tulus.
    Masalah beres, hyojin-hanwoo-sooyoung balikan, ξ\(ˇ▽ˇ)/ξ. Sahabat sejati bgt deh.
    동해 patah hati ta?
    Wookie ngapain dsni ganggu aja deh. *tendang wookie* wakakaka
    Udahlah g usah pnjg2. Udah telatnya.

    Suka

  6. ahhhhh ad lagi rintabgan y setelah hanwoo y maafin hyorin n ngelupain changmin malah hyuk y kedatengan cwe,,, man pas mau ngelamar lg….
    kapan.hanwoo y bahagia,,,, cinta y kandas mulu….
    q ngak tau knp tetep ngak suka ma hyojin klo cerita y nyngkut ke changmin n hanwoo agak ngak terima ma yg dilakuin ma dia dulu tp pas sikap hyojin yg ngak ada sangkut paut ya changmin n lg kyk ngibrol b’2 ma hanwoo becanda malah senwng ngak benci…..
    hyukjae bakal diterima ngak ya ma hanwoo nanti n dimaafin??? n gmn tanggepan ortu y hanwoo nanti…
    Lanjut….

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s