[7] Realove

shinningstar13ff

Author: Hanwoo •Cast: Lee Hyukjae – Hanwoo – and Other Cameo • Genre : Straight – Romance • Length: 7

16 Maret 2015

Super Junior’s Dorm

 

Setelah menangkap basah sms-sms mesra Eunhyuk dengan Ji Eun, Hanwoo terduduk lemas di sofa dorm. Sebenarnya malam ini dia hendak menemui Eunhyuk untuk kencan. Entahlah hatinya sangat sakit melihat kekasihnya masih menghubungi mantan kekasihnya itu. Kata-kata mesra yang dilontarkan Eunhyuk untuk Ji Eun. Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti sedang apa? Lagi dimana? Apa kau sudah makan? Itu sangat membuat dirinya merasa panas untuk malam ini.

Eunhyuk keluar dari kamarnya setelah mengganti baju. Dia menghampiri Hanwoo dengan penuh senyum yang tidak sabar karena malam ini mereka akan pergi berkencan. Sudah sangat lama mereka tidak pergi berdua.

“Kajja..” ujar Eunhyuk. Hanwoo tidak menjawab. Hatinya sedang kacau. Wajahnya cemberut tanda tidak suka dengan kehadiran kekasihnya.

“Kau kenapa?” Eunhyuk menyadari raut wajah Hanwoo yang tidak baik. “Apa bajuku tidak bagus?” tanya Eunhyuk lagi sambil memperhatikan kemeja hitam dan jeans biru dongker yang dikenakannya. “Kurasa aku sudah rapi malam ini. Bukankah kau suka jika aku seperti ini?”

Hanwoo bangkit dari duduknya – menyerahkan iphone 6 milik Eunhyuk. Pria itu mengambil iphonenya. Dia melihat line conversationnya bersama Ji Eun terbuka sehingga dia bisa menyimpulkan apa yang membuat Hanwoo tidak begitu baik malam ini.

“Kau masih berhubungan dengannya?” tanya Hanwoo.

“Ne. Kita teman biasa.”

“Teman biasa? Kau tidak usah menanyakan kabarnya ! Tidak usah !!”

“Memangnya ada yang salah dengan aku menanyakan kabarnya?”

“Oppa, kau masih mengharapkan gadis itu?” Hanwoo tidak kuasa menahan perasaannya yang meletup-letup seperti pop corn yang sedang mengembang. Matanya berkaca-kaca. Sekuat hatinya dia berusaha untuk tidak menitikkan air matanya.

“Anio, aku tidak mengharapkannya lagi.”

“Kalau tidak kenapa kau menghubunginya lagi? Kau tahu jika seperti ini, bagaimana jika dia menyukaimu lagi? Kenapa kau peduli dengan dimana keberadaannya, apa dia sudah makan atau tidak? Kau berniat meninggalkanku? Bahkan kau jarang menanyaiku seperti itu? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?” teriak Hanwoo. Mendengar teriakan Hanwoo, Kangin keluar dari kamar tidur Ryeowook. Dia hanya melihat dan tidak berani mengomentari pasangan yang sedang bertengkar ini.

“Bisakah kalian jangan berteriak?” bisik Kangin. Hanwoo memejamkan matanya. Air matanyapun mengalir seperti mesin otomatis. Tangannya dengan cepat menyeka air matanya. Kangin masuk ke dalam lagi.

“Hanwoo-ya, tenangkan dirimu. Bagiku dia tidak lebih dari sekedar teman dan masa lalu.” Eunhyuk menyentuh tangan Hanwoo namun Hanwoo menepisnya.

“Bagaimana aku bisa tenang? Kaupun juga seperti ini jika aku jalan disamping pria lain yang tidak kau kenal. Bagaimana aku bisa tenang?”

“Jika kau marah karena ini, aku minta maaf.”

Hanwoo menunduk. Dia menatap cincin pertunangannya yang masih melekat di jari manisnya. Acara pertunangannya yang berjalan dengan lancar seperti sebuah kejutan di hari itu. Hari dimana dia benar-benar merasa special dimata Eunhyuk.

“Aku tahu aku sibuk. Aku tidak bisa memperhatikanmu sepenuhnya seperti dulu. Tapi aku sangat menyukai pekerjaanku. Apa kau tidak puas padaku sehingga kau menghubunginya lagi? Aku merasa hubungan kita semakin merenggang. Ditambah dengan ini aku semakin menyerah.” Perlahan-perlahan Hanwoo melepas cincinnya. Eunhyuk terbelalak melihatnya. Dia tidak tahu Hanwoo semarah ini padanya. Ini kali pertamanya dia melihat wanitanya sangat pasrah terhadap hubungannya.

“Kita akhiri saja .. Hubungan kita sedang dalam tidak baik tapi kita memaksakan semua itu.”

“Yak, aku tidak berpikir seperti itu. Kenapa kau seperti ini? Hanwoo-ya, apa yang harus kuucapkan pada eomma dan ibumu jika mereka tahu? Jangan seperti ini, kita pacaran tidak hanya berdua saja. Seluruh keluarga dan teman-teman dekat sudah tahu bagaimana kita. Hanya seperti ini kau cemburu dan berpikir sempit? Aku minta maaf.” Eunhyuk mencoba memakaikan cincin itu lagi ke jemari Hanwoo namun Hanwoo mengelak.

“Wae? Waeyo? Sebenarnya kau yang sudah punya calon pacar yang baru kan? Kenapa kau seperti ini?” Wajah Eunhyuk memerah. Dia sedikit marah dengan sikap Hanwoo.

“Kau menuduhku, tapi kau sendiri yang seperti itu !” Hanwoo memukul dada Eunhyuk kesal.

“Baiklah jika itu maumu !” Eunhyuk melepas cincinnya dan membuangya ke sembarang tempat hingga cincin itu terpental jauh. Hanwoo terkejut melihatnya.

“Kita akhiri saja..”

Eunhyuk’s POV

———————

Aku mengingat kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Hanwoo sebelum kepergiannya. Wanita itu benar-benar marah padaku. Sekarang sudah tanggal 04 April 2015. Hari ini aku berulang tahun. Seusai konser D&E di Jepang, aku menerima banyak pesan ucapan selamat ketika kembali ke hotel dan mengecek handphoneku. Tapi tidak ada satupun pesan darinya yang kutunggu-tunggu. Kurebahkan diriku di ranjang. Twins single bed milikku dengan milik Donghae yang terpisah. Kulihat Donghae sedang sibuk dengan laptopnya duduk di kursi. Aku sedikit berteriak.

“Yak, kau kenapa?”

“Sampai kapan aku harus seperti ini Hae?”

“Maksudmu?”

“Kau kira aku hidup dengan baik setelah pisah dengan Hanwoo?”

“Hanwoo lagi? Tidak bisakah untuk membicarakan gadis lain selain dirinya? Dia yang melepas cincinnya terlebih dulu kan? Dia yang menghentikannya.”

“Yak, dia seperti itu karena kecerobohanku. Seharusnya aku tidak menghubungi Ji Eun lagi.”

“Kalau begitu siapa yang salah? Kau atau dia?”

“Aku . Aku yang salah.”

“Ya sudah jika merasa salah harusnya kau mendatanginya dan meminta maaf.”

“Maunya seperti itu, tapi apa dia masih mencintaiku seperti dulu lagi, Hae? Aku rasa dia menghentikan hubungan ini karena dia merasa hubungan kita sudah tidak seindah dulu.”

“Wanita tidak seperti itu. Apalagi Hanwoo. Aku mengenal adik sepupu Lee Sungmin itu dengan baik. Ketika aku mendengar darimu bahwa kau mengencaninya, aku merasa kau memilih wanita yang tepat. Tidak ada salahnya kan usaha Hyuk? Kau masih mencintainya, aku tahu itu. Kalian hanya sedang dipermainkan takdir saja.”

“Aku harus bagaimana, Hae?”

“Hubungi dia lagi.”

“Jika tidak dibalas bagaimana?”

“Terus hubungi sampai kau merasa lelah. Wanita hanya ingin dikejar, kau tahu?”

Mendengar masukan dari Donghae semangatku kembali bangkit. Benar, wanita enggan untuk memulai menghubungi terlebih dahulu. Tidak ada salahnya jika aku yang menghubunginya terlebih dahulu. Siapa tahu dia masih mengharapkanku? Tidak ada yang tahu kecuali kau berusaha. Aku bangkit membawa handphoneku lalu menepuk punggung Donghae.

“Gomawo Hae, aku akan coba menghubunginya lagi.”

“Hmm.. Baguslah.  Ini ulang tahunmu, jangan terlalu sedih.”

Aku melangkah ke beranda di luar. Mencoba menghirup udara malam yang segar. Angin malam menyentuh kulitku. Kutekan tombol 1. Aku belum mengganti panggilan cepatku. Dia masih menjadi yang nomor satu diantara ribuan wanita yang mencintaiku. Aku menunggunya untuk mengangkat teleponku. Telepon ternyata gagal. Dia tidak mengangkatnya. Membuatku sedikit kecewa dan cemas. Kucoba untuk terus menelpon, ada sekitar 10x aku menelpon tetapi dia tetap tidak mengangkatnya. Kuputuskan untuk mengirimkan pesan line.

HJ: Hai apa kabar?

Apa kabar? Kurasa ini sedikit aneh. Kuhapus kembali kata-kata yang kuketik. Memikirkan apa yang harus kukirim pada Hanwoo.

HJ: Kau tidak merindukanku?

Memang aku siapanya? Aaah … tidak ! tidak ! ini sangat aneh.

HJ: Hari ini adalah ulang tahunku. Dari beribu orang entah kenapa aku mengharapkan satu ucapan darimu..

 

Send. Kukedipkan mataku. Terkirim juga. Kenapa harus kalimat seperti itu? Sudahlah. Suuudahlahhh Lee Hyukjae yang penting kan terkirim.

*

Aku terbangun dari tidur. Kepalaku terasa pusing. Tidurku tidak nyenyak. Kulihat handphoneku. Kosong. Benar-benar tidak ada satupun pesan yang dibalasnya. Kulempar handphoneku ke sembarang tempat sampai tergeletak di dekat papan ranjang.

“Kenapa aku harus peduli padanya?!”

Aku benar-benar penasaran. Dimana dia? Kenapa tidak ada menghubungiku? Apa dia baik-baik saja? Aku dibuatnya tidak tenang. Ingin sekali aku cepat pulang ke Korea untuk menemuinya, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Jika seperti ini apa yang harus kulakukan?

 

Author’s POV

———————

04 April 2015

France.

“HAHAHAHAAAA ! Hari ini hari ulang tahunnya, kau tahu itu Hyojin !” Hanwoo berteriak. Sudah setengah bulan semenjak berakhirnya hubungan percintaannya dengan Eunhyuk, Hanwoo memutuskan untuk berlibur ke Paris. Dia benar-benar merasa kecewa dan patah hati. Hyojin mengajaknya untuk berlibur. Hyojin yang memutuskan untuk tinggal di Cina kembali lagi pulang hanya karena Hanwoo menelponnya mengatakan hubungannya dengan Eunhyuk sudah berakhir. Hanwoo menceritakan semuanya. Keadaannya sangat buruk waktu itu sehingga Hyojin mengajaknya pergi berlibur ke Prancis.

Hanwoo memegang botol wine yang digenggamnya di tangan kanan. Dia berencana untuk minum hari ini. Hyojin mengajaknya ke Menara Eiffel. Hanwoo sudah setengah mabuk. Ini permintaan Hanwoo jika hari ulang tahun Eunhyuk tiba Hyojin harus menemaninya minum. Hanwoo menghentikan langkahnya. Dia tepat berdiri di depan menara Eiffel.

“Hyo, kenapa kau mengajakku kesini?”

“Umm? Bukankah kau yang ingin kesini?”

“Kau tidak tahu disini banyak sekali kenanganku dengannya. Hyo !!” Hanwoo membalikkan badannya. Kini dia menangis.

“Igemwoya !!! Jika tahu seperti ini aku tidak akan mengajakmu kesini. Ayo kita pulang saja.”

“Hyo berikan handphoneku sekali saja.. Aku ingin menghubunginya. Hari ini dia ulang tahun. Kumohon..” Hanwoo memohon pada Hyojin. Dia merengek menarik-narik lengan Hyojin.

“Aku akan memberi handphonemu besok sesuai perjanjian ! Kau harus jauh dari handphonemu !!”

“Hyo, andwee.. Hyo tolong aku. Aku sangat mencintainya. Kenapa harus berakhir seperti ini?”

“Kau itu plin plan, dasar Lee Hanwoo bodoh ! Siapa yang lebih dulu melepas cincinnya? Kau apa dia?”

“Aku …” Hanwoo merengut.

“Siapa yang duluan mengakhirinya? Kau apa dia?”

“Aku …” Hanwoo kini menangis.

“Siapa yang salah?”

“Aku ..”

“Kau sadar? Kau sungguh kekanak-kanakan ! Kenapa harus ada kata berakhir jika kau masih mencintainya?”

“Dia tidak mencintaiku. Kenapa dia menghubungi gadis itu lagi? Aku tidak suka. Aku cemburu !”

“Kau berlebihan. Hanwoo, kau berlebihan. Lalu sekarang kau ingin balik padanya dan minta maaf? Dimana harga dirimu? Makanya aku menahanmu untuk tidak menggunakan handphonemu sampai tanggal 4 tiba. Dia juga tidak ada menghubungimu. Untuk apa kau mengingatnya? Apa dia mengharapkanmu? Apa dia peduli padamu? Tidak usah memikirkan dia lagi. Kau cantik, masih banyak  pria lain yang jauh lebih baik dari Eunhyuk oppa.” Hyojin memeluk Hanwoo yang menangis.

“Apa benar dia tidak ada menghubungiku?”

“Tidak ada.”

Hanwoo semakin menangis sekencang-kencangnya. Dia tidak peduli orang-orang yang melihat mereka berdua dan membicarakan mereka dengan nada berbisik.

*

Keesokan harinya Hanwoo terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Hatinya belum sepenuhnya kembali. Dia menoleh ke samping kanannya dimana Hyojin tertidur lelap.

Dengan cepat dia bangkit dari tidurnya. Mencoba membuka-buka laci mencari-cari sesuatu di dalam sana. Tidak ada yang dicarinya Hanwoo melangkah ke depan mencoba mencari-cari dimana tas yang sering dibawa Hyojin. Tubuhnya terkadang merangkak melihat di bawah sofa. Akhirnya dia menemukan tas Hyojin di kolong tempat tidurnya. Hanwoo membuka tas yeoja itu lalu merogoh handphonenya. Dia menemukan handphonenya.

Tangannya menyentuh tombol bulat pada iphone 6 nya hingga layar kacanya menyala. Dia melihat banyak sekali miscalled. Hanwoo membuka miscalled itu yang ternyata dari Eunhyuk pada tanggal 4 kemarin. Banyak sekali pesan sms dari beberapa teman-teman di kantornya karena sudah hampir sebulan ini Hyojin menghukumnya untuk tidak boleh membawa handphone. Hanwoo mulai merasa sesak dan gemetar ketika membuka pesan line dari Eunhyuk.

HJ: Hari ini adalah ulang tahunku. Dari beribu orang entah kenapa aku mengharapkan satu ucapan darimu..

Jemari Hanwoo menutup mulutnya perlahan. Tubuhnya gemetar. Dia mencoba mengatur napasnya yang mulai menyekat di tenggorokkannya. Air matanya menitik tidak sengaja. Begitu lemahnya dia ketika melihat orang yang dicintainya ternyata masih mengharapkannya.

Hanwoo bangkit menghampiri Hyojin yang masih terlelap dari tidurnya. Hyojin tidak menyadari bahwa Hanwoo sedang kacau saat ini. Hanwoo mengguncang-guncang tubuh sahabatnya agar terbangun. Hyojin membuka matanya perlahan-lahan terkejut melihat Hanwoo menangis.

“Wae?!” Hyojin berteriak kejut. Dia terbangun memandang Hanwoo. Hanwoo duduk disamping Hyojin memeluk sahabatnya sambil menangis.

“Dia.. Di..a menghubungiku Hyo. Ayo kita pulang saja. Sepertinya aku bisa mati lama-kelamaan jika terus memikirkannya.”

Hyojin menghela napasnya. Tangannya mengusap-usap punggung Hanwoo. “Baiklah ayo kita pulang. Selesaikan masalahmu dengan baik dengannya.”

Beberapa jam kemudian Hyojin dan Hanwoo sudah selesai mengepak semua barang-barangnya ke dalam koper bersiap untuk meninggalkan ruangan ini. Hanwoo menarik kopernya keluar dari kamar diikuti Hyojin yang sedang menutup pintunya. Mereka akan kembali ke Seoul hari ini.

Eunhyuk’s POV

——————–

Sapphire Blue. Aku kembali di atas panggung yang megah ini. Mini konser D&E tidak menyangka banyak ELF Japan yang masih menyukai kami. Padahal umurku dan Donghae sudah tidak lagi dibilang muda. Aku berusaha tampil semaksimal mungkin hari ini. Melupakan sejenak masalah-masalahku dengan Hanwoo. Walaupun sebenarnya aku masih sangat mencintainya..

Tiga jam kemudian, konserpun usai. Aku kembali ke belakang panggung bersiap untuk pulang dengan team. Karena esok hari masih ada satu konser pada hari ketiga di Saitama. Aku mencoba membenahi hati dan pikiranku. Mencoba untuk menyenangkan diriku sendiri.

Aku menikmati makan malam di Saitama. Malam yang sebenarnya indah. Aku mencoba ikut bergabung dalam canda tawa teman-teman dancer dan team. Sekali lagi aku mencoba melupakan Hanwoo walaupun sebenarnya aku tahu, aku tidak bisa. Aku memikirkannya. Dia kemana? Kenapa tidak ada kabar? Apa dia baik-baik saja? Apa dia dalam keadaan bahagia tanpaku?

Bebarapa jam kemudian. Sudah larut malam. Di dalam mobil Donghae sudah tertidur. Aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tidak bisa. Aku selalu melihat bayangannya dalam tidurku. Dia tidak paham bahwa aku sangat-sangat mencintainya. Kenapa dia harus melakukan hal ini padaku? Aku tidak berniat untuk berselingkuh. Sudah cukup kulakukan ketika umurku masih pada masa keemasan yang lalu. Kenapa dia tidak paham sama sekali bahwa aku masih mencintainya..?

Kami tiba di hotel. Donghae yang matanya setengah terpejam ditarik manajer hyung ke kamarnya. Aku sampai menoleh ke arah mereka berdua.

“Malam ini Donghae tidur denganku.” Ujar manajer hyung.

“Hyung, tumben sekali.” Donghae menggerutu. Dia setengah sadar dan setengah terpejam. Kamar kami bersebelahan.

“Lalu aku tidur sendiri?” tanyaku. Tidak ada yang menjawab. Mereka meninggalkanku masuk ke dalam kamar. Manajer hyung memang sedikit aneh. Aku membuka pintu kamar dan berteriak ketika kulihat seorang wanita sedang duduk di dalam. Sungguh mengejutkan. Kusentuh dadaku. Lagi-lagi aku melihat bayangan Hanwoo sedang duduk di sofa. Kubuka sandalku dengan kasar hingga terpental beberapa cm dari jarak aku berdiri.

“Kenapa aku harus mengingatnya lagi sampai seperti ini.” Kesalku. Ketika kuangkat wajahku bayangannya sudah berdiri tepat di hadapanku. Ini seperti terasa nyata. Aku takut dan khawatir pada diriku sendiri. Aku melangkah mundur.

“Oppa..” suaranya.. Aku mendengar suaranya seperti nyata.

“Oppa, saengil Chukka hamnida.”

Kini aku benar-benar takut. Aku membuka pintu kamar berlari karena takut. Aku mengetuk pintu kamar manajer hyung. Hyung membuka pintu kamarnya dengan cepat aku masuk ke dalam kamar. Terkejut hyung melihatku. Kulhat Donghae sudah tertidur pulas di ranjangnya.

“Waeyo???”

“Aku tidur disini saja hyung.. Tidur disebelah Donghae tidak apa-apa.”

“Ada apa denganmu?”

“Kurasa aku sudah tidak waras jika sendiri. Aku melihat bayangan Hanwoo dengan jelas bahkan aku mendengar suaranya..”

Manajer hyung tiba-tiba memukulku. “YAK BODOH !! Yang kau lihat memang benar-benar Hanwoo.”

“Mwo? Se.. Serius? Itu mustahil.. Itu tidak mungkin hyung.”

“Dia menghubungiku tadi pagi bahwa dia akan berangkat dari Paris menuju Saitama dan ingin bertemu denganmu.”

“Jadi yang tadi itu benar-benar Hanwoo?”

“Bodoh ! Untuk apa aku menyuruh Donghae tidur denganku? Pergilah cari dia. Bukankah kau sangat meresahkannya?

Tanpa babibu lagi aku langsung keluar dari kamar hyung untuk menemui Hanwoo. Aku masih tidak percaya. Apakah ini mimpi? Tolong bangunkan aku. Dia benar-benar ada disini. Apakah serius?

“Hanwoo-ya!”

Kubuka pintu kamarku dan mendapati ruangan ini kosong. Aku sedikit kecewa. Dimana dia? Kemana aku harus mencari? Aku masuk ke dalam kamar untuk memastikan lalu membuka pintu kamar mandi. Kosong. Dia tidak ada. Apakah dia pergi? Apakah dia kecewa padaku? Apa yang harus kulakukan?

Aku mencoba keluar sambil menelpon ke nomor handphone Hanwoo. Tidak ada jawaban. Kubuka pintu kamar manajer hyung lagi.

“Hanwoo tidak ada. Dia tidak mengangkat teleponku.” Aku mulai panik.

Hanwoo’s POV

———————

Aku menangis di pelukan Hyojin yang menungguku di dalam kamar hotel. Aku hanya merasa kecewa pada Eunhyuk oppa. Hyojin menatapku khawatir.

“Kau kenapa lagi? Apa sudah bertemu oppa?”

“Dia tidak mengenalku, Hyo..”

“Mwoya?! Maksudmu? Coba ceritakan secara jelas bagaimana, kenapa bisa dia tidak mengenalmu?”

“Lebih baik kita pulang saja. Mungkin sudah saatnya mencari pria yang lain. Aku benar-benar kecewa padanya.”

“Apa kau serius?”

“Begitu melihatku dia pergi Hyo.., Hyojin-a aku harus bagaimana? Kenapa dia memperlakukanku seperti itu?”

“Yak! Aku harus bertemu dengan Lee Hyukjae keparat itu !” Hyojin melepas pelukanku, dia memutuskan pergi menjauiku hendak membuka pintu jika saja aku tidak menarik tangannya kembali.

“Andwee, jebal. Jangan temui dia lagi.”

“Yak, kita sudah menghabiskan uang tiket pergi ke Jepang harusnya kita pulang membawa hasil ! Aku yang akan pergi.”

“Hyojin-a ! Andweeee !! Shireo !!! Hyo !” Hyojin tidak mendengar. Ketika membuka pintu aku melihat Eunhyuk oppa berdiri di depan kami. Kami sama-sama terkejut. Wajahku memanas.

“Oppa !! Kenapa kau kesini? Apa kau sadar sudah membuat Hanwoo sakit dan menangis berhari-hari hanya karena memikirkanmu hah?” Hyojin mulai geram. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku malu karena mendengar perkataan Hyojin padanya. Lebih baik aku menunduk. Walaupun aku sangat ingin melihat wajahnya.

“Hyojin-ssi, bisa aku bicara berdua dengannya?” Kulirik sekilas dengan takut Eunhyuk oppa yang meminta pada Hyojin untuk meninggalkannya.

“Baiklah, tapi yakinkan aku kau tidak akan menyakiti sahabatku.”

“Jika dia merasa tersakiti, akupun lebih sakit dari yang kau kira.” Jawabnya. Aku sempat melirik ke arah Hyojin yang juga melirikku. Hyojin menghela napas panjang sebelum dia akhirnya pergi meninggalkan kami berdua.

“Untuk apa mencariku lagi?” Eunhyuk oppa mulai bertanya. Kuangkat wajahku karena mendengar nadanya yang ketus. Sedikit heran mendengar nada ketus darinya. Tidak bisakah dia berkata lembut sedikitpun?

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, itu saja. Aku datang karena ada urusan yang harus kuselesaikan jadi aku mampir menemuimu.”

“Urusan apa sampai-sampai kau harus satu hotel denganku dengan jarak kamar yang hanya dipisahkan dua bilik kamar saja?”

“Urusan pekerjaan.” Jawabku singkat. Dia seperti sedang mengintrograsiku. Apa aku terlihat gugup didepanya? Semoga saja tidak.

“Katakan saja jika kau masih mencintaiku. Benar kan?”

“Anio, itu tidak benar.”

“Benarkah? Kenapa Hyojin sampai marah seperti itu padaku jika karena tidak ingin melihat sahabatnya terluka karena saking merindukanku? Bukan begitu?”

Sial. Dia dengan mudah dia menebakku. Perutku mendadak mulas. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku jawab? Aku kehabisan kata-kata. Entah kemana semua pikiran-pikiranku saat di pesawat tentang apa yang harus aku bicarakan nanti jika bertemu dengannya. Semua mendadak sirna.

“Jangan mencariku lagi.” Ujarnya tiba-tiba. Ucapannya benar-benar … Hatiku seketika lemas karena ucapannya. Dia menyuruhku untuk tidak mencarinya lagi.

“Jangan mencariku lagi jika kau sudah menghilangkan perasaanmu kepadaku. Jangan mencariku lagi ketika kau sudah melepas cincin pertunangan kita. Untuk apa kau datang lagi?”

Hatiku berdebar ketika mendengarnya dengan emosi yang sedang memarahiku. Wajahnya benar-benar serius menatapku. Dia membentakku seolah-olah akulah yang salah dalam semua ini.

“Lalu kenapa kau menghubungiku lagi? Kau masih mengharapkan ucapan dariku? Aku sudah datang. Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Apa aku salah? Baiklah aku tidak akan datang lagi. Jika kau tidak ingin menemuiku lagi aku tidak akan pernah datang.” Aku menunduk membalikkan badanku cepat-cepat membelakanginya. Jika hari ini memang hubungan kami tidak terselamatkan lagi, baiklah. Memangnya apa yang bisa kulakukan?

“Apa kau yakin bisa?” tanyanya.

“Aku bisa. Kenapa kau harus peduli padaku? Mungkin saja kau yang tidak bisa ..” tubuhku mulai gemetar. Kupejamkan mataku sebentar untuk menghilangkan rasa sakit hatiku yang mulai bergejolak. Tiba-tiba aku merasa ada yang memelukku. Tubuh Eunhyuk oppa memeluk tubuh mungilku. Seperti mesin otomatis yang rusak. Saraf-sarafku tidak bisa mengelak mendapat pelukan hangat darinya. Dia membenamkan kepalanya di pundakku. Aku bisa merasakan semua itu. Darahku seperti berdesir menghidupkan sel-sel darahku yang sepertinya tidak mempunyai gairah untuk beraktivitas di dalam tubuhku.

“Ne, aku tidak bisa. Aku tidak bisa sama sekali berpisah denganmu, Lee Hanwoo. Kenapa kau menyiksaku selama ini, hmm? Kau tahu aku tidak bisa tidur memikirkan cara untuk memelukmu lagi seperti ini? Aku minta maaf jika kau tersinggung ketika aku meghubungi Ji Eun lagi.”

Aku menangis mendengarnya. Kenapa aku harus menangis ? Kenapa aku harus mau dipeluk Eunhyuk oppa seperti ini? Kenapa? Aku masih tidak mengerti. Kenapa aku tidak bisa jika bukan dia pria yang harus ada disisiku?

“Aku tidak suka kau menghubunginya lagi.. Aku tidak suka !” ujarku sambil menangis.

“Baiklah, aku minta maaf.” Eunhyuk oppa membalikkan tubuhku. Aku yang masih menunduk tidak ingin melihat wajahnya, perlahan-lahan jemarinya menaikkan daguku hingga mataku dan matanya bertemu.

“Apa kau mau memaafkanku, Hanwoo-ya?”

“Kenapa aku harus memaafkanmu? Kau melarangku untuk bertemu denganmu lagi  karena aku yang sudah melepas cincin pertunangan kita lebih dulu.”

Eunhyuk oppa mulai geram terlihat dari raut wajahnya. Dia melepaskan pelukannya kemudian mengambil sesuatu di dalam kantong jeansnya. Sebuah kotak merah keluar dari kantong jeansnya – terlihat sebuah cincin dari dalam kotak itu ketika dibukanya.

“Kau tahu aku mencari-cari cincin yang kau lempar semalaman dan kau tahu, aku masih menggunakan cincin pertunangan kita.” Eunhyuk oppa mengangkat jemarinya memperlihatkan cincin yang melingkar di jemari manisnya.

“Aku sangat-sangat mencintaimu, Hanwoo-ya. Apa kau tidak menyadarinya?”

“Tidak, memang benar kau mencintaiku? Lalu kenapa kau sampai menghubungi mantan kekasihmu lagi? Bahkan kau jarang menghubungiku. Apa kau ingin kembali lagi dengan gadis itu?”

“Yak, apa ini semua salahku? Aku tanya padamu apa aku yang jarang menghubungimu? Bagaimana denganmu? Bahkan kau jarang membalas pesanku! Kenapa kau seperti ini? Kau juga jarang menanyaiku sedang apa dan dimana? Apa aku sehat atau hal-hal kecil seperti dulu, aku tidak pernah lagi mendengarnya. Haruskah aku yang salah? Bagaimana dengan dirimu? Kenapa kau tidak menyadarinya? Aku harus sesabar apalagi hah?”

Kami jadi bertengkar lagi. Aku mencoba menenangkan diri. Kucoba menarik napas. Menenangkan diriku yang masih penuh emosi. Melihatnya yang juga terdiam. Wajahnya berpaling melihat ke arah lain. Eunhyuk oppa pelan-pelan melangkah mundur kemudian membalikkan badan berjalan meninggalkanku. Aku hendak mengejarnya. Tapi aku bimbang. Aku harus bagaimana?

“Yak, apa ini semua salahku? Aku tanya padamu apa aku yang jarang menghubungimu? Bagaimana denganmu? Bahkan kau jarang membalas pesanku! Kenapa kau seperti ini? Kau juga jarang menanyaiku sedang apa dan dimana? Apa aku sehat atau hal-hal kecil seperti dulu, aku tidak pernah lagi mendengarnya. Haruskah aku yang salah? Bagaimana dengan dirimu? Kenapa kau tidak menyadarinya? Aku harus sesabar apalagi hah?”

Suaranya terngiang-ngiang lagi di pikiranku. Benar. Akulah yang salah. Aku memang jarang menghubunginya karena kesibukanku. Akulah yang salah. Jika bukan karena aku yang seperti ini dia tidak mungkin menghubungi Lee Ji Eun lagi. Aku berlari membuka pintu hendak menyusulnya.

Eunhyuk’s POV

———————

Aku masuk ke dalam kamar. Lelah berdebat dengan Hanwoo. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana. Dia selalu saja menyalahkanku. Apakah semua wanita seperti itu jika sedang marah?

“Lee Hyukjae kau bodoh sekali ! Bagaimana jika hubunganmu berakhir hari ini?”

“Anio, anio ! Kau tidak bodoh ! Kau melakukan hal yang benar. Kau benar Hyukie.”

Aku berdebat dengan diriku. Sudah hampir larut. Aku tidak bisa tidur. Pikiranku kacau. Apa yang harus kulakukan? Kakiku melangkah menuju teras mencoba untuk menghirup udara di malam hari agar hatiku sedikit tenang.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu berkali-kali membuat keributan di tengah malam. Mau tidak mau aku harus membuka pintu itu agar tidak mengundang keributan dengan tetangga yang menginap di sekitarnya. Aku beranjak dari teras menuju pintu. Lee Hanwoo berdiri tepat di hadapanku ketika aku membuka pintu. Gadis itu dengan cepat masuk menutup pintu kemudian memeluk tubuhku.

“Mianhae..” ujarnya sedikit serak.  Sepertinya dia menahan tangisnya.

“Kenapa kau tidak menjawab? Kau tidak mau memaafkanku? Akulah yang salah. Semenjak aku memutuskan untuk bekerja hubungan kita menjadi seperti ini. Kita jadi sering bertengkar dan salah paham. Akulah yang salah. Aku minta maaf.”

Aku mencoba menarik napas lalu menghembuskannya. Mendapat pelukan hangatnya lagi aku merasa bahagia. “Tidak usah dibahas lagi.. Apa kau tidak lelah?” tanyaku menatap wajahnya yang menunduk.

Author’s POV

——————-

Beberapa saat kemudian, Hanwoo dan Hyukjae saling berhadapan tiduran di atas ranjang. Hanwoo melihat jemarinya yang sudah dihiasi cincin pertunangannya. Hanwoo tersenyum senang. Hatinya sedikit lega.

“Oppa, kau jangan menghubungi mantan-mantanmu lagi.”

“Tergantung..”

“Mwoya? Tergantung apa?”

“Jika kau jarang menghubungiku aku lebih baik menghubungi mereka lagi.”

“Yak !!!”

Hanwoo memukul dada Eunhyuk membuat pria itu mengerang karena sakit. Hanwoo cemberut membalikkan badannya memunggungi Eunhyuk.

“Kenapa kau cepat sekali marah? Beda sekali dengan Hanwooku yang dulu, hmm? Kau terlalu mencintaiku..” Eunhyuk menangkap tubuh Hanwoo dengan memeluknya dari belakang. Hanwoo tersenyum lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadap Eunhyuk.

“Dulu apa kau tidak ingat ketika aku dekat dengan Kai dan songsaenimku? Apa kau lupa seperti apa dirimu hah?”

“Itu namanya kau sedang mengalami karma. Anggap saja begitu.” Eunhyuk mencubit gemas  hidung Hanwoo.

“Hhh.. Karena kejadian putus kita pasti membuat ibu dan ayahmu khawatir. Aku harus meminta maaf karena telah membuat bibi dan paman khawatir.”

“Hhmm.. Kau harus meminta maaf.” Ujar Hanwoo. Eunhyuk menyadari nada suara Hanwoo sedikit lemah.

“Apa kau mengantuk? Tidurlah kalau begitu. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Hanwoo tersenyum memeluk tubuh Eunhyuk. Dia kemudian memejamkan matanya. Kepalanya bersandar di dada bidang Eunhyuk. Bebarapa menit setelah Hanwoo tertidur, Eunhyuk mulai menikmati suasana sayunya. Matanya perlahan terpejam. Menaruh kepalanya pada puncak kepala Hanwoo.

“Jaljayo~” ujar Eunhyuk.

 

Finaly ..

Ini sudah lama kubuat tapi saya pendam sampai saya benar-benar bisa free untuk ngelanjutinnya. Sudah lama sekali readers saya nggak comeback. Sudah berapa abad yah? Apa masih ada yang suka dan menunggu tulisan dari karya saya? Melihat comment-comment yang sedikit sekali ketika eunwoo couple saya post saya jadi ga semangat 😥 Terima kasih buat yang sudah comment yah J Mohon di comment yah jangan jadi silent readers walaupun cerita ini jelek atau gimana. Terima kasih.

 

 

 

 

 

Iklan

25 thoughts on “[7] Realove

  1. Sebenarnya sedikit kesal sama Hanwoo, seperti kata Hyojin, dia plin-plan -_- meski aku juga kurang setuju ma EunHyuk yang menghubungi mantan pacarnya, tapi aku rasa itu juga tidak salah kalau mereka tidak lebih dari teman biasa *TernyataAkuJugaPlin-plan XD

    Suka

  2. sudah lama bgt ka enggak ngpost..
    Suka bgt sama eunwoo couple, dipart ini hanwoo nya berasa plinplan ka, kurang kemistri nya sama hyukjae jadi kurang greget nih ka..

    Buat part selanjutnya selalu ditunggu ka,,,, 😀

    Suka

  3. sudah lama bgt ka enggak ngpost….
    Suka bgt sama eunwoo couple, dipart ini hanwoo nya berasa plinplan ka, kurang kemistri nya sama hyukjae jadi kurang greget nih ka..

    Buat part selanjutnya selalu ditunggu ka,,,, 😀

    Suka

  4. haloo the first time baca eunwoo story..walaupun belum baca cerita lainnya, suka kok sama gaya tulisan mu authornim,, rapi dan gak banyak typo. Banyak cheesy2 nya lagi 😀
    dan kenapa ya ga dari dulu nemu blog ini T__T
    ijin baca2 eunwoo story yg lain ya hehe
    Keep writing authornim, eunwoo story selalu aku tunggu2^^

    Suka

  5. ya ampun hanwoooooo kadang suka gemes sama sifat hanwoo yang emosian cemburu truz plin plan gitu masalah gitu aja bisa jadi besar hihiii
    pas ada masalah dua duanya pada ga mau ngalah ehh pas udah putus pada klabakan tuhh….
    pkonya suka pasangan ini tuh agak lucu gitu apa2 putus tpi akhirnya mreka brdua yang merana…

    suka banget ditunggu crita eunwoo ² yang lainnya

    Suka

  6. gemesin kopel ini… sebenernya aku ga terlalu suka cast ff yg bukan kyuhyun entahlah wordpress ini merubahkuuu hahaq:D

    Suka

  7. wah daebak! berantemnya daeeeebak! aku suka bgt gimana hyukjae ngebentak hanwoo. ini mah duaduanya salah, i mean omg pls kenapa sih muna begitu hahahaha apalagi hanwoo duh emg ya egonya cewe kayanya emg begitu hahahaha

    Suka

  8. Putus nyambubg trus ini psangan. Brantmnya msti krn cmburu hhaha. Tpi sweet bgt mreka, cintanya diuji wlaupun smpt ptus akirnya blikan. Aahhh mkim suka sama mreka ^^

    Suka

  9. waahhh itu pertengkaran terhebat mereka sampe mereka pisah hampir satu bulan tapi ahkirnya mereka bisa balikan lagi karna cinta mereka yg terlalau besar

    Suka

  10. part ini menguras emosi jiwa gara2 mereka hahaha

    btw mereka kapan tunangannya? kayanya di part 6 blm tunangan?._. emang si hanwoo dikasih cincin pas masih di awal2 tapi emangnya itu cincin tunangan?._.

    makin suka sama mereka lucu berantem baikan sampe putus 2 kali padahal mereka saling sayang pake banget malah hahaha

    terkadang emang yaa muncul suatu konflik harus mikirin kenapa masalah itu bisa muncul karena suatu hal bisa yg tanpa kita sadari menimbulkan suatu masalah lain dan berakhir kek mereka berdua berantem dan akhirnya saling menyalahkan sampai intropeksi diri masing2 awalnya grgr siapa masalah itu bisa muncul 😦 #maafjadicurhat

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s