[5] Love in the Trap

Untitled-55fix

Author: Hanwoo • Cast: Park Jimin BTS – Lee Hayeon and Other Cameo • Genre : Straight – Romance • Length: 5

All Author’s POV

—————–

Hampir setengah bulan berlalu dari perpindahannya ke apartemennya di Seoul. Setengah bulan juga dia mencoba melupakan Jimin. Jimin tidak mengabarinya sama sekali bahkan dia merasa kecewa karena telah menunggu pria yang tidak mungkin mempunyai perasaan yang sama juga padanya. Hayeon merasa dirinya sangat bodoh telah cepat jatuh hati kepada Jimin. Kini dia merasa sedikit kecewa pada Jimin yang bukan siapa-siapanya.

Mengingat hari-hari terakhir ketika makan bersama di restorannya. Dia tidak bisa melupakan semua yang begitu jelas membuat dia tidak bisa melupakan Jimin. Ketika hari terakhir dia tidak lagi bertemu Jimin. Pagi-pagi sekali Jimin kembali ke Seoul tanpa berpamitan padanya.

Dia selalu menyangkal Jimin tidak mungkin menyukainya apalagi mengingat usia mereka berbeda dua tahun dengan Jimin. Lagipula dia tidak secantik wanita yang bernama Seulgi, Jimin pasti sangat menyukai Seulgi.

Hayeon mencoba menyibukkan diri di tempat kerjanya. Ceci Magazine. Dia benar-benar tidak percaya bisa berhasil menjadi staff di perusahaan bergengsi ini. Hayeon sedang sibuk mengetik di depan komputernya. Tiba-tiba senior Oh menghampirinya. Senior Oh paling disegani di kantor ini karena pengalaman dan keahliannya di dunia magazine. Selain pintar dia juga sangat cantik.

“Hayeon-ssi, bisakah kau besok menghandle pemotretan? Lakukan interview seperti yang kulakukan karena ini juga tugas seorang editor.”

“Ne, sunbae. Besok jam berapa kira-kira?”

“Photoshoot akan dimulai pada jam 7 malam karena artisnya baru bisa jam segitu. Kau bisa membaca naskahnya dan langsung mengeditnya sehabis interview. Aku butuh secepatnya untuk edisi Maret.”

“Ne, sunbaenim.”

“Aku mempercayaimu Hayeon-ssi.” Sunbae Oh menepuk pundak Hayeon.

Sunbae Oh pergi begitu saja. Hayeon hanya menaruh naskah-naskah itu di atas meja berniat untuk membacanya ketika di rumah nanti. Jujur dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Walaupun lelah namun dia merasa senang disini karena rekan kerjanya belum menunjukkan sifat-sifat menyebalkan seperti yang pernah dia dengar di dunia kerja dari teman-teman dekatnya.

Banyak orang mengatakan dunia kerja itu sangat menyeramkan. Banyak orang melakukan kompetisi untuk berebut gelar atau posisi teratas. Dan banyak pula orang-orang yang berniat menjatuhkan posisi orang lain demi dirinya sendiri. Jika dibayangkan semua itu sangat menyeramkan. Namun Hayeon bukanlah tipe orang yang mudah sekali menyerah.

Pulang dari kantor Hayeon menemui Hyojin di sebuah kedai. Sudah lama mereka tidak bertemu. Sejak di Seoul hanya sempat bertemu dua kali saja sebelumnya. Hyojin mulai menyantap ramyeonnya.

Jaaaa ramyeon …” serunya. Terdengar lagu Butterfly milik BTS dari siaran TV Music Show di kedai ini.

“Hayeoni apa kau masih ingat orang itu? Bukankah dia adik kelas kita sewaktu SMP?” tanya Hyojin. Hayeon menoleh ke arah TV dan tersedak tiba-tiba ketika melihat wajah close-up Jimin yang di-shoot. Hyojin mengambilkan air minum Hayeon agar meminumnya. Hayeon mengambil – meneguk air minum yang diberikan Hyojin.

“Yak, kau itu kenapa…?” tanya Hyojin. “Tersedak begitu saja. Gwenchanayo?” Hyojin mulai khawatir.

“Uhuk.. Uuh..” Hayeon menarik napas panjang. “Yak, kau masih mengingat Jimin?” tanya Hayeon.

“Ya .. Ya.. Ya namanya Jimin.” Hyojin berhasil mengingat namanya sembari menunjuk-nunjuk kea rah Hayeon.

“Dia tetanggaku.”

“Ah jinja aku ingat sekarang. Aku pernah bertemu dengannya waktu berkunjung ke rumahmu dulu. Jinja, dia sangat tampan sekarang. Aku tidak menyangka dia bisa sepopuler ini sekarang. Apa kau sempat menemuinya sewaktu di Busan?” tanya Hyojin.

Mm.. ne Kita bertemu waktu itu dia sedang liburan dan berada di Busan.”

“Daebak..!” seru Hyojin tidak percaya. “Apa dia benar-benar tampan?”

“Dia berbeda dari yang dulu.”

“Aaa… Jangan-jangan kau mulai jatuh cinta padanya?” goda Hyojin. Hayeon yang digoda seperti itu langsung merasa panas mendengarnya.

“Anioooo~~~” elak Hayeon.

“Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Kau menyukainya kan? Hahahaha jeongmal?”

“CHOI HYOJIN !” Hayeon mendelikkan mata ke arah Hyojin.

“Waeyo? Jika suka juga tidak apa-apa, itu kan wajar.”

“Aku tidak mungkin menyukai anak kecil sepertinya.”

“Yak, anak kecil? Tapi kau tahu uangnya banyak… Lagian kalian hanya berbeda dua tahun kalau tidak salah. Benarkan?”

“Aishh jinja kau benar-benar, aku tidak sepertimu.” Hayeon melanjutkan makannya tidak menghiraukan ucapan Hyojin.

*

Jimin  sedang duduk di studio kerjanya bersama Yoongi. Dia memainkan boneka hit monster miliknya.  Boneka hitam itu sangat mirip sekali dengannya. Hari ini dia datang ke studio untuk menemani Yoongi membuat lagu. Terkadang Jimin merasa bosan sehingga harus memeriksa handphonenya berkali-kali.

“Aishhh kenapa tidak mengabariku.” Jimin berdecak kesal membuat Yoongi terganggu. Pria berambut mint itu menoleh ke arah Jimin.

“Mwo?”

“Anio.” Jawab Jimin singkat menyembunyikan handphonenya cepat-cepat.

“Kau menunggu kabar seseorang?  Dari perusahaan apa?”

“Mwo? Anio ..” Jimin menahan tawa mendengar hyungnya yang tidak tahu dia sedang menanti kabar seseorang bukan dari perusahaan.

“Anio? Kalau begitu apa kau menghubungi Seulgi lagi?” tanya Yoongi.

“Anio hyung.”

“Wah .. Kau.. Jeongmal kau benar-benar tertutup sekarang semenjak Seulgi menolakmu.”

“Jangan meledekku.” Jimin hendak memukul Yoongi memberikan ancaman pada hyungnya yang sedang tertawa mengejeknya.

“Yak, kau mengancamku sekarang?” raut wajah Yoongi berubah menjadi seram seketika membuat Jimin sedikit takut.

“Anio hyung, aiii.. kau seram seperti itu.” Jimin mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka. Terlihat wajah tampan Sejin muncul dari balik pintu. Manajer yang sudah tau baik-buruk dari sifat mereka dan terlihat selalu sabar disamping mereka.

“Kalian harus kembali ke dorm. Besok ada pertemuan dengan Produser SKT untuk membahas CF yang akan kalian tayangkan. Dan juga lanjut jam 7 malam kalian harus tiba di CECI Magazine untuk photoshoot dan interview.” Jelas Sejin memberi pengarahan.

“Ne hyung .” jawab Jimin dan Yoongi serempak.

*

Malam hari di aparetemen baru Hayeon di Seoul-Gangnam. Sudah tiga minggu Hayeon tinggal di apartemen itu berarti sudah tiga minggu dia meninggalkan Busan. Hayeon dengan rambut tergulung handuk sehabis keramas – mengunyah kimchi ditangannya yang diwadahi mangkuk kecil. Malam ini dia benar-benar lapar padahal baru saja tadi dia bertemu Hyojin untuk makan malam.

Hayeon duduk membuka isi tasnya mengeluarkan naskah interview yang diberikan senior Oh tadi saat dia bekerja. Dia mencoba untuk membaca dan memahami apa yang harus dia tanyakan besok. Hayeon mulai memegang naskah itu dan membaca kata di awal. Dia melihat tulisan Bangtan Sonyeondan pada naskah membuatnya teringat sesuatu.

Bang-tan.. So-nyeon-dan?” Hayeon memikirkan sesuatu seperti tidak familiar dengan nama ini. Seperti pernah membacanya disuatu tempat. Dia mencoba mengingat lagi belakangan ini apa yang dia lakukan sampai pernah merasa dejavu pernah mendengar nama tersebut.

Dia tiba-tiba teringat pada dirinya senidiri yang sebelumnya sempat mencari hal yang berbau Jimin di Youtube dan dia menemui tulisan BTS Bangtan Sonyeondan dengan huruf hangul. Hayeon menjatuhkan mangkuk kecilnya tersadar dengan semua itu. Itu artinya apaka besok dia akan bertemu dengan Jimin?

“Besok?”

*

Pagi-pagi sekali dia datang menemui Oh sunbaenim yang mejanya terletak diseberang dengan meja kerjanya. Hayeon terlihat gugup dan terhenti sejenak memikirkan kata-kata yang harus dia lontarkan untuk menolak tawaran interview itu. Hayeon berpikir keras namun tidak mendapatkan keberanian hingga dia menahan napasnya dan spontan menggigit bibirnya.

Oh Sunbaenim yang sedang duduk menatap komputernya menoleh ke samping karena merasa seperti ada seseorang yang sedang menungguinya. Oh Sunbaenim mendapati Hayeon yang sedang berdiri dihadapannya saat ini.

“Waeyo?”

“Ngg.. Mengenai interview yang kau suruh..”

“Waeyo? Apa kau menemukan kesulitan?”

Hayeon menghela napas sebelum dia benar-benar akan mengucapkannya. “Anio, aku tidak bisa melakukannya..”

Oh Sunbaenim terdiam. Dia tidak menjawab pernyataan Hayeon.

“Waeyo?”

“….” Hayeon tidak bisa menjawabnya. Oh Sunbaenim menyunggingkan senyum sinisnya membalikkan badannya lagi kea rah computer – melanjutkan tugasnya mengetik laporan untuk meeting nanti. Dia mengabaikan Hayeon yang sedang gelisah.

“Kau bisa saja menolak tawaranku tapi kau akan mendapatkan kesulitan Hayeon. Kukira kau akan sangat professional. Aku peduli padamu sampai kuberikan pengalaman yang bagus untuk mewawancarai artis yang sedang naik daun kalau saja tidak ada event ulang tahun majalah pada pertengahan tahun ini dan semua sedang fokus mengerjakan kegiatan itu, hanya kau seorang yang tersisa. Kau akan mendapat masalah karena aku akan mengangkatnya ke dalam morning briefing. Jika Direktur Jang tahu kemungkinan kau bisa dikeluarkan dan membayar penalty karena telah melanggr kontrak.” Jelas Oh sunbaenim dengan tenang. Hayeon memejamkan mata mendengar ucapannya seakan-akan mendapatkan mimpi buruk pagi ini.

*

Jimin benar-benar tidak tahu bahwa Hayeon bekerja di Ceci Magazine sehingga mereka bertemu lagi dalam waktu sebulan. Pria berambut orange itu terkejut ketika melihat Hayeon memasuki studio photo. Hayeon terlihat menghindari kontak mata ketika Jimin menatapnya. Dia merasa gugup, benar-benar gugup walaupun mencoba menyangkal rasa gugupnya dengan berekspresi normal. Dia harap semoga Jimin tidak menangkap kegugupannya.

“Anyeong Haesyo, aku Lee Hayeon dari team editor yang akan mewawancarai kalian setelah melakukan photshoot. ” Ujar Hayeon menundukkan kepala sekilas.

“Aak! Nuna !” seru Jungkook ketika mengingat Hayeon. Jungkook membuat hyung-hyungnya menoleh ke arahnya. Hayeon meringis menatap Jungkook. Sesungguhnya dia keberatan bertemu Jimin hari ini.

“O, Jeon Jungkook, Kau mengenal gadis cantik ini?” tanya Hoseok.

“Dia teman Jimin hyung, aku mengenalnya sewaktu liburan kemarin.” jawab Jungkook.

“Aah teman Jimin? Dari Busan juga?” tanya Hoseok yang kini menoleh ke arah Jimin. Jimin salah tingkah dibuatnya. Pria itu mendekati Hayeon – menarik tangan Hayeon mengajaknya keluar dari ruangan ini. Sesampainya di luar Hayeon melepas tangan Jimin.

“Yaak.. Apa-apaan kau?” tanya Hayeon.

“Nuna, kau bekerja ditempat ini?” tanya Jimin.

“Ne.” jawab Hayeon tanpa melihat mata Jimin.

“Kau tidak memberitahuku.”

“Apa aku harus memberitahumu?” Hayeon menoleh ke arah Jimin.

“Tentu saja. Kita adalah teman masa kecil. Kenapa kau tidak menghubungiku nuna? Kau tidak mengenal Seoul dengan baik. Apa ada yang mengganggumu selama di Seoul?” Jimin merasa cemas. Hayeon tercengang mendengarnya. Mendengar ucapan Jimin dia merasa Jimin ingin dikabari.

“Aku kira kau sangat sibuk. Bukankah kau sudah tahu bahwa aku sudah di Seoul? Kau bisa mengirimiku pesan, kan?”

“Anio, aku kira kau masih di Busan.”

“Kau juga bisa bertanya pada Taeran.”

“Taeran akan curiga jika aku bertanya tentangmu padanya.”

“Curiga kenapa? Bukankah kita teman masa kecil?”

“Yak, bodoh. Biarpun begitu Taeran akan memandang aneh jika aku menayakan apartemenmu karena hanya ada aku dan kau saja disana. Kau pikir Taeran akan mengijinkanku?”

“Jadi sekarang kau sudah bisa meledekku lagi, Jimin? Bukankah kau sudah mempunyai nomor handohoneku?”

“Kau berharap aku menghubungimu?”

Hayeon terdiam. Entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Pertanyaan Jimin membuatnya tersadar bahwa Jimin tidak menganggap dirinya penting.  Jimin merasa ucapannya membuat Hayeon terdiam. Dia terlalu gugup untuk bertemu Hayeon disaat yang tiba-tiba seperti ini. Tiba-tiba pintu terbuka dan Yoongi terlihat dari balik pintu. Dia sempat melirik Hayeon.

“Jimin, photoshoot akan dimulai.” Ujarnya datar. Yoongi kemudian masuk ke dalam. Seperti biasa sifatnya sangat dingin seperti es. Hayeon masuk ke dalam duluan meninggalkan Jimin. Dirinya menyusul Hayeon kemudian.

Jimin mulai melakukan photoshoot dengan tema putih. Mereka menggunakan pakaian putih-putih dari endorsment dan masing-masing memegang parfum. Hayeon berusaha untuk tidak melihat photoshoot itu tapi dia sangat penasaran dengan Jimin. Tidak sengaja dia melihat ke arah Jimin yang sedang berpose dihadapan kamera.

Hayeon berdebar melihatnya. Dia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah yang lain lagi. Dia benar-benar tidak fokus. Pikirannya terus tertuju kea rah Jimin.

“Nuna!” seru Jungkook. Hayeon menoleh dan melihat pria disebelahnya.

“Jungkook-ssi.”

“Ah kau masih mengingatku rupanya.”

“Harusnya aku yang berbicara seperti itu.”

“Kau bekerja disini?”

“Ne, baru berjalan tiga minggu.”

“Jadi kau tinggal di Seoul?”

“Ne. Aku menyewa apartemen di Seoul.”

“Seingatku kau tidak begitu mengenal Bangtan. Kau harus mengenalnya. Disebelah Jimin hyung itu Hoseok hyung tapi ketika berada di stage kami memanggilnya J-hope.” Jungkook menunjuk pria disebelah Jimin yang sedang melakukan photoshoot. “Dan pria yang lagi satunya adalah Jin Hyung. Kau menyukainya pasti dia yang paling tampan di Bangtan.” Hayeon melihat ke arah Pria satunya disebelah Hoseok.

“Dua orang yang disana rambut pink dan hijau mint, dia Yoongi hyung dan Namjoon Hyung. Rambut hijau mint bernama Yoongi hyung dia sering dipanggil Suga dan sebelahnya biasa dipanggil Rap Monster. Aku memanggilnya Namjoon hyung, he he.” Jungkook benar-benar berniat memperkenalkan membernya kepada Hayeon. Hayeon melihat Yoongi dan Namjoon yang sedang sibuk berbicara serius.

“Hai”

Seseorang memanggil mereka berdua. Hayeon menoleh ke belakang begitu juga dengan Jungkook. Hayeon melihat pria yang tersenyum sangat cute ke arahnya memperlihatkan gigi rapatnya. Sangat manis.

“Hyung !”

“Kookie, apa ini target barumu? Biasanya kau tidak biasa di dekat wanita yang belum dikenal.” Bisik Taehyung.

“Anio, hyung. Dia teman Jimin hyung. Aku sudah mengenal noona sebelumnya. Kau tahu dia tidak mengenali grup kita yang sedang terkenal sekarang.” Bisik Jungkook. Hayeon bisa mendengar bisikan kedua pria dihadapannya.

“Waeyo?” tanya Taehyung tidak terima karena ada yang tidak mengenal grupnya.

“Aku sangat lama tinggal di Amerika dan baru kembali sebulan yang lalu.” Jawab Hayeon. “Kalian tidak usah berbisik seperti itu.” Hayeon tersenyum.

“Ah, noona kenalkan dia Taehyung kami biasa memanggilnya V di atas panggung. Dia sangat baik dan seumuran dengan Jimin hyung.” Jungkook memperkenalkan Taehyung yang mulai menjabat tangannya.

“Kau benar-benar tidak mengenalku? Aku Taehyung, kau bisa memanggilku Taehyung, Taetae atau V. Tapi aku lebih suka dipanggil TaeTae.” tanya Taehyung.

“Kalian penuh dengan nama stage.” Ujar Hayeon.

Taehyung tersenyum memperlihatkan gigi-gigi rapatnya. “Noona, apa kau benar tidak mengenali kami?” tanya Taehyung sekali lagi. Sepertinya dia ingin memastikan sekali lagi pada Hayeon. Hayeon menyahut dengan menggelengkan kepalanya.

“Daebak ! Ada yang tidak mengenal kita.” Seru Taehyung pada Jungkook. “Jadi kau teman masa kecil Jimin?” tanya Taehyung yang masih penasaran dengan Hayeon. Taehyung sangat cepat sekali akrab dengan orang yang baru dikenalnya.

“Ne.”

“Jimin itu tidak punya teman. Kau juga Kookie.” Ujar Taehyung. Jungkook malah mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Orang itu tidak punya teman? Apa dia dimusuhi banyak orang?”

“Anio, pria lembut sepertinya tidak mungkin punya musuh banyak. Hanya saja dia terlalu pemalu untuk berbaur.” Sambung Taehyung menceritakan Jimin. Hayeon memperhatikan Jimin ketika Taehyung mengatakan hal seperti itu tentang Jimin.

Tidak lama Hayeon melakukan interview dengan anak-anak Bangtan. Mereka menjawab dengan baik dan tepat sehingga Hayeon tidak perlu lama-lama melakukannya. Hayeon mulai bisa berbaur dengan member mereka sangat ramah dan baik. Apalagi J-hope sempat menggoda dirinya. Tidak sengaja dia dan Jimin saling pandang. Hayeon cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah Jin yang menanyakan sesuatu padanya. Dirinya terselamatkan.

*

Hayeon membuka pintu kamarnya dan terlihat kamarnya yang gelap. Dia menutup dan mengunci pintunya lalu beranjak menghidupkan lampu. Dia melepas heels merahnya dan melangkah ke dalam. Hayeon merebahkan tubuhnya di sofa melepas cardigan dan tasnya ke lantai.

“Noona, aku pulang. Selamat atas pekerjaan barumu dan aku tidak menyangka pekerjaan pertamamu adalah mewawancaraiku.”

Hayeon teringat dengan kata-kata terakhir Jimin. Suara pria itu yang sangat lembut kurasa dia sangat merindukannya saat ini. Entah kapan dia akan bertemu Jimin lagi. Rasanya dia ingin mengulang moment-moment berdua bersama Jimin sewaktu di Busan. Disaat mereka dipertemukan di umur yang dewasa. Semua terasa berbeda.

‘Teeett.. Teeettt….’

Hayeon mengernyitkan keningnya ketika mendengar bel berbunyi. Dia hanya penasaran siapa tamu yang berkunjung malam-malam ke apartemennya. Dia berpikir mungkin saja Hyojin mengunjunginya karena dialah satu-satunya orang selain keluarganya yang tahu dimana apartemennya. Hayeon beranjak malas untuk membuka pintunya.

“Neee…” sahut Hayeon.

Hayeon membuka pintu dan terkejut melihat seorang pria yang kepalanya tertutup tudung hoodie hitamnya, tak lupa juga masker putih dan kacamata hitamnya.

“J-jimin …”

Hayeon menutup mulutnya tidak percaya Jimin ada disini. Di apartemennya. Dia benar-benar tidak percaya. Apa yang dilakukan pria itu disini? Hmm.. Tepatnya dia penasaran darimana tahu alamatnya? Apa Jimin mengikuti dirinya sewaktu dirinya pulang bekerja? Dan apa tujuan pria itu datang ke tempatnya? Mereka berdua saling tatap.

 

TBC,

 Halooo semua ini author Hanwoo^^

Akhirnya part 5 rilisssssss…… ahhh Jiminaaaa… Sayangnya prospek Love in trap sedikit sekali yang komentar mungkin Army belum ada yang tahu FF Jimin disini^^ Yah, terima kasih buat kalian yang sudah mau baca. Thank youuuu~~~ Aku butuh komentar kalian tentang part ini. Terima kasih.

 

Iklan

2 thoughts on “[5] Love in the Trap

  1. Cie cie ada yg kangen nich smpe nggu kbar lagi,,,,,sampe ghag mau saling pandang lagi apa hayeon kecewa ghag di kasih kbar sama jimin,,,wah jimin dpat alamat apartemennya hayeon dari mna ya kok bisa tau apa jimin ngebuntutin hayeoen ke apartemennya :

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s