[7] Kasanoba Wangja

kasanoba wangja 7

Author: Hanwoo

Cast: Hyukjae – Hanwoo – Ryeowook – and other cameos ●

Length: Part 7 ● Genre: Romance- Straight- Friendship – Family

Hanwoo’s POV

——————–

Hari kedua di Staten Island, New York …

Semenjak pertemuan itu …

Alarm bel rumah ini berbunyi mampu membuatku menutup majalah hendak membuka pintu rumah. Hari ini aku lebih memilih berdiam diri dirumah. Perasaanku masih belum pulih dari rasa sakit hatiku ketika tinggal di Seoul. Sudah dua hari aku memaksakan diri untuk mencoba tidak memikirkan Hyukjae. Tapi.. Entahlah apa aku berhasil melupakannya atau tidak. Entah perasaan apa yang muncul, seperti ada yang hilang dan ini membuat hatiku semakin sakit.

Wajar. Ini adalah hal yang wajar ketika aku memutuskan untuk melupakan seseorang yang pernah singgah dihatiku. Bagaimanapun juga aku sempat mencintainya.

Sudahlah. Aku sedang tidak ingin membahas Hyukjae lagi. Dia sudah masa lalu dan hanya masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu dan tidak akan pernah kembali seperti aku dan Changmin oppa yang tidak akan pernah kembali. Mungkin aku tidak akan kembali lagi ke Seoul dan akan menetap di New York bersama kedua orang tuaku. Ini sungguh berat untukku.

Ekspresi wajahku berubah menjadi senang ketika Ryeowook terlihat dari balik pintu rumah yang kubuka. Dia tersenyum. Senyumnya benar-benar cute dan sangat manis. Dia seorang bussineseman muda namun pakaian yang dikenakannya tidak menunjukkan bahwa dia orang yang seperti itu. Dia terlihat seperti apa adanya dengan hoodie hitam bergambar teddy bear dan jeans biru donkernya. Poninya turun menutupi dahi. Dia benar-benar berbeda dari .. namja-namja yang aku suka.

“Hi !” sapanya sembari melambaikan tangannya pelan yang sejajar dengan pundaknya. Kubalas lambaiannya sekilas. Gayanya benar-benar seperti orang Amerika.

“Hi ! Mencari appa? Jam segini appa belum pulang dari kantornya.” Ucapku.

Ryeowook menggeleng. “Anio. Aku datang kesini ingin bertemu denganmu.”

“Denganku? Untuk apa?”

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Disini jarang ada yeoja dari Korea Selatan membuatku bosan tidak ada yang bisa aku ajak sharing. Maukah kau menemaniku jalan-jalan? Di sekitar sini ada padang rumput yang indah. Kita bisa pergi berdua.”

Tidak tahu apakah memang begini gaya khas orang-orang New York yang langsung to the point ingin mengajak kencan padahal baru saja dua hari bertemu. Kencan? Hei Hanwoo, mungkin di Korea menerima ajakan seorang namja bisa disebut dengan kencan tapi apakah sama dengan New York? Mereka bisa saja menyebutnya dengan sebutan hang-out.

——————

Sebuah taman yang dipenuhi rumput ilalang yang menyerupai seperti tanaman gandum. Bangku kayu yang diletakkan di pinggir jalan setapak. Lampu-lampu taman yang berjejer. Membuat Taman ini terlihat sangat rapi penataannya. Tama ini terlihat sangat asik untukku. Hanya melewati dua belokan dari kediamanku, aku bisa mengunjungi taman ini. Tapi aku baru tahu setelah Ryeowook mengajakku ke tempat ini. Padahal aku sempat melewati wilayah ini tapi aku tidak tahu bahwa ini adalah taman yang indah.

Aku benar-benar takjub. Ini sebuah taman tapi ketakjubanku tidak biasa ketika melihat pemandangan ini. Untung saja mataharinya tertutup awan jadi aku bisa puas mengunjungi taman ini hari ini tanpa merasa takut kepanasan atau kulitku menjadi cokelat. Kudengar Ryeowook tertawa. Sontak aku menoleh ke arahnya.

“Apa di Korea tidak ada taman seperti ini? Ekspresimu membuatku menebak kau sangat bahagia melihat pemandangan disini.”

“Anio. Di Korea tidak ada taman seindah ini. Aku tidak pernah kesini.”

“Taman ini baru dibentuk. Kau pasti jarang kesini.”

“Ini sangat indah.” Takjubku.

“Jeongmal?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Tidak kupedulikan lagi Ryeowook. Aku melangkah dengan senyum. Melangkah meninggalkannya lebih dulu. Sekejap menutup mata mencoba merasakan udara disini. Aku ingin tinggal disini lebih lama lagi. Disini aku bisa hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan masalah-masalahku yang ada di Seoul.

“Hei, kau tidak lelah? Aku sudah membuatmu jalan kaki sangat lama. Kau tidak ingin duduk? Aku akan membelikan minum.”

“Hmm.. Baiklah.”

Aku melangkah kepinggir duduk di bangku kayu itu. Kutatap Ryeowook yang sudah pergi membelikanku minum di kedai yang ada di pertigaan jalan.

Tidak kupedulikan Ryeowook. Wajahku menengadah menatap langit biru yang indah. Kuambil iphoneku untuk mencari kamera lalu mengambil gambar langit. Langit itu sudah berhasil aku foto. Aku menoleh melihat Ryeowook melangkah menghampiriku. Kumasukkan lagi iphoneku.

“Ini untukmu.” Ucapnya sembari memberiku satu cup ice cream. “Tidak ada air mineral. Ternyata kedai itu menjual ice cream. Aku membelikanmu satu cup ice cream rasa strawberry.”

Aku terdiam lama mencerna ucapan Ryeowook. Kutatatap ice cream itu lama. Aku tidak terlalu suka rasa strawberry. Yang aku suka adalah ice cream rasa vanilla. Strawberry mengingatku pada seseorang.

Tentu saja. Hyukjae sangat suka apapun yang berbau strawberry termasuk dia menyukai tubuhku yang beraroma strawberry. Tidak bisakah kau melupakan Hyukjae, Hanwoo? Tataplah namja yang sedari tadi memanggilmu itu. Cobalah lupakan.

“Kau tidak suka ice cream? Ah miane. Aku akan membelikanmu yang lain.”

Kutatap matanya ketika aku terasadar dari lamunanku. Kuambil ice creamnya langsung melumatnya dengan lidahku agar dia tidak khawatir. “Gwenchana. Johayo. ” Singkatku sembari menunduk agar dia tidak melihat mataku yang sedang berdusta.

Ryeowook duduk disampingku. Dia juga melumat ice cream chocolatenya. Apa dia menyukai rasa cokelat?.

“Ryeowook-ssi ..”

“Yak ! Jangan memanggilku Ryeowook. Panggil aku Wookie.”

“Mmm.. Miane. Baiklah aku akan memanggilmu Wookie.”

“Ne. Itu terdengar lebih baik dan lebih imut.” Ujarnya sambil tersenyum. Ternyata dia menyadari juga kalau dirinya itu imut seperti bayi. Walaupun dia tidak mengatakan bahwa dia imut seperti bayi. Tapi aku yang mengatakannya seperti itu. Wajahnya lembut seperti bayi.

“Panggilan apa itu agar terlihat lebih imut? Itu sangat lucu. Tapi memang benar juga kau terlihat lebih muda dariku padahal umur kita sama.”

“Mwo? Sama? Kata ibumu aku lebih tua  enam tahun darimu.”

Mataku membesar mendengar ucapannya. Jika saja tidak ada dia dihadapanku mungkin ice cream ini sudah jatuh ketika mendengar ucapannya tadi. Apa aku tidak salah dengar? Kita berbeda enam tahun itu berarti dia sangat tua dariku. Tapi wajahnya imut seperti lebih muda dariku. Ini sungguh lucu. Dia pasti sedang berbohong.

Ryeowook tertawa melihatku. “Kau terkejut? Banyak yang terkejut karena umurku bahkan kedua orang tuamu juga terkejut ketika kuberitahu umurku sudah dua puluh enam tahun di Korea.”

Dia benar-benar unik. Aku menemukan namja yang berbeda dari biasanya. Dia juga namja yang baik dan lembut. Jika dibayangkan aku bisa bersamanya mungkin aku akan bahagia. Dia seorang bisnisman muda. Dia juga mapan yang pasti hidupku akan makmur karenanya.

———————

Tepat jam tujuh sore. Jam tujuh malam di Korea akan berubah menjadi Sore di New York, karena matahari terbenam di Korea pada jam sembilan malam di Korea. Ryeowook mengantarku pulang setelah setengah hari penuh dia mengajakku berkeliling perumahan St.Maria 4th avenue. Aku jadi sedikit mengerti dengan wilayah disini karena jarang berkunjung ke New York membuatku lupa dengan daerah-daerahnya. Setidaknya aku bisa tahu jika aku salah jalan nanti.

“Apa kau tidak mau mampir?”

Ryeowook tersenyum simpul. Kepalanya menggeleng pelan.”Kapan-kapan saja. Aku akan berkunjung lagi dan mengajakmu berkeliling.”

“Anio. Aku akan menganggu pekerjaanmu.”

“Hei, tentu saja tidak.”

“Bukankah kau calon direktur? Appa bercerita banyak padaku.”

“Jeongmal? Cerita apa saja?”

“Kau ingin tahu saja.”

Kudengar dia tertawa pelan. “Baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Kau tidak mengganggu pekerjaanku nona Lee. Jadi, bolehkah aku mengajakmu jalan-jalan lagi? Ini sangat menyenangkan.”

Menyenangkan? Berarti aku orang yang menyenangkan baginya. Ini menambah poin positifku padanya. Dia suka jalan-jalan denganku.

“Tentu saja boleh jika aku tidak mengganggu harimu.”

“Tenang saja. Ja, aku pulang dulu. Jangan sampai sakit. Udara musim gugur di New York tidak sedikit bagus seperti di Korea. Kau pasti tidak biasa.”

Aku mengangguk pelan mengiyakan sarannya yang mungkin akan bermanfaat jika aku menuruti perkataannya. Dia namja yang baik dan menyenangkan. Darimana appa bisa menemukan namja sepertinya?

Setelah Ryeowook pulang aku masuk ke dalam. Disana ada eomma yang sedang tersenyum menatapku. Tangannya sedang mengaduk adonan di sebuah mangkuk aluminium. Pasti dia hendak membuat adonan untuk makan malam.

“Darimana saja?” tanya eomma.

“Tadi Ryeowook datang lalu kami jalan-jalan sebentar. Dia memperlihatkan taman di perumahan ini. Eomma, apa yang bisa aku bantu?” tanyaku ketika sudah berada disampingnya menatap sayur-mayur yang hendak dimasak untuk makan malam.

“Tolong bantu eomma mencuci kangkung ini.” Tunjuk eomma pada kangkung yang sudah dipotong batangnya.

“Baiklah.”

Aku mengangkat mangkuk besar yang berisi kangkung kemudian mencuci sayuran itu di wastafel dapur.Kuputar kran hingga air mengalir membasahi kangkung. Kubersihkan kangkung itu dan membilasnya.

“Apa kau sudah punya kekasih, Hanwoo-ya? Eumm, maksud eomma apa tidak ada orang yang kau sukai semenjak di Seoul? Kau tumbuh dewasa menjadi yeoja yang sangat cantik. Aku tidak percaya anak eomma tidak punya seseorang yang diinginkan selain Changmin.”

‘DEG!’

Feeling seorang ibu kepada anaknya memang selalu kuat. Aku tidak menjawab. Hanya bisa menatap kangkung-kangkung yang sedang kubilas airnya dari mangkuk. Apa yang harus kujawab? Mengenai dua namja yang membuatku menyerah dan gagal dalam urusan percintaan. Apa yang bisa kubanggakan dari diriku?

Eobso..” ucapku.

Jinja? Kau yakin tidak berbohong pada eomma? Kami mengkhawatirkanmu karena Shim Changmin mengkhianatimu. Maka dari itu aku dan appamu memutuskan untuk memanggilmu pulang. Siapa tahu dengan kepulanganmu ke New York kau bisa melupakannya dengan baik.”

“Aku sudah melupakan masalah itu eomma. Aku baik-baik saja. Kau kira aku segila apa dengan namja yang sudah mengkhianatiku itu? Aku dengannya sudah berteman.” Kumatikan stop kran lalu memindahkan mangkuk yang kubawa ke dekat kompor.

“Apa kau marah dengan Hyojin?”

E-Eomma tau?”

“Tentu saja.”

Gwenchana eomma. Aku sudah merelakannya. Jangan berpikiran buruk pada Hyojin. Kami bertiga baik-baik saja.”

Kupeluk eomma dari belakang agar dia tidak terlalu khawatir padaku. Kutolehkan wajahku ke arah eomma dan melihat sebuah senyuman mengembang dari bibirnya.

“Apa karena pihak ketiga yang digosipkan denganmu selama ini? Namja yang satu manajemen dengan Changmin? Siapa dia? Eomma tidak mengenalnya.”

‘DEG!’

Eomma tahu. Ingin menangis rasanya. Kukendurkan pelukanku agar eomma tidak tahu jantungku yang berdetak ketika dia mengingatkanku pada seseorang yang selama ini membuatku kecewa. Orang yang sebenarnya menyakiti hatiku lebih dari Shim Changmin hingga aku memutuskan untuk tinggal di New York sementara waktu adalah dia. Hanya dia seorang, Lee Hyukjae.

“Eomma, itu hanya gosip. Aku tidak ingin membahasnya.”

Aku benar-benar tidak ingin membahasnya. Membahas namja itu membuat hatiku menjadi perih seperti teriris. Bahkan air mataku hendak mengalir lagi jika mengingatnya. Sebegitu berpengaruhkah namja itu dengan hari-hariku?

Author’s POV

——————-

“Shindong-ah, bisakah kau mengemudi dengan cepat?” ujar Hyukjae pada namja bertubuh bongsor yang sedang mengemudi. Disampingnya duduk seorang yeoja yang tengah berbadan dua. Jung Nari namanya. Shindong melirik Hyukjae dari spion dalam.

“Kau tidak tahu istriku sedang hamil?” tanya Shindong.

“Miane.” Ucap Hyukjae lemas.

Hyukjae memalingkan wajahnya ke luar jendela. Selama di New York dia tinggal di daerah Manhattan agak jauh dari Staten Island tempat Hanwoo tinggal. Dia tinggal bersama Shindong sahabatnya sewaktu duduk di bangku SMA. Dia enggan untuk menginap di Hotel karena masalah bahasa inggrisnya yang tidak fasih.

“Ini sudah pencarian kita yang kedua. Jangan khawatir, hari ini kau pasti akan menemukan kediamannya.” Ujar Nari menoleh ke belakang menatap Hyukjae. Namja itu menoleh ke arah Nari yang menyemangatinya.

“Yeoja itu begitu beruntung hingga membuat sahabatku seperti ini.”

“Aku tidak mengerti kenapa aku bisa begini.” Hyukjae menunduk lesu.

“Gwenchana. Namja memang harus seperti ini. Jika tidak dia akan pergi meninggalkanmu. Setidaknya kau sudah berusaha meyakinkan dia. Kita pasti menemukan rumahnya.” Nari masih tetap menyemangati teman suaminya yang sedang risau.

Memang. Ini sudah hari kedua dimana mereka berkeliling mencari kediaman Hanwoo di St. Maria 4th Avenue staten island. Perumahan di jalan itu sangat luas hingga tidak memungkingkan menemukan rumah itu karena kemarin keadaan Nari tidak baik jadi kami memutuskan pulang.

Shindong tidak bisa meninggalkan Nari seorang diri dirumah dengan alasan istrinya sedang hamil anak keduanya setelah tiga tahun yang lalu Nari mengalami keguguran. Sangat susah untuk Hyukjae ketika kemarin hampir saja menemukan satu kompleks yang tersisa tapi Nari mendadak mual dan tidak enak badan. Karena Hyukjae merasa behutang budi jadi dia menuruti perkataan Shindong untuk kembali ke rumah.

Malam ini dia berharap bisa menemukan Hanwoo. Dia tidak bisa tidur dengan baik ketika bayangan-bayangan masa lalunya bersama Hanwoo melintas. Dia merindukan yeoja itu.

—————-

Malam ini Hanwoo, kedua orang tuanya dan Kwangsoo berkumpul lagi di meja makan untuk makan malam seperti biasa. Hanwoo dan eommanya tertawa saat mendengar cerita Kwangsoo mengenai polisi yang menangkapnya karena wajahnya mirip dengan penjahat yang melakukan pencopetan di kawasan Staten Island. Sebenarnya cerita ini sudah pernah didengarnya berulang-ulang kali. Tapi melihat Hanwoo tertawa terpingkal-pingkal dia juga ikut senang dan larut dalam cerita. Hanwoo tiba-tiba tersedak karena tawanya. Dia meneguk minumnya.

“Hentikan Kwangsoo, kau ini membuat anak kesayanganku tersedak.” Ujar appa.

“Hyung, kau itu galak sekali. Kau tidak lihat Hanwoo bahagia karenaku?” Imbuh Kwangsoo membela dirinya.

“Gwenchana appa. Kwangsoo ajuhsi sangat lucu.”

“Yak, sudah kubilang jangan memanggilku ajuhsi. Panggil aku oppa. O-P-P-A !”

Hanwoo menahan tawanya mendengarnya. “Kau membuatku gila, oppa.”

“Yak, makanlah. Tidak baik sebenarnya berbicara sambil makan.” Ucap eomma.

Mereka melanjutkan makannya lagi. Setelah makan malam berakhir. Hanwoo membantu eomma membersihkan dapur sementara appa sedang sibuk beradu catur dengan Kwangsoo.

Bel rumah ini tiba-tiba berbunyi. Eomma bersiap untuk membuka pintu.

“Anyeong Haseyo.”

“Anyeong Haseyo.”

Eomma menundukkan kepalanya membalas sapaan dari namja yang ada dihadapannya. Namja yang dalam pikirannya usianya masih terlalu mudah dari usianya sehingga dia bingung menebak tamu ini sedang mencari siapa kesini? Apakah suaminya bergaul dengan orang-orang muda di kantornya? Ah iya, mungkin saja ini teman baru Kwangsoo pikirnya.

“Jeosong hamnida, tuan mencari siapa?” tanya eomma.

“Apakah anda nonya Lee?”

“Ne.”

Sebuah senyum mengembang dari namja yang mengenakan coat abu-abu. Sepertinya hanya dua patah kata yang diucapkan nonya Lee mampu membuatnya tersenyum sumringah seperti ini.

“Aku ingin bertemu Hanwoo. Lee Hanwoo.”

Hyukjae’s POV

———————

Malam ini aku sangat bahagia. Aku menemukan yeoja yang sangat kurindukan selama ini. Taman ilalang di tengah malam disinilah kami berdua berada saat ini. Ditemani lampu-lampu malam, Hanwoo mengantarku ke tempat indah ini. Entahlah ini memang benar indah atau perasaanku yang membuat taman ini menjadi sangat indah? Dia sangat terkejut ketika melihatku ada dihadapannya.

Aku hanya bisa menatap punggung dan rambut panjangnya dari belakang karena dia melangkah lebih dulu dariku dan terlihat menjaga jarak denganku. Seperti ini pun aku tidak apa-apa yang penting aku sudah menemukan keberadaannya. Itu sudah membuatku bahagia.

Kulihat dia berhenti di depan sungai panjang yang membentang luas. Aku tidak tahu ini sungai apa. Penarangan lampu-lampu di taman ini membuat suasana malam menjadi sangat indah dan lebih indah. Kudekati Hanwoo yang sedang membalikkan badannya.

“Aku tidak ingin bertengkar dihadapan kedua orang tuaku. Jadi disini kita bisa bebas seandainya kau membuatku berteriak. Mau apa kau mencariku lagi?” tanyanya. Suaranya benar-benar membuatku gila. Aku merindukan suara ini. Kucoba untuk memeluk tubuhnya.

“Jeongmal bogoshipo, Hanwoo-ya.”

Hanwoo menepis pelukanku dan sedikit mendorongku dengan emosi.

“Jangan menyentuhku !”

“Waeyo?”

“Hyukjae-ssi, kita sudah lama berakhir.”

Anio. Aku tidak mengakhirinya.” Bantahku.

“Aku yang mengakhirinya ! Kenapa kau seperti ini?” tanyanya sedikit berteriak di taman yang lumayan sepi ini. Aku hanya diam menatapnya dengan pasrah. Yeoja ini berteriak keras dihadapanku. Wajahnya memerah. Seperti apa aku dimatanya saat ini? Apa dia tidak menyadari perasaanku?

“Miane.  Kau masih marah padaku dengan masalah kemarin? Hanwoo-ya, miane jika aku membuatmu membenciku. Jika kau merasa aku mempermainkanmu,  jika kau merasa aku tidak serius denganmu. Kau pasti tidak akan mempercayaiku. Tapi kumohon padamu dengarkan aku kali ini saja. Aku tidak akan mencarimu jauh-jauh ke New York hanya untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak berselingkuh pada waktu itu.  ”

“Terserah apa katamu. Hyukjae-ssi, pulanglah. Kembali ke Seoul. Bukankah kau banyak pekerjaan disana? Aku sudah baik-baik saja disini. Bahkan aku akan tinggal disini. Aku tidak akan ke Seoul lagi.”

“Aku akan ikut tinggal bersamamu. Bila perlu aku akan membeli rumah disebelahmu dan kita akan menjadi tetangga.”

“Hyukjae-ssi, aku serius.” Ucapnya. Kudekati wajahnya menatapnya lekat-lekat.

“Aku juga serius. Kau ingin bermain-main denganku?”

“Hyukjae-ssi ! Hentikan ! Hentikan semua ini ! Kita sudah berakhir ! Ada namja yang kusuka disini. Aku sudah menemukan namja yang lebih baik jadi kau jangan mengikutiku terus.”

‘DEG!’

Hatiku benar-benar sakit mendengarnya. Apakah dia semarah itu hingga mampu membohongi dirinya sendiri?

“Kau bohong.” Ucapku.

“Aku serius.” Balasnya. Wajahnya menunduk. Apakah dia ingin menutupi perasaannya? Kutatap pergelangan tangannya. Aku tersenyum getir menyentuh pergelengan tangannya lalu mengangkatnya.

“KAU BOHONG LEE HANWOO! Tatap mataku ! Kau membohongiku ! Lalu kenapa gelang ini masih kau kenakan?!” tanyaku emosi dan sedikit kasar. Aku tidak suka dia berbohong seperti itu.

“Aku tahu aku salah, tapi pada saat itu aku tidak salah sepenuhnya. Tidak bisakah kau berhenti bersikap seperti anak kecil ?”

“Anak kecil? Cih. Baiklah Lee Hyukjae-ssi. Gelang ini tidak ada apa-apanya bagiku.” Ujarnya sambil melepas gelang itu. Dengan mudah dia melemparkan gelang itu ke sungai. Mataku membesar tidak percaya dengan kelakuan yeoja dihadapanku ini.

“Hubungan kita sudah berakhir. Berhentilah mencariku !”

Hanwoo pergi meninggalkanku seorang diri. Aku menunduk. Baru kali ini Tuhan tidak berpihak padaku. Ketika aku menginginkan seorang yeoja dengan serius dan ketulusan, justru Tuhan tidak mengabulkan permintaanku. Aku menangis. Di bawah bulan yang bersinar seorang Casanova sepertiku menangis karena seorang yeoja yang kucintai tidak bisa mencintaiku lagi seperti dulu.

Aku melangkah getir ke sungai. Kubuka coat dan kaosku hingga memperlihatkan absku. Aku turun berenang ke sungai. Hawa dingin di New York tidak akan mampu membuatku kalah jika sudah seperti ini. Aku menyelam mencari-cari gelang itu. Untung saja sungai itu sedikit dangkal. Kemungkinan gelang itu akan berhasil kutemukan. Hanwoo membuatku benar-benar gila.

Merasa lelah ketika aku berenang selama hampir sejam hingga menemukan gelang itu kembali. Aku duduk di tepi sungai sudah mengenakan kaos putih dan coat abu-abu. Kutatap gelang itu dengan senyum.

Seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh melihat Jung Nari yang sudah tersenyum bersimpuh dihadapanku. Yeoja ini benar-benar perhatian sekali. Kutatap Shindong yang berdiri di belakangnya.

“Hari ini cukup saja. Kau pasti lelah.” Ujar Nari.

My heart that sees you is high high
And I’m feeling high high
The depressing past days are now bye bye
Up to the sky, high high
My love is high high

Author’s POV

——————-

First love is beutiful, first love is flower. If spring comes, your dazzling eyes are  like  flowers
First love is like a kid, first love is clumsy. You shower me with love, I can’t take(receive) it.

The stars in the dark night sky, that time I recall the memories, in my old diary, you come out.

Never forget love

If first love is disease, first love is a fever. If it suffers like carzy, because it’s a kid
It’s not a first love, first love is foolish. Because I love you too much, I can’t have you.

Hanwoo masuk ke dalam kamarnya dengan sebuah tangisan. Dia memeluk bantal tidurnya mencoba menggigitnya menahan perasaannya yang sangat sakit. Hari ini dia merasa menjadi orang jahat. Tapi entahlah. Hatinya begitu sakit setelah bertemu dengan Hyukjae malam ini. Hati yang sakit karena iba terhadap perasaannya.

“Kenapa kau kembali lagi? Kenapa? Kau tahu, aku benar-benar membencimu Lee Hyukjae. Jeongmalyo..” ujarnya.

Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama. Hyukjae menyeret kakinya lemas. Dia duduk di atas ranjang menyandarkan tubuhnya di papan. Dia sangat lelah hari ini. Memikirkan ternyata karma itu memang benar-benar ada dan datang padanya.

Hyukjae menekuk kaki kirinya menaruh tangan kirinya yang tertekuk disana. Ditatapnya gelang beraksen bintang-bintang itu dengan nanar. Hatinya benar-benar sakit. Bahkan dia baru merasakan bahwa ini yang disebut patah hati.

Eotteokeyo? Jeongmal saranghanda, Hanwoo.. Saranghanda..” ucapnya lembut pada gelang itu.

———————————

Sore ini Hanwoo berkeliling di times square. Tidak sendirian tapi dengan namja bernama Ryeowook. Hanwoo mencoba untuk melupakan hari kemarin yang membuat matanya sembab. Untung saja dia membawa peralatan make-up nya. Tidak akan khawatir jika Ryeowook melihat matanya nanti karena dia sudah menutupinya dengan make-up.

Ryeowook menemani Hanwoo melihat-lihat baju di sebuah butik. Dan berujung tidak hanya satu butik yang dimasuki Hanwoo tapi empat, lima, dan enam butik di sepinggir jalan 1st avenue. Hanwoo sangat suka berbelanja. Apalagi kalau urusan baju, dia sangat menyukai hobbynya itu. Berharap Ryeowook mau bersabar menunggunya.

“Yak, sudah enam butik yang kau masuki, apa tidak ada yang bagus sama sekali? Kau sama sekali tidak berbelanja.” protes Ryeowook.

“Kau lelah? Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Disini bagus semua bahkan aku ingin membeli semuanya. Lama-lama aku bisa bangkrut.”

Daritadi dia hanya melihat-lihat saja. Setiap ada baju yang disukanya dia tidak berani membelinya karena harganya tidak tanggung-tanggung. Maka dari itu Hanwoo memutuskan untuk mengelilinginya saja.

“Baiklah kajja, kita keluar saja.”

Hanwoo menarik Ryeowook keluar dari butik ini. Mereka pun melangkah di pinggir jalan 1st Avenue masih tidak menyadari bahwa Hanwoo menggenggam tangan Ryeowook. Ryeowook menyadari hal itu namun dia mendiamkan saja membiarkan Hanwoo menggenggam tangannya. Dia merasa sangat nyaman berada di dekat Hanwoo. Ryeowook melepas tangannya mencoba merangkul Hanwoo. Hanwoo sedikit terkejut menoleh menatap Ryeowook. Dia benar-benar kikuk kenapa Ryeowook merangkulnya dan baru menyadari bahwa sedari tadi tangannya tergenggam di tangan Ryeowook setelah namja itu melepas genggamannya.

Hanwoo terdiam. Dia pikir dia sedang berada pada genggaman Hyukjae. Dia pikir tangan hangat yang menggenggamnya itu adalah tangan milik Hyukjae. Tapi ternyata salah. Kenapa disaat-saat seperti ini Hyukjae harus datang lagi mengganggu pikirannya? Bahkan dia kira Ryeowook adalah Hyukjae. Ini benar-benar membuat hatinya sangat sakit.

“Waeyo?” tanya Ryeowook. Hanwoo masih diam.

“Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Boleh kan?”

“Apa cara orang Amerika memang bergaya seperti ini?”

“Yak, aku ini orang Korea hanya saja aku bekerja disini.”

Hanwoo sedikit tersenyum membiarkan Ryeowook merangkulnya. Mereka melangkah di pinggir jalan lagi. Hari menjelang gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Suasana lampu warna-warni papan reklame hampir menghiasi seluruh gedung yang ada di Times Square. Banyak pasangan-pasangan yang mulai terlihat pada malam hari. Ini tambah membuat suasana menjadi akward antara Hanwoo dan Ryeowook ketika mereka berdua berjalan melintasi sepasang kekasih yang sedang berciuman dengan mesra.

“Bioskop. Bagaimana kalau kita pergi menonton?” ucap Ryeowook sedikit gugup mempercepat langkahnya dari pasangan mesum yang berciuman di pinggir jalan.

“Menonton?” tanya Hanwoo yang juga ikut gugup dan salah tingkah.

“Ne.”

Ryeowook menunjuk ke gedung bioskop yang ada disebrang lalu menarik tangan Hanwoo mengajaknya menyebrangi jalan memasuki gedung bioskop itu.

Hanwoo’s POV

——————–

Aku keluar dari gedung bioskop bersama Ryeowook. Dia mengajakku menonton film snow white yang dimainkan oleh artis Hollywood terkenal Kristen Stewart. Selama pemutaran film aku duduk tidak terpisah dengan Ryeowook. Dia duduk disampingku sambil memeberikanku pop corn sesekali.

Hanya saja..

Entah kenapa selama pemutara film berlangsung pikiran dan pandanganku tidak fokus. Aku memikirkan Hyukjae oppa. Aku mengkhawatirkan dimana namja itu tinggal, sedang apa dia sekarang, apakah dia sudah pulang ke Seoul? Aku merindukannya sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana alur cerita dari filem yang kutonton.

“Apa kau senang hari ini?” tanya Ryeowook membuatku menoleh. Aku mengangguk mengiyakan bahwa aku hari ini senang bisa jalan berdua dengannya. Apakah benar aku senang? Atau aku berbohong agar dia merasa senang karena aku juga senang jalan berdua dengannya?

“Eungg, senang.”

Namja itu tersenyum ke arahku masih menggenggam tanganku. Kami melangkah sampai pada sebuah sedan hitam yang terparkir di pinggir jalan. Inilah mobil milik Ryeowook. Ryeowook membukakan pintu untukku. Aku masuk ke dalam hingga mendengar suara pintu yang ditutup. Kulihat bayangan Ryeowook yang mulai bergerak mengitari bagian depan mobil. Dia masuk ke dalam mobil. Aku mulai sibuk menarik seat belt hendak memasangnya tapi Ryeowook mencegatku. Tangannya meraih seat beltku lalu memasangkannya dengan baik. Dia benar-benar namja yang baik. Pantaskah aku menyakitinya?

Selama perjalanan aku menguap berkali-kali namun aku tidak bisa memejamkan mata. Kupalingkan wajahku kekaca melihat pemandangan di luar. Suasana New York pada jam sepuluh malam masih sangat ramai. Lagi-lagi pikiranku tidak fokus. Rasanya ingin menangis. Seperti setengah hatiku yang masih di bawa olehnya. Oleh Hyukjae. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Tanganku tanpa memakai gelang bintang itu, seperti ada yang kurang. Hidupku seperti tidak terjaga. Aku salah. Seharusnya aku tidak membuang gelang itu. Kenapa jadi seperti ini? Hyukjae-ya dimana kamu? Aku membutuhkan .. Aku membutuhkan pil energiku. Ya, pil energi.

——————

“Hanwoo-ssi bangunlah..”

Aku mendengar sayup-sayup suara yang berulang-ulangkali memanggilku sedari tadi. Namun aku belum terhenyak dari tidur lelapku. Tubuhku sangat lelah dan aku butuh tidur. Sepertinya ada seseorang yang tidak menginginkan tidur indahku ini. Kubuka mataku perlahan-lahan ketika merasakan sebuah tangan yang sedang menepuk-nepuk pipiku. Aku terkejut ketika melihat wajah Ryeowook sangat dekat dengan wajahku.

“Wookie oppa.. Kita sudah sampai dimana?”

“Di rumahmu.” Tunjuknya ke arah belakangku.

Kubalikkan badan menatap ke luar. Ternyata benar sudah sampai di depan rumahku. Aku tertidur. Sudah berapa lama aku tertidur? Kulap di bagian bibirku dan mengusap wajahku dengan kedua tanganku.

“Miane, aku tertidur.”

“Gwenchana. Aku membuatmu lelah hari ini.”

“Aah, anio. Tidak seperti itu juga. Baiklah aku akan berkemas.”

Aku mulai merapikan dandananku dilanjutkan dengan mengambil tas hitamku. Tapi tiba-tiba kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Aku benar-benar terkejut. Belum ada persiapan. Dia mencium bibirku. Rasanya mataku ingin keluar dari kelopaknya. Dia melepas ciumannya begitu saja dan tersenyum ke arahku. Ryeowook mengelus puncak kepalaku lembut.

“Tidur yang nyenyak.”

Aku hanya bisa tersenyum. Dengan cepat aku turun dari mobil ini lalu masuk ke dalam rumah. Hatiku sangat sakit. Bahkan aku tidak menggubris sapaan eomma saat melihatku masuk ke dalam rumah. Aku menaiki tangga dan berlari mengunci pintu kamar. Aku tidak tahu apa yang membuatku sakit. Harusnya aku bahagia.

I can’t push that person outI can’t take a single step. The person grows like a flower in me.

Kujatuhkan tubuhku di atas ranjang. Air mataku seketika pecah mengalir membasahi kedua pipiku. Perih. Kenapa aku menangis? Bukankah ini sudah menunjukkan kemajuan yang pesat mengenai hubunganku dengan Ryeowook oppa? Lalu kenapa kau menangis Lee Hanwoo. Kurasa dia menyukaimu dan kau harus merayakannya segera karena  dia dengan lancangnya mencium bibirmu.

Just like the rain shower that suddenly pours. That person drenches me. Suddenly, without my permission. That person stole my heart

Tapi ada sesuatu hal yang masih menyangkut di relung hatiku. Sepertinya Hyukjae masih membayang-bayangiiku. Sepertinya aku masih menempatkan hati Hyukjae di hatiku menggabungkannya seperti puzzle. Aku mati rasa. Dia membuatku mati rasa terhadap Ryeowook. Aku tidak bisa merasakan apa-apa dengan ciuman itu. Sentuhan tangannya di kepalaku membuatku teringat pada Hyukjae bukan Ryeowook.

I hope you will pass, like the passing wind. So even the memories won’t even remain. Just smile and promise not to cry. Don’t leave a single photo of us. Promise that we won’t make a memory.

Ini seperti sebuah cerita yang mengaitkanku dengannya agar aku tidak bisa berpaling kemanapun. Bersama Changmin, namja itu jarang menciumku. Namja itu tidak berani menyentuhku jadi aku tidak punya kenangan apapun dengannya walaupun sudah tujuh bulan hubungan kami berlangsung  yang kini sudah berakhir. Dia tidak pernah membuatku larut dalam cintanya.

Suddenly, in case we really become like that. You make my heart tremble, you bad person

Hingga aku bertemu dengan Hyukjae. Aku merasa sangat dekat dengannya dari awal. Dia menyentuhku dengan lembut lalu menciumku. Bahkan aku masih ingat betul bagaimana pergerakan kepala, bibir dan tangannya saat menciumku. Tangannya juga sering menepuk kepalaku mampu membuatku tenang berada disampingnya.

That person is making me smile. That person is so warm, That person is becoming my day.

Saat aku putus dengannya. Aku ingin mencoba melupakannya semudah aku melupakan Changmin. Tuhan menemukanku dengan Ryeowook. Tapi bersama Ryeowook malah semua itu seperti terulang kembali. Ryeowook selalu mengingatkanku dengan apa yang Hyukjae perbuat padaku pertama kali bertemu. Seperti menjadi Hyukjae yang menuntunku secara lembut. Aku sama sekali tidak bisa melihat Ryeowook yang sebenarnya karena setiap kali aku melihatnya, ada sosok Hyukjae yang mengingatkanku. Kenapa jadi begini? Seharusnya Ryeowook membuatku melupakan Hyukjae seperti aku dengan cepat melupakan Changmin. Tapia pa yang kudapat?

Benar. Itulah kesimpulannya bahwa Hyukjae sangat berarti dihidupku. Playboy itu .. Apa yang dia lakukan padaku? Padahal kami belum lama berpacaran kenapa pengaruh kehilangannya sangat kuat? Tidak seperti aku dengan mudah melupakan Changmin.

‘Tok Tok’

“Hanwoo-ya ini eomma. Kau baik-baik saja?”

Air mataku tambah deras ketika mendengar suara eomma.  Ingin sekali aku mencurahkan isi hatiku pada eomma dan bertanya apakah aku sudah benar-benar menempatkan Ryeowook di hatiku?

“Gwenchana eomma.” Kutahan tangisku agar suaraku tidak terdengar gugup dan bergetar. Kurasakan tenggorokanku sedikit perih.

“Apa Ryeowook menyakitimu?”

“Anio.”

“Hmmm.. Baiklah. Kuanggap kau tidak apa-apa.”

Tidak lagi kudengar suara eomma yang ada aku mendegar derap langkah yang semakin menghilang dari ruangan ini. Sepertinya eomma sudah pergi. Eomma pasti sangat mengkhawatirkanku. Aku kembali menangis. Menangis sambil memukul-mukul dadaku.

Don’t love me, don’t make me love you
Like the beginning, treat me badly
Don’t love me, don’t make me love you
If I become crazy with happiness at just the thought of you
What do I do with this love?

Hyukjae’s POV

———————

Just take all my heart away, you my Little star
Without you I’m Lonely, so sad and Lonely
I’m waiting for you my lovely little star
I love you.

Kupandangi gelang milik Hanwoo yang masih kubawa. Gelang perak yang penuh kilau ketika terkena cahaya lampu. Rencananya aku akan mengembalikan gelang ini padanya. Aku tidak mungkin menyimpannya jika dia tidak mau menyimpannya. Lebih baik kuberikan padanya terserah dia mau apakan gelang ini yang penting aku tidak ada urusannya lagi dengan benda ini.

Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dari awal sikapnya sangat keras. Dari awal juga pertemuan kami sangat kacau. Dia membenciku karena aku selalu datang untuk mengganggu hidupnya. Wajar saja dia merasa kecewa padaku. Aku namja yang tidak pantas dipandang walaupun sebanyak apapun yeoja yang memujaku. Tapi tetap dari semua yeoja-yeoja di muka bumi ini hanya satu yeoja yang tidak mau memandang ke arahku dengan baik. Lee Hanwoo, hanya dia orangnya.

Kutaruh gelangku di kantong celana lalu mengambil iphoneku yang kuletakkan sedari tadi di atas meja. Kusentuh layar handphoneku hingga sinarnya menyala. Aku mulai melihat wajah itu. Dia yang menjadi wallpaper di handphoneku.

shinningstar13ff

Sampai kapan aku akan seperti ini? Berhari-hari hanya memandangi satu harta yang kupunya. Hanya foto ini yang menyertaiku. Disaat aku merindukannya hanya memandang foto ini mampu membuatku tersenyum.

Senyumnya sangat manis membuat wajahnya terlihat seperti anak kecil. Padahal berapa umurnya? Dia yeoja yang sudah berumur dua puluh tahun tapi sikapnya masih saja seperti anak kecil. Bagaimana bisa ada namja yang menyukainya jika dia seperti ini? Tidak. Aku menyukainya. Aku benar-benar menyukai Hanwoo. Hanya aku namja yang menyukainya.

“Apa tidak ada yeoja lain yang kau suka selain yeoja itu? Aku tidak bisa melihatmu murung seperti ini. Hey, ini New York ! Kau tidak mau jalan-jalan lalu memamerkan foto-fotomu kepada teman-temanmu bahwa kamu berada di kota metropolitan nomor satu? Kau juga bisa mencari yeoja. Orang-orang di Manhattan ini keren-keren sepertiku.” Bangga Shindong ketika duduk disampingku.

Aku tidak menyadari kehadirannya. Apakah dia melihat kesedihanku sedari tadi? Aku sungguh malang bukan? Pasti memalukan. Kami berdua duduk di lantai bersandar pada sofa ruang tengah. Kutaruh handphoneku di meja dan mengangkat bahu menyanggah pertanyaan Shindong.

“Mollayo.”

“Hey, tinggalkan saja yeoja itu. Dia tidak menatapmu untuk apa kau pertahankan?” ucap mantan teman sebangkuku sewaktu SMA.

Aku hanya menunduk. “Apakah aku terlihat sangat kasihan?”

“Ne, sangat.”

Kuhela napasku. Ya, aku pasti terlihat sangat kasihan. Shindong menepuk bahuku. Mungkin dia bermaksud untuk membuatku tenang dan menghiburku. Bagaimana aku bisa tenang ketika aku merasa diriku ini sungguh malang?

Kini aku sudah di dalam kamar sejak selama satu jam berada di ruang tengah terdiam bersama Shindong. Aku duduk di tepi ranjang. Terdiam merenungkan ucapan Shindong tadi. Apakah aku harus melupakannya? Apakah aku sedang mendapatkan karma dari Tuhan dengan yeoja-yeoja yang selalu aku sakiti dan kini aku mendapatkan balasan semua itu.

Apa aku harus meninggalkan Hanwoo dan lari menghindari karma-karma yang sedang menimpaku ini? Apakah aku harus lari dari masalah?

Kucoba merebahkan diriku menatap langit-langit sambil merentangkan kedua tanganku. Akhir-akhir ini sungguh berat untukku. Kuhirup udara di ruangan yang tidak terlalu besar ini lalu menghembuskannya. Kenapa namja tidak boleh menangis disaat sedih? Kenapa namja harus mempertahankan air matanya ketika merasakan sakit yang sudah tidak bisa tertahankan.

Berpisah dengannya membuat hatiku resah. Memikirkannya membuat hatiku sakit. Pernapasanku menjadi sesak. Seperti ada yang mengikat lalu memasukkanku ke dalam botol. Aku terkurung. Sangat sakit. Kugigit bibirku agar air mataku tidak mengalir untuk yeoja yang tidak pernah mempercayaiku.

Perasaanku yang sedang risau mengingatkanku pada memori-memori sewaktu pertama kali aku bertemu dengannya. Memandang wajahnya hingga aku menjadi tertarik dan tergila-gila dengannya. Mendapatkannya seperti mimpi dan melepaskannya juga seperti mimpi ..

Author’s POV

——————–

Hanwoo terkejut saat membuka pintu. Ryeowook sudah berdiri di hadapannya. Namja ini rajin sekali mencarinya. Ryeowook tersenyum manis. Sore ini dia datang dengan sebuket bunga mawa merah lalu menyerahkannya pada Hanwoo. Hanwoo tertegun menatap buket bunga itu. Hatinya teringat lagi pada Hyukjae saat namja itu memberikan bunga mawar tapi dia menginjakkannya karena terlalu marah mendapati namja itu mencium bibir yeoja lain.

“Berhentilah menemuiku. Hari ini kita akhiri saja semuanya. Kau pembohong. Casanova tetaplah Casanova. Kau tidak akan pernah berubah.”

Hanwoo tersenyum miris ketika suaranya memenuhi pikirannya. Dia merasa sudah menjadi yeoja yang kasar kemarin ketika memori itu kembali mengingatkannya seperti sebuah alarm.

“Apa kau suka bunganya?” Ryeowook mengejutkan Hanwoo. Hanwoo mencoba mengganti senyuman mirisnya menjadi senyuman yang sangat bahagia ketika Ryeowook memberikannya bunga kesukaannya.

“Apa kau menelpon eomma menanyakan bunga kesukaanku?”

“Ne. Apa kau menyukainya?” tanya Ryeowook.

“Kau terlalu jujur. Gomawo. Aku sangat menyukainya.”

Hyukjae melangkah di pinggir jalan. Sore ini dia hendak menemui Hanwoo. Kali ini dia ingin berbicara baik-baik. Rumah putih beraksen kayu itu sudah terlihat dari kejauhan. Hanya perlu berjalan lagi sedikit saja maka dia akan sampai. Ketukan langkahnya membuat hatinya berdebar. Entah perasaan apa yang muncul. Perasaan marah, sedih, kecewa namun juga terselip perasaan senang dan bahagia akan bertemu Hanwoo. Dia merasakan semua itu. Walaupun dia tidak akan tahu apa yang terjadi jika Hanwoo mendapatinya sedang berkunjung kerumahnya.

Hyukjae sudah sampai di depan pagar besi milik Hanwoo. Dari kejauhan dia melihat yeojanya sedang berbicara di depan pintu dengan seorang namja. Hyukjae menghentikan langkahnya. Dia tidak bisa melanjutkan langkahnya lagi ketika melihat sebuah buket bunga mawar merah di genggamannya.

Hatinya tertegun. Matanya tak luput dari tatapannya pada yeoja yang sudah lama tak dilihatnya tersenyum lagi. Senyumannya sangat manis. Sepertinya dia sudah bahagia. Nama itu membuatnya tersenyum.

“… Ada namja yang kusuka disini. Aku sudah menemukan namja yang lebih baik jadi kau jangan mengikutiku terus.”

Suara Hanwoo membuatnya tersadar. Matanya menatap tajam namja yang sedang membuat Hanwoo tertawa itu. Namja bertubuh mungil yang dia tidak tahu siapa.

———————————————————–

Manhattan, 7th Avenue street.

Hari sudah malam. Ryeowook menggenggam tangan Hanwoo di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di depan pertokoan Manhattan Centre. Merasa tangannya di genggam Hanwoo semakin tidak tenang. Sedari tadi wajahnya menunduk tidak ingin menatap namja disebelahnya.

Pandangannya tidak fokus seperti mencari-cari sosok seseorang. Hyukjae. Dia mencari-cari Hyukjae dan penasaran apakah namja itu masih berada di negeri ini? Siapa tahu saja di tengah kerumunan orang-orang dia bertemu dengan salah satu sosok yang dirindukannya selama ini. Walaupun dia tahu harapannya ingin bertemu dengan Hyukjae malam ini tidak mungkin terjadi.

Ryeowook menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan Hanwoo agar menghadapnya. Hanwoo menatap Ryeowook yang sedang tersenyum ke arahnya.

“Kapan kau akan pulang ke Seoul?”

“Aku tidak akan pulang.” Hanwoo menunduk. Ada perasaan sedih ketika mengucapkan hal itu.

“Kenapa kau sedih?” tanya Ryeowook.

Hanwoo menggeleng mengangkat wajahnya menatap Ryeowook.

“Anio. Aku tidak sedih.”

Perasaan sakit itu menusuk hatinya lagi ketika dia berdusta.

“Baiklah kalau begitu aku tidak perlu susah-susah menyakinkan appaku untuk memindah-tugaskanku ke Seoul.”

“Apa kau berencana akan tinggal di Seoul?” tanya Hanwoo yang sedikit terkejut mendengar pernyataan Ryeowook. Namja itu mengangguk.

“Ne. Itu karena ada seorang yeoja yang belakangan ini membuatku bersemangat.” Ryeowook meraih tangan Hanwoo lalu menggenggamnya. “Saranghaeo.”

Mendengar hal itu  Hanwoo membesarkan matanya. Dia memperhatikan bibir Ryeowook yang mengucapkan kata saranghaeo untuk kedua kalinya. Ada namja yang menyukainya namun pikiran dan hatinya masih tertinggal pada Hyukjae.

Hanwoo mencoba menahan air matanya ketika Ryeowook mendekatkan wajahnya untuk mencium bibirnya.

‘Hyukjae oppa, tidak bisakah kau menolongku kali ini? Ada seorang namja yang menyukaiku. Namja itu lebih baik darimu. Kali ini dia ingin menciumku. Tidak bisakah kau datang menolongku, menyeret dan meyakinkanku sekali lagi bahwa kaulah yang lebih pantas bersanding denganku?’

Hanwoo terkejut ketika mendengar suara pukulan seseorang yang membuat tubuh Ryeowook terjatuh ke bawah. Semua orang yang berada di area ini terkejut dan mulai berkerumunan membuat lingkaran pada kami bertiga. Aku, Ryeowook, dan ..

Hyukjae’s POV

———————-

Hari sudah malam dan aku masih berkeliaran di daerah Manhattan. Kugigit hot dog yang kubeli  hendak kembali pulang ke apartemen Shindong. Aku merasa tidak bisa menyelamatkan Hanwoo lagi. Sepertinya dia benar-benar sudah melupakanku.

“Aiishh.. Aku ingin gila.”

Langkahku terhenti ketika melihat sosok yeoja yang kucinta ada di tempat ini. Seharusnya aku senang. Tapi entah kenapa hatiku tidak senang sama sekali.  Tidak senang ketika melihat dia bersama namja itu. Tubuhku bergetar. Sejak kapan aku menjadi namja lemah seperti ini?

Kenapa kebetulan seperti ini? Kenapa harus bertemu dengan mereka? Apa New York sesempit ini hingga kita bisa bertemu secara kebetulan kapanpun dan dimanapun? Dan kenapa kakiku tidak bisa kugerakkan? Menatap gerak-gerik apa yang dilakukan namja itu pada Hanwoo yang menunduk sedari tadi. Mereka sedang bercakap-cakap. Dari ekspresi Hanwoo, kenapa dia menunjukkan raut wajah seperti itu? Raut wajah yang sepertinya sangat lelah dan tidak fokus pada namja yang katanya disukainya? Apa dia berbohong lagi? Apa dia membohongiku?

“Tch..”

Aku mendesis ketika melihat namja mungil itu membalikkan badan Hanwoo. Dengan cepat wajahnya mendekati wajah Hanwoo. Hatiku tergerak ketika melihatnya. Seperti mendapat energi dari apa yang kulihat. Entah kapan aku memerintahkan sistem otakku untuk menggerakkan kakiku, tanganku sudah memukul namja itu sampai terjatuh. Baru kusadari bahwa aku sudah ada dihadapan Hanwoo menatap namja yang sedang terjatuh itu.

Kucoba mengontrol napasku. Namja itu menatapku tajam. Kudekati dia lagi dan mengangkat kerah bajunya namun Hanwoo mendorong tubuhku hingga aku terjatuh dan melepaskan namja itu. Kutatap yeoja yang sedang menangis. Apakah aku sedang membuat kekacauan sampai-sampai membuatnya menangis seperti itu?

Aku bangkit menyeretnya hendak membawanya pergi dari kerumuman orang-orang ini. Aku membuat kekacauan di Amerika hanya karena cemburu melihat Hanwoo berdekatan dengan namja lain selain diriku. Hanwoo melepas cengkramanku dan mendorong tubuhku.

“Kau sungguh gila oppa !! Kau gila ! Ini Amerika bukan Seoul !”

“Ne, aku gila karenamu Lee Hanwoo.”

Hanwoo mendesis. Dia kemudian berjalan ke arah namja tadi yang kupukul. Tangannya membersihkan tubuh namja itu membuat darahku ingin muncrat dari pori-pori kulitku. Aku benar-benar marah dan cemburu.

“Gwenchana?” Aku mendengar suaranya.

Dia sempat menatapku sebentar lalu pergi menyeret namja itu dari hadapanku. Aku hanya bisa menatap punggungnya saja yang semakin menjauh. Tidak bisa dibayangkan bahwa aku ingin memanjat patung Liberty sampai puncak lalu terjun kebawah hingga aku tidak harus terasa sakit seperti sekarang.

Author’s POV

——————-

I know, I know your heart –
yes, you can leave
Don’t be sorry with the reason of love
because I know everything

You would know,
yes even if no words are spoken
You’ll have more scars than me,
your heart will be more pained than mine

Mobil sedan hitam milik Ryeowook ini terdengar sunyi nyaris tak bersuara. Hanwoo membalikkan badannya menatap wajah Ryeowook yang memar. Hanwoo merasa bersalah dan tidak enak dengan Ryeowook. Dia mencoba menyentuh wajah Ryeowook namun namja itu menepisnya.

“Nuguya?” tanya Ryeowook.

“Ne?”

“Nuguya? Namja tadi itu siapa?”

Hanwoo menunduk dengan mulut yang tidak bisa dikatupkan. Pikirannya bercabang dan melayang kemana-mana seperti terbang disekitar kepalanya. Apa yang harus dia katakan dihadapan Ryeowook mengenai Hyukjae? Atau haruskah dia berbohong dan merubah jalan hidupnya?

“Dia mantan kekasihku.” Jawabnya pada akhirnya.

“Mantan kekasih? Jeongmalyo?” tanya Ryeowook tegas. Sepertinya Ryeowook ingin memastikan Hanwoo dari pertanyaan dan ekspresi wajahnya yang penasaran. Ryeowook sedikit meringis ketika efek memarnya bereaksi setelah dia berbicara. Dengan cepat Hanwoo menyentuh pipi Ryeowook namun namja itu menepisnya dan menatap Hanwoo tegas.

“Apa kau sakit? Kita pulang saja, aku akan mengobatimu.”

“Aku bisa mengobatinya sendiri Hanwoo-ya. Kau belum menjawab pertanyaanku. Benarkah hanya mantan kekasih? Jika mantan, kenapa dia bisa berada di New York? Dia mencarimu?”

“Kenapa kau terus menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Hatiku sakit karena dia. Bisakah kau tidak membahasnya?” Hanwoo menangis. Entah kenapa air matanya mengalir begitu saja tidak bisa diajak bekerja sama. Tapi hatinya memang benar-benar sangat sakit hingga air matanya terjatuh membasahi wajahnya. Ryeowook kini mengerti. Kepalanya mengangguk-ngangguk ketika mulai memahami semua ini.

“Jadi begitu. Kau masih mencintainya.”

“Anio. Dia menyakitiku.”

“Kau membohongiku. Kau tahu, aku paling tidak suka dibohongi dan kau membohongiku. Aku harus bagaimana?”

Hanwoo menghela napas mendengarnya. Dengan pernyataan Ryeowook dia sungguh takut. Dari raut wajah Ryeowook, namja itu terlihat sungguh tegas dan serius berbeda dari biasanya.

“Kau masih mencintai namja itu. Setiap aku berbicara denganmu, setiap matamu melihatku. Aku sungguh takut. Ada bayangan seseorang di matamu. Kau tidak menyadari bahwa kau tidak pernah menatapku dengan baik. Awalnya aku berpikir bahwa ini hanya perasaanku saja. Tapi ternyata sekarang aku tahu semua.”

Hanwoo mendesis mendengarnya. Benarkah begitu? Apakah dia masih mencintai Hyukjae? Apakah dia benar-benar masih mengharapkan Hyukjae? Bahkan Ryeowook pun bisa membaca pikiran dan isi hatinya walaupun hatinya sedang terluka saat ini.

Hanwoo’s POV

———————-

You are still my love,
I still only know you
Because I’m a fool that can’t call
you and is only in pain, I’m sorry
You are still breathing here,
I still only see you
I can’t even hold onto you
words that rise up to my throat

Entah aku berada dimana. Kakiku melangkah sendirinya di kota Manhattan yang besar dan luas ini. Menatap kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di daerah ini. Suasana malam yang sangat baik tapi tidak dengan kondisi hatiku. Aku tidak tahu jalan pulang. Sebenarnya bisa saja aku menelpon Kwangsoo oppa untuk menjemputku. Namun hatiku enggan untuk pulang.

“Pergilah ..”

“Wookie-ssi.”

“Pergilah dan temui dia. Dia pasti menunggumu.”

“Tapi kau tidak tahu cerita sebenarnya.”

“New York sangat mahal dan dia membuang waktu dan uangnya hanya untukmu. Dia bersungguh-sungguh dan aku tidak mau merusak hubungan kalian. Pergilah.”

“Wookie-ssi !”

Ryeowook. Kau bilang dia menungguku. Kau juga bilang bahwa dia bersungguh-sungguh. Tapi apa? Aku harus menemukannya dimana lagi?  Dia tidak kunjung datang. Mungkin saja dia sudah dirumah. Sementara aku kau turunkan disini hanya untuk menyusulnya. Ini sungguh lucu.

Aku duduk di sebuah taman. Rasanya aku tidak ingin pulang dan diam disini untuk sementara waktu. Aku takut pulang sendiri. Kakiku sangat lemas. Hatiku juga sangat sakit. Bahkan kepalaku kini menyusul ingin membunuhku. Rasanya berat dan pusing. Aku menarik napas mencoba menahan tangis tapi air mataku tidak bisa diajak kompromi lagi.

Namja itu datang seperti seorang hero. Aku berharap saat Ryeowook hampir menciumku tadi dia datang dan menolongku. Aku benar-benar akan gila sekarang. Kita seperti terkait dan bertemu secara tidak sengaja di Manhattan yang luas dan besar ini. Aku tersenyum tapi sambil menangis. Air mata ini mengalir tak henti-hentinya. Entah aku menangis karena kebahagiaan atau kesedihan.

Hyukjae’s POV

———————-

Because you’re still my love,
because I still only know you
Today I say it again, I love you, I love you
I say it alone without anyone knowing
Your traces are still right here,
your memories are still the same
How can I forget you?
Will it work if I just live day by day?

Aku sangat marah. Aku benar-benar marah pada seorang yeoja untuk kali ini. Mungkin aku tidak akan bisa memaafkannya. Bahkan untuk kembali, aku tidak akan mau. Hatiku sangat sakit sekali. Aku seperti kehilangan diriku hanya karena satu yeoja saja. Aku bisa mendapatkan lebih dari yeoja yang selain bernama Hanwoo. Banyak yeoja yang menginginkanku dan aku yakin pasti akan bisa melupakannya.

Aku terus melangkah. Entah sampai kapan kakiku sanggup mengantarku ke apartemen Shindong karena aku merasa sudah tidak sanggup lagi. Tubuhku sangat lelah. Bertemu dengannya lagi membuatku sangat senang awalnya. Tapi sangat tidak diduga pertemuanku merusak semuanya. Kami bertengkar lagi. Hanya karena aku cemburu dengan namja itu.

Memang. Aku memang yang salah. Seandainya jika masa laluku tidak buruk mungkin saja kita sedang berada di Seoul sekarang. Kencan berdua lalu pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan. Kita pasti akan bermesraan. Bukan seperti sekarang hidup terpisah dan dilanda ketidak percayaan seperti ini. Situasi apa ini? Bukan ini yang aku harapkan.

Apartemen Shindong tidak begitu jauh. Bahkan aku sudah hampir sampai. Tapi kakiku tercekat ketika melihat seseorang berdiri di depan gedung. Orang itu adalah namja yang kupukul tadi.

“Annyeong haseyo.” Sapa namja itu sambil sedikit membungkuk. Tatapannya sayu begitu juga dengan senyumnya yang tersungging tipis. Terdapat memar di sudut kiri bibirnya. Itu pasti bekas pukulanku. Aku mendesis. Untuk apa namja ini datang menemuiku. Aku tidak ingin membuang-buang waktu berkelahi disini. Lebih baik aku pergi masuk ke dalam.

“Lee Hyukjae-ssi. Benar namamu Lee Hyukjae bukan? Aku Kim Ryeowook.” tanyanya membuat langkahku terhenti lagi ketika memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen.

“Bisa kita berbicara sebentar saja?” tanyanya. Aku membalikkan badan. Terpaksa. Karena dia tahu namaku, aku jadi penasaran dengannya. Sehebat apa namja dihadapanku ini?

——————-

Aku berlari dengan cepat ketika seseorang meyakinkanku setelah berbincang-bincang sebentar. Kim Ryeowook. Berani-beraninya dia meninggalkan yeojaku sendirian di negeri yang luas ini. Manhattan sangat besar. Dan aku harus mencarinya kemana?. Aku berlari mencari-cari  sosok Hanwoo diantara kerumunan banyak orang. Apakah dia sudah pulang? Aku sama sekali tidak menemukannya. Bahkan aku hampir memasuki semua toko. Aku lelah dan menyerah. Rasanya aku ingin menangis.

“Lee Hyukjae-ssi. Benar namamu Lee Hyukjae bukan? Aku Kim Ryeowook.”

“Bisa kita berbicara sebentar saja?”

“Waeyo? Darimana kau bisa tahu namaku? Ah, araseo. Dia pasti menceritakan semuanya padamu bahwa namja yang memukulmu adalah namja yang tidak tahu diri. Jeongmal-eo? “ tebakku. Namja yang mengaku bernama Ryeowook mendesis.

“Jeongmal-eo? Seperti itukah? Aku penasaran seperti apa dirimu hingga Hanwoo membuatku menyerah. Apa yang tidak bisa aku ketahui? Aku adalah pebisnis muda yang sukses di New York jadi jangan bermain-main denganku tuan Lee. Aku tidak sengaja melihatmu berdiri menunduk di depan rumah Hanwoo. Awalnya aku bingung bertanya-tanya dalam hati kenapa ada namja yang berdiri di depan rumah Hanwoo? Akhirnya aku mencari tahu dan aku mengetahui semuanya. Sangat mudah karena Hanwoo dikelilingi oleh orang-orang yang berprofesi  sebagai artis.”

“Lalu? Dia sudah memutuskan untuk meninggalkanku.”

“Kau tidak mau mencarinya? Aku meninggalkannya di Manhattan. Aiishh jinja. Matanya berbicara seolah-olah sosokku adalah sosokmu bagaimana bisa dimatanya ada bayanganmu. Benar-be..”

Aku mengangkat kerah bajunya emosi mendengar ucapannya. Kutatap matanya dengan tajam seperti menerkamnya dengan bebagai pertanyaan yang tertahan.

“Kau meninggalkannya seorang diri di Manhattan?!”

“Ne. Kau mau memukulku? Memukulku butuh waktu 5 menit dan kau akan kehilangan jejaknya. Bisa saja kan ada preman yang menggodanya..”

“Sialan !”

Kulepas cengkramanku pada namja itu. Tidak peduli lagi apapun yang sedang terjadi selama ini. Aku akan pergi mencari Hanwoo. Disinilah aku berada sekarang. Di tengah kota Manhattan di malam hari. Hampir jam sebelas malam dan aku belum menemukan Hanwoo.

Tidak kutemukan. Aku tidak berhasil menemukannya. Mungkin dia sudah pulang. Ya, benar. Mungkin dia sudah pulang. Senyumku tersungging karena ini. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Dia bisa saja menelpon orang-orang rumahnya untuk menjemputnya disini.

Kuputuskan untuk mengunjungi taman di Manhattan. Banyak pasangan-pasangan yang sedang berjalan keluar. Mungkin karena waktu sudah malam mereka memutuskan pulang atau melanjutkan kencannya di apartemen atau hotel. Aku lelah. Memikirkan yeoja itu membuatku gila. Mungkin aku akan pulang besok dan benar-benar melupakannya.

Aku duduk di salah satu bangku yang ditutupi semak-semak belukar di belakang kursi. Kucoba untuk menghela napas menenangkan diriku sejenak. Aku mulai mendengar  sayup-sayup suara yang sedang memaki dan mengumpat dari balik semak-semak. Suara seorang gadis di tengah malam yang sedang menangis. Ini membuatku takut. Kenapa ada gadis menangis di tengah malam seperti ini? Terdengar seperti hantu. Apakah di Amerika mengenal hantu seperti di Korea?

“Baboya. Changmin meninggalkanku, Hyukjae meninggalkanku, dan kini Ryeowook juga meninggalkanku. Aiiishh aku akan menjadi gila !”

Aku tertegun mendengarnya. Suaranya membuat hatiku terketuk. Apakah ini benar suaranya? Bisakah aku untuk mendengarnya sekali lagi? Dia menyebutkan Changmin dan namaku. Apa aku sedang mengkhayal? Aku berdiri melangkah hendak berjalan ke arah depan untuk menemuinya.

“Baboya. Baboya. Bahkan Ryeowook pun bisa tahu bahwa aku masih mencintai Hyukjae.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ini spontan kulakukan. Aku menemukannya dan mendengar suaranya lagi. Aku melangkah pelan mengitari semak-semak ini hingga aku melihat dirinya yang sedang duduk  di bangku kayu seorang diri. Dia terlihat kacau. Apa kacau karena memikirkanku?

“Jeongmal bogosipho.”

“Jeongmal saranghae.”

Kulihat dia menangis lagi. Entah kata-kata itu untuk siapa. Siapa yang dia rindukan? Siapa yang dia cintai? Aku, Changmin, atau Ryeowook? Aku masih diam dari kejauhan memantaunya.

“Bahkan aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan aku tidak bisa berpegangan dengan baik pada orang lain. Hyukjae.. Lee Hyukjae.. !” ucapnya memberikan penekanan suara ketika menyebut namaku. Emosinya keluar. Tangisannya semakin keras. Tapi disini aku tersenyum. Sangat lega mengetahui bahwa dia masih mencintaiku.

Aku melangkah pelan mendekati dirinya. Hentikan semua ini. Aku sudah tidak kuat lagi jika harus memilih berpisah dengannya. Dia masih berkicau disana. Entah apa yang dibicarakannya aku tidak bisa mendengar karena aku terlalu fokus pada sosoknya. Sosok yang selama ini menghilang.

Aku duduk disampingnya membuatnya menoleh dan terkejut. Dia terdiam. Matanya mengerjap-ngerjap menatapku seolah-olah aku ini adalah sebuah bayangan. Sepertinya dia masih tidak percaya aku ada dihadapannya. Kapan dia pernah mempercayaiku?

Kutarik tubuhnya lembut lalu membawanya ke dalam dekapanku. Hanwoo bergerak. Dia meronta mencoba melepasku. Tapi aku masih menahan tubuhnya dengan erat. Mencoba mengunci kepalanya dengan menopang daguku di kepalanya.

“Kau mau pergi kemana? Apa kau ingin kehilanganku lagi? Jeongmal bogoshipo, jeongmal saranghae, bahkan aku tidak bisa melupakanmu Lee Hyukjae. Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah ada disini sekarang. Kau bisa menciumku kapanpun kau mau. Apa kau berniat untuk pergi lagi. Hmm?”

Apa yang telah kukatakan padanya? Aku membuatnya menangis lagi. Tubuhnya sangat lemas. Apakah selama ini aku sudah menjadi orang jahat untuknya? Kukecup keningnya dengan penuh emosi yang menggebu menekan bibirku di keningnya agar dia tenang.

“Saranghae. Lee Hanwoo, jeongmal saranghae.” bisikku tepat di telinganya.

TBC.

Annyeong lama ^^

Apakah kalian menunggu? Disini full di New York scenenya. Semoga saja kalian bisa membayangkan apa yang aku buat. Biasanya share kasanoba wangja cepet tapi sekarang agak terhambat karena yah .. stuck ditengah jalan. Awalnya aku belum bisa nemuin feel yang tepat. Tapi sekarang sudah kuselesaikan dengan baik. Semoga saja benar-benar bagus dan membuat pembaca suka dan menunggu kisah selanjutnya.

Saya juga mengucapkan MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR perwakilan dari semua author. Semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik.

Gomawo. :*

Iklan

21 thoughts on “[7] Kasanoba Wangja

  1. akhirnya d post juga 🙂 full hyuk hanwoo 🙂
    ini moment2nya bearti bgt,,dalam bgt tiap kata2 n pengekspreian d setiap kata2nya,, dapet bgt feelnya saeng 🙂
    waahh nyesek bgt di part ini,, hyuk m hanwoo sama2 bikin nyesek..hyukjae namja,bener2 namja,,suka bgt cara hyukjae cinta m hanwoo..pokoonya sweettt bgt momentnya,,, udah nyangka pasti wookie oppa baik disini..huhhuu
    cepeetaan next chapnya saeng 🙂 keep writing,,hwaiting ^ ^ daebak 🙂

    Suka

  2. aaaaakkkk ending nya bikin penasaran bangeeettt.
    waah smoga bisa cepet akur yaa si eunhyuk sma hanwoo..
    disini banyak banget kejadian kebetulannya. kalo bisa dkurangin thor,.biar kliatan lbih nyata,yaah kan biasanya kalo kjadian2 yg kbetulan identik dgn sinetron.hehe
    smangat thor utk part slajutnya..dtunggu looh..
    😀

    Suka

  3. akhirnyaaaaa 7 part dirapel selesaiiiiiiiiiii
    sudah lama ff ini saya simpen ….. mau baca gak sempet2
    mumpung libutan dan katanyabsweet namjanmau fi endingin……jadi tambah semangat buaaacanyaaaa

    keren ceritanyaaaa…lee hyukjae casanova ilanggg …. sampe rela dikejar ke ny gituuu .. saya juga mauu

    Suka

    • aahhh makasi sudah mau nyempetin baca ya ^^ #terharu.
      part 8 sudah nongol buruan baca sama sweet namjanya juga ya ^^
      siapa sih yang g mau dikejer hyuk ?? ^^ kekekee~~~
      bahkan bias kyu pun kalo digombalin hyuk kayaknya luluh deh kekekeke.
      makasi sudah suka ya :p
      happy holiday .^^

      Suka

  4. akhir y mereka baikkan lagi,,,, dari awal part ini nyesekin baca y hyukja y menderita gt biasa y dia yg mainin cwe n sekarang dia kena karma y cinta mati ma hanwoo n ydah hampir gila krn hanwoo ngak mau maafin….
    ryewook baik sekaligus agak kejam n kebayang bgt dia tipe2 pengusaha muda,,,, nfak maksain perasaan hanwoo ke dia tapi sekaligus tega nyuruh hanwoo turun dr mobil oadahal hanwoo ngak tau arah gt….
    mereka baikkan n mesra2an lagi dong kasian ma hanwoo cinta y menderita mulu buat menuju kebahagian….
    ini gara2 malaikat y itu nih ngutuk perjalanan cinta mereka bakal ngak mulus j halangan hanwoo m hyukjae banyak bgt….
    Lanjut…

    Suka

  5. Jangan sakiti wookie terlalu dalam T____T
    Hwaaarss..
    Aku suka scene terakhir uls..
    Kkkkkkkk
    Manis walopun kasian sama hanwoo yg berpikir dia selalu ditunggalkan..
    Changmin..hyukjae..wookie,,
    Tp kalo changmin dia emang meninggalkannya demi hyojin..
    Wkakakaak
    Eh..

    Suka

  6. Akhirnya mereka bertemu kg, meskipun awalnya hanwoo menghindar n membohongi hatinya tp akhire hyukjae tahu kalo hanwoo masih mencintainya y

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s