[Sequel of My True Love] The Wait is Finaly Over

The Wait is Finaly OverAuthor : Hanwoo • Cast : Lee Hyukjae – Lee Hanwoo- Cho Kyuhyun – Choi Siwon and other cameos • Genre : Straight  – Romance • Length : Oneshoot

Author’s POV
——————-
“Eonnie, aku tahu, malam pertama kalian sudah berlalu bertahun-tahun sebelumnya. Bahkan Minhyuk sudah berusia lima tahun. Tapi, kau harus membuat pernikahanmu hidup. Jika aku menikah nanti, aku akan melakukan hal serupa. Aku akan membuat suamiku bahagia dengan memakai gaun tidur yang cantik setiap malamnya.” Jelas Hanwoo.

“Hanwoo ya~ lekaslah minta Eunhyuk menikahimu. Imajinasi liarmu itu harus disalurkan.” Minji berkata sambil mengatur ekspresi wajahnya yang masih diselimuti tawa.

“Jika kau tahu bagaimana Eunhyuk oppa memperlakukanku, huh. Kau pasti akan mengerti bagaimana seorang Lee Hanwoo selalu terlihat lebih agresif daripada pasangannya. Eunhyuk oppa sangat payah. Ia bahkan tidak romantis.. aku jadi berpikir ulang untuk bertunangan dengannya.”

“Yaa! Tidak semua pria itu romantis. Kyuhyun juga bukan pria romantis. Kau hanya perlu sedikit mengerti mereka, dan menyadari jika di balik setiap tindakan yang mereka lakukan untuk kita, itu adalah hal paling romantis dari mereka.” Jelas Minji.

“Ah, terserah saja. Bicara dengan wanita yang sudah berkeluarga sedikit membuatku pening. Ucapanmu kali ini sedikit berat untuk masuk ke otakku, eonnie.”

Lee Hanwoo duduk cemas disamping kemudi memikirkan percakapan tadi siang saat bertemu Minji di sebuah restoran yang menjadi tempat makan favoritnya. Dia sama sekali enggan untuk berbicara dengan Eunhyuk yang sedang menanyainya sedari tadi. Hanwoo menolehkan kepalanya ke kaca melihat pemandangan di luar.

“Apa aku membuat suatu kesalahan?”

Dia tahu dirinya tidak bisa berpura-pura dihadapan Eunhyuk. Lambat laun pria itu pasti akan tahu bahwa dia sedang kesal. Hanwoo membalikkan badannya menatap Eunhyuk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tempo lalu. Sampai kapan kau akan menghindariku?”

“Oh yang itu .. Aku tidak menghindarimu. Aku hanya sibuk, Hanwoo-ya. Mengenai itu, apa kau yakin?”
Hanwoo menghela napas mendengarnya. Dia merasa jengkel dengan kekasihnya.

“Ne. Aku ingin menikah denganmu. Kau tidak yakin denganku atau dengan dirimu sendiri?”

Ini sebuah pertengkaran dan perdebatan yang tidak ada bedanya. Ini adalah ucapan serius yang harus diselesaikan juga bagaimana ujungnya yang masih belum jelas karena Hanwoo terus mendesaknya untuk menikah. Eunhyuk menepikan sedan putihnya di tepi jalan membiarkan keadaan menjadi hening. Mereka terdiam entah apa yang dipipikirkan keduanya mereka terlihat seperti orang merenung.

“Tidak segampang itu menikah, Hanwoo-ya. Tidak bisakah kau bersabar sebentar sampai aku yang melamarmu?”

“Sampai kapan? Kita mengenal sudah terlalu lama. Apa kau masih belum yakin aku adalah yeoja yang pantas menjadi istrimu? Atau kau sudah punya kandidat lain? Kau tahu, aku sangat iri dengan Minji onnie. Aku juga ingin hidup disampingmu, tidur disampingmu, melihatmu terbangun dan tertidur, bahkan memiliki anak darimu.”

Eunhyuk terlihat tenang dengan sikap Hanwoo yang sudah meledak-ledakkan emosinya seperti gunung berapi yang sebentar lagi akan meletus. Dia sengaja membiarkan Hanwoo untuk terus berbicara hingga akhirnya Hanwoo tersadar dengan ekspresi Eunhyuk yang tidak menanggapinya.

“Baiklah aku akan menunggu.” Hanwoo menghela napas membuat Eunhyuk tersenyum. Tangan pria itu menarik kepala Hanwoo lalu mencium keningnya. Bersusah payah Hanwoo mencoba menahan perasaan marahnya kepada kekasihnya.
“Miane, untuk itu aku belum siap.” Eunhyuk terlalu jujur dan ini membuat Hanwoo sedikit kecewa.

 

***

Dua minggu kemudian, Eunhyuk dan Hanwoo diundang Kyuhyun untuk makan malam dirumah barunya. Rumah berlantai dua yang cukup besar mengambil konsep minimalis. Terlihat dari raut wajah Hanwoo yang sangat takjub dengan rumah baru Kyuhyun dan Minji. Dalam hati dia memuji Minji bahwa dia benar-benar beruntung memiliki Kyuhyun. Dia sangat iri atas kebahagiaan Minjiberharap dia akan cepat menyusul dengan Eunhyuk.

“Waaah~ selamat atas rumah baru kalian. Dan selamat untuk rumah tangga yang bahagia. Aku jadi iri. Ayo bersulang!!” teriak Hanwoo. Mereka berempat kini sedang berada di teras belakang, menyantap daging dan soju.

“Hei, kau jangan minum terlalu banyak.” Eunhyuk memperingatkan Hanwoo. Gadis itu terlihat cuek. Sepertinya Hanwoo dan Eunhyuk sedang bertengkar hari ini.

“Hanwoo ya, dengar Eunhyuk memperingatkanmu. Kau juga tidak kuat minum.” Minji menambahkan. Hanwoo memperhatikan Kyuhyun dan Minji. Minji terlihat menyumpit daging kemudian menyuapi Kyuhyun yang duduk di sebelahnya. Hanwoo memperhatikan wajah Kyuhyun yang benar-benar bahagia bisa berdampingan dengan wanita yang sangat ia cintai.

“Hei, kau mau ini?” Eunhyuk menepuk tangan Hanwoo, dan pria itu juga tengah menyumpit daging, hendak menyuapi Hanwoo. Gadis itu merasa terkejut, namun ia kemudian tersenyum dan menyantap suapan Eunhyuk. Hanwoo tahu, Eunhyuk pasti memergokinya lagi. Pria itu sesungguhnya sangat perhatian dan menjaganya.

“Kalian cepatlah menikah. Nanti kita pergi liburan dan berbulan madu bersama-sama.” ujar Kyuhyun.

“Apanya yang menikah? Eunhyuk oppa bahkan belum dewasa.” Canda Hanwoo. Mereka kemudian tertawa, ini adalah pertama kalinya mereka berkumpul bersama dengan suasana yang hangat, Tapi tidak dengan Eunhyuk yang menyembunyikan tawanya dari balik wajahnya yang menunduk. Dia pura-pura menyumpit daging dan sibuk mengunyah.

Matanya melirik Hanwoo. Dilihatnya gadis itu sedang tertawa riang ketika bercerita dengan Kyuhyun dan Minji. Tapi dirinya tahu setelah pulang dia tidak akan melihat tawa kekasihnya lagi. Dia merasa Hanwoo sedikit berubah ketika pengakuannya belum siap menjadi suami. Melepas masa lajang itu sangat susah dipikiran Eunhyuk dan bisa dibilang dia memang ada rasa trauma pada satu hal.

Benar saja ketika pulang Hanwoo memilih untuk tidur menghabiskan waktu perjalanannya ini membuat Eunhyuk sedikit tidak fokus. Dalam pikiran Eunhyuk sekarang hanya ada pernikahan.. pernikahan.. pernikahan.. hingga membuatnya sedikit pusing untuk hari ini.

***

Siang ini Hanwoo pergi bersama Eunhyuk ke sebuah perusahaan TV di Seoul. Perusahaan ini sangat terkenal di kalangannya. Mereka bertugas untuk mengajukan proposal pada peluncuran handphone dengan fitur baru dan tekhnologi tercanggih. Kyuhyun lagi-lagi berhasil dalam konsep garapannya. Ini diramalkan akan menaikkan saham perusahaan.

Hanwoo dan Eunhyuk melangkah di belakang seorang wanita yang mengantarkan mereka bertemu sang direktur. Tidak disangka Hanwoo benar-benar terkejut dengan siapa yang dilihatnya. Direktur utama di perusahaan ini adalah Choi Siwon, seseorang di masa lalu yang pernah mengencaninya saat dia kuliah di Amerika. Diantara semua pria yang datang dan pergi begitu saja di kehidupannya, Hanya Choi Siwon yang membuat bekas begitu lama di hati Hanwoo.

Siwon tersenyum memperlihatkan lesung pipinya ketika melihat Hanwoo. Dia berdiri dan mempersilakan kedua orang itu duduk di sofa. Siwon masih tidak percaya dia bisa bertemu lagi di Korea dengan Hanwoo.

“Silakan duduk. Aku tidak menyangka kedatangan tamu terhormat. Kau apa kabar Hanwoo-ya? Lama tidak bertemu.” Eunhyuk menoleh menatap Hanwoo kemudian menatap Siwon penuh tanda tanya tentang bagaimana direktur utama perusahaan ini mengenal Hanwoo kekasihnya. Siwon tersenyum sangat manis.

“Aku baik-baik saja, Kau sendiri?”

“Ne, aku juga sangat baik . Oh ya Perkenalkan aku Choi Siwon direktur utama di perusahaan ini. Kau pasti Manajer marketing LET Corp kan? Hahaha salam kenal.” Siwon dan Eunhyuk saling berjabat tangan. Siwon mempersilakan Hanwoo dan Eunhyuk untuk duduk disofa nya. Sekretarisnya datang untuk memberikan suguhan.

“Silakan diminum.” Siwon mempersilakan Hanwoo dan Eunhyuk untuk menikmati suguhan yang diberikan.

“Ah ne, kamsahamnida.” Ujar Hanwoo. Dia terlihat sangat senang sekali bertemu dengan Siwon pria yang pernah mengisi relung hatinya. Mereka berdua mengobrol membuat Eunhyuk merasa terpojoki. Eunhyuk berdehem mengingatkan Hanwoo untuk memulai pembicaraan pengajuan proposalnya. Ini sungguh terlihat canggung baginya.

***

Di dalam mobil Hanwoo tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Apalagi sedari tadi dia mendengar Siwon memujinya berkali-kali mengatakan bahwa dirinya semakin cantik saja. Tidak dengan Eunhyuk yang lebih memilih untuk memendam rasa cemburunya karena penasaran sedari tadi dengan hubungan Hanwoo dan Siwon yang terlihat sangat dekat.

“Kau terlihat sangat bahagia.”
Hanwoo merasa terpergoki ketika Eunhyuk menyindirnya. Mengetahui hal ini, apalagi tadi dia memang sengaja memojokkan kekasihnya menghabiskan waktu mengobrol dengan Siwon karena Siwon banyak berbagi cerita setelah kepulangannya dariAmerika yang lebih dulu dari dirinya.

“Aku? Biasa saja.”

“Pria tadi, apa kau sangat mengenalnya?”

“Siwon oppa?”

“Ne. Kalian sangat akrab. Apa kalian teman di masa lalu?”

“Hahaha .. Apa aku harus mengatakannya padamu? Siwon oppa pernah menjadi pacarku sewaktu di Amerika.”

“Oh pantas saja kau ikut pergi ke stasiun TV itu . Harusnya aku sendirian saja bisa.”

“Sendirian bagaimana katamu? Biasanya kita juga pergi bersama. Kau sudah tidak mau lagi pergi denganku?”

“Bukan begitu. Hari ini kau tampil beda,kau sengaja kan dandan karena tahu akan bertemu Siwon, kan? Jadi begitu. Aku mengerti sekarang.”

“Kau menuduhku selingkuh? Aku saja baru tau Siwon adalah direktur disana. Kau itu aneh sekali, oppa.”

Suasana semakin menjadi runyam di dalam mobil akibat kecemburuan Eunhyuk. Hanwoo semakin menyesali perbuatannya yang sengaja membuat Eunhyuk cemburu tapi ternyata kecemburuan Eunhyuk membuat moodnya memburuk.

 

Eunhyuk’s POV
———————-

Hari ini rapat pemegang saham diikuti oleh direktur-direktur LET Corp mengenai pengenalan handphone baru buatan Cho Kyuhyun. Pria itu memang sangat jenius. Sehabis menikah dia semakin jenius saja. Aku tidak sengaja melirik pria tinggi yang duduk dihadapanku. Pria itu yang pernah menjadi bagian masa lalu Hanwoo. Dia salah satu pria yang berarti pernah menyakiti hati gadis bodoh itu. Tapi untung saja mereka sudah putus, jika tidak aku tidak akan pernah diberi kesempatan memacari Hanwoo.

Cih. Seleranya rendah sekali. Bagaimana bisa dia pernah berpacaran dengan pria yang tidak tampan dariku? Hanya menang tinggi selebihnya tidak ada yang menarik. Berani-beraninya pria itu memuji kekasihku dan mendekatinya lagi kemarin. Dia tidak tahu bahwa Hanwoo sudah memiliki kekasih yang lebih baik darinya? Rapat ini mendadak terasa membosankan gara-gara wajah Choi Siwon yang mengganggu penghliatanku.

Satu setengah jam akhirnya rapat selesai. Kubenahi berkas-berkasku. Tidak sengaja aku melihat Siwon cepat sekali berlalu. Cepat-cepat kubereskan berkas-berkasku untuk mengikutinya dari belakang. Aku hanya penasaran kemana dia akan pergi. Entah kenapa aku punya firasat bahwa dia akan menemui Hanwoosebentar lagi. Ruangan ini menjadi penuh dengan orang-orang yang akan keluar jadi aku harus bersabar menunggu  untuk keluar, sementara pria itu sudah keluar dari ruangan ini. Sial.

“Yak, kau mau pergi kemana? Cepat-cepat sekali jalanmu.” Suara Kyuhyun mengagetkanku. Pria itu sudah berdiri di sampingku tanpa sepengetahuanku.

“Anio .. Aku ingin pergi ke toilet.”

“Oh ayo sama-sama, aku juga sudah tidak tahan.”
Please, Cho Kyuhyun ini sedikit merepotkan. Maksudku bukan seperti itu.. Dan akhirnya aku jadi pergi memasuki toilet bersama Kyuhyun. Seharusnya tidak seperti ini. Tapi aku tidak punya alasan untuk mengatakan hal yang sebenarnya padanya. Aku tidak ingin mendengarnya tertawa meledekku karena aku cemburu pada Siwon.

 

***

“Aku sudah melihat pemberitaan pertunanganmu di media dengan Eunhyuk-ssi. Aku harap kau bahagia dengannya. Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Ne oppa, kamsahamnida.”
Kudapati Siwon benar-benar menemui Hanwoo di ruang kerjanya. Mereka sempat menoleh ke arahku ketika pintu ini terbunyi saat dibuka. Rasa cemburuku, rasa marahku datang begitu saja mendorongku untuk menikam Siwon saat ini. “Dia kekasihku, jangan dekat-dekat lagi padanya.” Ingin sekali mengatakan hal itu di depan wajahnya agar dia menyadari bahwa Hanwoo saat ini tengah menjalin hubungan denganku.

“Ah Eunhyuk-ssi. Aku menitipkan sesuatu pada Hanwoo dan aku harus cepat-cepat karena harus menjemput seseorang di bandara.”

“Gwenchanayo Siwon-ssi.”
Siwon berlalu meninggalkan kami berdua di ruangan ini. Kulihat Hanwoo mulai sibuk tanpa memperhatikanku. Aku memang merasa dia semakin aneh padaku setiap hari. Apalagi kemarin aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak karena kecemburuanku ketika melihat Hanwoo yang begitu dekat dengan Siwon. Aku berpikir apa dia kembali menyukai Siwon?

“Apa yang dia titipkan padaku?”

“Aku.”

“Mwo?”

“Dia menitipkanku padamu.”

“Igemwoya? Memang dia siapamu”

“Dia memang bukan siapa-siapa bagiku sekarang. Aku membencimu, oppa.”

Hanwoo menempelkan sesuatu di dadaku lalu dia beranjak meninggalkanku membawa barang-barangnya. Disana aku melihat secarik kertas undangan pernikahan berwarna merah atas namaku dan Hanwoo. Aku benar-benar terkejut lagi ketika membaca nama Choi Siwon dengan calon istrinya disana. Dia akan menikah dalam waktu dekat ini !!

“Ooh !!! Untuk apa aku cemburu pada pria itu kalau dia ternyata akan menikah dalam waktu dekat ini? Lee Hyukjae kau harus berhati-hati lain kali !”

Kubuang kartu undangan itu di atas meja Hanwoo dan bergegas berlari mencari Hanwoo. Aku merasa malu pada dirinya sendiri dan merasa terlalu naif.

Hanwoo’s POV
——————-

“Aku sangat senang kau memintaku untuk menemanimu, tapi aku benar-benar tertipu olehmu. Aigoo.. Bisa-bisanya kau.. Aigoo aku kira kau akan menikah tapi ternyata kau hanya ingin melihat-lihat saja.”

Aku melangkah mengikuti Minji onnie. Sepertinya dia merasa dibohongi olehku. Hari ini aku memintanya untuk menemaniku. Kesedihanku karena Eunhyuk oppa yang belum ingin menikahiku. Aku tidak ingin memikirkannya dan aku lelah untuk bertengkar dengannya karena aku tidak bisa untuk tidak bicara dengan pria itu dalam waktu sehari.

Aku mengajaknya untuk melihat gaun pengantin. Gaun-gaun berwarna putih yang terlihat sakral dan sangat indah. Aku sedikit tersenyum ketika terbesit bayanganku mengenakan salah satu gaun yang ada disini. Aku benar-benar ingin menikah. Seandainya Eunhyuk oppa tahu apa yang kuinginkan. Dia tidak akan peduli padaku. Dia sangat menyebalkan.

“Aku ingin menikah, tapi Eunhyuk oppa belum ingin menikahiku.”

“Wae?”

“Dia hanya belum siap.”

“Kurasa dia adalah pria dewasa, Hanwoo-ya. Mungkin ada satu alasan dia untuk menahanmu sebentar saja. Kenapa kau tidakmenunggunya sampai dia yang mengajakmu untuk menikah?”

“Lalu aku tidak dewasa begitu? Kau tahu onnie, menjadi aku ketika tahu semua teman-teman lamaku sudah menikah sepertinya hanya aku yang tersisa di dunia ini yang belum menikah.”

“Menikah itu bukan permainan Hanwoo-ya. Kau akan disibukkan dengan suasana rumah tangga. Kau akan dihadapi oleh mertua, ipar oouh hidupmu tidak akan bebas. Itulah mengapa orang-orang yang sudah menikah sering kali mengatakan hal hal seperti nikmatilah masa mudamu sebelum menikah ternyata itu benar.”

“Muda bagaimana? aku sudah merasa tua dengan umurku.”

Minji tetap memberi nasihat kepada Hanwoo yang tengah hilang arah dan tujuan karena kesal Eunhyuk belum mau menikahinya. Mood Hanwoo berubah menjadi buruk lagi. Semakin buruk dan dia merasa lelah sudah memikirkan pernikahan yang diinginkan. Rasanya dia ingin mengambil cuti dan berlibur jauh, menjauh dari semuanya.

 

Eunhyuk’s POV
——————–
Aku terduduk kemudian terbangun lagi di ruang tamu berjalan mondar-mandir sedari tadi menunggu pesan dari Hanwoo. Dia tidak membalas line yang kukirim bahkan dia tidak memperdulikan teleponku. Sampai kapan dia akan seperti ini?

“Hyuk, makanlah dulu. Kau pasti lapar kan.” Ujar Kyuhyun dari arah dapur. Pulang dari kantor Hanwoo meninggalkanku entah kemana dia pergi dan akhirnya aku memutuskan untuk singgah ke rumah Kyuhyun. Sebenarnya untuk mengambil proposal Kyuhyun yang tertinggal di rumahnya karena proposal itu juga yang akan menjadi tugasku. Aku duduk di atas meja bar milik Kyuhyun disana sudah tersedia French Fries dan nugget buatan Kyuhyun.

“Padahal aku bisa membawanya untukmu besok, kau tidak harus tergesa-gesa seperti ini.” Kyuhyun merasa tidak enak padaku.

“Gwenchanayo, aku juga sedang tidak ada kerjaan.”

“Memangnya kau tidak pergi bersama Hanwoo? Itu merupakan suatu bentuk pekerjaan untukmu.”

“Ani..” jawabku singkat sambil memakan French friesnya.

“Apppaa…”

Aku mendengar suara bocah 6 tahun memanggil Kyuhyun dengan sebutan appa. Minhyuk datang kehadapan Kyuhyun dia seperti mengadu kepada ayahnya bahwa hari ini dia mendapat nilai 100 untuk ulangan matematikanya. Bocah itu terlihat sangat mirip dengan Kyuhyun. Aku jadi membayangkan bagaimana aku akan menjadi seorang ayah nanti. Apakah akan seperti Kyuhyun? Apakah bisa seperti Kyuhyun? Dia hebat bisa menjadi seorang ayah di usia muda. Minhyukpun pergi dari dapur kembali memasuki ruangan kamarnnya.

“Seperti inikah kau jika sudah pulang bekerja?” tanya Eunhyuk.

“Hahaha. Aku bisa menjadi ibu kedua di rumah ini jika Minji dan ibuku sedang tidak ada di rumah.”

“Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah Kyu?”

“Aku bahagia memiliki keluarga kecil seperti ini. Ada rasa kebanggaan tersendiri untukku.”

“Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Hanwoo dan akan menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak.”

“Heii,, tidak usah dipikirkan itu akan mengalir dengan sendirinya Hyuk. Kau akan menjadi seorang ayah yang hebat jika Hanwoo memberikan seorang anak untukmu. Kapan kau akan menikahi Hanwoo? Cepatlah melamar Hanwoo dan menikahinya.”

“Yak Yak ! Kenapa kau juga ikut menyuruhku untuk melamarnya hah?” aku mulai kesal dan tidak berselera untuk makan. Kyuhyun hanya tertawa dengan ucapannya sendiri. Tiba-tiba pintu rumah ini terbuka. Minji datang dan terkejut melihatku.

“Omo, anyeong Eunhyuk-ssi. Apa kau sudah lama disini? Bukankah kau ada janji dengan Hanwoo? Kau pasti lupa.” tanyanya sambil membuka heelsnya menaruhnya di tempat sepatu dekat pintu. Aku mencoba mengingat-ingat apa aku punya janji dengan Hanwoo?

“Ne, lumayan lama. Apa maksudmu Minji-ssi?”

“Kau habis darimana? Kenapa handphonemu tidak aktif?” tanya Kyuhyun yang mengkhawatirkan istrinya. Suasana ini … sedikit membuatku iri. Minji mendekati Kyuhyun yang memberikannya segelas jus jeruk. Mereka terlihat sangat serasi dan bahagia.

“Miane batre handphoneku habis dan aku lupa membawa power bank. Aku habis bertemu Hanwoo.” Aku berhenti mengunyah makananku ketika mendengar nama kekasihku disebut.

“Hanwoo?” tanyaku.

“Ne.. Dia memintaku untuk menemaninya melihat-lihat gaun pengantin dan katanya dia ada janji denganmu.”

“Gaun pengantin? Hyuk, kau ..? Kau akan menikah?! Ah! Chukkaeyo ! Kau tahu mendengar ini aku sangat bah..”

“Anio.. Kami belum merencanakannya sama sekali.” Kyuhyun seperti kecewa mendengar pernyataanku. Mendengar ini aku jadi tidak enak makan.

“Maksudmu? Lalu Hanwoo akan menikah dengan siapa? Kalian baik-baik saja kan?”

“Mollayo. Mungkin dia akan menikah dengan pria pilihannya.” Ujarku lesu menatap kentang goreng yang kutusuk-tusuk dengan garpu.

“Hei.. Bukan seperti itu. Aku hanya mengira Hanwoo terkena married syndrome.  Kalian tidak usah khawatir, Hanwoo tetap bersamamu Hyuk. Itu sering terjadi pada beberapa wanita yang ingin menikah.”

Minji mencoba menenangiku. Tapi tetap saja hatiku semakin tidak tenang. Seingin itukah dia menikah? Sementara aku belum bisa mengabulkannya. Perasaanku sangat kacau dan entah kenapa kepalaku isinya hanyalah bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa trauma itu agar aku bisa menikahi Hanwoo.

“Apa kau mengantarnya pulang kerumah?” tanyaku pada Minji karena aku tahu dia tidak membawa mobil karena tadi pagi aku yang menjemputnya kerumah.

“Anio, dia memintaku untuk menuruninya di Seoul Park dekat dengan sungai Han. Dia bilang padaku bahwa dia sudah ada janji denganmu disana .” Eunhyuk mengernyitkan keningnya mendengar Minji.

“Janji apa? Gadis itu benar-benar !!! Miane Minji-ssi, Kyu aku pergi dulu dan tidak bisa membereskan makananku”

“Gwenchanayo. Hati-hati dan cepatlah temui Hanwoo.” Kyuhyun sedikit berteriak padaku saat aku mau menutup pintu rumahnya.

“Ne~ Gomapta.”

Aku mengambil jas dan proposal di atas meja segera bergegas keluar dari rumah Kyuhyun. Aku mencoba menghubungi lagi handphone Hanwoo namun handphonenya sengaja tidak dia angkat. Sia-sia. Kubanting stirku ke kiri sambil melihat-lihat

orang-orang yang berlalu lalang di sepinggir jalan mencoba menemukan sosok gadis yang sangat kucintai diantara orang-orang itu.
Jika seperti ini entah kenapa aku sangat kesal padanya. Kenapa dia kekanak-kanakan sekali pergi melihat-lihat gaun pengantin tanpa sepengetahuanku? Dia akan menikah dengan siapa? Apakah dia sudah punya calon yang lain selain diriku? Apakah dia sering seperti itu dengan sendirinya? Akhir-akhir ini dia tidak pernah mengirimkan kabar padaku. Apakah dia sering jalan-jalan sendiri tanpa diriku? Ooh.. Kasihan sekali diriku ini.

Hanwoo’s POV
——————–
Aku duduk sendirian di Seoul Park Centre dekat sungai Han. Air yang mengalir di sungai dan hembusan angin yang menyentuh tubuhku membuatku sedikit merasa nyaman. Hanya pikiranku saja yang mencoba nyaman tapi tidak dengan hatiku yang sedikit perih. Aku mendapat banyak telepon dari Eunhyuk oppa namun aku mengabaikannya.

Perasaanku semakin perih setelah melihat banyak pasangan melintas di hadapanku. Mereka sangat bahagia, sangat mesra seperti aku dengan Eunhyuk oppa disaat baru jadian. Aku sangat berharap memiliki keluarga kecil seperti Minji onnie. Aku akan merasa bangga dan tidak lagi harus merasa iri ketika melihat teman-temanku yang selalu memamerkan foto mesranya dengan suami dan anak-anaknya di sns. Eunhyuk oppa tidak akan pernah mengerti hal seperti itu. Maka dari itu disini lebih nyaman daripada aku harus sendirian di rumah.

Langit sudah menunjukkan kegelapannya. Tidak terasa hampir sejam aku duduk di taman ini mungkin aku terlihat begitu malang karena sedang meratapi nasib. Merasa sudah sedikit nyaman aku memutuskan untuk pulang kerumah. Aku melewati jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan besar di kanan-kirinya hingga tembus ke jalan raya. Aku melangkah di atas trotoar sambil memegang erat tas cokelatku.

Langkahku terhenti tiba-tiba ketika melihat Eunhyuk oppa berdiri di hadapanku. Aku kira ini ilusi, khayalan atau apapun istilahnya karena aku tidak percaya kenapa ada dia di depanku? Tapi ternyata ini adalah fakta dan realita bukan ilusi. Aku melihat mobilnya dipinggir trotoar.

“Sudah puas?” ujarnya ketus.

“Maksudmu?”

“Sudah puas kau mengabaikanku? Melihat gaun pengantin tanpaku. Sudah puas kau mendiamiku?” kukernyitkan keningku. Dari nadanya dia terlihat sedang memarahiku.

“Kau bertanya itu padaku? Kenapa tidak kau tanya pada dirimu sendiri lalu cari jawabannya apa aku sudah puas dengan semua itu?”

“Kau benar-benar kekanak-kanakan sekali Hanwoo-ya.”

“Kekanak-kanakan? Kau mengatakan kekanak-kanakan pada orang yang ingin sekali menikah denganmu, lalu kau sebut apa dirimu? Kau yang paling dewasa di dunia ini Lee Hyukjae. Kaulah dewa kedewasaan di dunia ini dengan keegoisanmu!” merasa dihina oleh kekasih sendiri Hanwoo mulai emosi.

“Yak, kenapa kau membahas pernikahan lagi? Sudah kubilang padamu aku butuh waktu dan aku ingin kau menungguku.”

“Kapan aku bilang tidak untuk menunggu? Aku akan menunggumu bahkan sampai 5 tahun lagi kau menyuruhku menunggu, aku akan menunggumu! Tapi ketika aku menunggu apakah kau pernah berpikir untuk menikahiku? Kau tidak sadar dengan umurmu dan juga umurku? Sebentar lagi kita akan semakin tua. Kau mengabaikanku. Apa yang harus kau ragukan? Aku sudah pandai memasak, aku belajar mencuci selama ini hanya demi menjadi istrimu. Tapi kau sama sekali tidak ada pemikiran seperti itu. Lalu apa, karena aku kekanak-kanakan? Ap..”

“CUKUP HANWOO! CUKUP!” Dia berteriak padaku dan sedikit membentakku.

“Kau kira menikah itu hanya memasak dan mencuci? Bagaimana kita menghadapi masalah dan memiliki anak tidak semudah itu. Aku hanya ingin mempunyai hubungan suami-istri yang abadi tanpa perceraian jadi aku membutuhkan waktu untuk diriku, bukan karena dirimu. Ya, ini semua karena aku. Aku yang masih trauma terhadap pernikahan hyungku.”

“Kau terlalu lama memikirkan dirimu sendiri. Sudahlah. Kita tidak usah menikah. Tidak akan ada pernikahan, kau jangan khawatir. Kau juga tidak usah mengingat masa lalu keluargamu lagi karena aku.”
Aku berjalan meninggalkannya, berlalu dihadapannya tanpa menoleh sedikitpun. Aku mencoba menahan air mataku dan memohon pada diriku sendiri untuk menahan tangis sampai aku pulang ke rumah. Kurasakan tubuhnya mendekapku. Merasakan air mataku yang mengalir tanpa aku pinta.

“Aku mencintaimu.. Miane.”
Dia akan selalu seperti ini. Mengatakan mencintaiku.. mencintaiku.. Tapi sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu dirinya untuk menikahiku?

“Gwenchana oppa. Kita berpisah saja untuk sementara sampai kau benar-benar tahu hatimu dimana. Hatimu sedang tidak bersamaku.” Aku melepas pelukannya.

“Yak! Lee Hanwoo.. Tidak seperti ini juga.” Kini aku benar-benar menangis dibuatnya. Kuhapus air mataku dan mencoba menatapnya dengan berani. Aku sudah memikirkan ini baik-baik. Mungkin berpisah membuatku berpikir secara dewasa. Kami memang sering bertengkar kecil, terkadang juga bertengkar sangat serius. Tapi kali ini aku ingin menghentikan semua ini. Memiliki sebuah hubungan yang sepertiku dengan Eunhyuk oppa hanya akan sering menyakiti diriku sendiri. Mungkin aku memang kekanak-kanakan seperti apa katanya tadi.

“Aku memang kekanak-kanakan buatmu oppa dan kau terlalu dewasa untukku. Jika seperti ini sangat susah untuk kita berdua. Jadi..”

“Kau tidak mencintaiku lagi?” kulihat matanya berkaca-kaca.

“Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu? Aku sampai berharap kau menikahiku.”

“Ayo .. Ayo kita menikah.” Aku tersenyum mendengarnya.

“Kau mengucapkannya seperti ingin memenuhi permintaan anak kecil yang merengek ingin dibelikan permen. Apakah aku seperti anak kecil memintamu untuk dibelikan permen? Tidak akan ada pernikahan. Kita berpisah saja untuk sementara sampai aku benar-benar merasa berharga dan berarti dimatamu.”

“Yak ..”

Aku pergi meninggalkannya tanpa memperdulikannya. Aku tidak tahu kenapa hubunganku dengannya jadi seperti ini. Akumenangis sepanjang malam baru menyadari kebodohan dan kekanak-kanakanku. Ternyata aku benar seperti anak kecil yang merengek ingin dibelikan permen itu. Ternyata aku seperti itu. Harusnya aku bersabar dan menunggu. Tapi disisi lain aku tetap dengan keteguhanku yang benar-benar ingin menikah. Aku wajar meminta hal ini selagi dia kekasihku. Aku hanya merasa dia terlalu menganggapku dengan mudah. Dia tidak pernah terlalu memikirkanku. Dia terlalu tenang dan santai seperti wataknya. Jika dia tidak diingatkan dia tidak akan pernah memikirkan hal ini. Lalu salahkah aku? Aku tidak salah. Bagaimana dengannya? Dia yang paling salahkah dari hubungan ini? Tidak juga. Tidak ada yang salah. Ini semua hanya takdir yang tidak pas.

Don’t be sorry, that makes me more pitiful. With your pretty red lips
please hurry, kill me and go. I’m all right.
Look at me one last time. Smile like nothing’s wrong,
so when I miss you I can remember.
So I can draw your face in my mind.

Eunhyuk’s POV
———————

My selfishness that couldn’t let you go
turned into an obsession that imprisoned you.
Were you hurt because of me?
You sit silently.
Why am I a fool, why can’t I forget you.
You’re already gone.

Pagi-pagi sekali aku pergi ke pemakaman abu kakak laki-lakiku, Lee Sungmin. Aku benar-benar merasa kecewa atas kematiannya. Aku dengannya sangat dekat sebagai seorang saudara. Hubungan kami sebagai kakak-adik sangat baik satu sama lain. Tidak ada keirian, tidak ada pertengkaran seperti kebanyakan hubungan persaudaraan sedarah yang sering terjadi di muka bumi. Aku hanya tidak menyangka dia meninggal dengan hal yang tidak wajar.

Sungmin hyung sudah menikah dengan istri yang sangat dicintainya. Aku tahu dia sangat mencintai wanita itu dengan baik karena dia juga sering membagi kebahagiaannya denganku. Dia bercerita kebaikan dan rasa bangga karena memiliki  istri seorang Idol sewaktu sebelum menikah. Yuri. Bahkan aku selalu ingat bagaimana suaranya ketika menyebut nama  itu di depanku.

Awalnya mereka adalah pasangan yang bahagia di awal pernikahan. Tapi hanya bertahan seminggu Yuri tiba-tiba meminta hyung untuk menandatangani surat perceraian. Ini membuat keluargaku terkejut memikirkan rasa malu yang akan ditanggung keluargaku. Tapi tidak ada yang memikirkan bagaimana perasaan Sungmin Hyung. Begitulah, Sungmin hyung meninggal dunia karena tabrak lari. Dia sengaja melakukan hal itu agar tidak menandatangani surat perceraian yang diberikan istrinya, Yuri.

“Hyung ..”
Aku menelan ludah ketika memanggilnya. Bulu-bulu halus di kulitku terasa bangun. Kupandangi wajah tampan Sungmin hyung di dalam kotak kaca. Dia memang sedikit berbeda dariku. Dia lebih tampan dan bijaksana dariku. Tidak terasa air mataku keluar. Aku begitu merindukannya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah bahagia disana? Hyung, aku kesini .. Yak .. Kau pasti tahu apa tujuanku kesini. Aku ingin bercerita padamu. Dengan siapa lagi aku harus bercerita? Sebenarnya aku malu menceritakan ini padamu.” Kukernyitkan keningku. Susah sekali rasanya mengucapkan kata demi kata untuk hyungku.

“Aku putus dengan Hanwoo. Sepertinya kali ini aku benar-benar akan kehilangan dia. Ini semua karena masalah kekanak-kanakan dan kedewasaan di hubungan kami. Hanwoo yang terlalu lama menungguku untuk melamarnya. Kau tahu, aku benar-benar takut dengan pernikahan. Bagaimana jika hal sepertimu terjadi padaku? Seharusnya aku tidak menyukainya sejak awal. Tapi hatiku tidak bisa ditipu oleh diriku sendiri bahwa aku menyukainya saat dia duduk di bangku SMA. Dia anak dari tuan Lee Daeyoung sahabat appa saat dia datang ke acara pertemuan keluarga. Aku berhasil mendekatinya sehingga kami semakin dekat. Awalnya aku menganggap hubungan ini sebagai hubungan saudara. Tapi melihat dia.. dia.. dia.. aku semakin jatuh cinta. Bahkan aku rela dipanggil homo dengan yeoja-yeoja yang kutolak hanya karena menunggunya kembali dari Amerika..” aku sedikit tertawa mengenangnya.

“Dan sekarang dia memintaku untuk melamarnya tapi .. Aku benar-benar masih trauma melihatmu hyung.”

5 bulan kemudian
———————-——

“Hyuk! Kalian berpisah?” Kyuhyun menghampiriku saat aku baru datang dari kantor sepulang dari pemakaman Sungmin hyung. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Dia menunggumu lama. Hanwoo menunggumu lama disini. Dia mengambil cuti karena akan pergi ke Amerika hari ini juga. Dan dia menitipkan surat ini untukmu!”

Aku benar-benar masih belum paham dengan ucapan Kyuhyun tapi tanganku mengambil surat itu begitu saja. Aku membuka surat itu lalu membacanya. Setelah membacanya aku berlari meminta ijin pada Kyuhyun untuk pergi sebentar.

Miane oppa..
Aku mengatakan putus padamu tapi ternyata aku masih saja menunggumu sebelum keberangkatanku ke Amerika. Setelah kejadian kemarin kau tidak ada menghubungiku, aku juga tidak ada menghubungimu. Mungkin kita sudah semakin tahu bagaimana kedewasaan di dalam suatu hubungan. Kau pasti membenciku. Memiliki kekasih yang sifatnya seperti anak kecil. Aku menyadari bahwa aku memang benar seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan permen itu. Aku benar-benar malu entah pada siapa aku malu.. Padaku atau padamu bahkan aku malu dengan dunia. Kau bisa saja mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku hanya merasa kau mungkin sudah bosan denganku.

Aku akan pergi ke Las Vegas menemui keluargaku disana. Aku hanya meminta cuti pada appa. Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku akan berlibur atau jika aku nyaman disana aku akan tinggal disana. Miane mungkin aku akan merepotkan banyak orang. Dengan surat ini aku menyampaikan salam perpisahanku. Aku benar-benar minta maaf.

Lhw.
Seseorang yang mencintaimu dengan tulus.

Kuinjak rem mobilku setelah mengemudi dengan kecepatan penuh agar aku sampai di Incheon Airport. Aku berusaha mengejarnya mencari-cari ditengah keramaian berharap menemukannya. Seharusnya aku bisa saja melihat jam keberangkatan menuju Amerika tapi aku terlalu panik hingga aku menaiki lift aku turun lagi melihat tabel departure-arrival yang menyerupai TV dengan LCD berukuran besar. Aku terlalu pusing melihat banyak jadwal sehingga kuputuskan untuk berlari ke Information Centre.

“Aku bertanya untuk penerbangan ke Las Vegas Amerika, apakah sudah berangkat?”

“Sebentar tuan saya akan mengeceknya.”

“Ne, juseyo.”

Kuperhatikan wanita yang sedang sibuk berkutat dengan komputernya. Aku mencoba menarik napas dan melihat ke sekeliling lagi. Aku benar-benar berharap belum telat. Tidak ada sosok wanita yang kucari.

“Mianhamnida tuan, keberangkatan penerbangan menuju Las Vegas sudah flight dari 15 menit yang lalu.”

Begitulah. Aku tidak berhasil menemukannya dan dia benar-benar pergi meninggalkanku hanya karena keegoisanku yang belum ingin menikahinya. 5 bulan sudah aku ditinggalkan tanpa mendengar sedikitpun kabar tentangnya. Aku berusaha melupakannya tapi itu semua sia-sia. Hanya akan membuatku semakin gila karena merindukannya.

Aku mengutuk diriku sendiri. Aku tahu aku menyesalinya, sangat. Tapi aku juga tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku sehat tapi aku merasa sakit. Aku merasa lemah. Ini semua sudah terlambat. Kepergiannya membuat aku tidak enak untuk meninggalkan perusahaan. Perusahaan susah karenanya bagaimana aku bisa merepotkan perusahaan lagi hanya karena aku ikut mengambil cuti. Aku adalah manajer disana. Bagaimana aku juga bisa mencarinya jika terus seperti ini?

Your eyes, nose, lips
Your touch that used to touch me,
to the ends of your fingertips.
I can still feel you

but like a burnt out flame,
burnt and destroyed
all of our love
it hurts so much, but now I’ll call you a memory.

 

“Eunhyuk..” aku terbebas dari lamunanku ketika mendengar suara yang tengah mengagetkanku. Ini bukan suara Hanwoo yang kurindukan melainkan suara Paman Yongsun, ayah Hanwoo. Aku segera berdiri untuk menghampirinya.

“Ada apa mencariku paman? Silakan duduk dulu. Paman tidak ada menghubungiku lebih dulu aku yang akan ke tempat paman.”

“Gwenchana, kau tidak usah sekhawatir itu.”

Aku tersenyum kecil menanggapinya. Paman Yongsun adalah sahabat ayah. Dia sangat baik padaku dan juga sangat merestui hubunganku dengan Hanwoo. Mendengar kabar putus hubunganku dengan anaknya dia juga sedikit kecewa padaku walaupun dia berusaha menutupinya dariku maupun dari orang-orang.

“Kedatanganku kesini hanya untuk menanyai kabarmu.”

“Kabarku sangat baik paman. Kuharap paman juga sehat.”

“Bagaimana aku bisa sehat jika aku tidak melihat Hanwoo?” Aku sedikit terkejut mendengarnya.

“Apa kau masih mencintai anakku? Kau tidak bisa berbohong dariku. Matamu mengatakan padaku bahwa kau masih mencintai Hanwoo. Aku bisa melihatnya.” Aku tertawa pelan mendengarnya merasa malu bahwa paman Yongsun dengan mudah menebakku.

“Bagaimana kau bisa sangat mudah menebakku paman berbeda dengan Hanwoo yang tidak bisa merasakannya.”

“Bukankah kau tahu Hanwoo memang seperti itu. Jika aku yang meminta pulang dia tidak akan mau. Jadi bisakah kau menjemputnya?”

“Bagaimana jika dia memiliki kekasih lain di Amerika?”

“Yak, hal bodoh macam apa yang kau katakan? Aku sudah menyuruh Sunny keponakanku untuk tetap mengawasinya. Pergilah ke Amerika temui Hanwoo. Mengenai pekerjaan kau tidak usah terlalu memikirkannya. Jika kau belum berhasil membawa Hanwoo pulang kau tidak boleh pulang juga.”

Hanwoo’s POV
——————

shinningstar13ff

Udara yang nyaman, sejuk, dan banyak pepohonan yang mengelilingi perumahan di Las Vegas. Aku tinggal bersama kakak sepupuku, Sunny. Aku tidak tahu kapan kembali dan untuk apa kembali lagi ke Seoul. Usahaku untuk membuat diriku membaik selama 5 bulan akan sia-sia jika aku kembali ke Seoul lalu melihat pria itu lagi.

“Clara!”
Aku melihat ke depan dan melihat Sunny onnie kakak sepupuku melambaikan tangannya padaku. Dia tersenyum berlari menghampiriku bersama Brian tetangga di depan rumahku yang sudah menjadi temannya di kantor. Dia memanggilku Clara Cow sebutanku untuk tinggal di Amerika karena aku tinggal sangat lama. Sebenarnya aku tidak suka dan masih belum terbiasa dengan sebutan itu. Agak canggung. Tapi hidup di negeri lain katanya harus memiliki nama panggilan yang keren juga.

Nama Sunny juga dia yang menamai dirinya sendiri. Sebenarnya nama aslinya adalah Lee Soonkyu. Dia mengatakan bahwa namanya terlalu kampung jadi dia mengganti namanya agar terlihat keren. Bahkan dia juga memanggil Ryeowook dengan sebutan Brian. Ryeowook adalah orang Korea. Kawasanku tinggal juga ditempati oleh orang-orang Korea yang tinggal di daerah Las Vegas.

“Kau sudah pulang dari bekerja?” tanyaku.

“Ne. Aku dan Brian mau menjemput seseorang di Bandara.”

“Nuguya?”

“Kau pasti akan tahu nanti. Kajja masuk.”

“Sunny, aku akan menjemputmu jam 6 nanti kau harus sudah siap.” Ujar Brian.

“Tenang saja. Aku akan on time.”
Aku dan Sunny masuk ke dalam rumah. “Siapa yang akan datang? Apakah bibi? Paman? Omo.. Apa yang harus kulakukan?”

“Kau siapkan makan malam saja untuk tamu special malam ini dan jaga rumah dengan baik.”

“Ne onnie.”

Sunny onnie memelukku mengajakku masuk ke dalam rumah. Dia sempat mencubit pipiku gemas membuatku protes padanya. Aku dan dia benar-benar sangat dekat seperti saudara kandung sendiri. Mungkin karena aku adalah seorang anak tunggal.

***

Triiit … Triit …

Sunny onnie menelponku sepeninggalan dia pergi ke Bandara tadi. Entah sudah berapa kali dia meneleponku karena aku mendengarnya dari dapur karena sedang sibuk memasak. Dengan cepat aku pergi ke kamar untuk mengambil handphoneku ketika aku sudah selesai memasak. Aku bergegas ke ruang tamu untuk mengecilkan volume TV ku.

“Yeoboseyo onnie, wae?”

“Hanwoo-ya! Pesawat Korean Air-lines tergelincir ketika mendarat dan terbakar. Kau tahu orang Korea yang ada di pesawat itu adalah Eunhyuk. Dia datang kesini hanya untuk mencarimu.”

Remoteku terjatuh begitu saja belum sempat aku mengecilkan volume TV yang juga menayangkan berita siaran langsung dari Bandara mengenai kecelakaan pesawat. Perasaanku campur aduk. Pikiranku hanya memikirkan bagaimana jika dia benar-benar tidak selamat dalam kecelakaan itu? Bagaimana..? Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi?

Aku menangis karena penyesalan. Seharusnya tidak seperti ini !! Kenapa dia tertimpa masalah seperti itu? Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk terbangun saat tubuhku terasa lemas dan jatuh di lantai. Aku hanya bisa menangis .. menangis.. dan menangis. Apa yang harus kulakukan? Aku sendirian dirumah ini. Aku takut. Sesungguhnya aku benar-benar merindukannya dan masih mencintainya… Kenapa seperti ini? Kenapa …?

“Ti.. Tidak !!!”
Aku terbangun dari tidurku dan berteriak. Ternyata hanya mimpi buruk. Perasaanku mulai tidak enak. Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Apa aku benar-benar masih mencintainya? Bahkan diapun tidak ada mengabariku sama sekali. Tidak ada menanyai kabarku. Bisa saja dia sudah melupakanku. Mumpung tidak ada Sunny onnie, aku menangis sekencang-kencangnya berteriak untuk hati yang kesepian ini . Aku sering menangis keras-keras jika rumah dalam keadaan sepi. Aku merindukan pria bodoh itu. Pria bodoh yang terlalu santai akan cintanya.

Love you, loved you
I must have not been enough
Maybe I could see you just once by coincidence.
Everyday I grow restless,
Everything about you is becoming faint.
You smile back in our pictures,
unknowing of our approaching farewell.

“Clara! Apa kau ada di dalam? Buka pintunya aku datang!”

Aku tidak tahu ternyata Sunny onnie sudah datang. Aku benar-benar tidak mendengar bel pintu berbunyi. Kepalaku sangat sakit. Aku terlalu banyak memendamnya sendiri. Memendam perasaan rindu dan luka karena seorang pria yang sangat berarti dihidupku. Kuhapus air mataku dan sedikit merapikan rambutku yang kusut. Aku membuka pintu hendak menyambut Sunny onnie dan seseorang yang datang dari Korea.

Tapi aku benar-benar terkejut ketika siapa yang aku lihat adalah Eunhyuk. Ketakutan dan kerinduanku selama ini hilang begitu saja ketika melihat wajahnya yang ragu ketika melihatku. Entahlah perasaan apa ini antara senang dan bahagia lebih dominan daripada rasa sedihku mengetahui dia akhirnya datang untuk mencariku. Aku mencoba untuk berekspresi datar dan menatap Sunny onnie.

“Onnie ..”

“Miane Hanwoo-ya. Jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kau pasti akan marah dan aku takut kau akan kabur.”

“Jangan salahkan kakakmu, aku yang menyuruhnya ..”

“Aku tidak menyuruhmu berbicara.” Aku kembali ketus. Mendengar suaranya kembali sama dengan membuat hatiku tersentuh kembali. Aku merasa bodoh kenapa tidak bisa bersikap manis di hadapannya. Bukannya ini akan menyulitkan hubunganku dengannya? Tapi akan sangat konyol lagi jika aku bersikap manis padanya dan mengemis bahwa aku sangat merindukannya. Aku tidak ingin semudah itu dihadapannya.

“Pulang saja!”

“Aku akan menginap disini.”

“Anio! Cari Hotel atau kau pulang saja aku tidak ingin melihatmu disini !”

“Yak Yak Yak Clara ! Yang tuan rumah adalah aku, kalian berdua adalah tamuku. Aku tidak memakai sistem tamu adalah raja, disini aku yang raja. Eunhyuk-ssi, masuklah dulu kau pasti lelah.”

Aku langsung menyeret Sunny onnie untuk berbicara berdua dengannya. Kakak sepupuku ini benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Dia lebih membela orang yang baru dikenalnya daripada adiknya sendiri.

“Onnie-ya ! Eotteoke??”

“Eotteoke bagaimana? Kau harus senang dia mencarimu tapi kau malah memarahinya. Yak, siapa kemarin yang menangis di hadapanku kalau kau masih merindukan Eunh.. hmmpfft.. aaakk..”

Aku meringis sambil menutup kedua mulut Sunny onnie yang benar-benar ingin kucabik-cabik. Dia berbicara begitu dengan nada yang begitu keras volumenya.

“Dia sudah tahu. Aku sudah menceritakan semuanya padanya bahwa kamu masih mengharapkannya. Kau sudah dewasa, selesaikan masalah ini dengannya. Aku mau mandi dulu.”

“Yaaak Onnie-ya!!” teriakku padanya saat dia menaiki tangga. Akhirnya kuberanikan diri untuk menoleh ke arah Eunhyuk oppa. Kupalingkan mataku saat mata kami bertemu. Aku kembali teringat pada mimpi buruk tadi. Hidungku mulai perih karena mencoba menahan air mataku yang ingin mengalir.

“Kenapa kau datang lagi? Disaat aku sudah hampir melupakanmu?”

“Bahkan kau berusaha melupakanku? Aku sama sekali tidak ingin menghilangkan tempatmu di hatiku. Aku masih mencintaimu bagaimana aku bisa tidur tenang jika berpisah seperti ini denganmu? Miane aku mencarimu terlalu lama. Tentang kejadian 5 bulan yang lalu, aku sadar ternyata aku yang kekanak-kanakan bukan kamu. Alasanku belum ingin menikah adalah karena aku trauma dengan pernikahan Sungmin hyung yang gagal. Aku hanya takut dan aku semakin melihat dirikulah yang kekanak-kanakan.Berpisah denganmu juga membuatku semakin menyadari bahwa menikah memang jalan yang tepat untuk kita. Jika kau sudah tidak menginginkanku lagi, baiklah aku akan menjauh.”

Dia mengatakan hal itu panjang lebar dan konyolnya aku tidak bisa menjawab. Apakah aku harus menyerah sekarang mengangguk dan mengatakan iya? Tapi hatiku belum sepenuhnya ingin kembali bersamanya. Pertengkaran hebat kemarin membuatku terbayang lagi akan kemarahannya padaku saat dia mengatakan diriku kekanak-kanakan. Itu seperti hantaman besar bagiku.

“Pulanglah, aku belum ingin kembali ke Seoul bahkan kembali kepadamu.”

 

Eunhyuk’s POV
———————

“Pulanglah, aku belum ingin kembali ke Seoul bahkan padamu.”

Tidak.
Melihat Hanwoo seperti ini aku merasa seperti bukan berhadapan dengan Hanwoo yang selama ini kukenal. Dia sedikit dingin tidak cerewet seperti biasanya. Aku harus menyelamatkan hubungan ini. Kaki kiriku spontan bergerak ketika dia membalikkan badannya hendak pergi meninggalkanku. Segera saja kuhampiri dia membalikkan badannya ke arahku lalu mencium bibirnya. Ini yang ingin kulakukan dari kemarin-kemarin hari. Aku sangat merindukannya.

Dia terlihat memberontak mendesakku untuk menghentikan ciuman ini, tapi kali ini aku tidak peduli dengan keinginannya dan lebih memilih mementingkan diriku. Seperti ada tuntutan bahwa aku harus menciumnya.

‘PLAK!’
Dia berhasil menamparku. Kucoba mengatur napas lalu menciumnya lagi. Entah apa yang kulakukan aku benar-benar bodoh. Suka tidak suka aku harus membuatnya kembali padaku.

“Yak! Apa yang kau lakukan?”
Aku mencium bibirnya lagi ketika dia berhasil melepasnya. Kali ini dia mendorong bahuku hendak pergi dari hadapanku. Aku berhasil menarik tangannya kemudian mengecup bibirnya lagi. Mencengkram erat tangannya dan menciumnya dengan lembut. Menghirup nafasnya yang berdesir mengenai kulitku hingga kusadari dia melemah. Kubawa tangannya melingkar di leherku. Dia berjinjit menciumku dan mengeratkan rangkulannya pada leherku. Mendapat balasan darinya seperti mendapatkan kabar baik, bukan? Entah kenapa aku tersenyum menatapnya. Tanganku mengusap-usap kepalanya.

Kami melanjutkan obrolan di dalam kamar. Aku memeluknya di atas ranjang. Merasakan angin luar yang masuk dari jendela. Kamar dengan penerangan yang redup hanya mengandalkan lampu meja di samping tempat tidur. Suara gerakan tirai jendela yang tertiup angin seperti alunan melodi dengan tempo yang lambat membuat kami sedikit terhanyut dalam suasana malam yang hening.

“Oppa, apa yang kau lakukan selama tidak ada aku?”

“Merenung.”

“Aku juga.”

“Berpisah denganmu bukanlah jalan untuk takdir kita. Tidak bisakah kau hanya tetap ada di Seoul? Bagaimana jika aku tiba-tiba mati bunuh diri?”

“Kau tidak akan melakukan hal itu demi aku.”

“Bagaimana jika aku rela melakukannya?”

“Aku akan ikut mati.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. “Kau bodoh.”

“Kau lebih bodoh, oppa.”

“Ne, aku bodoh telah menyia-nyiakan dirimu. Bukan, aku tidak menyia-nyiakanmu hanya saja aku yang kekanak-kanakan.”

“Anio, aku yang kekanak-kanakan. Akulah anak kecil yang merengek meminta dibelikan permen itu.”

“Aku orang yang tidak mau membelikan permen kepadamu. Seharusnya aku membelikanmu permen. Benar bukan?” Kuangkat jemarinya kemudian mengecupnya. Hanwoo tersenyum. Akhirnya aku melihat senyumnya. Sebuah kiasan yang manis untuknya. Hanwoo meminta dibelikan permen dalam artian dia meminta suatu permintaan padaku dan harusnya aku membelikan dia permen agar dia bahagia itu artinya aku harus memenuhi permintaannya bukan?

“Aku seharusnya menunggumu.. Sampai kau siap, harusnya aku menunggumu. Miane oppa.” Hanwoo memelukku lebih erat dan menempelkan kepalanya di dadaku sambil memejamkan matanya. Sepertinya dia sudah lelah. Hanwoo benar-benar terlelap di pelukanku. Kukecup keningnya dan mengatakan selamat tidur padanya.

Author’s POV
——————
Hari ini Eunhyuk mengajak Hanwoo pergi ke salah satu mall yang ada di Las Vegas. Karena tidak ada transportasi Eunhyuk meminjam Porsche hitam milik Sunny. Sunny sangat senang mendengarnya dan langsung menyetujuinya. Selama di dalam mobil Eunhyuk selalu tersenyum melirik ke arah Hanwoo.

Sesampainya di mall Eunhyuk menemani Hanwoo berbelanja, membuat wanita itu begitu bahagia hingga Hanwoo tertawa kembali. Bahkan Hanwoo tidak malu-malu merangkul lengan Eunhyuk menggandengnya mengelilingi mall. Mereka makan di salah restaurant di pinggir jalan. Restaurant bergaya Amerika dan terlihat menikmati pemandangan jalanan. Hanwoo sudah kembali normal. Dia sudah bisa menyingkirkan rasa sakit hatinya dan menerima Eunhyuk kembali disisinya. Mereka berdua tidak hentinya senyum sedari tadi, saling tatap dan berpegangan tangan. Eunhyuk banyak melakukan hal-hal romantis tidak seperti biasanya Eunhyuk yang terlalu santai. Kali ini dia benar-benar tidak ingin ditinggalkan Hanwoo lagi untuk yang ketiga kalinya karena sebelumnya Hanwoo pernah meninggalkannya juga sewaktu baru-baru pacaran.

Sepulang dari makan siang, Eunhyuk mengajaknya singgah ke Vegas Park yaitu sebuah taman yang dekat dengan sungai. Desiran angin mulai menyambut mereka. Hanwoo melangkah mendahului Eunhyuk karena takjub akan keindahan taman ini. Tangannya terus menyentuh anak rambutnya yang sedikit berterbangan membawanya ke belakang telinga.

“Darimana kau tahu tempat ini?” tanya Hanwoo membalikkan badannya menatap Eunhyuk.

“Aku menanyai Sunny. Tempat apa saja yang indah dan aku harus pergi kemana hingga dia memberitahuku tempat ini. Neo johayo?”

“Hmm .. Nan johayo.” Hanwoo tersenyum sambil mengusap-usap lehernya karena senang.
Mata Eunhyuk sempat melirik ke arah lain. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu pada Hanwoo. Dengan cepat tangannya mengeluarkan kotak kecil yang sedari tadi dia sembunyikan di kantong celana. Hanwoo terkejut melihat kalung berbandul mutiara berwarna merah saat Eunhyuk membuka kotaknya.

“Aku tidak ingin membuatmu menunggu begitu lama. Sekarang aku tanya padamu, apa kau masih ingin menikah denganku?” Hanwoo menutup mulut mendengar ucapan Eunhyuk.

“Kau serius?”

“Aku benar-benar serius.”

Hanwoo hanya tersenyum sampai memperlihatkan giginya. Sumringah dan terlihat manis sekali di mata Eunhyuk. Hanwoo menganggukkan kepalanya pelan.

“Aku bersedia, oppa.”
Eunhyuk sangat senang mendengarnya. Dia menghela napas lega lalu memasangkan kalung pemberiannya di leher Hanwoo.
***
Hari ini hari Minggu tapi Minji sudah rapi walaupun tidak pergi kemana-mana. Sehabis mandi dia duduk di meja rias menghabiskan waktunya untuk berdandan. Sementara Kyuhyun yang baru bangun dan belum mandi masih asyik dengan handphonenya.

“Omo Omo !! Lihatlah ini..” Kyuhyun bangun memberikan handphoenya pada Minji. Wanita itu melihat apa yang membuat prianya sedikit berisik pagi ini.

“Akhirnya mereka balikan juga..” Minji sangat senang melihat Eunhyuk mengupload foto Hanwoo di snsnya.

shinningstar13ff

“Maaf untuk semua kesalahan, aku berjanji akan membahagiakanmu Hanwoo-ya ayo kita memberikan kabar baik ini ketika pulang nanti^^ Menikmati Las Vegas bersamamu Lee Hanwooku.”

 

 

 

THE END

Yaaah Bagian Mau Marriednya udah selesai kubuat. Duuh entah kenapa susah sekali cari feel untuk buat FF T___T Biasanya kalo lagi niat sehari pasti jadi ini berhari-hari. Jadi aja syukur. Hahaha. Semoga suka ya sama ceritanya. Tetep cinta Eunhyuk yaa beserta teman-temannya itu [SUPER JUNIOR]. Semangat menunggu untuk comeback 7jib dan tidak sabar menanti Teuki^^ Thanks all.

 

 

 

 

Iklan

22 thoughts on “[Sequel of My True Love] The Wait is Finaly Over

  1. first kah? hehe suka bgt suka cerita nya apalg cast nya hyukjae oppa…
    thor ini masih ada kelanjutan nya kan? plg liat cerita rmh tangga hyukjae n hanwoo deh..
    Buat cerita2 selanjutnya ditunggu aja deh..

    Suka

  2. jadi pake siwon kkk ko ga jd changmin~~
    heww ga nyangka ya itu sungmin dpt peran ngenes disini. hyuk trauma gitu kkk

    trus kebelet nikahnya hanwoo dapet bgt wkwkwk
    lalu ada clara brian sunny. omg hellooo wook as brian kkkk

    biar isi aj ni smua kluarga jd castnya xD

    doooh cang jd pngen buat sekuel lagi huuuur

    Suka

  3. hmm .. aku rada ngga dapet feel nya eon ~ miane 😦
    but keep writing ne .. ngga sabar nunggu pas married nya ^^
    fighting eonni ^^

    Suka

  4. Aigooooooooo ^_^
    Manis sekali ..
    Sumpah ini feelnya kerasa bgt, waktu mereka pisah itu cucok bgt…
    Sampai sini rasanya 😀
    Dan untuk kesekian kalinya aku katakan ff bercast selain Kyuhyun dan dongek yang kusuka …
    Aku g bisa soalnya bca ff selain kedua kunyuk itu eh unyuk masuk list, terimaksh sdh mmbntu saya menyukai ff selain bercast kyuhae 😀

    Suka

  5. ikhhhhh….ko ini kaya aq banget aq jg pngen nikah hyuk hihiiii,
    suka bnget yg kaya gni sedih² gtu tpi ujung²nya happy anding…ohhh jdi hyuk trouma sma kish kakanya hyuk lemah bgt dsni hnwoo yg agresif gtu…ahh ska pkonya dtnggu crita after marriednya eunwoo

    Suka

  6. aq suka bgettttttt ama ff ini** :^)..syukka syukka syukka pkönya smpe bca br’ulng2 ngga bosen arrhhhhh ❤
    Apa ini pngalaman pribadi autornya ya hihii klo iya tenang brarti qta sma hahaaa,rsanya ngenes gtu ya qt yg udh siap mentl maupn psik #bahasanya:D sudh mmperbaiki dri tpi c'cwonya msih klem cuek bnget huhuu…tpi dsni hyuk trauma krna kaka nya haduh miris bngettt nasibmu dsini umin
    Pling suka pas yg d'sungai han yg pas hnwoo mtusin hyuk ahhh ngena bgt ga tau knapa smpe nangis tpi akhrnya kmu sdar jga hyuk…ahh ska bgt yg pas hyuk ngjak nikh hnwoo nya ini wajib kudu ada SEQUELNYA pas mreka married and after married pkonya titik…suka bgettt couple ini

    Suka

  7. Hehehee,, kadang lucu jg sma sikap hanwoo yg bnr2 kekanakan.. tp untuk perempuan yg udh siap nikah dan pgn nikah ya bisa ngerti lah gmn perasaan mereka yg ga dilamar2 sma pasangannya apalagi mereka udh kenal lama dan tau sifat msg2 walaupun pacaran dan tunangannya blm lama jg
    Ehm,, intinya adalah harus ada komunikasi yg baik dr msg2 pasangan supaya mereka bisa cari solusi terbaik buat kelanjutan hubungannya…

    Ide ceritanya baguus,, aq suka sma jalan ceritanyaa

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s