[OneShoot] Eunwoo Story – When We Marry

when we Marry

Author: Hanwoo

Cast: Lee Hyukjae – Lee Hanwoo and others cameo ●

Length: Oneshoot ●Genre: Romance – straight- NC17


Author’s POV

——————-

Lee Hanwoo memasuki kamar mandi. Membuka celananya lalu duduk di closet. Beberapa menit kemudian mulutnya membentuk huruf O. Dia terkejut menatap benda panjang dan tipis yang dilihatnya menunjukkan hasil yang positif. Dia hamil.

Tangannya bergetar. Dia sempat melamun sebentar. Pikirannya kalut. Apa yang harus dia lakukan jika seperti ini? Salah satu jalan keluarnya adalah menelepon Lee Hyukjae, kekasihnya. Siapa lagi yang bisa dia hubungi kecuali selain pria yang membuatnya seperti ini sekarang.

Lee Hanwoo berjalan gontai keluar dari kamar mandi lalu mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas ranjang. Tidak berpikir panjang dia langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi kekasihnya. Beberapa saat pria itu mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo, oppa. Bisakah kita bertemu hari ini? Kau dimana? Zoo café? Baiklah sebentar lagi aku akan kesana.”

——–

Sebuah lagu dari Never Shout Never  yang berjudul I Love You More Than You Will Ever Know melantun di dalam Zoo Café. Dengan gugup Lee Hanwoo menggenggam gelas minumannya menatap mata kekasihnya.

“Oppa..”

“Hmm.. Waeyo?”

Lee Hanwoo masih diam. Lee Hyukjae menyadari ada hal aneh dari raut wajah kekasihnya. Hyukjae mencoba menyentuh tangan Hanwoo membuat gadis berambut panjang sepunggung itu terkesiap dan tidak sengaja menepis tangan Hyukjae.

“Hanwoo-ya ..” protes Hyukjae tidak terima menerima sikap Hanwoo yang menepis tangannya membuatnya berpikir keras apakah dia tengah melakukan suatu kesalahan?

“Oppa ..”

Lee Hanwoo mengeluarkan sebuah benda putih, panjang dan tipis dari dalam tas cokelatnya memberikannya pada kekasihnya. Hyukjae memandang benda itu yang dia tahu itu adalah test pack namun tidak mengerti kenapa Hanwoo memberikan benda itu. Hyukjae menatap dua garis merah yang terlihat disana menandakan hasil test pack yang positif.

“Ini milik siapa?” tanya Hyukjae menatap Hanwoo.

“Menurutmu ini milik kakak iparku? Atau milik Sunny adikmu?” Hanwoo mendelik.

Hyukjae terdiam namun tiba-tiba matanya ikut mendelik. “K-kau.. k-kau hamil?” Akhirnya dia mengerti.

Hanwoo mengangguk. “Ne oppa, aku hamil.”

“Apakah itu anakku?”

Menatap keraguan di mata Hyukjae membuat Hanwoo sedih dan kecewa. Hatinya menjadi geram ketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dia merasa panas dan marah. Tangan kanan Hanwoo memukul meja membuat meja yang ditempati mereka berdua menjadi sorotan pengunjung café. Seperti ada lampu sorot di meja mereka.

“Menurutmu ini anak siapa? Apakah aku pernah melihat tubuh pria lain selain dirimu? Apa kau kira aku pernah tidur dengan pria lain selain dirimu?!” Hanwoo sedikit berteriak membuat para pengunjung disini menatap mereka dengan tatapan sinis dan tajam. Bahkan salah satu diantara mereka merundingkan ucapan yang baru saja Hanwoo lontarkan. Hyukjae merasa tidak enak dan mencoba menenangkan Hanwoo yang tidak peduli dengan situasi di tempat ini.

“Kau tidak ingin bertanggung jawab?! Baiklah Lee Hyukjae, aku yang akan menanggung hidup anakku kelak. Kau jahat!”

Hanwoo bangkit karena merasa kesal dan marah. Hatinya menggebu-gebu rasanya ingin melempar meja-meja yang ada di tempat ini. Hyukjae bangkit merasa tidak enak lalu mengejar Hanwoo yang keluar dari café ini.

“Lee Hanwoo.. Hanwoo-ya!”

“Lepas oppa!”

“Hanwoo-ya dengarkan aku .. Lebih baik kita bicara berdua di dalam mobil.”

Hanwoo menatap keseriusan Hyukjae dari tatapannya. Hyukjae menarik pelan Hanwoo mengajaknya masuk ke dalam audi putih miliknya. Mereka berdua duduk walaupun Hanwoo masih terdiam tidak ingin berbicara namun Hyukjae sangat ingin bertanya banyak hal padanya.

“Sudah berapa bulan?”

“Aku belum tahu. Bulan ini aku belum haid. Dokter menyuruhku untuk periksa kehamilan dan hasilnya positif.”

Hyukjae menghela napas membuat Hanwoo semakin kecewa karena dia merasa sepertinya Hyukjae tidak menginginkan kehamilannya. Merasa sedih Hanwoo menitikkan air matanya. Cepat-cepat dia menghapusnya sebelum Hyukjae melihatnya karena dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria tampan disebelahnya.

“Kau mengeluarkannya oppa. Kau yang menginginkan mengeluarkannya di dalam. Kau tidak ingat malam itu? Kau tidak percaya padaku?”

Hyukjae mencoba menggenggam tangan Hanwoo. “ Bukan begitu Hanwoo-ya..”

Namun gadis itu menepis tangan Hyukjae membuat suasana semakin canggung. Hanwoo tidak mengerti dengan pria disampingnya ini. Apa sesusah itu memikirkan untuk melamarnya secepatnya? Apa dia tidak percaya dengan kehamilan yang benar-benar merupakan dari benihnya?

“Lalu apa?”

“Ini terlalu cepat..”

“Maksudmu?”

“Usiaku masih muda. Aku belum siap..”

Hanwoo menghela napas mendengarnya. Seperti ada anak panah yang terarah padanya lalu menusuk jantungnya karena mendengar ucapan pria ini. Dalam hatinya dia bekata sendiri membalas jawaban Hyukjae. Usia muda? Apakah di usianya yang hampir 30 tahun bisa dibilang muda lagi? Pikirannya mulai melayang kemana-mana tanpa peduli dengan kekasihnya. Kepalanya terasa berat dan pusing.

“Hanwoo-ya beri aku waktu..”

Hanwoo mencoba menahan tangisnya. “Oppa, kau tidak mencintaiku? Hal yang seperti ini saja kau butuh waktu? Kau hanya perlu melamarku saja lalu kita akan menikah. Yang masih muda itu sebenarnya kau atau aku, oppa?”

Tidak ada jawaban dari Hyukjae membuat Hanwoo frustasi. Dia sangat mengenal kekasihnya itu. Lebih baik dia meninggalkan Hyukjae untuk sementara waktu. Jika terus memaksanya akan membuat Hyukjae tambah bosan dengannya karena dirinya tahu Hyukjae adalah tipe cowok yang cepat sekali bosan. Hanwoo membuka pintu mobilnya namun Hyukjae mencegat gadisnya agar tidak pergi.

“Kau mau kemana?”

“Aku bisa keguguran jika lama-lama berada di dekatmu.” Hanwoo menepis tangan Hyukjae dan menatap prianya tajam. “Berpikirlah sampai tahun depan tiba, sampai anak ini tumbuh besar. Aku bisa merawatnya sendiri jika kau memang tidak mau bertanggung jawab.”

———–

“MWO?!” Sunny berteriak menatap kakak kandungnya ketika bercerita tentang kehamilan Hanwoo di telepon. Merasa terganggu dengan suara Sunny, Hyukjae menjauhkan teleponnya sebentar lalu menempelkannya lagi di telinga.

“HANWOO HAMIL?!” teriak Sunny lagi membuat Hyukjae kesal.

“Ne, apa yang harus kulakukan? Bisakah kau tidak berteriak lagi? Telingaku sakit, babo!”

“Ah miane, aku terlalu kaget oppa. Cepat beritahu eomma dan appa dan segera lamar Hanwoo.”

“Aku takut dan bingung. Aku akan segera menjadi appa!”

“Apa yang harus kau takutkan? Tentu saja aku juga akan cepat menjadi bibi karenamu.”

“Apa yang harus kulakukan jika setelah menikah dengannya?”

Sunny tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan kakaknya. “Kau lucu oppa! Tentu saja kau akan melihatnya saat bangun tidur, memeluknya dari belakang saat dia membuat sarapan dan memberikan kecupan pagi setiap hari. Itu menyenangkan bukan?”

Hyukjae terdiam. Dia mulai membayangkan semua itu terjadi. “Tapi apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa membuatnya bahagia?”

“Paling dia akan meminta cerai..”

Hyukjae menghela napas. Dia frutasi. Banyak yang dia pikirkan. Dia terlalu membingungkan hal-hal kecil yang akan menjadi besar dipikirannya.

“Kau konyol oppa. Kalau tahu belum siap, kenapa kau melakukannya?”

“Aku tidak mengerti. I-ini terjadi begitu saja. Sepertinya dia marah padaku. Aku hanya butuh waktu berpikir menyadari semuanya. Dia menyuruhku untuk berpikir sampai tahun depan.”

“Kau menolaknya?! Tentu saja dia marah! Bukan begitu caranya dia pasti akan tersinggung! Cepat telepon dia dan katakan maaf padanya.”

***

Hanwoo menatap secarik poto berukuran 4R yang baru saja dia keluarkan dari bingkainya. Hatinya sangat kesal melihat senyum favorite dari pria yang baru saja membuatnya kecewa dan patah hati. Air matanya menitik. Cepat-cepat dia menghapus air matanya namun susah. Air matanya keluar lagi.

Mendengar perkataan Hyukjae tadi siang membuatnya sangat sedih. Dia mengambil pulpen bewarna biru yang tergeletak disampingnya sedari tadi membuat dua lingkaran kecil seperti benang kusut di pipi Hyukjae. Lalu mengambil pulpen berwarna merah menambahi dua tanduk setan di kepala pria itu.

“Kau jahat, oppa.”

Hanwoo membuka pintu kamarnya. Merasa haus dia keluar ingin mencari minum. Matanya melirik Cho Yoora sahabatnya yang sedang asyik menonton drama. Sudah dua hari gadis itu menginap di rumah kontrakan Hanwoo karena gadis itu belum bida membayar kontrakannya.

Hanwoo mengambil orange juice di kulkas lalu meneguknya. Entah kenapa dia ingin minum minuman yang manis-manis. Volume TV yang sedikit keras mampu mengusik pendengarannya hingga dia melirik ke arah TV melihat adegan drama dua orang pria dan wanita yang sedang berdebat.

“Kau yakin itu anakku?”

“Kau kira aku tidur dengan siapa selain dirimu?!”

“Dia bukan anakku. Kau jangan berbohong.”

“Kau! Apa yang kau katakan?!”

Lee Hanwoo menyemburkan orange juicenya lalu memuntahkannya di wastafel. Perutnya bergejolak ketika mendengar suara adegan drama Korea itu membuat Yoora menoleh ke arah Hanwoo.

“Apa kau sakit?” tanya Yoora khawatir. Hanwoo menyentuh keningnya sekejap mencoba menetralkan pikirannya yang membuat kepalanya sedikit berat.

Hanwoo duduk di samping Yoora sambil menangis membuat Yoora bingung dan heran kenapa sahabatnya menangis tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang terjadi? Apa kau sakit? Apa kau bertengkar dengan Hyukjae oppa? Wajahmu pucat sekali.”

“Drama itu membuatku menangis Cho Yoora.. Kenapa kau jahat sama sepertinya? Seharusnya kau tidak memutar drama ini.”

Cho Yoora mengernyitkan kening mencoba mencerna apa yang Hanwoo ucapkan. “Apa yang kau maksud?”

“Aku hamil ..”

Mulut Yoora membentuk huruf O terkejut mendengar ucapan Hanwoo. “Hamil? Hyukjae oppa menghamilimu? Kalian kebablasan?”

Hanwoo mengangguk mengiyakan. “Waktu itu ..”

“Aah .. oppa aku tidak tahan. Apa yang k-kaahu laahhkukan? Hmm.. ahh sakit ..” desah Hanwoo ketika bercinta dengan Hyukjae empat minggu yang lalu. Hyukjae terus menghentak tanpa perduli dengan desahan Hanwoo. Dia juga merasa nikmat ketika liang sempit Hanwoo menjepit miliknya. Bibirnya tak henti bergerak mencium leher gadisnya. Mereka sudah sering melakukan hal ini namun kali ini rasanya berbeda. Karena sudah lama tidak melakukannya mereka saling merindukan satu sama lain.

“Lee Hanwoo, mmhh ahh .. Kau tahu aku sangat-sangat mencintaimu..”

“Naahh doohh oohhppahh .. ahh ahh terus ah..”

“Oohh ini sangat enak, Ooh yeah ..”

Lee Hyukjae terpejam merasakan cairan Hanwoo yang keluar. Hanwoo merasakan junior Hyukjae berkedut. Lee Hyukjae mempercepat gerakannya membuat Hanwoo tergoda karena desahan pria itu yang sangat bersemangat. Hyukjae mengeluarkan cairannya membuat Hanwoo terkejut karena dia mengeluarkannya di dalam rahimnya bukan mengeluarkan ke mulut atau perutnya seperti biasa.

“Oppa! Kau mengeluarkannya di dalam!”

“A-aku tidak sengaja, miane.. miane jeongmal miane..”

“Oppa bagaimana jika aku hamil ?”

“Tidak mungkin. Kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Jeongmal miane. Aku sangat mencintaimu.” Hyukaje mengecup kening Hanwoo.

Cho Yoora menatap Hanwoo kemudian tertawa. Dia menggeleng-geleng tidak percaya nasib yang dialami sahabatnya.

“Tapi kau suka kan dia menghamilimu? Bukankah menikah dengan Hyukjae adalah impianmu?”

“Ne, impianku tapi tidak dengannya.”

“Waeyo?”

“Dia tidak mau bertanggung jawab makanya aku menangis. Drama tadi seperti menyindirku.”

Cho Yoora mendelik. “MWO?! Dia tidak mau bertanggung jawab?”

“Tadi aku sudah berbicara padanya. Dia seperti tidak percaya padaku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah aku pernah tidur dengan pria lain selain dirinya? Kurasa tidak. Aku hanya melihat tubuh pria sepertinya saja. Bagaimana bentuk keseksian tubuhnya, aku tahu namun tidak pada tubuh pria lain. Tapi dia tidak mempercayaiku.”

Cho Yoora menghela napas. “Jika Lee Donghae seperti itu akan kubunuh dia.” Ujarnya geram.

“Kau tidak perlu khawatir tentang Donghae oppa. Dia sangat menyayangimu. Tidak seperti Hyukjae oppa yang selalu membuatku khawatir. Aku sangat takut sebenarnya ketika pertama kali melakukan hal intim dengannya. Dia menghancurkan prinsip yang ku pegang sejak SD bahwa aku tidak boleh memberikan tubuhku pada pria yang belum menjadi suamiku kelak.”

“Bahkan kau mempunyai prinsip seperti itu sejak SD?”

“Eomma yang memberitahuku untuk menjaga diri dengan baik karena aku seorang yeoja dan dia berhasil merenggutnya. Aku payah. Entah kenapa aku percaya dengan pria itu begitu saja tapi ujung-ujungnya dia membuangku. Apa yang harus kukatakan pada eomma bahwa pria yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab?” sedih Hanwoo.

“Aku akan mencari Hyukjae oppa!”

“Jangan!”

“Wae?”

“Biarkan dia berpikir dulu..”

“Pria bodoh! Kenapa aku jadi kesal padanya?!” kesal Yoora.

‘Ting Tong’

Bel rumah ini berbunyi menandakan ada tamu yang datang sore-sore hari. Hanwoo menghapus air matanya lalu bangkit menyeret kakinya dengan malas membuka pintu. Hanwoo merasa terkejut ketika melihat Hyukjae berdiri dihadapannya.

“Mau apa?” tanya Hanwoo.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kau tahu seberapa besar aku mengkhawatirkanmu?”

“Kau mengkhawatirkanku? Apa kau berpikir aku akan terjun ke sungai Han dan mati mengambang bersama anakmu?” ketus Hanwoo.

“Eung? Hyukjae oppa? Kau datang kesini? Hanwoo-ya kenapa bercerita di luar? Kalian berdua butuh berbicara. Mungkin aku akan masuk ke kamar.” Ujar Yoora.

Hanwoo mengajak Hyukjae masuk ke dalam rumahnya. Pria itu menatap kehadiran Hanwoo yang menaruh sekaleng coca cola di atas meja. Hanwoo duduk disampingnya. Gadis itu menunduk tidak ingin menatap mata favoritnya. Mata milik Lee Hyukjae.

“Aku salah, miane.” Ucap Hyukjae tulus namun Hanwoo tidak ingin angkat bicara. Dia masih kesal.

“Hanwoo-ya, jangan marah. Ayo kita rundingkan besok dengan eomma dan appa.”

“Aku tidak memaksamu. Sudah kubilang jika kau belum siap menikahiku, aku bisa merawat benih ini seorang diri hingga dia tumbuh besar.”

“Anio, tatap aku.” Pinta Hyukjae namun Hanwoo masih tetap menunduk. Hyukjae tidak sabar jika melihat gadisnya yang marah seperti ini. Tangannya menyentuh dagu mungil Hanwoo lalu mengangkat memaksa gadis itu untuk menatap matanya.

“Kau tahu apa yang kutakutkan? Aku hanya takut tidak bisa membahagiakanmu. Tapi aku tersadar. Terkadang pasti asyik kita bisa tidur sekamar dengan sebuah ikatan pernikahan. Kau adalah milikku seutuhnya, dan aku adalah milikmu seutuhnya. Apa kau mau menikah denganku?”

Jantung Hanwoo berdegup cepat mendengar perkataan Hyukjae. Hatinya tersentuh. Dia melihat ketulusan di mata Hyukjae. Hatinya luluh lagi. Pria ini serius dengan ucapannya. Air matanya mengalir. Dengan cepat dia memeluk Hyukjae dan pria itu membalasnya. Memberikan kecupan di kening Hanwoo.

“Miane.”

“Babo, tentu saja kau harus menikahiku. Oppa, aku tidak pernah bersetubuh dengan pria lain sepertimu. Kau masih tidak percaya padaku? Selama ini aku mendesah hanya untukmu.”

Hyukjae tertawa mendengarnya. Menurutnya gadisnya sangat polos maka dari itu dia sangat mencintai Hanwoo dan tidak bisa meninggalkan gadis ini lama-lama walaupun terkadang dia suka menghilang karena dirinya merasa adalah tipikal pria yang mudah bosan.

***

Dua minggu kemudian ..

“Sudah kukatakan aku ingin pernikahan yang kelihatan elegant namun sederhana. Aku tidak mau yang ini, carikan model lain. Ini terlihat sangat ramai.” Ujar Hanwoo pada salah satu asistennya yang memperlihatkan rancangan dekorasi untuk pernikahannya.

“Baiklah nona, akan saya carikan model lainnya.”

Hanwoo menghela napas. Dua minggu ini dia sangat lelah mengurus pernikahannya yang sebentar lagi akan datang. Perasaannya berkecamuk membayangkan hari itu akan tiba. Hari dimana dia akan meninggalkan keluarganya dan ikut tinggal bersama keluarga sang lelaki. Butuh penyesuaian baru dan dia takut gagal dengan semuanya.

Hanwoo mengambil handphonenya berencana ingin menghubungi seseorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia ingin membagi sedikit rasa sedih sekaligus bahagianya pada sahabatnya itu.

“Kang Minji, ini aku Hanwoo. Bisakah kita bertemu nanti di tempat biasa? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

‘Tok Tok Tok’

Hanwoo menoleh ke arah pintu dan melihat seorang wanita paruh baya datang tersenyum ke ruangan ini. Hanwoo membalas senyum itu.

“Baiklah jam 4 kutunggu kau. Kututup dulu ya.”

Hanwoo menutup sambungan teleponnya kemudian memeluk wanita tadi dengan pelukan yang hangat. Wanita itu adalah ibunya. Sama-sama bertubuh mungil.

“Eomma..” Hanwoo menitikkan air mata.

“Kenapa kau menangis?” tanya wanita itu sambil menghapus air mata Hanwoo.

“Aku akan menikah makanya aku menangis.”

“Kau harus bahagia. Kalian sudah berpacaran sangat lama memang sepantasnya menikah.”

“Terima kasih sudah merestui kami. Aku bahagia, tentu saja aku bahagia.”

Wanita itu melepas pelukannya lalu mengambil sesuatu dari tas hitamnya. Dua secarik amplop yang keluar dari dalam tas Louis Vutton itu.

“Dua buah tiket liburan ke Hongkong dari eomma dan appa. Semoga kalian menyukainya.” Ujar wanita itu membuat Hanwoo berteriak senang. Hanwoo memeluk ibunya.

———

Tepat jam 4 sore Hanwoo datang menemui Kang Minji di Zoo café langganannya. Hanwoo menceritakan semua yang tengah terjadi selama ini antara dia dengan Hyukjae oppa membuat Kang Minji tertawa mendengarnya sampai-sampai para pengunjung café menoleh melihat keasyikan mereka berdua. Minji dan Hanwoo merasa malu dan memelankan suara mereka.

“Hahahha,, kau serius? Aku jadi membayangkan wajah bodoh Eunhyuk oppa ketika mengetahui kehamilanmu.” Minji masih tertawa.

“Yaa! Ini bukan hal lucu. Hal ini membuat kami harus mengambil keputusan cepat.” Kesal Hanwoo.

“Arasseo arasseo. Itu juga yang kualami dulu. Ah, Eunhyuk oppa mengapa begitu bodoh. Setelah terjadi begini baru bisa berpikir serius untuk menikahimu.”

“Entahlah. Namun aku bersyukur akhirnya ia juga orang yang akan menikahiku dan bukan orang lain. Awalnya aku sempat khawatir kami akan putus setelah berpacaran sekian lama. Eunhyuk orang yang mudah bosan.” Ujar Hanwoo.

“Lalu kapan tanggal fixnya? Begitu banyak orang yang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat ini.” ujar Minji.

“Tanggal 4 bulan depan. Kau dan Kyuhyun oppa harus datang. Kami juga mengundang banyak teman kuliah dulu.”

“Pastinya.” Sahut Minji lalu mencicipi pancake yang sedari tadi belum disentuhnya karena terlarut mendengar cerita Hanwoo.

“Oh ya, apa rumah tanggamu baik-baik saja? Bagaimana kabar Jino? Ia sudah masuk sekolah bukan?” Tanya Hanwoo.

“Iya, Jino baru saja masuk sekolah. Aku dan Kyuhyun menitipkannya pada kakek neneknya sepulang sekolah. Seperti biasa salah satu dari kami menjemputnya saat baru pulang bekerja. Dan karena aku bertemu denganmu, jadi Kyuhyun oppa yang menjemputnya.”

“Bahagia sekali kedengarannya. Apa aku terlambat baru menikah sekarang? Apa jarakku dan anakku nanti akan sangat jauh? Jino bahkan sudah berusia hampir lima tahun.” keluh Hanwoo.

“Jangan terlalu dipikirkan. Aku dan Kyuhyun oppa yang menikah muda. Sementara untuk usiamu saat ini adalah usia yang wajar.”

Pernyataan Kang Minji membuat perasaan risau Hanwoo berkurang sedikit. Keputusannya untuk bertemu Kang Minji hari ini sepertinya sangat tepat karena hanya dia yang mengerti bagaimana hubungannya dengan Hyukjae.

“Jujur, aku takut tidak bisa menjaga suamiku nanti. Aku bisa gila jika ia meninggalkanku karena wanita lain sementara kami sudah menikah. Apa kau tidak pernah mengalami ketakutan itu?” Hanwoo bertanya penasaran.

“Aniyo.” Minji menggeleng sambil tersenyum.

“Kyuhyun oppa itu tampan. Kau yakin tak ada gadis-gadis yang berusaha menggodanya?”

“Hanwoo ya~ jika seandainya Kyuhyun oppa bertemu kembali dengan mantan pacarnya, apa akan ada sesuatu yang berubah?” Minji melontarkan pertanyaan bodoh pada Hanwoo.

“Memangnya dia punya mantan pacar?”

“Tentu saja. Kau pikir aku wanita pertama yang berjumpa dengannya.”

“Nah, itulah maksud ketakutanku. Apalagi mantan kekasih, orang yang pernah sangat berpengaruh bagi mereka. Memangnya Kyuhyun oppa bertemu mantannya lagi?”

Minji terdiam. Hanwoo memandang Minji dengan kening yang berkerut menebak apakah telah terjadi sesuatu pada pasangan itu?

“Ne. Kemarin aku bertemu dengan mantan kekasihnya. Ternyata dia songsaenimnya Jino di sekolah. Aku cemburu tapi Kyuhyun oppa menjelaskan semuanya bahwa sebentar lagi wanita itu akan menikah dengan kekasihnya jadi, apa yang harus kucemburui?”

“Aiishh ..”

“Tidak usah khawatir. Kau hanya terlalu takut menghadapi pernikahanmu yang sebentar lagi akan datang. Itu biasa terjadi pada wanita. Lagipula kalian berpacaran sudah cukup lama. Kau tidak usah khawatir tentang hal itu.”

***

Jika Lee Hanwoo risau saat mengurus pernikahannya, lalu bagaimanakah dengan Lee Hyukjae? Dia terduduk lemas di sebuah café bersama tiga temannya Leeteuk, Kangin, dan Heechul. Hyukjae menuang sojunya lagi. Tangannya mengibas-ngibas menyuruh teman-temannya untuk minum lagi.

“Apa kalian tidak mau minum?” tanya Hyukjae sambil meneguk sojunya.

“Aiishh berhenti minum Hyuk, kau sudah terlalu banyak minum. Bukankah kau tidak bisa minum?” Jawab Kangin namun tetap menuang soju lalu meneguknya. Hyukjae menyipitkan matanya karena merasa sojunya sedikit pahit. Pria itu tertawa keras menatap Kangin diikuti Heechul dan Leeteuk menertawai Kangin entah apa hal lucu yang mereka tertawakan. Mereka mabuk.

“Sebentar lagi aku akan menjadi appa. Mendengar anakku akan memanggilku dengan sebutan itu. Apa aku akan bahagia?”

“Kau harus bahagia, jangan sepertiku yang setiap hari bertengkar terus dengan Raerin. Dia menyebalkan sekali. Sedikit-sedikit mengomel.” Sambung Leeteuk membuat Heechul mendesis.

“Kenapa kau menikah kawan? Seharusnya kau mengikuti jejakku yang tidak menikah-menikah dengan Kwon Lala.” Heechul menimpali.

“Yak, dia harus menikah.” Kangin menunjuk Heechul. Hyukjae tertawa lagi.

“Ayo-ayo kita minum lagi. Ini yang terakhir.” Ajak Hyukjae. Mereka pun bersulang tanpa mendengar suara telepon yang masuk di handphone Hyukjae. Pria itu terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

“Ah handphoneku bunyi..” ujar Heechul yang tentu saja tidak sadar dengan ucapannya. Dia mengambil handphone Hyukjae yang dia kira adalah handphonenya lalu menjawab panggilan itu.

“Oppa, kau dimana?” suara itu memekik telinga Heechul.

“Mmhh .. Aku? Aku sedang merayakan hari bahagia bersama Hyukjae.”

Hanwoo menatap teleponnya yang menurutnya ada yang aneh dengan suara dan ucapan Hyukjae. Dia sadar bukan kekasihnya yang mengangkat teleponnya.

“Dimana Hyukjae? Aku ingin bicara dengannya berikan padanya.”

“Mwo?! Kau mau bicara dengan Hyukjae?”

“Hyung kemarikan handphoneku, itu pasti kekasihku yang menelepon.” Ujar Hyukjae. Matanya terpejam. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. Tangannya merampas benda yang di pegang Heechul lalu menempelkannya di telinganya dengan tubuh gontai.

“Mmh.. Jagiya ini aku Hyukjae, calon suamimu.” Ujar Hyukjae. Mendengar suara itu membuat Hanwoo menghela napas lega. Dia begitu khawatir.

“Oppa, kau mabuk? Bukankah kau tidak bisa minum?”

“Sekali saja jagiya.. Sekali saja dan tak akan lagi aku janji.”

“Oppa kau dimana? Biar aku yang mencarimu. Aku tidak ingin kau yang menyetir. Pernikahan kita akan tiba sebentar lagi.”

“Mana ada seorang wanita yang mencari prianya? Biar aku saja yang mencarimu, tunggu aku.” Hyukjae masih setengah sadar.

“Oppaa! Kau mendengarku tidak?! Katakan saja kau sedang ada dimana biar aku yang mencarimu jika tidak aku akan marah.”

Hyukjae tertawa mendengarnya. “Apa kau bisa marah lama-lama padaku? Aku itu sedang ada di hatimu, selalu dihatimu.” Hyukjae mulai membual karena mabuk dan tawa dari teman-temannya terdengar membuat Hanwoo kesal. Hanwoo mulai focus dengan suara musik di café itu terdengar di telinga Hanwoo dan dia langsung tahu dimana keberadaan kekasihnya.

“Tunggu aku dan jangan kemana-mana. Araseo!” marah Hanwoo sambil mematikan teleponnya.

Hanwoo mengendarai sedan putihnya menuju suatu tempat yang pernah dia datangi bersama Hyukjae sebelum-sebelumnya. Sebuah café dimana Hyukjae pertama kali menyatakan perasaannya padanya. Backsound lagu berirama Italy yang masih menciri khas. Terkadang Hyukjae pernah mengajaknya pergi ke café itu dua kali karena perayaan hari jadinya.

Hanwoo turun dari mobil dan sampai pada mini café di pinggir jalan. Dia masuk ke dalam. Matanya mencari-cari jejak kekasihnya. Dia takut bahwa Hyukjae akan mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Hanwoo akhirnya berhasil melihat empat pria yang sedang tertawa terbahak-bahak dan salah satunya ada Hyukjae disana. Dengan penuh ambisi Hanwoo melangkah mendekati mereka.

“Oppa..” panggil Hanwoo. Hyukjae menoleh ke arah Hanwoo.

“Ha.. Hai ! Ah kalian lihat, calon istriku yang cantik ini datang mencariku.” Hyukjae bangun menghampiri Hanwoo.

“Nona Lee selamat atas pernikahan kalian..” seru Kim Heechul.

“Ne ne ! Harusnya kau juga ikut merayakannya!” sambung Kangin. Diikuti tawa Leeteuk.

Hanwoo merasa kikuk di godai seperti ini. Dia merasa kesal dengan kekasihnya yang bertingkah aneh karena mabuk. Tidak seperti biasa dan dia tidak menemukan pencerminan Lee Hyukjae ketika mabuk.

“Kajja kita pulang, oppa.”

“Baiklah.. Kajja kita pulang. Mana kuncinya biar aku yang menyetir.”

“Kali ini aku yang menyetir.” Hanwoo menyeret Hyukjae.

Selama di mobil Hyukjae bernyanyi-nyanyi tidak jelas membuat Hanwoo risih mendengarnya. Terkadang Hyukjae menggombal memuji-muji dirinya mengatakan bahwa dia akan menikahi gadis tercantik di dunia. Hanwoo tidak bisa menahan tawanya. Rasanya ingin sekali dia berhenti menepikan mobilnya untuk merekam Hyukjae yang sedang mabuk dan diputarnya pada suatu saat nanti.

Hanwoo mematikan mesin mobilnya ketika sudah sampai di basement parking apartement Hyukjae. Dia melirik Hyukjae yang sedang tertidur. Hanwoo mendekati Hyukjae lalu menepuk-nepukkan kedua tangannya di pipi kekasihnya.

“Oppa, sudah sampai. Bangunlah.”

Hyukjae membuka matanya menatap bayangan Hanwoo membuatnya tersenyum. Lee Hyukjae memeluk Hanwoo kemudian mengecup bibir gadisnya. Kecupannya berubah menjadi ciuman yang dalam.

Hanwoo’s POV

——————–

“Miane, kemarin aku mabuk.” Ujar Hyukjae menatapku. Hari ini Hyukjae mengajaknya makan siang di sebuah café saat kami selesai membeli gaun pengantin di salah satu mall elite di daerah Seoul. Gaun pengantin yang baru saja kupesan dari perancang terkenal Tiffany Hwang sekaligus salah satu kenalanku.

“Aku mengerti.” Singkat Hanwoo.

“Kau marah?”

“Sempat kesal jika saja aku tidak meneleponmu. Lain kali kau harus bilang, oppa. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa.”

“Baiklah. Bagaimana anakku hari ini?” tanyanya menatap perutku. Aku tercengang mendengarnya. Dia memikirkan anaknya yang tengah ada di dalam perutku ini. Aku menggeleng pelan.

“Belum menunjukkan tanda-tanda. Janinnya masih kecil, oppa.”

“Aku ingin mengelus perutmu jika sudah besar nanti.”

Aku sangat lega mendengarnya. Sepertinya dia sudah mulai bisa menerima dengan semuanya. Apakah akan menjadi akhir cerita yang bahagia?

Hyukjae’s POV

———————
when me marry

Sebagai pasangan yang bahagia malam ini. Aku menggandeng tangan Hanwoo memasuki tempat resepsi setelah acara pernikahanku tadi pagi berlangsung. Para undangan memberikan tepuk tangannya untuk kami. Ketika acara di mulai aku disuruh memberikan ucapan sambutan oleh sang MC lalu diselingi acara berdansa dan bersulang. Benar-benar kikuk. Kami berdansa dengan gugup di tengah para undangan sekaligus keluarga yang melihat. Pernikahan itu seperti ini. Lalu apa yang dipikirkan istriku saat ini? Apakah dia bahagia bersamaku?

Dua jam acara resepsi ini berlangsung. Aku dan Hanwoo harus bersiap-siap dari Jeju menuju Incheon karena bulan madu ke Hongkong sedang menunggu kami. Sedari tadi aku tidak ingin melepas genggamanku pada Hanwoo. Aku bahagia. Aku sangat bahagia memilikinya.

“Apa yang akan kita lakukan nanti saat sampai di Hongkong, oppa?” tanya Hanwoo.

Aku tersenyum lalu mendekatkan bibirku ke telinganya hendak membisikkan sesuatu. “Mencium tubuhmu sampai puas, nona Lee.” Bisikku nakal. Jawaban yang tepat membuatnya memukul lenganku. Hanwoo mencubit gemas lenganku.

“Napeun!”

Author’s POV

——————–

Langham Place Hotel, Mongkok, Hong Kong.

Hyukjae dan Hanwoo sampai di Hongkong tepat jam 1 pagi. Hanwoo mulai merasa tubuhnya sakit dan lemas. Dia merebahkan dirinya di sofa lalu tertidur. Hyukjae keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan piyama. Melihat Hanwoo terpejam di sofa.

“Aiishh .. Lee Hanwoo bangun ganti pakaianmu.” Ujar Hyukjae namun tidak ada jawaban dari obyek yang diajaknya bicara. Hyukjae melangkah mendekati Hanwoo. Dia menekuk lututnya bersimpuh menatap Hanwoo.

“Yak, apa aku yang harus mengganti bajumu, hmm?”

Dia tahu Hanwoo sudah tertidur pulas. Maka dari itu dia mulai mengangkat Hanwoo lalu merebahkan istrinya di atas ranjang. Tangannya mengambil tas yang masih dikenakan Hanwoo di tubuhnya lalu membuka jaket cokelat yang dipakai Hanwoo. Hyukjae menarik selimut lalu merebahkan dirinya disamping Hanwoo. Layaknya pasangan suami-istri yang sebenarnya. Walaupun dulu dia sering melakukan hal ini tapi kali ini ada perasaan yang berbeda. Mereka sudah berstatus suami-istri.

Lee Hanwoo membuka matanya perlahan-lahan ketika pagi tiba. Dia terbangun dari tidur lelapnya. Matanya melihat sesosok pria yang sedang menatapnya. Hyukjae tersenyum.

“Good morning.” Bisik Hyukjae.

“Morning, baby..” balas Hanwoo.

“Apa kita akan seperti ini seterusnya?” tanya Hyukjae.

“Maksudmu?”

“Bangun tidur menatapmu seperti ini.”

Hyukjae merapikan anak rambut Hanwoo. Gadis itu mengangguk mengiyakan. “Tentu saja.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam masih menyesuaikan keadaan pagi ini. Keadaan yang kikuk. Hyukjae tiba-tiba tertawa pelan menahan rasa malunya.

“Kenapa rasanya canggung sekali. Eung .. Kita belum melakukannya kemarin malam..” ujar Hyukjae membuat Hanwoo tertawa.

“Sejak kapan kau meminta ijin untuk menyetubuhiku oppa…”

“Yak, yak yak !! berhentilah memanggilku oppa. Aku ini sudah sah menjadi suamimu.”

“Ahaha, baiklah baiklah kau ingin kupanggil apa?”

Lee Hyukjae mengelus lengan Hanwoo lembut. Elusan Hyukjae mampu membungkam mulut Hanwoo. “Panggil aku yeobo.”

“Yeobo..” sahut Hanwoo meniru ucapan Hyukjae. Pria itu tersenyum. Tak lama kemudian mereka saling berciuman di ranjang. Hyukjae sangat menikmati ciumannya di bibir Hanwoo.

THE END.

Haduh maaf ya FF nya pendek, tidak berujung dan ngebosenin. Ini sekuel dari Kyu Minji story karena disana ada eunwoo couplenya mendadak jadi pengen buat cerita romantis lagi. Lagi kangen banget sama Hyuk karena sibuk training jadinnya berpisah dulu untuk 6 bulan ke depan. Yah walaupun masih bisa kepo dikit2. Jangan salahkan author ya kalo FF nya gaje ehehe. NC nya gaje. Endingnya juga gaje. Gada ide. Takut ngebosenin kalo panjang2 karena gada konfliknya. Konflik yang easy kalo menurut aku. Lagi gada ide dan kangen banget buat kisah eunwoo couple yang romantis. Semoga suka dan bisa menghibur deh. Kumaha komentnya~~~ 

Iklan

25 thoughts on “[OneShoot] Eunwoo Story – When We Marry

  1. pantesannn di tengah tengahnya ada kyu minjiii ….
    saya kangen bener sama couple ini .. udaha lama gak baca ff disini …
    baca yg oneshoot dulu aja ..

    nice ff keep writing

    Suka

  2. Wkwkwkwk akhirnya nafsumu tersalurkan jg lan. Lol
    Singkat, padat, dan jelas.
    Ini menghibur saya dikala sedang sakit wkkwkwk
    Ada bbrp kalimat yg bikin ngakak
    Mati mengambang di sungai Han, apalagi itu wkwkwk
    Hyuknya lengeh dpt banget. Dan ini penuh kerandoman. Adiknya hyuk tiba2 sunny, trus desainer Tiffany hwang, dan cho yoora yg nempleng. Wkwkwkk
    Tp menghibur. Good job. Yg pntg tersalurkan. Eunwoo jjang! Wkwkkkwk

    Suka

    • kayak kalimat efektif deh : singkat, padat, dan jelas. ahaha.
      baguslah kalo FF saya sedikit menghibur.
      sakit apaaa????
      cepet sembuh.
      sunny di FFku selalu dia jadi adiknya Hyuk. ahaha.

      Suka

  3. ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
    Bneran dah dapet bgt peran eunwoo couple di FF ini…
    Hanwoonya kelewatan polos…hyuknya kelewatan lengeh *kemplong hyuk…

    Ish cho yoora juari numpang dirumah Hanwoo ( ˘͡ ³˘͡)
    Sumpah ni FF menghibur sangat, blm lagi dengan beberapa kata”nya yg bkin ngakak….

    Terjun Dan mengambang disungai han. Memdesah hanya untykmu…wkwkwkw…..

    At least bgus…perlu jg FF ringan kayak gni….
    ƪ(ƪ_‾̴̴͡͡ ﻬ ‾̴̴͡͡)

    Suka

  4. Hai :3
    Hyojin’s here :****
    akhirnya baca ff juga setelah jutaan tahun u.u

    Whoaaaa..hanwoo mainnya gebrak meja yah .__.
    Ah biasa..kan keluarga barbar XDDD
    hyuk..yu tak berpikirla kalo kata2 itu menyakitkan -____-
    DAN APA ITU CHO YOORA NUMPANG KARENA BELUM BAYAR SEWA RUMAH????
    =_________=
    Mbahahaahah..pada intinya saya sukaaaa..sukaaa..
    ;___;
    Kangen baca ff sumfaaah..
    Whiner princess dalam proses penyelesaian..wait ya..

    Suka

  5. di tengah2 nya ini kaya bagian dari cerita ff surprise cuma ini sisi cerita eunwoo couple ,, daebak saeng bisa nyatu gitu..hehe
    hanwoo kembali lagi kaya d ff kasanoba wangja karakternya,,suka bgt karakter hanwoo kaya gini,,hyuuk bosenan ya..kyeoo ceritanya 🙂

    Suka

  6. Ah, selalu suka dengan EunWoo couple. Kali ini romantis-romantisan. Nc-nya kurang, harusnya lebih hot lagi. Wkwkwkw
    *YadongAkut 😛

    Suka

  7. hmmm gmn ya. di ff ini feelnya gak dapet, menurutku alurnya kecepetan. walaupun aku tau ada adegan yg sama di ff kyuminji series tp tetep aja feelnya kurang. mungkin karena prolognya kurang panjang. dan tiba” langsung ke konflik. hehe itu kritik aja eon. keep writing eon. fighting 😀

    Suka

  8. Kirain tuh hyukjae bnrn ga mau tanggung jawab, tp ternyata dia cuma shock toh..
    Takut ga bisa bikin hanwoo bahagia setelah nikah nantii, maniis bgt sih jalan pikirannya hyukjae…tp klo dia ga tanggung jawab nikahin hanwoo kasian jg kan sma anaknya nantii
    Tp seneng akhirnyaa mereka nikah setelah keragu-raguan yg panjang mau nikah apa ga??
    Hihihii,, jd ngebayangin karakter hyukjae asli pas nanti istrinya hamil kaya gmna yaa???

    Suka

  9. dasar si hyuk pake tanya anak siapa segala udah tau anaknya dia dan harus mikir juga mau nikahin tapi seneng mereka menikah dan bahagia

    Suka

  10. duh dasar eunhyuk masih aja tanya klo tuh anak siapa yg dikandung. gw kira dya engk bakal tanggung jawab ternyata dy cuma shock ma takut klo engk bsa bahagiain hanwoo . padahal hanwoo syang bgt ma eunhyuk .
    duh ini pasangan lebih “ngeh” dar kyuminji…. 😀

    smngt author 🙂

    Suka

  11. Greget banget deh…. Mau tanggung jawab aja mikirnya lama banget.. Kalau aku jdi Hanwoo, udah ku tinggal pergi Lee Hyukjae. Tapi kan aku bukan hanwoo..hahaha… Tapi akhirnya happy ending juga..

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s