[4] Love in the Trap

Untitljjjjted-3aaaalkAuthor: Hanwoo • Cast: Park Jimin BTS – Lee Hayeon and Other Cameo • Genre : Straight – Romance • Length: 4

Keesokan harinya Jimin hendak berangkat ke Restoran pagi-pagi. Dia melihat ke arah seberang rumahnya melihat Hayeon sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke sebuah pick-up hitam. Jimin membuka pintu gerbangnya karena penasaran dengan apa yang dilakukan Hayeon kemudian menghampiri gadis itu.

“Kau mau pergi kemana?” tanya Jimin.

Ah Jimin ..” Hayeon menoleh ke arah Jimin yang sedang sibuk mengangkat kardus ke dalam pick-upnya. Jimin mengambil alih tugas Hayeon. Dia mengambil kardus yang dibawa Hayeon beralih gantian menaruhnya sampai pada pick-up. Jimin terus melakukannya memindahkan barang-barang Hayeon ke dalam pick-up. Hayeon hendak membantunya namun Jimin menahan tubuhnya.

“Berhentilah, biar aku saja yang bantu.” Pinta Jimin mengangkat kerdus-kerdus itu. Hayeon tersenyum senang karena Jimin mau membantunya. Dia merapatkan coat pinknya karena merasa dingin pagi ini walaupun sudah lengkap memakai syal dan slop tangan.

Hayeon memperhatikan baik-baik perlakuan Jimin padanya. Anggap saja detik-detik terakhir dia bisa berdekatan dan berinteraksi pada teman semasa kecilnya itu. Jantungnya masih tetap berdegup kencang. Hayeon cepat-cepat memalingkan pandangannya ke arah lain ketika sadar dia tidak bisa mengontrol perasaannya pada Jimin. Dia hanya tidak ingin jatuh cinta pada Jimin. Dia tidak ingin mengakuinya.

Jimin menggosok-gosok tangannya ketika memasukkan kardus terakhirnya ke dalam pick-up. Dia juga merasa dingin pagi ini. Napasnya berembun. Dia menunggu Hayeon berbicara dengan supir pick-up. Tak lama kemudian pick-up itu pergi meninggalkan mereka berdua.

Nuna, apa kau mau meninggalkan Busan?” tanya Jimin. Hayeon menghampiri Jimin sembari menganggukkan kepala.

Eodichi?”

“Seoul.”

“Seoul? Jinjayo?” Jimin masih tidak percaya akan jawaban Hayeon.

Ne. Aku mendapat pekerjaan disana.”

Jinjayo? Pekerjaan apa?” tanya Jimin.

“Bagian editor disalah satu perusahaan majalah.”

Jimin mengangguk mengerti. “Jimin, gomawoyo. Kau sudah membantuku pagi ini. Mau kubuatkan teh?” tanya Hayeon.

Jimin mengulum bibirnya sembari menggelengkan kepala. “Anio, aku harus pergi ke restoran. Liburanku juga sudah selesai dan ini hari terakhirku di Busan.”

Jeongmal? Kau akan kembali ke Seoul?”

Mmm.. “ Jimin mengangguk. Setelah itu mereka terdiam dan sama-sama canggung. Sebenarnya Hayeon sangat penasaran apa isi pikiran Jimin kali ini. Apakah Jimin juga memikirkan hal yang sama dengannya mengenai rasa berdebar dan rasa gugup yang selalu mampir ketika selalu bersama-sama.

Noona aku pergi dulu.” Jimin pamit pada Hayeon mulai melangkah meninggalkannya.

J-Jimin..” panggil Hayeon. Jimin menoleh ke arahnya.

“Mampirlah ke apartemenku di Seoul nanti jika kau sempat.” Pinta Hayeon.

“Aku tidak yakin, tapi aku akan usahakan.”

Hayeon tersenyum mengangguk. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sempat menundukkan kepalanya karena malu. Jimin pergi meninggalkannya – Hayeon mengangkat kepalanya melihat punggung Jimin yang menjauh dari hadapannya.

“Apa aku mulai menyukainya?” tanyanya dalam hati.

*

Hari ini Hayeon mulai tidak fokus dengan dirinya. Perasaan yang berdebar, bahagia dan ingin menunjukkan perasaan itu pada semua orang. Dia masih belum paham dengan pikirannya sebelumnya. Tapi kali ini dia seperti mulai memahami perasaannya. Perasaan ingin melihat pria yang disuka. Sedari tadi Hayeon memikirkan seribu satu cara bagaimana bertemu Jimin secara tidak sengaja tapi sedari tadi pagi Jimin belum pulang.

Seharian Hayeon selalu diam dirumah menunggu didepan jendela atau di depan gerbang tapi sampai malam Jimin belum juga pulang. Hayeon merasa bodoh dan berpikir untuk apa dia menunggu Jimin di depan gerbang rumahnya. Tiba-tiba Taeran melangkah dari kejauhan. Hayeon mulai melirik di sekitar Taeran apakah Jimin sedang bersamanya? Tapi raut wajah Hayeon menunjukkan kekecewaan karena Taeran sedang tidak bersama Jimin.

Nuna, sedang apa kau disini?”

“Ah aku baru saja dari luar jalan-jalan. Aku menikmati hari-hari terakhirku di Busan sebelum pergi ke Seoul.” Hayeon berbohong dan berusaha menormalkan ekspresinya. Tidak mendapat jawaban dari Taeran yang menatapnya Hayeon mulai salah tingkah , pura-pura batuk.

“Aku lupa kalau kau akan pergi besok. Nuna mari kita rayakan kepergian nuna. Kudengar Jimin juga akan kembali ke Seoul besok, hmmm haruskah kita merayakannya bersama Jimin?” Hayeon langsung bersemangat ketika Taeran mengajak Jimin bergabung bersama mereka.

“A-aku tidak melihat Jimin sedari tadi.” Hayeon merasa sedikit kikuk menyebut nama Jimin dihadapan Taeran.

“Aku melihatnya di restorannya. Kajja kita kesana. Aku akan mengabari Yeonhee dan Jihyun. Nuna duluan saja pergi ke Restoran Jimin nanti kami akan menyusul.” Taeran membalikkan badan Hayeon ke kiri tepart pada arah jalan menuju restoran Jimin.

“Y-yaaak Taeraaan! Shireo ! Aku tidak mau sendirian. Kita pergi bersama saja.”

“Anio, kau harus memesan tempat dulu. Yeonhee dan Jihyun pasti akan lama.”

Tidak lama kemudian Hayeon sudah berada di depan restoran Jimin. Hayeon berdiri sekejap melihat keadaan di dalam dari pintu kaca . Matanya mencari-cari dimana Jimin berada namun tidak ada siapapun di dalam. Kemungkinan Jimin ada di dalam dapur.

Dia tidka mengerti kenapa dia mau menuruti ucapan Tarean untuk pergi sendirian ke Restoran Jimin. Tapi hatinya mengutusnya untuk harus datang dan melihat sendiri Jimin sedang melakukan apa. Hayeon sadar dia sudah jatuh ke dalam lubang berbahaya dan dalam. Dia seperti terjebak di dalam rasa penasarannya sendiri terhadap Jimin. Padahal dia tahu Jimin belum tentu merasakan hal yang sama sepertinya. Dia merasa sangat sedih untuk hal itu.

“Nuna?”

Hayeon terkejut dengan suara yang dikenalnya memanggil namanya. Kepalanya menoleh melihat Jimin sudah berdiri di hadapannya.

“J-Jimin..”

Hayeon benar-benar kikuk dibuatnya. Dia merasa sangat salah tingkah di hadapan Jimin. Entah kenapa lidahnya kelu tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Kau ingin masuk? Apa kau ingin makan?”

“Anio. Eh mm.. Sebenarnya Taeran menyuruhku untuk kesini. Karena Taeran ingin mengabari Yeonhee dan Jihyun jadi dia menyuruhku unruk datang lebih dulu menunggu mereka menyusul. Dia ingin merayakan kepergianku ke Seoul besok”

“Jinja? Tumben sekali. Ini sudah malam dan segera tutup. Taeran pasti tahu bukan?”

“Ah jinja? Sudah mau tutup? Aiiishh Taeran ! Baiklah aku bisa pulang sekarang.” Hayeon hendak membalikkan badannya namun Jimin menahan tangannya membuatnya membalikkan badan dan saling berhadapan dengan Jimin.

“Tapi aku bisa membiarkan kalian menggunakan restoranku untukmu, kajja..” Jimin menarik tangan Hayeon mengajaknya masuk. Hayeon terkejut dengan perlakuan Jimin. Dia memanggil nama pria itu namun Jimin tidak menghiraukannya.

*

Hayeon’s POV

——————

Disinilah aku berada sekarang. Mendengarkan Jimin bercerita mengenai masa-masa trainingnya sembari menunggu Taeran, Yeonhee dan Jihyun yang tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kedua orang tua Jimin sudah pulang duluan dan mengijinkan kami menggunakan restoran yang sudah close ini sebagai tempat acaraku.

“Kenapa mereka lama sekali?” tanya Jimin.

“Mollayo. Aku akan menelepon mereka.” dengan cepat jemariku menekan-nekan keyword hendak menelepon Taeran. Kutempelkan handphoneku di telinga mendengar saluran nada dari provider. Sialnya, Taeran tidak mengangkatnya. Kemudian dengan cepat kucoba menghubungi Yeonhee, namun adik bungsuku juga tidak mengankat teleponku. Jimin mencoba menghubungi Jihyun namun adik satu-satunya itu juga tidak kunjung mengangkat teleponnya.

“Kenapa mereka tidak mengangkat teleponku?” kesalku mengomel-ngomel menatap handphoneku.

“Jihyun juga tidak mengangkatnya.”

“Aku berpikir mereka seperti mengerjaiku.” kesal Hayeon membuat Jimin tertawa.
“Bisa jadi ! Hahahaaa” aku merasa Jimin seperti meledekku. Menyebalkan.

“Kenapa kau sangat puas menertawaiku?” kesalku.

“Kau sangat mudah kena tipu. Lagipula Taeran pasti tahu restoranku akan tutup. Kau masih saja mudah dibodoh-bodohi. Aku khawatir padamu, jika orang sepertimu ini pasti akan sering terkena tipu.”

Hayeon merasa kesal mendengarnya. Rasanya dia ingin membunuh Taeran sekarang juga, Hayeon hendak bangkit meninggalkan Jimin namun pria itu menahannya. Hayeon otomatis membalikkan tubuhnya karena Jimin menarik tangannya untuk tidak pergi. Hayeon menunduk tidak berani menatap Jimin karena malu. Dirinya malu karena Taeran seperti sedang menjebaknya agar bisa bertemu Jimin. Sepertinya dia merasa kedua adiknya tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini.

“Eodichi?” tanya Jimin lembut.

“Pulang.”

“Kau tersinggung dengan perkataanku?”

“Aku ingin pulang membunuh Taeran sekarang juga.”

Jimin tertawa pelan. Dia juga menghela napasnya sperti merasa lega tahu bahwa aku tidak tersinggung dengan perkataannya barusan.

“Waeyo? Apa ada yang salah dengannya?”

“Dia pasti sedang mengerjaiku. Aku membuatmu harus pulang tengah malam.”

“Kau juga pulang tengah malam. Hmmm.. Karena besok kita berdua sudah tidak di Busan bagaimana kalau kita merayakan hari terakhir kita bersama?” aku menatap Jimin seolah-olah tidak percaya dengan ucapannya yang mengajakku untuk merayakan perpisahan kita besok.

Author’s POV

Sementara Yeonhee sedang bersama Taeran di ruang keluarga. Yeonhee menatap handphonenya yang baru saja mati mendapat panggilan dari Hayeon. Taeran tertawa puas.
“Oppa kau harus melindungiku jika Hayeon onnie pulang nanti.”

“Gampang saja, kau dan aku harus pura-pura tertidur.”

“Yak kenapa kau sangat enteng sekali menjawabnya?”

Taeran tetap tertawa tidak menjawab ucapan Yeonhee.

“Apa cara ini akan berhasil, oppa?” tanya Yeonhee.

“Kita lihat saja nanti. Mereka pasti akan sering bertemu di Seoul”

“Apa yang kau rencanakan selanjutnya? Aku takut mereka akan bertengkar lagi.”

“Tidak akan. Aku tidak ada merencanakan apa-apa. Aku percaya pada Jimin.”

“Kau setuju jika Hayeon onnie berpacaran dengan Jimin oppa?”

Hmm … Setidaknya aku tidak sungkan memukul Jimin jika dia menyakiti nuna.”

“Jimin oppa sangat terkenal, dia juga tampan dan banyak mempunyai teman wanita. Kau benar-benar percaya padanya kan? Aku mendengar cerita bahwa Kwon oppa berselingkuh dengan gadis lain sewaktu di Amerika. Kau tahu kan dia sangat lama berpacaran dengan Kwon oppa?”

“Masa lalu tidak usah dibahas kembali.”

“Kira-kira mereka berdua sedang apa ?”

*

Jimin menaruh masakannya di atas meja membuat Hayeon terkesima melihat jajangmyeon spesial buatan Jimin. Hayeon tidak percaya Jimin pintar memasak. Jimin membawa dua kaleng bir dan menaruhnya di atas meja. Pria itu membuka satu persatu kaleng birnya memberikannya satu pada Hayeon.

“Aku tidak percaya kau bisa memasak, Park Jimin.”

“Masak yang simpel-simpel karena aku sering membantu teman dormku memasak.”

“Teman dorm? Apa member bangtan sonyeondan juga?” tanya Hayeon.

“Ne. Namanya Kim Seokjin, dia dikenal dengan nama Jin hyung.”

“Hyung? Dia lebih tua darimu?” tanya Hayeon penasaran.

“Jin hyung kelahiran 92.”

“Ah aku bisa memanggilnya oppa !”

“Oppa? Kau tidak dekat dengannya.”

“Mungkin kau bisa menjodohkanku dengannya.”

“Bodoh, kau bukan tipenya.” ledek Jimin. Mendengar Jimin menyebutnya bodoh Hayeon merengut sedikit kesal.

“Kau memanggilku bodoh? Kasar sekali.” rajuk Hayeon. Jimin tertawa membuat mata sipitnya terlihat tambah menghilang. Ketawanya sangat lucu untuk di dengar.

“Kau memang bodoh, nuna.” sambung Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jimin aku membencimu.” kesal Hayeon.

“Kau tahu benci dan cinta itu tipis. Aku hanya takut kau akan sering memikirkanku setelah ini karena membenciku.”

Igemwoyaaa ! Andwee , shireo !” kesal Hayeon. Jimin tertawa dia merasa menang banyak tengah menggodai Hayeon lagi. Pria itu memberikan sumpir kepada Hayeon. Sebenarnya dibalik kekesalan Hayeon, dirinya sangat senang mendengar Jimin berkata seperti tadi.

“Makanlah. Masakanku sangat enak.” Hayeon tersenyum mendengar aksen Busan Jimin yang cute dan kental seperti dirinya.

Jinjayo?

Ne.

Hayeon mencicipi sedikit jajangmyeon buatan Jimin dan dia langsung menoleh menatap Jimin. Pria itu penasaran dengan pendapat Hayeon mengenai masakannya. Hayeon mengacungkan jempolnya tanda dia menyukai masakan Jimin.

Uuunggg jeongmal mashitaa.” puji Hayeon. Pujian Hayeon membuat Jimin tertunduk sambil tersenyum.

Mereka menyantap makanannya dalam diam. Hayeon tidak tahu harus membicarakan apa kali ini. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana cara untuk meredam perasaannya agar tidak semakin tersentuh dengan sikap Jimin.

Setengah jam kemudian Hayeon dan Jimin duduk berduaan di sofa. Sudah hampir jam dua belas malam namun mereka masih belum pulang. Hayeon meneguk kaleng birnya kemudian sedikit bersendawa. Hayeon tiba-tiba bangun dari duduknya namun Jimin menarik tangannya hingga dia terduduk lagi.

“Eodichi?” tanya Jimin manis. Nadanya sedikit berbisik dan serak.

“Sudah tengah malam aku ingin pulang.”

“Tunggu disini sebentar lagi.” ujar Jimin.

“Jimin ini sudah larut malam.”

“Cakkaman ..”

Jimin bergerak cepat mencium bibir Hayeon dalam lamunannya. Hayeon tidka mendengar Jimin memanggil namanya sedari tadi hingga pria itu menggoyangkan pelan tubuhnya.

“Nuna!”

Ah ne?” Hayeon tersadar membuat malu dan terpaku bahwa ciuman Jimin tadi hanyalah lamunannya saja. Hatinya merasa sedikit sedih sekaligus kesal karena isi kepalanya hari ini penuh dengan Jimin.

“Kajja kita pulang.”

“P-pulang?”

“Ne.”

Tiba-tiba Hayeon berdiri dari duduknya karena merasa ingin muntah. Jimin merasa panik dan ikut bangkit menatap Hayeon dengan khawatir.

“Gwenchanayo?”

“Jimin..” Hayeon berlari meninggalkan Jimin pergi ke kamar mandi. Dia tidak mengerti kenapa dirinya menjadi seperti ini memikirkan Jimin sampai rasanya ingin muntah. Hayeon mencoba memuntahkan isi perutnya di wastafel kemudian menyalakan kran air.

Hayeon menatap dirinya di kaca wastafel dan terlintas lagi bayangan dirinya pada lamunannya tadi ketika Jimin hendak mencium bibirnya.

“Hanya khalayan, why Hayeon… whyyyy ?! Kau begitu menyukainya sekarang?”

Hayeon terlihat frustasi. Dia kemudian kembali ke luar menemui Jimin yang memunggunya di depan. Hayeon sempat terkejut dan salah tingkah.

“Gwenchanayo?”

Hayeon mengangguk agar Jimin tidak khawatir dengannya. Jimin menyerahkan gelas berisi air yang dia pegang saat Hayeon berada di kamar mandi. Hayeon meneguknya lalu memberikan gelas itu lagi pada Jimin.

“Sudah malam ayo kita pulang.”

“Ne..”

Hayeon dan Jimin melangkah bersama di jalanan kecil yang sepi. Jimin menghela napasnya setelah dia menghirup panjang udara segar di Busan yang sangat dia rindukan selama ini. Dia tersenyum melirik Hayeon.

“Nuna, senang bertemu denganmu seperti ini” Hayeon tersentuh dengan ucapan Jimin yang tersenyum manis kepadanya.

 

TBC.

Hmmm…

Hmmmm……

Jiminnnn … kkkk~ author lagi seneng-senengnya sama Jimin nih. Member BTS satu ini titipan Eunhyuk oppa cute sekali dan penebas hati noona-noona yang ada di dunia kkk~

Bagaimana komentar kalian mengenai FF saya??? Hmm… Gak yakin sih tapi semoga kalian suka. he he he. Semoga komentarnya positif semua. Thanks.

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “[4] Love in the Trap

  1. Wah hayeon dikerjai sama taeran lagian percaya bnget sama taeran apa tdi Ghag lihat jam waktu diajak taeran ke restorannya jimin dan yeonhee takut kalo hayeon marah sama mereka klo hayeon dikerjain taeran

    Suka

  2. Hahaha hayeon gampang banget di kerjain nya XD btw duh hayeon khayalan nya udah kemana mana 😀 seru ceritanya, banyakin momen hayeon sama jimin lagi ya kaka author ^^ aku tunggu kelanjutan nya ^^

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s