Your Guardian Side Story – My Guardian

 Image

Author : Hyodina • Cast : Choi Hyojin – Kris Wu – Cho Kyuhyun – Kang Minji • Genre : Romance • Length : Oneshoot

“Aku membuatnya terluka. Memang. Aku menyayanginya sebagai teman, tapi tidak dengannya. Aku mencoba membuatnya menjauh dariku dengan sikapku yang tidak menyenangkan padanya sejak aku mengetahui perasaannya. Tapi kenyataannya ia memang gadis yang tidak  mudah menyerah akan apa yang dia inginkan. Mianhae, Hyojin-ah.”

-Cho Kyuhyun-

“Aku mencoba bangkit dan melupakan perasaanku padanya. Begitu sulit dan menyakitkan. Tapi jika dilihat dari semua yang kulakukan untuk membuatnya bersamaku, aku tidak menyadari jika aku menyakiti begitu banyak orang. Tidak hanya Kyuhyun, tapi juga dirinya. Dia yang selalu berada dipihakku dan mendukung semua yang kulakukan meski ia juga mengetahui jika aku menyakitinya. Bodohnya aku, aku baru menyadarinya sekarang jika dirinyalah yang sebenarnya kubutuhkan.”

-Choi Hyojin-

“Aku melakukan semua ini memang hanya untuknya. Entah apa aku ini sesungguhnya bodoh atau tidak karena bersikap seperti ini. Aku mendukungnya walaupun itu menyakiti perasaanku sendiri, namun jika aku bisa melihatnya tersenyum bahagia maka hal itu bukanlah hal yang berat bagiku. Aku yakin dia pasti akan menyadari perasaanku nantinya. Menjadi pelindungnya adalah keharusan bagiku, walaupun pada akhirnya aku tetap melihatnya menangis karena harus merelakan Kyuhyun. Apa aku gagal?”

-Kris Wu-

Shanghai

 

“Kau melewatkan waktu makan siang lagi.” ucap seorang pria tinggi yang baru saja masuk kedalam ruangan kerja milik seorang gadis yang terlihat serius bersama berkas-berkas ditangannya. Gadis itu menoleh ke sumber suara dan ketika melihat siapa yang baru saja menginterupsi konsentrasinya, ia tersenyum dan meletakkan berkas pekerjaan ditangannya dan melepas kacamata bacanya.

“Aku belum merasa lapar dan aku sama sekali tidak mengetahui jika waktu makan siang sudah hampir berakhir. Aku bisa makan nanti saja.” Ucap gadis itu cuek setelah melirik kearah arloji dipergelangan tangannya. Pria itu mendengus, pura-pura kesal dengan tingkah gadis cantik didepannya. Ia melangkah memutari meja gadis itu dan menarik gadis itu hingga gadis itu berdiri dan berjalan mengikutinya menuju kantin kantor tersebut. Gadis itu hanya mendengus kesal namun tidak memprotes apa yang dilakukan pria itu. Pria itu mendudukkan gadis itu disalah satu kursi kantin tersebut dan berjalan menuju konter tempat memesan makanan dan memesan makanan untuk gadis itu dan minuman untuk mereka berdua. Gadis itu hanya duduk ditempatnya dan memandang punggung pria itu dalam diam, seulas senyum tipis terukir diwajah cantiknya ketika melihat pria itu berbalik kearahnya dan melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk meminta gadis itu menunggu.

“Bodoh.” Gumam gadis itu sambil tersenyum lagi. ia memandang kesekeliling kantin. Sepi, tentu saja. Waktu istirahat telah usai dan pegawai lainnya telah kembali menuju ruangannya masing-masing. Sedikit menyalahi aturan sebenarnya, tapi gadis itu tidak peduli, lagipula suasana sepi seperti itu merupakan salah satu yang disukainya.

“Makanlah. Aku tidak peduli dengan alasan ‘belum lapar’ darimu. Yang aku tahu kau harus makan, Nona Choi.” Ucap pria itu setelah meletakkan baki berisi tuna sandwich didepan gadis itu. ia duduk di seberang gadis itu dan meminum jus apelnya. Sang gadis mendecakkan sedikit ketidak-sukaannya atas sikap semaunya dari pria didepannya, namun ia tetap melakukan apa yang diminta oleh pria itu dan memakan perlahan sandwich itu.

“Gege, kau pemaksa sekali.” ucapnya pendek sambil mengunyah makanannya. Gadis itu, Choi Hyojin tersenyum lalu menyodorkan sepotong besar sandwich untuk Kris. Kris yang awalnya menggeleng pelan karena ia memang sudah makan siang dalam pertemuan bisnisnya satu jam yang lalu pada akhirnya tetap membuka mulutnya karena mendapat tatapan tajam dari Hyojin. Yah, sifat Nona Muda yang harus selalu mendapatkan keinginannya memang tidak bisa lepas dari diri Hyojin.

“Kenapa kau membuatku membantumu menghabiskan ini? Ini porsi kecil dan kau tidak ingin menghabiskannya? Hyojin-ah, kau bisa sakit jika kau terlalu sering menganggap enteng tentang pola makanmu.” Ucap Kris cerewet setelah menelan sandwich suapan Hyojin. Hyojin hanya mengendikkan bahunya sambil tersenyum kecil.

“Sekitar limabelas menit yang lalu kau mendengar dengan jelas jika aku belum lapar. Jadi menurutku wajar saja jika aku tidak bisa menghabiskannya dan kau membantuku sedikit. Apa aku benar?” ucap Hyojin tidak mau kalah. Ia memakan potongan kecil terakhir dari sandwichnya dengan puas. Kris hanya mendesah panjang, ia memang selalu akan mengalah pada gadis didepannya ini. Bukankah sejak dulu memang seperti itu?

“Ini sudah hampir satu tahun sejak kejadian itu. Sejak itu kau selalu menyibukkan diri dalam pekerjaan dan mengabaikan kesehatanmu sendiri. Kau tahu sendiri itu tidak baik, Hyojin-ah.” Ucap Kris hati-hati. Ya, dia selalu berhati-hati jika menyinggung soal masalah ini pada Hyojin. Namun kali ini ia harus membicarakannya. Melihat gadis didepannya yang akhir-akhir ini selalu menyibukkan diri dalam pekerjaan dan melupakan kebutuhannya sendiri membuatnya tidak bisa membiarkannya lagi. Hyojin menatap Kris dingin, masih tersirat luka yang begitu dalam dalam sorot mata coklatnya yang indah. Luka itu. Ya, luka karena melepaskan apa yang paling diinginkannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

“Kris, kau tahu bagaimana aku mencoba melupakannya. Kenapa kau membuatku mengingatnya lagi?”

“Kau tidak berusaha melupakannya. Kau hanya menghindar dan menyiksa dirimu sendiri dengan segala kesibukan yang berlebihan.” Sanggah Kris lagi. Ia menatap Hyojin yang juga sedang menatap tajam padanya. Ia memutuskan kali ia tidak akan mengalah pada gadis ini sekarang seperti sebelumnya. Tidak setelah melihat betapa menyedihkannya gadis didepannya.

“Gege, kau tahu bagaimana terpuruknya aku. tidak bisakah kau membiarkanku melupakannya dengan caraku?” gumam Hyojin pelan sambil menunduk. Perkataan Kris dari segi manapun adalah benar. Ia hanya menghindar, tidak sepenuhnya mencoba melupakan. Kenyataan jika ia hanya berpura-pura kuat dihadapan semua orang padahal selalu kembali teringat akan perasaannya ketika pulang ke apartemennya dan menangisi hal yang sama selama enam bulan terakhir membuktikan jika perkataan Kris memang benar.

“Tidak dengan cara seperti ini. Kau tidak harus menyakiti dirimu seperti ini. Kau tidak harus menyakiti fisikmu juga setelah luka hatimu. Kau hanya perlu menguatkan keinginanmu. Apa kau lupa siapa dirimu? Kau Choi Hyojin yang selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan.”

“Tidak dengan Cho Kyuhyun. Dia adalah hal pertama yang tidak bisa kudapatkan sekeras apapun aku berusaha. Gege, ini menyakitkan.”

“Kau hanya perlu menghilangkan perasaanmu padanya. Kau masih bisa merasakan kasih sayangnya sebagai teman. Ia telah memaafkan semua yang kau perbuat. Setidaknya jika kau tidak bisa memiliki hatinya sebagai pria, kau masih bisa mendapatkan hatinya sebagai teman. Seperti sebelumnya ketika kita masih di Kanada. Eo?”

“Entahlah. Apa aku bisa melakukannya?”

“Kau Choi Hyojin. Ingat itu.” Ucap Kris dan tersenyum manis. Ia menggenggam tangan Hyojin dan mengangkat dagu Hyojin, membuat pandangan keduanya bertemu. Ia mengangguk yakin, menguatkan gadis itu. Hyojin menatap manik mata hitam Kris, entah kenapa ia mulai merasakan ada yang berbeda dari sikap pria ini padanya. Entahlah, ia seperti merasa Kris lebih intim dari perlakuan biasanya. Untuk beberapa detik ia merasakan gemuruh didadanya sebelum ia berhasil mengendalikan ekspresinya.

“Uhm, akan kucoba. Sebaiknya kita kembali.” Ucap Hyojin pendek. Ia menarik tangannya dari genggaman Kris dan mulai beranjak dari duduknya. Kris masih belum bergeming dari duduknya ketika Hyojin hampir keluar dari pintu kantin. Merasa Kris tidak ada disampingnya, gadis itu menoleh dan mendapati Kris masih duduk di kursinya. Ia mendengus dan kembali berjalan menuju Kris.

“Gege, kau tidak ingin kembali? Aku akan keruanganku sekarang. Kau masih ingin bersantai disini saat jam kerja?” celoteh Hyojin gemas sambil berbalik menuju kearah Kris lalu menarik tangan Kris. Kris tersenyum kecil dan pada akhirnya mengangguk lalu bangkit dari duduknya.

“Kau cerewet sekali, Gongjunim.” Ucap Kris sambil mengacak pelan rambut Hyojin. Hal yang mudah baginya karena tubuh tingginya. Ia berlalu sambil tersenyum puas, meniggalkan Hyojin yang masih terbengong karena perlakuan tidak biasa dari Kris.

“Yak! Kau merusak tatanan rambutku.” Gerutu Hyojin sambil merapikan rambutnya setelah tersadar dari bengongnya. Ia berjalan cepat menyusul langkah panjang Kris yang telah berjalan mendahuluinya beberapa langkah.

= = =

Hyojin’s POV

Aku membiarkan angin malam Shanghai menerpaku. Dingin, aku tidak peduli walaupun untuk beberapa saat rasanya hampir membuatku menggigil. Menatap suasana Shanghai dimalam hari seperti ini hampir menjadi kebiasaanku sejak menginjakkan kaki di kota ini. Di atap gedung apartemenku ini, setidaknya tidak ada yang akan melihatku menangis. Apa aku terlihat begitu menyedihkan karena cinta? Melakukan begitu banyak hal demi mendapatkan pria yang kuinginkan, bahkan cara licikpun telah kulakukan. Tapi tetap saja aku tidak berhasil mendapatkannya. Choi Hyojin, akuilah jika kau memang menyedihkan.

Aku tersenyum miris, bayangan tentang apa saja yang telah kulakukan demi menjauhkan Minji dari Kyuhyun dan berujung dengan komanya Kyuhyun beberapa waktu yang lalu kembali menamparku. Aku gadis yang buruk bukan?

Kau tidak berusaha melupakannya. Kau hanya menghindar dan menyiksa dirimu sendiri dengan segala kesibukan yang berlebihan.

Aku teringat kembali akan ucapan Kris saat makan siang tadi. Dia benar, aku hanya menghindar. Sebagian dari diriku ingin melupakan perasaanku pada Kyuhyun, tapi hal itu bukanlah hal yang mudah. Aku menyukainya, dia laki-laki pertama yang membuatku begitu menyukainya. Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, membuatku terobsesi untuk mendapatkannya? Terserah apapun itu istilahnya, yang aku tahu hingga saat ini aku masih menyukainya, sangat.

Sesak, itulah yang selalu kerasakan ketika melihatnya yang hanya tersenyum pada gadis itu. Kenapa dia harus lebih mencintai gadis itu dibandingkan aku? Kenapa perasaan keduanya sama-sama kuat meski aku telah melakukan berbagai cara untuk memisahkan keduanya. Kenapa pada akhinya justru akulah yang begitu terluka? Apa aku salah jika aku mengusahakan apa yang sangat kuinginkan dan mencegah apapun yang berpotensi menghalangi usahaku untuk mendapatkannya?

Tes~

Aku merasakan aliran air mata mengalir di pipiku. Bodoh. Choi Hyojin, kenapa kau menangis? Kau tidak selemah itu. Kau tidak seharusnya menangisi pria itu. Pria yang bahkan sedikitpun tidak menaruh perhatiannya apalagi hatinya padamu.

Tidak. Aku memang lemah. Aku lemah karena tidak bisa melihatnya disiku. Lemah karena tidak bisa memilikinya. Lemah karena aku merelakannya untuk gadis lain yang dicintainya. Aku patah hati dan sama sekali tidak berusaha untuk melupakan bagaimana sakitnya. Aku lemah karena kebodohanku sendiri yang masih saja mencintainya. Aku, memang gadis yang menyedihkan.

Flashback, Author POV

“Masuklah. Bukankah kau sudah memutuskan untuk melakukannya?” Tanya Kris pada Hyojin. Ia merasa heran pada Hyojin yang menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah saja sebelum mencapai kamar rawat Kyuhyun.

“Kris, apa aku bisa melakukannya?” Tanya Hyojin ragu. Keraguan itu muncul lagi, ia berencana mengakhiri semuanya. Semuanya. Semua obsesinya akan Kyuhyun.

“Semua keputusan ada ditanganmu, Hyojin-ah. Kuatkan dirimu dan pikirkan apa yang benar-benar Kyuhyun butuhkan. Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu, kau telah melihat bagaimana Kyuhyun jika bersamamu atau bersama Minji-ssi.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku?” ucap Hyojin dengan suara bergetar. Dilema itu kembali menghantuinya. Kris menghela napas sebentar lalu meraih Hyojin kedalam pelukannya. Hyojin membenamkan wajahnya didada Kris sementara Kris mengelus lembut kepala Hyojin. Kris bisa merasakan bahu Hyojin yang bergetar dan ia merasakan ada yang membasahi kemeja biru langitnya. Ia tahu, gadis dipelukannya ini menangis lagi. selalu seperti ini, sejak insiden itu gadis ini terlalu banyak menangis. Sejak Kyuhyun masuk rumah sakit dan koma hingga sadar dan mulai membaik seperti sekarang, Hyojin selalu datang kerumah sakit namun hanya berakhir dengan melihat keadaan pria itu dibalik kaca pintu kamar rawat Kyuhyun tanpa berani untuk melangkahkan kakinya untuk masuk dan melihat pria itu dari jarak dekat. Hanya berani mendekat ketika tidak ada yang menunggui Kyuhyun. Menangisi dan menyesali apa yang telah ia perbuat hingga membuat Kyuhyun menjadi seperti itu.

“Apa kau masih membutuhkan waktu untuk berpikir? Jika memang begitu, jangan masuk sekarang. Kau harus memutuskannya dengan benar.” Ucap Kris lembut. Hyojin berpikir sejenak lalu menggeleng pelan. Ia mendongak menatap Kris yang masih memeluknya, ia menggeleng lagi, kali ini dengan pasti.

“Kurasa jika aku mengakhirinya sekarang akan jauh lebih baik.” Ucap Hyojin. Kris menatapnya sejenak dan menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Ia tersenyum menguatkan gadis dihadapannya.

“Apa kau yakin?” Tanya Kris sekali lagi. Hyojin menganggukkan kepalanya mantap. Kris tersenyum dan mengambil saputangan dari dalam saku celananya dan membersihkan sisa-sisa air mata dari wajah cantik gadis didepannya.

“Kalau begitu, berdirilah dengan tegak dan perlihatkan aura dirimu seperti biasa. Tunjukkan kali ini kau bersungguh-sungguh dan yakinkan Kyuhyun. Kau Choi Hyojin. Kau ingat itu bukan?” bisik Kris ditelinga Hyojin.

“Gege, biakah kau menemaniku hingga kedalam?”

“Tentu. Jika kehadiranku memang bisa membuatmu sedikit tenang dan kuat didalam sana.”

Hyojin perlahan mulai berjalan menuju kamar rawat Kyuhyun. sebelum masuk, ia melihat kearah dalam dari kaca yang terdapat dipintu dan melihat ada Minji didalam. Gadis itu sedang mengupaskan apel dan bercengkrama dengan Kyuhyun. Melihat hal itu, rasa perih di hati Hyojin datang kembali. Ia menguatkan hatinya dan mulai mengetuk pintu perlahan. Mendengar suara dari dalam yang menyuruh sang pengetuk pintu untuk masuk, ia menatap Kris sejenak lalu membuka pintu itu perlahan.

Pintu itu mulai terbuka perlahan dan memperlihatkan siapa yang berada dibalik pintu itu. Saat melihat siapa yang tadinya mengetuk pintu, Kyuhyun dan Minji terdiam sejenak. Bagaimanapun, kehadiran gadis yang saat ini berada beberapa meter dari mereka berdua adalah salah satu dari hal yang dihindari oleh mereka, yah setelah semua yang terjadi. Hyojin tersenyum canggung, disebelahnya Kris sedang menggenggam tangan gadis itu, menguatkannya.

“Kyuhyun-ah, Apa aku mengganggu kalian?” Tanya Hyojin sambil tersenyum samar. Ini pertama kalinya ia berbicara kembali pada Kyuhyun setelah kejadian itu.

“Bagaimana keadaanmu?” ucapnya berbasa-basi. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak penting dan tidak perlu dijawab oleh Kyuhyun karena Hyojin mengetahui secara pasti keadaan pria itu.

“Membaik. Kenapa kau baru menjengukku sekarang?” Tanya Kyuhyun. ia membenarkan posisi duduknya dan meminta Hyojin dan Kris untuk mendekat.

“Uhm..aku..sedikit sibuk akhir-akhir ini. Lagipula sudah  ada Minji-ssi yang merawatmu bukan?” ucap Hyojin pelan. Mendengar perkataan Hyojin, Minji sedikit merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, saat ini Kyuhyun adalah tunangan Hyojin sedangkan ia bukanlah siapa-siapa.

“Maaf. Mungkin aku akan menunggu diluar saja. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya.” Ucap Minji seraya bangkit dari duduknya.

“Ani. Kau tidak perlu menunggu diluar. Karena..karena aku ingin berbicara dengan kalian. Tidak hanya pada Kyuhyun.” ucap Hyojin cepat. Minji mengerutkan dahinya heran ketika mendengar nada bicara Hyojin yang terdengar sangat sopan dan ada unsur keraguan didalamnya.

“Hyojin-ah, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku..” ucap Hyojin terputus. Ia menghela napas dalam, menyiapkan hatinya lagi sedangkan Kris diesebelahnya masih menggenggam tangannya erat. Ia meyakinkan dirinya sekali lagi jika ini memang harus ia lakukan, bahkan sejak kemarin-kemarin.

“Aku..ingin mengakhiri pertunangan ini.”

Hening. Itulah yang terjadi didalam ruangan itu sekarang. Kyuhyun dan Minji mengerutkan kening tidak mengerti. Mengakhiri pertunangan sepertinya hal yang sangat mustahil dilakukan oleh Hyojin, mengingat betapa keras usahanya untuk mendapatkan Kyuhyun.

“Hyojin-ah, apa maksudmu?”

“Kita akhiri saja. Aku akan mengatakan hal ini pada Appa nanti.”

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

Hening. Inilah saatnya, inilah bagian tersulit bagi Hyojin. Saat ia harus mengakui apa saja kesalahannya. Kyuhyun masih menunggu jawaban dari Hyojin. Sebagian besar hatinya merasa lega karena Hyojin melepaskannya. Namun tentu saja ia juga membutuhkan penjelasan dari Hyojin. Ia sangat mengetahui bagaimana perasaan gadis itu padanya, memutuskan pertunangan yang sudah ia impikan sejak lama merupakan hal yang benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh Kyuhyun akan dilakukan oleh Hyojin.

“Bukankah sudah jelas? Kau tidak pernah menyukaiku, apalagi mencintaiku. Hanya ada Kang Minji. Dan selalu seperti itu meskipun aku sudah melakukan berbagai cara agar kau melihat kearahku. Aku bahkan berbohong pada semua orang demi itu. Tapi tetap saja, kau hanya memikirkan Minji.” Ucap Hyojin panjang dengan suara bergetar namun tetap mempertahankan senyumnya, senyum yang dipaksakan tentunya.

“Berbohong?” Tanya Kyuhyun tidak mengerti.

“Aku..aku tidak tahu kau akan memaafkanku kali ini. Aku juga tidak terlalu mengharapkan hal itu, karena aku sadar, betapa fatalnya kesalahanku.” Tambah Hyojin lagi. kali ini airmata mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Choi Hyojin, bisakah kau langsung pada intinya saja?” ucap Kyuhyun. Nada bicaranya yang tadinya bersahabat kini berubah menjadi dingin. Ia seperti bisa menebak kemana arah pembicaraan Hyojin. Sepertinya, sepertinya Hyojin telah melakukan sesuatu yang berdampak dengan terjadinya pertunangan mereka tempo hari.

“Tidak pernah ada yang terjadi saat itu. aku sengaja mengatur menjadi seperti itu. aku juga yang mengirim pesan untuk Minji agar ke apartemen Kris.” Hyojin memejamkan matanya dan menghela napas panjang. ia sudah mengatakannya. Kyuhyun terdiam ditempatnya. Terdapat kilatan marah dari matanya. Kyuhyun menatap Hyojin tajam, jelas sekali ia masih menunggu penjelasan selanjutnya dari gadis itu.

“Aku tak tahu jika Minji menyembunyikan ini darimu atau tidak, tapi alasan dibalik kepergian Minji ke Texas, karena aku yang memintanya. Aku yang memintanya pergi dan melepaskanmu agar pertunangan kita bisa dilakukan.”

“Keluar.” Ucap Kyuhyun dingin dan mengalihkan pandangannya dari Hyojin. Hyojin, yang sejak tadi menyiapkan dirinya untuk menerima respon seperti ini dari Kyuhyun hanya bisa menunduk dan tersenyum pahit.

“Aku sudah bisa menduga kau akan bereaksi seperti ini. Aku memang tidak begitu berharap kau memaafkanku, tapi aku benar-benar minta maaf. Aku akan memperbaiki keadaan ini. Aku akan memperbaiki keadaan yang telah aku kacaukan.”

“Hyojin-ssi, apa kau tidak mendengarku? Aku minta kau keluar dari ruangan ini.” Ucap Kyuhyun lagi. Minji yang berada disebelahnya masih termangu dengan kenyataan dan pengakuan Hyojin yang baru saja didengarnya. Disisi lain, Kris yang sedari tadi berada disamping Hyojin menggenggam erat tangan Hyojin yang terasa bergetar. Ia berbisik pada Hyojin untuk menuruti saja apa yang di inginkan oleh kyuhyun saat ini, lagipula ia sudah tidak tahan melihat Hyojin menerima sorot mata penuh kebencian dari Kyuhyun saat ini.

“Baiklah, aku akan pergi. Sekali lagi, aku minta maaf. Minji-ssi, aku juga minta maaf padamu. Berbahagialah.” Ucap Hyojin akhirnya sambil tersenyum meskipun airmata masih mengalir di pipinya. Ia membungkuk sebentar sebelum akhirnya berbalik meninggalkan ruangan itu. Kris masih berdiri ditempatnya, seperti menuggu hingga Hyojin keluar dari ruangan itu dan bermaksud untuk menyampaikan sesuatu. Setelah yakin Hyojin telah keluar dari ruangan itu, ia berjalan mendekat kearah Kyuhyun yang masih menunduk, mengontrol emosinya.

“Kyuhyun-ah…” Ucap Kris. ia memegang bahu Kyuhyun sebentar. Kyuhyun mendongakkan kepalanya, manatap kris dengan pandangan datarnya, ia masih emosi dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Aku mengerti kemarahanmu. Aku juga tidak bisa membenarkan apa yang Hyojin lakukan. Maafkan aku karena aku tidak bisa mencegahnya. Seandainya aku tahu apa yang direncanakannya saat itu, aku akan mencegahnya melakukan hal itu.”

“Aku..merasa bodoh. Sangat bodoh.”

“Tenangkan pikiranmu dulu. Cobalah untuk melihat dari sudut pandangnya. Selama ini dia hanya dibutakan olehmu. Hanya kau. Untuk gadis yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, melakukan hal-hal seperti itu mungkin memang wajar dilakukannya. Yah, walaupun itu salah.” Ucap Kris lagi. Ia menepuk bahu Kyuhyun lagi dan tersenyum seperti biasa, senyum hangatnya yang selalu ia tunjukkan kemudian berlalu setelah berpamitan juga pada Minji.

“Kris..” panggil Kyuhyun ketika Kris hampir mencapai pintu. Kris menoleh untuk melihat Kyuhyun.

“Ya?”

“Pasti sangat berat menjadi dirimu.” Ucap Kyuhyun pendek. Kris terkekeh sebentar dan mengangguk.

“Kau benar. Tapi aku tidak pernah keberatan dengan kondisi seperti ini. Kau mengetahui bagaimana detailnya, bukan?”

“Kau terlalu baik.”

“Sudahlah. Aku pergi dulu. Pikirkan lagi apa yang tadi kukatakan.”

= = = =

Aku tersentak dari lamunanku ketika merasakan ada selimut yang disampirkan dibahuku. Aku menoleh dan mendapati Kris yang sedang memandangku lembut dibalik kacamata bacanya. Aku melemparkan pandangan bertanyaku dan hanya mendapatkan respon senyum manisnya. Entahlah, terkadang pria ini juga terkadang susah ditebak.

“Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?” Ia terdiam sebentar lalu kembali tersenyum. Ia memperhatikan wajahku dan sepertinya ia melihat sisa-sisa airmata disana. Ia mengambil saputangan dari dalam kantung celana kainnya dan menyeka sisa-sisa air mata di pipiku. Tanpa berbicara sedikitpun.

“Gege..”

“Aku terlalu mengenalmu, Hyojin-ah. Sepertinya.”

“Aku kurang mengerti apa maksudmu. Tidak bisakah kau berbicara dengan lebih jelas?”

“Aku tahu kau selalu kesini hingga larut malam. Kau menggunakan tempat ini untuk menenangkan pikiranmu. Atau jika itu tidak benar, kau memikirkan Kyuhyun disini. Menangisinya seperti yang baru saja kulihat.” aku mengernyitkan dahiku, pria ini, apa ia sejak tadi berada disini memperhatikanku menangis?

“Kau sejak tadi disini?” Tanyaku spontan dan hanya dijawab dengan anggukannya.

“Aku tidak menemukan dirimu di apartemen dan ponselmu kau letakkan begitu saja di meja rias. Kupikir, kau pasti berada disini seperti biasanya. Yah walaupun sebelumnya aku tidak menghampirimu saat kau menyendiri disini. Tapi yah sepertinya aku tidak ingin membiarkanmu terlarut begitu lama dalam lukamu. Setidaknya aku tidak membiarkanmu merasakannya sendirian. Kau tidak harus memendamnya sendirian, Hyojin-ah.” Ucap Kris panjang setelah selesai membersihkan sisa-sisa air mataku. Aku terpekur sebentar, jadi selama ini Kris mengetahuinya. Aku tersenyum hambar menanggapi ucapannya.

“Apa aku yang sekarang ini, adalah Choi Hyojin yang menyedihkan dan sangat mudah ditebak?” gumamku. Ia menggeleng dan tersenyum lagi. ia mengelus kepalaku pelan dan merapatkan selimut yang menyelimuti bahuku.

“Kau hanya terlihat sedikit berbeda ketika sendirian seperti ini. Dan kurasa hanya aku yang bisa menebak akan itu. Karena hanya aku disini yang benar-benar mengenalmu. Dan kau hanya menunjukkan sisi dirimu yang seperti ini hanya padaku.”

“Kau benar. Hanya kau yang mengenalku lebih baik disini. dan kau selalu ada disisiku walaupun aku berpikir untuk sendirian seperti sekarang. Gege, kenapa kau sebaik ini padaku meskipun kau telah mengetahui bagaimana buruknya aku?”

“Apa aku memang harus membutuhkan alasan untuk semua ini? Kurasa tidak.” Timpal Kris. selalu seperti ini, jawabannya selalu seperti jika aku menanyakan akan hal ini. Terkadang, aku merasa jika aku juga menyakiti pria ini. Dan kurasa ia..begitu bodoh untuk selalu berada disisiku dan mendukung segala apa yang kulakukan meskipun ia mengetahui jika yang kulakukan itu tidak benar.

“Kau selalu menjawabku begitu. Kau membuatku merasa bersalah padamu. Menyebalkan.” Ia terkekeh pelan mendengarku merajuk. Ia merangkulku hingga kini badan kami sedikit menempel, membuatku bisa merasakan aroma tubuhnya lebih jelas, wangi maskulin yang kusukai. Ia mendongak, menghadap kearah langit dan memejamkan matanya sambil tersenyum. Aku menatapnya lama hingga ia mulai berbicara lagi, masih dengan senyumnya yang akhir-akhir ini selalu berhasil membuat perasaanku sedikit membaik.

“Kau tahu? Tidak semua yang dilakukan orang-orang itu ada alasannya. Terkadang orang itu hanya melakukan apa yang menurutnya memang harus dilakukan, tanpa alasan sekalipun.” Ucapnya. Aku mengerutkan dahiku tidak mengerti. Bagaimana mungkin melakukan hal-hal tanpa tujuan yang jelas?

“Sebenarnya, aku juga memiliki alasan kecil yang tidak seharusnya kau tahu. Tapi kau terlalu banyak dan sering menanyakan hal ini padaku dengan sikap tuan putrimu yang menyebalkan. Apa kau masih ingin mendengar alasanku?” Tanya Kris lagi. Aku mengangguk dengan wajah cemberut. Ia mendekatkan wajahnya kearahku, membuatku harus memundurkan wajahku sedikit karena terkejut dengan aksinya yang tiba-tiba.

“Pernahkah aku mengatakan jika aku melakukan semua ini hanya untukmu? Apapun yang bisa membuatmu gembira, aku akan melakukannya. Termasuk membiarkan kau berbuat hal-hal yang kau lakukan dimasa lalu terhadap Minji dan Kyuhyun.”

Aku termenung mendengar penuturannya. Sekelebat pemikiran aneh muncul di kepalaku, aku mengingat-ngingat kembali semua sikapnya, bagaimana ia berbicara padaku, dan kehadirannya yang selalu ada bahkan disaat terburukku yang menenangkanku. Mungkinkah..

“Gege… apa kau… mungkinkah jika kau.. menyimpan perasaan padaku?” tanyaku pelan dan menatapnya. Ia terdiam sejenak sebelum tersenyum seperti biasa. Ia menepuk kepalaku pelan dan bangkit dari duduknya lalu menarikku untuk berdiri. Ia merapatkan selimut yang masih menyelimuti bahuku, aku masih menatapnya lurus, menunggu jawaban darinya.

“Untuk hal seperti itu, harusnya kau bisa merasakannya sendiri, Nona Muda.” Jawabnya pendek dengan senyum tipisnya. “Ini sudah larut. Kau bisa masuk angin jika berada disini terus. Ayo kita kembali.” Lanjutnya. Ia mulai menggandengku menuju lift dengan ringannya, sementara hatiku berkecamuk memikirkan perkataannya barusan.

Jika ia memang menyukaiku, jika sejak dulu ia menyimpan perasaan padaku. Apa yang harus kulakukan? Aku merasa sangat jahat padanya. Mianhae, Kris. jeongmal mianhae. .

= = = =

Ddrrrtt…Drrrrttttttt

Aku membuka mataku perlahan dan melirik kearah jam weker digital yang terletak diatas nakas samping tempat tidurku. Jam 7 pagi, siapa yang menelepon sepagi ini? Aku menggeliat malas dan menggapai ponselku dan melihat ID pemanggil dilayarnya. Kris. Untuk apa ia meneleponku sepagi ini?

“Ne?”

“Lama sekali.  Hey bangun Putri Aurora. Apa kau ingin tidur saja seharian?”

“Gege, kau tahu ini jam berapa? Ini masih terlalu pagi, lagipula kau tahu hari ini aku libur. Aku ingin tidur.” Rengekku. Ia mendengus diseberang sana dan mulai mengoceh tentang entahlah, aku terlalu mengantuk untuk menyimaknya.

“Gege, kalau kau ingin mengoceh seperti itu kau bisa menungguku menyelesaikan dulu tidurku. Teleponnya aku tutup. Annyeong.” Ucapku dan menutup sambungan telepon sebelum ia sempat untuk protes. Aku meletakkan ponselku sembarang dan memejamkan mataku kembali. Tidak lama setelah itu aku merasakan selimutku ditarik paksa oleh seseorang. Tanpa menduga-duga aku mengetahui siapa yang melakukannya. Memangnya siapa lagi yang mengetahui password apartementku selain dia? Aku menggeliat malas dan membuka mataku sedikit. Melemparkan pandangan semalas mungkin padanya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang disamping ranjangku. Tidak lama karena aku membalikkan badanku, membelakangi dirinya yang –aku rasa- masih menatapku.

“Yak!”

“Ini masih sangat pagi. Ada apa?” sahutku malas dengan mata terpejam. Kudengar ia menghela napas panjang dan berjalan mengitari ranjangku ke sisi seberang tempatnya semula, sisi yang saat ini berhadapan denganku. Ia mencondongkan badannya dan membuka mataku paksa dengan jari-jari panjangnya. Aku melenguh sebal dan kali ini benar-benar membuka mataku, menatapnya kesal. Ia tersenyum lebar ketika melihatku yang benar-benar bangun –karena ulahnya tentu saja-.

“Bangunlah. Aku memasak sarapan untuk kita berdua. Kau tidak mungkin tega menyuruhku untuk membawakannya dari apartemenku kemari bukan? Karena itu aku membangunkanmu. Cepat bangun dan bersihkan dirimu.” Perintahnya menyebalkan. Aku mengerucutkan bibirku sebal dan beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku. Ketika keluar dari kamar mandi, kulihat ia sedang membelakangiku, memandang kearah luar balkon yang tirai pintu kacanya telah disingkap olehnya. Sepintas ide muncul begitu saja dikepalaku. Aku menyeringai dan berjalan mengendap-endap lalu melompat kepunggungnya. Ia terlonjak kaget untuk detik pertama dan berseru sedangkan aku hanya tersenyum kecil sambil menyeimbangkan tubuhku agar tetap berada diatas punggungnya.

“Hei…kau membuatku kaget.” Serunya setelah berhasil menyeimbangkan posisinya dan memperbaiki posisiku yang sedang berada dipunggungnya. Aku memeluk lehernya erat, menolak untuk turun dan terkikik pelan.

“Kau harus menggendongku hingga ke apartementmu. Ah ani, meja makanmu. Ini hukuman karena kau mengganggu tidurku.” Ucapku santai dan mengeratkan pelukanku lagi.

“Baiklah..baiklah. tapi bisakah kau melonggarkan tangganmu? Kau mencekikku, Nona Muda.”

“Ups, mian.” Ucapku santai. “Kajjaaaaa~” Lanjutku dan ia hanya tertawa pelan sambil mulai melangkahkan kakinya menuju apartementnya yang bersebelahan dengan apartementku.

“Kau membuat bubur abalone? Whoaaa, kau mulai belajar memasak makanan Korea rupanya. Apakah kau membawaku kemari sekalian untuk mendengarkan pendapatku tentang ini?” aku melihat dan mencium aroma dari bubur abalone yang masih hangat di depanku. Pria ini tersenyum dan menuangkan segelas air putih untukku sebelum duduk di kursi yang berseberangan denganku.

“Kurasa kau sudah lumayan lama tidak memakannya sejak kita pindah kemari. Jadi aku mencari resepnya dan mencoba membuatnya. Dan taraaa~ setidaknya ini tidak terlalu buruk dan tidak akan membuatmu keracunan setelah memakannya.”

“Mwo? Jadi ini percobaan? Apa kau benar-benar yakin dengan rasanya?”

“Hei..hei..cicipi saja dulu. Setelah itu baru berbicara. Kau tahu kemampuan memasakku setidaknya lebih baik darimu, Nona.” Aku mencibir pelan mendengar balasannya dan menyuapkan sesendok kedalam mulutku. Tidak buruk. Yah, kemampuan memasaknya memang lebih baik dariku. Aku memandang kearahnya yang sedang memperlihatkan senyum kemenangannya.

“Mashita. Kau memang tidak pernah gagal, Wu Yi Fan-ssi.”

“Khamsahamnida, Nona Choi.” Balasnya dan mulai memakan buburnya. Untuk beberapa saat kami makan dalam diam. Sesekali ia menyodorkan beberapa lauk yang ada di meja. Wu Yi Fan, entahlah. Aku merasa dia memang selalu memberikan apa yang bahkan sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan. Selalu seperti itu bahkan sejak kami masih kuliah di Kanada. Bertiga dengan Kyuhyun, tentu saja.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?”

“Hhhmm.. aku rasa aku ingin bersantai saja seharian. Beberapa file yang akan kita gunakan untuk tiga hari kedepan sudah kuselesaikan kemarin. Bagaimana denganmu?”

“Ikutlah denganku hari ini.”

“Kemana?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Kalau aku menolak?”

“Kau tidak akan menolak.”

Aku mencibir lagi sedangkan ia tertawa pelan dan kulihat ia –yang telah menyelesaikan makannya- meletakkan sendoknya. Ia bersandar di kursinya dan melipat kedua lengannya sambil memandangku tajam. Aku mengerutkan dahi karena sikapnya dan ikut meletakkan sendokku.

“Apa arti dari sorot mata itu?” tanyaku langsung dan ia hanya mengangguk-angguk, menambah ketidakpahamanku.

“Ayo jalan-jalan.”

“De?”

“Akan sangat disayangkan jika kau hanya bermalas-malasan diapartemen hari ini. Hari ini cuacanya cerah. Ayo jalan-jalan.”

“Uhm… kemana?”

Ia terlihat berpikir sebentar lalu tersenyum jahil setelah sebelumnya ia meminum kopinya. Ia mencondongkan tubuh jangkungnya kearahku dan mendorong dahiku dengan jari telunjuknya yang panjang.

“Kau akan tahu nanti, Nona muda.” Aku mendecak kesal dan mencubit tangannya keras. Aku menjulurkan lidahku tak peduli ketika ia mengaduh kesakitan akibat cubitanku. Aku kembali duduk manis dan memakan lagi bubur di mangkukku.

“Wah.. kau sangat pintar mengatur ekspresimu bahkan setelah melakukan kekerasan seperti ini. Baiklah Nona, makanlah yang banyak. Lihat tubuhmu, kurus sekali.” Ia mencibir sambil mengusap-usap bekas cubitanku yang kemerahan. Aku mengendikkan bahuku tidak peduli dan melanjutkan acara makanku. Yah, aku memang sedikit lapar sepertinya.

= = = =

Author POV

“Sudah selesai?” Tanya Kris sambil merapikan hoodie warna kecoklatan yang melapisi kaus putih santainya. Pria itu terlihat sangat tampan walau hanya dengan pakaian seperti itu. Celana jeans hitam yang terlihat sangat pas di kaki panjangnya ia padukan dengan t-shirt putih dan ditutup dengan hoodie kecoklatan yang lengannya ia angkat hingga mendekati siku. Rambut kecoklatannya disisir sembarang, sangat berbeda dengan penampilannya yang biasa ketika pergi ke kantor, tentu saja. Hyojin mengangguk mengambil tasnya. Gadis itu juga terlihat sama santainya dengan Kris, dengan balutan terusan warna soft pink tanpa lengan dan flat shoe warna senada membuat terlihat lebih segar dari tampilan rapi dan kaku yang selalu ia tunjukkan.

“Kajja.” Ucap Kris dan menggandeng tangan Hyojin keluar dari apartemen Hyojin. Hyojin, entah kenapa merasa jantungnya berdebar saat Kris menggandengnya seperti ini. Dengan cepat Hyojin menormalkan ekspresinya agar Kris tidak menyadari perubahan ekspresinya karena, yah kalian tahu, Kris selalu bisa menebak Hyojin bukan?

*

Shanghai Happy Valley, disinilah mereka sekarang. Hyojin menatap Kris heran, sudah hampir empat tahun sejak mereka terakhir kali bermain-main di tempat seperti ini. Terakhir kali mereka pergi ke taman hiburan ketika mereka masih kuliah, di Kanada tentunya.

“Taman hiburan? Aku baru tahu ada tempat seperti ini.” Celoteh Hyojin. “Ah, permen kapas. Gege, ayo kita kesana.” Lanjutnya dengan semangat. Kris hanya menurut dan mengikutin langkah Hyojin didepannya yang berjalan dengan irama yang bisa dikatakan terburu-buru. Kris mengulum senyumnya, gadis didepannya ini masih tetap seperti dulu.

Flashback

Canada’s Wonderland

“Kita jauh-jauh dari Toronto ke Ontario hanya untuk bermain di taman hiburan?” keluh Kyuhyun. Hyojin mendengar keluhan sahabatnya itu dan mengendikkan bahunya tidak peduli sementara Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hyojin yang terlihat begitu bersemangat. Ia menyikut Kyuhyun yang masih tidak habis fikir dengan perubahan sikap Hyojin yang sekarang terlihat sangat kekanakan.

“Nikmati saja. Ini liburan musim panas.” Ucap Kris santai. Kyuhyun mengangguk dan tersenyum lebar. Bagaimanapun, tidak sepenuhnya salah jika Hyojin ‘menculik’ mereka berdua kemari. Kebetulan saat ini ia sedang jenuh dengan kegiatan dan tugas dari kampus yang terasa seperti mencekiknya. Ini liburan, bukan?

“Kalian mau berdiri seperti ini sampai kapan? Kajja! Ah, permen kapas!” seru Hyojin yang kembali menghampiri dua pria itu dan menarik mereka berdua untuk mengikutinya.

Flashback end

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya Hyojin heran sambil mengambil sedikit permen kapas dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sejenak ia tersenyum kekanakan ketika merasakan manisnya permen itu. Kris menggeleng dan menurut saja ketika Hyojin menyodorkan permen kapas padanya. Saat ini mereka sedang berada di antrian roller coaster, sebelumnya Hyojin selalu menolak jika Kris mengajaknya bermain di wahana itu dengan berbagai alasan, namun kali ini ia memutuskan untuk mencobanya. Terlebih karena ia ingin mencoba melepaskan beban yang menghimpitnya dengan berteriak.

“Kau tahu? Aku seperti melihat sosokmu empat tahun yang lalu sekarang. Choi Hyojin yang kukenal selalu bertingkah seperti ini, kekanakan dan manja.” Balas Kris enteng.

“Mwo?”

“Aku seperti melihat sosok orang lain darimu setahun belakangan ini. Syukurlah, sepertinya keputusanku membawamu kemari tepat.” Ucapnya santai sambil menepuk puncak kepala Hyojin pelan. Hyojin termenung sebentar dan kembali memandang pria didepannya dengan pandangan mengejek.

“Lalu siapa yang kau lihat selama ini hah?”

“Uhm..mungkin bisa dibilang sisi mengerikan dari seorang Choi Hyojin?”

Mendengar jawaban Kris, Hyojin kembali terdiam. Kris, yang menyadari jika ia baru saja salah bicara merutuk dalam hati. Dia tidak bermaksud untuk membuat Hyojin mengingat-ingat lagi lukanya.

“Kau benar. Mungkin yang kau lihat kemarin-kemarin adalah sisi buruk dariku. Hey tapi bisakah kau mengganti kata ‘mengerikan’ dengan kata yang lain saja? Kau membuat moodku memburuk.” Dengus Hyojin setelah menormalkan kembali ekspresinya dan menggigit permen kapasnya dengan wajah merengut. Berpura-pura sebal.

“Lalu kau ingin aku menggunakan istilah apa, Nona?” Tanya Kris. Pria tinggi ini merasa lega karena Hyojin tidak terlalu memikirkan ucapannya  barusan. Namun ia juga tidak terlalu yakin, karena bisa saja Hyojin hanya berpura-pura, seperti yang selalu ia lakukan beberapa bulan terakhir.

“Apa saja asalkan bukan kata yang itu. kau jahat sekali padaku.” Rajuk Hyojin lagi. Ia ingin menjahili pria tinggi dihadapannya ini karena sebenarnya ia sudah tidak memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Kris. tidak ada gunanya menyangkal akan hal itu karena memang seperti itulah kenyataannya bukan? Dan karena hari ini Kris mengajaknya kemari, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bersenang-senang dan melupakan semua masalahnya.

“Mianhae, Nona Manja. Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu, sebagai permintaan maaf.”

“Jinjja?”

“Hmm.”

“OK. Pastikan kau tidak menyesal akan hal ini, Tuan Wu.”

Hyojin berjalan mendahului Kris karena saatnya untuk giliran mereka menaiki roller coaster sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia melangkah dengan langkah ringan dengan masih tersenyum lebar, tanpa ia ketahui, Kris juga tersenyum dibelakangnya. Gadis ini sudah lebih baik, pikirnya.

= = = =

“Aaaaahh..kenyang sekali.” Seru Hyojin sambil meletakkan sumpitnya. Saat ini mereka sedang berada di restoran didaerah Shanghai Bund. Setelah berjalan-jalan dan menikmati berbagai wahana yang ada di Shanghai Happy Valley dan juga menikmati sirkus dari Beijing, tak terasa Kris dan Hyojin menghabiskan waktu hampir seharian. Kris merasa puas karena hari ini Hyojin benar-benar terlihat senang dan menjadi dirinya, bukan seseorang yang selalu menyembunyikan perasaannya selama beberapa bulan terakhir. Kris tersenyum sambil menikmati minumannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah gadis didepannya ini.

“Lihatlah dirimu. Gadis apa yang makan sebanyak itu?”

“Waeyo? Untuk apa menahan diri kalau merasa lapar?”

Gained weight. Tidakkah kau khawatir akan hal itu? Kebanyakan wanita sangat mengkhawatirkan hal itu.”

“Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Karena aku ini keajaiban hidup. Sebanyak apapun aku makan, tidak akan ada pengaruhnya.” Ucap Hyojin sekenanya. Kris mengangguk-angguk mengiyakan. Yah selain karena tidak ada gunanya berdebat dengan gadis cerewet dihadapannya ini, ia membenarkan jika apa yang dikatakan Hyojin benar.

“Masih jam 8. Setelah ini kita kemana?” Tanya Hyojin sambil menikmati dessertnya sambil memainkan ponselnya, memeriksa apakah ada email penting yang masuk. Kris yang melihat hal itu mengambil ponsel ditangan Hyojin dan memasukkannya kedalam saku jaketnya.

“Yak. Kembalikan.” Protes Hyojin yang tidak dihiraukan oleh Kris. Kris mengambil sepotong cheese cake dipiring Hyojin dan menyuapinya agar gadis itu menghentikan usahanya untuk mengambil kembali ponselnya.

“Jauhkan dirimu dari urusan kantor setidaknya hingga hari ini berakhir. Saat ini kau sedang bersamaku sebagai Choi Hyojin, bukan Direktur Choi. Arra?” ucap Kris sambil mengacak rambut Hyojin gemas. Hyojin menggembungkan pipanya dan mengunyah cheese cake-nya dengan kesal. Kris hanya terkikik pelan dan menyeka remah-remah cheese cake yang belepotan dibibir Hyojin yang masih mengunyah cheese cake-nya.

“Selesaikan makanmu, Nona. Kau menyukai pemandangan malam kan? Aku memiliki satu tempat lagi yang aku yakin kau suka.”

“Jinjja? Jinjja? Jinjja? Aku sudah selesai. Kajja.”

“Kau ini tidak sabaran sekali. Tunggu sebentar.” Ucap Kris geli lalu memanggil pelayan dan meminta bill dan membayar. Setelah itu mereka keluar dari restoran itu menuju tempat yang ingin Kris tunjukkan dengan langkah ringan.

=

Sightseeing Tunnel??” Tanya Hyojin dengan ekspresi tidak percaya dan hanya dibalas dengan anggukan dari Kris.

“Bukankah kau sangat ingin kemari dan mencobanya?”

“Ne. aku sangat ingin kesini tapi tidak ada waktu. Urusan kantor benar-benar membunuhku.”

“Bukankah kau sendiri yang menyibukkan diri dengan semua urusan itu?” sindir Kris. Hyojin mencibir pelan dan menarik tangan Kris agar segera pergi menuju ticket booth. Selama mengantri tiket, Kris memperhatikan ekspresi wajah Hyojin. lagi-lagi ia tersenyum puas karena berhasil membuat Hyojin merasa senang dan melupakan Kyuhyun, walau mungkin hanya hari ini. Tapi setidaknya ia telah berhasil mengganti Kyuhyun dengan dirinya didalam pikiran Hyojin untuk hari ini, bukan?

“Kau suka?” Tanya Kris pada Hyojin yang sibuk menikmati pemandangan dari tunnel yang sedang mereka naiki. Tidak terlalu banyak orang dalam tunnel itu, hanya mereka berdua dan dua pasangan paruh baya yang juga sibuk menikmati pemandangan Shanghai dimalam hari.

“Tentu saja. Kau lihat lampu-lampu itu? terlihat sangat indah dari atas sini. Kerlap-kerlip lampu dari tiap bangunan terlihat indah. Walaupun kita tidak mengetahui bagaimana keadaan didalam bangunan itu. entah penghuninya sedang berbahagia atau bersedih. Semua yang terlihat dari sini begitu sama, indah.” Ucap Hyojin dengan pandangan yang masih menatap keadaan Kota Shanghai dimalam hari. Kris menoleh kearah Hyojin dan menatap Hyojin namun tetap terdiam, menunggu Hyojin melanjutkan kalimatnya.

“Aku juga ingin terlihat seperti itu. Aku ingin terlihat selalu dalam keadaan yang baik-baik saja dari luar. Orang-orang tidak perlu tahu apa yang sedang aku rasakan, baik aku sedang merasa bahagia atau sedih. Karena aku tidak menyukai kepedulian palsu dari orang-orang yang hanya berpura-pura peduli dengan kondisi hatiku sedangkan dibelakangku mereka mentertawakanku.” Lanjut Hyojin sambil tersenyum dan menoleh kearah Kris dan tersenyum ketika pandangan mereka bertemu.

“Tapi aku tahu  dan percaya kau tidak termasuk dalam orang-orang yang hanya pura-pura peduli padaku. Kris gege, kau selalu ada untukku. Kau selalu berada dipihakku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana jika aku sendirian disaat aku memutuskan untuk melepaskan Kyuhyun. Aku..” Kalimat Hyojin terputus karena Kris menariknya kedalam pelukannya. Hyojin terdiam sejenak sebelum membalas pelukan Kris. untuk beberapa saat mereka hanya berpelukan, tanpa dialog sama sekali.

“Gomawo.” Ucap Hyojin pelan.

“Kau menyembunyikannya dengan baik dihadapan orang-orang. Kau berhasil menunjukkan pada semua orang jika kau baik-baik saja, walaupun aku tahu itu bukanlah yang sebenarnya. Bolehkah aku meminta sesuatu darimu, Hyojin-ah?” Kris berkata lembut sambil mengelus kepala Hyojin pelan, masih memeluknya. Ia dapat merasakan Hyojin mengangguk dalam pelukannya.

“Sekeras apapun kau menyembunyikan sesuatu dari orang lain, aku tidak ingin berada dalam golongan itu. Kau boleh menyembunyikan kondisimu pada orang lain, tapi tidak denganku. Kau masih memiliki aku. Kau bisa menceritakan apapun padaku. Berhenti menangis sendirian. Kau membuatku terluka jika kau melakukan hal-hal itu padaku. Aku tidak menyukai kau yang menangis sendirian di atap setiap malam.” Ucap Kris lembut namun penuh penekanan. Hyojin lagi-lagi hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Entah sejak kapan, ia merasa nyaman jika Kris memeluknya atau hanya berada disampingnya.

“Satu lagi. tidakkah kau mulai berpikir untuk memulai lembaran baru denganku? Tidakkah kau mulai melihat kearahku? Bolehkah jika aku meminta kau mengeluarkan Kyuhyun dari hatimu dan mulai memikirkanku?” tambah Kris lagi. Ia melonggarkan pelukannya dan mempertemukan tatapan mereka berdua. Hyojin terpaku ditempatnya dengan masih memandang kedalam manik mata Kris. Ia memang sudah menduga hal seperti ini akan tiba, tapi tidak sekarang. Kris yang menangkap keterkejutan itu dari ekspresi Hyojin kemudian tersenyum lembut dan mencium dahi Hyojin.

“Apa ini begitu mengejutkanmu? Mianhae, tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lebih lama lagi. Dan…aku hanya ingin kau menghentikan kesedihanmu dan berbahagia bersamaku. aku ingin kau menyimpan Kyuhyun sebagai orang yang pernah kau cintai dan mulai membuka hatimu untuk cinta yang lain, dan kau punya satu kandidat disini.” Kris mencubit gemas pipi Hyojin. Hyojin merasakan pipinya memanas dan ia yakin pasti ada semburat merah yang muncul dipipinya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat setelah mendengar pernyataan Kris. ia masih menatap Kris dengan ekspresi yang sama dengan sebelumnya membuat Kris tertawa geli dan kembali menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“Kau lucu sekali ketika sedang kehabisan kata-kata seperti ini, Hyojin-ah. Biasanya kau selalu cerewet.”

“Kau mengejutkanku dan membuatku seperti gadis bodoh.” Gumam Hyojin dalam pelukan Kris. Kris mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Hyojin sayang sambil tersenyum geli. Ia merasa sedikit lega karena setidaknya ia bisa mengutarakan perasaannya pada gadis ini dan respon darinya bukanlah reaksi yang buruk.

“Keurae. Akan kupertimbangkan. Selama itu, lakukan apa saja yang memungkinkan aku untuk benar-benar berpaling dari Kyuhyun dan memilihmu, Gege.”

“Tentu saja. Dan kupastikan kau tidak akan menyesal memilihku nantinya, Hyojin-ssi.”

= = = =

Kris POV

Aku tersenyum lagi, entah untuk keberapa kalinya malam ini setelah mengantarkan Hyojin ke apartemennya. Aku memastikan lagi apakah aku tidak bermimpi saat ini. Hyojin, gadis bodoh dan manja itu akhirnya mulai membuka hatinya untukku. Aku tersenyum lagi, apakah aku terlihat seperti remaja umur belasan yang baru saja jatuh cinta? Aku tidak peduli, yang aku tahu dan yang pasti sekarang aku yakin jika aku bisa membuatnya kembali tersenyum tulus seperti dulu dan mungkin saja persahabatan kami bertiga bisa kembali seperti semula ketika kami masih di Kanada bukan?

Hyojin-ah, aku tidak akan mengeluarkan Kyuhyun dari dalam hatimu. Aku hanya akan membuatmu menyimpannya dan mengenangnya. Merelakannya bersama wanita yang benar-benar dicintainya adalah hal terbaik yang seharusnya kau lakukan sejak dulu. Sudah saatnya kau membuka hatimu dan mencoba melupakan rasa sakit itu. Kau juga berhak untuk dicintai.

= = = =

Kau tahu aku tidak bisa makan sendirian. 12.30 di restaurant biasa.

Aku tersenyum setelah membaca pesan dari Hyojin yang tertera di layar ponselku. Sudah sebulan sejak hari dimana aku memintanya untuk mulai membuka hatinya untukku dan hingga saat ini hubunganku dengan Hyojin semakin dekat. Dekat dalam artian yang lebih dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia hanya memandangku sebagai sahabatnya, kini aku bisa merasakan jika ia mulai melihatku sebagai pria. Hal itu tentu saja membuatku senang, setidaknya ia mempertimbangkan perasaanku dan mencoba untuk move on dari Kyuhyun. bisa dibilang, kami mulai berkencan sekarang.

Flashback

Aku melihatnya lagi. melihat gadis itu memandang dengan pikiran yang sama sekali tidak bisa kutebak kearah Kyuhyun. Selalu seperti ini. Gadis ini benar-benar telah dibutakan oleh Kyuhyun. Aku tahu ia kembali ke Korea untuk mengejar Kyuhyun dan aku sama sekali tidak mengetahui jika akan bertemu dengan keduanya dipertemuan mengenai Amusement Park ini. Pertemuan bisnis telah selesai sejak setengah jam yang lalu dan saat ini kami sedang makan malam bertiga. Cara Hyojin memandangya Kyuhyun masih tetap sama, masih tatapan kekaguman dan sarat dengan keinginannya untuk memiliki. Aku berdehem dan Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari ponselnya dan Hyojin, masih tetap enggan mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan kalian lagi seperti ini. Tadinya memang aku merasa kenal dengan perwakilan dari korea, tapi aku tidak benar-benar menyangka itu benar kalian.” Ucapku sambil terkekeh dan meneguk wine di hadapanku. Hyojin menoleh kearahku dan tersenyum kekanakan.

“Kris! banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Kau harus menyediakan sehari penuh untuk mendengar ceritaku.” Ucapnya dengan manja.  Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Aku bisa langsung menebak apa yang akan ia ceritakan pastinya tentang Kyuhyun, dan juga gadis yang memenuhi relung hati Kyuhyun dan tidak menyisakan sedikitpun untuk Hyojin masuk. Aku yakin Hyojin sudah bertemu dengan gadis itu.

“Kapan aku pernah tidak meluangkan waktu untukmu, Nona Choi” Jawabku sambil terkekeh pelan.

*

Dan seperti yang sudah kuperkirakan sebelumnya, sebegain besar yang ia ceritakan padaku tentang Kyuhyun. Dan juga gadis itu, Kang Minji. Gadis yang memiliki hati Cho Kyuhyun, gadis yang membuat Hyojin tidak bisa memiliki Kyuhyun karena Kyuhyun sama sekali tidak menyisakan sedikitpun tempat di hatinya untuk orang lain dan hanya diperuntukkan untuk gadis itu. aku bisa merasakan kebencian dari diri Hyojin ketika ia membicarakan gadis itu, aku mendengarkan ceritanya, seperti biasa dan sesekali mennimpali ceritanya hingga aku mengucapkan sesuatu tanpa kusadari karena aku juga terlarut dalam pikiranku sendiri.

“Bagaimana jika di dunia ini ada seseorang yang sangat membenci Kyuhyun karena membuatmu begitu terobsesi padanya?” Tanyaku tanpa sadar. Mungkin aku lelah, lelah melihat Hyojin selalu mengejar-ngejar Kyuhyun dan berusaha untuk membuat Kyuhyun membalas perasaannya. Aku tahu pasti jika hal itu mendekati mustahil untuk menjadi kenyataan. Dan aku tidak ingin ia terluka lebih dari ini. Aku sudah cukup sering melihat sorot matanya yang terluka ketika Kyuhyun bersikap dingin padanya, mengacuhkannya atau bahkan segera pergi ketika melihat Hyojin yang berjalan kearah kami ketika kami masih di Kanada. Dan aku tidak ingin melihatnya menangis seperti saat Kyuhyun kembali ke Korea secara tiba-tiba tanpa memberitahu kami yang notabene adalah teman ‘terdekatnya’ disana. Aku tidak menyukai bagaimana Kyuhyun bersikap pada Hyojin, meskipun aku tahu Kyuhyun melakukannya untuk membuat gadis itu melupakan perasaannya dan mempertahankan pertemanan diantara mereka. Dan aku sama sekali tidak bisa menyalahkan Kyuhyun sepenuhnya akan hal ini.

“Maksudmu?”

“Aku hanya heran dengan cara berpikirmu uang kurasa…cukup egois. Ternyata keinginanmu semakin besar setelah kembali ke Seoul hingga membuatmu sampai pada tahap ini.” Jawabku sambil tersenyum lemah.

“Kau tahu pasti, aku tidak mungkin berhenti sebelum mendapatkan keinginanku. Gege, apakah aku Nampak begitu terobsesi saat ini?” Tanyanya sambil memeluk bantal sofa apartemenku. Aku memandangnya dalam.

Ya, kau begitu terobsesi sekarang. Dan itu membuatku semakin takut jika kau nantinya akan terluka jika kau benar-benar tidak dapat mendapatkannya.

Flashback end

Aku tersentak dari lamunanku ketika mendengar ketukan di pintu ruanganku dan mendapati sekretarisku masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat. ia meletakkan amplop itu dihadapanku lalu kembali ke mejanya di depan ruanganku setelah membungkuk hormat. Aku membaca alamat pengirim yang tertera di amplop itu, bukankah ini alamat rumah Kyuhyun di Korea? Aku membuka amplop itu dengan tak sabar dan sedetik kemudian aku termangu ketika mengetahui apa yang terdapat didalam amplop itu. Undangan. Undangan pernikahan dengan nama Kyuhyun dan Minji. Tanpa berpikir dua kali aku bangkit dari dudukku dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Hyojin. Di amplop yang kuterima hanya terdapat namaku dan aku yakin Hyojin menerima amplop yang sama. Hanya saja aku tidak ingin ia melihat undangan itu, setidaknya untuk sekarang. Aku membuka pintu ruangannya –mungkin agak kasar saking terburu-burunya- dan aku melihat ia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya dengan sebuah dokumen ditangannya membuatku menghembuskan nafas lega.

“Ada apa denganmu? Dan aku rasa kau sangat tahu istilah ‘mengetuk pintu sebelum masuk’ kan?” ucapnya keheranan dengan tingkahku.

“Maafkan aku, tadinya ada sesuatu yang harus kupastikan…” kalimatku terputus ketika melihat undangan itu berada di samping kanan Hyojin, dengan kondisi yang aku yakin Hyojin sudah membacanya. Aku terpaku sejenak dan menatap undangan itu dengan pandangan kosong, sepertinya aku sedikit terlambat. Hyojin mengikuti arah pandangku kemudian ia tahu jika aku memandang undangan berwarna merah marun itu. Ia meletakkan dokumen ditangannya dan mengambil undangan itu dan membukanya. Kulihat ia tersenyum ketika membaca isi dari undangan itu, tapi aku tahu itu bukan senyumnya yang sebenarnya.

“Aku baru saja mendapatkan ini. Dan aku yakin kau juga mendapatkannya. Sepertinya aku tahu apa yang membuatmu terburu-buru kemari.”

“Tadinya aku ingin memastikan jika kau belum membaca undangan itu.”

“Kenapa? Hey, ini undangan pernikahan Kyuhyun. kenapa aku tidak boleh membacanya? Lagipula ini untukku.” Ucapnya sambil tersenyum geli. Dan lagi-lagi aku tahu pasti, ia berpura-pura.

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku pendek sambil menatapnya tajam. Sepertinya ia tahu kalau aku tidak mempercayai ekspresinya dan ia mengalihkan pandangannya dariku. Ia berdehem dan aku masih memperhatikan ekspresinya. Ia melirik arlojinya dan memandangku.

“Kurasa karena kau sudah disini bagaimana kalau kita pergi sekarang? Sepertinya aku lapar.” Ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan meraih tasnya. Aku menghela nafas panjang, gadis ini menghindar lagi dan aku hanya bisa mengikuti apa langkahnya hingga ia terbuka padaku nantinya.

“Baiklah. Aku akan mengambil ponselku dulu.”

“Ne.”

*

Aku memandangnya yang sedang mengaduk-aduk makanannya tanpa selera sejak tadi tanpa sedikitpun memakannya. Aku mengambil sendok ditangannya dan mengambil sedikit makanan itu dan menyodorkannya kearahnya. Ia menatapku sejenak sementara aku mengendikkan daguku untuk meminta ia membuka mulutnya untuk memakannya. Ia masih terdiam dan aku masih tetap dalam posisiku hingga pada akhirnya ia menggeleng dan menepis tanganku pelan.

“Pretending to be okay but actually you’re not.” Ucapku pendek.

“Obvious huh?” balasnya dengan tersenyum lemah. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya, mencoba menguatkan dirinya.

“Aku tahu hal ini pasti akan datang. Aku hanya terkejut.”

“Aku mengerti. Dan aku tidak bisa melarangmu untuk memikirkannya.” Ucapku sambil mengambil kembali sendoknya dan kembali mencoba menyuapinya, kali ini ia tidak menolak. Ia mengunyah makanannya pelan lalu mengambil sendok yang berada ditanganku dan mulai memakan makanannya perlahan.

“Kau tidak perlu datang jika kau tidak ingin.” Gerakan tangannya berhenti sejenak, hanya sebentar karena ia kembali melanjutkan makannya dan aku masih menatapnya, menunggu tanggapannya.

“Aniyo. Aku akan datang.”

“Hyojin-ah…”

“Kyuhyun temanku juga. Dia mengundangku. Bagaimana mungkin aku tidak menghadiri pernikahannya? Aku akan menjadi teman yang sangat buruk. Bagaimana nanti jika ia tidak ingin menghadiri pernikahanku karena aku tidak hadir di pernikahannya? Lagipula sepertinya aku merindukan rumah.” Ia menyahut bahkan sebelum aku menyelesaikan perkataanku.

“Aku akan menemanimu.”

That’s great. Ah, kita harus mencari kado pernikahan untuk mereka. Menurutmu apa yang kira-kira cocok kuberikan untuknya sebagai kado pernikahan?” ucapnya lagi dengan bersemangat, terlalu bersemangat dan aku tahu, itu bukanlah yang sebenarnya.

“Keurae. Let’s do it then.” Ucapku akhirnya. Ia tersenyum, kali ini bukan senyumnya ketika ia berpura-pura tegar seperti biasa, terlihat seperti…berterima kasih. Entahlah, kali ini aku tidak bisa menebaknya. Aku membalas senyumnya dan memanggil pelayan untuk meminta bill setelah kulihat ia meletakkan sendok dan sumpitnya.

Author POV

“Kris..” panggil Hyojin dan menahan tangan Kris yang  hendak beranjak dari ruangan Hyojin untuk kembali keruangannya.

“Hm?”

“Mianhae.”

“Untuk apa?”

“Kupikir aku melukai perasaanmu lagi saat ini. Dengan sikapku yang seperti ini, aku rasa..”

“Tidak apa-apa. Justru aku langsung menemuimu karena aku khawatir kau menjadi down. Tapi syukurlah, kekhawatiranku tidak terjadi.” Kris menyela perkataan Hyojin sebelum ia selesai berbicara, Kris tidak menyukai ketika Hyojin merasa bersalah padanya, walaupun sebagian kecil hatinya senang. Setidaknya kini Hyojin menyadari perasaan Kris dan memikirkannya. Setidaknya.

“Kau selalu mengatakan bahwa kau baik-baik saja. Aku tidak menyukainya, bisakah kau sesekali bersikap egois dan mengatakan bagaimana sebenarnya perasaanmu. Berhentilah untuk menomor-duakan perasaanmu. Berhentilah membuatku merasa bersalah padamu, kau fikir..”ucapan Hyojin terhenti ketika Kris menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. hanya sebuah kecupan singkat. Hyojin termangu ketika Kris tersenyum dan mengacak rambutnya pelan, semburat kemerahan terlihat di pipi gadis itu.

“Gomawo.”

“N..ne?”

“Untuk memikirkan perasaanku.”

“Uhm…eo.” Jawab Hyojin gugup, semburat kemerahan di pipinya makin terlihat jelas dan Kris menyadarinya. Kris menyadari gadis dihadapannya sedang gugup dan ia merasa gemas dengan tingkahnya. Ia terkikik dan meraih pipi Hyojin dan membuat pandangan mereka bertemu.

“Sayangnya aku tidak ingin bersikap egois dan mengutamakan perasaanku. bukankah lebih baik jika kau merasa bersalah padaku? bukankah hal itu membuatmu lebih banyak memikirkanku?” ucap Kris jahil sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Hyojin mengerang pelan dan melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil merengut.

“Aku serius.”

“Aku juga.”

“Kris, aku tidak menyukainya.”

“Tapi aku menyukaimu.”

Hening. Untuk pertama kalinya Hyojin kalah dalam debatnya bersama Kris. ia speechless dan terdiam cukup lama sementara Kris masih menatapnya intens. Kris tergelak dan mengacak pelan rambut Hyojin –lagi- sebelum ia berbalik dan mulai berjalan keluar dari ruangan Hyojin.

“Ah… tentang yang terakhir itu. Aku juga serius. Sampai nanti, Hyojin-ah.” Ucap Kris sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu. meninggalkan Hyojin yang terdiam namun pandangan matanya terus mengikuti kemana arah Kris berjalan dan berakhir pada pintu setelah Kris benar-benar keluar dari ruangannya. Ia menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Kris dan merapikannya kembali. Seulas senyum muncul di wajah cantiknya dan ia merasa hatinya menghangat.

“Aku tahu kau serius, Bodoh.” Gumamnya dengan masih tersenyum.

= = = =

“Bagaimana menurutmu? Bagus bukan?” Hyojin menatap Kris yang sedang menilai ‘hadiah’ yang baru saja ia bawa dari apartemennya. Gadis itu menghabiskan hampir seharian untuk berkeliling mall dan toko-toko souvenir untuk mencarikan kado yang akan dibawanya ke Seoul esok. Kris menilai pramodel sepasang pohon dari Kristal ditangannya dan memandang Hyojin dengan padangan bertanya.

“Kenapa pohon dan bukannya sepasang merpati, atau angsa?” Tanya Kris sambil meletakkan benda itu keatas meja di ruang tamunya. Hyojin mendecak pelan dan melemparkan pandangan –kau-tahu-itu-terlalu-biasa- pada Kris.

“Gege, sepasang pohon ini memiliki deskripsi tersendiri. ini mewakili mereka berdua.”

“Dari segi apanya?” Tanya Kris lagi, masih belum puas dengan jawaban Hyojin.

“Pohon ini, sekuat apapun angin bertiup padanya, ia tetap berdiri disana. Tetap bertahan. Bukankah mereka berdua juga seperti itu? sekuat dan seperti apapun usahaku untuk memisahkan mereka dan mencoba meruntuhkan pertahanan keduanya, mereka tetap kuat dan pada akhirnya aku yang kalah.” Ucap Hyojin sambil tersenyum dan menatap kerajinan Kristal itu.

“Dan salah satu angin yang menerpa mereka dan mencoba meruntuhkan mereka itu aku. namun pada akhirnya, angin hanya berlalu kan? Mungkin ia meninggalkan sesuatu sebagai jejak keberadaannya, seperti ranting yang patah atau lainnya. Tapi intinya pohon utama tetap disana, bertahan.” Lanjut Hyojin lagi. Kris yang duduk disebelahnya mendekatkan dirinya pada Hyojin dan merangkul bahu gadis itu.

“Kau..terdengar puitis. Tapi sepertinya masuk akal.” Ucap Kris. ia menarik kepala Hyojin agar bersandar dibahunya dan mengelus kepala Hyojin pelan.

“Aku harap Kyuhyun menyukainya, begitu pula Minji.”

“Mereka akan menyukainya. Bukankah seleramu tidak pernah jelek? Lagipula ini hadiah yang kau berikan dengan sungguh-sungguh bukan? Kau bahkan menghilang seharian demi mencari hadiah ini padahal sebelumnya kau bilang ingin mencari bersama.” Ucap Kris. Hyojin bangkit dari posisi bersandarnya dan menatap Kris malas.

“Aku akan mencoba menghancurkan pernikahan mereka jika mereka tidak menyukainya.” Ucap Hyojin sambil tersenyum jahil. “Dan bagaimana bisa aku mengajakmu untuk menemaniku mencari hadiah jika kau terlalu sibuk dengan urusan kantor? Kau bahkan tidak menemaniku makan siang sejak kemarin.” Sungut Hyojin lagi, membuat Kris tergelak ditempatnya dan kembali merangkul Hyojin.

“Jangan coba-coba mengganggu mereka lagi, Nona Choi. Kali ini aku akan mengurungmu disini agar kau tidak mengganggu Kyuhyun. Dan soal makan siang, mianhae. Aku akan menebusnya.”

“Aku bercanda. Bukankah aku sudah menyerah akan Kyuhyun?”

“Aku tahu. Dan untuk apa kau terus menerus mengejar Kyuhyun jika kau memiliki aku. Wu Yi Fan yang lebih tinggi dan tampan dari Kyuhyun?” Ucap Kris sambil menyeringai sementara Hyojin memutar bola matanya malas.

“Narsis sekali. Cho Kyuhyun lebih tampan dan suaranya lebih bagus daripada suara Wu Yi Fan.”

“Hei..apa pantas memuji pria lain didepan kekasihmu? Apalagi pria itu tiga hari lagi akan menikah.”

“Masih ada waktu tiga hari hingga ia menjadi suami orang dan meskipun ia sudah menikah aku tetap masih bisa memujinya sesuka hatiku. Apa kau cemburu? Kekanakan sekali.”

“Kekanakan?” Tanya Kris pura-pura sebal lalu menggelitiki Hyojin dan gadis itu yang sama sekali tidak menyangka Kris akan menggeletikinya menjerit dan berusaha menghentikan pria itu. Usaha Hyojin tidak berbuah hasil karena Kris masih terus menggelitikinya sambil tertawa puas.

“Kris, hentikan. Ini geli sekali, please?” mohon Hyojin dengan tangan yang masih mencoba menghalangi Kris. Kris menghentikan tangannya dan tersenyum penuh kemenangan.

“Hanya karena kau memohon, Nona.” Ucap Kris lalu menarik Hyojin kedalam dekapannya, memeluk gadis itu dari belakang dan menyandarkan dagunya dibahu Hyojin, menghirup aroma shampoo gadis itu dan memejamkan matanya. Hyojin terpaku sejenak sebelum pada akhirnya ia membiarkan Kris memeluknya.

“Biarkan seperti ini. Aku sangat ingin melakukannya sejak lama. Tidak apa?” gumam Kris dengan masih terpejam. Hyojin hanya bisa mengangguk dan ia merasakan Kris yang mengeratkan pelukannya.

“Kris, apa kau tertidur?” Tanya Hyojin pelan setelah beberapa menit mereka hanya terdiam. Kris menggeleng. Hyojin menghela napasnya panjang dan menatap tangan Kris yang memeluk pinggangnya.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Hyojin lagi dan dijawab dengan anggukan Kris.

“Sejak kapan kau menyukaiku?”

“Sejak kita di Kanada.” Jawab Kris ringan.

“Artinya selama ini kau menyembunyikan perasaanmu dari semua orang? Dan kau selalu tahu apa saja yang kulakukan dan kau selalu berpihak padaku.” ucap Hyojin pelan. Kris membuka matanya dan tersenyum namun tidak merubah posisinya.

“Tidak juga. Ibuku mengetahuinya. Apa kau tahu kenapa Ayahku memberikan tanggung jawab akan proyek Amusement Park ini tahun lalu padaku? itu karena ibuku yang mendesak Ayahku untuk memberikannya padaku karena ia tahu kau terlibat dalam proyek itu.” Ucap Kris sambil tersenyum, mengingat bagaimana bersemangatnya ibunya jika ia menceritakan Hyojin padanya dan bagaimana reaksi ibunya ketika Ayahnya mengabulkan keinginannya agar Kris mewakilinya dalam proyek itu. Hyojin terdiam, ia merasa buruk pada dirinya sendiri, lagi.

“Maaf.”

“Tidak perlu. Bukankah sekarang kau sudah mengetahuinya. Dan aku sudah bisa menyebutmu sebagai pacarku jika orang bertanya apa hubungan kita. Kau bahkan sudah mulai membuka hatimu untukku. Aku tidak perlu mengingat-ngingat lagi memori-memori menyebalkan saat kau masih mengejar-ngejar Kyuhyun.” Kris mengerucutkan bibirnya ketika menyelesaikan ucapannya namun tidak bisa dilihat oleh Hyojin.

“Saat aku melihat Kyuhyun menciummu 2 tahun lalu di klub, rasanya aku ingin sekali memukul Kyuhyun saat itu juga.” Sungut Kris lagi. Hyojin menoleh kearah Kris namun hanya dapat melihat sisi samping dari wajah Kris yang masih menyandarkan dagunya di bahunya.

“Kau…mellihatnya?”

“Saat itu aku melihatmu masuk dari lantai dansa dan aku berpikir untuk menghampirimu . Dan aku melihatnya menciummu.”

“Saat itu ia mengiraku adalah Minji.” Gumam Hyojin lagi.

“Aku tahu. Ah tapi itu sudah berlalu jadi biarkan saja. Anggap saja itu kenangan ‘manis’ dari Kyuhyun untukmu. Apa kau senang saat itu?” Tanya Kris jahil. Hyojin mengerucutkan bibirnya dan mencubit pinggang Kris pelan. Kris terkikik pelan dan kembali memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya.

“Kau menyebalkan, Kevin Li.”

“Jangan memanggilku dengan nama itu, Nona menyebalkan.” Ucap Kris sambil merengut.

“Kevin..” goda Hyojin lagi.

“Kau menyebalkan sekali.” Sungut Kris.

“Tapi kau menyukaiku.” Balas Hyojin. Kris membuka matanya dan mengangkat kepalanya dari bahu Hyojin. Hyojin yang merasakan Kris tidak lagi bersandar dibahunya menoleh kearah Kris dan sedetik kemudian ia merasakan bibir Kris menyentuh bibirnya sekilas. Kris tersenyum dan kembali memeluk Hyojin dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.

“Ya..aku memang menyukaimu. Dan harusnya kau juga sudah menyukaiku sekarang.” Gumam Kris. hyojin terdiam sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum dan mengangguk.

“Aku rasa…ya.” Ucap Hyojin sambil menggenggam tangan Kris yang memeluknya.

“Gomawo.” Ucap Kris pelan. Hyojin hanya mengangguk dan ia merasakan hatinya menghangat. Ya, kini ia bisa memastikan perasaannya pada Kris. ia menyukai pria yang sedang memeluknya, dan ia membutuhkan pria ini. Lebih dari ia membutuhkan Kyuhyun tempo hari.

Seoul

Kyuhyun memandang wajah gadis didepannya dan mengabaikan makanan didepannya. Gadis yang dua hari lagi akan menjadi istrinya. Gadis itu, Minji, yang merasa Kyuhyun menatapnya sejak tadi meletakkan garpunya dan melipat kedua tangannya diatas meja makan dan membalas tatapan Kyuhyun dengan tatapan bertanya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Minji dan Kyuhyun hanya menggeleng dengan masih tersenyum. Minji mengerutkan dahinya tidak mengerti namun tidak ingin bertanya lagi, ia memilih mengambil cermin kecil didalam tasnya dan ingin memeriksa apa ada hal aneh dari wajahnya namun sebelum ia berhasil melihat bayangannya di cermin itu, Kyuhyun merebut cermin itu dari tangannya dan meletakkannya di meja.

“Tidak ada yang aneh dari wajahmu. Aku menyukai saat-saat aku menatapmu seperti tadi. Apa itu salah?” Ucap Kyuhyun santai dan Minji merasakan pipinya memanas dan ia yakin, pasti pipinya kemerahan sekarang.

“Eo? Pipimu memerah. Apa kau masih malu-malu padaku? Kau mengenalku selama hampir sepanjang hidupmu dan lusa kita akan menikah dan kau masih memerah seperti ini karena aku puji.” Goda Kyuhyun lagi.

“Jangan menggodaku dan makanlah pasta-mu, Tuan Narsis. Aku masih harus bertemu Hanwoo setelah ini untuk manicure. “ ucap Minji sambil mengambil garpu disamping piring Kyuhyun dan mengisyaratkan agar pria itu mengambilnya dari tangannya. Kyuhyun menurut dan mulai memakan pastanya begitupun Minji.

“Sudah kuduga ini benar-benar kalian.” Kyuhyun dan Minji menoleh kearah  suara gadis yang menghampiri meja mereka dan setelah melihat siapa yang menyapa mereka,keduanya berpandangan sebentar. Sedikit terkejut dengan kemunculan gadis dihadapan mereka dan kebetulan yang mempertemukan mereka.

“Kenapa kalian memandangku seperti itu? Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi.” ucap gadis itu sambil tertawa pelan. Hyojin. ya, gadis yang menghampiri mereka adalah Hyojin.

“Hyojin-ah, sejak kapan kau kembali ke Seoul?”

“Tadi pagi. Ah, apakah kalian keberatan jika aku duduk disini sementara aku menunggu Kris datang?” Tanya Hyojin dan tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun dan Minji yang mungkin saja keberatan akan ‘interupsi’ darinya, ia mendudukkan dirinya disalah satu dari dua kursi yang tersisa.

“Kau pulang ke Korea bersama Kris?” Tanya Kyuhyun lagi dan dijawab dengan anggukan dari Hyojin.

“Tentu. Kami pulang untuk menghadiri pernikahan seseorang.” Jawab Hyojin sambil tersenyum. Minji tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Ia bisa merasakan jika Hyojin yang kini duduk disebelahnya bukanlah Hyojin yang sama dengan tahun lalu, ketika ia masih mengeja-ngejar Kyuhyun dan menyakiti perasaannya dengan trik-triknya.

“Minji-ssi, selamat akan pernikahanmu. Dan aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan tempo hari.” Ucap Hyojin tulus. Minji mengangguk dan membalas senyum Hyojin.

“Gomawo, Hyojin-ssi. Dan bukankah kami sudah memaafkanmu sejak lama. Berhentilah meminta maaf, kami sudah tidak memikirkannya lagi. kyuhyun-ah, apa aku benar?” Tanya Minji pada Kyuhyun dan Kyuhyun mengangguk mengiyakan.

“Keurae..kalau kalian belum memaafkanku, akupun tentunya tidak akan mempunyai keberanian untuk duduk disini sekarang.” Sahut Hyojin lagi sambil tertawa pelan.

“Apakah Amusement Park di Shanghai berjalan lancar?” Tanya Kyuhyun, Hyojin menoleh kearah Kyuhyun dan mengangguk.

“Berjalan lancar. Hey, ini pertemuan pertama setelah setahun dan hal pertama yang kau tanyakan padaku adalah urusan kantor?” Sungut Hyojin.

“Keurae? kalau begitu bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Kris?”

“M..mwo?” pipi Hyojin sedikit memerah mendengar pertanyaan tiba-tiba Kyuhyun. kyuhyun yang menyadari perubahan ekspresi Hyojin, ia tersenyum tipis. Ia merasa sedikit lega, setidaknya kini perasaan gadis ini padanya telah berubah.

“Whoa..whoa..apa kalian berkencan sekarang?” Goda Kyuhyun lagi.

“Jangan menggodaku. Apa kau pikir aku akan terus bertahan menyukaimu dan melakukan hal-hal buruk lagi?” balas Hyojin. Kyuhyun dan Minji tertawa pelan mendengar jawaban Hyojin. Hyojin memutar bola matanya malas dan kemudian senyumnya terkembang begitu saja ketika melihat sosok pria tinggi yang sangat dikenalnya memasuki restaurant.

“Eo..Kris sudah tiba.” Ucap Hyojin riang dan melambaikan tangannya kearah Kris yang terlihat memandang sekeliling restaurant untuk mencari sosok Hyojin. Kris yang akhirnya melihat sosok Hyojin tersenyum lebar namun ia merasa sedikit heran karena melihat Kyuhyun dan Minji berada satu meja dengan gadis itu.

“Kyuhyun-ah. Apa kabarmu? Bagaimana kau bisa bertemu dengan Hyojin disini?” Tanya Kris seraya memeluk Kyuhyun sekilas yang sebelumnya berdiri untuk menyambut teman lamanya itu.

“Seperti yang terlihat. Tanyakan pada gadismu kenapa ia bisa menemukan kami disini.” balas Kyuhyun, Kris menoleh kearah Hyojin namun hanya ditanggapi dengan Hyojin yang mengendikan bahunya tidak peduli.

“Nanti saja reuniannya. Karena kau sudah datang. Ayo kita pergi.” Ucap Hyojin sambil bangun dari duduknya dan mengambil tasnya. Kris mengerutkan keningnya heran, bukankah mereka kemari untuk makan?

“Bukankah kau bilang ingin makan disini?”

“Tiba-tiba saja aku ingin makan yang lain. Dan biarkan calon pengantin kita menikmati waktu mereka. Kajja.” Sahut Hyojin santai dan meraih tangan Kris dan mulai menariknya untuk mengikutinya.

“Sampai jumpa dua hari lagi, Kyuhyun-ah, Minji-ssi. selamat atas pernikahan kalian.” Ucap Hyojin lagi sebelum benar-benar meninggalkan meja Kyuhyun dan Minji bersama Kris.

“Bukankah mereka terlihat sangat cocok bersama? Aku senang melihat Hyojin akhirnya bisa membuka hatinya untuk Kris.” ucap Minji ketika sosok Hyojin dan Kris menghilang dibalik pintu restaurant. Kyuhyun mengangguk mengiyakan dan menghela nafas lega.

“Aku tidak menyangka akan bertemu mereka hari ini. Dan kau benar, setidaknya aku lega sekarang. Hyojin menemukan sosok yang benar-benar ia butuhkan. Walaupun memang pesonaku masih jauh diatas Kris.” ucap Kyuhyun sambil menyeringai.

“Kau narsis sekali.”

= = = =

“Kau cantik sekali, Minji-ssi.” Minji menoleh kearah suara dan mendapati Hyojin berdiri lima meter dibelakangnya sambil tersenyum. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun resmi selutut warna peachnya dan kaki jenjangnya ditopang sepasang pump shoe warna putih yang melengkapi keindahan kakinya.

“Gomawo. Kau juga, selalu terlihat cantik.” Balas Minji. Hyojin berjalan mendekat kearahnya dan menyerahkan sebuah bingkisan warna krem yang sedari tadi di tangannya.

“Tapi tentu saja pengantin wanita adalah yang tercantik bukan? Ini hadiah pernikahan dariku dan Kris. Aku harap kalian menyukainya.” Balas Hyojin sambil mengedipkan sebelah matanya. Minji tertawa dan membuka bingkisan itu.

“Miniatur dari Kristal?” Tanya Minji dan dibalas dengan anggukan dari Hyojin.

“Benda itu ada sepasang dan aku yakin saat ini pasangannya sudah berada di tangan Kyuhyun. Seseorang memberitahuku apa makna dari miniatur pohon ini. Tapi aku tidak ingin memberitahumu. Kau bisa mencari tahu sendiri nanti.” Ucap Hyojin lagi.

“Gomawo. Kau bahkan sampai mencarikan hadiah untuk kami. Aku akan mencari tahu apa makna dari ini nanti.” Hyojin tersenyum lagi mendengar ucapan Minji.

“Anggap saja hadiah dari seorang teman. Walaupun aku melakukan banyak kesalahan di masa lalu, aku harap kalian tidak membuang hadiah dariku karena aku mengelilingi Shanghai untuk mencarinya.”

“Benarkah? Kau tidak seharusnya merepotkan dirimu.” Tanya Minji, merasa sedikit tidak enak.

“Aku bercanda, Minji-ssi. Waktunya hampir tiba, aku kedepan dulu. Aku tidak sabar untuk melihat wajah Kyuhyun yang terpana ketika melihatmu berjalan ke altar nanti.” Ucap Hyojin dan berbalik menuju pintu kamar rias pengantin. Minji mengangguk dan menggumamkan ucapan terima kasih pada Hyojin dan Hyojin menangguk. Ketika ia telah keluar dari ruangan itu, Hyojin menghela nafas panjang. Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Ia menyentuh dadanya pelan, tidak ada lagi rasa sakit disana ketika ia memikirkan Kyuhyun dan Minji. Atau mungkin rasa sakit itu masih ada, namun semakin terkikis karena ia sadar, keputusannya melepaskan Kyuhyun setahun lalu adalah keputusan tepat.

“Kau melakukan hal yang terbaik, Hyojin-ah.” Gumamnya pelan.

= = = =

“Kau lama sekali.” Ucap Kris yang sudah duduk di salah satu kursi undangan ketika Hyojin menghampirinya. Pria tinggi itu terlihat sangat tampan dengan setelan warna hitamnya yang membalut tubuhnya secara sempurna, rambut pirangnya ia tata dengan rapi.

“Wanita selalu memiliki hal-hal penting untuk dibicarakan.” Sahut Hyojin sekenanya.

Pernikahan Kyuhyun dan Minji berjalan lancar. Kyuhyun terlihat sangat tampan dengan tuxedonya dan senyum bahagia terlihat jelas baik dari Kyuhyun dan Minji. Selama pembacaan janji pernikahan, Kris sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Hyojin untuk menguatkan gadis itu. Kris masih bisa menebak jika Hyojin masih memiliki sedikit perasaan pada Kyuhyun. Gadis itu belum sepenuhnya melupakan Kyuhyun dan ia yakin jika ada bagian dari hati gadis itu yang tersakiti dengan penikahan ini. Kris masih bisa melihat bagaimana sorot mata itu belum terlihat sepenuhnya mengikhlaskan Kyuhyun walaupun gadis itu selalu tersenyum saat upacara pernikahan berlangsung dan berulang kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Kris tersenyum hambar, sedikit miris karena gadis yang dicintainya masih belum sepenuhnya melupakan orang lain dan satu-satunya hal yang dapat dilakukannya adalah menunggu.

“Kris…” panggil Hyojin. Kris menjawab panggilan Hyojin dengan berdehem, tanpa menghentikan langkahnya. Sepulang dari acara pernikahan Kyuhyun dan Minji, Hyojin menolak untuk langsung pulang dan meminta Kris menemaninya berjalan-jalan ke sungai Han.

“kali ini aku benar-benar melepaskannya dan aku sama sekali tidak akan pernah bisa mengambilnya untukku. Hhhh..sekarang aku hanya akan berfokus pada pekerjaan dan juga kau. Apa kau senang?” gumam Hyojin dan menoleh kearah Kris yang masih berjalan dengan tatapan lurus kedepan. Kris tersenyum kecil mendengar gumaman Hyojin. Hyojin terdengar lega dibandingkan sedih.

“Kau benar. Setidaknya kini posisiku aman.” Jawab Kris pendek sambil meraih tangan Hyojin dan menggenggamnya. Ia mengayunkan tangan mereka bersama sambil berjalan seperti anak kecil dan Hyojin hanya tertawa kecil, mengikuti saja ayunan tangan Kris.

“Kris, kau bukan pelarian.”

“Aku tahu.”

“Walaupun pada awalnya aku memutuskan untuk berkencan denganmu karena aku merasa bersalah padamu, tapi sekarang aku rasa perasaan bersalah itu tidak ada lagi.”

“Aku tahu.”

“Awalnya aku heran, dari sekian banyak gadis kenapa kau menyukaiku. Padahal kau tahu bagaimana buruknya sikapku demi mendapatkan apa yang kuinginkan. Kalau dipikir-pikir hal positif dariku hanya penampilan luarku saja.”

“Menyukai seseorang bukanlah pilihan, itu berasal dari dalam hati.” Ucap Kris pendek. Hyojin menoleh kearah Kris sebentar. Senyum tipis terkembang dari bibir mungilnya. Ia menghentikan langkahnya, membuat Kris menoleh kearahnya. Entah dorongan darimana, Hyojin menjinjitkan kakinya dan mengecup bibir Kris sekilas. Kris termangu ditempatnya sementara Hyojin tertawa karena melihat ekspresi terkejut Kris. bagaimana tidak, selama ini Hyojin tidak pernah menciumnya lebih dulu.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Hyojin geli. Kris menggeleng pelan dan tersenyum.

“Aniyo. Sepertinya kau tidak lagi malu-malu untuk melakukan skinship denganku.” Ucap Kris ringan sementara Hyojin merasakan pipinya memanas. Hyojin berdehem sebentar untuk menetralkan rasa gugupnya yang tiba-tiba datang dan berjalan mendahului Kris. Kris terkikik pelan dan menyusul Hyojin lalu menarik gadis itu kedalam rangkulannya.

“Hhhh..ternyata hari ini datang juga. Aku merasa benar-benar berkencan denganmu sekarang.” Hyojin menyikut perut Kris pelan sambil merengut, pura-pura sebal.

“Lalu menurutmu selama hampir dua bulan terakhir ini kita tidak berkencan? Ck..kau bahkan mengenalkanku sebagai kekasihmu kemana-mana.”

“Whoa..whoa..Princess is upset now.” Ucap Kris sambil tertawa dan mengacak rambut Hyojin pelan.

“Kau menyebalkan.” Sungut Hyojin.

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

WAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA……………

Jangan lempar saya pake batu karena endingnya seperti itu. karena saya selalu lemah dengan adegan ending hohohohoho… yang jelas Hyojin gak bakalan ganggu Kyuhyun n Minji lagi.

Kkkkkk ini salah satu side story dari Your Guardian. Kangen sama story itu n semua konfliknya. Dan entah kenapa saya kangen sama komen2 hujatan reader sekalian ke Hyojin pas jaman2 Hyojin jahatnya kebangetan itu dulu eheheheh /pasang kutek merah

i

Iklan

4 thoughts on “Your Guardian Side Story – My Guardian

  1. daebak.

    menikmati bgt dari awal sampe akhir.
    sumpah ya inilah sejatinya hyojin. sukaaaaa
    cara kris memperlakukan hyo, manjanya hyo ke kris.
    aduh. knp ya ada cowok sesabar itu? btw seandainya kyu ga punya minji, kris puny kekhawatiran donk. kris bs jd jahat ga yaaa.. aduh malaikat bgt namja ini ;______;

    adegan per adegan. waah. apalagi tiap kissing kris n hyo. romantiss. author uda liat byk ff roman nih jdnya mateng xD

    trus yg pas minta maaf itu, kle gue berasa jd outsider xD n ga nyangka respon kyu kaya gtu. ko jd kejam n jahat ._.

    filosofi pohon. waw sukaaaaa ><

    dan adegan endingnya dapet kok.
    `kris, kau bukan pelarian.`
    jleb. kepikiran kata2 ini

    aduh ff ini uda prepare dr lama. sudah sewajarnya begini xD
    good job! aduh pngn bwt sekuel gue juga kkk

    Suka

  2. ya ampun bang kris..kamu baik banget..
    komentar kyu buat kris itu loh ‘pasti berat jadi dirimu’ ya berat lah punya tampang ganteng dan baik hati..
    wu yi fan memang lebih tinggi dan lebih tampan dari kyu..tp gg ada yg ngalahin pesona kyu.

    maaf nih gg bisa ngasih komentar pedes buat hyojin yg ngangenin komentar pedesnya ttg hyojin.. kkk~~~

    setuju sama authornya, kangen sama cerita ini,sama konflik nya sama cast nya sama cerita cinta mereka!!!

    Suka

  3. Yampun jadi ini temanya Choi Hyojin yang tidak bisa move on dari Kyuhyun kalo di novelkan Indonesia wakakakakkaa.
    dan dan …

    “Kau tidak berusaha melupakannya. Kau hanya menghindar dan menyiksa dirimu sendiri dengan segala kesibukan yang berlebihan.” Sanggah Kris lagi.
    ini sebenenernya gue banget T______T Fuck.

    “Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Karena aku ini keajaiban hidup. Sebanyak apapun aku makan, tidak akan ada pengaruhnya.”
    hhhhhh… choi hyojin yang aslinya malah mau diet -.-” ini mah mencerminkan aku semua jangan-jangan kamu membayangkan aku di novel ini yaaa ^^

    kyaaaa suka banget sama mas kriiiiissss >////< disini dia sabar dan romantis. pengorbanannya itu loh. kalo aku jadi mas kriss sudah cari cewek lain aja deh daripada milih hyojin wakakaka.
    tapi disini hyojin jadi manis manja ya ^^ suka deh.
    dan aku suka hadiah pohon beserta kata2 puitisnya cho hyojin ttg kyuminji cople.
    oke good luck autthor ! terus berkarya !!!

    Suka

  4. aigo.. akhirny ada juga akhir bahagia buat hyojin n wu yi fan.
    ckckck.. akhirny hyojin mau membatalin pertunanganny dan meminta maaf ma kyuhyun dan minji.
    seneng deh hyojin bisa ngerelain kyuhyun jadi khan yi fan nda kasihan juga harus nunggu hyojin buat buka hati buat dia. 🙂

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s