[Hyuk Version] Miracle in December

shinningstar13ff

Author: Hanwoo •Cast: Lee Hyukjae – Hanwoo – Lee Sungmin – Lee Donghae • Genre : Straight – Romance • Length: Oneshoot

[Tokoh selain cast kalian bayangkan sendiri bagaimana bentuk dan rupanya,

selamat membaca !]

All Eunhyuk’s POV

Ini cerita saya dedikasikan untuk Lee Hyukjae yang bercerita mengenai kisah cintanya…

————————–

G A N G N A M, 2 6 D E S E M B E R 2 0 1 3.

Di Gereja Gangnam …

Malam yang khusyuk di tanggal 26 Desember 2013. Sebuah pintu besar berwarna cokelat yang tertutup rapat. Aku tidak berani menatap pintu besar yang menjulang tinggi melebihi tubuhku itu. Membayangkan apa yang sedang terjadi di dalamnya dan mencoba berkaca melihat apa yang sedang kulakukan di depan pintu. Walaupun aku tahu aku tidak bisa melihat diriku untuk bercermin di pintu yang bahannya terbuat dari kayu ini.

Aku hanya merasa seperti pecundang. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku menyesali semua yang telah kulakukan padanya. Malam yang hening. Kubalikkan badanku. Buket bunga yang kupegang sedari tadi sudah tidak ada artinya lagi. Aku berjalan lunglai dan tidak mengerti apa yang sedang kupikirkan sekarang.

Kini aku duduk di bangku kayu. Bunga yang kubawa tadi masih ada dalam genggamanku. Ditemani penerangan yang membuat tempat sepi ini menjadi tambah sepi. Hanya terlihat parkiran yang dipenuhi sedan hitam dan mobil-mobil berkilau milik orang-orang berada. Kutatap gereja megah itu sekali lagi. Sepasang burung merpati putih hinggap di depanku. Mereka saling tatap. Mata dari salah satu burung itu menatap burung satunya tanpa ingin melepasnya. Aku tidak tahu yang mana betina dan yang mana yang jantan. Tapi yang membuatku tertarik karena sepertinya burung-burung ini tidak mencerminkan diriku dengannya melainkan dia dengan pasangannya.

Flashback Story

———————–

S E O U L, 1 5 D e s e m b e r 2 0 1 2.

setahun yang lalu di Zyin Office..

Saat itu aku sibuk menandatangani laporan yang dibuat sekretarisku. Aku adalah salah satu General direktur di salah satu perusahaan ini. Di bawah naungan Lee Sungmin. Dialah putra pemilik saham Zyin Office. Perusahaan yang digeluti oleh dua pewaris kembar keluarga Lee. Lee Sungmin dan Lee Donghae. Mereka adalah kedua temanku sewaktu SMA.

Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Kuangkat wajahku melihat sekretarisku bersama seorang wanita yang kukenal. Sekretarisku Nampak gugup dan takut melihatku seperti aku akan memarihanya saja. Tangannya tergenggam dan gemetar.

“Mianhamnida tuan, saya sudah melarangnya..”

“Kau melarangku? Aku ini adalah adik pemilik perusahaan ini dan seseorang yang disukai Hyukjae oppa!”

Lee Hanwoo, dia telah kembali setelah lima tahun meninggalkan Korea demi pendidikannya di Amerika. Yeoja yang berbeda umur 7 tahun denganku. Yeoja yang kutahu tengah memiliki perasaan padaku. Dia terobsesi. Aku tahu dia hanya terobsesi padaku. Terobsesi yang terlalu berlebihan.

“Pergilah Junghwa.” Ujarku pada sekretarisku.

“Ne.”Kulihat sekretarisku berbalik menutup pintu. Kini hanya ada aku dan Hanwoo.

“Aku sudah mendapat gelar masterku, oppa.” Ujarnya melangkah duduk menarik kursi dihadapanku. Aku kembali menunduk mengerjakan tugas-tugasku. Tugasku sangat banyak dan aku sama sekali tidak mau diganggu olehnya. Sebenarnya aku ingin marah. Jika saja yang sedang ada dihadapanku saat ini orang lain aku akan menendangnya keluar. Namun apa daya, orang yang ada dihadapanku ini sudah kuanggap seperti adikku sendiri.

“Hmm.. Baguslah.”

“Aku harap kau datang bersama Sungmin oppa kemarin. Tapi ternyata kau tidak datang.” Ujarnya. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya sekilas.

“Aku sangat sibuk mengurus perusahaanmu. Jika perusahaanmu bangkrut kau tidak akan mendapat fasilitas mewah lagi, araseo.”

“Hmm.. Araseo oppa. Kau tidak memberiku hadiah? Kau harus memberiku hadiah!”

Beginilah Lee Hanwoo yang kukenal. Dia selalu cerewet dan pemaksa. Namun sayang aku tidak pernah menanggapinya. Itikadku sangat baik untuk tidak pernah menanggapinya. Aku namja yang sudah menikah dengan seorang yeoja yang kukenal baik setahun yang lalu. Yeoja yang sangat aku cintai namun kandas begitu saja karena setahun yang lalu istriku meninggal karena penyakit diabetesnya. Aku sangat terpukul. Istriku menyembunyikan penyakitnya dariku. Jika aku tahu seperti ini, jika aku tahu dia mempunyai penyakit diabetes aku akan mengobatinya dimanapun dokter hebat berada. Paris, Amerika, Afrika akan aku ladeni demi istriku. Besarnya rasa cintaku untuk istriku aku tidak akan mengkhianatinya namun Lee Hanwoo tidak mengerti.

Bukan hanya rasa cinta ku yang besar terhadap istriku. Ini menyangkut Lee Sungmin dan aku. Karena Sebenarnya Lee Sungmin sudah melarang Hanwoo untuk tidak menghubungiku lagi. Maka dariitu tamat SMA Hanwoo dikirimkannya ke Amerika untuk mengejar cita-citanya.

“Oppa kenapa kau tidak menjawab?” tanyanya.

“Aku sangat sibuk.”

“Kau bohong!” sahutnya tidak terima. “Tidak bisakah kau meluangkan waktu untukku? Kau berpesan disaat hari terakhirku pergi agar aku lulus dan mendapat gelar masterku. Aku berjuang mati-matian karena ucapanmu itu.” Ujarnya. Aku terdiam memikirkan perkataannya.

“Baguslah. Aku sangat senang mendengarnya.”

Kudengar dia merengek dan mulai menangis. Aku tidak berani menatapnya jika dia seperti itu. Ini akan membuatku kasihan padanya. Ya, kasihan.

“Kenapa kau begitu kejam padaku, oppa?! Jika tahu seperti ini aku tidak akan mengambil gelar masterku! Untuk apa aku mengambilnya jika aku tidak mendapatkan perlakuan baik darimu?! Padahal aku hanya ingin hadiah darimu tapi kau sama sekali tidak menanggapinya! Aku akan pergi!” ujarnya. Kulanjutkan kembali tulisanku.

“Hati-hati dijalan..” hanya itu yang kukatakan.

“Hanya itu yang kau katakan? Kau tidak mengantarku pergi sampai depan?”

“Kau ingin aku berkelahi dengan Sungmin hanya karenamu?” Aku menatap matanya sekali lagi agar dia paham bagaimana Lee Sungmin melarangnya untuk menyukaiku karena aku sudah memiliki seorang istri. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya dengan mulus. Dia menghapus air matanya dengan cepat lalu pergi dari ruanganku.

Apakah aku kejam? Aku hanya tidak ingin membuatnya semakin berharap…

“Jagiya, ireona”

Kurasakan pipiku ditepuk seseorang. Sangat lembut. Bisa dirasakan ini adalah tangan istriku. Aku bisa langsung mengenalnya. Aku terbangun kemudian menatapnya wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku. Kedua sudut bibirku tertarik. Sangat senang melihatnya lagi. Dia terlihat bersinar dengan gaun putih yang dikenakannya. Rambutnya dibiarkan digerai hanya beberapa helai di bagian depan yang diikat jadi satu. Dia terlihat seperti peri.

Istriku menarik tubuhnya terbangun dan terduduk membelakangiku. Aku terbangun lalu memeluknya. Sangat merindukan dirinya. Dia melepas pelukanku lalu membalikkan badan menghadapku. Aku tersentak ketika menyadari dia tidak menggunakan kalung yang kuberikan.

“Dimana kalungmu? Apakah hilang? Aku akan mencarinya!” ujarku hendak pergi meninggalkannya. Namun dia mencegatku lalu menggeleng.

“Aku tidak boleh memakainya lagi. Jagiya, carilah kekasih baru. Lupakan aku. Aku akan damai di duniaku dan kau juga harus bahagia di duniamu. Bagaimana aku akan damai jika kau masih memikirkanku? Bahkan sebelum kematianmu aku sudah memperingatkanmu terlebih dahulu menyuruhmu untuk mencari pasangan baru. Kenapa kau tidak menuruti perkataanku hah? Aku kesal.” ambeknya.

“Kenapa kau berbicara seperti itu? Baguslah jika kau tidak tenang maka dari itu kau akan mencariku terus.”

“Ini yang terakhir kalinya aku mencarimu lagi.. Selamat tinggal Lee Hyukjae..”

“Anio.. Jangan pergi .. Anio..”

Aku mencoba menarik tangannya namun mataku benar-benar terkejut melihat jemari tangannya menghilang perlahan-lahan seperti kayu yang dimakan oleh beribu-ribu rayap. Dia menghilang begitu saja dari hadapanku.

“ANIOOOOOOOO”

Aku tersadar. Ternyata hanyalah mimpi. Mimpi yang aneh. Apakah ini pesan dari istriku? Atau ini hanya ketakutanku pada Hanwoo yang kini sudah kembali dari Korea? Kukendalikan napasku yang tersengal-sengal. Keringatku mengalir.

‘PLAK’

Aku terkejut mendengar suara disampingku. Perasaanku tidak enak. Ketika aku menoleh kesamping aku sudah melihat foto istriku di atas laci terjatuh begitu saja. Tidak ada angin yang masuk. Tidak ada siapapun disini kenapa bingkai foto istriku bisa terjatuh? Aku terbangun untuk mengambil bingkai foto itu dan memandangi wajah istriku sekali lagi.

“Kau marah hah? Apa kau sangat menginginkanku bahagia dari sini? Aku bahagia. Aku bahagia. Kau tidak usah mengkhawatirkanku.”

Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku duduk di atas ranjang untuk mengambil handphoneku yang kutaruh diantara tumpukan bantal-bantal putih itu. Aku terkejut ketika melihat nama Hanwoo tertera di layar. Angin malam mulai masuk menyambut hangat tubuhku. Menerbangkan korden-korden biruku. Ini seperti berhubungan. Foto istriku yang terjatuh begitu saja lalu telepon dari Hanwoo yang menyusul.

“Jadi begitu.. Apa kau menyuruhku bahagia bersama yeoja itu?” tanyaku pada istriku jika dia mendengar. Aku memejamkan mata menaruh handphoneku  yang sudah kumatikan disembarang tempat lalu merebahkan diri di ranjang. Menatap heningnya langit-langit kamar hingga aku tertidur nyenyak malam ini.

“OPPPAAA!”

Kudengar suaranya ketika dia membuka dan menutup pintu kantorku lagi. Aku menghela napas pelan. Sudah kuduga dia akan datang. Dia memelukku tiba-tiba membuatku tersentak. Ketika aku hendak melepas tangannya dari tubuhku dia sudah melepasnya terlebih dahulu. Dia benar-benar agresif dan cekatan.

“Terima kasih atas bunga yang kau kirimkan untukku. Kau masih peduli padaku kan? Bagaimana kau bisa menghindari yeoja cantik sepertiku? Aku sangat senang sekali. Baiklah aku akan pergi.”

Aku memang mengirimkannya bunga untuknya. Tapi itu hanyalah sekadar ucapan selamat untuknya sekaligus ucapan terima kasihku untuknya karena dia telah mendengarkan perkataanku untuk belajar bersungguh-sungguh di Amerika. Tapi sepertinya dia telah salah paham lagi.

“Itu hanya sekedar ucapan terima kasihku padamu karena kau belajar bersungguh-sungguh di Amerika.”

Hanwoo yang hendak membuka pintu terhenti begitu saja mendengar ucapanku. Aku tidak tahu apakah dia akan menangis lagi atau bagaimana ketika mendengarnya. Aku hanya tidak ingin melihatnya sengsara dan malu karena pria duda sepertiku. Yeoja itu membalikkan badannya dan tersenyum padaku.

“Gwenchana oppa. Aku sangat bahagia. Aku pulang, oppa.”

Dia menunduk memberikan salam perpisahan padaku. Kepergiannya membuatku menyadari bahwa dia yeoja yang sangat baik dan sopan. Dia tidak pantas disakiti olehku. Aku tidak akan menyukainya sampai akhir. Tidak akan. Dan dia akan terus terobsesi padaku jika aku menanggapinya.

Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka lagi. Lee Donghae muncul dari balik pintu. Dibanding Lee Sungmin, aku sangat dekat dengan Lee Donghae. Kami saling bercerita banyak mengenai pengalaman hidup dan cinta.  Dia sangat baik padaku. Dia juga direktur di perusahaan ini. Direktur utama selain Lee Sungmin tapi di bagian periklanan. Dia yang mengurus semua bagian promosi dari perusahaan, tunangannya adalah seorang artis terkenal yang menjadi ambassador Zyin. Dia benar-benar namja yang beruntung selain ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya. Lee Donghae duduk dihadapanku dengan kaki kanan yang menumpu kaki kirinya. Tangannya mulai menyentuh di papan nama beningku dan bermain-main disana tanpa melirikku.

“Apakah Hanwoo sempat mencarimu? Aku memergokinya menangis keluar dari sini.” Ujarnya. “Tapi aku tidak sempat menyapanya karena dia berlari begitu saja. Mungkin aku akan mencari dan menanyainya dirumah. Tapi sebelum aku menemui dongsaengku, lebih baik aku bertanya padamu.”

Lee Hanwoo, benar-benar.. Pada akhirnya aku membuatnya menangis lagi. Sudah berapa butiran air mata yang kubuat untuknya? Dia sangat lemah namun selalu terlihat sangat kuat di luar. Aku tahu dia hanya pura-pura kuat.

“Ne, dia mencariku. Seperti biasa.”

Lee Donghae mulai menatap mataku. “Apa kau terganggu karenanya?” tanya Lee Donghae. Aku memikirkan perkataan Lee Donghae yang seperti menyerangku.

“Jika kau terganggu aku akan mengatakan pada Hanwoo untuk jangan mendekatimu lagi seperti Lee Sungmin yang melarangnya untuk mendekatimu. Tapi jika kau merasa nyaman melihatnya mencarimu aku akan membantu mencari jalan keluar untuk menyelamatkan hubungan kalian berdua.”

Aku tidak bisa menjawab. Apakah aku terganggu dengan kehadiran Hanwoo? Aku tidak pernah berkata seperti itu. Walaupun aku tidak ingin melihat Hanwoo menangis lebih banyak lagi karena diriku yang tidak pernah bisa membalas semua perkataannya.

“Aku sudah menganggapnya seperti dongsaeng sendiri, Lee Donghae.”

“Tapi dia tidak menanggapimu seperti itu.”

“Araseo. Dia sangat-sangat peduli dan mencintaiku.”

“Kau mencintainya?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau tahu aku sangat mencintai istriku.”

“Kurasa istrimu akan marah jika melihatmu seperti ini. Banyak namja yang datang kerumah untuk mengajak Hanwoo kencan namun dia tetap lebih memilihmu yang sudah beristri. Kau pasti sangat susah karenanya. Tapi kau tahu, aku dan Hanwoo tidak terlalu dekat. Dia hanya lebih bisa nyaman dengan Lee Sungmin karena aku seorang oppa yang terlihat tidak begitu peduli padanya. Tapi kenyataannya akulah yang lebih tahu bagaimana Hanwoo daripada Lee Sungmin. Aku sangat mencintai dongsaengku.”

Aku hanya terdiam memikirkan perkataan Lee Donghae. Namja itu mulai melirik arloji peraknya lalu bangkit dari hadapanku.

“Haap! Saatnya makan siang. Kau tidak makan siang Hyukie?”

“Sebentar lagi. Kau duluan saja, Hae.”

Kepergian Lee Donghae dari ruanganku membuatku berpikir sekali lagi mengenai Lee Hanwoo. Aku harus bagaimana terhadapnya? Aku hanya tidak menginginkan pertengkaran dengan Lee Sungmin karena dia pernah mengancamku untuk tidak mendekati dan menanggapi Hanwoo. Tapi aku juga memikirkan ucapan Lee Donghae tadi yang mengatakan bahwa dirinya bingung kenapa Hanwoo lebih memilihku yang sudah berstatus istri?

S E O U L, 2 4 D e s e m b e r 2 0 1 2

 di Apartement..

Sudah memasuki Natal. Aku sedang sibuk menghias pohon natal sendirian. Karena kesibukanku dan baru mendapatkan libur dari kantor aku baru sempat menghias pohon-pohon Natal yang kutaruh di sudut ruang tengah dekat dengan jendela. Kumatikan lampu ruanganku disaat aku sudah selesai menghias semuanya.

Aku duduk di sofa memandangi pohon natal dengan lampu biru yang menghiasi. Terlihat sangat tenang dan nyaman walaupun pikiranku tidak senyaman seperti penglihatanku.

Hanwoo datang ke kantor kemarin sore saat aku hendak pulang karena aku sudah selesai mengerjakan semua laporanku mengenai proyek baru yang diutus Lee Sungmin. Apalagi kantor akan tidak beroprasi selama dua hari karena mendekati perayaan Natal. Sangat menyenangkan untuk dua hari esok. Namun lagi-lagi kejadian tadi merubah moodku untuk dua hari esok.

“Oppa..”

“Ne Hanwoo, ada apa mencariku?” tanyaku.

Dia tersenyum malu. Langkahnya mendekatiku dan berdiri dihadapanku.

“Natal nanti maukah oppa pergi bersamaku? Aku akan menunggumu menjemputku jam 7 malam di central park.”

Aku terdiam. Bahkan sampai saat ini dia masih belum menyerah untuk membuat keajaiban pada hatiku.

“Jika ingin bicara, bicaralah padaku sekarang. Aku tidak punya banyak waktu.” Kupakai coat hitamku lagi karena di Korea sudah memasuki musim dingin.

“Aku hanya ingin pergi berdua denganmu di malam natal. Kau maukah, oppa?” tanyanya. Dia menatap mataku. Dari sorot matanya dia sangat bersungguh-sungguh. Keningku berkerut. Aku melihat kesungguhan dan kegigihannya. Belakangan ini aku sangat berat memikirkannya. Dia berhari-hari datang dan selalu mendapatkan penolakanku. Hatiku sakit ketika selalu menolaknya dan setiap dia datang mendapat penolakanku aku selalu merasa berdosa dan memikirkannya terus-menerus. Apakah kali ini aku akan menerima ajakannya? Agar aku bisa tenang melihatnya tersenyum bahagia karenaku.

“Aku..”

Aku tidak melanjutkan ucapanku ketika aku tidak sengaja melihat sosok Lee Sungmin berdiri di balik pintu. Lee Hanwoo yang ceroboh dia tidak menutup pintunya dengan baik. Kini aku mendapat tatapan tajam dari Lee Sungmin. Namja itu sudah berapa lama menguping percakapan kami? Aku menatap Hanwoo lagi. Yeoja itu benar-benar mengalami banyak hal sedih karenaku, dan sekarang aku akan melakukan hal sama seperti hari kemarin lagi.

“Sudah kukatakan aku tidak bisa Hanwoo.”

Aku melihat Lee Sungmin yang tersenyum senang mendengar jawabanku. Senyum yang membentuk sebuah smirk. Mungkin namja itu sebentar lagi akan menemuiku untuk mengancamku lagi. Bagaimanapun juga Lee Sungmin adalah sahabatku. Dia telah banyak membantuku. Membantu biaya operasi jantung eomma sampai kematian eomma. Dia dan keluarganya telah banyak membantuku dan aku ingin membalas semuanya dengan baik. Tapi kenapa hatiku terasa sakit ketika menolak Hanwoo untuk hari ini. Aku menepuk bahu Hanwoo. Dia menunduk tidak berani menatapku.

“Pulanglah dan jangan lupa kenakan coatmu. Di luar salju turun dengan deras, bukan? Jaga dirimu baik-baik.” ujarku.

“Oppa benar-benar menolakku kali ini? Gwenchana oppa. Tapi aku akan tetap menunggumu.”

“Aku tidak akan datang, kau tidak usah menungguku.”

“Aku akan datang dan aku akan menunggumu sampai kau datang. Kuharap kali ini kau mendengarku.”

Aku pergi meninggalkannya. Hatiku entah kenapa sakit sekali mendengarnya. Seharusnya aku menyentuh kepalanya untuk mengelusnya lalu memeluknya dan mengatakan padanya ‘jangan khawatir, aku akan datang untukmu kali ini.’ Namun aku tetap tidak bisa. Apakah aku kini menyerah dengan keadaan? Bahwa aku mulai memikirkan Hanwoo. Memikirkan Hanwoo untuk mengisi kekosongan hatiku selama ini. Bahwa selama ini aku telah munafik terhadap diriku sendiri. Aku menyukainya.

Lee Sungmin tersenyum padaku ketika aku keluar dari ruangan ini. Namja ini masih tetap terjaga di depan pintu. Kudengar Hanwoo menangis dengan kencang di dalam. Aku tidak tega mendengarnya. Hatinya pasti sakit sekali. Seharusnya tidak begini.. Lee Sungmin menepuk bahuku. Ini seperti kejadian di dalam tadi ketika aku menepuk bahu Hanwoo sebelum meninggalkannya.

“Aku yang akan menemuinya besok. Biarkan dia menungguimu.” Ujar Lee Sungmin.

“Kau jangan terlalu keras padanya..” jawabku.

“Tidak akan. Hanya memberinya pelajaran.”

Lee Sungmin pergi dari ruangan ini. Sejak tuan besar Lee pensiun dari masa jabatannya, Dia mempercayakan kedua putranya untuk mengurus perusahaannya serta mengurus Lee Hanwoo. Aku sangat mengenal keluarga besar Lee. Lee Sungmin seorang pria yang mandiri dan penuh perhatian. Dia sangat dekat dengan Hanwoo dan sangat memanjakan yeoja itu dirumahnya, berbeda dengan Lee Donghae yang terlihat dingin dan terlihat tidak begitu memperdulikan segala sesuatu. Namun aku mengenal Lee Donghae dengan baik. Pria itu sangat peduli dengan sekitarnya apalagi dia sangat menyayangi keluarganya termasuk Hanwoo.

S E O U L, 2 5 D E S E M B E R 2 0 1 2.

7 PM di Central Park …

Sebuah taman di tepi  jalan. Central Park sangat ramai di malam Natal. Biasanya setelah pulang dari Gereja masyrakat Seoul di daerah sini akan datang kemari. Seperti sebuah festival perayaan Natal. Pohon Natal yang besar menjulang tinggi di tengah hujan salju. Orang-orang sudah berkumpul untuk bersiap merayakannya. Lampu-lampu natal menghiasi taman. Mereka menghidupkan kembang api dan bernyanyi berjalan pelan-pelan melingkari pohon Natal itu dengan senyum dan tawa kehangatan di tengah dingin yang menghadang.

 Aku menunggu di dalam mobil menghidupkan pemanas mobil tanpa mematikan mesin mobilku yang masih tetap menyala. Disudut penyebrangan jauh dari Central Park namun aku masih bisa memantau Hanwoo yang berdiri di tepi jalan. Sekejap dia menoleh ke belakang melihat orang-orang itu yang bernyanyi untuk malam Natal. Senyumnya masih tertahan. Aku tahu dia menyisakan senyumnya untukku. Dia hanya akan tersenyum jika aku benar-benar tiba memcarinya. Dia benar-benar menungguku tidak peduli aku akan datang atau tidak. Aku hanya berani memantaunya dari jauh karena Lee Sungmin sudah mengancamku lebih dulu.

Coatnya benar-benar tebal. Bahkan dia memakai slop tangan berwarna pink. Namun dia masih bergetar dan sempat mengusap-ngusap tangannya karena kedinginan. Dia begitu bodoh. Tidak tahukah ini musim dingin kenapa dia masih berkeliaran di tengah malam untuk menungguku? Rasanya aku ingin keluar dari mobil untuk menemuinya sekadar memberi coatku agar dia tidak merasa kedinginan.

Tapi apa yang kulakukan? Aku masih tetap tinggal disini hingga sebuah sedan hitam BMW keluaran terbaru tahun depan yang sudah dimiliki oleh Lee Sungmin seorang. Namja itu datang diantar supirnya dan turun mencari Hanwoo. Mereka terlihat berdebat. Lee Sungmin mencoba menarik Hanwoo namun Hanwoo tetap bertahan. Aku melihat ekspresi yeoja itu. Benar-benar sakit. Dia terlihat memohon pada Sungmin namun namja itu tidak bisa mengerti perkataan Hanwoo. Tiba-tiba Sungmin menampar Hanwoo membuat duniaku seperti berhenti berputar. Tak ada lagi salju turun.

Beberapa saat duniaku kembali berputar mengembalikan semuanya bahwa aku tidak dapat memiliki mesin waktu itu untuk mengubah diriku di masa lalu. Untuk meyakinkan Lee Sungmin bahwa aku juga mencintai Hanwoo. Kini aku hanya bisa melihat mobil hitam itu pergi dan terduduk lemas menyesalinya. Kali ini aku menitikkan air mataku. Hidup yang menyedihkan seorang namja bernama Lee Hyukjae. Berharap orang lain tidak pernah mengalaminya…

S E O U L, 26 D E S E M B E R 2 0 1 2.

Di Paul Coffee Shop ..

Aku sedang duduk berhadapan dengan Hanwoo di Paul Coffee Shop. Aku mengajaknya bertemu di coffee shop ini dan tidak menyangka  dia menyetujuinya bahkan datang lebih awal dariku. Dia tersenyum menatapku. Pipi kanannya masih merah mungkin akibat tamparan Sungmin kemarin. Kulihat matanya juga membengkak, aku yakin dia menangis semalaman karena dia sangat senang menangis untuk meluapkan perasaannya yang sedih atau tersakiti. Aku juga mengkhawatirkannya … Bahkan tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Bahkan dia masih terlihat sangat cantik dengan coat bulu-bulu angsanya yang bewarna putih. Rambutnya tergerai menggunakan hiasan bando permata yang terlihat berkilau.

“Mianhe aku tidak datang kemarin.”

Dia mencoba tersenyum. Sampai kapan dia akan pura-pura kuat seperti ini. Aku ingin mendengarnya meneriakiku dan menamparku sesekali agar aku tergerak untuk merebutnya dari Lee Sungmin. Berteriak bahwa dia benar-benar mencintaiku walaupun dia setiap hari melakukannya namun aku masih tetap bertahan dengan keegoisanku akan kebaikan keluarganya.

“Araseo oppa. Aku tahu kau tidak akan datang.” Dia terlihat lemas sekali. Apa dia sakit?

“Sampai jam berapa kau kemarin?”

“Mollayo.. Aku bernyanyi dengan orang-orang disana, merayakan malam Natal. Bernyanyi sambil menyalakan kembang api mengelilingi pohon Natal itu. Aku harap kau datang.. Tapi aku yakin kau tidak datang.”

Dia berbohong. Begitukah caranya? Dia selalu menutupi dirinya agar aku tidak merasa khawatir, atau sebenarnya dia takut aku marah jika dia mengatakan hal yang sebenarnya? Aku ingin cepat pulang dan menangis lalu memukul kepalaku di tembok bahwa aku namja yang sangat bodoh. Lee Hanwoo mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak kado kecil berwarna biru tua yang diberikannya padaku.

“Bukalah oppa. Aku mengijinkanmu membuka hadiah itu dihadapanku sebelum kau membuangnya tanpa sepengetahuanku tapi aku ingin kau melihatnya dihadapanku.” Ujarnya.

Aku terkejut dengan perkataannya. Apakah dimatanya aku adalah namja yang seperti dikatakannya? Bahwa aku sekejam itu baginya? Aku mencoba tersenyum dan mengambil kotak itu lalu membukanya perlahan. Kutatap Hanwoo yang terlihat sangat senang aku mau mendengarkannya untuk kali ini.

“Kau tidak usah berlebihan seperti itu.. Apa yang kau berikan? Mwo.. Hanya pohon natal?” ujarku setelah berhasil membukanya. Sebuah pohon Natal bewarna putih di dalam kotak yang bening.

“Kau tidak melihat makna hadiah yang kuberikan oppa? Lihatlah disana, di puncak pohon Natal itu ada bintang yang bersinar. Dan dibawahnya hanya terdapat satu kado yang hanya akan terus dibawah menatap bintang itu.”

“Kau berbicara apa? Bagaimana kau menggambarkan semua itu seolah-olah mereka manusia?”

“Bintang itu adalah kau, Hyukjae oppa. Dan aku adalah kado itu. Kau selalu bersinar terang dimataku seperti bintang dan sang kado hanya bisa mengagumi sang bintang dari bawah dan berpikir bahwa tidak akan bisa menggapai bintang itu karena aku hanyalah sekotak kado yang entah berguna untumu, atau tidak.” Ujarnya menahan tangis. Kulihat matanya berkaca-kaca.

“Yak, kau mau menangis lagi hah? Kau.. Ini tidak ada sambungannya. Berapa nilai mata kuliahmu di Amerika hah? Jangan menangis lagi.” Aku mencoba menghiburnya. Padahal di dalam hati aku juga sangat sakit mendengar cerita angannya tentang kado yang dia berikan. Aku mengerti apa yang dia bicarakan.

“Tahun baru ini tepat di hari ulang tahun Sungmin oppa, aku akan bertunangan dengan seseorang oppa. Aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana menanggapi oppaku.. Aku juga tidak paham dengan akal sehatku yang semakin menyukaimu walaupun aku tahu kau tidak akan pernah menatapku.” Kini air matanya mengalir. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Benar-benar seperti mimpi buruk ketika dia mengatakan hal itu dihadapanku..

“Hyukjae oppa yang tampan, Hyukjae oppa yang kutahu sangat peduli padaku tapi tidak bisa berkutik sama sekali.. Aku tahu kau mengkhawatirkanku atas apa yang kulakukan belakangan ini. Aku meminta maaf karena aku pasti sangat-sangat menyusahkanmu. Tapi Kau tidak usah mengkhawatirkanku oppa. Aku bertunangan dengan namja yang sangat baik. Namja yang selalu mencariku dan menungguku pulang. Saat itu aku mulai tersadar seperti apa diriku disaat aku berusaha mengejarmu. Mungkin aku akan mencoba untuk menyukai namja itu dan tidak akan merepotkanmu lagi. Setiap malam aku terus menangis memikirkanmu, bahkan di Amerika aku benar-benar tersiksa berharap kau menyerah dan berpaling dariku. Tapi ternyata aku salah.. 7 tahun aku memendam semuanya sendirian tanpa tanggapanmu membuatku sadar bahwa aku salah. Itu hanya akan membuatmu tidak nyaman. Miane, oppa.. Aku pergi.”

Lee Hanwoo bangkit dan pergi meninggalkanku seorang diri tanpa perlu mendengarkan apa jawabanku, bagaimana perasaanku, dan juga memberiku kesempatan. Dan aku juga baru benar-benar memahami perasaannya bagaimana terhadapku selama 7 tahun dia menyia-nyiakan harinya hanya untuk memikirkan seorang namja bernama Lee Hyukjae. Seorang pria yang tidak pernah menatapnya, seperti kisah bintang dan kado di dalam kotak bening  yang dia ceritakan tadi. Hanya pohon Natal putih yang menjadi saksi cinta kami berdua.

Dan kini aku sedang dilanda penyesalan…

Penyesalan yang sangat besar di dalam hidupku bahwa aku tidak bisa lagi memutar ulang waktu untuk kembali membenahi semuanya. Jika saja aku bisa meyakini Lee Sungmin bahwa aku juga sangat mencintai Hanwoo mungkin hari indah akan terjadi untuk hari ini.

Air mataku mengalir untuk penyesalanku karena waktu tidak akan kembali berputar ke masa lalu…

Flashback End

Setahun terlewati. Aku tidak kuat ketika semakin menyadari bahwa aku semakin menyukainya namun berbanding terbalik denganya yang semakin bahagia dengan tunangannya. Bahkan dia masih tersenyum riang ketika menyapaku. Aku benar-benar tidak dapat bernapas dengan baik melihatnya.

Aku sangat canggung saat dia datang menemuiku di kantor. Melihatnya seperti ini, aku seperti kembali di waktu sebelumnya ketika dia merengek dihadapanku meyakiniku bahwa dia benar-benar tidak mengharapkan penolakan dariku. Tapi apa yang kudapat? Dia menyerahkan sepucuk kertas berwarna emas dan memberikannya ke arahku. Jantungku seperti lepas dan terjatuh ketika tahu itu adalah undangan pernikahannya dengan namja itu …

Aku masih terduduk lemas di bangku kayu di depan Gereja Gangnam. Aku tidak mempunyai keberanian untuk masuk ke dalam kastil megah itu untuk menemuinya. Salju mulai turun perlahan-lahan jatuh di atas rambutku. Aku tahu malam ini sangat dingin bahkan aku sampai tidak tahu bagaimana caranya berjalan. Kakiku sangat kaku. Ini seperti yang pernah Hanwoo alami ketika di malam Natal setahun yang lalu. Dia menungguku di tepi jalan Central Park dan kini aku merasakannya..

Mencoba menemukanmu, kau yang tidak dapat kulihat lagi. Mencoba mendengarmu, kau yang tidak dapat kudengar lagi. Dan saat aku melihat semuanya, mendengar semuanya karena kau setelah beranjak pergi, aku mendapatkan satu kekuatan baru.

Keegoisanku yang hanya memperdulikan diri sendiri. Kejamnya aku yang tidak menyadari semua perasaanmu. Aku bahkan tidak percaya bisa menjadi seperti ini. Cintamu senantiasa mengubahku.

Hanya dengan memikirkannya., duniaku seketika penuh denganmu. Karena setiap salju yang turun, adalah air matamu. Satu hal yang tidak bisa aku lakukan, membawamu kembali padaku. Aku hanya bisa berharap, bisa menghilangkan semua perasaan ini.

Kuhentikan waktu dan mencoba kembali padamu. Kuingat kembali dirimu dalam setiap lembar memoriku. Ketika aku berada disana. Disana bersamamu.. Cintamu sebentuk manusia kecil dan lemah namun mampu merubah semuanya.

Seluruh hidupku..

Seluruh isi duniaku..

Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih atas cintamu. Aku pikir semua akan berhenti hanya dengan aku berhenti memikirkannya. Tetapi hari demi hari, aku memperbaiki diri ini agar kau kembali. Sepertinya cintaku kembali bersemi tanpa batas.

Exo – Miracle in December Indo trans

By:  http://luminosky.wordpress.com/2013/12/05/lyric-indonesia-translate-exo-miracle-in-december-korean-vers/

Ya. Malam ini adalah pernikahan Hanwoo. Kursi kayu dan bunga yang kugenggam ini masih setia menemaniku. Tiba-tiba aku berhalusinasi. Kulihat bayangannya datang berlari menemuiku dengan gaun putihnya. Dia sangat cantik. Entah kenapa aku tersenyum dan dengan cepat terbangun.

“Hanwoo-ya ..” ujarku senang.

Air mataku seperti membeku rasanya perih di hati tidak bisa mengeluarkannya. Raut wajahku berubah ketika bayangan sesosok namja datang dengan cepat meraihnya membuatku terpukul. Dia merebut yeojaku dan aku masih tetap berhalusinasi tentangnya bahwa semua itu adalah bayangan. Sesusungguhnya pernikahannya di dalam Gereja dengan pria itu mungkin akan segera berlangsung. Aku menengadah menatap langit. Menatap salju gerimis salju yang mulai menemaniku. Air mataku yang membeku hancur begitu saja keluar dari pelipis mataku. Hatiku sakit.. Perayaan untuk seorang namja sepertiku yang tidak bisa memperjuangkan cintanya..

♥♥♥

THE END

T____T maaf Lee Hyukjae …

Aku sebenarnya tidak bisa membuat pisah Eunwoo couple ini.. T____T akh tapi karena perundingan kemarin yang katanya harus pisah. Awalnya saya ingin menabrakkan Hanwoo saja trus Hyuknya juga ikut ketabrak.. tapi sudah sering yah wakakak dan alay nanti jadi kayak sinetron ~~~ >///<

Tapi gatau ini alay juga ga ya… Takut ga sedih tapi coba2 saja T____T Miracle in December.. Ide dari lagunya exo tapi castnya tetep make Hyuk -.-” gabisa pindah ke lain hati walaupun disana si Luhan sama Baekhyun cakep banget. Tapi tetep cintanya sama si om Hyukjae. wkakakaka. Tapi lirik lagunya lagu ini loh keren banget bener T____T

Ceritanya ini kuambil sedikit dari kisah Yoon dan Meari di Gentleman Digsnity. Tapi sedikit kuambil dari MV EXO huhuhu. Tapi ga sepenuhnya dari gentleman digs kukembangkan lagi seterusnya. Disana Meari sama Yoon berakhir bahagia tapi disini Hyuk sama Hanwoo tidak berujung pada kebahagiaan ^^

Bagaimana menurut kalian? Buatnya 1 hari ngetik cepet mumpung ada ide. Disini aku buat Hyuknya pecundang banget yah ga bisa ngapa2in wakakak ditinggal nikah sama Hanwoo … nggih monggo di comment dulu ^^ pengen tau reaksi kalian. thx ^^

Iklan

18 thoughts on “[Hyuk Version] Miracle in December

  1. aaaaaaaaaah~~
    so fast laaaan
    bener2 ini gara2 meahri dan yoon oppaa
    jadi pas baca yg kebayang kadang mereka ;A;

    duh sungminnya kejam bgt. donghae knp ga berbuat sesuatu? ah kalo berbuat sesuatu jadinya happy ending yaaaa hiks
    hanwoonya daebaaaak. kebayang bgt.
    cuma karena beberapa flashback n tanggal smpt agak naik turun lagi liat biar konsen bacanya xD

    Suka

  2. Kalau bisa, adakah yang lebih menyedihkan lagi dari ini???? Huweeee~ Lee HyukJae, kenapa dia pengecut banget disini? Babo babo babo!!!! Dari awal scene Hanwoo dateng ke kantor sampai ending, aku nangis masa T_T. EunWoo couple is OVER.

    Suka

  3. Meaaaahhrrrrrrrriiiiiiii~~~~
    ;;_____;;

    Eee sumpah akukaget td pas ada apdet blog inih..
    Baru semalem runding n udah jadiii wakakakakakakaak
    So fast~
    demi jit hyuk aku gk bisa move on dari lagu itu n liriknya yg jeite banget TT

    Pengen bejek sungmin sumpaaaahhh..hing gk gitu caranya sama sahabat bro~
    tapi yah mau gimana lagi..

    Eh bak edit lagi lan..tanggal flashbacknya kok 2013 .___.

    Suka

  4. Perasaan kemarin malem habis baca udah koment..tapi kenapa ga ada yah? ㅠㅠ poor signal…

    hanwoo ya…cepat sekali km buat..huhuhu..ceritanya menyesakkan jiwa raga sumpah. Kalian saling menginginkan tapi keadaan yg memisahkan ㅠㅠ

    EmNg kebayang meari sih disini..tapi manja2nya hanwoo dapet bgt. Dan gue benci sama sungmin disini. Keras bgt..otoriter brekeleeee….sokkkk bgt jeite. Lempar aja lemaknya ke madagaskar ㅠㅠㅠ
    Donghae jg ga bisa berbuat apa…sama2 kaku kayannya 2 namja itu…
    lee hyukjae yg sabar ya…ㅠㅠㅠㅠ

    Suka

  5. Woooghhh
    Meahriii sm yoon…
    Hhu kebayang yg mereka di kantor. Di pinggir jalan. Buang kado.
    Huhuu dan sesungguhnya kaget liat update an blog hyuk vers kyu vers.. pengen ada donghae vers nya oiii huhuuu

    Aduh jleb moment sekalii endingnya gitu..
    Miracle in december itu hyuknya kan lg nangis tuh di taman ya karena nyeselin hanwoo yg nikah sm namja lain.. dan tiba2 ada yeoja antiks yg menemui hyuk wktu tu namanya cho yoora ;3

    Dan sesungguhnya tunangannya donghae model ambassador ziyn iu adalah akyuuuuuuu~~~

    Suka

  6. bener banget thor, dari awal aku kepikiran sama meahri.. jadi ngebayangin meahri sama yoon.. ini nyesek serius. jadi hyukjae beneran ditinggal nikah nih. ck.. kasiaaaannn

    Suka

  7. Huwaaaa semua authornya bersekongkol membuat readers menangissss sialll salah nih sambik dgr lagu nya malah makin deress huks huks huksss (۳º̩̩́△º̩̩̀)۳

    Suka

  8. duh nyesekny..
    kasihan deh sih hyukjae..
    sungmin kenapa pake nglarang2 sih padahal hyukjae juga suka hlo sama hanwoo..
    aigo.. sedih deh abis bacany..
    pengen nangis.. huhuhu.. 😦

    Suka

  9. sikap hanwo emng yg agresif pmberani gtu ya dia ampe yg gigihnya ngejar hyuk tpi c’hyuknya yg g bsa move on truz dri mndiang istrinya hahhh bdohnya drimu…ga tau knapa suka bgt d’ff hyuknya tu menderita gtu tpi tetep akhrnya bisa happy ending tpi ini nyesek bget endingnya akhh nangis truz deh 😥

    Suka

  10. Awalnya aku jg nebak bgt ini kya Yoon sm Maeri tpi mreka happy ending. Dpt bgt feelnya. Sungmin egois bgt jdi kakak tpi dsitu gregetnya. Ta ampun ini mlm2 bc sad story ny eunwoo bikin miris. Mreka beda bgt klo di ff realove. Tpi tetep daebak 🙂

    Suka

  11. Ya ampuun,, knp sedih amat sih lee hyukjae kisah cintanyaaa
    Knp ga berani perjuangin hanwoo dan buktiin ke sungmin klo hyuk bisa bahagiain hanwoo jg, dan si sungmin itu jg knp sih ga setuju bgt sma hyukjae cuma krn hyukjae udh pernah nikah..
    Suka bgt sma karakter donghae,, tp ga terlalu bnyk muncul sih dsnii… semoga aja hyuk ga lepasin seseorang yg dia cintai suatu saat nanti yaaa

    Baguuus ceritanyaaa,,,

    Suka

  12. gw juga pasti kesel klo hanwoo selalu nempel” gtu tp juga gw kadang sebel klo eunhyuk terlalu kasar gtuh… selalu salut dg perjuangan hanwoo yg selalu rela menomor satukan eunhyukk

    dan eunhyuk lu bner2 nyia-nyia in cwek baik kyk hanwoo, hrus nya lu sadar dan mau membuka hati buat si hanwoo dan sama2 berjuang untuk bersama… nyesel kan lu udh ditinggal nikah ma hanwoo…

    good story… ^^

    Suka

  13. hhuuaaaa kasian hyukjae,,

    cerita nya nyentuh bgd di hati, sekali2 gpp eon klo cerita enwoo couple ini di bikin broken…

    apapun cerita nya aku pasti dukung truss,, lanjutkan.

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s