My Fair Lady [ Chapter 8]

tumblr_ntr42sduis1spqhdqo4_1280

Title : My Fair Lady (Chapter 8)

Author : Minji

Cast : Cho Kyuhyun – Kang Minji – Park Chanyeol – Han Bomi – Choi Siwon – Cho Hyemi – Kang Jihyuk – Jang Yonghee and others

Genre : Romance, Family

Length : Chapter

 

—————————–

Malam itu, Minji duduk di teras depan rumah dengan gelisah. Buku novel terbaru yang ia beli tergeletak begitu saja di atas meja dan tentu tak terbaca ditemani secangkir minuman cokelat yang mulai mendingin dan masih tersisa setengahnya. Minhyuk adiknya sempat beberapa kali menengok ke luar dan bertanya ada apa, siapa yang ia tunggu, namun Minji hanya meminta Minhyuk untuk masuk saja.

Pukul 10 malam, dan Kang Jihyuk belum pulang. Minji yakin ayahnya sejak tadi berada di rumah sakit dan begitu juga dengan Cho Kyuhyun, Park Chanyeol, lalu semua anggota keluarga Cho beserta orang-orang kepercayaan Cho Hyemi.

Meskipun tidak begitu dekat dengan Nyonya besar, Minji turut khawatir. Mendengar kejadian yang menimpa wanita tua itu tadi sore saat ia sedang menikmati pertemuan luar biasanya dengan Cho Kyuhyun, Minji tentu ikut merasakan kesedihan. Ia belum mendengar kabar apapun.

Yah— lagipula siapa yang akan mengabarinya? Ia bukanlah siapa-siapa. Ia bahkan merasa tidak berhak menghubungi Kyuhyun dan menanyakan bagaimana kabar neneknya. Minji juga takut jika menelepon ayahnya dan bertanya macam-macam karena sepertinya pria itu akan tidak suka dengan rasa khawatirnya yang bisa saja dianggap berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Baiklah. Haruskah ia menelepon Chanyeol? Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Nyonya Cho Hyemi. Minji sudah akan menekan nomor Chanyeol di kontaknya ketika kemudian suara mobil dan klakson terdengar di luar pagar.

Ayahnya akhirnya pulang.

**

“Kau sudah makan?”

Jihyuk bertanya pada putrinya yang sedang duduk menemaninya di meja makan. Minji menggeleng dan tersenyum, sebagai tanda bahwa ia sudah makan dan Jihyuk bisa mulai menikmati makan malamnya sendirian. Tentu saja Jihyuk percaya karena tidak mungkin Minji dan Minhyuk belum makan malam hanya karena menunggunya.

“Ayah darimana? Mengapa baru pulang?” Minji berbasa-basi, memancing Jihyuk tentu saja. Pria itu menghentikan makannya sejenak, meneguk air putih.

“Presdir jatuh pingsan. Tekanan darahnya naik, begitu kata dokter. Saat aku pulang ia belum sadarkan diri. Aku di rumah sakit sejak sore tadi.”

Minji diam saja. Ia tentu sudah tahu. Dan Nyonya Cho belum sadar. Ya Tuhan, semua orang pasti sedang cemas, termasuk Kyuhyun. Bahkan Minji bisa melihat beban di wajah ayahnya. Pria itu sangat lelah. Meskipun bukan anggota keluarga, Minji tahu jiwa ayahnya. Pengabdiannya pada keluarga Cho tidak usah diragukan lagi.

“Apa semua akan baik-baik saja? Ayah terlihat sangat lelah. Apa perusahaan baik-baik saja?”

“Kurasa beberapa waktu ke depan akan sangat berat dan aku akan lebih sibuk dari biasanya. Rapat pemegang saham akan diadakan akhir minggu ini dan itu tanpa presdir. Rapat itu tidak bisa dibatalkan, dan sesuai perintah presdir , Cho Kyuhyun akan diikutkan dalam rapat itu, untuk pertama kalinya.”

Begitukah? Jadi Kyuhyun akan bergabung pada akhirnya?” gumam Minji dalam hati.

Tanpa Minji sadari, Jihyuk memperhatikannya. Jelas terlihat ada sesuatu dalam diri putrinya ketika ia menyebut nama Cho Kyuhyun.

“Kau masih sering bertemu Tuan Muda?”

“Oh?” Minji seketika menatap ayahnya. Ia tidak menyangka tiba-tiba saja Jihyuk akan bertanya hal seperti itu padanya.

“Tuan Muda yang mana?” Minji sedikit bergurau. Maksudnya, ia mengenal kedua tuan muda di keluarga Cho. Jihyuk juga sedikit tersenyum.

“Cho Kyuhyun. Apa kalian masih sering bertemu?”

Minji merasa kesal. Mungkin kini ia harus berbohong lagi.

“Aku tidak punya alasan lagi untuk bertemu dengannya.” jawab Minji. Jihyuk menatap putrinya dan tersenyum.

“Bagaimana di kampus? Apa ada masalah?”

“Tidak ada. Semuanya baik. Hari ini aku mendengarkan presentasi mahasiswaku. Senang rasanya mereka serius mengikuti mata kuliahku.” Cerita Minji. Dan Jihyuk kembali tersenyum.

Seusai mengobrol dan menemani ayahnya makan malam, Minji masuk ke kamar dan segera naik ke atas tempat tidur. Dari cara ayahnya bertanya, terlihat jika pria itu kurang menyukai fakta jika ada sesuatu antara dirinya dengan Cho Kyuhyun. Minji jadi penasaran dengan itu. Apa hanya karena mereka berbeda derajat? Apa jika ia memiliki perasaan terhadap Cho Kyuhyun maka akan menjadi sebuah masalah besar?

Minji sedang tidak ingin memikirkan itu sekarang. Ia tersenyum sambil memeluk bantal gulingnya. Pertemuan singkatnya dengan Cho Kyuhyun sore tadi sungguh sangat berkesan. Minji pikir itu pertama kalinya mereka berbicara hal-hal yang tidak penting dan tertawa bersama meskipun tidak mencolok.

Kyuhyunlah yang mengungkapkan ingin bertemu dengannya dan mengobati kekecewaan Minji. Apa itu berarti Kyuhyun sudah mulai memikirkannya? Ah— maksudnya, mempertimbangkan Minji sebagai salah satu teman yang bisa ia percaya untuk mendengar obrolannya? Apapun itu, menjadi orang terdekat kyuhyun adalah hal yang menakjubkan.

Dan Minji berdebar— setiap kali mengingat bagaimana Cho Kyuhyun menatapnya begitu dekat, sangat dekat hingga hangat nafas Kyuhyun terasa menabrak hidungnya. Wajahnya bisa merona seketika tiap kali mengingat sore tadi sebelum mereka berpisah.

Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan Kyuhyun ketika berada di dekatnya? Dan andaikan ayahnya tidak menelepon Kyuhyun untuk memberitahukan soal neneknya, apa yang akan Kyuhyun lakukan terhadapnya?

Mengapa Minji berpikir yang tidak-tidak? Sungguh kurang ajar dan tidak sopan karena ia berpikir Kyuhyun mungkin akan menciumnya, menyatukan bibir mereka dan memberikan Minji ciuman pertama dalam hidupnya.

Membayangkan itu semua, membuat wajahnya panas, dan ada semacam gelenyar aneh yang menyebabkan jantungnya terus berdebar.

Ia rindu Cho Kyuhyun— secara tiba-tiba.

————————-

Tiga hari berlalu, dan Cho Hyemi masih dirawat di rumah sakit meskipun wanita itu sudah sadar. Kondisinya belum pulih dan ia harus banyak beristirahat. Dokter juga menyarankan agar Hyemi mulai mengurangi bahkan berhenti sementara dari segala urusan pekerjaan yang hanya akan membuat beban pikirannya bertambah banyak. Sederhananya, wanita tua itu butuh banyak istirahat.

Siang itu, karena tidak begitu sibuk Chanyeol mencuri waktu dan kesempatan untuk memenuhi keinginan seseorang. Ia sudah berjanji akan mengantar Minji menjenguk Nyonya Cho di rumah sakit. Menurut Chanyeol, jam-jam siang adalah saat di mana tidak ada anggota keluarga mereka yang datang menjenguk karena semuanya sibuk di kantor.

Setelah menjemput Minji di kampusnya begitu usai jam mengajarnya hari itu, Chanyeol langsung membawa Minji ke rumah sakit. Tentu saja Minji meminta Chanyeol merahasiakan hal itu terutama juga dari ayahnya meskipun sebenarnya tujuan Minji adalah baik, karena ia benar-benar memikirkan kesehatan Nyonya Cho.

Chanyeol melihat sekretaris neneknya berjaga di luar, dan keduanya terkejut ketika melihat bahwa bukan hanya mereka tamu yang datang membesuk Nyonya besar siang itu.

Cho Kyuhyun sedang duduk sisi neneknya, terlihat berbicara serius dengan sang nenek. Melihat kedatangan Chanyeol dan Minji, Kyuhyun sangat terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. Namun Cho Hyemi, ia tersenyum melihat siapa yang datang menjenguknya selain kedua cucu kesayangannya.

“Nona Kang, kemarilah. Mendekat padaku.” Suara parau Hyemi membuat Minji merasa sungkan. Sejak mengetahui ada Cho Kyuhyun di dalam, fokus Minji mulai berubah dan ia jadi tidak tenang. Matanya selalu berusaha menjangkau Kyuhyun dan pria itu terlihat sangat terkejut dengan kehadirannya.

Chanyeol hanya diam saja. Ia mungkin paham situasi macam apa yang sedang dihadapinya. Pria itu menyapa Kyuhyun dan berbasa-basi.

“Nyonya, aku khawatir mendengar tentang anda. Jadi aku datang. Apa anda sudah merasa baikan?”

“Aku sudah baikan. Dan akan semakin baik karena kau menjengukku.” Hyemi tersenyum, dan Minji juga.

“Aku membawa buah-buahan segar. Apa anda mau makan? Aku akan mengupasnya untuk anda, Nyonya.” Tawar Minji. Hyemi tersenyum. Ia sangat menyukai gadis ini, supel dan pintar menempatkan dirinya.

“Waah, kau hanya menawarkan nenek. Apa aku tidak akan kebagian?” Chanyeol turut berbasa-basi. Hyemi dan Minji tertawa, namun Kyuhyun tidak.

“Baiklah, akan kupotong juga bagianmu. Kyuhyun-ssi, kau mau juga?” Minji menawarkan. Kyuhyun menatapnya kikuk.

“Boleh saja.” Jawab pria itu datar.

Minji mengambil pisau dan mengupas buah yang dibelinya. Hyemi memperhatikan gadis itu dan juga mengamati tingkah cucu tertuanya. Kyuhyun terlihat canggung dan sesekali mencuri pandang ke arah Minji. Hyemi sangat yakin, cucunya menyukai Minji. Meskipun mereka sudah berjauhan dan tidak dekat lagi entah karena persoalan apa, Hyemi percaya Kyuhyun dan Minji masih memiliki ketertarikan satu sama lain.

Ya— itulah yang Hyemi pikirkan.

“Kyuhyun –ah, Chanyeol-ah. Bisakah kalian keluar sebentar? Ada yang ingin kubicarakan dengan Nona Kang.”

“Hmm, Nenek mencurigakan. Mengapa kami tidak boleh dengar?” Chanyeol protes.

“Urusan wanita.”

“Hahahhaha.” Chanyeol tertawa. Minji hanya tersenyum gugup. Terus terang ia sangat takut jika harus ditinggal berdua saja dengan Nyonya besar.
Apalagi kemudian, Chanyeol dan Kyuhyun benar-benar pergi.

**

Kyuhyun dan Chanyeol duduk berdua di atap rumah sakit ditemani dua cup kopi instan yang dibeli Chanyeol di cafetaria rumah sakit. Chanyeol  masih dengan setelan kantor lengkap dan Kyuhyun yang terlihat santai dengan kaos dan jeans dibalut jaket kulit berwarna cokelat .

“Jadi bagaimana keputusannmu, Hyung? Kau akan hadir bukan?”

“Aku tidak punya pilihan. Dan lagi sakitnya Nenek membuatku merasa bersalah. “

“Akhirnya kau kalah juga.” Chanyeol tertawa.

“Bukan kalah. Aku hanya mengalah, demi kebaikan semua orang.”

Chanyeol meneguk kopinya. Angin yang seidkit kencang menerbangkan rambut keduanya.

“Kalau saja aku bisa. Aku juga ingin sepertimu. Lari dari kenyataan dan hidup dengan membawa gitarku kemana-mana. Menciptakan lagu, mencari produser dan menjual laguku. Aku pasti akan terkenal dengan mudah.”

“Kau menyindirku? Brengsek.” Kyuhyun tertawa.

“Seniman seperti kita payah. Mungkin itu kenapa banyak seniman berawal dengan tidak punya uang. Jika keluargamu kaya raya, sebaiknya sejak awal kau tidak memiliki tekad dengan seni yang kau miliki. Jadinya ya seperti kita ini. Pada akhirnya berakhir dengan urusan saham dan pertemuan yang membahas hal-hal membosankan.” ujar Chanyeol.

“Kau sudah terlibat dan masih mengeluh. Bagaimana denganku?”

“Hahhahah, Hyung! Aku senang jika kau juga terlibat. Jadi aku tidak merasa bodoh dan bosan sendirian. Setidaknya kantor akan menarik dengan adanya dirimu.”

“Anggap saja aku pura-pura. Aku akan cari cara untuk kabur secepatnya.” Kyuhyun menegak kopinya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana bisa Minji-ssi datang? Kalian sungguh dekat. Aku jadi cemburu.”

Chanyeol tersenyum kecil, menatap langit di atas kepalanya.

“Hati-hati dengan perkataanmu. Kau bisa cemburu sungguhan nanti.”

Kyuhyun tertawa. Chanyeol juga tertawa. Kyuhyun hanya memikirkan bagaimana kedekatan Minji dan Chanyeol. Tak ada yang ia tahu soal itu, karena Chanyeol tidak pernah membicarakan jika ia mengenal dan dekat dengan teman perempuan sebelumnya.

“Menurutmu apa yang dibicarakan Nenek dengannya?” tanya Chanyeol.

“Aku tidak tahu. Mungkin membicarakanku.”

“Itu sudah pasti. Rasanya nenek menyukai Minjii. Sekian lama berteman dengannya, aku baru tahu Nenek perhatian padanya.”

Kyuhyun diam.

“Bagaimana kalian bisa dekat?” tanya Chanyeol lagi. Nadanya terdengar serius.

“Entahlah. Kami tidak sedekat itu. Percayalah.” Kyuhyun melirik sepupunya.

“Aku merasa ditusuk. Minji temanku, dan kau orang terdekatku. Tapi aku tidak tahu apa-apa soal kalian.”

“Hey, jangan dianggap serius. Dia orang yang menarik untuk diajak bicara. Itu saja.” Kyuhyun memberikan pembelaan.

Hyung, dia bukan pelarian bukan?”

“Apa maksudmu? Sudah kukatakan jangan terlalu serius.”

“Baiklah. Mari jangan terlalu serius. Namun tetap saja, aku khawatir. Kuharap, ia bukan pelarian.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Entah apa maksud perkataan Chanyeol.

**

Entah bagaimana ceritanya, sore itu Minji diantar pulang dari rumah sakit oleh Kyuhyun. Chanyeol tiba-tiba menerima telepon penting yang mengharuskannya segera tiba di kantor dan dengan sangat menyesal tidak bisa mengantar Minji ke kampus untuk mengambil mobilnya.

“Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkanmu. Aku bisa pulang naik taksi.” Minji tersenyum saat Chanyeol meminta maaf karena harus meninggalkannya.

Dan atas perintah Nyonya Cho, Kyuhyunlah yang pada akhirnya mengantar Minji. Jika sudah perintah sang nenek apalagi ketika wanita tua itu sedang sakit, tentu tidak baik jika Kyuhyun menolaknya.

Terlepas dari itu semua, Kyuhyun sama sekali tidak keberatan mengantar gadis yang belakangan mengusik pikirannya entah karena apa, dan Minji tentu bersorak senang diantar oleh pangeran berkuda putihnya.

Butuh waktu satu jam dari rumah sakit ke kampus Myongji. Lima belas menit pertama, tidak ada obrolan berarti di antara mereka selain Minji yang mengomentari lagu yang diputar dari CD musik milik Kyuhyun.

Minji baru tahu jika Kyuhyun menyukai lagu-lagu milik Sung Shikyung. Kyuhyun mengaku ia suka mendengar lagu-lagu Sung Shikyung dan bahkan mengoleksi CDnya.

“Kau suka lagu siapa?” Kyuhyun bertanya.

“Aku? Hehhehe.”

“Kenapa tertawa?”

“Aku suka Shinhwa.”

“Tipikal sekali. Dasar wanita.” Kyuhyun menggumam dan tersenyum. Ibunya bahkan juga menyukai grup pria legendaris Korea Selatan itu.

“Tapi sekarang aku menyukai SNSD. Cantik dan panutan semua wanita.” Minji mulai bercerita lebih. “Kau pasti juga suka SNSD, kutebak?”

Kyuhyun tertawa. “Aku tidak suka.”

“Kenapa? Kau bukan laki-laki normal. Bahkan Profesor Kim juga mengidolakan mereka.”

“Bukan begitu. Hanya saja, mereka itu wanita atau boneka?” Kyuhyun tertawa lagi. Baiklah. Mungkin tipe gadis idaman Kyuhyun bukan wanita – wanita seperti para member SNSD itu. Dan Minji cukup tertarik untuk mengembangkan obrolan menjadi lebih jauh seperti ‘Bagaimana tipe wanita idealmu?’

Namun yang pada akhirnya ia sampaikan adalah “Lalu yang bagaimana yang kau sebut wanita?”

Menakjubkan. Minji berani bertanya seperti itu. Ia harap jawaban Kyuhyun akan jauh dari makhluk bernama Han Bomi.

“Wanita itu— bagaimana ya? Susah juga. Aku bukan pakarnya.”

Minji tertawa. Kyuhyun ternyata punya selera humor meskipun sedikit, dan ia ternyata bisa bicara banyak hal yang tidak penting.

“SNSD adalah kumpulan wanita cantik dan berbakat. Mereka bisa menyanyi, menari, akting—“ Minji melanjutkan.

“Menurutku, wanita itu yang seperti Ibuku. Dan juga sepertimu.”

Minji tertegun, dan berdebar. Apa maksudnya ini? Cho Kyuhyun sepertinya menjadi orang aneh sejak ditinggal menikah oleh cinta pertamanya. Namun Minji senang bukan main, sangat bahagia. Setidaknya kini ia tahu, bagi Kyuhyun ia adalah wanita. Tentu saja. Ia tidak punya penis dan jakun, jadi ia adalah wanita.

Kang Minji, apa yang kau pikirkan?

“Bagaimana dengan Nyonya besar?”

“Nenek?” Minji mengangguk.

“Dia bukan wanita. Dia monster. Hahahhaha.” Dan Kyuhyun tertawa.

“Kau menyebut nenekmu sendiri sebagai monster. Cucu yang durhaka.”

“Hey. Aku tidak bercanda dalam memberinya sebutan ini. Ia menaklukkan kakekku, ayahku, dan kini ia juga mencoba menaklukkanku. Itulah kenapa nenek berumur panjang dan tetap bersemangat. Ia sudah memarahi banyak laki-laki selama hidupnya. Belum termasuk sekretarisnya, semua manajer, dan mungkin ayahmu.”

Kyuhyun bercerita panjang lebar dan Minji mendengarkan dengan antusias. Ia sangat bahagia bisa menikmati obrolan ringan seperti ini. Tidak ada lagi sandiwara untuk mengelabui Han Bomi, karena kini mereka mungkin sudah menjadi teman.

Kyuhyun jika tertawa dan terlihat normal seperti ini— sungguh tampan. Minji sangat menikmati berada di dekat Kyuhyun. Kedua tangan tegas dan bersih yang memegang kemudi, garis dan lekuk wajahnya yang memang terlahir sebagai keturunan chaebol, dan aroma parfumnya yang Minji sangat penasaran dengan merk yang dipakai Kyuhyun. Chanyeol juga wangi, namun Kyuhyun memiliki wangi yang menenangkan. Mungkin itu karena efek Minji yang menyukainya.

“Ngomong-ngomong— apa saja yang dikatakan nenek padamu?”

“Kapan?”

“Tadi. Dia sampai menyuruhku dan Chanyeol pergi. Seakan kalian punya bisnis rahasia. Apa dia membicarakan warisan?”

Minji tertawa. “Kau berharap nenekmu cepat mati ya?”

“Hahhaha. Jadi apa yang dia bicarakan serahasia itu denganmu?”

“Tidak ada yang penting.”

“Tidak mungkin. Aku tahu nenek. Dia pasti membahas tentang kita, setidaknya dia pasti mengintrogasimu. Benar kan?”

“Sedikit. Namun dia tidak banyak bertanya. Dan kurasa dia percaya pada apa yang kau katakan. Jadi selebihnya kami membicarakan ayahku dan sedikit tentang masalah perempuan.”

“Hmm, sepertinya aku harus percaya meskipun aku tidak sepenuhnya percaya.” Kyuhyun berdeham curiga.

“Nyonya orang yang menyenangkan. Ini adalah pertama kali aku berbicara dekat dengannya tanpa rasa takut dan khawatir jika ucapanku akan menyinggungnya atau kurang sopan.” Gumam Minji.

Kyuhyun diam saja.

Di dalam kepalanya, Minji tentu teringat lagi apa yang sebenarnya Nyonya Cho bicarakan dengannya. Wanita tua itu tidak membahas dan bertanya soal hubungannya dengan Kyuhyun, melainkan ia bercerita banyak tentang cucu sulungnya yang tidak penurut itu.

Kyuhyun yang menjadi pendiam sejak ayahnya meninggal. Kyuhyun yang tidak pernah betah berlama-lama di rumah keluarganya. Kyuhyun yang memiliki ketakutan saat berada di dalam ruang kerja presdir (mendiang ayahnya), Kyuhyun yang sangat cinta menggambar dan selalu menghabiskan banyak kertas saat sekolah, dan Kyuhyun yang sangat kesepian karena tidak punya banyak teman dekat untuk ia percaya.

Dan dari rentetan cerita itu, tidak sedikitpun Hyemi menyinggung soal Han Bomi yang notabene semua orang tahu adalah wanita terdekat cucunya itu.

Aku senang Kyuhyun akhirnya punya teman wanita dan betapa leganya aku karena orang itu adalah dirimu.” Tanpa sadar. Minji tersenyum sendiri mengingat kata – kata terakhir Nyonya Cho sebelum akhirnya Chanyeol masuk ke dalam dengan sedikit tergesa lalu menghentikan obrolan mereka.

Dan Kyuhyun percaya, Chanyeol mendadak memiliki urusan kantor pasti juga karena neneknya itu. Ia bisa saja menelepon orang kantor untuk memanggil Chanyeol dan membuat urusan agar cucunya itu jadi repot sehingga Minji bisa diantar oleh Kyuhyun.
Kyuhyun mengenal neneknya. Ini pasti sudah diatur olehnya.

“Apa kau terburu-buru?”

Minji menoleh. Dan tanpa ragu ia menjawab “Tidak. Ada apa?”

“Temani aku sebentar saja ke suatu tempat. Tidak apa-apa kan?”

**

Dan di sinilah Minji sekarang, duduk menunggu sambil membaca buku yang ada di dalam tas jinjingnya— menunggu Cho Kyuhyun yang sedang dicukur rambutnya. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang ada di sana, karena hampir semua yang datang adalah laki-laki.

Minji tidak pernah membayangkan ia akan masuk ke tempat cukur rambut yang mahal dan berkelas di salah satu ruas jalan di Myeongdong. Ia pernah lewat beberapa kali namun ayah dan adiknya tidak pernah mencukur rambut di tempat ini. Minji ingat ayahnya pernah bercerita bahwa tempat cukur rambut ini memang dikunjungi banyak konglomerat dan pengusaha, dan Kyuhyun juga sempat menyebutkan jika di Korea ia biasa memangkas rambutnya di tempat ini.

“Ayah sering membawaku kemari saat masih kecil.” begitu katanya. Dan otomatis Kyuhyun jadi merasa cocok dengan tempat ini.

Sesekali Minji mencuri pandang ke arah Kyuhyun yang tengah duduk dan dirapikan rambutnya oleh tukang cukur profesional, seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan. Kyuhyun terlihat tenang sambil menatap bayangan dirinya di depan cermin. Memang tampan.

Wahai Paman tukang cukur, buatlah ia setampan mungkin.” Gumam Minji dalam hati.

Kyuhyun memilih memotong pendek  rapi rambutnya. Dahinya yang biasanya sedikit tertutup poni kini terlihat jelas karena ia menaikkan poninya. Minji rasa ia akan kesulitan bernafas karena pria ini.

Well, jatuh cinta semenyenangkan ini. Apalagi jika pria yang kau cintai berada di dekatmu seperti ini, rasa senangnya berkali-kali lipat.

Hampir satu jam dan Kyuhyun telah selesai. Minji merasa seperti pacar yang sangat puas dengan hasil rambut baru pria yang dicintainya.

“Maaf menunggu lama.”

“Tidak apa-apa. Tidak lama, tidak terasa karena aku membaca.”

“Baiklah. Kau ingin makan dulu? Setelah itu kuantar mengambil mobilmu.”

“Kebetulan aku sudah lapar.”

Dan keduanya berjalan beriringan keluar dari sana. Minji dan Kyuhyun berhenti sesaat karena berpapasan dengan seseorang yang sangat tidak ingin mereka lihat. Choi Siwon tersenyum setelah beberapa detik sebelumnya juga terkejut dengan pertemuan mereka.

Pria angkuh itu seperti biasa tersenyum palsu, lalu bersikap ramah seolah mereka adalah teman lama yang tiba-tiba bertemu di tukang pangkas rambut.

“Wow— aku sungguh iri. Meskipun aku sudah menikah namun belum pernah sekalipun Bomi menemaniku mencukur rambutku. Kyuhyun-ssi, kau sungguh pria beruntung.”

“Kasihan sekali. Mungkin istrimu terlalu sibuk.” Ujar Kyuhyun. Ia sedang tidak ingin mendengar ocehan Siwon atau apapun yang menyangkut pria itu dan Bomi.

“Hmm, aku curiga apa dulu kau juga sering mengajak Bomi kemari.”
Kyuhyun tersenyum, lalu menarik tangan Minji lembut.

“Tenang saja. Dia adalah wanita pertama yang menemaniku mencukur rambut. Bomi bukanlah wanita yang sabar menunggu. Jadi kau mungkin harus ekstra keras untuk memintanya menemanimu.”

Siwon hanya tertawa, merasa kalah. Minji diam saja, tidak menyangka akan bertemu si brengsek ini di sini. Namun wajar saja Choi Siwon juga datang kemari. Bukankah ini tempat pangkas rambut mahal.

“Oh ya, kau pasti sudah sangat siap untuk rapat pemegang saham lusa nanti. Kau sampai mencukur rambutmu. Terlihat berbeda. Cho Kyuhyun rupanya memang tampan. Ini mengubah image santai dan senimanmu menjadi image seorang pengusaha. Ah, tempat ini sungguh handal dan tau apa mau pelanggan.” Siwon mengoceh lagi. Rupa-rupanya kedatangan Kyuhyun pada rapat pemegang saham itu sudah tersebar luar, entah siapa yang membicarakannya.

“Ah, Siwon-ssi. Kyuhyun oppa memotong rambutnya karena permintaanku. Tidak ada hubungannya dengan rapat atau apapun itu. Jangan terlalu berlebihan.” Minji tersenyum sopan. Entah apa yang baru saja ia katakan, yang jelas Kyuhyun menatapnya dan tersenyum.

“Oh, kau sungguh pacar yang perhatian.”

Oppa, ayo kita cari makan. Aku sudah lapar.” Minji merangkul lengan Kyuhyun, dan pria itu mengangguk paham.

“Aku pergi dulu. Tidak baik membiarkan seorang wanita kelaparan terlalu lama. Sampai bertemu nanti.” Pamit Kyuhyun. Dan Siwon hanya menatap kesal pasangan itu.

Sial— Cho Kyuhyun selalu terlihat menang. Ia bahkan punya pacar yang sama sialnya dengan dirinya. Siwon tidak menyukai keduanya. Sangat.

Di perjalanan, Kyuhyun seperti melamun. Minji tidak tahu harus berbuat apa setiap kali mengetahui Kyuhyun yang mungkin terkenang kembali karena melihat Siwon. Apa Kyuhyun tidak suka dengan sikapnya tadi? Bagaimana jika Kyuhyun merasa risih?

“Kau tidak apa-apa?”

Kyuhyun tersadar, dan menoleh. “Oh, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, thank you so much. Kau telah menjadi ‘kekasih’ yang begitu baik tadi.”

“Maaf. Aku tidak suka dengan pria sombong itu. Jadi aku merasa kesal dan melakukannya tanpa meminta persetujuanmu.”

Kyuhyun diam saja. Minji baru saja memulai lagi sandiwara mereka. Entah memang ia sadari atau tidak. Tak ada lagi obrolan karena Minji merasa tidak enak dengan Kyuhyun. Ia takut Kyuhyun menganggap sikapnya berlebihan.

“Kalau saja kita memang benar-benar sepasang kekasih.” Kyuhyun tiba-tiba menggumam. Matanya masih menatap lurus ke depan, sementara Minji refleks menoleh. Ucapan Kyuhyun baru saja— apa maksudnya?

“Kyuhyun-ssi—”

Kyuhyun menoleh, dan Minji hanya mampu menatap Kyuhyun yang terlihat menunggu ucapannya. Tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu. Pikiran dan bibirnya tidak bisa bekerja sama.

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Ah— itu—Kyuhyun-ssi, kudengar soal rapat besar itu dari ayah. Semoga hari itu berjalan lancar untukmu.”

Kyuhyun menoleh lagi, dan tersenyum. “Thanks again.”

——————————–

Rapat pemegang saham akhirnya dilangsungkan siang itu di private meeting room di lantai 15 gedung perusahaan Grup Daesang. Kyuhyun duduk tenang diapit Pamannya dan Chanyeol, sementara Bibinya, ibu kandung Chanyeol menjadi pusat rapat karena wanita itulah yang duduk menggantikan presdir yang masih terbaring di rumah sakit. Di sisi kanan terdekat, Kang Jihyuk dan beberapa manajer lain duduk sambil mengawasi jalannya rapat.

Kyuhyun sama sekali tidak tertarik dan pikirannya justru berada di tempat lain. Ia sempat memperhatikan satu-persatu mata-mata para pemegang saham yang kebanyakan adalah pria paruh baya dengan tatapan ambisi dan serakah. Praktis Kyuhyun mampu menilai bahwa yang ada dalam benak orang-orang itu hanyalah uang, uang, dan uang. Bisnis ini akan mereka jalani jika menguntungkan, dan mereka akan pergi jika dirugikan.

Dan di antara deretan mata penuh ambisi keserakahan itu, Han Jaebum adalah salah satunya dan Kyuhyun menangkap basah pria itu sempat tersenyum padanya seolah memberikan sapaan selamat datang kepadanya. Namun Kyuhyun tidak peduli. Ia lebih ingin mendengarkan Bibinya saat ini.

Cho Hara, bibinya yang merupakan adik kandung ayahnya juga adalah seorang wanita handal yang sesungguhnya sangat diandalkan oleh neneknya. Hara menikah dengan Park Jungsoo yang dulunya adalah seorang pengusaha mebel namun bisnis suaminya itu bangkrut karena peristiwa kebakaran yang menimpa pabriknya bertahun-tahun silam. Hyemi merasa kasihan pada nasib putrinya jadi ia memutuskan untuk mengajak kembali Hara untuk tinggal di rumahnya bersama dengan suami dan anaknya, apalagi waktu itu Hyemi sangat kesepian setelah kehilangan sosok suami tercintanya.

Karena kesulitan keuangan, Jungsoo menjual rumah mereka lalu memutuskan untuk ikut dengan istrinya. Hyemi juga memberikan posisi bagus untuk menantunya di kantor sebagai salah satu manager yang membantunya. Mungkin karena kebaikan hati Cho Hyemi Kyuhyun berpikir Pamannya itu bersikap sangat baik padanya dan pada keluarganya. Jungsoo merasa berhutang budi pada keluarga istrinya.

“Dan sesuai dengan perintah Presdir, aku akan memperkenalkan pada kalian seseorang yang saat ini menjadi pemiliki saham terbesar Grup Daesang. Dia adalah cucu pertama presdir, Cho Kyuhyun. Ia hadir di tengah- tengah kita sekarang. Kyuhyun-ssi, silahkan memperkenalkan diri.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan ber-AC itu. Kyuhyun hampir tidak percaya ketika Bibinya menyebutkan bahwa ia adalah pemegang saham terbesar dan ia sendiri tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya. Jika benar seperti itu kenyataannya, itu artinya Kyuhyun sangat kaya dan mungkin ia bisa membuat lebih banyak lagi galeri lukisan di setiap penjuru kota.

Kyuhyun sangat gugup namun ia berusaha terlihat tenang. Kini wajahnya secara resmi akan diingat semua orang, dan Kyuhyun benci menjadi orang yang seperti itu.
Dalam pikirannya, menjadi orang penting yang memegang uang banyak adalah hal yang berbahaya. Semua orang praktis akan tertuju padanya, mulai menjilat di hadapannya dan berharap menjadi kolega terbaik serta orang terdekat entah dengan tujuan untuk setia selamanya ataukah berkhianat ketika ia mulai terjatuh.

Semuanya hanya omong kosong.

Hal-hal seperti itulah yang ada di pikiran Kyuhyun dan ia sangat yakin mendiang ayah dan kakeknya juga merasakan hal yang sama. Kyuhyun tidak pernah ingin menjadi seperti mereka. Itu sungguh mengerikan.

Seusai memperkenalkan diri secara singkat, Kyuhyun kembali ke tempat duduknya dan terlihat Chanyeol menyikut lengannya dengan ekspresi wajah yang menyiratkan “you did your best, dude!”.

Chanyeol praktis tersenyum dan merasa bangga pada kakak sepupunya padahal Kyuhyun hanya memperkenalkan dirinya tanpa melakukan apapun lagi. Ia bahkan tidak diperkenankan memberikan sambutan apapun karena itulah yang diberitahukan oleh Bibinya yang diperintahkan langsung oleh sang nenek. Setidaknya, kekhawatiran Kyuhyun tidak sampai ke tahap itu karena ia sudah berpikir tentang apa yang boleh ia katakan dan apa yang tidak layak ia ucapkan di hadapan para pelaku bisnis yang haus akan uang.

Yah, setidaknya keberadaan Chanyeol di sampingnya membuat dirinya masih merasa hidup di dalam ruangan itu.

**

Kyuhyun baru saja akan masuk ke dalam mobilnya diantar oleh salah satu supir keluarga menuju ke hotel tempat tinggalnya sebelum Han Jaebum memanggilnya di lobi siang itu. Meskipun tidak menyukai pria tua itu, Kyuhyun tetap menunjukkan rasa hormatnya karena Jaebum adalah ayah Bomi, sahabat yang sudah ia kenal lebih dari separuh hidupnya.

Apapun yang akan dikatakan Han Jaebum padanya kali ini, Kyuhyun tidak akan ambil pusing lagi. Ia tidak lagi memiliki urusan dengan Bomi dan urusan bisnis pria itu yang menyangkut segala bentuk persahaman adalah bukan tanggung jawabnya.

Sederhananya, saat ini Kyuhyun hanya boneka perusahaan yang udah diingat semua orang sebagai pemegang saham terbesar. Akan lain hal jika nanti ia menjadi CEO resmi, namun bermimpipun Kyuhyun tidak untuk melakukannya.

“Aku terkejut melihatmu. Kupikir kau tidak akan datang. Namun ternyata kau sudah berani untuk menunjukkan jati dirimu. Aku turut senang.”

Kyuhyun hanya tersenyum sinis menanggapinya. Jaebum merasa ada aura menantang dari pemuda yang biasanya terlihat menciut di hadapannya. Hal itu membuat Jaebum tidak suka, apalagi dengan fakta posisi Kyuhyun saat ini. Pemuda ini hampir-hampir menjadi menantunya. Namun faktanya tidak.

“Jadi apa keputusanmu?”

“Keputusan apa yang Paman ingin tahu?”

Jaebum tertawa kecil. Pemuda ini memang menyebalkan.

“Kau pasti tahu jika posisimu tidak hanya sebagai pemegang saham. Kau akan menjadi CEO Grup Daesang berikutnya. Jadi yang ingin aku tanyakan— apa kau bersedia?”

“Oh. Jadi itu. Apa sangat penting bagi Paman untuk mengetahui hal itu?”

“Wah. Tanggapanmu sungguh membuatku sedikit tidak nyaman. Hei, aku bukanlah musuhmu, Nak. Masalahmu dengan putriku tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis—”

“Dan kuharap Paman tidak lagi menyangkutpautkan diriku dengan putrimu yang sudah menjadi Nyonya Choi. Itu tidak lagi menarik. Hidup yang lain sedang menungguku.”

Jaebum menyeringai, “Aku hanya ingin memastikan kolegaku adalah sosok yang tepat dan bukannya akan menjerumuskan bisnis ini ke dalam jurang kehancuran.”

“Paman tidak perlu khawatir. Yang terbaik akan selalu muncul ke permukaan. Aku atau bukan, kita lihat saja nanti. Kalau begitu aku pamit lebih dulu. Masih banyak urusan lain yang harus kukerjakan. Selamat Siang.” Kyuhyun pamit lalu masuk ke dalam mobil, diantar supir.

Han Jaebum sangat geram. Ia jadi semakin membenci Kyuhyun. Pria itu semakin lama semakin mirip dengan mendiang ayahnya.

——————————-

Minji mengurung diri di kamarnya. Seusai menyiapkan makan malam untuk ayah dan adiknya, ia segera masuk ke dalam kamar dan tidak bergabung untuk makan malam. Minji merasa sangat sakit hati dengan percakapan yang baru saja ia lakukan dengan ayahnya.

Jihyuk terlihat tidak seperti biasanya ketika pulang sore itu. Begitu selesai mengganti pakaian, ia segera menemui putri sulungnya yang sedang membuat omelet dan kimbab untuk makan malam.

“Jangan lagi libatkan dirimu. Kau sudah bertindak terlalu jauh tanpa ijinku.”

Minji terdiam. Matanya terasa panas dan basah. Rupa-rupanya perihal dirinya yang menjenguk Nyonya Cho sampai ke telinga ayahnya dan pria itu marah akan hal itu.

“Aku hanya ikut Chanyeol menjenguknya. Aku menjenguknya karena aku khawatir akan kesehatannya. Mengapa Ayah semarah ini padaku?”

Jihyuk sungguh tidak tega mendebat putrinya. Ia sangat menyayangi Minji dan ia tidak ingin Minji mengambil jalan yang tidak seharusnya. Ini bukan tentang soal jenguk-menjenguk, karena masalahnya tidak sesederhana itu.

“Apapun itu, jangan lagi menemui Presdir tanpa ijinku. Kau adalah putriku. Aku berhak mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan.”

“Aku tidak mengerti kali ini. Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Hingga aku sedewasa ini, kau belum pernah satu kalipun melarangku seperti ini.”

“Jauhi Cho Kyuhyun.”

Minji diam. Ia semua pasti ada hubungannya dengan Kyuhyun. Minji benar-benar ingin menangis saat ini.

“Kau boleh menyukai siapapun, asalkan jangan Cho Kyuhyun.”

Dan Jihyuk tidak lagi meneruskan kalimatnya. Pria itu memilih pergi ke ruang tengah dan menonton TV, meninggalkan Minji di dapur yang mungkin masih bertanya-tanya tentang maksud ucapannya.

Minji merasa dirinya benar-benar kacau malam itu. Ia ingin bertanya pada ayahnya alasan utama mengapa ia tidak boleh berteman apalagi menyukai Kyuhyun. Namun ia tidak bisa bertanya pada ayahnya, dan Minji harus merasakan kesulitan itu sendirian.

Pukul 10 malam, Minji diam-diam keluar rumah ketika merasa ayah dan adiknya sudah tidur. Ia mengenakan topi dan jaket hitam juga syal berwarna maroon peninggalan ibunya, dan Minji tidak membawa mobilnya. Ia berjalan kaki dan memberhentikan taksi di ujung jalan lalu menuju sebuah kedai minuman yang masih buka hingga pagi di daerah Hongdae.

Di kedai itu, Minji duduk sendirian, memikirkan ucapan ayahnya ditemani beberapa botol soju. Selama ini ia sangat menghormati ayahnya dan ia sangat menuruti ucapan pria itu. Jihyuk tidak pernah kasar terhadapnya dan selalu menasihatinya dengan cara yang lembut dan dewasa.

Namun hari ini, Minji tidak bisa terima dengan pendapat ayahnya yang bahkan melarangnya untuk bertemu Kyuhyun dan juga neneknya. Meskipun tidak membentak, namun nada bicara ayahnya yang kaku dan dingin terasa sangat asing bagi Minji. Jihyuk tidak pernah melarangnya untuk bergaul dengan siapapun sebelumnya dan ini adalah larangan pertama yang ia terima.

Jihyuk melarangnya untuk dekat dengan pria yang ia cintai.

Awalnya Minji ingin memilih menurut ucapan ayahnya ketika ia kesal karena dikecewakan oleh Kyuhyun. Namun kini berbeda. Minji justru ingin semakin dekat dengan Kyuhyun setelah melihat sikap baik pria itu belakangan, dan mungkin saja Minji sudah gila karena ia sempat berpikir bahwa Cho Kyuhyun juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

Pria itu tidak pernah menghubunginya. Tidak seperi Chanyeol yang selalu peduli padanya. Kyuhyun selalu muncul di saat-saat tak terduga, dan ketika bersama Minji merasa mereka melakukan banyak hal yang tidak ia sadari sebelumnya.

Mereka pernah berpelukan. Katakanlah demikian, meskipun pada awalnya pelukan itu dimulai olehnya karena Minji bersimpati. Mereka berpegangan tangan dan saling memiliki ketika melakoni peran sebagai sepasang kekasih. Miris memang, namun bagi Minji hal-hal tersebut sangat berarti baginya.

Dan yang terakhir, mereka pernah hampir berciuman di perpustakaan! Entah Kyuhyun benar-benar ingin melakukan itu atau tidak jika saja ayahnya tidak menelepon Kyuhyun waktu itu, namun biarlah Minji merasa senang hanya karena memikirkan itu.

Hari itu, hari dimana Kyuhyun datang ke kampusnya sebagai pembicara seminar, hari ketika Kyuhyun ternyata sengaja menunggunya untuk bertemu, hari ketika mereka mengobrol berdua di perpustakaan, bagi Minji satu hari itu sangat mendebarkan dan membuatnya bahagia tiap kali mengingatnya.

Namun Kyuhyun tidak pernah menghubunginya. Dan ia juga tidak berani memulai lebih dulu. Meskipun mengkhianati keputusan untuk tidak melanjutkan lagi sandiwara itu, namun kenyataannya mereka masih berteman. Dan hubungan itu membuat Minji semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya.

Ibu kandung Kyuhyun menyukainya. Nenek Kyuhyun pun menunjukkan terang-terangan jika wanita itu menyukainya. Minji tidak tahu bagaimana Kyuhyun terhadapnya. Apa Han Bomi masih mempengaruhinya atau tidak, namun bagi Minji itu bukanlah masalah besar.

Kini masalahnya adalah , ayah kandungnya sendiri yang tidak menyukai kedekatannya dengan Kyuhyun.

Minji sudah menghabiskan tiga botol soju. Ia memang tidak biasa minum apalagi sendirian, namun kali ini ia benar-benar minum tanpa aturan. Pikirannya semakin kusut dan kepalanya benar-benar pusing.

Minji menatap layar ponselnya. Cahaya ponselnya begitu terang dan membuat matanya sakit. Minji melihat jadwalnya besok. Ternyata ini akhir pekan, dan itu artinya ia tidak punya jadwal mengajar. Ia tertawa senang, dan Ibu penjaga kedai memperhatikannya dengan khawatir.

**

Kyuhyun baru saja selesai mandi dan berpakaian lalu bersiap tidur. Saat merebahkan tubuhnya dan memeriksa handphonenya, ada tiga kali panggilan tak terjawab dari Kang Minji.

Pukul 11 malam. Apa yang ingin gadis itu bicarakan? Namun Kyuhyun tetap menelepon balik karena baginya ini bukan hal yang biasa.

Yoboseyo— hik—”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Minji menjawab teleponnya namun suara gadis itu terdengar aneh.

“Kau meneleponku?” Kyuhyun bertanya.

“Mengapa tidak kau jawab? A—akh—hik— aku –“

“Minji-ssi? Kau baik-baik saja? Kau sedang  melakukan apa?”

Tidak ada jawaban dari Minji, namun Kyuhyun bisa mendengar ada suara ahjumma yang sepertinya sedang berbicara dengan Minji. Kyuhyun juga bisa mendengar Minji tertawa, aneh sekali.

Yoboseyo— maaf ini aku, penjaga kedai minuman. Nona pemilik ponsel ini sedang mabuk berat. Apa kau temannya? Keluarganya? Bisa tolong untuk menjemputnya?”

Kyuhyun bangkit dari tempat tidurnya. “Maaf, apa Nona itu membawa mobil?”

“Tidak. Tadi anakku melihatnya turun dari taksi. Jadi kurasa ia tidak ada kendaraan untuk pulang.”

“Baiklah. Aku pacarnya. Aku akan menjemputnya sekarang. Boleh aku tahu di mana lokasi kedaimu?”

“Hongdae. Setelah perempatan di dekat halte bis. Satu-satunya kedai minuman yang ada di lokasi itu.”

“Baiklah. Aku akan tiba dalam setengah jam. Bibi kau tolong jaga dia sampai aku datang.”

**

Kyuhyun belum menjalankan mobil dan masih menatap gadis yang tertidur di sebelahnya. Ia tidak mengerti mengapa Minji bisa berakhir seperti ini, namun sepertinya gadis itu sedang memiliki masalah dengan ayahnya. Sejak tadi sebelum tertidur, Minji berkali-kali menyebutkan jika ia tidak ingin pulang dan ia benci dengan ayahnya. Setidaknya itulah kesimpulan yang bisa diambil oleh Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi..”

Gadis itu memanggilnya. Kyuhyun pikir Minji memang ingin bicara dengannya, namun ternyata gadis itu hanya menggumamkan namanya. Kyuhyun tahu karena Minji masih memejamkan matanya dan ia mengucapkannya berkali-kali.

Kyuhyun merasa bimbang. Jika ia mengatar Minji pulang, sepertinya masalah baru akan terjadi jika Minji diketahui pulang dalam keadaan mabuk oleh ayahnya apalagi diantar oleh seorang  pria. Namun jika ia membawa Minji ke hotel tempat tinggalnya, para staff pasti akan heboh karena ia membawa seorang wanita dan bisa jadi itu akan sampai ke telinga sang nenek.

“Ah— merepotkan saja malam-malam begini. Jika bukan kau, aku tidak akan seperti ini.” dan Kyuhyun menjalankan mobilnya, setelah memutuskan sendiri kemana akan membawa gadis itu.

**

Kyuhyun duduk di pinggir tempat tidurnya setelah dengan susah payah berhasil menyelundupkan Minji ke dalam ruangan tempat tinggalnya di hotel. Gadis itu kini terbaring aman dan Kyuhyun masih mencoba mengatur nafasnya.

Kyuhyun menghubungi salah satu staff kepercayaannya dan masuk melewati pintu belakang hotel. Ia menggendong Minji di punggungnya dan Kyuhyun tidak menyangka jika gadis seperti Minji ternyata cukup berat juga.

Kyuhyun memperhatikan wajah Minji yang terlelap. Ia rasa dirinya sudah gila, karena berani-beraninya membawa seorang gadis ke dalam kamarnya bahkan berbaring di atas tempat tidurnya. Minji adalah gadis pertama yang tidur di atas tempat tidurnya seperti ini dan gadis itu bukanlah pacarnya.

Apapun itu, Kyuhyun yakin Minji sedang memiliki masalah. Hal yang terjadi hari ini adalah di luar kebiasaan. Kyuhyun mulai melepaskan sepatu kets yang dipakai gadis itu. Topi dan syal yang dipakainya Kyuhyun letakkan di atas meja. Ia pun berpikir untuk melepaskan jaket yang dipakai gadis itu agar Minji bisa tertidur dengan nyaman.

Meskipun nampaknya kurang sopan, setelah melewati pergumulan panjang di kepalanya Kyuhyun mencoba melepaskan jaket itu dari tubuh Minji. Ia sama sekali tidak menyangka jika di balik jaket itu Minji hanya memakai atasan u can see berwarna hitam. Merasa sangat tidak sopan, Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk melepas jaket itu dan membiarkan Minji tidur dengan memakai jaketnya.

Aktivitas itu ternyata mengusik Minji dan membuat gadis itu tersadar. Minji menatap Kyuhyun dan kedua tangan pria itu masih memegang jaket miliknya. Demi Tuhan, Kyuhyun sangat malu sekarang. Minji pasti berpikir ia akan melakukan semacam tindak pemerkosaan saat ini.

“Cho Kyuhyun—”

Kyuhyun belum sempat melakukan aksi pembelaan diri kalau-kalau Minji menuduhnya, ketika kemudian kedua tangan lembut Minji merengkuh wajahnya lalu mengecup bibirnya. Ia kini menunduk di hadapan gadis itu, tatapannya bertabrakan dengan tatapan Minji terhadapnya.

Bahkan untuk sekedar menarik nafas, Kyuhyun khawatir. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Minji, dan sial— bibir gadis itu sedikit terbuka, membuat pikiran itu datang lagi. Catat, ini adalah kali ketiga Kyuhyun berpikir untuk melumat bibir itu, dan baru saja Minji telah membukakan celah dengan mengecup bibirnya satu kali.

Entah gadis itu melakukannya dengan kesadaran atau tidak. Kyuhyun tidak peduli. Ia sudah melakukan apa yang ingin ia lakukan, dan itulah yang terjadi.

Kyuhyun dan Minji berciuman. Kedua tangan Minji menyatu di belakang leher Kyuhyun, sementara pria itu kini sibuk menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Mata keduanya terpejam, dan Kyuhyun belum ingin berhenti jika bukan gadis itu yang menghentikannya. Ia justru sibuk memiringkan wajahnya, mencoba menjangkau setiap sudut bibir Minji yang bisa disentuh olehnya, oleh lidah tak bertulangnya.

———————————–

Keesokan paginya, Minji terbangun dengan kepala yang berat. Semalam ia bermimpi mencium Cho Kyuhyun, terasa begitu nyata hingga membakar pembuluh darahnya. Minji terkejut ketika memperhatikan sekelilingnya, ia tidak terbangun di kamarnya.

Tidak. Ini di mana? Ini tempat apa? Ia terbangun di sebuah kamar yang terlihat simple namun mewah, dan Minji yakini ini adalah kamar milik seorang pria. Minji sangat bersyukur karena ternyata ia terbangun masih dalam keadaan berpakaian lengkap. Tidak bisa ia bayangkan jika ia terbangun dalam keadaan telanjang— seperti di film-film kebanyakan.

Minji bangun dari pembaringannya, melihat sekeliling. Ia melihat sosok seorang pria berkaos putih sedang duduk di balkon, terlihat sedang mengerjakan sesuatu.

Cho Kyuhyun. Pria itu Cho Kyuhyun. Jadi ia sedang ada tempat pria itu? Ya Tuhan! Minji hanya ingat ia pergi minum dan mabuk semalam. Dan kalau tidak salah, ia menelepon Kyuhyun berkali-kali tapi pria itu tidak mengangkat teleponnya. Selebihnya, Minji lupa.

Tidak. Ada satu hal lagi yang dia ingat. Tidak. Itu pasti mimpi. Mana mungkin ia berciuman dengan Kyuhyun? Rumusnya, jika mereka berciuman, Minji mungkin benar-benar terbangun dalam keadaan telanjang bulat. Namun pakaiannya masih utuh. Minji yakin ia hanya bermimpi.

Namun mimpi itu terasa sangat nyata. Kyuhyun sedang menatapnya, lalu MInji mengecup bibir Kyuhyun. Setelah itu, Kyuhyun berbalik menciumnya, dan itu terjadi cukup lama. Lembut, dan basah. Bibirnya basah dan Minji bisa merasakan itu.

Demi apapun, Minji tidak ingin mabuk lagi. Ia sangat resah antara kebenaran ataukah mimpi yang dialaminya semalam.

“Kau sudah bangun rupanya.”

Minji terlonjak kaget. Ia baru saja melamunkan pria yang tengah menyapanya. Kyuhyun muncul dan berdiri di pintu geser pembatas balkon dan kamarnya, memakai kaos putih dan celana pendek rumahan.

“Maaf. Aku minta maaf. Aku hanya ingat aku mabuk dan aku tidak tahu mengapa aku bisa ada di sini aku sungguh tidak tahu. Namun kurasa kau pasti berniat menolongku dan membawaku ke rumahmu. Kau pasti sudah menolongku semalam. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatimu—”

“Kau mau sarapan?”

“Kyuhyun-ssi, aku benar-benar tidak ingat apa saja yang sudah terjadi semalam aku—”

“Tidak terjadi apa-apa. Kau hanya mabuk dan tidur. Kau tidur di tempat tidurku dan aku tidur di sofa.” Kyuhyun menunjuk dengan wajahnya sebuah sofa panjang di mana masih ada bantal dan selimut yang berantakan di atasnya.

Minji mengurut dadanya. Ia sangat lega.

“Jadi kau mau makan apa? Biar kuminta pelayan untuk mengantarkan kemari.” Kyuhyun melewati Minji lalu merapikan sofanya yang berantakan. Minji masih berdiri kikuk di tempat namun matanya terus mengikuti kemana Kyuhyun.

Ini memalukan. Dan mendebarkan.

“Minji-ssi, aku tahu kau masih kebingungan. Tapi isi dulu perutmu. Kau ingin makan apa?”

“A—apa saja.”

“Oke.”

**

Terus terang, Minji sangat tidak bernafsu makan. Ia lapar, tapi ia tidak ingin makan. Bagaimana ia bisa makan jika Cho Kyuhyun berada dalam suatu ruangan yang sama dengannya meskipun kini pria itu sedang mandi dan kenyataan itu membuatnya semakin berdebar.

Minji mencoba untuk santai. Ia heran mengapa tidak ada panggilan dari ayah maupun rumahnya tapi Minji senang itu cukup membantu paginya yang sangat runyam. Mungkin ayahnya masih marah— atau belum menyadari kepergiannya meskipun itu mustahil.

Sambil menunggu Kyuhyun yang masih mandi, Minji memulai dengan menegak segelas susu segar yang disiapkan pelayan Kyuhyun, lalu ia mengambil sandwich yang tersedia di hadapannya. Sandwichnya bahkan sangat enak. Dengan daging sapi. Minji harus bersyukur ia bisa makan enak pagi ini. Urusan yang lain biarlah menjadi urusan nanti.

Pintu kamar mandi terbuka dan Kyuhyun sudah muncul dengan kaos putih yang tadi dipakainya tapi kini bawahannya celana training hitam. Handuk tersampir di kedua bahunya dan Kyuhyun begitu wangi. Minji benar-benar mensyukuri banyak hal pagi ini, mengimbangi paginya yang runyam.

Kyuhyun tersenyum kikuk lalu duduk di depannya. Minji teringat lagi soal ciuman itu, dan inilah saatnya ia harus memastikannya pada Kyuhyun— apakah itu mimpi atau nyata.

“Aku benar-benar tidak enak tapi aku harus meminta maaf atas segala tindakan tanpa nalarku yang mungkin sudah kulakukan kemarin malam. Jadi— apa saja yang sudah kulakukan semalam?”

Kyuhyun enggan menjawab. Haruskah ia mengatakan jika semalam gadis itu menciumnya dan ia membalas dengan sangat berperasaan?

“Sudah kukatakan kau mabuk dan tertidur.”

“Begitukah. Aku seperti mengingat sesuatu di mana aku sempat tersadar dan—”

“Kau menciumku.”

Jadi itu nyata. Itu bukan mimpi. Matilah ia.

“Maafkan aku. Aku tidak sopan dan aku malu sekali.”

“Tidak apa-apa. Itu hal yang mungkin terjadi ketika seseorang sedang mabuk berat.”

“Jadi kemarin kita berciuman?” Minji memancing Kyuhyun, sebab ia ingin Kyuhyun juga mengonfirmasi adegan setelah itu.

“Kira-kira begitu. Kau menciumku, lalu aku balas menciummu, dan akhirnya kita terlarut dan berciuman cukup lama.”

Kyuhyun menjelaskan dengan bahasa yang simple, namun cukup membuat kepala Minji terasa pening.

“Jadi Minji-ssi, jangan meminta maaf lagi. Karena aku juga harus minta maaf karena sudah balas menciummu.”

Minji tidak mampu menjawab lagi. Kyuhyun ternyata sangat gentle dan mengakui perbuatannya.

“Itu ciuman pertamaku.”

Kyuhyun terdiam, tidak jadi hendak menegak susu yang juga dibawakan untuknya. Minji duduk dan menunduk di depannya.

“Aku benar-benar minta maaf.” Ujar Kyuhyun.

Ia berusaha melirik ke arah Minji. Dan entah memang benar ataukah hanya pikirannya saja, Kang Minji tersenyum dan Kyuhyun menangkap sudut bibirnya yang tertarik itu.

Terima kasih, Cho Kyuhyun. Sudah menjadi ciuman pertamaku.”

 

 

TBC-

Full pendekatan. Thanks yang masih belum bosan dan masih bersabar menunggu dan mengikuti kelanjutannya. Aku mungkin ga semangat ngelanjutin kalo bukan karena komentar kalian di setiap partnya.

Let’s see what will happen next to this couple.

ThanKYU again and see you !

 

Iklan

39 thoughts on “My Fair Lady [ Chapter 8]

  1. Seneng banget ini lanjutannya diupdate cepat..
    Udah g2 hubungan mreka semakin deket ajja..
    Semoga kyuhyun cepet sadar dech sama perasaannya ke minji..
    Dan bersyukur banget kyuhyun udah gak ngungkit2 bomi lagi..
    Jadi anggapan chanyeol gak akan jadi kenyataan..
    Btw kenapa appa minji gak suka mreka deket?
    Padahal nenek cho ajja setuju..
    Apa alasan sebenernya?

    Suka

  2. Knp ayah minji sampai tdk menyetujui dan tdk duka akan kedekatan kyuhyun dan minji adakah sesuatu yg disembunyikan ayah minji tentang kyuhyun tw mkin ayah minji cuma takut minji tersakiti kl sampai minji menjalin hub yg jauh dgn kyuhyun

    Akhirnya kissing itu terjadi jg mdhn” awal dr semua 🙂

    Suka

  3. haduh.
    kang jihyuk udah kode keras nih ngelarang minji buat suka sama kyuhyun…
    semoga aja cho hyemi bener” ngejodohin mereka dan jangan mati dulu sebelum mereka nikah
    .haha

    Suka

  4. Seneng akhirnya mereka pdkt. Lol tp yg buat aku kesel ayahnya minji,, apa alasanny coba dia nyuruh anaknya menjauh dari kyuhyun?? Ganggu aja… Huuffftt.

    Suka

  5. AAAAAAA PERKEMBANGAN YANG BAGUS HAHAHAHA
    full memang pendekatannya tapi aiyooo kenapa ayah Minji gak suka Minji deket ama Kyu
    kenapaaaa ???
    apa ada sesuatu ?
    bukankah nenek Kyu udah minta Minji secara terang2an ?

    au hah
    gilaaaaa
    akhirnya kesampaian juga keinginan gila kyu pppfffttt

    Ngaku lagi
    aiyooo jantan sekali kamu bang #colekKyu

    Hahahahai
    suka suka sukaaaaaa

    Suka

  6. aigo..mata kyuhyun nangkep senyuman hyemi saat gadis itu bilang itu ciiuman pertamanya sementara ia sendiri merasa bersalah..ohoho itu sweet banget wkwkwk..hyemi kenapa kau bodoh sekalia hahaha…oke fix keluarga kyuhyun sudah menyukai hyemi dan hanya ayah hyemi yang tidak menyetujui aku sama penasarannya dengan hyemi ada apa? kenapa? semoga cepat terjawab..

    Suka

  7. kyu jujur bgt dia bilang minji mencium dia dan dia balas mencium minji untung minji jga suka ama kyu kalo engga bisa kena bogem dia :v aku sifat minji dia wanita yg baik, jujur, dan pandai menempatkan diri meskipun dia menyukai kyu tp minji pnya etikam yg baik dan itu jd pesonanya ampe ibu dan neneknya kyu pun suka tp knpa tuan kang tidak kayanya dia tau sesuatu sehingga melarang minji berhubungan dgn kel. Cho

    Suka

  8. Kasihan minji ghag direstui ayahnya,,,akhirnya minji dan kyuhyun ciuman*kokmalahakhirnya* kalo masalah derajat semua sama aja ghag ada yg beda cuma bedanya kekayaan aja yg membedakan,,semoga mereka mendapat restu sebagai apa aja teman ataupun pasangan,,,makin kesini ngebuat penasaran gimana slanjutnya hubungan minji dan kyuhyun jdi ghag sbar nunggu part slanjutnya

    Suka

  9. Kayaknya kisah mereka disini lebih lama drpd kisah22 sebelumnya yaaa😂😂😂 Masih gak paham knp bpknya Minji ngelarang Minji suka sama Kyuhyun deh. Gak paham juga knp Kyuhyun gak peka bgt yaampun

    Suka

  10. yaampuun akhirnya mereka kissing jugaaa.. aduhh part ini bkin senyum2 sendiri, so sweet bgt… gregetnya dapet, kedepannya semoga lebih banyak Skinship bwt Kyuhyun sama Minji xD hhehe

    Suka

  11. Ayah minji g ngerestuin hub dia sm kyuhyun pasti ada alsnny,apa ada masalalu tn kang dg kel cho,aduh kyu sm minji udh kissing…ayo kyu tembak aj minji klo kelamaan keburu kabur minjiny…semngt nulisny saeng di tunggu lnjtnnya.

    Suka

  12. ciyee udah pdkt aja
    pasti ada alasan kuat kenapa ayahnya minji ngelarang dia dekat sama kyu, tapi apa ya?
    tapi ayahnya ngelarang dianya malah makin gencar dekat sama kyu
    suasana agak kikuk di bagian terakhir tapi bikin mesem mesem wkwkwk
    semangat terus untuk authornya^^

    Suka

  13. Kenapa ayah minji gak menyetujui kedekatan minji sama kyuhyun ya ? Padahal ama chanyeol dibolehin, padahal udah seneng banget sama perkembangan hubungan kyuhyun minji, semoga ensiden ciuman itu buat mereka makin dekat terus beneran pacaran

    Suka

  14. Huahahahahahahahahahahaha sukaaa bnget sma bagian akhirnyaà wowowo amazingg bnget bner” ya ampun suka banget banget….. pokoknya aku udh gk bisa komen apa” lg ..udh suka bnget sma jalannya ceritanya.konfliknya apa lg sma cara penulisannya yg ngebuat cerita ini tuh kya real bner” . Oke segini dlu ya wkwkwk#abaikan -_*

    Suka

  15. Nunggu ff ini lanjut,akhirnya lanjut juga…hemm..konfliknya sudah mulai terlihat nih kayanya,,udah ada sinyal nih kalau kyu sdh mulai menyukai minji,,tp kenapa ayah minji ga suka kalau minji dekat dengan kyu?aku rasa ada sesuatu yang disembunyikan disini,makin penasaran sama alur ceritanya.

    Aduh CeYe kasian kau nak,,cintamu sepertinya hanya sebatas sahabat aja,udah ngalah aja sama kyu ya?heheh

    Siwon kurang ajar ya,tp ksian juga.konflik dia kayanya boleh dikomplekin juga tuh.hehe,,yg kena batunya.

    Jangan sampai han bomi tuh,ganggu2 kyu lagi.ga suka.wkwwk

    Kalau dipart ini sampai kiss,ntar lanjut2 part hot kiss n other kiss2 yg lain.wkwk..maaf otak qw yadong author.wkkw

    Buat minji hamil aja kalau ga direstui ntar sama ayah minji.wkwk

    Oke sekian aja komen qw,kalau panjang2 takut authornya muntah baca ocehan aku..wkwk…sukses untuk next part ya author..segera publish pary selanjutnya..aku sukaaa banget nih cerita.hehehe.
    😍😍😘😘

    Suka

  16. Tambahan..wkwk
    Sepertinya aku baru komen dipart ini deh.maaf author nim,,,abis ini aku komen part2 sebelumnya deh.
    Makasih udah diizinin ubek2 ff nya.hehe.

    Maafkan juga diriku yg terlalu cerewet ini.miss authornya.hehe

    Suka

  17. wohooooooo baru baca part ini itupun cari scene kyuhyun minji doang hehehe udah seruuuuu jd penasaran mau baca dari awal hihi emg kebiasan begini suka baca dari part berapa baru deh baca dari awal hehe maap ya tp ya beneran heeeee

    Suka

  18. wah jinhyuk kenapa noh tiba2 nyruh jauhi kyuhyun wah ada apa waaaaahhh pasti karena kedudukannya deh aapa gimana ya huhu duh first kiss sama.kyuhyun ahyeeeeeeeyyyyy seneng bgy walaupin lagi mabok tp itu jd awal bgt deh buat mereka yakin bgt aky wakakak

    Suka

  19. huaaahahaha… padaa akhirnyaa minjiilahh yg memulaii duluann…. walauu dlam keadaan tidak sadar sihh…
    smogaaa ajaaa abis inii kyuhyun sadar akan perasaannyaa.. atauu seridaknyaa mulailahh muncul perasaan ituu.. kasiann loo minjii cumaa bs nyimpen perasaan ituu rapat2…
    oh yaa apa sih alasan ayah minji gak suka ama kyuhyun???
    sampe ngelarang minjii gituu???
    harusnyaa yaa seneng ajaa.. diaa ud lama jd bagian dr perusahaan itu.. tp koqq malah gk sukaa anaknya jd bagian dr keliargaa ituu??

    Suka

  20. Omooo… Mereka lucu sekali …
    Mereka saama sama jujur yaa.. Dengan polosnya kyuhyun ngaku, singakat tp cukup menjelaskan semua yg trjadi, dan gk habis pikir deh sm minji , dia justru seneng bgt first kiss nya diambil kyuhyun dengan keadaan dia g sadar diri , lain kali harus dgn penuh kesadaran loo minjii…
    Dan ayah minji, bikin sedih deh om jihyuk, kenapa pake dilarang2???
    Semoga mereka tetep bisa bersama , dan part selanjutnya semoga mereka resmi bersama yaah… Kyujin momentnya tambahin lg , heheheh

    Terim kasiiih.

    Suka

  21. Woooaaah daebak Kyu! Gentle sekalii 🙂
    Minji senang setengah mati, akhirnya ya akhirnya,, first kiss nya sma Kyu.. wkkwkwkwk
    Kyuu cepat lah sadar, belum peka atau gi mna, dia itu loo udh ada perasaan sma Minji -_-
    semoga neneknya Ikut campur utk ngejodohin mereka berdua, so ayahnya Minji gk bakalan bisa berkutik lg,

    Suka

Leave a Comment ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s