[ONESHOOT] One Side Love

onesidelove

Author : Hanwoo • Cast : Lee Hyukjae – Lee Hanwoo- Cho Kyuhyun and other cameos • Genre : Straight – Sad – Romance • Length : Oneshoot

Setiap kali kau muncul
Suara itu menggema cukup rendah
Sampai wajahmu menyerupai sinar matahari di musim semi
Kau selalu bersinar dengan terang di hari-hariku

Eunhyuk’s POV

———————–

Kakiku melangkah disepinggir pertokoan Seoul. Menatap kosong pemandangan yang ada dihadapanku. Orang-orang berlalu-lalang disekitarku namun semuanya buyar karena aku memfokuskan satu hal. Kakiku gemetar dan tubuhku melemas ketika aku mengingat lagi kejadian hari ini.

Ini bukan menyangkut pekerjaan semisal aku dipecat oleh perusahaanku, bukan. Ini juga bukan menyangkut duitku yang tiba-tiba hilang, bukan. Sama sekali bukan. Semua ini hanya karena seorang wanita yang sangat kucintai. Langit yang cerah tiba-tiba gelap seketika dan kudengar suara Guntur yang menyeruak memecah gendang telingaku.

“Oppa ..”

Suara itu masih terdengar merdu di telingaku. Suara yang sangat kusukai lebih dari suara apapun. Bahkan suara Hyorin Sistarpun kalah jika dibandingkan dengan suara wanita yang sedang memanggilku ini. Wanita itu memintaku bertemu disaat jam makan siangku. Kutatap matanya yang menatapku nanar. Dia tersenyum ragu seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Hmm ..?”

Tanganku dengan gampang menyentuh anak rambutnya membawanya ke belakang telinga. Dia sangat cantik. Wanita cantik yang pernah aku temui. Tidak. Aku membatalkan ucapanku tentang memujinya. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak ketika melihat matanya mulai berkaca-kaca. Terlihat kesedihan dari raut wajahnya.

“Apa kau mencintaiku?” tanyanya.

“Tentu. Tentu saja aku mencintaimu? Kau itu kenapa?”

Kudengar dia tersedak seperti menahan tangis. Namun sepertinya dia tidak bisa menahannya lagi karena air matanya mengalir dengan cepat membasahi pipinya.

“Mulai sekarang berhentilah mencintaiku. Berhentilah oppa..”

Sebenarnya aku ingin tertawa mendengarnya berkata seperti ini. Namun sekali lagi tidak ketika aku berusaha menyentuh lengannya hatiku mulai goyah. Tidak lagi mimpi yang kukira mimpi. Dia benar-benar mengatakannya dihadapanku dengan tangisnya.

“Wae?! Kau jangan bercanda. Aku tahu besok adalah hari ulang tahunku, tapi jangan pernah kau bercanda denganku dengan hal seperti ini.”

Kukatakan seperti itu tapi dia semakin terisak menangis. Aku bertanya-tanya dan tidak sabaran dengan tingkahnya yang mungkin akan tiba-tiba tertawa sebentar lagi.

“Aku hamil ..”

Rasanya seperti tersambar petir. Apakah .. Apakah yang dikatakannya kali ini memang benar dia sedang hamil mengandung anakku? Benarkah? Tapi .. Aku masih berpikir dia sedang bercanda dan akan memberiku surprisse.

“A.. Apa aku pernah menidurimu? Mungkin ketika aku mabuk atau .. atau. Apa aku pernah melakukan sesuatu padaku?.”

“Anio oppa.. Anio .. Bukan kau.”

Tubuhku semakin melemas mendengarnya. Rasanya setengah nyawaku ingin keluar dari jiwaku. Aku begitu polos. Aku memang tidak pernah menidurinya. Aku benar-benar pria yang baik selama ini untuknya. Aku selalu memberikan yang terbaik untuknya karena aku benar-benar mencintainya.

“Aku benar-benar minta maaf oppa. Aku melakukan ini bersama Lee Donghae. Aku ..”

“jadi anak ini .. anak ini .. adalah anak Lee Donghae dan kau berselingkuh di belakangku?!” Dengan kasar aku menyentuh lengannya. Dia tidak menjawab dan menatapku takut. Kepalanya menunduk dan ini membuatku semakin menjadi-jadi.

“WAEEEE?! WAEEEE CHO YOORA?! WAE?!” aku mengamuk meneriakinya membuatnya semakin takut. Aku merasa dikhianati selama ini.

“Bukankah kita sebentar lagi juga akan menikah?! WAE?! Apa salahku?”

“Kau tidak salah oppa. Hanya saja aku .. Sudah lama aku tertarik pada Donghae oppa..”

Begitulah kira-kira percakapan terakhir kami. Hari terakhir kami dan hari sebelum aku ulang tahun dia memberi kado ulang tahun yang sangat spesial. Spesial dengan kehadiran buah hati darinya walaupun bukan dari benihku.

Aku meninggalkannya pergi dengan hati yang kosong. Saat itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara membunuh Lee Donghae. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya apa itu sakit hati, apa itu patah hati. Aku tidak pernah mengalaminya karena selama ini Yoora lah pacar pertamaku. Dia cinta pertamaku dan yang akan terakhir. Tapi pria yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri telah mengambil wanitaku diam-diam.

Aku sudah tidak kuasa lagi. Tubuhku melemas dan aku terjatuh bersimpuh di tiang traffic light. Hujan mulai turun membasahiku.

Entahlah ..

Dunia sedang tidak memihakku. Aku hanya melihat sesosok wanita yang mendekat ke arahku. Bayangan yang kulihat adalah Yoora namun aku tidak kuasa untuk melihat lagi. Aku benar-benar ingin membunuh diriku sendiri.

“Tuan! Tuan!”

Memoriku terhenti begitu saja ketika mendengar suara yang samar-samar tidak kudengar lagi. Aku tidak ingin mendengar siapapun. Yang hanya kuinginkan adalah kebahagiaan dan sekarang aku tidak lagi mempunyai kebahagiaan itu.

5 month later

Goyangshi.

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali lagi ke daerah asalku. Daerah kelahiranku dan aku merindukan semuanya. Merindukan eomma, appa, Sora nuna dan .. umm.. Choco! Anjing Pomeranian kesayanganku. Aku mencoba untuk melepaskan semua kenangan yang ada di Seoul. Bukannya aku pria yang lemah. Tapi banyak sekali kenangan indah bersama Yoora. Aku hanya tidak ingin membenci wanita itu.

Masalahnya Cho Yoora tidak pernah menunjukkan gelagat untuk berselingkuh. Jadi aku selalu mempercayainya dan tidak kusangka bahwa kejadian kemarin sudah melambung jauh. Seandainya saja itu adalah anak dari hasil benihku mungkin aku akan bahagia. Tapi .. sama sekali aku tidak berniat untuk membuat Yoora menjadi wanita yang buruk walaupun aku tahu banyak pasangan yang sudah melakukannya untuk sebuah ikatan. Aku tidak ingin itu semua terjadi tapi itu semua terjadi begitu saja walau bukan aku. Ya, walau bukan denganku.

Aku berlari pelan dengan memegang tali yang diikatkan di kalung choco. Sebentar lagi sampai di rumah. Membayangkan air hangat di bath up yang merendam tubuhku, benar-benar membuatku ingin segera pulang. Aku melihat seorang pria mengenakan coat dengan warna khaki sedang menunggu di depan rumah seseorang tepat di depan rumahku.

Aku tahu siapa pemilik rumah itu dan belum bertemu dengannya seharian ini. Mungkin saja dia tidak tahu bahwa aku kembali ke rumah. Kuperhatikan gerak-gerik lelaki itu yang sedang memegang buket bunga. Gerakanku melambat seiring berjalannya waktu. Mataku benar-benar fokus dengan apa yang dilakukan pria berponi turun yang menutupi dahinya itu. Apakah itu kekasih Hanwoo?

Kulihat seseorang keluar dari pintu rumah. Wanita berambut panjang dan terlihat anggun keluar menghampiri laki-laki itu. Aku berpikir mungkin itu sahabat Hanwoo atau .. apakah dia pindah rumah? Kenapa eomma tidak memberitahuku? Aku masih bertanya-tanya sambil membuka pintu.

“Apa kau sudah lama menunggu di luar?”

“Anio, Hanwoo-ya ini untukmu..”

Tubuhku seperti membeku karena tidak sengaja percakapan itu terlalu keras untuk kudengar. Pria itu menyebut Hanwoo? Wanita cantik tadi .. Apakah .. Cepat-cepat kubalikkan badanku dan melihat sekali lagi dengan jelas wanita yang bernama Hanwoo itu. Apakah dia benar-benar Lee Hanwoo? Lee Hanwoo kecil yang dulu pernah menyukaiku, yang pernah aku tolak dan menertawakannya dan sekarang aku benar-benar tidak percaya bahwa wanita cantik itu bernama Hanwoo.

“Sudah kakatakan oppa, kau tidak perlu memberiku bunga..”

“Yak, Hanwoo-ya. Tidakkah kau memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihmu?”

“Kyuhyun oppa kau  jangan bercanda..”

Cepat-cepat aku menggendong choco lalu masuk ke dalam rumah dan segera mengintip mereka berdua dari balik jendela. Kulihat wajah Hanwoo dari jauh. Dia benar-benar Hanwoo? Aku tidak percaya. Tiba-tiba seseorang memukul bahuku dengan kertas yang digulung. Aku menoleh dan melihat Sora nuna dengan gaya bak preman Goyangshi menatapku sangar seolah-olah ingin menerkamku.

“Sedang apa kau? Mengintip siapa? Siapa? Omo? Hanwoo dengan pria yang selalu datang kerumahnya akhir-akhir ini. Ada apa kau mengintip Hanwoo?” Sora nuna bertanya seperti ingin membunuhku. Begitu menggebu-gebu.

“Tidak apa-apa, nuna jangan salah paham. Aku hanya tidak sadar bahwa wanita itu adalah Hanwoo.”

“Wae? Kau menyesal pernah menolaknya dulu? Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang baik dan cantik.”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa mendengar ucapan nuna. Sepertinya memang benar Hanwoo tumbuh dengan baik dan ada sedikit rasa penyesalan yang entah datang sejak kapan. Kugaruk-garukkan kepalaku melangkah pelan sambil menurunkan choco di lantai. Aku membuka pintu kulkas hendak mengambil minum.

“Kenapa kau pulang lagi hah?” nuna duduk di sofa sambil menopang kakinya menatapku tajam. Masih dengan tatapan harimaunya yang hendak mencari mangsa. Aku benci jika dia menatapku seperti itu.

“Memangnya aku tidak boleh pulang?” ujarku disela meneguk air. Merasa hausku sedikit hilang aku menaruh botol minuman di tempat semula.

“Hahaha, pasti kau tidak betah tinggal di Seoul karena Cho Yoora kan? Dasar kau pria malang dan lemah.”

“Mwo? Ka-kau jangan mengatakanku seperti itu nuna!”  Nuna sudah tahu hubunganku yang kandas dengan Yoora. Aku sungguh malu.

“Hahaha entah kenapa aku sangat senang meledekmu. Sudah lama.. Aku merindukanmu.”

Begitulah nuna. Sifatnya memang terlihat angkuh dan dingin, namun tetap saja hatinya seperti wanita. Lembut dan penuh kasih sayang serta perhatian. Kami memang sering beradu mulut, itulah kami untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Aku sangat menyayangi nunaku.

“Bagaimana hubunganmu dengan Heechul hyung nuna?” tanyaku.

Nunaku adalah wanita yang beruntung tengah mendapatkan pengusaha muda dan kaya raya yang mempunyai sifat mirip sepertinya. Heechul hyung, begitu aku sering memanggilnya. Pria itu sangat baik padaku maupun pada keluargaku. Dia juga beberapa kali sempat mengundang keluargaku untuk makan malam dengan keluarganya. Dia menyambut kami baik dan sayang jika nunaku yang bodoh itu sampai memutuskannya suatu saat nanti. Mungkin aku akan memarahinya.

“Wae? Apa kau menyukai Heechulku? Apa karena kau patah hati sekarang beralih menyukai pria? Omo!! Jinjayo?! Daebak Lee Hyukjae ! Aku akan melaporkanmu pada eomma dan appa jika mereka pulang nanti ..”

“Yaaak tutup mulutmu nuna!!!” aku melemparkan bantal sofa kea rah wajahnya. Semoga saja tidak sakit. Kurang baik apalagi aku sebagai adik laki-lakinya yang masih memiirkan keselamatannya? Sementara dia selalu saja menyiksaku. Nuna tertawa keras-keras. Aku tidak sengaja menoleh kea rah jendela dan tidak lagi mendengar tawa nuna. Pupil mataku bergerak melihat nuna mengarah pada jendela. Dia ingin tahu sekali apa yang sedang membuat fokusku beralih.

“ Pria itu malang sekali. Pasti selalu berakhir seperti ini.” Ujarnya pada pria yang kudengar namanya Kyuhyun saat diluar bersama Hanwoo.

“Wae?”

“Cinta sepihak. Pria itu sangat menyukai Hanwoo. Tapi Hanwoo kulihat dari gelagatnya sepertinya dia menolak pria itu.”

Lagi-lagi aku tidak merespon ucapan nuna. Entah kenapa aku ingin sekali bertemu Hanwoo. Aku penasaran dengannya yang kini sudah tampil lebih dewasa, dia sangat cantik dan anggun. Bahkan .. hatiku yang sedang gundah memikirkan Yoora seketika larut dan merasa nyaman begitu saja ketika melihatnya kembali.

*

“Yak sahabatku sudah lama tidak bertemu denganmu. Apa kabar?”

Sungmin menyapaku. Dia adalah sahabatku. Sahabat yang benar-benar sahabat dan tidak pernah menyakitiku sedikitpun. Bahkan Sungmin banyak membantuku ketika di hari-hari pertama kepindahanku ke Seoul. Sore ini aku datang kerumahnya. Memang ingin sekali bertemu dengan Sungmin tapi juga ingin memberi kejutan untuk adik kandungnya, Lee Hanwoo.

“Kabarku? Aku sangat baik. Kau tidak melihat bahwa aku sedang bahagia bisa bertemu denganmu lagi Sungmin-ya.”

“Hahaha, ne aku bisa melihat cahaya bahagiamu itu seperti permata. Bagaimana pekerjaanmu di Seoul? Semua berjalan lancar? Kau pasti sedang mendapat cuti libur Hyuk.” Sungmin tetap sumringah seperti dahulu kala. Senyum khasnya yang membuat pipi tembamnya terlihat menonjol. Dia semakin gemuk ketika umurnya sudah mengharuskan dia untuk membuat lemak di seluruh tubuhnya menyebar ini membuatnya terlihat seperti ajuhsi.

“Bagaimana kau bisa tambah besar seperti ini ming?”

Ditanya seperti itu, Sungmin memincingkan matanya menatapku tidak suka. Dia menepuk bahuku berulang kali.

“Eiishhh, kau jangan seperti itu. Hanya saja kau belum saatnya menjadi sepertiku. Aku yakin kau juga lebih besar dariku suatu saat nanti. Hahahahaa. Yaak, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Kajja, kita duduk lalu bicara. Aku akan membuatkanmu teh.”

Sungmin mendorongku dan mengajakku untuk duduk di sofa. Saat aku melihat-lihat lingkungan rumah yang sepi ini, Sungmin meninggalkanku entah dia pergi kemana mungkin dia sedang bergegas membuat suguhan untukku. Aku mendengar suara seorang wanita yang sedang bersenandung di teras belakang. Aku penasaran siapa yang menyanyi itu, apakah Hanwoo? Aku bangkit dari dudukku dan melangkah menuju teras belakang.

“Kau mau pulang? Yak, minum dulu Hyuk ..”

“Ani, aku hanya ingin jalan-jalan ke belakang. Rumah ini masih tetap sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Rumah ini sepi sekali. Dimana yang lainnya?” sebenarnya ini hanya modusku ingin mengetahui keberadaan Hanwoo.

“Eomma sedang pergi arisan dengan ibu-ibu kumpulannya, sedangkan appa sedang pergi bermain golf.” Sungmin menaruh secangkir teh di atas meja.

“Aiish kau ini merepotkan sekali.”

“Gwenchana Hyuk.”

“Aku ingin melihat Hanwoo. Dia dimana? Apakah Hanwoo sehat?”

“Duduklah sebentar Hyuk. Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau cuti liburan? Kapan kau akan ke Seoul?”

“Aku akan menetap disini Ming..”

“Jinjayo?”

Lumayan lama Sungmin mengajakku berbincang-bincang akhirnya aku berhasil lepas dari tikaman Sungmin. Aku melangkah menuju teras belakang dan benar-benar melihat sosok wanita yang ingin kulihat sedari tadi. Tidak cukup hanya tersenyum untuk bertemu dengannya. Hatiku seperti es yang sedang mencair. Hanya melihat sosoknya saja aku bisa mencair seperti ini.

Hanwoo sedang menyiram bunga-bunga di taman belakang tanpa sadar dengan kehadiranku yang saat ini sedang menikmati menatapnya. Dia memakai cardigan kuning dan dalaman berwarna putih. Rambutnya panjang hitam dan sedikit bergelombang. Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Wajahnya bening dan aku memang benar-benar mengingat wajahnya kali ini. Aku yakin dia tidak melakukan operasi plasti seperti banyaknya warga Korea yang melakukan hal itu.

Aku terhenyak ketika mata kami tiba-tiba bertemu. Dia akhirnya menyadari kedatanganku. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar .. Hanya senyum yang bisa kulontarkan dengan lambaian tangan bahwa aku benar-benar kembali.

*

“Bagai..”

Kami tidak sengaja saling bertanya ini membuat kami kikuk. Aku mencoba tertawa begitu juga dengannya. Dulu aku tidak sedingin ini jika berada dihadapannya. Apakah begini pertemuan antara orang dewasa? Apalagi aku pernah menolaknya terakhis kali saat aku akan pindah ke Seoul.

“Sepertinya pertanyaan kita sama. Kau tumbuh menjadi wanita dewasa. Kau pasti mengalami hari-hari yang menyenangkan, Hanwoo-ya. Bagaimana kabarmu?” tanyaku. Kulihat dia menahan tawanya dan menyelipkan anak rambutnya ke telinganya.

“Sangat baik oppa. Kau sendiri bagaimana? Apakah Seoul menyenangkan?”

“Sangat menyenangkan. Tapi aku sudah tidak tinggal di Seoul lagi. Aku akan menetap disini.”

Hanwoo mengangkat wajahnya menatapku. Entah apa maksud tatapannya tapi aku harap dia bisa menerima kedatanganku.

Author’s POV

——————-

Hanwoo sedang menulis di dalam kelas. Seorang diri disaat istirahat berlangsung dia lebih memilih diam di kelas sambil belajar. Bukannya dia tidak suka membaur untuk bergaul dengan teman-temannya. Tapi kali ini moodnya sedang tidak ingin melakukan apa-apa selain diam di kelas.

Tiba-tiba dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya. Hanwoo mengangkat kepalanya dan melihat ke luar jendela. Entah apa yang membuat moodnya tiba-tiba berangsur baik.

“Kau tidak makan?”

Hanwoo terkejut ketika mendengar suara berat milik Cho Kyuhyun yang sudah berdiri disampingnya. Pria itu menarik kursi disamping membawanya kedekat Hanwoo. Kini dia duduk bersampingan dengan Hanwoo.

“Biasanya kau sangat antusias jika sudah jamnya istirahat. Kau akan makan dengan lahap.” Celoteh Kyuhyun membuat Hanwoo tertawa pelan.

“Aku sedang dalam mood yang tidak bagus, oppa.”

“Apa kau sedang datang bulan? WOW !!” Kyuhyun meledek Hanwoo tertawa pelan sambil menepuk tangannya. Hanwoo hanya menatap Kyuhyun dengan tatapan cemberut. Kyuhyun berhenti tertawa karena tidak sengaja matanya bertemu dengan mata Hanwoo. Lagi-lagi Hanwoo membuatnya kagum dan tidak bisa berkutik. Beginilah pria yang sedang jatuh cinta. Dia tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali sabar menunggu saatnya Hanwoo siap menerimanya untuk menjadi kekasihnya. Hanya saja dia terus menerka-nerka kapan hari itu akan tiba?

“Aku tidak akan mengganggumu kali ini. Tapi sebagai gantinya kau harus pulang denganku, araci?” Kyuhyun tidak ingin mendengar penolakan dari Hanwoo. Telunjuk dan ibu jarinya mencubit gemas pipi Hanwoo membuat wajahnya berbentuk abstrak. Kyuhyun langsung berlari ketika melepaskan tangannya.

*

“Apa kau tidak mau makan bersamaku?”

“Anio oppa..”

“Kau tidak makan siang saat istirahat tadi, dank au juga tidak mau makan bersamaku. Apa kau melakukan proses diet?”

“Anio. Hanya saja aku tidak ingin makan.”

“Hei, kau harus mengisi perutmu. Setidaknya makan ice cream bersamaku, bagaimana? Aku juga aka mentraktirmu.”

Hanwoo tertawa pelan mendengarnya. “Bagaimana jika aku tidak mau?” tanyanya. Kyuhyun menoleh sekilas sebelum pada akhirnya dia memfokuskan pandangannya ke depan. Dia sedang menyetir dengan sedan hitam kesayangannya yang selalu dia bawa ke kampus hanya untuk

“Disini aku yang memegang kendali jadi kau harus menurutiku, Lee Hanwoo.”

Hanwoo tersenyum. Kyuhyun selalu seperti ini padanya. Tapi terkadang dia sering kali merasa tidak enak pada Kyuhyun. Seperti memberikan harapan kosong pada Kyuhyun. Dia hanya sedang tidak ingin menjalin hubungan untuk saat ini. Tapi Kyuhyun yang selalu datang padanya. Kapanpun pria itu akan menyempatkan datang agar bisa bersama Hanwoo.

Pernah Kyuhyun datang jam 12 malam kerumah hanya karena status di sns Hanwoo yang mengatakan mag nya sedang kumat dan tidak ada siapa-siapa dirumahnya. Kyuhyun saat itu datang membuat Hanwoo benar-benar tidak enak pada pria itu dan tidak pernah meng-update status yang aneh-aneh lagi di sns. Tapi.. terkadang disamping Kyuhyun membuatnya nyaman. Apakah suatu saat nanti dia bisa merubah perasaannya pada Kyuhyun menjadi cinta?

*

Setelah mengantar Hanwoo membeli ice cream, Kyuhyun mengantar Hanwoo pulang. Dia membiarkan mesin mobil itu menyala. Kyuhyun masih merasa kikuk karena mengontrol perasaan sukanya terhadap Hanwoo. Dia masih menunggu wanita itu selesai membuka seat beltnya.

“Gomawo oppa.”

“Hmm.. Jangan lupa makan yang banyak.”

“Ne. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu.”

Hanwoo tidak pernah menyambut Kyuhyun. Dia tidak membiarkan Kyuhyun untuk jatuh lebih dalam lagi. Dia menganggap hubungannya dengan Cho Kyuhyun adalah sebatas senior dan junior. Jika Kyuhyun baik seperti ini padanya, yang dia takutkan adalah sesekali membuka harapan padanya. Dia juga tidak pernah menerima dengan baik ketika Kyuhyun membawakannya bunga atau cokelat.

Kyuhyun tahu itu. Kyuhyun tahu Hanwoo tidak pernah menerimanya untuk menjadi kekasihnya. Namun dia benar-benar tidak tahu lagi dimana harus mencari wanita yang mirip seperti Hanwoo. Dia benar-benar buta.

Hanwoo turun dari mobil dan melambaikan tangannya ketika kaca mobil itu perlahan turun. Hanwoo sedikit berteriak mengatakan terima kasih pada Kyuhyun agar pria itu bisa mendengarnya. Kyuhyun pun melajukan mobilnya hingga sesosok pria terlihat sedang berdiri di sebrang. Hanwoo sedikit terkejut melihat Hyukjae sedang berdiri di depan pintu gerbangnya.

“Apa kau baru pulang?”

“Ne. Apa kau berdiri daritadi disana oppa?”

“Ah anio, aku baru saja ingin keluar beli makan. Aku lapar sekali. Apa kau mau menemaniku?”

Entah kenapa Hyukjae berharap agar Hanwoo mau pergi bersamanya. Dia berharap bahwa Hanwoo menganggukkan kepalanya atau mengatakan iya padanya. Akan menyenangkan jika semua itu terjadi. Dia bisa pergi bersama Hanwoo. Akan mendengar banyak ceritanya selama ini. Tapi ternyata dia menggelengkan kepalanya. Aku sedikit kecewa padanya. Dia sudah dewasa dan bukan segampang Hanwoo yang dulu.

“Mungkin lain kali oppa..”

“Ah ne gwenchana, mungkin kau sedang lelah..”

Di dalam café Hyukjae benar-benar merasa menyesal dulu pernah menolak Hanwoo. Kenapa dia harus melakukan semua itu jika pada akhirnya dia yang sekarang bermain-main di lubang yang mengarahkan dia untuk terjatuh lagi. Dia merasa pria yang bernama Cho Kyuhyun adalah saingannya sekarang. Atau lebih tepatnya dia merasa pesimis dengan dirinya sendiri.

“Tidak! Tidak! Kau harus semangat Lee Hyukjae!”

*

Hari ini Lee Hyukjae sedang dalam mood yang baik. Dia menyisir rambutnya rapi. Tubuhnya sudah wangi ditambah lagi dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya yang sudah dilapisi baju. Dia menatap dirinya di cermin. Pantulan bayangannya yang sudah sangat tampan. Dia mengambil kaca mata hitamnya lalu memakai coat cream siap untuk menjemput seorang putri.

Lee Hyukjae mengangkat pot daun yang baru saja dibelinya. Pot ini mungkin terlihat tidak bagus dan sangat sederhana tapi dia ingin memberikan sesuatu yang berbeda kepada wanita yang ingin ditembaknya hari ini. Ya, dia berencana pergi menemui Hanwoo dan berencana ingin menyatakan cintanya hari ini dengan tanaman srri rejeki bahwa dia tengah menyukai Hanwoo.

Tapi harapannya luntur ketika melihat seorang pria berdiri didepan rumah Hanwoo. Pria itu dengan senyum sumringahnya memegang erat buket bunga yang di bawanya. Pria malang yang akhir-akhir ini dilihatnya selalu mendatangi Hanwoo. Cho Kyuhyun, dia datang lagi kini menjadi saingannya.

Kemudian dia melihat seorang pria dengan tubuh tinggi dan tegap berjalan dengan aura bisnisman yang sangat kental. Tangannya memegang tas hitam dan memegang kado berwarna merah jambu berbentuk hati. Pria itu datang dengan rambut klimis dan jas biru donker yang rapi. Sayangnya kali ini Hyukjae mengenal pria itu. Choi Siwon. Kenapa pria itu datang kemari dan ikut berdiri di depan rumah Hanwoo? Pria itu adalah bosnya saat bekerja di Seoul. Kenapa orang itu ada disini? Dia sibuk menerka-nerka.

Hyukjae mencoba memberanikan diri untuk melangkah dan berdiri disamping Choi Siwon. Kini sudah ada tiga pria berdiri di depan rumah Hanwoo. Mereka menunggu kedatangan seorang putri yang akan memilih pangerannya malam ini.

Apakah Cho Kyuhyun yang akan diilih Hanwoo,  pria yang sudah menjadi senior Hanwoo dan selalu bersamanya selama ini dengan buket bunga di tangannya, atau dia lebih memilih pria bisnisman seperti Choi Siwon dengan kotak kado berbentuk hati yang di dalamnya mungkin ada baju dengan merk termahal, atau buku dari pengarang terkenal dengan limited edition atau sebuah tiket liburan? Atau dia lebih memilih pria sederhana seperti Lee Hyukjae, pria yang pernah menolaknya dulu yang kini sedang mendapatkan pencerahan bahwa penolakan yang dilakukannya dulu itu adalah salah.

Kedua pria itu memandang Lee Hyukjae yang sedang memeluk pot daunnya yang lumayan besar dengan tatapan “yakin ingin bersaing dengan cara seperti itu?” Menyadari dirinya ditatap seperti itu, Hyukjae tidak terima.  Dua pria itu melangkah menjauh perlahan tidak ingin dekat-dekat dengan Hyukjae. Hyukjaepun menatap remeh mereka dengan tatapan “Hanwoo tidak akan memilih kalian. Kalian terlalu meremehkan daun sri rejeki yang kubawa, akan kusikat kalian.” dan melakukan gerakan aneh dengan menunjuk-nunjuk dua pria itu membuat dua pria itu  semakin menjauh. Lalu dari kejauhan suara sirine ambulance datang dan hampir menabrak dirinya. Saat itu dia tersadar dari tidurnya bahwa dia hanya bermimpi. Semua itu hanya mimpi.

Hyukjae terduduk di atas ranjang menyadari mimpi anehnya tadi. Dia tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya. Dia merasa malu pada dirinya sendiri dengan tingkah aneh dan menjijikkannya di dalam mimpi. Dia mendengar ada suara ribut-ribut di luar rumahnya. Suara tangisan dan …

Lee Hyukjae tersadar bahwa sirine ambulance tadi benar-benar terasa nyata. Apakah terjadi sesuatu? Hyukjae menyampikkan tirai jendelannya dan melihat ambulance benar-benar berada di depan rumahnya dan melihat ibu Hanwoo menangis dalam pelukan Sungmin.

Apa yang sedang terjadi..?

Hanwoo’s POV

———————-

Aku merasa bening untuk saat ini. Aku tersenyum cerah pada dunia. Walaupun aku melihat banyak tangis air mata yang jatuh untukku, aku yakin mereka semua akan merelakanku pada akhirnya bahwa aku benar-benar tidak akan ada di hari selanjutnya. Malaikat tengah menjemputku. Aku sudah tidak diperbolehkan untuk bernapas. Aku juga tidak diperbolehkan untuk membalas sedikitpun perasaan Kyuhyun atau mengutarakan perasaanku yang sampai saat ini masih menyimpan perasaan kepada Hyukjae oppa.

Pria yang akhirnya kembali lagi ke tempat asalnya dan bertambah semakin tampan di setiap harinya. Pria yang membuatku untuk selalu menjaga dan merawat diri karena penolakan itu membuatku benar-benar menjadikanku wanita yang dewasa. Dan kini aku benar-benar melihatnya menangis. Dia menangis sambil menyentuh batu nisanku. Aku melihat sinarnya dengan jelas bahwa ada sinar yang menunjukkan berwarna merah muda. Sinar merah muda yang menunjukkan bahwa hatinya sedang tertuju pada orang tersebut. Aku. Ketika aku matilah semua itu terjawab bahwa dia jatuh cinta padaku. Dia yang menolakku dulu ternyata menyimpan perasaannya padaku sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku sudah tidak lagi di dunia.

Dan Kyuhyun oppa.. Di balik pohon rindang yang aku juga melihat sinar yang sama dengan yang dimiliki Hyukjae oppa. Dia juga benar-benar mencintaiku. Pertemuan pertama kami yang tidak begitu menyenangkan. Dia adalah seniorku yang dulu membenciku karena aku pernah tidak sengaja menjatuhkan air minum pada laporan yang mau dikumpulnya hari ini kepada dosen pembibing. Saat itu dia sangat marah padaku. Dia marah kenapa aku membawa minuman ke dalam perpustakaan. Dia marah karena kenapa aku yang duduk disampingnya waktu itu.

Aku benar-benar minta maaf padanya. Pertemuan itulah yang membuat kami menjadi dekat walaupun aku merasa nyaman padanya, dia sudah kuanggap seperti kakak keduaku yang selalu ada dan selalu melindungiku. Itulah jawabanku padanya. Bahkan sampai aku meninggalpun aku tidak punya perasaan cinta padanya. Dia banyak berkorban untukku. Tapi bukan aku wanita yang dijodohkan Tuhan dengannya. Aku benar-benar minta maaf Cho Kyuhyun.. Apa yang kulakukan selama ini membuatnya harus berkorban dengan sia-sia dan menghabiskan waktunya sendiri.

Hyukjae’s POV

———————

1 weeks later

Inilah penyesalan. ..

Menyesal dengan apa yang kulakukan selama ini. Membuang-buang waktu dengan wanita yang ternyata aku sebenarnya harus lebih perhatian kepada wanita yang menyatakan perasaannya padaku dengan tulus. Hanwoo meninggal dunia. Dia meninggal dunia karena magnya yang sudah merajalela. Magnya yang membuat tubuhnya lumpuh seketika sehingga dia tidak sempat ditolong dengan cepat.

Hari ini aku membantu Sungmin untuk membersihkan kamar Hanwoo. Kamar yang dipenuhi dengan pernak-pernik warna pink. Ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang lovable. Dia orang yang pantas dicintai oleh siapapun. Bahkan sampai Tuhanpun mengambil dirinya tidak untukku atau Cho Kyuhyun. Jika Tuhan yang meminta, apa yang bisa kulakukan?

“Aku akan membuang ini semua ke bawah. Kau bisa menimbun barang-barang ini sendirian kan? Dusnya ada di depan kamar. Mungkin aku agak lama karena perutku terasa sakit.” Ujar Sungmin.

“Tenang saja, aku akan melakukan semuanya.”

“Ah ne, sebelum aku lupa Hyuk.. Ada yang ingin kutunjukkan padamu mengenai Hanwoo.”

“Apa?”

Sungmin membuka tas cokelat milik Hanwoo yang masih tergantung dan memberikan sebuah dompet berwarna pink tua padaku. Aku tidak mengerti ada apa dengan dompet yang diberikan Sungmin padaku. Aku tidak pernah memberikannya dompet dan aku tidak pernah .. Ya, aku tidak pernah memberikan Hanwoo apapun selain mimpi aneh minggu lalu dimana aku datang membawa daun sri rejeki untuknya itu juga dia tidak mampir ke dalam mimpiku melainkan kabar buruk yang aku dapat setelah aku terbangun dari alam bawah sadarku.

“Kau akan menemukan jawabannya.”

Hanya aku dan dompet ini yang tertinggal setelah Sungmin sudah tidak tahan untuk ke bawah karena sakit perut yang sudah bisa ditahannya lagi. Kamar ini sungguh sepi. Aku tidak tahu apakah Hanwoo melihatku saat ini? Kucoba membuka dompet itu perlahan dan terlihat gambar diriku di sebuah foto yang berukuran 4×6. Itu adalah foto raporku saat SMA yang pernah hilang ternyata dia yang membawa. Entah kenapa air mataku mengalir. Dia masih mencintaiku selama ini. Sedangkan apa yang kulakukan selama ini? Membuang-buang waktu dengan seorang wanita yang malah menyakitiku. Mungkin kali ini aku sedang salah melangkah.

THE END

 

Akhirnya aku buat FF lagi. Dan FF ini hanya 12 halaman di word. FF terpendek yang mungkin pernah kubuat [seingetku]. Ini ff selinganku. Benar-benar selingan di waktu yang lagi banyak-banyaknya tuugas kampus. Selain itu juga susah untuk mencari feeling sekarang. Dan saya kembali dengan membuat cerita yang bener-bener pendek. Semoga suka ya … Ga yakin juga bagus ih T_T kayaknya kurang deh.. Tapi gatau kenapa ada dorongan buat ngepost ini secepatnya. Dan juga … FF ini adalah hasil iklan spao yang Hyuknya bawa pot daun itu. HAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA … Okelah!

Thanksss yaaa J

Iklan

10 thoughts on “[ONESHOOT] One Side Love

  1. haahhh knpa itu hanwoo nya mati,dia pnya penyakitkah???
    Ya ampun tragis bgett hyukjae udah ditinggal kwin eh skarang dtinggal mati ouhh 😥 #cometome oppa 🙂

    Suka

  2. Sediih ternyata hanwoo nya meninggal,, hanwoo sakitkah?? Setidaknya hyukjae ga bisa dapetin hanwoo bukan krn ditolak sma hanwoo,,
    Kyuhyun baik bgt jagain hanwoo amp segitunya walaupun dia tau ga akan pernah bisa dapetin hanwoo jd pendampingnya,, tp kyu ttp tulus jg ke hanwoo
    Mgkn ini bisa jd pelajaran buat hyukjae jd nanti pilih pasangan dikenalin baik2 dulu, jgn smp dihianatin lg kaya yoora kmrn..

    Ditunggu ff terbarunya lg

    Suka

  3. duh kasian eunhyuk dihianati ma yoora. balik ke kampung ketemu cewek yg ditolak dulu ,,, udh ada rasa udh mau berjuang tp Tuhan berkata lain Hanwoo dipanggil maha kuasa.. pasti eunhyuk sangat2 terluka karena kehilangan hawoo…
    bnyk part yg bikin nyesek da juga yang bikin emosi ada yg bikin ketawa dan ada yg nguras air mata….
    gw baca ff ini malem dn baru coment pagi tp ttp aja masih kerasa ngefeel baca ulang

    smngt author ^^

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s