[1] This is Love

This Is Love 1

Author: Hanwoo •Cast: Lee Hyukjae – Lee Hanwoo – Cho Kyuhyun – Choi Hyojin and Other Cameo • Genre : Straight – Romance • Length: 1

Cast This is Love

Lee Daehi Cast This is Love

Author’s POV
——————–

Who Said Love is Sweet … ?

Lee Hanwoo sedang tersenyum. Tubuhnya terbaring menghadap seorang gadis kecil berambut pendek dalam balutan selimut berwarna pink dengan aksen gambar kelinci . Tangan Hanwoo meraba rambut gadis kecilnya sambil memegang sebuah buku cerita. Malam-malamnya selalu menceritakan sebuah cerita untuk anak perempuan satu-satunya.

“Eomma jika besar nanti aku ingin seperti appa menjadi arsitek.”

“Jinjayo? Itu artinya kau harus belajar yang giat, Daehi-ya.”

“Ne eomma.”

“Anak yang pintar. Appa mu pasti akan sangat bangga melihatmu, sayang.”

Lee Hanwoo mengecup kening Daehi. Gadis kecil bernama Lee Daehi itu mulai memejamkan matanya tertidur disamping ibunya. Lee Hanwoo memperhatikan wajah kecil Daehi yang mirip almarhum suaminya. Dia mengelus rambut anaknya agar Daehi tertidur pulas.

Menikah di usia muda bukanlah hal yang mudah. Hanwoo hamil diluar nikah dan melahirkan Daehi dari benih seorang pria yang sangat dia cintai, Lee Donghae. Pria itu meninggal akibat kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu dan luka itu masih membekas di hatinya sampai saat ini.
Rasa penyesalan, sedih dan kesepian dilaluinya dengan hati yang lapang dan tulus ikhlas. Lee Donghae membuatnya hamil terlebih dahulu bukan berrati dia pria yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Pria itu sangat mencintainya selama ini. Hanya saja semua terjadi begitu saja. Ketika Daehi lahir ke dunia tiga tahun yang lalu Hanwoo tidak pernah lupa akan senyum Donghae sewaktu menggendong anak perempuannya untuk pertama kali. Pria itu terlihat begitu bahagia.

Hanwoo menitikkan air matanya. Dia terbangun dari tidurnya meninggalkan Daehi yang sudah terlelap. Hanwoo beranjak keluar menutup pintu kamar. Tangannya belum terlepas dari gagangnya tapi dia sudah menangis tidak tahan untuk menahan air matanya karena merindukan Donghae. Kini dia benar-benar tersedu dihadapan bingkai foto Donghae yang close-up memperlihatkan senyum tipis dan mata beningnya. Pria itu mengenakan kemeja putihnya. Hanwoo merasa kesepian dan sangat merindukan suaminya.

“Oppa jika saja kau tahu, Daehi sudah tumbuh menjadi gadis yang baik. Sebentar lagi dia akan sekolah di playgroup yang dulu pernah kita dambakan. Aku benar-benar merindukanmu, oppa. Aku harus bagaimana ketika aku merindukanmu?” Hanwoo terisak. Dia berbicara pada bingkai foto yang terpajang dalam diam di tembok dinding rumahnya. Donghae hanya menatap Hanwoo dalam diam dan itu membuat wanita itu semakin lemah. Hanwoo terisak sambil menepuk-nepuk dadanya.

Author’s POV
——————–
Eunhyuk duduk di depan seorang dokter muda dan tampan. Alis kanannya terangkat dan menunjukkan tatapan kesal pada dokter itu. Pria berjas putih itu menghela napasnya sambil menutup kedua matanya. Sepertinya mereka sedang berdebat.

“Kyu, kumohon. Setahun ini aku tidak tenang. Sepertinya orang yang mendonor jantungku tengah mencari-cariku. Aku terus bermimpi tentang pria itu.”

“Andwe hyung. Dia sudah berpesan padaku untuk tidak mengijinkan penerima donor mengetahui alamat rumahnya.”

“Wae? Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya. Jika tidak ada orang yang menandatangani surat perjanjian donor itu maka aku tidak akan ada dihadapanmu sekarang.”

Kyuhyun terdiam. Dia sebenarnya berberat hati jika memberitahu alamat pendonor karena sebelumnya pendonor memang mengatakan kepadanya tidak ingin diketahui identitasnya oleh siapapun kecuali dokter yang menangani pendonoran tersebut yang tak lain adalah Kyuhyun sendiri. Tapi disisi lain Kyuhyun sedikit ada rasa simpati karena Eunhyuk selalu datang memohon padanya. Entah kenapa dia tidak mengenal lelah untuk menghasut dirinya memberikan alamat si pendonor.

“Baiklah hyung. Tapi dengan syarat kau hanya boleh bertemu dengannya sekali saja dan jangan libatkan aku.”

“Yaksok. Percaya padaku, Kyu. Kau benar-benar pria yang baik.” Eunhyuk menepuk lengan Kyuhyun dengan genit.
*

“Kajja Daehi-ya !” Hanwoo berteriak memanggil Daehi di depan pintu rumahnya. Gadis berambut pendek itu berlari dari kejauhan sembari memakai tas bergambar Elsa dan Anna salah satu brand Disney yang kini menjadi perhatian orang-orang terutama menjadi kesukaan Daehi juga untuk dikoleksi. Gadis berumur 3 tahun itu terlihat sangat lucu di mata Hanwoo ketika berlari.

“Ne eomma, chakkamaneyo.”

Hanwoo meraih jemari mungil Daehi lalu menggenggamnya. Mereka berdua melangkah keluar tidak lupa menutup pintunya sebelum pergi.
Di waktu yang bersamaan Eunhyuk turun dari mobilnya. Dia berlalu setelah menutup pintu mobilnya. Sedan hitam itu terparkir di tepi jalanan kecil. Tangannya memegang secarik kertas. Sembari melangkah Eunhyuk juga membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya. Sekejap dia melihat ke sekelilingnya. Seperti sedang mencari sesuatu. Ya, dia sedang mencari pendonor yang rumahnya terletak di daerah kawasan perumahan di Seocho-gu 3A.

“Seocho-gu 3A , eodiya?” tanyanya pada dirinya sendiri. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja keluar dari pintu gerbang. Yeoja itu menggenggam tangan seorang gadis mungil. Eunhyuk memperhatikan lekat-lekat wajah gadis itu. Dan dia tersadar bahwa yeoja itu keluar dari sebuah rumah dengan nomor 3A. Apakah orang yang sedang dicarinya adalah orang ini?

Mobil Eunhyuk berada tepat di belakang mini bus. Dia sedang mengikuti yeoja tadi. Entah kenapa dia punya keinginan untuk mengikuti yeoja tadi. Mengikutinya ke sebuah taman kanak-kanak. Melihat dari kejauhan bagaimana yeoja itu berinteraksi dengan salah satu guru lalu menyerahkan gadis mungil yang bersamanya sedari tadi kepada gurunya. Mereka terlihat bercakap-cakap sebentar.

Pada akhirnya Eunhyuk berada di depan Flower Shop “Kottboda Yeoja” karena yeoja yang ditemuinya memasuki toko bunga di pinggir jalan di kawasan Seoul. Setelah setengah jam Eunhyuk hanya duduk menunggu di dalam mobil menunggu yeoja itu keluar dari toko bunga ternyata apa yang diharapkannya tidak terwujud. Wanita itu tidak keluar dari toko bunga dan Eunhyuk memutuskan untuk masuk ke dalam toko.

“Anyeong Haseyo !” seperti gerak lambat yang dibuat dalam editan drama yang ada di TV ketika wanita itu membalikkan badan menggerakkan rambut penjangnya yang agak ikal lalu tersenyum sangat manis membuat matanya hampir habis karena menyipit. Eunhyuk dibuat terkesima oleh yeoja itu. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya merasakan debaran jantungnya. Entah perasaan apa ini dia seperti pernah berada di saat-saat seperti ini.

“Agashi, kau ingin mencari bunga apa? Aku akan membuatkannya untukmu.” Suara itu menyadarkannya lagi. Tangannya bergerak turun dan dia mulai bersikap normal. Mencoba menatap yeoja yang sedang menggenggam bunga mawar merah itu dengan tatapan yang biasa layaknya orang normal seperti pertama kali bertemu. Padahal jantungnya berdetak tidak seperti biasanya saat ini.

“Aku ingin 7 tangkai bunga mawar merah dalam bouquet.” pinta Eunhyuk.

“7 tangkai? Agassi, apa kau sedang tergila-gila pada seseorang? Pasti kau sedang jatuh cinta.” Ujar yeoja itu sambil memilah bunga mawarnya.

“Baiklah aku akan membungkuskannya untukmu. Kau ingin plastik pembungkusnya warna apa? Bening? Pink? Atau warna lain?” Eunhyuk tersenyum mendengar suara yeoja itu. Dia menebak pasti bahwa yeoja itu adalah pemilik toko bunga.

“Terserah kau saja.”

Eunhyuk tidak menyangka jika awal mula pertemuan mereka berdua seperti ini. Dia belum sempat mengatakan hal yang sebenarnya bahwa kedatangannya mencari yeoja itu adalah untuk berterima kasih karena berkat wanita itu dia bisa hidup kembali. Hanya karena timingnya saja yang belum dirasa pas jadi Eunhyuk tidak mengatakannya.
Beberapa hari kemudian dia datang kembali ke toko bunga itu. Begitu di hari-hari berikutnya. Eunhyuk jadi sering membeli bunga dan mendapatkan diskon dari yeoja itu. Tapi sampai hari ini tiba dia belum mengenal nama pemilik toko bunga ini.

“Aku berlangganan di tokomu, kau juga memberiku diskon. Tapi aku tidak tahu siapa namamu. Boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Eunhyuk sambil menyerahkan kartu kreditnya. Hanwoo mengambil kartu kredit itu kemudian menggeseknya di kartu mesin. Beberapa saat kemudian dia mengembalikan kartu kredit itu.

“Namaku Lee Hanwoo.”
*

“Namaku Lee Hanwoo ..”
Sejak mengetahui namanya, Eunhyuk jadi lebih sering memperhatikan Hanwoo. Dia mencoba datang lagi di keesokan harinya tapi toko bunga itu tutup. Eunhyuk berdiri di depan toko itu menatap bangunan yang memiliki lantai dua di depannya. Dia mencoba menunggu sejam lagi. Tapi ternyata tanpa sadar dia sudah menunggu hampir tiga jam di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan dan toko itu tidak kunjung buka juga. Bahkan dia juga tidak melihat kedatangan Hanwoo. Akhirnya Eunhyuk memilih pulang.

Dia datang lagi keesokan harinya di jam siang seperti biasa kedatangannya. Tapi toko itu masih tutup. Dia mencoba melakukan itu sampai tiga hari. Pada hari ketiga dia benar-benar penasaran. Ada apa dengan Hanwoo? Dia mencoba mencari tahu dan memutuskan unruk mendatangi kekediaman Hanwoo yang kemarin dia sempat cari. Mobilnya dia parkir di tepi jalan yang sedikit menyeruapi gang.

Eunhyuk bersandar pada pintu mobil sambil menatap rumah di depannya. Dia masih bingung kenapa dia melakukan hal ini. Hatinya berkata bahwa dia harus menemui Hanwoo. Kecantikan dan ketulusan yang terlihat dari wajahnya membuatnya sadar bahwa dia sedikit menyukai Hanwoo entah kapan sungguh tidak jelas sekali. Hanwoo memberikan sebuah kesan yang masih belum bisa dia temukan jawabannya.

Hanwoo’s POV
——————–

“Eomma, aku tidak kuat.” Kata Daehi.

Aku benar-benar khawatir pada gadis kecilku yang sedang menahan sakitnya dari serangan demam. Sudah tiga hari Daehi tidak masuk sekolah. Aku juga tidak membuka tokoku karena menjaga Daehi. Demam Daehi tidak turun aku takut dia terkena typhus. Sepertinya aku harus mengantarnya ke rumah sakit.

Kupakain Daehi jacket pinknya lalu kugendong dia di punggung. Tubuhnya terasa hangat sehingga aku harus berlari keluar kamar hendak pergi ke rumah sakit. Ketika aku membuka gerbang, aku terdiam tidak bergerak karena melihat sosok Donghae oppa dengan kemeja putih dan celana panjang berwarna creamnya sedang bersandar di pintu mobil depan rumah. Tubuhku melemas seketika.

“Oppa tolong aku ..” ujarku. Sosok yang kukira Donghae oppa itu berjalan ke arahku dan aku tersadar aku hanya berhalusinasi. Pria yang kulihat ternyata pria yang berlangganan bunga di tokoku. Raut wajahku menjadi berubah. Kutelan pahit-pahit ludahku dan kusingkirkan perasaan iba itu terhadapnya. Yang terpenting adalah Daehi agar dia bisa sampai di rumah sakit secepatnya.

“Hanwoo-ssi kau baik-baik saja? Apa yang terjadi pada dongsaengmu?”

“Dia anakku. Tolong antarkan aku ke rumah sakit. Aku butuh pertolonganmu tuan.”
Entah kenapa aku melihat raut wajahnya berubah. Matanya melihat Daehi seperti tidak percaya. Dia menjadi diam setelah itu. Apa aku telah merepotkannya?

“Ah maaf tuan aku mungkin akan merepotkanmu, gwenchana aku akan naik taksi.” Jawaban yang tepat. Aku benar-benar tidak enak menyuruhnya untuk mengantarku ke rumah sakit. Bagaimana jika dia sedang sibuk?

“Anio, ikut aku saja.”
Tangannya meraih Daehi lalu menggendong tubuh gadis kecil itu membawanya masuk ke dalam mobil. Aku mulai merasa tidak enak pada Eunhyuk. Tapi aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Eunhyuk mengantar kami ke rumah sakit terdekat. Selama di perjalanan aku terdiam menjaga Daehi di kursi belakang. Terkadang menatap Eunhyuk yang serius menyetir. Pria ini aku benar-benar tidak enak padanya. Entah dia mempunyai kesibukan apa di daerah rumahku aku meminta tolong begitu saja padanya.

Setibanya di rumah sakit aku sedikit lega. Seperti baru bisa bernapas teringat ketika Dokter Kim mengatakan bahwa Daehi terkena typhus. Aku menjaga Daehi yang sedang terbaring lemas di atas tempat tidur dengan infus yang menancap di telapak atas jemari tangan kirinya. Kutarik selimut putih itu sampai pada dadanya.

Tanganku membuka pintu kamar hendak keluar mencari udara segar. Kulihat Eunhyuk yang sedang duduk di kursi tunggu yang berjumlah tiga deret. Aku tersenyum ketika dia menatapku dan dia membalas senyumku. Aku duduk tepat di sebelahnya.

“Kamsahamnida tuan. Aku sangat merepotkanmu sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan.”

“Anio, aku ikhlas menolongmu.”

“Terima kasih atas kebaikanmu, tuan. Hanya saja aku tidak akan bisa tidur jika kau menolakku. Bolehkah aku mentraktirmu?”

“Hahaha Kau berlebihan. Baiklah, kau boleh mentraktirku. Panggil saja namaku Eunhyuk. Sangat canggung aku mendengarmu memanggilku tuan.”

“Hahaha. Ne, aku akan mencobanya. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu, Eunhyuk-ssi.”

“Oh haha hmm.. Itu iya kebetulan sekali. Aku hendak mencari rumah seseorang tapi tidak ketemu.” Ujarnya.

“Oh ya? Mungkin aku bisa membantumu.”

“Sudah ketemu.” Ujarnya sedikit membuatku aneh. “Ah iya siapa nama anakmu?”

“Lee Daehi.”

Kulihat Eunhyuk mengatupkan kedua bibirnya kemudian mengangguk-ngangguk. “Nama yang cantik seperti ibunya.”

“Kamsahamnida. Jangan terlalu memujiku jika tidak ingin melihat aku besar kepala nantinya.”

“Haha. Dimana ayahnya?”

Akhirnya dia bertanya juga mengenai keberadaan suamiku. “Ayahnya telah meninggal dunia karena kecelakaan setahun yang lalu.” Bibir pria itu terbuka ketika mendengarku. Dia seperti tidak enak hati mendengarku.

“Ah mianhamnida.”

“Anio, gwenchanayo.”

Eunhyuk’s POV
——————–

Air mengucur membasahi dari ujung rambutku sampai ujung kakiku. Kuacak-acak rambutku yang basah akibat siraman air melalui shower. Aku teringat lagi kejadian tadi ketika aku menemui Hanwoo, gadis yang membuatku tertarik belakangan ini. Bahkan aku tidak melupakan bagaimana kepanikannya saat dia meminta tolong padaku. Ketika aku tahu bahwa dia adalah seorang janda dengan satu anak perempuan yang sangat cantik.

“Lee Daehi.”

Tutur katanya sangat lembut ketika mengatakan itu. Tapi entah kenapa mampu membuatku tidak berkata-kata. Darimana perasaan itu datang aku juga tidak tahu. Hatiku sedikit sakit mendengarnya. Bukankah ini terlalu cepat untuk mencintai seseorang yang bahkan aku baru mengenalinya? Ini terjadi begitu saja dan terasa aneh bagiku.

Aku tertidur dengan perasaan yang gelisah. Dalam tidurku aku tersadar bahwa aku seperti kembali lagi terlempar ke satu tahun sebelumnya dimana tubuhku berlumuran darah. Beberapa orang menaikkanku ke atas ranjang dorong kemudian memasukkanku ke dalam mobil ambulance. Aku mengalami kecelakaan setahun yang lalu di daerah Gangnam hendak pulang menuju Seoul. Saat itu aku mengendarai motor. Ketika motorku melaju di jalanan, sebuah truk yang hendak menyalip sebuah mobil dari arah sebrang sedikit membuatku terkejut dan oleng ke tepi hingga aku terjatuh dan terguling jauh dengan motorku. Tubuhku membentur tiang listrik hingga membuat jantungku mengalami pendarahan.

Satu bulan mengalami koma sangat lama di rumah sakit karena aku butuh seseorang pendonor yang rela memberikan jantungnya untuk menggantikan jantungku yang sudah rusak. Sebulan itu aku menunggu dengan tidak sadarkan diri. Aku bisa tersadar lagi ketika tahu-tahu ada seseorang yang baik hati rela mendonor jantungnya untukku.
Aku terbangun dari tidur. Tubuhku bergerak bangun dan duduk di atas ranjang. Aku mulai menyadari sesuatu. Kusentuh dada ini. Mungkinkah ..
Hanwoo’s POV
——————–

“Daehi-ya aaa ..”

Aku menyuapi Daehi makan. Daehi terbangun terlalu pagi karena lapar. Akhirnya aku meminta suster untuk membawakan makanannnya segera. Sangat senang mendengar keadaannya yang ingin makan walaupun demamnya belum turun. Itu artinya Daehi ada kemungkinan akan cepat sembuh.

“Eomma kemarin aku melihat seorang ajuhsi yang menggendongku. Siapa ajuhsi itu?”

“Dia ajuhsi yang baik hati namanya Eunhyuk ajuhsi.”

“Eunhyuk ajuhsi apakah teman eomma?” Daehi bertanya dengan polos.

“Ne. Eunhyuk ajuhsi sering membeli bunga di toko eomma.”

“Aku ingin bertemu Eunhyuk ajuhsi.”

“Kau harus sembuh dulu baru bisa bertemu Eunhyuk ajuhsi. Daehi buka mulutmu lagi, aaa~”

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka. Hanwoo menengok ke belakang begitu juga Daehi. Melihat sosok Eunhyuk yang tersenyum menghampiri mereka. Eunhyuk mengangkat parsel buahnya dalam artian ingin menunjukkannya pada Daehi.

“Anyeong Daehi-ya, kenalkan aku Eunhyuk ajuhsi. Ajuhsi membawakan buah-buahan biar Daehi bisa cepat sembuh.”

“Ajuhsi benar teman eomma?”

“Ne, ajuhsi adalah teman eommamu.”

“Ajuhsi tidak akan meninggalkan eomma sendirian seperti appa?”

Pertanyaan Daehi sungguh membuatku sedikit terkejut. Bagaimana dia bisa menyimpulkan keadaanku seperti itu pada Eunhyuk? Aku benar-benar malu dan tidak enak pada Eunhyuk.

“Daehi-ya !” kesalku sedikit melotot pada Daehi. Anakku terdiam seperti menyadari kesalahannya bahwa ibunya sedang marah.

“Yak, jangan memarahi Daehi-ya Hanwoo-ssi. Ajuhsi akan menjadi teman baik ibumu dan menjadi temanmu. Tapi janji pada ajuhsi kau harus menghabiskan makananmu agar cepat sembuh. Aracii?”

“Araseoyeo ajuhsi.”

Aku benar-benar lega mendengarnya. Kulirik Eunhyuk yang sedang melayangkan ‘High-Five’ dengan Daehi. Entah kenapa aku senang melihatnya dan tanpa sadar membuatku tersenyum. Eunhyuk melakukan hal ini setiap hari. Dia tidak pernah telat datang untuk menjenguk Daehi. Menjadi teman bercanda Daehi. Aku merasa dia begitu peduli pada Daehi. Daehi tidak pernah tertawa sebahagia ini ketika Eunhyuk mengajaknya bercanda. Sampai-sampai dia menceritakan dongeng hingga Daehi tertidur. Seharusnya ini menjadi hal yang baik dimataku. Tapi entah kenapa ini membuatku teringat pada Donghae oppa. Aku merasa sosoknya sedikit mirip dengan Donghae oppa.
Hari sudah hampir malam. Sudah tiga hari Eunhyuk menemaniku di rumah sakit. Menemani Daehi seperti seorang ayah. Ini membuatku sedikit sulit. Aku semakin tidak enak pada Eunhyuk. Melihat kebaikannya menolongku yang seorang diri, aku seperti terlihat kasihan dimatanya.

“Eunhyuk-ssi, pulanglah. Daehi sudah tidur aku akan menjaganya.”

“Gwenchana. Sepertinya Daehi menyukaiku.”

“Eunhyuk-ssi, jangan terlalu memanjakannya.”

“Bukankah itu bagus? Daehi pasti kehilangan sosok ayah, dan aku ..”

“Jadi sekarang kau ingin mencoba menggantikan posisi ayahnya?” nada suaraku sedikit keras. Raut wajahnya terlihat sekali mulai tidak enak menghadapiku.

“Anio, kau salah paham. Baiklah jika kau keberatan, aku hanya ingin menjadi temannya saja dan ingin menolongmu.”

“Aku baik-baik saja. Kau tidak usah terlalu kasihan padaku.”

“Oh, mianhamnida, Hanwoo-ssi. Tidak bermaksud seperti itu. Mungkin kau lelah, beristirahatlah. Aku akan pulang.”

Aku tidak menjawabnya. Bahkan sampai dia menundukkan kepalanya ke arahku kemudian pergi dari hadapanku aku masih terpaku dengan kegalauanku akan sikap yang kutunjukkan hari ini pada pria baik itu. Beberapa saat kepergiannya aku terduduk lemas di sofa. Aku menyadari kesalahanku. Aku masih bertanya-tanya kenapa aku sekesal itu pada pria yang sudah berbaik hati menolongku? Harusnya aku berterima kasih padanya.

Hingga Daehi sudah sembuh dan aku balik bekerja lagi. Toko bungaku kembali beroperasi. Beberapa pelanggan datang dan aku berharap dia salah satunya. Tapi satu hari ini sampai toko tutup tidak kulihat batang hidungnya. Mungkin saja dia memang tidak berencana datang hari ini. Aku masih mencoba berpikir positif. Seperti halnya uangnya habis tidak bisa membeli bunga lagi. Hmm.. Tapi itu tidak mungkin. Ah ya aku baru ingat, bunga bukanlah barang pokok yang harus dibeli setiap hari.

Di hari kedua dia tidak datang .. Di hari ketiga .. Hari keempat .. Hari kelima sampai pada hari ketujuh. Seminggu sudah dia tidak menampakkan batang hidungnya. Mungkin aku harus melupakan pria itu. Melupakan juga bahwa aku ingin mentraktirnya karena kebaikannya. Dan aku baru sadar ternyata aku menunggu kedatangannya.

Author’s POV
——————-

Seorang wanita memasuki sebuah café. Bertemu dengan beberapa pelayan yang menyambutnya. Pelayan-pelayan itu harus menyapa kekasih dari bosnya jika tidak dia akan diomeli berjam-jam oleh wanita tinggi dengan kaki jenjang yang cantik karena wanita itu sangat suka sekali dengan kesempurnaan.

“Anyeong haseyo Nona Choi. Apa kabar?” tanya salah satu pelayan. Pelayan itu mengenakan kostum sleeveless abu-abu khas café disini. Sungguh gaya yang berbeda dari café-café makan lainnya.

“Anyeong haseyo. Kerja yang bagus. Kabarku baik-baik saja. Hmm.. Aku melihat banyak sekali bouquet bunga yang dipajang disini sampai mengering. Aku ingin kalian membuangnya.”

“Mianhamnida nona choi, atas suruhan tuan muda kami dilarang untuk membuangnya.”

“Kenapa seperti itu? Biar aku yang bicara dengan Eunhyuk oppa. Oppa eodiga?”

“Tuan muda ada di dalam ruangan.”

“Umm.. Baiklah. Sampai nanti.”

Heels merah wanita itu menuntunnya masuk ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kantor Eunhyuk yang terletak di belakang mini bar. Dilihatnya Eunhyuk sedang sibuk mengetik di depan komputernya.

“Ada apa?”

“Memangnya aku tidak boleh menemuimu? Aku calon tunanganmu, oppa.” Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Eunhyuk lalu mengecuk pipi Eunhyuk mesra. Tubuhnya terduduk di atas pangkuan Eunhyuk.

“Hyojin-a lepaskan aku.”

“Anio aku masih merindukanmu.”

“Aku sedang bekerja.”

“Araseyo. Kau tidak suka kuganggu ketika sudah bekerja. Tapi kau juga tidak suka kuganggu jika sedang santai. Apa itu artinya kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

Eunhyuk menghela napas. Pertanyaan yang tidak ingin dia jawab. Namun Hyojin sedang menunggu jawabannya itu.

“Bukan seperti itu Hyojin-a.”

“Lalu apa?” Hyojin cemberut.

“Hanya saja kau menemuiku disaat yang tidak tepat.”

“Sudah hampir seminggu aku tidak menemuimu. Kau bilang tidak tepat?”

Eunhyuk sadar bahwa dia sudah membuat Hyojin cemberut dan menggerutu padanya. Hyojin tidak puas dengan jawaban Eunhyuk merasa ada sesuatu yang ganjal. Hyojin menjauh dari Eunhyuk berdiri membelakangi Eunhyuk. Menyadari Hyojin marah padanya Eunhyuk terbangun lalu memeluk tubuh Hyojin. Mencoba menenangkan kekasihnya.

“Miane. Aku sedang fokus pada pekerjaanku minggu ini, miane Hyojin-a.”

“Oppa, kau sudah tidak mencintaiku lagi, iya kan?”

“Anio, bukan seperti itu.”

“Aku menemukan beberapa bouquet bunga yang sudah mengering. Bolehkah aku membuangnya?”

“Andwe !” Eunhyuk melepas dekapannya.

“Wae?”

Eunhyuk terdiam. Dia tidak bisa memberikan jawaban pada Hyojin. Lidahnya sangat berat digerakkan. Bunga-bunga yang dibelinya minggu-minggu lalu dia pajang dan sama sekali tidak ingin membuangnya. Adanya bunga-bunga itu entah kenapa membuatnya sedikit tenang ketika tidak bisa bertemu dengan Hanwoo sehari. Dia hanya takut bertemu Hanwoo karena kesalah-pahaman yang di dapat Hanwoo tempo hari karena kebaikan dan kekhawatirannya pada Daehi.

Selama seminggu ini hatinya terketuk sangat ingin bertemu Hanwoo. Dia hanya bisa melihat sosok Hanwoo dari kejauhan. Menatap wanita itu dari dalam mobil. Dia tidak tahu apakah dia harus menemui Hanwoo atau hanya diam ditempat?

Saat itu Hanwoo sedang menutup tokonya. Dia tidak sadar bahwa gerimis mulai turun dengan keadaan toko sudah tertutup rapat. Gerimis tadi perlahan menjadi hujan yang deras. Hanwoo tidak bisa berbuat apa-apa. Mau pergi pun percuma karena tidak membawa payung kecuali kalau dia ingin menerobos membuat tubuhnya basah kuyup lalu keesokannya dia sakit dan tidak bisa membuka toko untuk mencari sesuap nasi. Hanwoo memeluk kedua tubuhnya menahan rasa dingin yang mulai menyeruak ke dalam tulangnya. Dia memilih untuk berteduh sampai hujan ini berhenti.

Karena hujan deras dia tidak begitu melihat siapa pemilik sedan hitam yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan tokonya. Pemilik mobil itu turun menutupi wajahnya dengan payung bercorak macan tutul berwarna cokelat. Dia menerobos hujan menghampiri Hanwoo.

Hanwoo’s POV
——————–

Seseorang menghampiriku dengan payungnya. Awalnya dia hanya menutupi wajahnya dengan payungnya sehingga aku tidak sadar siapa yang sedang menghampiriku hingga menyadari pria itu sudah berada di hadapanku. Payungnya terangkat perlahan-lahan memperlihatkan wajahnya yang tidak asing lagi bagiku.

“Eunhyuk-ssi..”

Kulihat bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman. Melihatnya seperti itu dari dekat entah kenapa membuatku sedikit lega. Perasaan yang entah apa ini aku belum bisa menjawabnya sendiri. Aku hanya ingin memastikannya ah tidak atau aku tidak boleh terlalu jauh untuk menyukainya. Lebih tepatnya menyukai kebaikannya karena dia selalu ada disaat aku butuhkan.

“Kau menunggu hujan ini berhenti atau sedang menunggu seseorang untuk membawakan payung untukmu?” tanyanya.

“Aku berada ditengah-tengahnya, jika hujan berhenti maka aku beruntung atau jika aku sedang berharap ada seseorang yang membawakanku payung maka aku sangat beruntung.”

Kulihat dia tertawa menanggapi senyumanku. “Waeyo? Kenapa tertawa?”

“Anio. Aku kebetulan lewat jalan ini dan melihatmu berteduh. Bagaimana jika kau pulang denganku?”
Eunhyuk menawarkan dirinya untuk mengantarku pulang. Dengan bodohnya lidahku tidak bisa mengucapkan kata iya secepat mungkin. Yang ada kepalaku hanya mengangguk mengiyakan tanpa berkata-kata.

Author’s POV
——————-

Hyojin hendak pulang namun hujan telah membuatnya tertahan di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja. Dia adalah seorang dokter spesialis kecantikan di rumah sakit Seoul Health Centre. Hyojin sempat berdecak kesal kenapa hujan harus turun disaat yang tidak diinginkan. Karena hujan turun dia tidak bisa pergi ke halte karena tidak membawa payung.

Hyojin mencoba menelepon kekasihnya, Eunhyuk. Tapi sayang pria itu tidak mengangkat teleponnya. Hyojin merasa kesal. Moodnya semakin menjadi tidak baik. Perasaan sendiri dan kesepian mulai menyelinap. Entah kenapa belakangan ini dia merasa kekasihnya berubah. Tidak pernah mendengarkannya lagi seperti dulu. Dia merasa Eunhyuk juga tidak memanjakannya lagi. Dia tidak suka dengan cinta yang seperti ini. Dia merasa Eunhyuknya berubah tapi dia belum menemukan apa yang membuat kekasihnya berubah.

“Ehm..”

Hyojin menoleh ke sumber suara. Dia melihat Cho Kyuhyun berdiri disampingnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Hujan tidak akan berhenti jika kau hanya menunggu dengan cara melamun. Setidaknya kau harus sedikit berusaha mencari tumpangan.”

“Siapa yang harus aku cari jika kekasihku juga tidak memperdulikanku?” sedih Hyojin.

“Kau bisa menemuiku, nona Choi.”

“Shireo !!” teriak Hyojin.

“Waeyo??”

“Shireo!”

“Baiklah aku tidak akan memaksa. Kalau begitu aku pulang duluan.”

Kyuhyun benar-benar pergi meninggalkan Hyojin tanpa memikirkan tipikal wanita yang selalu suka menjaga image dihadapan pria ketika seorang pria menawarkan pertolongan. Kyuhyun hanya tidak tahu bagaimana ketika Hyojin menolak artinya dia harus lebih ekstra lagi ketika menawarkan bantuan padanya. Kini Hyojin merasa menyesal menolak tawaran Kyuhyun tapi dia juga kesal pada Kyuhyun. Dia memalingkan pandangannya dari sosok Kyuhyun yang memunggunginya.

Hyojin merasa jika dia didekat Kyuhyun selalu merasa canggung. Entah kenapa. Awalnya mereka sangat dekat. Mereka adalah rival sewaktu SMA. Kyuhyun dan Hyojin sering berebut posisi ranking di sekolah. Mereka termasuk siswa-siswi yang aktif dan keduanya ikut serta dalam organisasi sekolah. Entah kenapa Kyuhyun sedikit menjauhi Hyojin tepat setelah Hyojin berpacaran dengan Eunhyuk bahkan sampai saat ini Kyuhyun menjaga jarak dari Hyojin. Bahkan Kyuhyun sedikit bersikap kasar seperti meneriaki Hyojin, dia juga pernah membentak Hyojin sewaktu Hyojin berbuat salah padahal kesalahan itu adalah kesalahan kecil yang pernah Hyojin perbuat. Itu yang membuat Hyojin malas ketika berurusan dengan Kyuhyun.

“Pria itu tidak pernah berubah. Dia tidak pernah ikhlas padaku.”

Tak lama kemudian ketika Hyojin masih mencoba menelepon Eunhyuk, sedan merah metalik berhenti didepannya. Kaca mobilnya terbuka. Kyuhyun terlhat dari dalam sana. Hyojin sedikit terkejut dengan kedatangannya.

“Kajja, aku akan mengantarmu pulang.” Seperti mimpi rasanya ketika tahu Kyuhyun menawarkan dirinya untuk mengantar Hyojin pulang.

Wanita itu masih berkacak pinggang menatap Kyuhyun heran. Pikiran-pikiran buruknya sedikit terhapus ketika Kyuhyun tidak menjadi seseorang yang ada di pikirannya.

Kyuhyun berdecak karena Hyojin malah melamun menatapnya. Dia membuka pintu dan berlari menerjang hujan karena di mobilnya tidak tersedia payung. Satu Tangannya merangkul Hyojin sedangkan tangan satunya lagi melindungi kepala Hyojin mengantarnya sampai depan pintu mobil. Kyuhyun membuka pintu mobil membiarkan Hyojin masuk ke dalam.
*

Eunhyuk berhasil mengantar Hanwoo pulang dengan mobilnya. Dia merasa sukses dan baru kali ini dia merasa bahagia berhadapan dengan seorang wanita seperti Hanwoo. Ada rasa puas ketika Hanwoo duduk disamping kemudinya. Sampai-sampai dia tidak menyadari ada 5 missed called dari Hyojin karena Eunhyuk tidak membuat nada deringnya terdengar melainkan silent.

Kedua pria yang merasa bahagia ketika mengantar seorang wanita yang sedang diinginkannya. Cho Kyuhyun yang tetap stay cool walaupun hatinya berdebar karena menyimpan perasaan suka pada wanita disamping kemudinya, Eunhyuk yang juga masih tidak mengerti kenapa dia bisa merasa bahagia ketika Hanwoo berada disampingnya. Rasa suka itu mengalir begitu saja tanpa peduli masalah yang akan timbul di kemudian hari. Mereka juga tidak menyadari bahwa mereka saling bertemu di perjalanan. Mobil Kyuhyun yang melintas ke Utara dan mobil Eunhyuk yang melintas ke Selatan. Takdirpun mulai bermain-main dengan kisah cinta mereka.

Eunhyuk’s POV
———————
Kupeluk Daehi di pangkuan. Baru beberapa hari bertemu aku sudah merasa dekat dan nyaman dengan Daehi. Merasa seperti menjadi ayah Daehi sesungguhnya. Padahal aku tidak begitu menyukai anak kecil. Perasaan ini benar-benar mengalir begitu saja.

Kuperhatikan ruangan di rumah yang hanya ditinggali dua orang saja. Rumah minimalis yang sangat klasik dengan cat tembok warna putih. Aku juga melihat poto-poto yang terpajang di dalam ruangan beserta beberapa lukisan-lukisan yang menemani. Dengan ragu-ragu aku menatap poto dengan bingkai paling besar yang terpajang di tembok ruangan ini. Foto seorang pria dengan mata sayu dan senyum segarisnya. Pria itu mirip seperti Daehi. Mungkinkah dia yang mendonorkan jantungnya untukku? Aku juga melihat beberapa foto-foto pernikahan terpajang di atas rak. Beberapa foto Daehi ketika balita hingga yang sekarang.

Kucium kening Daehi ketika itu aku menyadari Hanwoo yang melihatku saat dia keluar dari kamar mandi. Tangannya sempat menghentikan aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambutnya. Kemudian mekanjutkannya lagi sambil melangkah ke arahku dengan melemparkan tatapan ke arah lain.

“Wae ? Kenapa tatapanmu aneh seperti itu?” tanyaku ketika dia duduk disampingku.

“Ani” jawabnya singkat.

“Baiklah jika kau tidak ingin melihatku begitu dekat dengan Daehi. Aku akan pulang sekarang.”

“Ah, anio Eunhyuk-ssi. Bukan seperti itu. Kau ingin berlama disini dengan Daehi juga tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa merepotkanmu.” Kulihat Hanwoo sedikit tersenyum ke arahku.

“Anio, aku tidak merasa direpotkan.”

“Ajuhsi, jangan pulang dulu.” Ujar Daehi membuatku tertawa mendengarnya. Gadis kecil ini sangat lucu ketika berbicara. Aku sangat menyukainya.

“Baiklah kalau begitu ajuhsi akan menunda kepulangan hanya untukmu.” Ujarku sambil mencubit hidung Daehi gemas.

Dua jam kemudian …
Aku bisa pulang ketika Daehi akhirnya tertidur pulas di pangkuanku. Menghabiskan berjam-jam demi disamping Hanwoo, demi melihat wajah wanita yang belakangan ini aku pikirkan dan rindukan. Ternyata aku tidak hanya menyadari bahwa jantung dari pendonor ini berdebar, kini aku juga telah dibuatnya jatuh cinta pada Hanwoo.

Setelah memindahkan Daehi ke kamarnya, Hanwoo mengantarku keluar sampai pintu gerbang. Sebenarnya aku ingin dia mengucapkan sesuatu. Aku menunggu tetapi dia tidak berbicara hingga tanganku membuka pintu mobil.

“Hmm.. Eunhyuk-ssi.” Dia akhirnya memanggilku. Karena aku tahu ada yang ingin dia bicarakan padaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan menyuruhku untuk datang lagi menemuinya walaupun hanya untuk Daehi.

“Ne?”

“Kamsahamnida.”
Dia menyunggingkan senyumnya. Jantungku semakin berdebar. Ah tidak, ini adalah jantung milik pendonor yang tak lain adalah suaminya. Dia begitu menyukai Hanwoo hingga berdebar seperti ini.

“Kemarin aku berjanji untuk mentraktirmu. Lain kali, maukah kau makan berdua denganku?” ajakan pertamanya. Bagaimana aku bisa menolaknya walaupun aku tahu jantung milik pendonor ini yang berdebar. Aku juga tidak bisa menolak ajakan wanita ini.

“Baiklah, bagaimana kalau besok sepulang dari bekerja aku akan menjemputmu.”

Kulihat kepalanya mengangguk mengiyakan. “Mmm.. Kalau begitu sampai jumpa besok. Hati-hati di jalan.”

Hari ini aku merasa senang. Aku sesenang ini sampai-sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum sedari tadi ketika menyetir sendirian. Mulai teringat ketika melihat wajahnya yang melayangkan pandangannya ke arah lain ketika melihatku mencium Daehi tadi. Rambut panjangnya yang basah dan wangi tubuhnya ketika duduk disampingku. Dia menyegarkan dan aku menyadari, jantung pendonor itu sudah menjadi milikku. Aku .. sedang jatuh cinta.

Author’s POV
——————

Kyuhyun duduk ditangga menemani Hyojin ketika dua jam menunggu Eunhyuk pulang ke apartemennya. Padahal Hyojin sudah memintanya pulang tapi Kyuhyun yang tidak ingin meninggalkan Hyojin seorang diri. Wajah Hyojin murung sedari tadi dan enggan membalas candaan Kyuhyun ketika pria itu mengganggunya. Hyojin yang hatinya sedang mengkhawatirkan Eunhyuk. Dia mencoba menghubungi prianya berkali-kali tapi tidak ada jawaban.

“Kyu, kenapa kau tidak pulang saja?”

“Kan aku sudah bilang, aku akan menemanimu menunggui Eunhyuk.”

“Kau tidak pernah sebaik ini padaku. Aku jadi curiga padamu.”

“Aiish jangan mencurigai kebaikanku ini. Apa kau tidak malu jika orang lain melihatmu sendirian seperti ini?”
Kyuhyun seperti mengkhawatirkannya. Merasa diperhatikan oleh Kyuhyun air mata Hyojin mengalir. Hyojin menangis. Dia membenamkan wajahnya pada kedua lututnya yang sedang dia peluk. Mengetahui Hyojin menangis Kyuhyun jadi sedikit merasa khawatir.

“Yak, Hyojin-ssi kau kenapa?” tanya Kyuhyun. Tidak ada jawaban dari Hyojin. Wanita itu sibuk mengurus hatinya sendiri ketimbang harus menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Apa kau sedang menangis?”

Kyuhyun mulai khawatir. Dia tahu Hyojin pasti sedang sangat sedih memikirkan Eunhyuk yang tidak jelas dimana keberadaannya. Sedari tadi Hyojin tidak ingin menjawab pertanyaannya ketika dia mencoba mengajaknya mengobrol. Hyojin hanya terus menggenggam handphonenya mencoba menelepon Eunhyuk atau menunggu Eunhyuk yang menghubunginya.

Kyuhyun melihat ke depan ketika mendengar sebuah suara pijakan kaki yang perlahan mendekati mereka berdua. Dilihatnya Eunhyuk yang sedang berdiri dihadapannya sedang melirik Hyojin. Kyuhyun mengulum bibirnya menyadari bahwa dia harus menghentikan kebahagiannya detik ini juga. Kyuhyun berdiri memutuskan untuk pulang. Kyuhyun tidak banyak bicara. Dia hanya memberikan kode pada Eunhyuk dengan menoleh ke arah Hyojin. Kyuhyun berlalu pelan-pelan. Baru lima langkah Kyuhyun memutuskan berhenti dan berbalik melihat Eunhyuk yang sedang jongkok merayu Hyojin.

Disaat itu juga petir seperti menyambar hatinya yang tadinya berdebar dan merasa berbunga-bunga. Hyojin tersenyum walau hanya melihat Eunhyuk dihadapannya. Tidak seperti disaat Hyojin bersamanya. Hyojin merasa sangat bahagia ketika disamping Eunhyuk. Mereka terlihat serasi. Berada di situasi seperti ini Kyuhyun seperti mengecil. Dia merasa hatinya terasa sakit.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?” suara Hyojin mulai terdengar.

“Miane oppa tidak mendengar karena dari tadi tidak memegang handphone.”

“Kau habis darimana? Untung saja ada Kyuhyun. Kau harus berterima kasih padanya karena dia menolongku dari hujan deras dan menemaniku menunggumu. Kau tahu aku sangat takut. Takut sekali.” Hyojin menangis memeluk Eunhyuk. Eunhyuk terdiam. Dia tidak menjawab dan merasa bersalah dengan Hyojin. Kyuhyun merasa cukup melihat pemandangan ini. Dia membalikkan badan berlalu dari tempat tadi membiarkan Hyojin dan Eunhyuk berdua.
*

Pagi ini Eunhyuk bertemu Kyuhyun di sebuah café. Dia menghubungi Kyuhyun kemarin malam dan meminta untuk bertemu. Ada sesuatu hal yang ingin dibahasnya dengan Kyuhyun. Mereka berdua duduk berhadapan di teras sambil menikmati coffee pesanan. Eunhyuk menyeruput coffeenya begitu juga dengan Kyuhyun.

“Ada apa memanggilku, hyung?”

“Aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah bertemu dengan istri dari pendonor.”

“Jeongmalyo? Lalu bagimana?”

“Aku belum mengatakan bahwa aku yang menerima jantung suaminya. Dia sepertinya masih mengingat suaminya dengan baik. Jadi ..”

“Jadi kau sibuk akhir-akhir ini karena mengurusi urusanmu dengan istri pendonor dan melupakan Hyojin yang belakangan ini selalu terlihat murung karena memikirkanmu?” ketus Kyuhyun. Eunhyuk sedikit terkejut dengan perkataan Kyuhyun.

“Anio, kau salah paham. Aku tidak melupakan Hyojin.”

“Oh ya? Kau hanya tidak menyadarinya hyung. Kita tunggu saja waktu yang berbicara.”

“Yak, kenapa kau jadi semarah ini hanya karena Hyojin? Kau menyukai wanitaku?”
Kyuhyun terdiam. Wajahnya gugup dan terlihat sedikit menormalkan ekspresinya agar Eunhyuk tidak mencurigainya. Dia sedikit menyesal mengintrograsi Eunhyuk.

“Anio, melihatnya menangis seperti kemarin malam, itu pertama kalinya aku merasa kasihan dan simpati padanya.”

“Aku tidak akan menyakiti Hyojin. Kau tidak usah khawatir. Tujuanku bertemu denganmu hanya untuk mengatakan terima kasih karena telah memberikan alamat pendonor padaku dan juga berterima kasih karena telah mengganti posisiku untuk Hyojin kemarin.”

Kyuhyun benar-benar salah tingkah dibuatnya. Dia hanya tidak ingin Eunhyuk mengetahui perasaannya yang diam-diam memendam perasaan pada Hyojin. Ingin sekali rasanya memberi tahu Eunhyuk bahwa dia memendam perasaan ini ketika pertama kali bertemu Hyojin di bangku SMA bahkan sampai saat ini dia masih menyimpan perasaan berdebar untuk Hyojin sekaligus rasa sakit hati ketika tahu Hyojin yang disukainya berpacaran dengan seniornya sewaktu SMA.
*

Eunhyuk mengemudi mobilnya melewati terowongan. Seluruh ruangan mmobilnya mendadak menjadi gelap walau perjalanan yang dia lalui masih menampakkan matahari. Cuaca terang lagi ketika mobilnya melewati terowongan tadi. Mobilnya melaju menuju apartemen Hyojin. Mendengar ucapan Kyuhyun tadi dia seperti merasa bersalah pada Hyojin. Sepulangnya dia dari café tadi Eunhyuk memutuskan pergi menemui Hyojin.

Hyojin membuka pintu apartemennya dan benar-benar terkejut ketika melihat Eunhyuk ada dihadapannya. Hyojin menyeringai memeluk Eunhyuk. Tidak lama kemudian Hyojin mempersilakan Eunhyuk duduk di sofanya. Dia merasa sedikit aneh dengan perasaannya ketika Hyojin merebahkan kepalanya di bahunya. Dia merasa sudah tidak seperti dahulu lagi perasaannya terhadap Hyojin.

“Hyojin-a, apa kau habis menangis? Matamu terlihat sembab.”

“Sudah tidak lagi ketika melihatmu. Jarang sekali kau berlaku seperti ini lagi. Datang tiba-tiba ke apartemenku tanpa memberitahuku. Bagaimana jika aku tidak ada dirumah?”

“Aku akan menghubungimu dan berusaha mencarimu.”

“Jeongmalyo?”

“Hyojin-a..”

“Mmm..?”
Eunhyuk membenarkan posisi duduknya. Dia menarik tubuhnya dari pelukan Hyojin. Wanita itu mengernyitkan keningnya ikut membenarkan posisi duduknya.

“Hyojin-a, miane karena kemarin aku sudah membuatmu khawatir.”

“Gwenchayao oppa. Mungkin kau sedang sibuk.”
Suasana hening. Eunhyuk berusaha mengatur napasnya untuk tidak gugup. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya berat sekali. Tapi dia harus mengucapkannya juga.

“Hyojin-a, kita hentikan saja hubungan ini.”
Hyojin tidak berkedip. Dia terdiam. Bungkam dalam pikirannya yang terpecah-pecah. Rasanya ada yang menusuk jantungnya baru saja. Eunhyuk memejamkan matanya mencoba memikirkan apalagi yang harus dia ucapkan.

“Aku merasa kita terlihat seperti seorang adik-kakak. Aku merasa kau seperti adikku dan rasa nyamanku bersamamu entah kenapa berubah.”

‘PLAK’

Hyojin menampar Eunhyuk. Tangannya mendarat mulus di pipi Eunhyuk. Bersamaan dengan itu air mata Hyojin mengalir. Dia sangat sakit hari mendengar pengakuan Eunhyuk.

“Oppa, apa kau berkata serius? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?”

“Miane.”

“6 Tahun kita menjalani hubungan ini dan dengan egoisnya kau menghentikan perasaanmu untuk mencintaiku dan menganggapku hanya seorang adik buatmu? Dimana akal sehatmu !” Hyojin mengamuk memukul dada Eunhyuk.

“Mungkin awalnya kamu tidak terima Hyojin-a. Tapi suatu saat kau pasti akan tahu dan mengerti kenapa aku memutuskan hal ini.”

“Kau menyukai orang lain? Apa Kau berselingkuh?” tuduhnya dengan nada sedikit serak.

“Aku tidak berselingkuh.”

“KAU BOHONG!”

Hyojin tiba-tiba berteriak sambil menangis. Dia meneriaki Eunhyuk sesaat sambil memukuli Eunhyuk. Hatinya sakit sekali. Hyojin berteriak mengusir Eunhyuk untuk pergi dari rumahnya. Terdengar suara pecahan kaca sesaat pintu terkunci. Eunhyuk yang berhasil diusir Hyojin merasa khawatir dan takut jika terjadi apa-apa pada Hyojin.

Eunhyuk menelepon Kyuhyun pada akhirnya untuk datang menemui Hyojin. Awalnya Kyuhyun tidak peduli dengan suruhan Eunhyuk tapi Eunhyuk sudah tidak tahan lagi untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Ketika Kyuhyun mendengar hal yang sebenarnya terjadi, dia sempat mengumpat Eunhyuk lalu mematikan panggilannya.

Hanwoo’s POV
——————–

18.00 pm.
Aku hendak mengunci pintu toko. Bayangan seseorang terlihat dari balik pintu kaca bening. Aku berbalik melihat Eunhyuk sudah ada dihadapanku sambil melambaikan tangannya. Dia selalu tampil sempurna setiap bertemu denganku. Apa dia menyukaiku? Aku sedikit penasaran tentang dirinya. Atau aku sedikit tertarik pada pria ini?

“Kau mau mentraktirku dimana?”

“Kau suka apa?” tanyaku.

“Aku tidak suka seafood. Ah anio, aku alergi seafood.”

“Jeongmal? Aku sangat suka seafood.”

“Gwenchana, aku akan menemanimu jika kau ingin makan seafood.”

“Sayangnya hari ini aku tidak ingin makan seafood. Bagaimana jika bulgogi?”

“Baiklah.”
Eunhyuk mempersilakanku untuk jalan lebih dulu. Dia memperlakukanku sangat baik. Ini membuatku sedikit resah dan takut. Aku takut mengakui perasaan ini jika suatu saat nanti aku telah jatuh cinta padanya. Aku masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengannya. Ketika hendak memasang seat belt tangannya meraih seat beltku lalu berbaik hati memasangnya.

Aku menatapnya dalam diam. Dia hanya tersenyum tidak memperdulikanku. Aku merasa perlakuannya seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta memperlakukanku seperti aku tokoh utama di dalam hidupnya. Tapi aku juga tidak bisa menuduhnya seperti itu. Bisa saja sifatnya memang seperti itu, baik terhadap semua wanita atau dia adalah seorang player dan aku adalah sasaran utamanya? Mungkin aku sudah besar kepala dibuatnya.

*

Aku berada disebuah restaurant yang menjual makanan khas Korea. Restoran yang dipenuhi oleh beberapa orang di sebuah meja diantara kami. Kami memesan satu porsi bulgogi, 2 bibimbap, satu mangkuk ramyeon beserta makanan peneman lainnya memenuhi meja yang menjadi tempat makan kami. Kami berdua menaruh daging sapi di atas teplon panas memasaknya sendiri.

“Seharusnya Daehi juga ikut.” Ujar Eunhyuk. Dia duduk disampingku. Tubuhnya sedikit miring menghadapku.

“Daehi aku titipkan di rumah kakak ipar karena anaknya juga satu sekolah dengan Daehi. Kau tidak usah khawatir.”

“Apa aku terlihat sekhawatir itu?”

“Haha .. Sepertinya kau sangat menyukai Daehi.”
Eunhyuk tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul sambil mencicip daging bulgoginya yang dibungkus dengan sawi putih. Aku mengemas bulgogiku dengan sawiku sebelum kumakan. Tiba-tiba aku ingat sesuatu dan penasaran setiap kali memikirkannya ingin sekali bertanya padanya.

“Kau membeli bunga setiap hari. Aku pikir kau punya pacar. Tapi apakah tidak apa jika kekasihmu tahu kalau kau pergi denganku?” tanyaku.

“Aku tidak punya pacar.”

“Bohong. Aku tidak percaya.”

“Kau ingin aku jujur?”

“Tentu saja !”

“Aku baru saja putus dengannya.”

“Waeyo?”

Eunhyuk tertawa pelan. “Aku rasa bukan dia orangnya. Dia sudah kuanggap seperti adikku. Sebenarnya aku sudah merasakan ini lama tapi aku belum menemukan jawabannya.”

Alisku terangkat mendengarnya. “Kau seorang player?”
Eunhyuk tertawa sampai-sampai tersedak mendengarku. Dia meminum air putihnya hingga merasa lebih tenang lalu menatapku. “Mungkin aku terlihat seperti itu. Tapi sesungguhnya ini demi kebaikanku dan kebaikannya.”

“Pria selalu saja seperti itu.”

“Tidak semua pria dan aku tidak ingin kau salah paham. Aku tidak seperti yang kau pikirkan seperti kebanyakan pria lainnya.”
Aku melihat wajahnya begitu serius menjawab pertanyaanku. Seolah-olah dia sedang marah ketika aku yang menyatakan dirinya seorang buaya seperti kebanyakan pria lainnya.

“Kenapa kau seserius itu? Wajahmu sampai merah. Apa aku memancing keributan?” dumelku memalingkan tatapanku ke arah bulgogi yang hendak kumakan. Eunhyuk meminum lagi air putihnya. Entah kenapa kami terlihat canggung.

“Bagaimana dengan suamimu? Aku bersamamu hampir setiap minggu. Apa kau tidak takut dia akan marah?”

“Suamiku mengalami kecelakaan setahun yang lalu. Sebuah truk melintas melanggar traffic light di perbatasan Gangnam dan naasnya menabrak suamiku yang sedang dalam perjalanan pulang. Dia tidak akan tahu dimana keberadaanku.” Ujarku sambil menunduk. Kudengar dia menghela napas.

“Kau salah.”

Aku menoleh mengernyitkan kening ke arahnya. “Mwoya?”

“Bagaimana jika dia tahu? Kau tidak pernah tahu jika dia diam-diam mengikutimu dan merindukanmu.”
Mendengar hal itu entah kenapa hatiku sedikit sakit. Aku sebenarnya tidak suka membicarakan almarhum Donghae oppa. Jika aku mengingatnya maka aku akan merindukan dirinya. Seperti saat ini. Aku kembali mengingat Donghae oppa lagi. Eunhyuk tidak tahu bahwa pria itu sangat berarti di hidupku.

“Ajuhma, aku ingin pesan satu soju !” teriakku dengan suara cukup keras. Aku tidak menjawab ucapannya.

Author’s POV
——————-

Eunhyuk memapah Hanwoo keluar dari restoran karena wanita itu sedang mabuk akibat sojunya. Hanwoo susah sekali untuk diajak jalan. Terkadang Hanwoo meronta dan mendorong Eunhyuk. Eunhyuk membuka pintu mobilnya memasukkan Hanwoo ke dalam lalu dia berlari ke pintu sebelah. Eunhyuk masuk ke dalam mobil. Memasangkan seat belt tapi Hanwoo menepisnya tangan Eunhyuk dengan kasar.

“Shireo!” teriak Hanwoo. Eunhyuk menatap Hanwoo.

“Huhuhu .. Jangan berlaku baik padaku. Kau ..! Kenapa kau sangat mirip sekali dengannya? Setiap aku melihatmu kau mirip sekali seperti Donghae oppa ! Aku membencimu, Hu.. Hu.. Huwekkk..” Hanwoo muntah di baju Eunhyuk lalu tidak sadarkan diri. Eunhyuk menghela napas. Matanya terpejam sambil menangkap tubuh Hanwoo yang membungkuk ke arahnya.

Hanwoo tertidur pulas sehabis dia muntah di baju Eunhyuk. Kini pria itu sibuk melepas jasnya dan menaruh di jok belakang. Dia hanya mengenakan kemeja putihnya yang ternyata tidak terkena muntahan. Tiba-tiba handphone Hanwoo berdering. Eunhyuk membuka tas Hanwoo mengambil handphone wanita itu diam-diam. Tulisan Minrin Onnie tertera di layar handphonenya. Eunhyuk mencoba mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Ah kenapa yang mengangkat seorang laki-laki? Apa aku salah sambung?” tanya di sebrang.

“Anio, aku temannya Hanwoo.”

“Ah begitu, aku ingin bicara dengannya.”

“Hanwoo sedang tidur. Dia sedang mabuk berat.”

“MWOYA?! KALIAN SEDANG TIDUR BERSAMA?!”

Eunhyuk menjauhkan handphonenya dari telinganya karena wanita disebrang meneriakinya membuat telinganya sedikit bising. Dia juga mendengar  suara seorang pria yang juga sedang bertanya-tanya siapa yang sedang tidur bersama Hanwoo. Kenapa dunia ini menjadi penuh dengan kesalah-pahaman pikir Eunhyuk.

“Anio, Hanwoo mabuk dan aku sedang dalam perjalanan pulang.”

“Oh begitu. Kalau begitu aku ingin kau menjemput Daehi juga karena ini jamnya Hanwoo menjemput Daehi.”

“Baiklah bisa kau beri tahu alamatnya?”

Hanwoo sedikit bergerak dari tidurnya. Matanya sedikit terbuka. Melihat samar-sama sosok Eunhyuk. Dia masih dalam batasan mabuknya. Dia kembali memikirkan ketika Eunhyuk berbuat baik padanya. Hari-harinya belakangan ini selalu memikirkan pria dihadapannya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba berdebar. Eunhyuk sedang mematikan handphonenya hendak menaruhnya kembali ke dalam tas Hanwoo. Namun dia sedikit gugup ketika melihat Hanwoo memandangnya. Hanwoo menarik tangan Eunhyuk lalu mencium bibir Eunhyuk perlahan. Eunhyuk mendelikkan matanya karena terkejut dengan perlakuan Hanwoo yang tiba-tiba. Wanita yang disukainya menciumi bibirnya bagaimana dia tidak ingin terbang ke nirwana? Perasaannya berdebar. Entah jantung pendonor yang berdetak atau hatinya yang tengah jatuh cinta dengan Hanwoo .. Bibir Eunhyuk perlahan bergerak membalas ciuman Hanwoo.
To Be Continued …

Holla 🙂

Saya kembali dengan FF Baru saya . Project Baru saya yang berjudul This is Love.

Tumben banget nih buat FF series. Semoga ga stuck ya [kayaknya sih nggak]

Sebelum ditinggal Eunhyuk wamil, mau buat FF banyak2 >///< hu hu hu .

Semoga suka ya sama FF nya dan mohon untuk di comment yah.

Saya butuh masukan dan support kalian biar semangat nulisnya 🙂

Terima kasih banyak untuk masih setia sama blog kami ya ^^

Iklan

38 thoughts on “[1] This is Love

  1. Daeebaaakkk! Author kyuminjiii kapaan?? Akuu nunggu kelanjutan ceritanyaaaa.. penasaran klo kyu punyaa tiga anak kyak gmn?!  ㅋㅋㅋaayoo semangaaatt thor nulisnyaaaaaaa..  Fighting! Fighting!

    Terkirim dari Samsung Mobile

    Suka

  2. hwaaaaaaaaa eunwoo couple <3….
    biasanya hanwoo klo ga sma eunhyuk dipasanginnya ama kyuhyun tpi ini ama donghae hwahhhh pertma bca heran "kok tumben" eh tpi pas udh mkin ksni bcanya bru ngerti tpi ksian ya donghae cuma jdi cameo bru part satu udh mati aja huhuhuhuuu: '(
    haaahhh tpi hanwoo emng udh d'tandirkan sma hyukjae mau bgai mnapun unjung²nya harus sma hyukjae pkonya #maksa
    ini ga kecepetan ya soalnya kya trlalu trburu2 gtu hyuk jtuh cinta ma hnwoo nya (maaf jdi so tau atw bkin trsinggung adminnya, maaf bgt^^v)
    ahhh tpi sukkaaa critanya donghae yg hidup d'raganya hyukjae ahhh dua sejoli ini emng ga trpishkan

    Suka

  3. yeeaaa…akhirnya muncul jga ff series trbaru nya…
    ahh disini hanwoo janda dr donghae oppa, untung aja dsini donghae sudah meninggal klo belum kan bisa” gegana klo hyukjae udh dkt sm hanwoo eh tiba” donghae dtg, tp syukur’lh…
    eonni, tbc nya tanggung bgt tuh lg seru” nya baca eh tiba” udah tbc aja…
    Buat part selanjutnya dtunggu aja, klo bisa jgn lama” yaaaa 😀

    Suka

  4. Jadi teringat DramKor Summer Scent *LawasBanget *KetahuanUmurGw* sebenarnya aku kurang jeli tadi, ini tulisan author Hanwoo, kan? Rasa-rasanya gaya bahasa ff ini sedikit berbeda dengan ff2 author Hanwoo sebelumnya. Nggak tahu kenapa koq aku merasa kayak gitu. Tapi tetap dong aku suka, selagi itu Lee Hyuk Jae. Ahahaha… Next part ditunggu, ya.

    Suka

  5. ohooooo cinta segiempat yang rumit.
    pas pertama baca kok heran belum apa2 lhj udah mati, ternyata daehi anak ldh 😀
    dan ckh kasihan sekali, cinta tak bersambut 😦
    ditunggu terus kelanjutan ceritanya. keren banget. jadi penasaran sama perjuangan ckh + lhj buat nunjukin rasa cintanya ke hanwoo sama hyojin.
    fighting authornyaaa!

    Suka

  6. Iseng2 googling cri ff hyuk nyasarx ksini dan wooow ak sneng bgt. Jrg bgt ad ff yg main castx si hyuk. Pdhl iti monyet skrg gantengx uda di upgrade ketingkat maksimal hhaha. Oke blik ke ff ‘this is love’ ini critx seru walaupun mnurutku rada sdikit lbih cpat tpi enkx g trlalu brtele tele dn lgsung k intinya. Dan karakter hyuk disini dewasa bgt dan manly juga. Pas aja ngebayangin dia pnya karakter sprti di ff ini.
    Bkalan sering mampir bwt bc ni ff.
    Dtunggu ya next partx 🙂

    Suka

    • Wah makasi pujiannya. Iya aku jg kesusahan cari FF hyuk yg bagus TT aku mendedikasikan diri untuk hyuk xp syukurlah pada suka sayang sedikit yg baca TT hehe. Ditunggu next part ya 🙂

      Suka

  7. wah itu endingnya kenapa Hanwoo jadi ganas begitu? Main nyosor aja, apa dia berhalusinasi lagi? Nganggep kalo Hyuk itu Hae oppa?

    Eeeh, btw kenapa Hae mau ngedonorin jantungnya buat Hyuk, aku penasaran bgt disini, lanjutannya ada belum eon?

    Suka

  8. suka sama ceritanya, .. mungkin cerita tipe seperti ini sudah bayak, tapi cara tulisan ini bercerita membuat jalan ceritanya terasa baru . apalagi bagian lee daehi membuat tokoh enhyuk terlihat sebagai ayah yang baik manis.. “saya suka interaksi dia sama daehi .. semoga nanti lebih banyak

    Suka

  9. Ping balik: [TEASER] Growing Pains | shinningstar13ff

  10. Ping balik: [2] Growing Pains | shinningstar13ff

  11. aku suka sama ceritanya, tpi ada pas hanwoo pov yang pas mau antar daehi ke rumah sakit, kan hanwoo bilang eunhyuk nah kan padahal baru eunhyuk tau nama hanwoo, kalau menurut aku si cuma itu aja yg agak janggal bacanya
    tapi beneran loh aku suka ceritanya

    Suka

  12. Ping balik: [9] Realove | shinningstar13ff

  13. Sbnrnya trbiasa bca ff dngn cast utama kyuhyun, tpi yng ini lmyan jga hehe
    Nyobain baca ff slain cast kyuhyun wlaupun aneh rsanya tpi crtnya mnrik dn bgus jdi gak papalah hehe 😀😀😀

    Suka

  14. Ping balik: [3] Heart to Heart | shinningstar13ff

  15. waktunya yg kecepetan donghae meninggal baru 1 tahun koq hanwoo udah ada feel ama eunhyuk….kasian hyojinnya diputusin stelah 6 taun kencan…

    and cho kyuhyun …selamat ..kesempatanmu baru aja terbuka buat deketin hyojin…

    Suka

  16. Kirain beneran hanwoo sma donghae , tp ternyata donghae meninggal toh…
    Ehm,, hyuk agak kejam jg sih pas mutusin hyojin tp lbh kasian lg klo ttp bertahan sementara perasaan hyuk udh mulai beralih dr hyojin..
    Tp kira2 hyuk beneran jatuh cinta sma hanwoo atau krn jantung donghae yg ikut andil sma perasaan nya hyuk???
    Semoga aja beneran hyuk udh jatuh cinta sma hanwoo,, krn dia udh dkt bgt sma daehi jg…

    Ehm,, untuk alur cerita nya aq ngerasa agak sedikit kecepetan tp overall baguus jalan cerita nyaa aq sukaaa

    Suka

  17. cinta kyu bertepuk sebelah tangan kayaknya.
    yey hyuk sdh mulai ada rasa nih sama hanwoo. atau jangan” itu cma jantungnya donghea aja, kan hanwoo istrinya donghae. wajar klo jantung hyun deg”an saat sama hanwoo.

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s