[8] Kasanoba Wangja – Leps

shinningstar13ff.wordpress.comAuthor: Hanwoo

Cast: Hyukjae – Hanwoo – Ryeowook – and other cameos ●

Length: Part 8 ● Genre: Romance- Straight- Friendship – Family – Fantasy

Hanyul menangis di atas bebatuan karang pantai selatan Korea. Jaewon dengan tubuh berdara-darah menyusul Hanyul dan memeluk kekasihnya itu dari belakang. Hujan mulai bergeming datang membasahi tubuh mereka secara perlahan-lahan. Hanyul menangis ketika merasa bibir Jaewon mulai mencium lehernya.

“Kau tahu, aku benar-benar mencintaimu Jaewon.”

“Nado. Jeongmal saranghaeyo.”

“Kita bisa melakukan ini bersama-sama. Tidak ada yang merestui kita. Ini membuatku sakit.”

Jaewon terdiam menatap benda apa yang dikeluarkan Hanyul dari dalam kantongnya. Sebuah obat yang mungkin akan melumpuhkan sistem syaraf bagi siapapun yang meminumnya, seperti racun.

“Aku akan meminum ini dan ingin mengulang hidupku bersamamu.”

“Hanyul ..”

Hanyul meminum obat itu seiring dengan bunyi petir pantai ini. Jaewon menangis ketika melihat tubuh Hanyul melemas dan terpejam. Jaewon menangis.

“Andweyo … Hanyul !! Hanyul-ya !!!”

Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain meminum racun itu juga hingga akhirnya dia meneguknya berkali-kali dan membuat tubuhnya terjatuh lunglai di atas tubuh Hanyul. Dua ekor burung merpati putih terbang hinggap di tubuh mereka. Tidak ada yang mengetahui memori sehidup-semati dari kisah Jaewon dan Hanyul yang berharap akan bersatu dikehidupan yang akan mendatang. Suara burung gagakpun mulai terdengar walaupun tidak terlihat dimana kediamannya. Elang-elang laut juga mulai berterbangan di atas bebatuan karang.

-Kasanoba Wangja Last Episode-

Author’s POV

——————

Sebuah lagu acoustic dari Christina Perry- A Thousand Years melantun pelan di café yang sedang Changmin dan Hyojin kunjungi. Malam ini Changmin menemui Hyojin di kala waktu senggangnya dari syuting drama perdananya yang semakin membuat jadwalnya penuh.  Begitu juga dengan Hyojin yang sedang sibuk-sibuknya membuat thesis. Mereka tidak dapat bertemu karena kesibukan masing-masing. Hanya berhubungan melalui telepon atau pesan itu sudah membuatnya cukup.

Seorang waiter berdiri disamping meja mereka menunggu Hyojin dan Changmin selesai melihat-lihat daftar menu. Hyojin dengan serius menatap menu-menu itu begitu juga dengan Changmin yang membolak-balikkan halaman demi halaman seolah-olah belum ada daftar makanan yang cocok untuknya malam ini.

“Aku mau Chicken Saute Casseur .” ujar Hyojin pada pelayan.

“Kau berhenti diet?” tanya Changmin tiba-tiba. Hyojin merasa malu karena Changmin berbicara dengan volume sedikit keras dihadapan orang lain. Hyojin mendelik hendak mengumpat Changmin membuat namja itu menyadari kesalahannya.

“Berikan aku Mango Juice without milk, okay. With-out-milk! ” Ucap Hyojin mempertegas ucapannya agar pelayan itu tidak salah dengar. Hyojin membenarkan posisi duduknya dan berusaha menyunggingkan senyumnya menutupi rasa malunya gara-gara Changmin tadi. Hyojin menutup menunya kemudian memberikannya kepada waiter itu.

Roasted Sirloin Mushroom Sauce eumm.. dan ..” Changmin membolak-balikkan menunya lagi. “Satu Whiskey Soda.

Kini tinggal mereka berdua sambil menunggu makanan tiba. Hyojin menatap Changmin tajam masih marah dengan perlakuan Changmin tadi.

“Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Changmin. “Seharusnya kau senang sudah bertemu denganku. Changmin oppa bogoshipo, Changmin oppa saranghaeyo, Changmin oppa, Changmin oppa.. Aiishh kau selalu mengirimkan pesan seperti itu membuatku tidak tenang saja.” Ucap Changmin yang tidak terima mendapat tatapan tajam dari kekasihnya.

Hyojin mendesis mendengarnya. Yeoja itu melipat kedua tangannya di dada sambil memutar matanya membuang pandangannya ke arah lain. Dia masih kesal atas ucapan Changmin mengenai dietnya itu dihadapan waiter tadi.

“Apa perlu aku memperlihatkan semua pesan-pesanmu hah?”

“Yak, Shim Changmin hentikan!” kesal Hyojin menatap Changmin kembali. Changmin tersenyum manyun.

——————————-

Cho Yoora turun dari dalam busway. Tak lama kemudian Lee Donghae  turun menyusulnya. Namja itu mengikuti setiap jejak Yoora kemanapun yeoja itu melangkah Donghae selalu mengawasinya belakangan ini. Apalagi di jam-jam malam seperti ini Donghae tidak ingin meninggalkan Yoora sedetik pun.

Dia tidak jadi pulang ke Mokpo karena ada masalah penting yang harus dia selesaikan selama di Seoul. Ya, Yoora adalah masalah penting baginya. Sudah hampir sebulan dia menetap di Seoul dan selama itu juga dia berusaha mengejar Yoora mati-matian.

Yoora menghentikan langkahnya begitu juga dengan Donghae. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar jejak langkah yang selalu mengikutinya belakangan ini. Yoora menggigit bibir bawahnya kemudian mendesis membalikkan badannya menghadap Donghae. Namja itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Bersiul-siul melemparkan pandangannya ke arah lain seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Cho Yoora menghampiri Donghae. Kini jarak mereka sangat dekat.

“Lee Donghae-ssi ! Berhentilah mengejarku ! Berhentilah mengikutiku !”

Sebagai gantinya Yoora mendorong tubuh Donghae lalu pergi begitu saja meninggalkan Donghae. Donghae menghembuskan napasnya frustasi. Sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi nona Cho yang disukainya. Seberapapun yeoja itu menolaknya dia akan tetap dan masih bertahan untuk menyukai Yoora.

Yoora sampai di depan rumahnya tapi sama sekali dia tidak mendengar jejak langkah lagi di belakangnya. Dia membuka pintu gerbang namun pikirannya mulai tidak fokus. Dia mencoba menoleh ke belakang. Kosong. Tidak ada seorangpun di jalanan kecil depan rumahnya. Merasa ada yang hilang. Benaknya mulai bertanya-tanya kemana perginya Donghae? Biasanya namja itu akan selalu tersenyum dengan jarak terpisah oleh pagar besi rumahnya dan dia akan selalu mengabaikan senyuman Donghae.

Raut wajah Yoora berubah menjadi sedih tidak segalak tadi. Dia benar-benar merasa kecewa. Entah perasaan apa yang menyelinap belakangan ini. Bahkan dia sudah menyadari perasaannya yang sesungguhnya terhadap Donghae. Bahwa semakin hari namja itu mengganggu hidupnya semakin hari juga perasaan itu tumbuh. Namun dia tidak bisa menemukan momen yang pas untuk bersikap baik pada namja yang menurutnya aneh itu. Dia selalu bersikap kaku seolah-olah dia tidak membutuhkan Donghae disisinya. Padahal dia yakin Donghaelah namja yang akan bisa mengerti dan menerima kekurangannya.

“Segitu saja usahamu Lee Donghae? Menyebalkan.” Yoora menghentakkan kakinya kesal. Ada raut kemarahan dan kekesalan yang terpancar di wajahnya. Napasnya terengah-engah karena teriakannya membuat dia harus menghabiskan sedikit energinya untuk mengumpat Donghae. Yoora mengunci pintu pagarnya lalu menghentakkan kakinya melangkah ke dalam.

Ada sebuah senyum mengembang dari seseorang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan tidak jauh dari rumah Yoora. Namja itu mengintip dan mendengar apa yang dikatakan Yoora.

“Hidupmu penuh dengan kemunafikan, Cho Yoora-ssi.” Suara itu milik Lee Donghae. Dia tersenyum dengan penuh kemenangan. Seakan-akan umpatan Yoora tadi membuahkan hasil yang baik untuk hidupnya. Mungkin dia akan tidur nyenyak malam ini.

———————————–

Hyojin meneguk mango juice nya setelah selesai menyantap makanannya. Dia merasa puas dan kenyang malam ini. Yeoja itu mengambil napkin untuk melap bibirnya lalu menaruhnya lagi di atas meja. Changmin tak luput memandang Hyojin sedari tadi. Sorot matanya sedang memuji kekasihnya yang sedang memakai gaun berwarna hitam. Gaun itu memperlihatkan  tulang pelipis di lehernya. Sangat sexy pikirnya. Changmin berdiri hendak meninggalkan Hyojin ke depan.

“Oppa, mau kemana?” tanya Hyojin.

“Diamlah sebentar.” Ucap Changmin.

Hyojin pun duduk menunggu memperhatikan gerak-gerik Changmin yang mencurigakan. Namja itu naik ke atas stage. Dia membisikkan sesuatu dengan staff entah apa yang sedang dia bicarakan. Staff itu pergi dengan cepat. Changmin mengambil sebuah gitar lalu duduk di sebuah kursi. Staff itu datang lagi sambil menyetarakan tinggi mic dengan tinggi tubuhnya. Changmin mulai memetik-metik snar gitarnya dan menyanyikan lagu Bruno Mars- Marry You.

Suara tinggi Changmin mampu membuat pengunjung café ini tersentuh dan terhibur. Ada tontonan gratis dari Changmin. Hyojin mulai tersentuh karena menyadari lagu apa yang dibawakan Changmin dan mulai berpikir apakah namja ini berencana melamarnya?

“Don’t say no, no, no, no-no

Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah

And we’ll go, go, go, go-go

If you’re ready, like I’m ready.


Cause it’s a beautiful night,We’re looking for something dumb to do.

Hey baby,I think I wanna marry you… “

 

[Bruno Mars-Marry You]

Sementara itu …

Central Park – Manhattan 11 PM.

Jeongmal Bogoshipo ! Jeongmal Saranghae ! Bahkan aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan aku tidak bisa berpegangan dengan baik pada orang lain. Hyukjae.. Lee Hyukjae.. !” Hanwoo sedikit berteriak karena dia emosi sampai-sampai tidak menyadari seseorang telah melangkah mendekatinya dan duduk disebelahnya. Hanwoo menoleh terkejut. Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan sosok yang duduk dihadapannya.

Hyukjae merengkuh tubuh Hanwoo mulai memeluknya erat bahkan tidak mengijinkan Hanwoo lepas dari pelukannya ketika yeoja itu meronta. Hyukjae mengunci kepala Hanwoo dengan dagunya yang diletakkan di kepala yeojanya. Hanwoo menyerah. Air matanya mengalir.

“Kau mau pergi kemana? Apa kau ingin kehilanganku lagi? Jeongmal bogoshipo, jeongmal saranghae, bahkan aku tidak bisa melupakanmu Lee Hyukjae. Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah ada disini sekarang. Kau bisa menciumku kapanpun kau mau. Apa kau berniat untuk pergi lagi. Hmm?”

Hanwoo menunduk mendengarnya. Dia tidak menyangka Hyukjae akan mendengar ucapannya. Air matanya mengalir deras. Dia tidak bisa menahan perasaannya yang benar-benar sedih. Hyukjae mengelus rambut Hanwoo membuat yeoja itu semakin menyerah.

“Pergi kau playboy ..” ucap Hanwoo. “Jangan mendekatiku lagi.”

“Miane.”

“Setelah semua yang kau lakukan. Setelah membuatku jatuh cinta padamu dan .. Setelah membuatku melupakan Changmin. Setelah menciumku. Setelah mencium yeoja lain di mataku. Hingga aku bertemu Ryeowook lalu bertemu denganmu lagi. Kenapa aku tidak bisa melupakanmu sama sekali? Seberapapun kau menyakitiku, bayanganku seperti masih bersama bayanganmu. Apa hanya perasaanku saja?”

Mendengar itu Hyukjae tersentuh. Hyukjae melepas pelukannya untuk melihat Hanwoo. Tangannya menghapus air mata Hanwoo. Bibir tipisnya tertarik karena senyumannya ketika merasakan kekhawatirannya selama ini akan berpisah dengan Hanwoo sirna sudah.

“Anio. Jangan seperti ini lagi. Kau terlalu takut untuk berpacaran denganku dan memendam perasaanmu padahal Lee Hanwoo sangat-sangat mencintaiku. Sampai kapapun kau tidak akan bisa melepasku karena hanya aku yang bisa membahagiakanmu. Araci?”

Hanwoo menunduk. Benaknya masih memikirkan perkataan Hyukjae yang baru saja terlintas. Hyukjae mengetahui isi hatinya.

“Kau mau jalan-jalan? Aku akan mengantarmu pulang.” Tanya Hyukjae.

Dengan mudah Hanwoo menganggukkan kepalanya. Hanwoo mengulum bibirnya menyembunyikan senyumnya yang mulai terkembang. Hyukjae sangat senang melihatnya.

———————————–

“Apa Lee Hyukjae sudah pulang dari New York?” tanya Park Jungsoo pada Choi Siwon.

“Belum. Sepertinya sangat susah untuk merujuk Hanwoo kekasihnya.”

“Aiiish,, sangat susah juga untukku. Begini ..”

Park Jungsoo yang tadinya berdiri kini duduk disebelah Choi Siwon hendak merundingkan sesuatu. Park Jungsoo selaku direktur manajemen musik di tempat Hyukjae bekerja menatap Choi Siwon dengan sangat serius.

“Tawaran musikal untuk Hyukjae akan menuai hasil yang banyak. Bisakah kau menelponnya untuk menyuruhnya pulang menandatangani kontrak? Lagipula dia sudah agak lama di Amerika, aku akan memotong pendapatannya  dan pendapatanmu jika dia belum pulang.”

“Mwo?? Baiklah baiklah aku akan berusaha memberitahunya.”

——————-

Taxi kuning Manhattan ini mengantarkan dua orang penumpang sampai pada kawasan staten island. Hanwoo dan Hyukjae turun setelah membayar taxi. Taxi itu melaju meninggalkan mereka di wilayah St.Maria  4th Avenue. Perlahan-lahan mereka melangkah beriringan tanpa memperdulikan cuaca dingin yang sebenarnya menusuk ke tulang mereka masing-masing.

“Kenapa kau mencariku?” tanya Hanwoo masih dengan gaya dinginnya.

“Menurutmu?”

Hanwoo mengangkat bahunya memberi tanda bahwa dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Hyukjae.

“Awalnya aku pasrah tidak ingin mencarimu karena aku yakin kau akan sangat marah jika melihatku.”

“Memang.” Tukas Hanwoo.

“Lalu Hyojin membantuku dan menyemangatiku. Kau jangan marah lagi padaku. Apa kau kedinginan?” rujuk Hyukjae mencoba merangkul Hanwoo namun yeoja itu mendorong Hyukjae tidak ingin dipeluk oleh namjanya.

“Jangan memelukku !! Kau tahu apa yang kupikirkan? Berapa banyak yeoja-yeoja yang pernah kau cium? Bibirmu itu penuh dengan busa-busa bekas!” maki Hanwoo tapi itu malah membuat Hyukjae tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti maksud Hanwoo. Ucapan Hanwoo memang menusuk hatinya tapi dia lebih suka melihat ekspresi Hanwoo yang sedang cemburu.

“Kau cemburu? Kau takut dan mulai tidak percaya diri bahwa yeoja-yeoja yang dekat denganku itu cantik-cantik, iya kan?”

Hanwoo mendelik mendengarnya. “M-Mwo? Jangan membanding-bandingkanku dengan yeoja-yeoja bekasmu.”

Hyukjae tertawa. “Kau tahu, jika kau marah seperti tadi kau terlihat lebih sexy dua kali lipat.” Goda Hyukjae membuat yeoja itu menunduk malu menutupi wajahnya yang memanas dan mungkin akan merona. Merasa kesal Hanwoo meninggalkan Hyukjae lebih dulu karena sudah dekat dengan rumahnya. Hyukjae mengejar Hanwoo dan menarik tangan yeojanya. Dia mendekap Hanwoo.

Jeongmal bogoshipo.” Bisik Hyukjae tepat di telinga Hanwoo. Hanwoo bergidik dan merasa sangat hangat di peluk seperti ini. Dia merasa nyaman di cuaca dingin akhir November.

“Jangan marah lagi padaku karena jika kau marah, kau akan merasa sangat sakit dan aku tidak mau hal itu terjadi. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?” tanya Hyukjae memastikan tapi Hanwoo terdiam sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Hyukjae tidak sabar. Dia melepas pelukannya lalu mencium bibir Hanwoo.

“Hentikan !”

Bibirnya yang sebentar lagi menempel dengan bibir Hanwoo terurung begitu saja karena sebuah suara yang mengagetkan mereka. Hanwoo dan Hyukjae menoleh ke sumber suara. Disana sudah berdiri Lee Junhwa dan Kang Kyongsuk orang tua Hanwoo.

A-Appa, eomma..” ucap Hanwoo sedikit terkejut.

Hyukjae melepas tangannya dari tubuh Hanwoo dan menunduk member salam pada kedua orang tua Hanwoo. Lee Junhwa, appa Hanwoo tidak memperdulikan namja yang sedang member salam itu. Beliau menarik paksa tangan Hanwoo menyuruh anaknya masuk ke dalam.

Appa lepaskan!! Appa !! Sakit !”

“Masuk !!”

Hyukjae oppa ..!”

Hanwoo menoleh ke arah Hyukjae dan mengangkat tangannya menekuk tiga jari tengah menyisakan kelingking dan ibu jari mengisyaratkan pada Hyukjae untuk menelponnya setelah ini. Hyukjae hanya memandangi tiga orang yang masuk ke dalam rumah itu.

——————–

Lee Junhwa berhasil mengajak Hanwoo masuk ke dalam. Disana Lee Kwangsoo sedang duduk menonton TV di ruang tengah dan terkejut mendengar bentakan kakak kandungnya yang sedang memarahi putrinya. Kang Kyongsuk mencoba menarik suaminya yang sedang marah itu agar mengontrol emosinya.

“Kau tahu ini jam berapa?” tanya Lee Junhwa.

Hanwoo melirik ke arah jam. Sudah hampir jam dua belas selama kepergiannya tadi sore bersama Ryeowook.

“Kau tahu bagaimana paniknya appa mencarimu?! Tapi kau malah bermesraan dengan namja lain !! Dia si playboy nomer satu di Korea itu kan? Kau berpacaran dengannya?! Jadi benar gossip itu? Jawab appa !”

Hanwoo menangis sedikit sakit mendengar Hyukjae dikatai seperti itu oleh appanya. Hanwoo gemetar. Dia sangat takut. Dia tahu ini adalah kesalahannya karena sudah pulang malam tapi entah kenapa dia tidak suka appanya berpikiran seperti itu terhadap Hyukjae.

“Kau membohongi appa. Kau mengecewakan appa !! Bukankah bersama Ryeowook lebih baik daripada namja itu ?”

“Appa menjodohkanku dengan Ryeowook?” tanya Hanwoo kemudian.

“Appa menyukai namja itu. Dia sangat pantas bersanding denganmu.”

“Appa menjodohkanku? Iya? Appa juga membohongiku. Aku sudah dewasa, appa. Aku tahu mana yang terbaik untukku. Dia datang ke Amerika hanya untuk menemuiku. Dia bukan playboy lagi. Jangan mengatainya seperti itu, dia namja yang baik. Bahkan dia menyelamatkanku dari Changmin. Appa harus berterima kasih pada namja itu, si playboy yang appa katakan tadi.”

Selesai berkata pada appanya Hanwoo naik ke atas meninggalkan mereka semua. Lee Junhwa mendesis menatap punggung anak kesayangannya.

“Appa, hentikan.” Ucap Kang Kyongsuk lembut mencoba menggosok punggung suaminya.

“Aku ingin yang terbaik untuknya, tapi kenapa dia tidak mengerti?”

Lee Junhwa masuk ke dalam kamar diikuti istrinya. Tinggal Lee Kwangsoo saja yang masih di ruang tengah. Namja tinggi itu mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti dan tidak mau ikut campur ke dalam urusan mereka. Dia tetap melanjutkan menonton TV nya bahkan tertawa terbahak-bahak ketika serius menonton acara gag.

Hanwoo’s POV

——————–

Aku tidak bisa tidur. Bagaimana bisa untuk memejamkan mata? Sedari tadi aku sudah mencoba berguling-guling di ranjang membenarkan posisi tidurku mencari letak kenyamanannya. Tapi selalu gagal. Aku resah. Walaupun aku sedang kacau memikirkan appa tapi aku juga resah memikirkan kemana namja yang tadi mengantarku? Apa dia sudah pulang dengan selamat? Kenapa dia tidak menelponku?

Atau.. Jangan-jangan .. Dia sudah balik ke Korea karena Choi Siwon tiba-tiba menelponnya ? Atau dia pulang ke Korea karena malas berurusan dengan appa lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini?

Aku menghela napas. Entah kenapa air mata di mata kananku menetes. Rasanya sesak sekali. Jarum jam masih berdetak. Hening dan sunyi. Hanya ada suara angin yang masuk dari celah jendela yang memang sengaja kubuka membuat tirai putih di kamarku berterbangan. Jika seperti ini aku merindukan Seoul. Aku merindukan kamarku. Aku merindukan Choi Hyojin dan Choi Sooyoung. Sedang apa mereka? Mereka pasti sedang tertawa, tersenyum bahagia karena sudah menemukan takdir mereka masing-masing?

Senangnya bisa jadi mereka. Aku juga ingin. Aku ingin kembali lagi dengan Hyukjae. Cara dia menyentuhku sangat berbeda dengan Changmin. Lembut. Sangat lembut. Dia tahu bagaimana cara membuatku tenang walaupun aku tidak melontarkan isi hatiku yang sebenarnya bahwa aku sangat sangat mencintainya, tapi dia tahu tanpa perlu aku mengatakannya.

‘Drrttt … Drrrtt ..’

Akhirnya. Ini pasti dia. Kuambil iphoneku lalu menatap layar panjangku. Hatiku sedikit lega ketika melihat nama ‘sexy’ di layar yang masih kugunakan untuk nama contactnya. Aku harus bagimana? Kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang seperti ini? Apa yang harus kukatakan? Haruskah aku menangis dan mengatakan bahwa aku benar-benar merindukannya? Aku gugup.

Karena lama tidak mengangkat menekan tombol hijau panggilannya terputus. Aku sedikit kecewa. Sunyi. Iphoneku tidak bergetar lagi. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh karena tidak mengangkat telponnya hanya karena gugup. Dia kira pasti aku sudah tidur karena ini sudah malam. Apa aku harus meneleponnya?

‘Drrtt… Drrrtt..’

Dia meneleponku lagi ! Kutekan tombol hijau di layar dengan cepat lalu menempelkan iphoneku di telinga sambil tersenyum.

“Yeoboseyo.” Ucapku. Ini sungguh akward untuk yang pertama kalinya ketika kami balikan lagi.

“Kau sudah tidur? Apa aku menganggumu?” tanyanya.

“Aku menunggu teleponmu.”

“Kau masih menungguku? Jincha?”

“Umm.. Aku ingin memastikan apa kau menepati janjimu untuk meneleponku?”

Kudengar dia tertawa pelan. “Aku baru sampai Hanwoo-ya. Mian membuatmu menunggu. Bagaimana appa? Apa appa memarahimu? Appa tidak menyukaiku?”

Aku terdiam. Apa yang harus kuucapkan? Aku meresahkan masalah ini. Dari masalah ini ada perasaan kecil yang menyelinap bahwa aku sangat takut kehilangan Hyukjae.

“Jika appa tidak menyukaimu, apa kau akan meninggalkanku lalu mencari yeoja lain yang bisa merestuimu?”

“Apa yang kau katakan? Tidak ada yang seperti itu. Ketika Lee Hyukjae benar-benar jatuh cinta, dia akan terus mempertahankan yeojanya kecuali yeojanya yang mulai memutuskan duluan hubungannya. Hanwoo-ya, bisakah kau mempercayaiku mulai sekarang tanpa peduli bagaimana seorang Lee Hyukjae yang dulu?” aku benar-benar tertegun mendengar nada suaranya yang sangat tertekan dan memohon. Dia sangat serius denganku. Aku menelan ludah ketika merasa pikiranku salah mengenainya.

“Miane. Aku hanya takut kau meninggalkanku.”

“Mungkin lebih baik kita lanjutkan besok saja. Sekarang sudah sangat malam dan aku membuatmu pulang larut. Tidurlah.”’

“Temani aku, Hyukjae oppa.”

“Mmm .. Tidurlah. Apa kau ingin aku menyanyikan lagu tidur untukmu?”

“Ne.”

Aku tersenyum.Dia menyanyi. Menyanyikan sebuah lagu dari 4 Minute – Creating Love . Suaranya seperti obat bius untukku. Aku sangat nyaman. Aku mendengar rap nya sebelum aku akhirnya benar-benar tertidur. Dia sangat ahli dalam urusan rap.

Hyukjae’s POV

——————-

There is an event that made me happy today the time when I met you

And the fact that I knew I have someone to love

Really, how is it like to love? Is it sweet? How would a kiss be like in a dark alley?

Would the sky becomes white, and would I hear the bells?

Talks about love, talks about not looking well together

Probably a different world’s work, distant end words

My heart keeps thumping, my eyes are crossing

How can I love?

I love you, I think this feeling is love

“Nal an-a-jweo dal-kom-ha-ge gam-ssa-jweo neul ham-gge-ha-go ship-da mal-hae-jweo ddo nal do-geun-geo-ri-ge-hae nal seol-re-ge hae, Ja-ggu-man ddeol-li-ge hae eo-ddeok-hae bu-deu-reo-un cho-kol-lit-cheo-reom dal-kom-ha-ge ha-ru-ha-ru deo gip-ge al-go-ship-ge ..”

Aku menyanyikan sebuah lagi dari 4 minute untuknya. Lagu ini benar-benar menyatakan bagaimana perasaanku hari ini. Aku sangat bahagia. Memeluknya dengan erat membuat hatiku ingin memiliki dia seutuhnya. Tapi .. Sepertinya kedua orang tuanya tidak menyukaiku.

“Bagaimana jika kita menikah saja besok? Aku tidak ingin jauh berpisah lagi denganmu, Hanwoo-ya. Kau tahu ini membuatku sangat-sangat menderita. Apalagi ketika melihatmu menginjak bunga mawar yang kuberikan dan melempar gelang bintang ke sungai. Kau tidak tahu, kau membuat seorang namja menangis berkali-kali dan harus berenang di tengah malam dengan cuaca yang dingin.”

Aku menelan ludah ketika berhasil mencurahkan isi hatiku. Dia pasti menertawakanku sekarang. Atau menangis terharu karena ucapanku? Aku tersenyum membayangkan hal itu. Tapi senyumku memudar ketika merasa disana sangat hening tidak ada gemingan apapun yang kudengar. Apa dia sudah tidur?

“Hanwoo-ya? Kau sudah tidur?”

Benar. Dia sudah tidur. Aku menggigit jari telunjukku menahan malu sendiri karena apa yang kubayangkan tidak benar sama sekali. Hanwoo sudah tidur.

“Baiklah, tidur yang nyenyak my princess. Aku harap kau memimpikanku dan kita akan bertemu besok lagi. I Love u ..” ucapku manja.

Kumatikan teleponku sampai tidak menyadari ada satu pesan masuk di kakao talk ku. Pesan dari Choi Siwon? Ada apa dengannya? Apa dia memberi kabar baik tentang hubungannya dengan Sooyoung?

Jungsoo hyung menyuruhmu untuk pulang. Banyak pekerjaan disini. Kalau kau tidak pulang dalam waktu dua hari ini aku akan selesai berkerja-sama denganmu lagi.

Aku menghela napas. Ternyata masalah pekerjaaan. Kulempar handphoneku. Benar-benar menyebalkan. Kurebahkan tubuhku ke ranjang. Aku tidak ingin ada siapapun yang merusak hari bahagiaku hari ini.

Author’s POV

—————–

Dengan posisi tidur membelakangi istrinya Lee Junhwa merenung. Dia sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Jang Hyunsub sahabat lamanya yang tidak sengaja bertemu saat dia pergi ke sebuah restaurant. Waktu itu dia harus bertemu dengan clientnya tapi kebetulan dia bertemu Jang Hyunsub lalu memilih untuk mengobrol sebentar.

“Bagaimana kabarmu Lee Junhwa?”

“Tentu saja baik. Kau sendiri bagaimana? Apa kau liburan kesini?”

“Ne, aku sangat baik. Aku liburan bersama kedua anak dan istriku.”

“Itu sangat menyenangkan. Kau harus berfoto di depan patung Liberty.”

Percakapan konyol itu membuat keduanya tertawa. Tiba-tiba Jang Hyunsub mendekatkan tubuhnya ke Junhwa.

“Yak, apa kau benar baik-baik saja? Kudengar anakmu Lee Hanwoo gagal dengan urusan percintaannya. Di Korea sedang heboh dengan berita itu. Kau tahu anakmu dekat dengan Lee Hyukjae artis yang terkenal playboy itu. Jika aku jadi kau, aku tidak akan mengijinkan anakku dengan namja itu. Bagaimanapun juga aku mempunyai anak perempuan juga Lee Junhwa. Aku sangat mengerti perasaanmu sebagai seorang appa.”

Lee Junhwa bangun dari tidurnya. Dia duduk di tepi ranjang mengambil gelas di atas laci di samping tempat tidurnya lalu meneguknya. Kang Kyongsuk terbangun melihat hal ini. Tidurnya juga tidak tenang.

“Appa, kau belum tidur?”

Lee Junhwa menoleh sekejap melirik Kang Kyongsuk.

“Aku tidak bisa tidur, yeobo.”

“Kau memikirkan anak kita? Appa, Hanwoo sudah dewasa. Dia persis sepertimu. Sampai kau menentangnya berkali-kali dia akan tetap dengan pilihannya itu.”

“Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Selagi masih bisa aku akan menghasutnya untuk melarangnyaberpacaran dengan playboy itu.”

“Kau kira putri kita masih berumur lima tahun? Dia akan membencimu appa.”

Mendengar hal ini Kang Kyongsuk menghela napas melanjutkan tidurnya lagi. Dia tidak akan bisa menghentikan suaminya yang sangat keras kepala itu.

Saat pagi hari tiba Lee Junhwa menyantap nasi goreng buatan Kyongsuk di meja makan. Hanya bertiga, dirinya, Kang Kyongsuk dan Lee Kwangsoo yang sedang duduk di meja makan menyisakan satu tempat duduk membuat Lee Junhwa tidak berselera makan.

“Kwangsoo-ya, bisakah kau membujuk Hanwoo untuk turun?” pinta Kyongsuk pada adik iparnya. Lee Kwangsoo menaruh sendoknya dan bergegas meninggalkan meja makan.

“Anio. Tidak usah menyuruhnya turun.” Tegas Junhwa mencoba tenang sambil mengunyah makananya.

—————

Kang Kyongsuk membuka pintu setelah dua kali bel rumahnya berbunyi. Dia sedikit terkejut melihat seorang namja yang datang ke rumahnya. Ini mengingatkannya pada waktu pertama kali namja ini mengunjungi rumahnya untuk mencari putrinya. Namja itu membungkuk memberi salam pada Kyongsuk. Kyongsuk terlihat salah tingkah.

“Anyeong haseyo, Naneun Lee Hyukjae imnida. Kedatanganku pagi ini ingin bertemu tuan Lee, eommonim.”

“Ah kau? Tapi suamiku baru saja berangkat ke kantor.”

“Begitu.”

“Kau terlihat seperti anak baik. Apa kau mau menemui anakku? Hanwoo belum makan dari tadi mungkin kau bisa menjenguknya ke atas. Bujuk dia untuk makan. Dia punya penyakit mag dan aku tidak ingin itu kambuh lagi.” Ujar Kang Kyongsuk.

“Jika kau ingin berbicara dengan kami, temui kami di sebrang jalan 4th Avenue ada sebuah café . Miranda Café, Kita bertemu jam 7 sore.”

Hyukjae’s POV

———————

Kutatap yeojaku yang sedang menyantap hamburgernya. Kami duduk di bangku taman sambil memandangi orang-orang yang melintas di taman ini. Langit biru di pagi hari tertutup awan tebal membuat cuaca disini sedikit dingin.

“Jika aku tidak datang menemuimu sampai kapan kau akan bertahan hah? Kau ingin mati meninggalkanku karena penyakit mag mu kambuh, Lee Hanwoo?”

“Mwo? Darimana kau tahu aku punya penyakit itu? Kau tidak usah khawatir aku baik-baik saja. Lihat aku sudah menyelesaikan makananku.” Papar Hanwoo sambil menghisap jempolnya ketika sudah menyelesaikan makannya. Kutepuk kepalanya dan mengacak rambutnya membuat ekspresinya cemberut menatapku.

“Yak ! Kau tahu aku ingin tampil cantik dihadapanmu tapi kau malah merusaknya. Aku membencimu, Lee Hyukjae.” Kesalnya. Aku tertawa memandang ke arah lain lalu menatapnya lagi ketika dia memeluk lenganku.

“Aaaa Joha! Aku sangat suka seperti ini.”

Aku senang mendengarnya. Hubungan kami sudah baik-baik saja tanpa perduli bagaimana orang tuanya yang tidak menyetujui hubungan kami berdua. Entah kenapa aku merasa seperti dejavu. Aku seperti sudah pernah berada di keadaan ini. Butiran salju mulai turun seperti hujan. Sangat indah. Ini adalah salju pertama yang kami rasakan di Amerika.

Author’s POV

——————-

Lee Junhwa menatap namja bertubuh mungil dihadapannya. Ryeowook terlihat sangat rapi dengan jas hitamnya. Waktu istirahat mereka gunakan untuk bertemu. Lee Junhwa ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Mianhe telah mengganggu waktu istirahatmu, tuan muda Kim.”

“Ajuhsi panggil aku Ryeowook saja. Gwenchana. Tapi ada apa menemuiku? Sepertinya sangat penting.”

“Ini mengenai putriku.” Ucap Junhwa.

Ryeowook terdiam. Entah apa yang dipikirnya setelah pria tua ini menyebut putrinya membuatnya harus mengingat dan mengenang yeoja yang sempat dia kagumi belakangan ini. Ryeowook meneguk minumannya lalu menaruhnya lagi di tempat semula menunggu Junhwa berbicara.

“Apa putriku sudah mengecewakanmu? Tidak bisakah kau bertemu dengannya lagi lalu mengajaknya jalan lagi? Kurasa aku akan sangat menyetujui hubungan kalian.”

Junhwa bersungguh-sungguh membuat Ryeowook tidak enak melihatnya. Dia memang menyukai Hanwoo tapi jika dipaksa seperti ini dan melihat sisi Hanwoo yang tengah mencintai namja lain bagaimana dia bisa bertahan? Itu akan membuang-buang waktunya saja.

“Ajuhsi, aku sangat-sangat menyukai putrimu. Hanwoo baik dan juga cantik. Tapi, ada namja lain yang lebih pantas bersamanya.”

“Aku tidak menyukai namja itu. Dia tidak pantas untuk putriku.”

“Maaf jika aku lancang ajuhsi, tapi .. menurutku ini yang terbaik.” Ucap Ryeowook.

Tiba-tiba handphone Junhwa berdering. Junhwa menghela napasnya lalu merogoh kantong jasnya untuk mengambil handphonenya. Tertera nama Kang Kyongsuk disana.

“Yeoboseyo.. Waeyo?”

“Yeobo, bisakah kita bertemu untuk makan malam di Miranda café jam 7 nanti? Tidak usah pulang ke rumah aku akan menunggumu disana. Araci.”

“Hmm. Baiklah.”

—————————

7PM , Miranda Café Staten Island.

Kang Kyongsuk mencoba tersenyum menatap Hyukjae yang sangat gugup malam ini. Dia sangat tahu bagaimana perasaan namja yang ada dihadapannya. Pasti sangat gugup. Tapi entah kenapa dia sangat salut dan kagum akan keberaniannya untuk bertemu dengannya malam ini.

“Kau berasal dari mana?”

“Aku dilahirkan di Goyangshi.”

“Goyangshi? Kau pasti lahir dari keluarga yang baik.

“Terima kasih sudah memujiku.”

“Banyak yang ingin kutanyakan. Apa kau bisa menjawabnya?” tanya Kyongsuk.

“Aku akan berusaha menjawab dengan jujur.”

“Sudah berapa lama kau berpacaran dengan putriku?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak menghitungnya. Entah itu kapan kami menjalani hari seperti air. Saat itu dia masih bersama Shim Changmin, aku mengaguminya. Aku mengagumi putrimu.”

“Aku dengar kau seorang playboy. Suamiku tidak menyukainya. Kau tahu, dia tidak bisa tidur karena ini.”

Mendengar hal ini Hyukjae terdiam. Dia merasa banyak bersalah karena masa lalunya. Hyukjae menunduk.

“Mianhamnida. Itu mungkin masa laluku tapi saat ini aku hanya mencintai putrimu seorang.”

Mereka berbicara sampai-sampai tidak sadar Junhwa sudah berdiri di depan meja mereka. Pria paruh baya itu mengenakan syal cokelat. Tatapannya tak luput dari Hyukjae. Dia sedikit mendengar ucapan Hyukjae yang mengatakan bahwa dia hanya mencintai putrinya seorang.

“Kau tidak bisa bersama putriku.”

Kyongsuk dan Hyukjae terkejut menoleh menatap Junhwa. Kyongsuk bangun menarik tangan suaminya untuk duduk namun Junhwa menepisnya.

“Jadi kau menyuruhku kesini untuk bertemu dengan bajingan ini, Lee Kyongsuk?”

“Yeobo, kecilkan suaramu semua orang menatap kita. Kurasa kita harus berkenalan dengannya.” Kyongsuk berbisik sambil tersenyum miris melihat ke sekelilingnya yang mulai menatap mereka karena suara suaminya yang keras. Hyukjae berdiri menunduk memberi salam. Namja itu terlihat dewasa dan tegas.

Naneun Lee Hyukjae imnida. Aku ingin bertemu dengan anda tuan. Bisakah kita berbicara?”

Junhwa terdiam memandang namja didepannya yang menurutnya sangat lancang untuk mengeluarkan suaranya saat ini.

“Kurasa aku harus pulang.” Junhwa mengedikkan bahunya hendak membalikkan badannya tapi Kyongsuk mencegatnya dengan cepat.

“Appa..”

“Aku mencintai putri anda, tuan.”

Mendengar hal ini dari Junhwa serasa mau meledak ke ubun-ubun. Entah kenapa dia sangat tidak suka mendengarnya.

“Aku bersungguh-sungguh. Jika aku bermain-main dengan putri tuan, aku tidak akan mengejarnya kesini.”

“Bagaimana kau hanya bisa menghidupkan putriku jika hanya dengan cinta?”

“Tahun depan umurku akan beranjak 28 tahun. Aku pria dewasa dan untuk masalah keuangan, aku yakin putri tuan akan cukup bahagia dengan penghasilanku.”

“Ah , kajja kita berbicara sambil duduk saja. Appa mau memesan sesuatu?”

“Kita pulang Hanwoo eomma. Kajja, kita pulang.”

Junhwa menarik Kyongsuk yang sedang sibuk mengambil tas merah di mejanya. Kyongsuk sempat melirik ke arah Hyukjae yang sedang menunduk sedih.

Kyongsuk hanya melihat Junhwa yang sedang fokus menyetir. Dia tidak berani berkomentar apapun terhadap hal ini. Sangat susah untuk membujuk suaminya. Suaminya begitu keras kepala apalagi menyangkut dengan Lee Hanwoo putrid satu-satunya.

Sementara Hyukjae melangkah sendirian disekitar pertokoan Staten Island. Dia merapatkan mantel bulu-bulunya karena merasa udara disini sangat dingin. Hyukjae tidak sengaja melihat dasi hitam bergaris-garis biru dari luar toko. Dia tertarik untuk membelinya.

——————–

“Aiishh aku bisa gila kalau anak itu tidak pulang hari ini.”

Siwon mengeluh dihadapan kekasihnya ketika dia mengajaknya bertemu untuk jalan-jalan di malam hari di Lotte World.

“Apa Hanwoo sangat keras kepala begitu? Kenapa dia susah sekali untuk dibujuk hingga membuat Hyukjae sulit? Apa kau tidak bisa membantuku untuk membujuk Hanwoo?”

“Aku belum sempat menanyai kabar Hanwoo karena deadline tugasku, oppa. Mungkin aku akan menanyakannya nanti setelah pulang.”

“Hyukjae tidak membalas pesanku. Dia tidak memberikan kabar kapan dia pulang jadi aku tidak bisa memberikan keputusan untuk Jungsoo hyung.”

“Apa mereka seperah ini sampai tidak bisa balik lagi? Apa Hanwoo belum bisa memaafkan Hyukjae?”

Siwon masih berbicara mengenai Hyukjae berharap Sooyoung menanggapinya. Tapi raut wajah kekasihnya berubah seperti tidak nyaman dengan suasana ini. Sooyoung menghela napas. Dia menghentikan langkahnya dan menarik Siwon untuk menghadapnya. Dia tidak ingin melihat kekasihnya sepanik ini.

“Oppa, tidak bisakah kau untuk bersabar? Jika memang Hyukjae tidak bisa katakan tidak pada Jungsoo hyungmu. Lagipula apa kau mengajakku menghabiskan malam jumat ini hanya untuk mendebatkan masalah mereka? Aku lapar.” Sooyoung cemberut.

Siwon merasa bersalah. “Miane. Seharusnya aku tidak begini. Kau mau makan apa? Kajja, kita makan saja. Aku juga lapar.” Siwon merangkul Sooyoung mengajaknya ke suatu tempat mungkin ke sebuah restaurant mahal.

———————-

i can’t live without you
it can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
my bruised heart
is screaming to me to find you
where are you?
can’t you hear my voice?
to me…

[It Has To Be U – Yesung]

Yoora menatap ke arah pintu. Tatapannya begitu sedih. Dia seperti kehilangan sesuatu belakangan ini. Sudah tiga hari Donghae menghilang dan tidak kunjung datang untuk mengikuti kemanapun dia pergi. Setiap hari dia sengaja berdiri di depan meja kasir hanya untuk melihat dan memastikan Donghae datang menemuinya.

Yoora menunduk. Tokonya begitu sepi. Biasanya akan sangat ramai karena ada Donghae. Donghae sangat-sangat membantunya untuk mencari pembeli. Banyak gadis SMA dan SMP datang ke cafénya karena ingin melihat si tampan Donghae. Air matanya menitik dan dengan cepat dia menghapusnya. Rasanya begitu sakit. Dan dia merasa sudah menjadi gadis bodoh dan tidak tahu di untung menyia-nyiakan namja seperti Donghae.

“Nona, aku memesan satu hot cappuccino.”

“Baik.”

Yoora mengangkat wajahnya hendak tersenyum ke arah pembeli namun yang ada dia malah terkejut ketika melihat Donghae berdiri dihadapannya. Ini seperti sihir menurutnya. Hatinya sedikit senang melihat hal ini. Bukan sedikit tapi sepertinya dia sangat bahagia bisa melihat namja yang dirindukannya lagi. Yoora membalikkan badan untuk membuat cappuccino itu.

“Hmmm.. Café ini terlihat sepi, apa karena tidak ada aku?” ujar Donghae membalikkan badannya. Mendengar hal ini Yoora sedikit tersenyum.

 Donghae duduk di sudut menyilangkan kakinya sambil memperhatikan Yoora. Ketika Yoora membalikkan badannya selesai membuat satu hot cappuccino dan menaruhnya di atas nampan, Donghae dengan cepat memalingkan pandangannya ke arah lain. Pura-pura tidak melihat yeoja itu.

Yoora datang menaruh cappuccinonya di atas meja. Ini tidak biasa dilakukannya. Biasanya dia akan menyuruh pegawainya untuk mengantar pesanan Donghae tapi kali ini dia sendiri yang rela membawakannya.  Donghae mendesis melihatnya. Menurutnya ini adalah perubahan besar Yoora untuknya.

“Apa kau sudah tertarik padaku sampai-sampai kau sendiri yang mengantarkannya padaku? Mana Jung Ahn pegawaimu atau Song Raerin sahabatmu yang biasanya kau suruh mereka untuk mengantar pesananku?”

“Kau jangan besar kepala, Jung Ahn sedang mengambil cuti karena ingin berlibur. Untuk apa kau menanyakan Raerin? Dia sahabatku.” Yoora membalikkan badan meninggalkan Donghae. Dia kembali ke meja kasir dan melihat ke arah Donghae. Dia memperhatikan Donghae. Sementara Donghae memperhatikan hot cappuccino buatan Yoora. Donghae sedikit tersenyum ketika menatap cappuccinonya yang bentuknya sangat aneh dengan latte art berbentuk jantung di atasnya.

shinningstar13ff.wordpress.com

Donghae mencoba mencicipi minuman itu membuat art jantungnya akan hilang. Dia menatap cangkirnya setelah meminum dan sedikit mengedikkan bahunya.

“Enak juga.”

Merasa bosan Donghae mengeluarkan ipadnya. Dia sempat melirik ke arah Yoora. Yoora yang dilirik seperti itu cepat-cepat membalikkan badannya melakukan sesuatu yang tidak penting seperti mengelap meja contohnya. Donghae tersenyum. Bibir tipisnya tertarik begitu saja membentuk sebuah smirk.

Donghae menguap. Sudah sejam dia duduk di sofa ini menunggu Yoora yang sedari tadi masih setia menunggunya di meja kasir. Kadang Donghae memperhatikan Yoora ketika ada pembeli yang datang. Dia memasukkan ipadnya ke dalam tas hitam yang sering dia bawa pergi kemana-mana.

Donghae mengeluarkan sebuah kertas dan menulis sesuatu disana. Merasa sudah cukup Donghae merobek kertas itu lalu bangun menghampiri Yoora yang pura-pura sibuk menulis sesuatu di bukunya. Donghae tersenyum memandang Yoora lalu memberikan selembaran uang untuk membayar cappucinonya. Yoora melirik Donghae kemudian mengambil uang itu lalu memasukkannya di mesin uang dan mencabut kitir pembeliannya untuk Donghae. Donghae mengambil kitir itu lalu meremasnya.

“Apa kau akan terus seperti ini?” tanya Donghae. Tidak ada jawaban dari Yoora.

“Aku akan pulang besok. Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu. Apa kau tidak ingin menyampaikan sesuatu untukku?” tanya Donghae lagi. Yoora tertegun tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja.

“Baiklah, baik. Aku akan pulang. Sampai jumpa.”

Donghae membalikkan badan meninggalkan Yoora yang masih menunduk. Yoora tidak bisa mengangkat wajahnya bahkan untuk melihat punggungnya yang semakin menjauh pun dia tidak bisa. Mendengar pintu cafenya ditutup dan suasana dalam café hening air matanya mengalir. Dia menangis. Hatinya sangat sakit. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan untuk mengangkat kaki mengejarnya saja tidak kuat.

—————————

Sementara itu Hyojin rebahan di ranjang Changmin. Yeoja itu tidak hentinya tersenyum menatap cincin yang diberikan Changmin padanya waktu Changmin melamarnya kemarin malam. Sambil menyanyikan sebuah lagu Changmin mengatakan saranghae membuat orang-orang di dalam café mendapat tontonan gratis.

Changmin datang dari kamar mandi sudah memakai bajunya menemui Hyojin. Changmin tersenyum karena melihat ekspresi kekasihnya yang sepertinya sangat bahagia. Changmin duduk disamping ranjang.

“Apa kau bahagia nona Choi?” tanya Changmin.

Tentu saja Hyojin mengangguk. “Aku bahagia.”

Hyojin bangkit dan duduk menatap Changmin. “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini?”

“Hidup bersama.”

“Maksudmu?”

“Menikah. Kita menikah.” Ucap Changmin. Hyojin tersenyum.

Changmin mendekatkan wajahnya ke arah Hyojin mencium bibirnya disana. Ciumannya seperti menyampaikan sesuatu bahwa dia sangat-sangat mencintai yeojanya dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak memilih orang yang salah. Orang yang selama ini merasa tepat untuk mendampingi hidupnya.

——————

Hyukjae menekan bel rumah Hanwoo. Hari ini adalah hari terakhirnya di Staten Island dan dia berencana untuk pulang setelah bertemu Hanwoo. Dia sudah membawakan sesuatu untuk keluarga kekasihnya. Hyukjae menekan belnya lagi dan seseorang membuka pintunya.

“Oppa !” bisik Hanwoo. Hyukjae tersenyum sangat senang melihat yeoja ini lagi.

“Lee Hanwoo siapa yang datang?” teriak Lee Junhwa dari meja makan. Hanwoo tidak berani menoleh ke dalam. Dia menarik tangan Hyukjae untuk mengajaknya pergi dari sini. Tapi Hyukjae mengelak.

“Yak, oppa kajja kita jangan berbicara disini. Appa sudah pulang dan bisa mengamuk lagi jika melihat kita bertemu ..”

“Jangan seperti ini. Aku akan menemui appamu.”

“Oppa !!”

“Hanwoo-ya, aku akan pulang setelah berkunjung ke rumahmu.” Ucap Hyukjae membuat raut wajah Hanwoo berubah.

“Choi Siwon menghubungiku dari kemarin dan memang sepertinya aku harus pulang karena pekerjaanku.”

“KAU LAGI !” teriak Lee Junhwa datang menemui mereka berdua. Hanwoo terkejut dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi ketika eomma datang menemuinya dan berusaha menarik appanya. Hyukjae tetap tersenyum melihat ayah mertuanya. Hyukjae menunduk memberi salam.

“Aku membelikan sesuatu untuk kalian. Semoga kalian menyukainya. Aku akan pulang dan kembali ke Seoul karena pekerjaan.”

Hyukjae memberikan tas yang ditentengnya kepada Kyungsook dan sempat mengambil sebuah kotak pink di dalamnya yang jelas itu kado yang disiapkan untuk kekasihnya.

“Lihat. Lihatlah. Dia mengatakan mencintai putri kita tapi dia malah meninggalkan putri kita. Apakah dia terlihat seperti namja yang baik? Kau masih mempercayainya?”

“Apa jika aku tetap tinggal disini anda akan menginjinkanku bersamanya? Kau menginginkanku untuk tetap bersamanya? Tidak akan ada namja yang mencintainya sepertiku.” Ucap Hyukjae tegas pada pria paruh baya itu.

“Oppa, aku akan tetap bersamamu. Aku ikut denganmu.” Hanwoo mulai memaksa dan menarik lengan Hyukjae. Dia terlihat seperti anak kecil.

“Hanwoo-ya !!” larang Junhwa.

Hyukjae membalikkan badannya menatap Hanwoo. Hyukjae tersenyum simpul. Bibirnya terlihat terkulum dengan senyumnya. Sangat tampan. Tangannya mengacak rambut Hanwoo lagi.

“Turuti kata appamu.”

“Andweyo. Ini masalah siapa yang kucintai. Oppa.. Kau berjanji tidak akan membuatku menangis lagi.”

“Aku akan datang menemuimu lagi. Ja, sepertinya aku harus berangkat sekarang.” Ujar Hyukjae sambil melirik arlojinya. Hanwoo menggeleng-geleng menangis tidak percaya hidupnya sesusah ini.

“Jangan menyusahkan kedua orang tuamu selama aku tidak ada. Makan yang baik. Jika tidak aku tidak akan menemuimu lagi.”

Babo-ya ! Babo-ya!” Hanwoo meraung-raung memukul Hyukjae. Pernapasannya sangat sesak jika membayangkan Hyukjae tidak lagi disini menemaninya.

“Aku hampir lupa, ini untukmu ..”

Hyukjae memberikan sebuah kotak berwarna pink untuk Hanwoo. Hanwoo mengambilnya tapi membuangnya lagi ke lantai dan itu membuat kedua orang tuanya terkejut. Hanwoo menangis dan tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Dia sangat membenci dirinya kenapa dia dengan mudah jatuh cinta dan memaafkan semua kesalahan-kesalahan yang pernah Hyukjae perbuat. Bisa dibilang Over Love. Hanwoo membalikkan badan pergi meninggalkan Hyukjae dan kedua orang tuanya ke dalam.

Hyukjae menunduk mengambil kotak kadonya kemudian memberikannya kepada Hanwoo eomma. Sementara Junhwa melangkah masuk ke dalam tidak ingin melihat Hyukjae.

“Eommonim, berikan ini untuk Hanwoo. Aku pergi.”

Kyungsook mengambil kotak pink itu kemudian mengangguk. Dia tidak bisa banyak berkata untuk seseorang namja yang sangat-sangat menjaga putrinya dengan baik. Hyukjae membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan rumah ini.

Sementara Hanwoo menatap kepergian Hyukjae dari jendela kamarnya yang terbuka. Dia menangis dan terlihat sangat kacau. Membayangkan dia akan berpisah lagi dengan Hyukjae mulai hari esok. Bagaimana dia bisa hidup dengan tenang? Bagaimana caranya agar dia membujuk appanya untuk mengerti perasaannya?

———————–

Yoora datang ke meja Donghae hendak merapikan minuman namja itu. Dia mulai melap meja yang diduki namja itu menaruh gelas di nampannya dan tidak sengaja menemukan sepucuk surat disana. Yoora mengambil surat itu lalu mulai membaca tulisan yang dibuat Donghae.

Aku masih menunggumu di bawah sampai jam 10 nanti.

Jika ada yang ingin disampaikan datanglah padaku dan katakan semuanya.

Katakan sesuatu mungkin selama ini aku menggangumu atau aku berhasil membuatmu jatuh cinta?

Cho Yoora, aku menunggumu.

-LDH-

Yoora membuang kertas itu ketika melirik jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Dia menyesal kenapa tidak membersihkan meja yang diduduki Donghae daritadi melainkan dia malah sibuk menangis di kamar mandi.

Yoora berlari membuka pintunya hendak mengejar Donghae. Mungkin saja namja itu masih dekat. Yoora menuruni tangga. Derap langkahnya terdengar seperti dikejar preman, setan atau polisi yang akan menangkapnya. Hatinya berdebar bahkan sangat gugup. Dia takut Donghae sudah pergi meninggalkannya dan tidak akan bertemu namja itu lagi. Dia akan merutuk dirinya sendiri jika hal itu benar-benar terjadi. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya lagi.

Yoora tiba-tiba terjatuh karena terpeleset ketika menuruni tangga. Untung saja dia dengan cepat memegang tiang penyangga. Yoora menangis. Hatinya sangat sakit. Dia tidak bisa mengejar pangerannya dan mungkin akan merelakan kepergiannya.

“Lee Donghae ..” sesal Yoora sambil duduk di tangga.

Donghae melirik arlojinya. “Sudah lewat sepuluh menit tapi dia tidak datang? Apa dia benar-benar tidak menyukaiku? Apa selama ini aku sudah besar kepala? Tidak mungkin. Aku seperti merasa dia mulai memperhatikanku. Aaarghh Yeoja itu akan membuatku gila.”

Donghae melangkah berencana meninggalkan tempat ini. Tapi dia mendengar sebuah tangisan dari arah tangga. Donghae perlahan-lahan mengintip dan tersenyum ketika melihat Yoora sedang menangis menyebut namanya. Donghae berdehem mencoba stay cool dan sempat memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Donghae menghampiri Yoora dan jongkok di bawah Yoora mencoba menatap mata yeoja itu yang sedang mengerjap-ngerjap ke arahnya.

“Waeyo?” tanya Donghae.

“Aku terjatuh. Aku jatuh di tangga ini. Karena sakit makanya aku menangis.” Ketus Yoora. Donghae sedikit tertawa.

“Kau masih saja berbohong.”

“Aku benar-benar terjatuh ! Kenapa kau tidak mempercayaiku? Memang aku berbohong kenapa?”

Donghae terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa kecewa dan marah untuk kali ini. Cinta itu memang egois menurutnya.

“Sebenarnya bagaimana perasaanmu Cho Yoora? Akhir-akhir ini aku masih sering memperhatikanmu. Kenapa kau memberikan cappuccino dengan latte art berbentuk jantung itu kalau tidak kau memang jatuh cinta padaku?”

“Aku membuatnya karena aku ahli !” elak Yoora.

“Bohong. Jika kau memang ingin menunjukkan keahlianmu, kau bisa menggambar bentuk daun, bentuk bunga, atau bentuk hewan. Kenapa harus jantung? Jawab aku!” Donghae seperti menyerah. Dia benar-benar akan pergi meninggalkan tempat ini jika Yoora tidak bisa menjawab ucapannya.

Yoora masih terdiam tidak menjawab masih dengan gengsi dan sifat munafiknya. Tangan yeoja itu tergenggam erat-erat. Dia tidak tahu harus berkata apa. Susah sekali. Susah sekali hingga membuat Donghae bangkit menyerah berencana meninggalkan tempat ini.

“Baiklah. Mungkin aku harus melupakanmu. Di luar sana masih ada banyak yeoja yang bisa mencurahkan isi hatinya untukku. Aku benar-benar bodoh telah membuang-buang waktuku untuk seorang yeoja yang tidak pernah bisa mengungkapkan isi hatinya ! Aku pergi !”

Sakit. Ucapan Donghae mampu menusuk hatinya. Melihat hal ini Yoora menelan ludah dan gengsinya mati-matian. Dia bangkit lalu memeluk Donghae dari belakang.

“Jangan pergi ..” tangis Yoora.

Donghae tercengang, tertegun, terdiam, terharu bahkan segala cara yang membuat dia berpikir ini adalah mimpi. Mulutnya ternganga. Dia tidak percaya. Mungkin tadi dia berpikir cinta adalah keegoisan tapi kali ini dia berpikir cinta adalah sihir.

“Aku mencintaimu, Lee Donghae. Memang benar aku membubuhi jantung di hot cappuccino itu karena aku ingin menunjukkan keahlianku padamu agar kau tetap terpesona padaku. Selain itu kenapa jantung? Karena aku merasa akhir-akhir ini menjadi orang yang sangat-sangat merindukanmu. Menantikanmu. Donghae-ya, aku seseorang yang tidak bisa mengungkapkan isi hatiku. Kau bisa menarik perkataanmu lagi dan meninggalkanku setelah ini. Karena aku pikir kau tidak akan pantas bersama seseorang yang sepertiku. Awalnya aku takut mencintaimu karena kau adalah sahabat dekat Hyukjae. Aku takut kau akan sama sepertinya mencintaiku untuk sementara waktu lalu meninggalkanku. Tapi entah kelama-kelamaan aku tidak mengerti. Aku memikirkanmu seperti orang gila. Tolong pikirkan ucapanku, kumohon. Dan aku ingin meminta maaf untuk semuanya karena membuatmu selalu mengkhawatirkanku tapi aku tidak pernah menanggapinya sama sekali.” Ucap Yoora.

Namja berjaket hijau lumut itu membalikkan badannya menatap Yoora yang sedang menangis. Tangannya menghapus air mata Yoora lalu menarik kepala Yoora pelan dan mencium keningnya.

“Saranghae Lee Donghae.”

Mendengar hal ini Donghae sangat bahagia. Dia menatap mata Yoora yang bersungguh-sungguh. Senyum Yoora mengembang. Donghae mencium bibir Yoora. Ciumannya kali ini sangat dalam karena Yoora membalas ciuman Donghae.

————————

Dua haripun terlewati. Hanwoo menjalani harinya seperti biasa. Hanya duduk di sofa menonton TV dan datang ke dapur untuk makan jika lapar. Dia keluar kamar jika hanya ingin buang air besar-air kecil atau mandi. Dia tidak ingin bertemu kedua orang tuanya. Menjawab hanya seperlunya saja jika diajak berbicara.

Tapi satu hari ini dia menghabiskan waktunya untuk duduk di dekat jendela menatap bintang malam di langit yang indah. Cuaca sangat dingin karena satu hari ini turun salju yang akhirnya berhenti pada malam hari. Kwangsoo memperhatikan keponakannya itu dan hendak masuk ke dalam menemui Hanwoo sambil membawa kotak pink yang rencananya akan dia berikan untuk Hanwoo.

Hanwoo bangkit hendak menutup jendela dan melihat kea rah Kwangsoo. Hanwoo mencoba tersenyum melihat pamannya.

“Ini untukmu..” Kwangsoo memberikan kotak pink itu pada Hanwoo yang hanya bisa menatap cemberut ke arah kotak.

“Jangan seperti itu. Kamu akan menyesal jika tidak membukanya. Siapa tahu ada pesan di dalamnya. Ambillah. Aku bukan appamu yang melarang hubunganmu dengan artis itu.”

Hanwoo mengambil kotak itu lalu duduk di tepi ranjang. Kwangsoo ikut duduk disamping keponakannya. Namja tinggi itu melirik Hanwoo yang sedang menunduk menatap kotak pink yang dipegangnya.

“Kemarin dia datang lagi dan membuat keributan?” tanya Kwangsoo.

“Anio. Tidak seperti itu. Dia namja yang baik hanya saja kalian tidak tahu. Kemarin adalah hari terakhirnya disini. Dia kembali ke Seoul karena pekerjaannya. Karena aku sangat kesal dengan semuanya aku menangis dan melempar kotak ini di depan matanya. Ini sudah dua kali kulakukan setelah aku membuang buket bunga mawar dan menginjaknya di depan matanya.”

“Kau yeoja yang sangat berani. Aku tahu dia namja yang baik. Sewaktu pulang dari pesta aku bertemu dengannya. Kulihat dia melangkah di daerah perumahan kita. Aku mengajaknya untuk menikmati coffee sebentar saja lalu mengantarkannya pergi ke Bandara. Tidak banyak yang kami ucapkan. Kau tahu, aku sangat baik bukan?”

Hanwoo menoleh kea rah Kwangsoo dan mengangguk. “Kau sangat baik.”

“Kau putri satu-satunya Lee Junhwa. Hyung ku itu sangat mencintaimu. Dia tidak ingin kau menderita pada akhirnya. Kurasa kau harus bisa mengerti appamu.”

“Tidak bisakah kau membujuknya untuk mengerti perasaanku juga?”

“Mungkin aku akan membujuknya. Kau tenanglah. Appamu hanya butuh waktu untuk menerima putrinya menjadi seseorang yang dewasa.”

Junhwa mendengar semuanya. Pria itu bersandar di tembok dekat kamar Hanwoo. Dia berencana untuk berbicara dengan Hanwoo tapi malah percakapan ini yang dia dengar.  Hatinya sedikit tersentuh ketika menyadari putrinya sedang tidak main-main dengan cinta.

———————–

Hanwoo membuka kotak pink dan mulai melihat sebuah gelang beraksen bintang-bintang. Dia teringat sesuatu dan mulai memikirkan bagaimana gelang ini ada di depan matanya? Apakah Hyukjae membeli yang baru untuknya? Seingatnya gelang ini pernah dia lempar ke sungai. Dia berpikir tidak mungkin Hyukjae berenang malam-malam untuk mencari gelang ini. Hanwoo membuka surat yang ada di dalamnya dan mulai membaca surat itu.

Aku tidak mungkin membelikan gelang ini lagi karena ini limited edition dan hanya kuberikan untukmu.

Makan yang banyak aku tidak ingin mendengarmu sakit lagi. Itu yang terpenting selain melihat senyumanmu. Kau bisa mengabulkannya untukku kan?

Banyak yang ingin kusampaikan tapi tidak cukup aku tuliskan di kertas ini. Aku hanya menyampaikan intinya saja.

Aku akan selalu mencintaimu.

   Lee Hyukjae.

Hanwoo menangis. Dia mengambil gelang itu lalu pergi keluar kamarnya. Dia menuruni tangganya dengan cepat dan melihat appanya sedang duduk menonton TV bersama eommanya. Hanwoo berdiri di hadapan mereka.

“Lihat gelang ini appa. Aku membuangnya ke sungai tapi dia berenang mencari gelang ini lagi. Kau tidak bisa merestui kami? Aku ingin tiket ke Seoul, tolong aku, kumohon. Aku bisa gila karena ini.”

Hyukjae’s POV

———————

Hampir lima hari. Aku benar-benar bosan berada di tempat syuting. Hari ini adalah hari terakhirku syuting musical. Selama lima hari berturut-turut aku menjadi seorang actor musical. Choi Siwon sangat senang ketika melihatku datang. Tapi ekspresinya berubah ketika mendengar ceritaku yang belum bisa memperbaiki hubunganku dengan Hanwoo karena kedua orang tuanya yang tidak menyetujui hubunganku.

Berhari-hari aku mencoba untuk melupakan Hanwoo sejenak. Karena kupikir jika aku mengingatnya hatiku akan sangat sakit karena merindukannya. Kuhela napasku. Yeoja itu sedang apa disana?  Apa dia sedang menangis memikirkanku? Dia tidak mungkin tidak menangis.

Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelepon karena sedang fokus menyetir sepulang dari musical.

“Oppa !!”

Suara melengking ini hanya milik Lee Hanwoo seorang. Bagaimana bisa dia menelponku?

“Ini aku Lee Hanwoo. Aku baru saja landing di Incheon. Bisakah kau menemuiku? Aku akan menunggumu.”

“Yak ! Apa kau kabur dari rumah hah?!” Hyukjae mulai panik.

“Nanti akan kujelaskan. Aku ingin bertemu denganmu. Cepat ya ! Seseorang akan marah jika kau terlambat menjemputku.”

KLIK.

Kuputar arah mobilku melaju dan menginjak pedal gas dengan cepat melewati tol yang menghubungkan Seoul-Incheon. Hanwoo sudah kembali ke Seoul. Apakah dia kabur? Appanya tidak mungkin semudah itu merestui kami. Dia membuatku panik-sepanik-paniknya.

“Dasar yeoja nakal.”

Author’s POV

——————-

Hyukjae mencari-cari sesosok yeoja di kedatangan internasional. Dia sempat berhenti dan berputar untuk melihat Hanwoo di tengah keramaian. Tidak ada satupun sosoknya yang dicarinya itu melintas. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Pelukan itu sangat erat memeluk tubuhnya. Wangi parfum strawberry yeoja itu mulai memekik hidungnya dan membuat hasratnya naik. Dia mengenal pelukan ini.

“Oppa ..”

Hyukjae membalikkan tubuhnya lalu melihat Hanwoo. Hyukjae tidak peduli dengan orang-orang yang mulai menatapnya. Dia hanya fokus menatap satu orang yang dia sangat cintai.

“Bagaimana kau bisa ..?”

Mendengar hal ini Hanwoo tersenyum menarik tangan Hyukjae. Hyukjae sempat memperhatikan gelang yang Hanwoo kenakan. Hyukjae tersenyum. Hanwoo membawanya masuk ke sebuah restaurant di lantai dua agar lebih private.

Disana dia melihat kedua orang tua Hanwoo sedang duduk menunggu. Hyukjae menatap dasi hitam bergaris-garis biru yang dikenakan Junhwa. Begitu juga dengan topi yang dikenakan Kyungsook. Hyukjae menunduk memberi hormat. Junhwa bangun memeluk Hyukjae. Begitu juga dengan Kyungsook. Hyukjae mulai berpikir apakah kebahagiaan akan datang padanya?

“Aku tidak bisa melihat Hanwoo lama-lama menyalahkanku. Mungkin aku akan memberikanmu kesempatan anak muda. Aku mempercayaimu kali ini tapi jika kudengar hal yang aneh-aneh lagi aku tidak akan pernah memberikan satu kesempatan. Kau tahu janji seorang namja kan?”

Hyukjae mengangguk. “Aku akan menepatinya.”

Junhwa menepuk pundak Hyukjae dan mengangguk.

“Hanwoo-ya apa kau bahagia?” tanya Kyungsook pada putri satu-satunya yang mulai mengangguk. Kyungsook tersenyum senang melihatnya.

“Aku tidak bisa lama-lama karena harus kembali ke dalam. Antarkan Hanwoo kembali pulang.” Pinta Junhwa.

“Ne. Kamsahamnida.”

Hyukjae menunduk berkali-kali. Telapak tangannya terjulur berharap Hanwoo menyentuhnya. Tapi Hanwoo malah memeluk lengan Hyukjae. Mereka berdua pergi keluar dari restaurant ini.

“Kurasa memang namja itu yang tepat.” Bisik Junhwa.

————————

“Ini benar nyata?” tanya Hyukjae ketika menyetir mobil mengantar Hanwoo pulang.

“Menurutmu?”

Hyukjae melirik sekejap ke arah Hanwoo. Dia masih tidak percaya dengan hari ini. Pikirannya masih bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Lee Junhwa merestui hubungannya dengan Hanwoo.

“Kenapa bisa terjadi?”

“Karena gelang ini. Gelang ini seperti gelang ajaib.”

“Kau berlebihan, Hanwoo-ya. Ada apa dengan gelang itu?”

“Ne. Aku hanya mengatakan kau mengambil gelang ini lagi padahal aku sudah membuangnya ke sungai. Lalu appa dengan mudah merestui kita. Bukankah ini menyebalkan? Appa benar-benar menyebalkan ketika membuatku menangis kemarin-kemarin hari dan membuat kita sedikit susah.”

“Dasar yeoja manja. Appamu sangat mencintaimu, kau tahu itu? Beliau terlihat seperti cemburu padaku karena aku benar-benar terlihat sempurna ketika berada disampingmu.”

Hyukjae mengacak rambut Hanwoo lagi membuat Hanwoo memasang ekspresi cemberut. Hanwoo membenarkan rambutnya menyisir dengan jari-jemarinya.

“Kau mengambil gelang ini lagi?”

“Bahkan aku berenang di tengah malam. Yak, melempar dan menginjak bunga yang kuberikan, melempar gelang ke dalam sungai lalu melempar kotak pink. Tiga kali nona Lee. Tiga kali. Apa kau suka melempar barang jika sedang marah?”

“Bahkan kita bisa melakukan kekerasan dalam rumah tangga jika kau mau.” Ancam Hanwoo.

“M-mwo? Memang siapa yang mau menikahimu? Aku tidak ada bilang kita akan menikah.”

Hanwoo terdiam. Wajahnya memanas seketika karena malu “M-mwo?”

“Apakah kau selalu memikirkan kapan aku akan melamarmu lalu menikahimu? Apa kau memikirnya setiap hari? Membayangkan kita akan membentuh sebuah rumah tangga yang indah? Waoow..” goda Hyukjae. Hanwoo cemberut lagi. Dia merasa menyesal sudah melontarkan hal itu walaupun dia tahu Hyukjae sedang bercanda dengannya.

“Baiklah, baik. Tidak usah menikahiku.” Hanwoo membenarkan posisi duduknya lagi. Hyukjae menahan tawanya.

“Apa kau mau jalan-jalan besok?”

“Anio.”

“Besok kutunggu jam 7 pagi. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Anio !” kesal Hanwoo. Hyukjae tertawa. Dia tahu kekasihnya sedang marah karena ucapannya. Sepertinya malam ini dia mempunyai tugas besar untuk merayu Hanwoo agar kekasihnya tidak marah padanya lama-lama.

—————————

Keesokan harinya ..

Hyukjae bersandar di audi putihnya menghadap ke gerbang rumah Hanwoo sambil memainkan kacamata hitamnya. Kakinya terketuk-ketuk di tanah karena merasa bosan. Hampir setengah jam dia menunggu Hanwoo di depan rumahnya tapi Hanwoo tidak kunjung datang. Hyukjae melirik jamnya dan terlihat sempat frustasi ketika menghela napasnya.

“Sudah jam setengah delapan, aiguuu !” kesal Hyukjae hendak mengambil iphonenya mencoba menelepon Hanwoo. Tapi dia menghentikan aktivitasnya ketika dilihatnya Hanwoo keluar dari pintu rumahnya dan berlari menemuinya.

Hyukjae memperhatikan yeojanya yang hari ini tampil sangat-sangat cantik dengan rambut panjangnya yang dikepang ke samping. Kaki kurus Hanwoo terlihat jenjang ketika terlihat dibalik celana kain cream dengan atasan sweater putih garis-garis berwarna pink. Bagaimana bisa dia marah pada Hanwoo jika seperti ini?

“Miane oppa, kau tahu aku telat bangun.”

“Hmm.. Baiklah kajja kita masuk.”

Sejam kemudian mereka sudah duduk berdua di pantai selatan Korea. Mokpo. Hyukjae dan Hanwoo duduk di atas bebatuan karang yang diterpa ombak. Hanwoo berteriak senang dan sedikit merentangkan kakinya ke depan menyentuh ombak yang menerpanya.

Hyukjae melangkah mendekati Hanwoo dan memeluk Hanwoo dari belakang dengan mesra. Pantai ini sangat sepi dan pas untuk kencan mereka berdua. Bibirnya mengecup pipi Hanwoo. Hanwoo terkejut menoleh ke arah Hyukjae. Dengan gesit Hanwoo mengecup bibir Hyukjae cepat. Hyukjae merona dan tertawa pelan.

“Menikahlah denganku, Lee Hanwoo.”

“Kau melamarku?”

“Tentu saja.”

“Aku membutuhkan cincin lamaran dengan banyak saksi yang melihat, suara trompet yang mengalun, dan sebuah pesta besar yang indah.” Pinta Hanwoo. “Apa aku terlihat seperti penggila materi?” Hanwoo tertawa dengan ucapannya sendiri.

Mendengar hal itu Hyukjae membalikkan badan Hanwoo agar menghadapnya. Kini mereka saling berhadapan. Hyukjae mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan mulai mengambil cincin yang terpajang di dalamnya. Hanwoo tercengang ketika Hyukjae melempar kotak merah itu membuangnya ke laut. Dengan serius Hyukjae mengangkat jemari Hanwoo dan memasangkannya di jari manis kanan Hanwoo.

“Hanya cincin lamaran disaksikan oleh alam semesta, tidak ada suara trompet tapi deburan ombak, lamaran sederhana bukan pesta besar yang kau inginkan. Aku mengikatmu, nona Lee.”

Hanwoo tersenyum. Hyukjae dengan cepat merengkuh wajah Hanwoo untuk mencium bibirnya. Hyukjae mencium Hanwoo lembut. Mata keduanya terpejam menikmati ciuman dan sentuhan angin-angin yang mulai menyapa menyentuh tubuhnya masing-masing seakan-akan angin itu ikut merayakan kebahagiaan ini serta deburan ombak yang mengalun terdengar seperti sebuah lagu.

Dewa kematian yang pernah meng-handle mereka berdua ketika masih menjadi roh Jaewon dan Hanyul menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu menyunggingkan senyumnya. Dia terlihat puas dan senang menyelesaikan tugasnya dengan member kedua orang itu kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya di masa kini dan dia sangat salut melihat tekad kedua orang itu yang memang digarisi sebagai takdir.

Tidak perlu untuk mengambil jalan singkat. Jika memang bisa hidup bersama untuk apa pula mencari jalan terakhir yaitu kematian? Hidup itu adalah kenikmatan. Dewa kematian itu mengangkat jubahnya terlihat seperti menyelimuti tubuhnya lalu hilang dari peredarannya.

THE END

Haduuhhh kurang asyik yah??

Ini udah panjang banget dan memang harus diselesaikan biar ga bosan. Apa kayak sinetron? 😀

Menurutku kayak filem horror.

Ahahaa. Aku sedikit terharu karena FF ini kujalani dengan serius dan bisa menuntaskannya sampai the end. Chukkae for myself.

Nih episode keluarnya lama ya? Hehehe. Agak stuck dan ga nemu mood untuk nulis padahal kerangka ceritanya udah aku orat-oret di note kecilku. Yah alhasil aku udah nyelesaiin. Kayaknya moment Hyuk-Hanwoo aku buat dikit disini ya? :Dv

Okay, semua couple sudah bahagia. Aku suka banget buat pas adegan Yoora-Donghae. Karena buatnya sambil denger lagunya Jessica SNSD yang Someday [pernah dinyanyiin di Romantic Fantasy akhir-akhir ini] aku buatnya sambil emosi dan menangis.

Kalian Rata-rata suka couplenya siapa? Kekeke~~~

Semoga kalian puas ya. Thanks for 4 minute, Tablo, and Jessica SNSD yang kali ini menemaniku dalam pembuatan Kasanoba Wangja eps terakhir.

Thanks buat kalian yang sudah baca. Suatu kehormatan besar buat kalian yang mau comment dan menanggapi :*

Iklan

21 thoughts on “[8] Kasanoba Wangja – Leps

  1. Hyuuuuu~ udah endingnya T^T
    senang sekali~ semua couple di sini hidup rukun berdampingan aman damai sentosa *plakk* *geje*
    Hanwoo serem ya, kalo marah suka lempar2. aku tadi udah takut aja hyuknya yg dilempar :p hehe
    tapi akhirnya usaha hyuk ga sia-sia. berkat ucapan dari Om Kwangsoo yg tampan, Appa Hanwoo akhirnya mendapat ilham untuk merestui mereka kkk~

    ga bisa ngmg apa-apa deh. keren bgt ff ini. ayoo bikin lagi ff yg banyak ^^ *reader ngelunjak*
    ditunggu karya yang lainnya~~~~~ 😀

    Suka

  2. waahhh tamaat 😦
    terkesan bgt m cerita couple yoora donghae,, suka bgt…
    hanwoo hyuk , meskipun dikit tapi endingnya suka
    d tunggu ff selanjutnya saeng 🙂

    Suka

  3. TAMAT!!!!
    yahhh cepet bgt sih, kirain msh 2part lagi. ternyata udah tamat di part 8. -_-
    pdhl blm mau pisah sama ajusshi ini.. wakakakka
    hanwoo-hyukjae happy ending ya, tp belom merit.. mau aku mereka merit dulu baru tamat. ._.v
    trs dipart ini lebih berasa punya donghaeeee..gilaa manis bgt.
    tp gpplah semuanya udah happyend.
    thankyuuuu.. ditunggu selanjutnya.. bye bye

    Suka

  4. author mana boleh jambak gak! hyaah
    suka banget adegan donghae-yoora nya !! duh geregetan dan senyum2 sendiri haha
    agak2 ya sama Yoora jek bilang gitu aja susah banget *jedukin kepala* , dan suka banget penggambaran Donghae nya ,, manis sekaliii ah jinjjaaaaa !! Hanwoo-yaa gomawooooooo~

    dan spt yang aku blg sebelumnya , gatau dapet aja feelnya waktu mereka di masa lalu, emg agak2 horor sih tapii pas..
    hehe ah bahagia ya last eps …
    happy ending , hanwoo hyukje , changmin hyojin , hae-yoora…

    daebak authooorrr ! kyaaah *kibas jubah lalu menghilang*

    Suka

    • jangan jambak author !!! rambut author mahal yee.~~ wkwkkw.
      aaaak sukurlah penggambaran donghaenya pas. wkwkwkw.
      maunya aku g buat itu scene jaewon sama hanyul loh, keluapaan untung inget jadi aku tulis mendadak. ehehhee.
      okee makasi yaa #bakarjubah.

      Suka

  5. akhi y mereka bahagia,,,, n bisa bersama n dewa kematian y ngerestuin berarti mereka ngak ada penghalang y lagi…
    Happy ending…..
    hyuk berjuang banget buat ngeluluhin appa y hanwoo n tau y lukuh cuma dgn bilang perjuabgan hyuk yg berenang di sungai buat nemuin gelang y,,,, klo gt knp ngak dari dulu bilang kayak gitu labgsung di restuin….
    seneng happy ending….

    Suka

  6. hyaaah..
    lupa komen =____=

    sukaaa…sama kaya novaonn..geregetan sama haera ish ish sih..
    dan apa itu dilamar pake marry you? ugyaaaaa..
    changmin-ah lamar aku lamar aku lamar aku di riil laip jugaaak XDDDD

    hanwoo eunhyuk jeg banayk bener penghalang..dan siapa sangka gelang bintang2 itu yg bikin bapake berubah pikiran..
    good job bb..
    wkakakak

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s