[3] Love in the Trap

Untitd-1qwwaq

Author: Hanwoo • Cast: Park Jimin BTS – Lee Hayeon and Other Cameo • Genre : Straight – Romance • Length: 3

Author’s POV

——————-

Jimin berada di teras kamarnya – mengetik sesuatu di handphonenya lalu mengirimkan pesan tersebut. Dia sempat mendongakkan wajahnya dan terkejut melihat Hayeon ada diseberang kamar sedang melihatnya. Awalnya dia sedikit gugup tapi entah kenapa sejak pagi dia merasa moodnya sangat baik. Alangkah baiknya jika dia mungkin menyapa Hayeon lebih dulu.

Jimin melambai-lambaikan tangannya ke arah Hayeon. Tentu saja gadis itu terkejut mendapat perlakuan baik dari Jimin. Hayeon sempat tidak percaya dan menoleh ke kiri-kanan-belakangnya karena dia takut Jimin bukan menyapanya. Tapi dia menyadari bahwa Jimin menyapanya karena tidak ada siapa-siapa di kamarnya selain dirinya sendiri.

Jimin kemudian mengetik sesuatu dari hadphonenya. Tidak lama kemudian handphone Hayeon berbunyi. Dia membuka pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.

From: 08xxxxxx

Ingin bertemu?

Aku tunggu dibawah sekarang.

 

JIMIN.

Hayeon berteriak pelan tidak percaya Jimin mengirimkan sms untuknya . Matanya mendelik hendak membalas pesan itu.

“Da-ri-ma-na-ka-u-ta-hu-no-mor-ku?” Hayeon mengeja sembari berteriak. Tidak ada balasan dari Jimin. Hayeon menoleh ke arah kamarnya dan melihat Jimin melontarkan senyumnya ke arah Hayeon. Jimin memberi isyarat dengan kedua telunjuknya untuk menyuruh Hayeon menemuinya di bawah lalu mengacungkan kedua jempolnya untuk meng-ok-kan kemudian pergi memasuki kamarnya membuat Hayeon cepat-cepat memasuki kamarnya.

Hayeon menutup pintu balkonnya. Dia mencoba menarik napasnya sedalam-dalamnya – menyentuh dadanya memeriksa ada yang aneh pada detak jantungnya. Jantungnya berdegup kencang.

“Apa dia serius ingin menemuiku?”

Cepat-cepat Hayeon membuka lemari hendak mengganti baju. Dia memilah-milah baju yang digantung di lemarinya dan mulai berpikir baju apa yang akan dia kenakan untuk bertemu Jimin.

“Untuk apa aku mengganti baju?” Hayeon tiba-tiba berubah pikiran. “Ini kan bukan dalam rangka kencan. Dia hanya ingin menemuimu saja Hayeon jangan besar kepala.”

Hayeon menutup lemarinya dengan keras. Dia merasa emosi dan kesal dengan dirinya yang mulai berpikir bodoh. Dia beranjak ke meja riasnya untuk menyisir rambutnya yang panjang – mengolesi lipstik pink pada bibirnya. Namun sesaat dia berhenti – menghapus lipstiknya.

“Kenapa aku seperti ini? Hayeoni .. C’mon! Ini bukan kencan.”

Hayeon menaruh lipstiknya lalu menyemprotkan parfum victoria secret ke tubuhnya.

“Setidaknya dia mencium wangi tubuhmu, Hayeoni. Okay. No Problem.” Dengan cepat Hayeon turun ke bawah.

*

Hayeon merasa nervous ketika membuka pintu gerbang rumahnya melihat Jimin sudah menunggu di depan rumahnya. Dia merasa gugup dan salah tingkah. Pikirannya penuh dengan apa yang harus dia lakukan? Kata-kata sapaan apa yang tepat digunakan untuk menyapa Jimin?

‘Dia sudah bukan Jimin yang jorok tapi dia kini sudah menjadi idola dari semua wanita. Kau menemui idola dari semua wanita itu Hayeon ! Kenapa kau tidak dandan saja tadi agar dia tidak merendahkanmu?’

Hayeon mencoba tenang menutup pintu gerbangnya. Dia merasa dirinya sangat bodoh terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting. Hayeon membalikkan badannya menatap Jimin dan mencoba tersenyum.

“Sudah lama tidak melihatmu, nuna.” sapa Jimin.

“Sudah lama tidak melihatmu juga. Rasanya sangat aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Kau sangat berubah. Kau dewasa.” Hayeon tidak sadar tengah memuji Jimin yang tidak menjawab pujiannya. Dia baru menyadari dirinya sangat bodoh lagi ketika Jimin tidak menjawabnya. Setengah hatinya ingin menangis dan kabur dari hadapan Jimin sekarang.

‘Hayeon bodoh apa yang sedang kau lakukan?!’

“Mau jalan?” tanya Jimin.

“Apa tidak apa-apa?”

“Gwenchanayo. Busan aman dan aku sangat nyaman berada disini.”

Mereka berdua mulai melangkah bersamaan. Dari balik kaca rumah Yeonhee dan Taeran mengintip. Yeonhee mulai curiga melihat Hayeon jalan disamping Jimin.

“Pantas saja onnie keluar diam-diam.” Ujar Yeonhee. “Oppa, apa mereka saling menyukai? Mereka terlihat aneh aku sedikit kesal melihatnya.” Tanya Yeonhee pada Taeran.

Wae? Kau menyukai Jimin?”

Anio. Aku hanya kesal karena melihat mereka sangat cocok. Tapi kurasa Hayeon onnie bukanlah tipe Jimin oppa.”

“Siapa tahu?”

Yeonhee menoleh melirik Taeran. Merengut – memincingkan tatapan tajam ke arah Taeran.“Oppa, kau tahu sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu kan?” Yeonhee merasa Taeran tahu sesuatu yang dia tidak tahu karena Taeran adalah sahabat dekat Jimin di Busan.

Aniiooo.. Tahu apa?”tanya Taeran berusaha cool dihadapan Yeonhee.

“Oppa kau tidak ingin mengatakannya padaku? Aku akan menjaga mulut jika ini rahasia.”

Taeran pergi meninggalkan Yeonhee. “Oppa, aku berharap Jungkook mengenalkan Hayeon onnie pada Suga oppa. Kau setuju kan ?!” Yeonhee mengejar Taeran.

“Lebih baik bersama Lee Minho.” Jawab Taeran.

“Yaaak tu terlalu luar biasa ! Aku tidak ingin rebutan pria dengan Hayeon onnie.” teriakan Yeonhee terdengar sampai luar.

Author’s POV

——————–

Jimin dan Hayeon duduk di taman tengah malam. Disini sangat sepi dan mereka sedikitpun tidak ada rasa takut berkeliaran di tengah malam. Malah mereka merasa sangat nyaman satu sama lain dan mulai mengenang cerita masa lalu dalam pikiran masing-masing. Hayeon teringat saat terakhir kali Jimin mendorongnya dari sepeda sampai terjatuh. Dia mendapat luka parah karena Jimin.

Dalam diam Jimin juga mengenang hal yang sama dengan Hayeon. Dia mengenang memori semasa kecilnya dengan Hayeon yang begitu dekat. Namun terakhir kali dia merasa Hayeon melukai perasaannya.

“Apa kau baik-baik saja selama di Amerika, nuna?”Jimin memecah keheningan. Dia melirik Hayeon.

Ooh .. n-ne. Jimin darimana kau mendapatkan nomor handphoneku?”

“Taeran memberikannya.”

“Taeran? Untuk apa dia memberikan nomor handphoneku padamu?”

“Aku meminta nomor Yeonhee dan membiarkan dia menyimpannya sendiri tapi setelah aku melihat-lihat kontakku dia juga menyimpan nomormu.”

Jinjayo? Kenapa kau tidak menghapusnya?”

“Kau ingin aku menghapusnya?” tanya Jimin membuat Hayeon terdiam. Hayeon merasa menyesal lagi karena sudah salah bicara.

“Anio kau bisa menyimpannya.” Suara Hayeon terdengar datar dan berbisik.

“Nuna, apa kau marah padaku?” tanya Jimin.

Hmm..? Marah?”

“Aku sebenarnya bertanya-tanya pada diriku sendiri. Waktu itu aku telah melakukan kesalahan. Aku mendorongmu dari sepeda sehingga kau terluka karenaku. Setelah itu kau tidak ada kabar dan aku mendengar kabarmu pindah ke Amerika. Apa kau semarah itu padaku?”

Hayeon tercengang mendengar pertanyaan Jimin. Dia tidak menyangka Jimin akan bertanya seserius ini padanya. Perpindahannya ke Amerika bukan karena dia marah dengan Jimin, tidak. Tapi ternyata dia telah membuat Jimin berpikiran seperti itu.

Anio. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Jadi kau tidak marah padaku?”

Ne. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Benar kau tidak marah?” Jimin meyakinkan lagi.

“Tentu saja. Waeyo Jimin?”

Jimin menghela napasnya. “Syukurlah kau tidak marah. Tapi nuna, kenapa kau tidak mengabariku akan pergi ke Amerika?”

“Aku sudah mengabarimu. Setengah hari aku menunggumu tapi kau saat itu belum pulang. Aku juga menitipkan sesuatu pada Jihyun untukmu.”

“Jihyun? Kau menitipkan apa padanya?”

Headset hitam. Kurasa kau membutuhkannya waktu itu. Apa kau tidak menerimanya?”

“Jihyun tidak membe.. Ooh tidak…” Jimin terdiam sebentar. Dia mulai teringat sesuatu ketika headset hitam terlintas di kepalanya. “Aku rasa kau menitipkan barang kepada orang yang salah.” Jimin teringat sesuatu waktu itu dia pulang dari rumah dan melihat Jihyun bersenandung dengan headset hitam yang dikenakannya. Dia hanya bertanya apa eomma membelikanmu barang baru lagi? Jihyun mengiyakan dan tidak berpikir bahwa itu pemberian Hayeon. Jimin merasa kesal dan ingin menemui adik bungsunya itu.

Waeyo? Apa Jihyun mengambilnya darimu?”

Ne. Kenapa kau memberikannya pada Jihyun? Aku pikir kau marah padaku.”

Hayeon tertawa. “Kenapa kau berpikiran seperti itu, Jimin? Saat itu hanya ada Jihyun dirumah jadi aku menitipkannya untukmu. Kau tahu, aku kira kau yang marah karena aku dulu sudah menjahilimu sampai kau mendorongku. Aku tidak bermaksud mengadu pada orang tuamu bahwa kau bolos sekolah. Aku belum meminta maaf.”

“Anio, akulah yang salah. Aku minta maaf,”

“Nado .. Aku juga minta maaf, Jimin.”

Keduanya meminta maaf dan saling diam. Hayeon merasa senang jika seperti ini. Dia merasa kembali dekat lagi dengan Jimin.

“Kau sangat populer sekarang. Aku belum memberimu selamat.”

“Kau harus memberiku hadiah, nuna.”

“Hadiah?”

“Ne hadiah kali ini aku harus mendapatkannya.”

Umm … Aku akan memikirkannya.”

*

Jimin dan Hayeon melangkah bersama dan berpisah saat sampai di depan rumah masing-masing. Perasaan mereka sudah lega. Mood Jimin dan Hayeon sangat bagus malam ini. Hayeon masuk ke dalam rumah dan menemui Yeonhee sudah berdiri dihadapannya saat membalikkan badan sehabis menutup pintu.

Kamchagiya..” Hayeon terkejut menyentuh dadanya.

Onnie-ya kenapa kau terkejut seperti itu?” suara Yeonhee tiba-tiba berubah menjadi seram seperti backsound di film hantu. Yeonhee memincingkan matanya ke arah Hayeon.

“Kau ini mengejutkanku saja.” Hayeon beranjak naik ke tangga. Yeonhee mengikuti Hayeon cepat sampai masuk ke dalam kamar. Hayeon merebahkan dirinya.

“Kau pergi diam-diam tengah malam tanpa ijin terlebih dulu.”

“Biasanya aku tidak pernah ijin. Waeyo? Apa sesuatu tengah terjadi?”

Ne. Sesuatu telah terjadi karena kau diam-diam pergi dengan Jimin oppa. Apa kau sudah baikan dengannya dan memutuskan untuk memulai pendekatan?” Yeonhee mengintrograsi Hayeon. Dia melipat kedua tangannya didada.

“Kami tidak bertengkar.”

Hhh.. Sekarang aku malah tidak mempercayai saudaraku sendiri. Onnie, apa yang kau ucapkan sangat berbeda dengan ekspresimu. Apa kau mempunyai kepribadian ganda? Aigoo menyeramkan sekali.” Tuduh Yeonhee. Yeonhee duduk di atas ranjang menatap Hayeon sambil melipat kedua tangannya. Yeonhee merengut kesal.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu tentang onniemu hah?” tanya Hayeon. Hayeon bangkit dari tidurnya. “Kau tahu kan aku dengan Jimin adalah teman dekat.”

Mendengar itu Hayeon mengembungkan bibirnya. Dia memutar bola matanya seperti meremehkan ucapan kakaknya.

Hhh aku akan menertawakanmu jika kau jatuh cinta padanya.”

Yak ! Kau masih kelas dua SMA apa yang kau pikirkan? Belajar yang baik. Apa kau sudah membuat PR mu?”

“Justru karena aku sudah kelas 2 SMA. Aku mengingatkanmu onnie, aku tidak ingin kau hamil tiba-tiba karena Jimin oppa yang melakukannya. Teman-temanku banyak yang menyukai dia. Aku tidak ingin dimusuhi dan diterror terus-terusan karena ulahmu !”

Hidung Hayeon mengeras – bibirnya terbuka perlahan mendengar adik bungsunya mengatakan hal tidak-tidak tentangnya. Yeonhee membuka pintu kamar hendak keluar dari ruangan ini. Hayeon melemparkan bantal gulingnya ke arah Yeonhee.

“Kau gila !” teriak Yeonhee.

*

Jimin mencari-cari sesuatu di rak buku milik Jihyun. Tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya sendiri. Dia tidak menemukan headset hitam yang dicarinya disana. Dia jongkok – membuka-buka laci satu persatu dan menemukan headset hitam pemberian Hayeon pada salah satu laci dikamar Jihyun.

Jihyun tiba-tiba masuk ketika Jimin hendak keluar. Dia terkejut melihat Jimin membawa headset miliknya. Jihyun mendekati Jimin hendak merebut headsetnya namun dengan tangkas Jimin menarik tangannya menyembunyikan headset di belakang unggungnya tidak mengijinkan adik bungsunya mengambil headset itu lagi.

“Kembalikan hyung ! Apa yang kau lakukan?”

“Kenapa dulu kau tidak memberikan headset ini padaku? Hayeon nuna sudah menceritakannya bahwa dia menitipkan sesuatu padamu.”

H-hyung .. Apa kau bertemu Hayeon nuna? Apa kalian bicara berdua? Woooaa … Hyung, apa kalian berkencan? Kau menyelingkuhi Seulgi?”

Jimin menghela napasnya pergi ke ruangan ini membawa headsetnya. “Hyung !” Jihyun meneriaki Jimin kemudian mengikutinya keluar.

*

Malamnya Jimin mendengarkan lagu kesukaannya melalui ipodnya. Dia memakai headset hitam pemberian Hayeon enam tahun yang lalu. Dia mendengarkan lagu ….. Matanya perlahan terpejam – bibirnya tersenyum. Dia merasa bahagia malam ini.

Berbeda dengan Hayeon yang sangat gelisah. Kamarnya yang sudah gelap dan hendak mencoba tidur namun dia tidak henti-hentinya merubah posisi tidurnya miring ke kanan dan ke kiri. Dia terlalu sibuk memikirkan Jimin yang sedikit berubah menjadi lebih dewasa dan juga dirinya yang entah kenapa menjadi gugup dan salah tingkah dibuatnya. Hayeon sangat resah dan khawatir. Dia hanya takut menyebutkan satu hal pada dirinya sendiri, yaitu..

“Jatuh Cinta”

*

Athor’s POV

————–

Jimin terbangun dari tidurnya memeriksa handphonenya untuk melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.30. Jimin bangkit dari kasurnya – merentangkan tangannya masih menguap. Rasa kantuknya belum hilang. Dia melihat headset hitamnya tergeletak di sebelahnya. Jimin beranjak dari kasurnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

Dia masuk ke kamar mandi menggosok giginya di wastafel. Matanya terlihat semakin menyipit dari pantulan cermin. Setelah menggosok gigi dia memutuskan untuk pergi mandi. Selang beberapa menit kemudian Jimin kembali dengan tubuh setengah telanjang yang hanya dibaluti handuk putih. Dia membuka lemari siap untuk mengganti baju – melepas handuknya begitu saja.

Dia berdiri di depan meja riasnya sudah rapi dengan sweater putihnya – menyisir rambut orangenya yang menyala – membersihkan wajahnya dengan toner dan cream pagi.

Sudah hampir 5 hari dia ada di Busan karena Big Hit memberikannya libur hanya seminggu. Dia menghabiskan waktunya bersantai di restaurantnya membantu ayah dan ibunya. Terkadang dia berpergian dengan Jihyun atau Taeran. Jimin sangat menikmati hari-harinya.

Handphonenya berbunyi tanda satu pesan masuk dari linenya. Jimin membuka pesan grupnya dengan member BTS.

Suga Hyung: Aku sedang di Jepang.

Hobie Hyung: Mwoya .. Kau serius kesana lagi, hyung?

Kookie: Jinjayo?

Suga: aku tidak bisa tidur jika tidak kesini mengecek bagaimana mereka yang menanti kami namun batal begitu saja karena aku dan taehyung jatuh sakit pada hari itu.

Hobie: mereka akan mengerti. Mereka pasti mengerti. Yak, aku khawatir padamu sekarang apa kau baik-baik saja?

Namjoon Hyung: Yak, kalian jaga kesehatan selama liburan. Take Care Bangtan. Setelah ini akan ada jadwal tour konser menanti.

Taetae: Hyung, miane aku tidak bisa menemanimu.

Jimin hendak membalas pesan-pesan dari hyungnya namun dari lantai bawah terdengar suara ibunya yang memanggil namanya. Jimin menaruh handphonenya hendak turun ke bawah menyusul ibunya.

*

Pagi-pagi Hayeon sedang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam kopernya. Besok dia hendak bersiap pergi ke Seoul untuk mengecek apartemen dan langsung tinggal disana. Dia akan meninggalkan Busan lagi demi pekerjaan barunya. Kemarin sore Hayeon mendapat telepon dari sebuah perusahaan majalah ternama di Korea. Dia diterima bekerja di perusahaan tersebut karena sempat interview melalui skype sewaktu di Amerika  dan proses penerimaan di perusahaan ini sangatlah cepat. Dia bisa bekerja tiga hari lagi jadi dia harus pergi ke Seoul dalam waktu dekat.

Dia mendengar bel rumahnya berbunyi. Karena dia tahu tidak ada siapa-siapa dirumah, ibu dan ayahnya sudah berangkat bekerja, Taeran dan Yeonhee sudah berangkat ke kampus dan sekolahnya. Hayeon cepat-cepat menuruni lantai satu untuk membuka pintu.

Hayeon terkejut ketika membuka pintu yang terlihat adalah Jimin. Pria itu sedikit terkejut. Mereka sama-sama canggung. Hayeon melihat Jimin memberikan sebuah kotak makan tiga tingkat.

“Jimin?”

“Aku datang kesini untuk memberikan ini. Eomma bilang bibi memesan daging cumi pada eommaku.”

“Ah mungkin tapi eomma tidak ada berpesan apa-apa padaku. Hmmm .. mungkin lupa atau eomma berpesan pada Yeonhee.”

Jimin mengangguk-angguk. Hayeon segera mengambil kotak makan itu. “Apa kau tidak ingin masuk? Akan kubuatkan minuman.” Tawarku. Entah kenapa aku ingin sekali dia mampir.

“Apa Taeran belum bangun?” tanya Jimin.

“Dia sudah pergi ke kampusnya.”

Jimin hanya mengangguk sambil mengulum bibirnya.

“Ayo masuk sebentar saja, ada sesuatu yang ingin kuberikan.” ucapan Hayeon membuat Jimin tertarik.

*

Jimin duduk di sofa menunggu Hayeon turun dari kamarnya. Matanya sibuk melihat kesekeliling ruangan. Baginya rumah ini tidak begitu banyak berubah. Dulu dia sangat sering masuk kerumah ini karena dia sangat dekat dengan Taeran dan juga Hayeon. Tapi entah kenapa rumah yang sering dia kunjungi kini terasa canggung untuk dikunjungi. Dia seperti merasa dejavu.

Hayeon menuruni tangga membawa satu kotak sepatu berwarna hitam dan menemui Jimin yang melihatnya. Hayeon tersenyum. Dia sudah memperisapkan satu hadiah untuk Jimin dari Amerika jika suatu saat dia bertemu lagi. Nyatanya mereka bertemu lagi.

“Kau ingin aku memberimu hadiah kan? Aku membelinya sewaktu di Amerika. Ukuran sepatumu 40 kan? Semoga saja belum berubah.” Ujar Hayeon. Jimin bangkit dari duduknya meraih kotak sepatu itu. Jimin membuka kotak itu dan melihat sepatu kulit berwarna cokelat muda.

“Ini untukku?” tanya Jimin mengeluarkan sepatu itu. Hayeon mengangguk

“Ne. Seleraku buruk dalam urusan memilih sepatu untuk pria. Semoga kau suka. Aku tahu kau punya yang lebih bagus dari ini. Ungg.. Terserah kau saja ingin memakainya atau tidak.”

Jimin mengembungkan pipinya menatap sepatu yang kini dipegangnya. Hayeon merasa canggung karena Jimin tidak menjawabnya. Sekejap dia menggaruk-garuk punggungnya merasa resah – sekejap mengulum bibirnya. Dia hanya takut Jimin tidak menyukainya. Walaupun Jimin tidak menyukainya dia harap Jimin mau memakai hadiah pemberiannya.

“Aku tidak menyangka kau akan memberiku hadiah.” Bisik Jimin namun Hayeon tidak mendengarnya. Suara Jimin terlalu pelan.

“Ne?”

“Gomawo Noona.” Jimin mengucapkan terima kasih dengan senyumnya. Hayeon diam-diam terpana melihat Jimin. Tangannya meremas baju yang dikenakannya. Dia mulai merasa panik dan bingung menyuruh dirinya untuk berhenti terpana seperti ini melihat Jimin.

*

Malam harinya Hayeon merebahkan dirinya di ranjang dengan posisi miring memeluk bantal. Dia memikirkan Jimin begitu banyak hari ini dan dia menyadari seharusnya tidak seperti ini.

Dia tidak boleh membiarkan perasaannya ralut begitu dalam menyukai Jimin. Perlahan-lahan tangannya meremas kerah piyamanya – membenamkan kepalanya pada bantal gulingnya.

Seharian ini isi pikirannya dipenuhi dengan Jimin… Sepertinya dia mulai merasa nyaman dengan Jimin yang sekarang…

Iklan

4 thoughts on “[3] Love in the Trap

  1. Jadi jimin baru tau kalo hayeon memberikan headset untuk jimin dan parahnya lagi adiknya ghag kasih ke jimin kalo headset itu dari hayeon,,,,,,kayaknya da yg mulai Jatuh Cinta nich cie cie cie 😀 😀

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s