[HyoKyu Version] Miracle in December

Miracle in December Hyokyu Vers 

Author : Hyodina • Cast : Cho Kyuhyun – Choi Hyojin • Genre : Romance – Angst • Length : Oneshoot

Aku menatap bayangan diriku yang terpantul dari cermin di kamar apartemenku. Atau bolehkah jika aku menyebutnya dengan apartemen kami? Kedengarannya lebih baik walaupun aku menempati apartemen ini sendirian selama sebulan terakhir. Aku merapikan lagi tatanan rambutku –yang sebenarnya tidak perlu dirapikan lagi karena baru lima menit yang lalu aku menyisirnya dengan rapi- perlahan. Aku tersenyum puas ketika merasa penampilanku sudah sempurna. Aku melirik arloji dipergelangan tanganku. Masih satu jam dari waktu yang dijanjikan, atau lebih tepatnya yang aku janjikan untuk bertemu dengannya di salah satu restaurant privat yang terletak di pinggir kota. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah padanya, karena tidak bisa menemuinya di tempat yang biasanya. Di tempat yang menjadi favorit kami beberapa waktu yang lalu. Namun karena statusku, aku tidak bisa lagi melakukan itu. Statusku sebagai seorang aktor musikal yang terkenal tidak mengijinkanku untuk menemuinya ditempat umum. Aktor musikal terkenal…..status yang membuatku kehilangannya. Atau mungkin lebih tepatnya jika ia yang kehilangan sosok diriku yang selalu dikenalnya.

“Hyojin-ah, tebak kabar apa yang akan kuberitahukan padamu sekarang.” Seruku saat memasuki apartemen kami. Hyojin, gadisku mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas desainnya yang terlihat berserakan di atas meja ruang tamu kami kearahku yang tersenyum sumringah dan melambaikan map berwarna biru di tangan kananku. Aku duduk disampingnya dan membuatnya menghadap kearahku.

“Kabar apa yang kau ingin kau berikan padaku hingga membuatmu berteriak saat sampai dirumah dan membuat konsentrasiku buyar, Oppa?” Tanyanya sambil tersenyum dan menatapku dengan tatapan –kau menganggu konsentrasi menggambarku- dari balik kacamata bacanya.

“Hhhmmmm…tidakkah kau ingin memberikan selamat pada kekasihmu terlebih dahulu?” tanyaku jahil. Ia mengerutkan dahinya dan kali ini memandangku malas. Kebiasaannya yang selalu ditunjukkannya saat aku menggodanya. Ia memajukan dirinya dan mengecup pipiku sekilas. Cara yang selalu ia pakai jika ia menginginkan aku untuk melakukan sesuatu untuknya.

“Oppa…berhenti menggodaku dan mengulur-ulur waktu. Cepat beritahu aku kabar apa itu.” rajuknya. Aku tersenyum jahil dan menggeleng.

“sepertinya ciuman di pipi tidak senilai dengan berita yang akan kuberitahukan padamu.” Ucapku lagi. ia memutar bola matanya malas namun sedetik kemudian aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku sekilas. Aku tersenyum puas dan mengangguk.

“Aku mendapatkan peran utama kedua dalam musikal ini.” Aku menunjukkan file berisi kontrak dan juga naskah dari musikal yang sedari tadi kupegang.

“Omo! Jinjjayo? Chukkaeyo Oppa.” Aku mengangguk dan ia terlihat senang dengan apa yang kuberitahukan padanya. Ia memelukku erat dan aku bisa merasakan bibirnya membentuk senyuman dilekukan leherku. Aku membalas pelukannya dan mengelus rambutnya pelan. Gadis ini, ia selalu mendoakanku yang terbaik dan selalu memberikanku semangat. Gadisku. Gadis yang menemani hari-hariku selama lima tahun terakhir. Kami memutuskan untuk hidup bersama di tahun kedua hubungan kami hingga sekarang. Aku sangat bersyukur bisa memilikinya dan juga hatinya.

“Ini peran utama pertamamu. Ini harus dirayakan.” Ucapnya seraya melepaskan pelukannya dan mengedipkan sebelah matanya. “Aku akan membuatkan makan malam spesial kali ini.” Lanjutnya lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur minimalis kami dan membuka kulkas. Ia mendesah kesal karena sepertinya ia tidak menemukan bahan makanan yang ia butuhkan dan aku tersenyum kecil melihat wajahnya.

“Aku akan ke supermarket. Oppa, kau mandi saja dulu dan beristirahat. Arrasseo?” ia masih berceloteh sambil memasang mantelnya dan mengikat rambutnya dan aku masih tidak menghentikan kegiatanku, mengikuti kemanapun ia melangkah. Hanya memandangnya seperti ini saja membuatku benar-benar senang. Aku melangkah kearahnya yang masih mengikat rambutnya menjadi ekor kuda dan melingkarkan tanganku di pinggang mungilnya dan meletakkan daguku di lekukan lehernya, mengecupnya sekilas. Ia sempat terkejut karena tingkahku yang tiba-tiba dan terkikik saat aku mengecup lehernya beberapa kali.

“Aku merindukanmu.” Ucapku. Ia melepaskan pelukanku di pinggangnya dan mebalikkan badannya dan menangkup kedua pipiku dengan kedua tangan kecilnya yang hangat. Ia tersenyum manis lalu menjinjitkan kakinya untuk mencium bibirku sekilas.

“Aku juga. Mianhae karena akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan kantor. Tapi hari ini aku free dan akan kuhabiskan denganmu. Apalagi sekarang kita harus merayakan peran utama yang kau impikan. Karena itu aku akan pergi ke supermarket dan menyiapkan makan malam spesial untuk kita berdua. Dan sementara aku pergi, kau bisa mandi dan beristirahat sejenak sebelum aku memaksamu untuk membantuku memasak. Bagaimana?” Aku tersenyum dan menggeleng, membuatnya mengerutkan keningnya heran. Aku menunduk untuk menyatukan bibirku dengannya, mengulumnya pelan.

“Aku akan menemanimu. Aku tidak ingin gadisku berbelanja sendirian dan dilirik oleh pria-pria diluar sana.” Ucapku setelah melepaskan ciuman –tidak begitu- singkat kami. ia terkekeh lagi mendengar kalimatku yang terdengar begitu posesif.

“Baiklah. Kau terdengar seperti ahjussi-ahjussi posesif.” Godanya sambil mencubit pinggangku pelan.

“Biarkan saja. Karena Choi Hyojin adalah milik Cho Kyuhyun. Hanya Cho Kyuhyun.”

“Arasseo, Tuan Pemilik Choi Hyojin. Kajja.”

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar ini. Memperhatikan setiap detail yang ada diruangan ini. Aku tersenyum tipis melihat hasil kerjanya dan sentuhannya dalam setiap detail ruangan di apartemen ini. Karena ia seorang desainer interior, ia memutuskan untuk mengambil alih penuh untuk urusan interiornya saat aku membeli apartemen ini dan memintanya untuk tinggal bersamaku. Ia memiliki selera yang sama denganku. Kami sama-sama menyukai hal yang simpel dibandingkan hal-hal rumit dan juga merepotkan. Aku menyentuh tempat tidur kami. Tempat tidur kami selama hampir empat tahun. Tempat tidur yang hampir sebulan ini aku tempati sendirian, walaupun aku sangat jarang pulang karena tour musikalku diluar negeri. Aku memandang ke sisi tempat tidur dimana ia selalu membaringkan dirinya. Aku masih bisa mengingat bagaimana wajah damainya ketika ia tertidur. Kebiasaannya untuk menggulung rambutnya sebelum tidur agar rambutnya tidak berantakan kemana-mana saat ia tidur dengan alasan ‘hal itu bukanlah hal yang bagus untuk dilihat’ dan juga untuk mencegahku menindih rambutnya secara tidak sengaja. Bagaimana aku yang menariknya kedalam pelukanku sebelum tidur. Aku tersenyum miris. Sekali lagi, aku menyesali kebodohanku. Kebodohanku yang membuatnya pergi dan kebodohanku karena tidak  bisa menahannya.

“Oppa…kau sangat tampan. Dan aktingmu…seperti biasa, memukau.” Ia tersenyum riang sambil menyerahkan buket bunga yang sedari tadi dipegangnya. Ia menghampiriku di backstage seusai pertunjukan selesai. Ia terlihat sangat cantik, walaupun ia masih dengan pakaian yang dipakainya ke kantor tadi pagi.

“Gomawo, Hyojin-ah. Kau tahu kalau kekasihmu ini memang mengagumkan, bukan?” aku mengambil buket bunga di tangannya dan mencium bibirnya sekilas. Ia mencubit pinggangku –kebiasaannya- karena mendengar ucapanku yang mungkin dinilainya terlalu percaya diri.

“Percaya dirimu tinggi sekali. Aku tarik kembali pujianku, Tuan Narsis se-Korea Selatan.” Ucapnya sambil merengut, mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa mendengar ucapannya. Terkadang gadis ini bisa menjadi kekanakan, walaupun sifat itu hanya ditunjukkannya padaku. Aku menarik pinggangnya agar ia semakin mendekat denganku. Namun ia terlihat kurang nyaman, sesekali ia melirik ke sekeliling.

“Oppa, kita masih berada di backstage. Bagaimana jika ada yang melihat?” Aku menghela napas pelan dan melepaskan pelukanku. Ya, untuk saat ini kami memang menyembunyikan status hubungan kami. Hyojin yang menginginkannya dengan alasan untuk karirku. Ia tidak ingin aku terlibat skandal karena aku masih termasuk aktor baru. Ia tidak ingin menjadi penghalang dengan status hubungan kami. aku menentang keinginannya pada awalnya, namun sifat keras kepalanya mengalahkanku. Aku menuruti kemauannya, menyembunyikan hubungan kami dari media.

“Kau tahu aku sangat ingin memamerkan dirimu pada semua orang. Aku ingin sekali mengenalkanmu pada orang-orang kalau kau adalah kekasihku.” Ucapku pelan.

“Kau bisa mengenalkanku pada siapa saja. Tapi tidak sekarang. Karirmu baru saja dimulai, orang-orang menyukai akting dan juga suaramu. Fansmu juga semakin hari semakin banyak. Aku hanya tidak ingin semua itu, semua yang kau dapatkan dengan kerja keras menjadi berantakan karena skandal kencan.”

“Tapi sampai kapan, Hyojin-ah? Aku merasa bersalah padamu. Mianhae.” ia menggeleng dan tersenyum menguatkan. Ia menggenggam tanganku dan mengelus pipiku pelan dan mempertemukan pandangan kami.

“Gwenchana. Kau fokus saja dalam mengejar karirmu Oppa. Kalau kau sudah sukses dan memiliki banyak fans yang begitu mencintaimu. Kau bisa mengenalkanku jika semua itu sudah terjadi. Lagipula bukankah yang terpenting adalah kau tetap milikku? Cho Kyuhyun adalah milik Choi Hyojin. Cho Kyuhyun sang aktor musikal memang milik panggung pertunjukan dan juga fans, tapi Cho Kyuhyun, hanya Cho Kyuhyun tanpa embel-embel apapun dibelakang namanya adalah milik Choi Hyojin. hanya Choi Hyojin.” Ucapnya. Aku menatap mata coklatnya, mata favoritku yang selalu memandangku dengan sepenuh hatinya. Aku menariknya kedalam pelukanku. Untuk kali ini, aku tidak peduli jika ada yang melihat kami.

“Kau benar. Cho Kyuhyun adalah milik Choi Hyojin. Hanya Choi Hyojin.”

 

 

Ia selalu menjadi sosok yang mengalah. Ia selalu mengerti jika aku hampir tidak bisa menyisakan waktu untuk bersamanya. Ia juga tidak pernah mempermasalahkan tentang kissing scene yang semakin sering kudapatkan dalam peranku. Ia tidak pernah marah akan hal itu, namun aku masih bisa melihat sorot mata cemburu darinya ketika aku menatapnya disela-sela performance. Pada dasarnya memang ia adalah wanita bukan? Aku tersenyum ketika mengingat ia merajuk karena cemburu pada salah satu adegan dalam musikalku. Atau mungkin karena ia kurang menyukai aktris yang menjadi partnerku. Ia tidak mengajakku bicara hampir seharian penuh.

“Hyojin-ah, apa kau marah padaku?”

“Aniyo.”

“Kau tahu kau tidak bisa berbohong padaku kan?”

“Ne.”

“Hey..kau mendiamkanku selama hampir seharian ini. Apa aku ada berbuat kesalahan?”

“Ani. Kau tidak berbuat kesalahan. Tapi justru itu yang membuatku kesal.” Celotehnya sambil merengut. Aku mendekat kearahnya dan membuatnya menghadap kearahku. Melihat wajahnya yang merengut, aku mengulum senyumku. Ia terlihat begitu menggemaskan dan aku sangat ingin mencubit kedua pipinya dan menciumnya. Tapi untuk sekarang aku harus menahan keinginanku. Aku harus mengetahui apa yang membuatnya merajuk padaku seharian.

“Kalau begitu..apa yang membuatmu kesal, hm?”

“Aku tidak menyukai kau terlalu dekat dengannya. Entahlah, ia terlihat sangat centil dimataku.” Ucapnya sambil menunduk dan memeluk bantal sofa. Aku mencerna kalimatnya. Dia? Apa mungkin ia cemburu pada salah satu partnerku?

“Hyojin-ah…apa kau…cemburu?” tanyaku sambil tersenyum lebar. Ia mendongakkan kepalanya dan ketika melihatku yang tersenyum, ia mengangguk dan membalikkan badannya, membelakangiku. Aku tertawa dan memeluknya dari belakang.

“Kau tahu ia hanya aktris yang menjadi partnerku. Mungkin di selca yang ia upload di akun SNSnya kami terlihat sangat dekat tapi itu murni hanya karena pertemanan.” Aku menjelaskan padanya dengan masih memeluknya. Ia menghela napas panjang, terlihat masih kesal.

“Ia terlalu sering meng-upload fotomu dengannya. Berbeda dengan partnermu yang lain. Dan lagi..kissing scene kalian adalah yang paling intim dari semua kissing scene yang pernah kau lakukan. Aku tidak menyukai gadis itu.”

“Wohoooo…Choi Hyojin sedang cemburu. Cho Kyuhyun harus melakukan apa untuk membuat tuan putri berhenti cemburu hm?” Aku merasakan ia melepaskan diri dari pelukanku dan membalikkan badannya. Membuatnya kembali berhadapan denganku. Sorot matanya tidak lagi terlihat sekesal sebelumnya, namun aku masih melihat kekesalan darinya.

“Katakan padanya untuk mengurangi ‘permintaannya’ untuk mengambil selca denganmu dan dengan bangganya meng-upload ke akun SNSnya. Kalau ia bertanya kenapa, kau bisa bilang kalau aku tidak menyukainya. Ia bisa saja memilikimu diatas panggung, tapi kau milikku diluar panggung.” Saat ia mengucapkan dua kalimat terakhirnya, ia menundukkan kepalanya. Aku tersenyum lagi, sisi posesif darinya muncul dan kali ini kelihatannya ia benar-benar tidak menyukai aktris yang menjadi partnerku.

“Baiklah. aku akan menolak permintaannya lain kali. Apa aku perlu memintanya menghapus fotoku dari akun SNSnya?”

“Tidak perlu. Dan kurasa tidak masalah jika ia mengetahui kau memiliki kekasih. Setidaknya jika ia masih memiliki rasa malu, ia akan mengurangi usahanya untuk mendekatimu. Uhm..apa aku terdengar sangat kekanakan sekarang?” Ia mengerucutkan bibirnya lagi. Aku tertawa dan menepuk kepalanya gemas.

“Jadi tidak masalah jika ia mengetahui status hubunganku? Whoa…kali ini kau benar-benar cemburu. Kau begitu mencintaiku rupanya.” Godaku lagi. Ia menatapku malas dan memutar bola matanya karena ucapanku.

“Aku tidak menyukai gadis itu. Aku merasa sepertinya ia menyukaimu. Dan kau terlalu baik padanya.”

“Begitukah? Aku tidak mengetahuinya. Dan aku tidak peduli. Bukankah Cho Kyuhyun adalah milik Choi Hyojin?” ucapku sambil menariknya kedalam pelukanku. Kali ini ia membalas pelukanku.

“Mianhae oppa. Kali ini aku kekanakan dan mungkin terlihat berlebihan. Tapi aku benar-benar tidak menyukai gadis itu berdekatan denganmu tanpa mengetahui kalau kau sudah memiliki pasangan.” Ucapnya pelan. Aku mengangguk mengerti. Gadisku…jika ia mengatakan jika ia tidak menyukai sesuatu, maka ia akan bertahan dengan hal itu dan tidak akan pernah mencoba menyukainya walaupun aku memintanya. Dan kalau ia cemburu..ia bisa menjadi sangat kekanakan, seperti sekarang. Tapi aku menyukai sisi dirinya yang seperti ini. Aku mengerti dan menyukai caranya untuk tetap membuatku tetap bersamanya.

Andai saja saat itu aku bisa mengetahui jika nantinya hal itulah yang membuatnya pergi dariku.

 

Aku memandang fotonya yang aku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Suasana di apartemen ini masih sama persis seperti saat ia masih tinggal disini bersamaku. Sebagian besar barangnya masih ada disini dan aku bersyukur ia tidak membawa semua barang-barangnya bersamanya. Aku merindukannya. Aku membutuhkannya disisiku. Aku baru menyadari kalau saat itu aku salah. Aku sendiri yang membuatnya pergi meninggalkanku. Aku bersalah padanya karena tidak bisa mengerti dirinya, terlalu sibuk dengan musikal dan seringkali mengabaikannya. Kesibukanku membuat waktuku bersamanya menjadi sangat terbatas. Bodohnya aku, saat dia begitu banyak mengalah dan mengerti keadaanku, aku terlalu larut dan membiarkan diriku menjadi pihak yang selalu dimengerti olehnya tanpa mengerti bagaimana perasaannya. Aku seperti terbuai dengan semua pengertian yang ia berikan dan merasa tidak pernah cukup akan hal itu. aku berakhir dengan terus memintanya mengerti. Aku menjadi pihak yang sangat egois.

Dan semua pastinya ada batasnya bukan? Begitu pula dengan kesabarannya. Mungkin aku menyakitinya begitu banyak. Mungkin aku tidak lagi menjadi sosok Kyuhyun yang selalu dikenalnya sebelumnya. Mungkin ia lelah dengan semua alasan yang aku berikan saat aku tidak bisa menemaninya makan malam seperti sebelumnya, well..karena ia benci makan sendirian. Dan mungkin ia lelah mengerti dan menahan kecemburuannya terhadap aktris yang menjadi partnerku.

Dan dari semua kemungkinan itu, tidak ada satupun yang salah.

Ia lelah. Aku beberapa kali mendapatinya tertidur dengan bekas-bekas air mata yang menempel di pipinya saat aku pulang larut malam. Aku merasa bersalah tentunya, namun keegoisanku mengalahkan segalanya. Ketika aku mendapatinya terlihat ceria seperti tidak ada yang terjadi di pagi harinya, aku membiarkannya. Tidak menanyakan kenapa ia menangis sebelumnya, tidak mencoba menanyakan apa ada yang terjadi padanya di kantor atau lainnya. Aku tidak mengetahui sejak kapan aku menjadi begitu egois saat itu.

“Oppa, apa kau ada waktu luang malam ini?” Tanyanya sambil mengoleskan selai di roti yang baru saja ia keluarkan dari toaster untukku. Aku menatapnya sebentar lalu melihat jadwal yang aku simpan di ponselku.

“Mianhae. Sepertinya aku akan pulang larut lagi malam ini. Aku harus rehearsal.” Ucapku sambil menyambut piring berisi roti bakar yang sudah diolesi selai olehnya. Aku bisa melihat sorot matanya yang terluka karena mendengar jawaban dariku.

“Bisakah kau absen untuk kali ini saja?”

“Hyojin-ah…kau tahu itu tidak mungkin. Aku peran utama dan rehearsal tidak mungkin berlangsung tanpa aku.”

“Tapi ini ulang tahunku. Tidak bisakah kau meluangkan waktumu untukku kali ini saja?” ia meletakkan pisau rotinya dan memandangku. Aku melihat kekecewaan yang tampak jelas dari wajahnya.

“Mianhae.”

“Kau tahu Oppa? Terakhir kali kita makan malam bersama adalah tiga bulan yang lalu. Aku bisa mengerti kau sibuk. Tapi ini ulang tahunku dan kau masih tidak bisa meluangkan sedikit waktumu untukku. Aku seperti merasa aku bukanlah menjadi prioritas bagimu.”

“Hyojin-ah…berhentilah bersikap kekanakan. Ulang tahun bisa dirayakan setiap tahun. Kau bukanlah anak kecil lagi.”

“Ah…maaf karena aku bersikap kekanakan dan memaksamu membolos dari rehearsalmu. Setidaknya aku masih bersyukur karena kau mengingat ulang tahunku. Mungkin kita akan merayakan ulang tahunku tahun depan saja saat kau tidak terlalu sibuk.” Ucapnya sarkastik dan bangkit dari duduknya. Ia mengambil mantelnya dan juga tasnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen, berangkat ke kantor. Aku menghela nafas frustasi dan memutuskan berhenti sarapan. Tiba-tiba aku kehilangan selera makan.

 

*

 

“Hyojin-ah, bukankah berkali-kali aku mengatakannya padamu? Kami hanya berteman, ia adalah partnerku. Tidak lebih. Bisakah kau berhenti cemburu dan bertingkah kekanakan?” ucapku sambil menariknya ke ruang wardrobe. Aku tidak tahu jika kunjungannya mengantarkan makan siang untukku di studio rehearsal akan berakhir dengan perbuatannya menumpahkan sebagian makanan ke pakaian aktris yang menjadi partnerku, aktris yang tidak pernah disukainya.

“Oppa..kau menyakitiku.” Ucapnya sambil meringis karena aku menarik tangannya lumayan kasar.

“Aku tidak sengaja menumpahkannya. Ia yang sengaja menyenggolku dan aku kehilangan keseimbangan. Kau hanya datang disaat yang salah dan yang kau lihat seolah aku sengaja menumpahkan itu padanya.”

“Hyojin-ah…aku tahu kau tidak menyukainya. Tapi bisakah kau bersikap dewasa?”

“Oppa..kenapa kau tidak percaya padaku? aku tidak sengaja. Kau tidak dengar?” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Hyojin-ah..ini bukan yang pertama kalinya kau melakukan hal yang tidak pantas padanya.”

“Tapi kali ini aku benar-benar tidak sengaja. Apa sangat susah bagimu untuk percaya?”

“BAGAIMANA AKU BISA PERCAYA JIKA APA YANG AKU LIHAT ADALAH KAU TERLIHAT SENGAJA MENUMPAHKAN SUP YANG KAU BAWA KE PAKAIANNYA?” aku tidak sadar kalau aku sudah berteriak padanya. Ia mundur selangkah dari tempatnya semula. Ia memandangku tidak percaya, air matanya kini benar-benar menetes dari matanya.

“Apa kau baru saja berteriak padaku?”

“Hyojin-ah..”

“Kau tidak percaya padaku…”

“Hyojin-ah..mianhae karena berteriak padamu..aku..”

“Dwaesseo…aku memang kekanakan. Anggap saja kali ini aku sengaja melakukannya seperti yang kau lihat. Aku pergi.” Balasnya dingin dan menghapus air matanya sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini.

“Hyojin-ah…tunggu..aku minta maaf karena berteriak padamu.” Aku meraih tangannya dan membuatnya berbalik menghadap kearahku. Kali ini aku bisa melihat air mata mengalir deras di kedua pipinya. ia memandang kearah tanganku yang memegang tangannya.

“Lepaskan. Aku ingin pulang. Aku ingin pulang dan kau bisa melanjutkan urusanmu.” Ucapnya dingin dan menepis tanganku.  Aku membeku melihatnya menepis tanganku. Ia tidak pernah sampai semarah ini padaku.

“Hyojin-ah, mianhae.”

“Pulanglah ketika kau telah selesai. Aku pergi.” Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan aku yang merasa sangat bersalah padanya.

 

*

 

“Kyuhyun-ssi..hari ini kau bersemangat sekali. Apa ada hal baik yang terjadi padamu?” Aku mengalihkan perhatianku dari naskah yang aku pegang dan tersenyum pada gadis yang berdiri dihadapanku ini dan mengambil soda yang disodorkannya padaku. aku mengangguk mengiyakan sementara ia duduk disampingku.

“Hanya sedang dalam mood yang bagus. Dan Hyojin dalam perjalanan kemari. Kami akan makan malam bersama kali ini. Setelah sekian lama.” Ucapku sambil memasukkan naskah yang tadinya aku baca kedalam tas.

“Kau sudah berbaikan dengannya? Baguslah.”

“Hmm.. akhir-akhir ini kami memang sering bertengkar. Salahku memang karena terlalu egois. Tapi kami selalu tidak bisa bertengkar dalam waktu lama.” Balasku sambil tersenyum.

“Aku iri sekali dengan kalian. Atau mungkin lebih tepatnya pada Hyojin-ssi.” aku mengerutkan kening mendengar penuturannya.

“Maksudmu?”

“Aku iri sekali dengan Hyojin-ssi. Ia memiliki dirimu. Dan aku bisa melihat kalau kau mencintainya.” Aku mengangguk mengiyakan. Dan menepuk bahunya pelan.

“Kau akan menemukan pria yang baik juga nantinya.”

“Kau benar. Ah..bisakah kau membantuku?” Ia  terlihat mengeluarkan naskah dari dalam tasnya. “Ada beberapa scene dialog yang aku rasa masih belum bisa aku dapatkan feelnya secara menyeluruh. Bisakah kau membantuku latihan secara tersendiri diluar rehearsal kali ini?” Ucapnya. Aku mengangguk dan mengeluarkan kembali naskah milikku.

“Tentu. Scene berapa yang kau maksud?” tanyaku sambil membuka lembar demi lembar dari naskah di tanganku.

“Scene 13 dan 15.”

“Baiklah..kau bisa mulai duluan.” Ucapku mempersilahkan. Ia membuka adegan dengan lagu yang menjadi bagiannya. Dan aku menanggapinya dengan bagianku sesuai di naskah. Kami saling bersahutan sesuai dengan line kami. namun dipertengahan scene 15, ia tidak lagi membalas sesuai dengan linenya. Aku menoleh kearahnya dengan bingung hanya untuk mendapatinya sedang menatapku dengan tatapan yang idak dapat aku artikan.

“Ada apa? Kenapa kau memandangku..” aku belum menyelesaikan pertanyaanku ketika ia tiba-tiba melingkarkan tangannya di leherku dan menyatukan bibirnya denganku. Aku membelalakkan mata tak percaya sementara ia memejamkan matanya dan melumat bibirku pelan. Aku mendorong bahunya hingga ia mundur beberapa langkah. Aku mematung ditempatku, masih tidak bisa mendeskripsikan apa yang baru saja terjadi.

“Apa..apa yang baru saja kau lakukan?”

“Kyuhyun-ssi…aku menyukaimu. Tidakkah kau bisa melihatnya?” ucapnya sambil tersenyum hambar.

“Aku yakin penonton akan sangat menyukai adegan yang baru saja aku lihat.”aku mendengar suara dengan nada sarkastik dibelakangku. Suara yang sangat kukenal. Aku berbalik dan mendapati Hyojin sedang menatap kami berdua sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai.

“Hyojin-ah..”

“Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak menyukainya.” Lanjutnya lagi, kali ini nadanya berubah dingin. Aku berjalan mendekat kearahnya. Ia terlihat mundur beberapa langkah, ia menatapku dengan sorot mata yang sama sekali tidak pernah ia berikan padaku selama aku mengenalnya.

“Hyojin-ah…kau salah paham. Kita bisa membicarakan ini, eo?” aku masih mencoba mendekat kearahnya sementara ia terus mundur. Langkahnya terhenti ketika ia menabrak dinding dibelakangnya. Ia masih menatapku dengan sorot mata yang sama, sorot mata penuh dengan kekecewaan.

“Ani. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku melihatnya dengan jelas.”

“Hyojin-ah..”

“Aku pergi. Kau lanjutkan saja latihanmu.” Ia melangkahkan kakinya kearah pintu keluar. Aku meraih tangannya dan membuatnya berbalik kearahku. Ia menepis tanganku kasar, kali ini aku melihat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Jangan menyentuhku. Kau tahu aku tidak bisa menerima pengkhianatan, sekecil apapun itu. Dan kau baru saja melakukannya. Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya kau melakukan hal ini padaku.” ucapnya lagi dan air mata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir di pipinya. Aku mencoba mendekat kearahnya, lagi-lagi untuk mendapatkan ia yang menjauhkan dirinya dariku.

“Hyojin-ah..bisakah kau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Tidak semua yang kau lihat itu sesuai dengan apa yang kau asumsikan. Aku tidak tahu..”

“Kyuhyun-ssi..kau dipanggil oleh Direktur Kim.” Aku mendengar salah seorang staff memanggilku. Aku mengerang pelan. Kenapa disaat seperti ini?

“Sepertinya kau sibuk. Kau selesaikan saja urusanmu terlebih dahulu. Jika kau sudah selesai, kau bisa menemuiku dan memberikan penjelasanmu. Bukankah aku selalu menjadi nomor dua bagimu?” ucapnya sinis dan mulai berjalan lagi. Aku meraih tangannya dan membuatnya kembali menatapku.

“Tunggu aku dirumah. Aku akan menjelaskan semuanya nanti.” Ia tidak membalas perkataanku. Ia hanya menepis tanganku yang memegang tangannya dan melanjutkan langkahnya. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk. Aku memutuskan untuk menemui Direktur Kim dan menyelesaikan urusan yang ingin ia selesaikan denganku agar aku bisa cepat pulang dan meluruskan kesalahpahaman ini. Aku meraih ponselku dan mencoba menelfonnya saat aku berjalan menuju ruangan Direktur Kim. Ia menolak panggilanku berkali-kali.

“Hyojin-ah..aku mohon kau mau mendengarkan penjelasanku. Aku akan pulang lebih awal hari ini. Aku harap kau menungguku dirumah.” Ucapku dan mengirimkan voice mail itu padanya.

Ia tidak membalas voice mail itu atau balas menelfonku. Dan ia tidak pernah kembali ke apartemen kami sejak hari itu.

 

 

Aku menatap jarum jam di arlojiku. Sepertinya aku datang sedikit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku menyandarkan diriku pada sandaran kursi restaurant ini. Setiap detik terasa berjalan sangat lambat. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Membuatnya kembali padaku dan menjalani hidup kami seperti sebelumnya. Aku tahu seharusnya aku melakukan ini sejak sebulan yang lalu. Aku menghela nafas panjang, seharusnya aku bisa menemuinya lebih awal. Aku harap Hyojin mau memaafkanku dan kembali. Aku menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka dari arah luar. Hyojin, gadisku yang aku rindukan berdiri disana. Terlihat cantik seperti biasanya, aku tersenyum kearahnya dan ia membalas senyumku. Hanya saja kali ini senyumnya terasa berbeda. Ia mulai berjalan kearah meja dan aku berdiri untuk menarik kursinya. Ia menggumamkan terima kasih pelan dan aku hanya mengangguk, merasa senang.

“Hyojin-ah…akhirnya kau mau menemuiku. Gomawo.”

“Ne. Bagaimana kabarmu, Oppa?” Ia bertanya pelan. Aku masih menatapnya, mencoba melihat kedalam manik matanya sementara ia terlihat seperti menghindar dari tatapanku.

“Seperti yang kau lihat. Apa saja yang kau lakukan selama sebulan terakhir ini?”

“Hanya melakukan beberapa project. Oppa, kau terlihat kurus, apa kau sering melupakan makan seperti sebelumnya?” kali ini ia membalas tatapanku, dan pertanyaannya barusan membuat hatiku menghangat. Ia masih memperhatikanku. Dan nada bicaranya sama seperti yang selalu kudengar sebelumnya. Aku tersenyum tipis dan mengangguk.

“Ah..kau memperhatikanku rupanya.” Aku tersenyum jahil padanya. Aku sadar jika sedari tadi situasi canggung sedang melanda kami. ia terlihat seperti membatasi dirinya, entah maksudnya apa. Tapi aku memaklumi saja. Kami sudah sebulan lebih tidak bertemu dan pertemuan terakhir kami tidak berakhir dengan baik. Ya, aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ia terlukanya ia saat itu.

“Hyojin-ah…kau tentunya tahu kenapa aku memintamu untuk menemuiku hari ini kan?” Ucapku pelan. Ia mendongakkan kepalanya dan mensejajarkan pandangan matanya denganku. Namun ia tidak membalas satupun dari ucapanku. Aku menghela nafas panjang dan meraih tangan kanannya yang berada diatas meja, mengenggamnya pelan.

“Aku tahu jika sebelumnya aku bersalah. Dan aku menyesal. Aku ingin kau kembali, Hyojin-ah. Eo?”

“Oppa..”

“Aku tahu seharusnya aku lebih memikirkan perasaanmu. Membuatmu tetap menjadi prioritas seperti sebelum aku tenggelam dalam karir. Seharusnya aku juga mendengarkanmu ketika kau mengatakan untuk menjauhi gadis itu.”

“Oppa..sudahlah. Itu sudah berlalu.”

“Tapi kau pergi dariku. Aku pikir kau akan kembali setelah beberapa hari. Tapi kenyataannya kau tidak pernah kembali dan kau sama sekali tidak mengangkat teleponmu.”

“Oppa..aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir. Kau tahu sejak awal hubungan kita dimulai jika aku sama sekali tidak bisa menerima pengkhianatan. Baik itu disengaja atau tidak.”

“Hyojin-ah…kau tahu itu hanya salah paham. Kita sudah bersama selama lebih dari lima tahun, apa kau tidak percaya padaku?”

“Aku percaya padamu Oppa…”

“Lalu apa yang membuatmu tidak ingin kembali selama sebulan ini? Aku ingin kau kembali. Kita kembali lagi seperti biasa. Bagaimana?” aku masih menggenggam tangannya dan memandangnya penuh harap. Ia membalas tatapanku dengan sorot mata yang tidak dapat aku artikan. Dan itu membuatku cemas dengan apa yang akan ia putuskan. Ia menghela nafas panjang dan membalas genggaman tanganku.

“Oppa…kau tahu bagaimana perasaanku padamu kan?” Ia menautkan jari-jarinya dengan jariku, aku mengangguk dan ia tersenyum hangat, senyum yang aku rindukan darinya.

“Aku mencintaimu. Sangat. “ Lanjutnya lagi.

“Karena itu, bisakah kau kembali kerumah? Kembali seperti semula.”

“Oppa..mianhae.” aku mengerutkan keningku ketika mendengarnya meminta maaf. untuk apa ia meminta maaf padaku?

“Hyojin-ah..”

“Ani…biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Hm?” Ia tersenyum walaupun aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca.  Aku mengangguk dan menunggunya melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan padaku.

“Aku tidak bisa kembali padamu, setidaknya untuk saat ini.”

“Apa kau masih tidak bisa memaafkanku karena aktris itu? Hyojin-ah..aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan aku sudah mengatakan hal ini padamu berkali-kali kalau itu hanya salah paham. Aku juga sudah mengubah semua jadwal musikalku bersamanya.”

“Ayahku ingin aku kembali ke Munich.” Ucapnya pendek. Aku tertegun sebentar, berbagai pikiran buruk kembali muncul di pikiranku dan aku sangat tidak ingin apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan. Aku tahu keluarganya kurang menyukai hubunganku dengannya namun selama ini keluarganya selalu menyerahkan keputusan akhir pada Hyojin karena mereka hanya ingin yang terbaik untuk gadis ini. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu. namun dalam kondisi hubungan kami yang renggang seperti sekarang dan Ayahnya menginginkan ia kembali mungkinkah…ayahnya telah menyiapkan seseorang yang akan mendampinginya disana? Aku mencoba mengusir pikiran itu dari kepalaku dan tersenyum kepadanya.

“Kalau begitu kau bisa pergi kesana dan kembali secepatnya. Berapa lama kau disana? Seminggu? Sebulan?” Aku mencoba untuk bersikap sewajar mungkin dan berpikir positif walaupun ekspresi yang ditunjukkannya seperti mengiyakan pikiran burukku. Aku membelai pipinya sayang dan membuatnya bertemu pandang denganku.

“Jika aku pergi kesana hanya untuk menghabiskan natal kali ini bersama keluargaku, tentunya aku menyetujui untuk kembali padamu sekarang, Oppa. Tapi kali ini aku bahkan tidak tahu apakah aku akan kembali kemari atau tidak.” Aku melihat bulir air mata mulai mengalir dipipinya.

“Kenapa? Apa yang membuatmu tidak yakin kau tidak akan kembali kemari? Aku tidak keberatan untuk menunggu, tapi jangan terlalu lama. Kau akan terkejut melihatku saat kembali jika kau pergi terlalu lama.” Aku mencoba sesantai mungkin walaupun suasana hatiku sudah tidak lagi dapat dijabarkan. Aku takut, aku sangat takut ia tidak akan pernah bisa kembali padaku.

“Aku menyetujui untuk mengambil alih salah satu anak perusahaan Ayahku. Ayahku menginginkan agar aku mengambil jabatan itu sejak setahun yang lalu. Aku sebelumnya menolak karena aku lebih menyukai pekerjaanku sekarang dan aku tidak ingin berpisah darimu. Ketika aku tahu kau mengkhianatiku sebulan yang lalu, aku langsung menghubungi Ayahku untuk menyetujui tawarannya. Dan saat ini aku tidak bisa menarik kembali keputusanku. Jangan menungguku. Aku tidak ingin memberikanmu harapan yang bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa mengabulkannya.”  Ia menghela nafas panjang, menyeka air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya. “Terlalu buruk, karena aku mengetahui jika itu hanya salah paham ketika keadaan sudah tidak dapat diubah. Mianhae.” Lanjutnya.

“Hyojin-ah…tidak bisakah kau tetap disini? Bersamaku. Aku akan berubah – ani, aku akan kembali menjadi Kyuhyun yang kau selalu kenal sebelumnya. Aku akan lebih mengutamakanmu daripada musikal dan juga partner-partnerku. Aku akan mengenalkanmu pada semua orang jika kau adalah kekasihku. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi dimalam hari sendirian karena keegoisanku yang lebih mengutamakan diriku sendiri dibandingkan kau. Aku akan merayakan hal yang bahkan mungkin paling sepele sekalipun bersamamu seperti sebelumnya. Tidak bisakah kau mempertimbangkan hal itu dan membatalkan kepergianmu?” aku tidak peduli jika aku terdengar menyedihkan sekarang. Yang aku tahu aku tidak ingin ia pergi meninggalkanku. Aku bertemu dengannya sekarang bukanlah untuk menerima kabar kalau ia akan pergi meninggalkanku, tapi untuk membuatnya kembali padaku. Ia membelai pipiku lembut dan menyeka air mata –yang bahkan aku tidak sadar jika aku menangis- dipipiku.

“Mianhae. Aku benar-benar minta maaf.”

“Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan menunggumu. Atau aku akan menyusulmu kesana.” Ia menggeleng pelan dan menggenggam tanganku lagi.

“Hidupmu disini. Kau tidak harus melepaskan semua yang kau capai dengan susah payah selama ini hanya demi bersamaku. tetaplah disini dan menjadi aktor musikal yang hebat. Kau bisa melakukannya. Setidaknya lakukan itu demi aku. Kau bisa mengunjungiku, tapi aku tidak mengijinkan jika kau melepas karirmu dan ikut pindah bersamaku. Apa hal itu berat untuk dilakukan, Oppa?” Ia terlihat memohon kali ini. Aku masih memandangnya dengan harapan ia akan membatalkan kepergiannya. Namun ia tetaplah Choi Hyojin, gadisku yang selalu berpegang dengan keputusan yang telah ia buat. Kami terdiam selama beberapa saat, hanya saling menatap satu sama lain. Mencoba untuk menikmati saat-saat kami bersama.

“Kapan kau berangkat?” ucapku akhirnya.

“Besok siang. Dan bisakah aku meminta sesuatu padamu?” aku mengangguk dan tersenyum, walupun itu bukanlah senyum yang terbaik yang bisa kuberikan padanya kali ini.

“Jangan mengantarku ke bandara. Itu akan membuatku semakin sulit untuk pergi.” Aku terdiam sejenak. Jadi sekarang adalah pertemuanku yang terakhir dengannya? Aku mengangguk ragu dan ia tersenyum lega.

“Gomawo.” Ia menggenggam tanganku dan aku membalas genggamannya. Mencoba untuk menyimpan bagaimana rasanya menggenggam tangannya yang nantinya akan aku rindukan. Kami hanya bertukar pandang, karena sepertinya kata-kata tidak mampu menjabarkan bagaimana perasaan kami saat ini.

“Aku harus pergi. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan sebelum benar-benar pergi.” Ucapnya memecah keheningan kami. Ia meraih tasnya yang ia letakkan diatas kursi disebelahnya. Ia berjalan mengitari meja dan menundukkan badannya untuk mengecup bibirku sekilas dan tersenyum padaku sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan ini.

Aku menatap punggungnya yang selangkah demi selangkah semakin menjauh. Ia akan pergi. Ia akan pergi dan aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Ia akan pergi dan aku tidak tahu kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Ia akan pergi jauh ke Negara yang sangat jauh untuk aku kunjungi sesering mungkin. Ia, gadisku yang selama beberapa tahun ini selalu bersamaku akan meninggalkanku. Aku tidak akan bisa lagi melihatnya terbangun dipagi hari disampingku. Aku tidak akan bisa lagi merasakan masakannya yang selalu ia buat dengan tulus di sela-sela kesibukannya. Aku tidak akan lagi mendengarkan tawanya saat aku pulang ke apartemen kami.

Aku tidak menyadari jika aku sudah berdiri dari dudukku dan berjalan menyusulnya yang hampir membuka pintu dan memeluknya dari belakang. Ia terlihat terkejut, namun ia membiarkan aku memeluknya. Ia memegang tanganku yang melingkari pinggangnya. Aku meletakkan daguku dibahunya, menghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi favoritku.

“Kau tahu, aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu. Kau tega sekali padaku.” ucapku pelan. Aku merasakan bahunya sedikit bergetar. Aku membalikkan badannya agar ia menghadap kearahku, ia menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan air matanya. Aku menangkup kedua pipinya, membuat pandangan kami bertemu. Aku menyeka air matanya dengan ibu jariku sementara aku tahu jika aku sendiri merasakan mataku terasa panas karena air mata yang menggenang di pelupuk mataku.

“Tapi jika kau sudah memutuskan untuk pergi, aku hanya bisa membiarkanmu bukan? Aku memang berusaha untuk menahanmu agar kau tetap bersamaku, tapi kali ini aku gagal. Anggap saja ini sebagai hukuman bagiku karena memperlakukanmu dengan buruk sebelumnya. Tapi kau harus tahu satu hal dan kau harus selalu mengingatnya.” Aku mencium dahinya dan pipinya bergantian. Ia memejamkan matanya, membiarkan aku melakukan apa yang aku inginkan saat ini. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku. ia membuka matanya kembali saat aku selesai mencium pipi kanannya, menunggu kalimat yang akan aku ucapkan selanjutnya.

“Aku mencintaimu, Hyojin-ah. Dan akan selalu seperti itu.” Dua bulir air mata kembali mengalir dipipinya ketika aku mengucapkan kalimatku. Aku memegang pipinya dan mendekatkan wajah kami. ia memejamkan matanya tepat sebelum bibirku menyentuh bibirnya. Aku mengulum bibirnya pelan, menyampaikan seluruh perasaanku padanya. Ia membalas ciumanku dengan air mata yang masih mengalir dipipinya. Aku menatapnya dalam saat aku melepaskan ciuman kami, ia membalas tatapanku dan tersenyum.

“Aku juga mencintaimu, Kyuhyun Oppa.”

*

*

*

*

Silahkan simpulkan saja sendiri hubungan mereka nantinya gimana..yang jelas di story ini mereka gak bisa balikan kan? Wakakakaka..

Huhuuuuu jangan tanya gimana perasaan iam pas ngetik adegan terakhir itu..JANGAN TANYA TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT /lap ingus

Sebenernya pengen juga bikin alasan kenapa Hyojin gak bisa balikan sama Kyuhyun gara-gara ada lelaki lain yang menggantikan posisi Kyuhyun..tapi karena udah terlanjur bikin kalo mereka baru pisah cuma sebulan ya mau gak mau pake alesan lain..n aku akui alasan Hyojin kali ini egois. Cuh ternyata couple ini sama aja..sama-sama egois (disini) HAHAHAHAHAHAHA /ok gapen

And anyway,,,tepat banget FF ini selesai sebelum natal. Ehehehehe MERRY CHRISTMAS EVERYONEEEEEEEEEE 

p/s : jangan bosan-bosan main ke blog kami  yaaaaa n____n kami bakalan usahain untuk tetap update. /showering all readers with sweet kisses

n_____n

Iklan

12 thoughts on “[HyoKyu Version] Miracle in December

  1. wtf iya jd harus gmn ni menyimpulkan endingnya :0
    iya disini mereka terpisah dengan cara semacam apa ya.. karmanya kyuhyun..
    hyojin jealous uda pasti itu perempuan pengganggu jalang luar binasa manfaatin kesempatan dalam kesempitan =_=
    dan miris iya pas kyu teriakin hyo itu..

    din pas adegan hyo jealous gr2 si partner aktris upload selca di SNS sumpah jd kebayang kasus myung sama mbak doyon. jeite.

    Suka

  2. ehhh guweh mikirnya di akhir akan nyempil lelaki tinggi itu ,tapi ternyata hyojin bermain aman kkkkkkk…
    dan kenpa aku mikir ke musikal si kyu yang baru yah…jadi ngebayangin kingKYU …..

    Suka

  3. HYOJINAAAAA
    eke baru baca miane T__T
    suka banget always sama gayamu menulis. suka pas bagian kyuhyun ngejelasin kalo hyojin suka tidur sambil gulung poninya ~~~ itu kamu banget ha ha ha.
    suka pas kalimat Cho Kyuhyun milik Choi Hyojin .. suka banget kayak ada penegasan disana^^
    daan … kata-katamu yang “pasti ada batasnya” T___T
    hhh. aku suka keseluruhan ceritanya. easy but benar, egois.
    kyuhyunnya begok sih. hahaha. oppa di miracle december pecundang semua T_T aaah

    Suka

  4. Huwaahhhh baru sempet baca ini,,,, salah satu alasan kenapa iam rada ragu baca miracle in december karena kalian bilang ini Sad FF, huhuhhuuuu… Iam sudah capek nangis karena drama, dan gak mau lagi nangis gegara FF hahahahaa… Tapi ini baru mulai lagi baca update an FF disini..Huwaarrsssss Sukses bikin iam nangis lagi…/lapingus

    Huweehhh…Suka-suka… Karmanya KYUHYUN… I like the possessive things, like “Kyuhyun milik Hyo jin, Hyo Jin milik Kyu Hyun” mueheheehe Cheesy but, Kerasa bangedh itu feel cintah nya mereka berdua…

    sekian sebelom iam digampar karena nyampah disindang…BUBAYYY CYIIINNN

    Suka

  5. Wooahh ceritanya dipotong smpe sinii ga adil ihh gtw end ny hahah #maksanih tp all out is good feelny dapet huhuhu gue tauu pasti si cewek ituu so hyun aigooo aq jg ga sukaa hyojin-ah high five hihii .

    Suka

  6. knapa ngga bsa brsatu lg 😥
    Sbnernya ini emng bner2 krna slah pham kan ga ada yg menghianati
    Tpi ini critanya bgus bgt krna aq suka bnget crita2 yg sad gni tpi nyesek juga trnyata klo endingnya mreka g bsa brsatu

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s